Anda di halaman 1dari 13

Identitas Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat : Rupiah (nama samaran) : 35 tahun : Perempuan : SMA

: Ibu Rumah Tangga : Islam : Weru

Anamnesa Keluhan utama Keluhan Tambahan Riwayat penyakit sekarang : Hidung Kiri Tersumbat : : -

Pasien datang ke poliklinik THT RSUD Gunung jati pada tanggal 27 November 2012 dengan keluhan hidung kiri tersumbat sejak 2 bulan SMRS. Hidung sebelah kirinya dirasanya tiba-tiba buntu dan bertambah berat sejak akhir-akhir ini. Selain itu pasien juga mengeluh hidung sebelah kiri sering mengeluarkan cairan berwarna bening kental. Pasien tidak pernah merasakan mimisan. Pasien juga sering pilek, terasa mau bersin namun tidak bisa bersin. Hidung tidak dirasakan nyeri. Pasien mengeluhkan penciumannya berkurang pada hidung sebelah kiri. Riwayat batuk tidak pernah. Riwayat asma tidak ada. Keluhan dirasakan mereda jika meminum obat yang diberikan oleh puskesmas. Tidak ada keluhan pada telinga, pendengaran, maupun tenggorokan. Riwayat penyakit dahulu Riwayat sering pilek : :

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat pada keluarga disangkal

Status pemeriksaan fisik Status generalisata Keadaan umum Kepala Mata THT Leher Toraks : Tampak sakit sedang, composmentis : Normocephal : Konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) injeksi ciliar (-/-) : lihat status THT : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-) massa (-) : Bronkovesikular sound (+/+) fremitus taktil dan vokal simetris (+/+) Wheezing (-/-) rhonki (-/-) Abdomen Ekstermitas : Tampak datar, supel, bising usus (+) : Tidak ada kelainan

Status THT

A. Telinga Daun telinga Bentuk Radang Nyeri tekan Tumor / efusi Liang telinga Lapang/sempit Radang Sekret Tumor Kanan Normal, Simetris Kanan Lapang Kiri Normal, Simetris Kiri Lapang -

Belakang telinga Nyeri tekan Radang Membran timpani Utuh/perforasi Warna Refreks cahaya Gerakan Bulging/retraksi Tes pendengaran(garpu tala) Rinne Weber Swabach

Kanan Kanan Utuh Hiperemis + + Kanan +

Kiri Kiri Utuh Hiperemis + + Kiri + Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa

B. Hidung Pemeriksaan luar Bentuk Radang Palpasi Tumor Kanan Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-) Kiri Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-) -

C. Pemeriksaan dalam Rhinoskopi anterior Mukosa Sekret Edema Septum Konka nasalis dan meatus inferior Mukosa Sekret edema Konka nasalis dan meatus media Kanan Hiperemis + Lurus Kanan Normal + Krepitasi (-) nyeri tekan (-) Kanan Kiri Normal Lurus Kiri Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-) Kiri

Mukosa Sekret dan ostium Edema / hipertropi Rhinoskopi posterior Adenoid Choana Fossa rosenmuller Torus tubarius Dasar sinus sfenoidalis Inus paranasal Sinus paranasal Sinus maksilaris Sinus ethmoidalis Sinus frontalis Transiluminasi

Hiperemis (+) + Hipertropi

Hiperemis (+) + Hipertropi

Hasil Sekret (-) massa (-) Terdapat sekret Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Hasil Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-) Tidak dilakukan

D. Orofaring Pemeriksaan Tonsil Mukosa Arkus anterior Arkus posterior Uvula Kelenjar waldeyer : tidak ada pembesaran Hasil Granula (-) Hiperemis (-) Hasil Menelan (+) Refleks muntah (+) Lipatan dahi, nasolabial simetris, mata dapat menutup sempurna Deviasi lidah (-) Pengecapan baik Hasil T1 T1 Hiperemis (-) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Ditengah, deviasi (-)

Dinding faring Granula / sicca Warna mukosa Nervus Nervus IX Nervus X Nervus VII Nervus XII Chorda timpani

E. Mulut Gigi : 87654321 87654321 Ginggiva Lidah Kelenjar parotis Kelenjar mandibularis Kelenjar submandibularis : Tidak ada kelainan : Gerakan baik, ulkus (-) : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran 12345678 12345678

Laring Epiglotis Pita suara asli Pita suara palsu Aritenoid Valekula, recessus pyriformis Leher Trigonum posterior Trigonum anterior M. sternocleidomastoideus Belakang angulus mandibularis Daerah tiroid Supratiroid

Hasil Hiperemis (-) Warna putih, gerakan simetris Hiperemis (-) Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Hasil Tidak teraba adanya massa Tidak teraba adanya massa Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Ringkasan : Pasien wanita berumur 35 tahun datang ke poliklinik THT RSUD Gunung jati dengan keluhan hidung kiri tersumbat sejak 2 bulan SMRS. Hidung sebelah kirinya dirasanya tibatiba buntu dan bertambah berat sejak akhir-akhir ini. Selain itu pasien juga mengeluh hidung sebelah kiri sering mengeluarkan cairan berwarna bening kental. Pasien tidak pernah merasakan mimisan. Pasien juga sering pilek, terasa mau bersin namun tidak bisa bersin. Hidung tidak dirasakan nyeri. Pasien mengeluhkan penciumannya berkurang pada hidung sebelah kiri. Riwayat batuk tidak pernah. Riwayat asma tidak ada. Keluhan dirasakan mereda jika meminum obat yang diberikan oleh puskesmas. Tidak ada keluhan pada telinga, pendengaran, maupun tenggorokan.

Hasil pemeriksaan : Telinga : Tidak ada kelainan

Orofaring : Tonsil T1 T1

Concha nasalis media: Leher : Tidak ada pembesaran KGB Terdapat hiperemis Terdapat sekret Hipertrofi

Diangnosis kerja : Polip nasi stadium 3

Diangnosis banding : Tumor cavum nasi

Rencana kerja : Roentgen : CT scan hidung

Laboratorium : pemeriksaan darah rutin

Pengobatan : Kortikosteroid (topikal atau sistemik) Rencana : polipektomi

Edukasi : Hindari iritasi pada saluran pernafasan (hidung) Menjaga kebersihan Gunakan bilasan hidung (naval lavage)

Prognosis : Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam `

PEMBAHASAN

POLIP HIDUNG DEFINISI Polip Hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan didalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. PENYEBAB Penyebab terjadinya polip tidak diketahui, tetapi beberapa polip tumbuh karena adanya pembengkakan akibat infeksi. Polip sering ditemukan pada penderita: Rinitis alergika Asma Sinusitis kronis Fibrosis kistik.

GEJALA Polip biasanya tumbuh di daerah dimana selaput lendir membengkak akibat penimbunan cairan, seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung. Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan. Polip menyebabkan penyumbatan hidung, karena itu penderita seringkali mengeluhkan adanya penurunan fungsi indera penciuman. Karena indera perasa berhubungan dengan indera penciuman, maka penderita juga bisa mengalami penurunan fungsi indera perasa dan penciuman. Polip hidung juga bisa menyebabkan penyumbatan pada drainase lendir dari sinus ke hidung. Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir di dalam sinus. Lendir yang terlalu lama

berada di dalam sinus bisa mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis. Penderita anakanak sering bersuara sengau dan bernafas melalui mulutnya. DIAGNOSA Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu : Anamnesis. Pemeriksaan fisik. Terlihat deformitas hidung luar. Rinoskopi anterior. Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung. Endoskopi. Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal. Foto polos rontgen & CT-scan. Untuk mendeteksi sinusitis. Biopsi. Kita anjurkan jika terdapat massa unilateral pada pasien berusia lanjut, menyerupai keganasan pada penampakan makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen. PENGOBATAN Obat semprot hidung yang mengandung corticosteroid kadang bisa memperkecil ukuran polip atau bahkan menghilangkan polip. Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal polip. Antihistamin, dekongestan dan sodium cromolyn memberikan sedikit keuntungan.Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk pengobatan rhinitis alergi, tapi bila digunakan sendirian, tak dapat berguna pada polip yang telah ada, pemberian antibiotik bila terjadi superimposed infeksi bakteri. Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan, baik secara topikal maupun sistemik.Injeksi langsung pada polip tidak dibenarkan oleh Food and Drug Administration karena dilaporkan terdapat 3 pasien dengan kehilangan penglihatanunilateral setelah injeksi intranasal langsung dengan kenalog. Keamanan mungkintergantung pada ukuran spesifik partikel. Berat molekuler yang besar sepertiAristocort lebih aman dan sepertinya sedikit yang di pindahkan ke area intrakranial.Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah. Steroid oral paling efektif pada pengobatan medis untuk nasal polipoid. Pada dewasa penulis banyak menggunakan prednison (30-60mg) selama 4-7 hari dan diturunkanselama 1-3 minggu. Variasi dosis pada anak-anak, tetapi maksimum biasanya1mg/kb/hari selama 5-7 hari dan diturunkan selama 1-3 minggu.Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya eosinofilia, jadi pasiendengan polip dan rhinitis alergi atau asma seharusnya respon dengan pengobatan ini.

Pasien dengan polip yang sedikir eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids.Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek sampingnya yang merugikan ( seperti gangguan pertumbuhan, Diabetes Melitus,hipertensi, gangguan psikis, gangguan pencernaan, katarak, glukoma, osteoporosis) Pemberian topikal kortikosteroid di berikan secara umum karena lebih sedikit efek yang merugikan dibandingkan pemberian sistemik karena bioavaibilitasnya yangterbatas. Pemberian jangka panjang khususnya dosis tinggi dan kombinasi dengan kortikosteroid inhalasi, terdapat resiko penekanan hipotalamus-pituari-adrenal aksis,pembentukan katarak, gangguan pertumbuhan, perdarahan hidung, dan pada jarangkasus terjadi perforasi septum. Pembedahan dilakukan jika: Polip menghalangi saluran pernafasan Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus Polip berhubungan dengan tumor.

Polip cenderung tumbuh kembali jika penyebabnya (alergi maupun infeksi) tidak terkontrol. Pemakaian obat semprot hidung yang mengandung corticosteroid bisa memperlambat atau mencegah kekambuhan. Tetapi jika kekambuhan ini sifatnya berat, sebaiknya dilakukan pembedahan untuk memperbaiki drainase sinus dan membuang bahan-bahan yang terinfeksi. Bila anda mengalami hidung tersumbat yang menetap dan semakin lama semakin berat ditambah dengan ingus yang selalu menetes serta gangguan fungsi penciuman, kemungkinan besar anda menderita polip hidung. Polip hidung terjadi karena munculnya jaringan lunak pada rongga hidung yang berwarna putih atau keabuan. Jaringan ini bisa diamati langsung dengan mata telanjang setelah lubang hidung diperbesar dengan alat spekulum hidung. Polip hidung biasanya menyerang orang dewasa yang kemungkinan disebabkan oleh karena reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung yang berlangsung lama. Beberapa faktor lain yang meningkatkan kemungkinan terkena polip hidung antara lain sinusitis (radang sinus) yang menahun, iritasi, sumbatan hidung oleh karena kelainan anatomi dan adanya pembesaran pada konka. Prinsip pengobatan dari polip hidung yaitu mengatasi polipnya dan menghindari penyebab atau faktor faktor yang mendorong terjadinya polip. Bila polip kecil dilakukan pengobatan dengan obat obatan oral dan penyemprotan dengan obat semprot hidung. Namun bila polip besar dan tidak dimungkinan dengan pengobatan oral atau semprot maka harus dilakukan operasi pengangkatan polip. Sayangnya bila faktor yang menyebabkan terjadinya polip tidak teratasi maka polip hidung ini rawan untuk kambuh kembali demikian berulang ulang. Oleh sebab itu sangat diharapkan

kepatuhan pasien untuk menghindari hal hal yang menyebabkan alergi yang bisa menjurus untuk terjadinya polip hidung.

anatomi dalam hidung

anatomi hidung sagital

LAPORAN STATUS THT

POLIP NASI SINISTRA

PEMBIMBING : Dr. H. R. Gayat Rochiyat, Sp. THT Dr. H. Asad, Sp. THT KL Dr. Achmad Sodikin, Sp. THT KL

DISUSUN OLEH : Ibnu Abbas Satrio Bagoes Putro Wijaya Adika Tito Dharmadi Anugrah Mahadewa Putra Mustafa Budi Mulyawan Dwi Chandra Mulyani Irfan Nadiyansyah Putra

KEPANITRAAN SMF THT RSUD. GUNUNG JATI CIREBON 2012-2013

Anda mungkin juga menyukai