Anda di halaman 1dari 4

Jawaban Diskusi Kasus Osteoporosis

1.

Pada kasus yang dialami wanita tersebut pereda nyeri yang direkomendasikan adalah tramadol. Tramadol merupakan golongan opioid yang memiliki dua mekanisme aksi, yaitu berikatan pada reseptor mu dan menginhibisi reuptake norepinephrine dan serotonin. Selain itu tramadol juga direkomendasikan untuk pengobatan nyeri sedang sampai berat (DiPiro et all, 2005).

2.

Kontraindikasi dan peringatan untuk analgesik yang anda rekomendasikan! Kontraindikasi dari tramadol, yaitu hipersensitivitas dengan tramadol atau opioid ; kecanduan akut dengan alcohol ; analgesik lain, opioid, hipnotik, atau agen psikotropika. Peringatan dari pemberian tramadol Gunakan dengan perhatian pada pasien dengan resiko penikatan tekanan cranial, luka pada kepala, depresi saluran pernafasan, kondisi abdominal akut, riwayat ketergantungan fisik dengan opioid, dan penggunaan bersamaan dengan SSRI, antidepresan trisiklik, neuroleptik, obat-obat yang menurunkan kejang, pada pasien gangguan ginjal dan hati, pada pasien geriatric. Tramadol dihubungkan dengan kejang. Terdapat peningkatan resiko pada pasien dengan kondisi cenderung mengalami kejang seperti cedera kepala. Tramadol tidak direkomendasikan untuk pasien yang menunjukkan gejala ketergantungan dengan opioid atau telah menerima terapi opioid sebelumnya selama lebih dari 1 miggu. Penggunaan tramadol secara jangka panjang mengakibatkan

ketergantungan secara fisik maupun psikologis walaupun tidak seintensif golongan opioid. Jangan berikan terapi tramadol pada pasien dengan nyeri abdominal tanpa evaluasi yang memadai untuk mengetahui penyebab structural atau patofisiologis. Tramadol harus dihentikan penggunaannya setelah penggunaan jangka panjang untuk menghindari gejala kambuhan.

Pasien sebelumnya yang menunjukkan reaksi alergi pada opioid dapat mengalami kejang jika diberikan tramadol. 3. Berdasarkan laporan pada tahun 2003 pada panduan NOF (National Osteoporosis Foundation),terapi adjuvan yang dapat disarankan kepada dokter untuk diberikan bersama analgesik tersebut adalah kalsium. 4. Parameter apa yang harus dimonitor? Parameter yang dimonitor, yaitu serum kalsium, fosfor, dan kreatinin. Selain itu densitas tulang juga dimonitor dengan x-ray absorpsiometer dan radiologi pada fraktur. 5. Osteoporosis merupakan gangguan pada masa tulang yang umumnya terjadi pada usia lanjut (> 60 tahun) akibat kehilangan kalsium sehingga tulang menjadi berpori (porous), tipis rapuh, dan mudah patah. Osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan jaringan pembentuk tulang (osteoblast) dan perombakannya (osteoclast). 6. Obat-obat yang dapat menginduksi osteoporosis yaitu glukokortikoid, replacement hormon tiroid, obat anti epilepsy, dan heparin. 7. Faktor risiko osteoporosis dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor patah tulang dan kehilangan masa tulang. Faktor patah tulang yang berisiko pada osteoporosis seperti densitas tulang, usia, serta riwayat osteoporosis pada keluarga. Faktor kehilangan masa tulang diantaranya gender, etnik, pola hidup, berat badan, asupan kalsium, merokok, alkohol, malnutrisi, masalah kesehatan, dan pengobatan. Faktor risiko pada pasien ini, yaitu usia, rendahnya densitas tulang, gender, serta merokok 8. Terapi nonfarmakologi yang dapat disarankan adalah mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium (susu, yogurt, keju, ice cream, orange juice, serta produk kedelai), vitamin D (lemak ikan), buah dan sayuran yang mengandung magnesium, vitamin A, C, dan K serta protein. Vitamin tersebut dapat meningkatkan produksi osteoblast yang membantu pembentukan tulang. Selain itu dapat juga disarankan pola hidup yang sehat seperti olahraga yang teratur, menghindari merokok dan minum beralkohol, serta istirahat yang cukup.

9.

Pilihan terapi untuk osteoporosis Selain terapi nonfarmakologi, diperlukan juga terapi farmakologi pada penderita osteoporosis. Obat-obatan yang diberikan hendaknya dapat menghambat perombakan tulang (bifosfonat, kalsitonin, dan estrogen) dan menstimulir pembentukannya (steroida anabolik dan fluorida), di samping pemberian kalsium bersama vitamin D. Bifosfonat digunakan pada osteoporosis post menopausal atau akibat penggunaan kortikosteroid sedangkan kalsitonin menghambat secara langsung osteoclast.

10. Jelaskan mekanisme kerja alendronate! Alendronate dapat menginhibisi pembentukan osteoclast, aktivasi osteoclast, menginhibisi pematangan aktivitas osteoclast, menginduksi apoptosis osteoclast. Alendronate juga dapat menginhibisi jalur mevalonat intraseluler. 11. Jelaskan efek samping alendronate! Alendronate dapat menurunkan kadar kalsium dan fosfat dalam serum. Selain itu dapat menyebabkan nyeri perut, dyspepsia, konstipasi, diare, esophageal ulcer, dysphagia. 12. Jelaskan interaksi alndronate dengan obat lainnya dan makanan! Pemberian alendronate bersamaan dengan antasida, kalsium, atau vitamin, serta makanan, orange juice atau kopi dapat mengganggu absorpsi dari alendronate. Bioavailabilitas alendronate dapat ditingkatkan dengan

pemberian bersamaan dengan i.v ranitidine. 13. Apa saran anda untuk aturan pakai obat-obat tersebut? Dari kasus yang dipaparkan, saran saya pada pemberian kalsium sebaiknya 30 menit setelah diberikan alendronate agar tidak mengganggu absorpsi alendronate. 14. Saran apa yang berkaitan dengan pemberian alendronat? Saran yang dapat diberikan pada penggunaan alendronate, yaitu penggunaan bersamaan dengan antasida, kalsium, atau vitamin, serta makanan, orange juice atau kopi diberikan jeda waktu 30 menit agar tidak mengganggu absorpsi alendronate. Alendronate dikonsumsi dengan air mineral untuk membantu absorpsinya.

15. Pasien meminta informasi mengenai teripatide dan meminta saran anda tentang kemungkinan pilihan tersebut. Berikan saran anda! Teripatide dapat digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Obat ini dapat menurunkan risiko faktur vertebral. Teripatide diberikan secara subcutan pada area perut. Saran pada penggunaan teripatide tidak dapat dikombinasikan dengan alendronate karena bifosfonat dapat menurunkan efek teripatide.