Anda di halaman 1dari 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Tumor
Gangguan yang terjadi pada pertumbuhan sel dimana sel otonom meningkat dan tidak bereaksi adekuat terhadap mekanisme pengaturan pertumbuhan yang mengatur jaringan lain

(Wagener, et. Al, 1996)

GEJALA TUMOR
Pembengkakan Obstruksi (pembuluh darah atau organ berongga) Ulserasi (kulit arau selaput lendir) Kehilangan darah (manifest atau okult)

Lokal

Sistemik

Berat badan menurun Gejala-gejala paraneoplastik

KARSINOGENESIS
Merupakan proses yang berlangsung sangat lama, karena dibutuhkan banyak pembelahan sel yang bertransformasi untuk menjadikan suatu tumor menunjukkan manifest klinis. Dapat berlangsung 5-10 tahun, tergantung pada frekuensi pembelahannya.
Tumor jinak (benigna)
TUMOR

Tumor ganas (maligna)

KANKER

PERBEDAAN BENIGNA dan MALIGNA


Ciri Batas Benigna Tajam Maligna Tidak tajam, tak teratur (Pseudo) kapsel Cara pertumbuhan Kecepatan pertumbuhan Nekrosis Jarang Frekuen Frekuen Ekspansif Rendah Jarang Infiltrated Tinggi

Diferensiasi
Atipi sel/inti Aktivitas mitotik

Tinggi
Sedikit Sedikit

Sedang sampai buruk


Keras Tinggi

SIFAT KANKER
Infiltratif (mampu tumbuh ke dalam jaringan sekitarnya) Sehingga sel-sel kanker dapat menembus ke dalam saluran limfe hingga kelenjar limfe atau ke peredaran darah hingga organ-organ lain. Pertumbuhan dalam kelenjar limfe dan organ-organ yang berjarak dinamakan pembentukan Metastasis. Pembentukan metastasis klinis merupakan sifat terpenting dari pertumbuhan tumor maligna karena metastasis biasanya tidak dapat ditangani dan menentukan prognosis

LEUKEMIA (KANKER DARAH)


Merupakan salah satu tumor ganas dimana terjadi proliferasi dan pendewasaan salah satu sel induk sumsum tulang yang tidak sesuai aturan (tidak normal). Sel induk mengalami transformasi maligna sehingga menumbuhkan sel dengan berbagai kelainan. Kelainan ini yang nantinya menjadi ciri-ciri klinis leukemia.

LEUKEMIA

Leukemia Kronis

Leukemia Mieloid Akut (AML)

Leukemia Akut
Leukemia Limfatik Akut (ALL)

Gejala-gejala klinik akibat insufisiensi sumsum tulang antara lain : Pucat, lesu dan dispnoe karena kurang darah Febris, infeksi saluran nafas bawah dan atas Perdarahan spontan, purpura, perdarahan gusi, menoragia, epistaksis dan kadang-kadang perdarahan dalam sebagai akibat dari trombositopenia. Selain itu keluhan dapat timbul sabagai akibat infiltrasi organ oleh leukemia

LLA pada Anak


Dari anak yang menderita kelainan maligna, 30-35% menderita salah satu bentuk leukemia. Leukemia pada anak lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Anak-anak yang menderita leukemia, 95% merupakan bentuk akut dan 5% merupakan leukemia kronik. Anak-anak penderita leukemia akut tersebut, 80% merupakan bentuk LLA.

Faktor yg berperan dalam terjadinya leukemia : lingkungan, virus, genetik dan imunodefisiensi
Gejala klasik leukemia : Anemia Leucopenia dan trombositopenia Anak tampak pucat dan lelah Demam (manifestasi infeksi yang berulang) Inflamasi yang tidak sembuh dengan baik Perdarahan Gangguan pada tulang (timbulnya rasa nyeri pada malam hari pada punggung, lengan dan tungkai) Pembengkakan kelenjar Hepatosplenomegali

DIAGNOSIS LLA
Pemeriksaan DL
Pemeriksaan sumsum tulang dan likuor
Diagnosis

Pemeriksaan fungsi organ dan ginjal Pemeriksaan mek. pembekuan darah


Pemeriksaan rontgen tulang

Interaksi Vincristine
Vincristine + Obat penghambat sitokrom subfamily CYP3A

Penurunan metabolisme Vincristine

Meningkatkan toksisitas Vincristine

Interaksi Vincristine
GOLONGAN AZOLE

ANTIEPILETIK

VINCRISTINE
ISONIAZID

NIFEDIPINE

Vincristine dengan golongan Azole


Itraconazole dapat meningkatkan toksisitas vincristine. Itraconazole menginhibisi metabolisme vincristine oleh enzim sitokrom P450, sehingga klierensnya dari tubuh menurun dengan cepat. Mekanisme lain yang dapat terjadi yaitu itraconazole menginhibisi P-glycoprotein dan meningkatkan neurotoksisitas vincristine yang dihasilkan karena inhibisi pompa dalam sel endotel dari barier darah otak

Vincristine dengan Antiepileptik


Carbamazepine and phenytoin mengurangi kadar vincristine dalam plasma darah sehingga mengurangi efikasi dari obat tersebut. Suatu penelitian menunjukkan pasien yang menerima phenytoin dan kemoterapi dengan vinca alkaloid menghasilkan peningkatan klierens dari vincristine yang diinduksi oleh agen antiepileptik yang mempunyai ikatan sama dengan reseptor. Induksi enzim oleh antiepiletik meningkatkan metabolism dari vincristine oleh sitokrom P450 isoenzim CYP3A4

Vincristine dengan Isoniazid


Suatu penelitian menunjukkan efek neurotoksik vincristine mungkin meningkat karena adanya interaksi dengan isoniazid

Vincristine dengan Nifedipine


VINCRISTINE + NIFEDIPINE MENURUNKAN KLIERENS VINCRISTINE KADAR VINCRISTINE DALAM PLASMA MENINGKAT TOKSISITAS MENINGKAT

Mekanisme kerjanya diduga dapat menghambat metabolisme vincristine oleh enzim sitokrom P450, sehingga klierensnya dari tubuh menurun