Anda di halaman 1dari 41

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN

Rencana pola ruang wilayah kabupaten meliputi rencana pola ruang kawasan lindung dan rencana pola ruang kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis kabupaten. Rencana pola ruang wilayah kabupaten dapat dilihat pada gambar 4.1.

4.1 RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG


Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa, guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Pengembangan kawasan lindung di Kabupaten Indramayu bertujuan untuk mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup, meningkatkan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antar wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan. Kawasan lindung Kabupaten Indramayu meliputi : a. b. c. Kawasan hutan lindung. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya berupa kawasan resapan air. Kawasan perlindungan setempat, terdiri atas: 1. Kawasan sempadan pantai. 2. Kawasan sempadan sungai. 3. Kawasan sekitar waduk dan situ. 4. Kawasan sempadan jaringan irigasi. 5. Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan. d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, terdiri atas: 1. Kawasan suaka margasatwa. 2. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. e. Kawasan rawan bencana alam terdiri atas: 1. Kawasan rawan gelombang pasang. 2. Kawasan rawan banjir.

IV-1

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

IV-2

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


f. Kawasan lindung geologi, terdiri atas: 1. Kawasan rawan bencana alam geologi. 2. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. g. Kawasan lindung lainnya, terdiri atas: 1. Kawasan perlindungan plasma nutfah. 2. Kawasan terumbu karang. Adapun kriteria setiap komponen kawasan lindung dapat dilihat pada tabel 4.1. Berdasarkan jenis dan kriteria kawasan lindung tersebut, maka rencana pola ruang kawasan lindung Kabupaten Indramayu adalah : a. Menetapkan kawasan lindung Daerah sebesar 14 (empat belas) persen dari luas seluruh wilayah Daerah yang meliputi kawasan lindung berupa kawasan hutan dan kawasan lindung di luar kawasan hutan, yang ditargetkan untuk dicapai pada tahun 2031. b. Mempertahankan kawasan hutan minimal 30 (tiga puluh) persen dari luas Daerah Aliran Sungai (DAS). c. Mempertahankan kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis untuk menjamin ketersediaan sumberdaya air. d. Mengendalikan pemanfaatan ruang kawasan lindung yang berada di luar kawasan hutan sehingga tetap berfungsi lindung. Tabel 4.1 Kriteria dan Lokasi Kawasan Lindung
Fungsi Jenis/Tipe Kriteria
Kawasan pantai

Klasifikasi Fisik Hutan

Lokasi Kecamatan Losarang, Cantigi dan Pasekan

Luas 8.023 Ha

1. Kawasan Hutan Lindung Kawasan hutan Hutan berfungsi lindung lindung

berhutan bakau sesuai SK Menhut No. 419/Kpts II/1999

2. Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya Kawasan resapan Kawasan dengan Non Hutan Kecamatan Gantar, air curah hujan rataKroya, Terisi, rata lebih dari 1000 Cikedung, Lelea, mm/tahun. Widasari, Bangodua Lapisan tanahnya dan Tukdana berupa pasir halus berukuran minimal 1/16 mm. Mempunyai kemampuan meluluskan air

8.805 Ha

IV-3

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria dengan kecepatan lebih dari 1 m/hari. Kedalaman muka air tanah lebih dari 10 m terhadap permukaan tahan setempat. Kelerengan kurang dari 15%. Kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari kedudukan muka air tanah dalam. 3. Kawasan perlindungan setempat 3.1 Sempadan Daratan sepanjang pantai tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 3.2 Sempadan sungai Sekurangkurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan. Sekurangkurangnya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanankiri sungai kecil yang tidak bertanggul diluar kawasan perkotaan. Sekurangkurangnya 10 meter dari tepi sungai untuk yang mempunyai Non Hutan Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Cantigi, Pasekan, Losarang, Kandanghaur, Patrol dan Sukra. Sungai Cimanuk, Cipanas, Cipunegara, Cilalanang, Pangkalan, Kumpulkuista, Pamengkang dan Cimanis. 7.458Ha Klasifikasi Fisik Lokasi Luas

Non Hutan

1.917 Ha

IV-4

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria kedalaman tidak lebih besar dari 3 meter. Sekurangkurangnya 15 meter dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 meter - 20 meter. Sekurangkurangnya 20 meter dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 meter. Sekurangkurangnya 100 meter dari tepi sungai untuk sungai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut, dan berfungsi sebagai jalur hijau. 3.3 Kawasan sekitar waduk dan situ Daratan sepanjang tepian waduk dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk dan situ sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Non Hutan Situ Bolang kecamatan Cikedung Situ Buburgadung berada Kecamatan Cikedung Rawa Bedahan Kecamatan Cikedung Rawa Cirakit Kecamatan Cikedung Rawa Sinang Kecamatan Cikedung Rawa Bacin Kecamatan Tukdana Waduk Bojongsari Kecamatan Indramayu di 738 Ha Klasifikasi Fisik Lokasi Luas

di di di di di

di

IV-5

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Klasifikasi Fisik Lokasi
Waduk Cipancuh

Luas

di Kecamatan Haurgeulis

3.4 Kawasan sempadan jaringan irigasi

Garis sempadan air untuk bangunan, diukur dari tepi atas samping saluran atau dari luar kaki tangkis saluran atau bangunannya dengan jarak : 5 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/detik atau lebih, 3 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m3/detik, 2 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m3/detik. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran dengan lebar jalan minimum 4 meter. Perlindungan pada irigasi sekunder baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan minimum 6 meter kiri-kanan saluran. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan

Non Hutan

Lokasi tersebar di Kabupaten/Kota

21.406 Ha

IV-6

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria saluran dengan lebar jalan minimum 3 meter. 3.5 RTH Perkotaan
Lahan dengan luas

Klasifikasi Fisik

Lokasi

Luas

paling sedikit 2.500 meter persegi. Berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur. Didominasi komunitas tumbuhan.

Lokasi tersebar di setiap kecamatan

1.722 Ha

4. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya 4.1 Kawasan Kawasan yang Hutan suaka ditunjuk margasatwa merupakan tempat hidup dan perkembangan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi. Memiliki keanekaraga-man dan/atau keunikan satwa. Memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. 4.2 Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurangkurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan sekurangkurangnya 50 Non Hutan

Suaka Margasatwa di Desa Bulak Kecamatan Jatibarang

4 Ha

Kawasan Pulau

Biawak di Kecamatan Pasekan Kawasan situs yang tersebar di Kecamatan Sindang, Indramayu, Karanganpel, Krangkeng, Jatibarang, Sliyeg, dan Sukagumiwang.

15.540 Ha 12 Ha

IV-7

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. 5. Kawasan rawan bencana alam 5.1. Kawasan Kawasan sekitar gelombang pantai yang rawan pasang terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari. Kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana gelombang pasang. 5.2 Kawasan rawan banjir Kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana banjir. Non Hutan Kecamatan Sukra, Patrol, Kandanghaur, Losarang, Cantigi, Pasekan, Indramayu, Balongan, Juntinyuat, Karangampel, dan Krangkeng. Klasifikasi Fisik Lokasi Luas

Non Hutan

Kecamatan Sukra, Patrol, Kandanghaur, Losarang, Cantigi, Arahan, Lohbener, Sindang, Indramayu, Balongan, Juntinyuat, Karangampel, Krangkeng, Pasekan, Cikedung, Terisi, Bongas, Gabuswetan, Lelea, Widasari, Bangodua, Tukdana, Gantar,

IV-8

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Klasifikasi Fisik Lokasi Haurgeulis dan Jatibarang. Luas

6. Kawasan lindung geologi 6.1 Kawasan rawan bencana alam a. Kawasan rawan abrasi

geologi Pantai yang berpotensi memiliki kerentanan terjadinya abrasi dan/atau pernah mengalami abrasi.

Non Hutan

Kecamatan Sukra, Patrol, Kandanghaur, Losarang, Cantigi, Pasekan, Indramayu, Balongan, Juntinmyuat, Karangampel, dan Krangkeng. Kecamatan Gantar

1.653

Ha

b. Kawasan rawan gerakan tanah

Kawasan dengan kerentanan tinggi untuk terpengaruh gerakan tanah, terutama jika kegiatan manusia menimbulkan gangguan pada lereng di kawasan ini. Meliputi kriteria kawasan imbuhan air tanah : Memiliki jenis fisik batuan tanah dengan kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti. Memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau. Memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan; dan/atau Memiliki muka air tanah tidak tertekan yang letaknya lebih

Non Hutan

14 Ha

6.2 Kawasan yang Memberikan perlindungan terhadap air tanah

Hutan dan Non hutan

Kecamatan Indramayu, Sindang, Pasekan, Cantigi, Arahan, Lohbener, Widasar, Jatibarang, Bangodua, Tukdana, Cikedung, Terisi, Kroya dan Gantar.

29.890 Ha

IV-9

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria tinggi daripada muka air tanah yang tertekan. 7. Kawasan lindung lainnya 7.1 Kawasan perlindungan plasma nutfah
Areal yang ditunjuk

Klasifikasi Fisik

Lokasi

Luas

memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan. Kawasan perlindungan plasma nutfah adalah kawasan di luar kawasan suaka alam dan pelestarian alam yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pelestarian pemanfaatan plasma nutfah tertentu.
Berupa kawasan

Non Hutan

Muara Cimanuk di

Kecamatan Pasekan. Pulau Biawak di Kecamatan Pasekan.

7.2 Kawasan terumbu karang

yang berbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang. Terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 meter. Dipisahkan oleh laguna dengan

Perairan Laut

Pantai Majakerta

di Kecamatan Balongan. Kawasan Pulau Biawak di Kecamatan Pasekan.

IV-10

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Fungsi Jenis/Tipe Kriteria kedalaman antara 40 sampai dengan 75 meter.
Sumber : Keppres No. 32/1990, SK Menhut No. 419/Kpts II/1999, Perda No. 2/1996, PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, Perda No.22/2010 tentang RTRWP Jawa Barat.

Klasifikasi Fisik

Lokasi

Luas

Adapun sasaran pengembangan kawasan lindung adalah : a. Terjaganya fungsi lindung pada kawasan lindung non hutan. b. Terjaganya kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis. c. Terjaminnya ketersediaan sumber daya air. d. Berkurangnya lahan kritis dan tanah terlantar. e. Terbentuknya kawasan penyangga di sekitar kawasan hutan lindung dan konservasi. f. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya pada kawasan lindung. g. Berkurangnya dampak bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan alam.

4.2 RENCANA POLA RUANG KAWASAN BUDIDAYA


Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan budidaya di Kabupaten Indramayu berupa kawasan peruntukan hutan produksi, kawasan peruntukan hutan rakyat, kawasan peruntukan pertanian, kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan pariwisata, kawasan peruntukan permukiman dan kawasan peruntukan budidaya lainnya.

4.2.1 Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Hutan Produksi adalah areal hutan yang dipertahankan sebagai kawasan hutan dan berfungsi untuk menghasilkan hasil hutan bagi kepentingan konsumsi masyarakat, industri dan ekspor. Kawasan peruntukan hutan produksi di Kabupaten Indramayu yaitu berupa hutan produksi tetap seluas 32.004 Ha yang berlokasi di Kecamatan Haurgeulis, Gantar, Terisi, Kroya, Cikedung, dan Tukdana. Dengan memperhatikan kriteria kawasan budidaya hutan produksi yang terdapat dalam RTRWN dan RTRWP Jawa Barat maka arah pengembangan kawasan budidaya hutan produksi adalah :

IV-11

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


1. Meningkatkan pembangunan lintas sektor dan subsektor, serta kegiatan ekonomi sekitarnya. 2. Meningkatkan fungsi lindung. 3. Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya hutan. 4. Meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di daerah setempat. 5. Meningkatkan kesempatan kerja terutama masyarakat setempat. 6. Mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat. Kawasan peruntukan hutan produksi memiliki fungsi antara lain: 1. Penghasil kayu dan bukan kayu. 2. Sebagai daerah resapan air hujan untuk kawasan sekitarnya. 3. Membantu penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. 4. Sumber pemasukan dana bagi Pemerintah Daerah (dana bagi hasil) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kriteria umum dan kaidah perencanaan kawasan peruntukan hutan produksi antara lain : 1. Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi untuk kepentingan pembangunan di luar kehutanan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Tidak mengubah fungsi pokok kawasan peruntukan hutan produksi. b. Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui pemberian ijin pinjam pakai oleh Menteri terkait dengan memperhatikan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian hutan/lingkungan. c. Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi untuk kepentingan pertambangan terbuka harus dilakukan dengan ketentuan khusus dan secara selektif. 2. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi mencakup tentang kegiatan pemanfaatan kawasan, kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, kegiatan pemanfaatan hasil kayu dan atau bukan kayu, dan kegiatan pemungutan hasil kayu dan atau bukan kayu. 3. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi harus terlebih dahulu memiliki kajian studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang diselenggarakan oleh pemrakarsa yang dilengkapi dengan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).

IV-12

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


4. Cara pengelolaan produksi hutan yang diterapkan harus didasarkan kepada rencana kerja yang disetujui Dinas Kehutanan dan atau Kementerian Kehutanan, dan pelaksanaannya harus dilaporkan secara berkala. Rencana kerja tersebut harus memuat juga rencana kegiatan reboisasi di lokasi hutan yang sudah ditebang. 5. Kegiatan di kawasan peruntukan hutan produksi harus diupayakan untuk tetap mempertahankan bentuk tebing sungai dan mencegah sedimentasi ke aliran sungai akibat erosi dan longsor. 6. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi harus diupayakan untuk menyerap sebesar mungkin tenaga kerja yang berasal dari masyarakat lokal. 7. Kawasan peruntukan hutan produksi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan di luar sektor kehutanan seperti pertambangan, pembangunan jaringan listrik, telepon dan instalasi air, kepentingan religi, serta kepentingan pertahanan dan keamanan. 8. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi wajib memenuhi kriteria dan indikator pengelolaan hutan secara lestari yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. 9. Pemanfaatan ruang beserta sumber daya hasil hutan di kawasan peruntukan hutan produksi harus diperuntukan untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan negara dan kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan sebagai daerah resapan air hujan serta memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 83/KPTS/UM/8/1981, penetapan batas hutan produksi sebagai berikut: 1. Parameter yang diperhatikan dan diperhitungkan dalam penetapan hutan produksi adalah lereng (kemiringan) lapangan, jenis tanah, dan intensitas hujan. 2. Untuk keperluan penilaian fisik wilayah, setiap parameter tersebut dibedakan dalam 5 tingkatan (kelas) yang diuraikan dengan tingkat kepekaannya terhadap erosi. Makin tinggi nilai kelas parameter makin tinggi pula tingkat kepekaannya terhadap erosi. 3. Skoring fisik wilayah ditentukan oleh total nilai kelas ketiga parameter setelah masingmasing nilai kelas parameter dikalikan dengan bobot 20 untuk parameter lereng, bobot 15 untuk parameter jenis tanah, dan bobot 10 untuk parameter intensitas hujan (lihat tabel 4.2, Tabel 4.3 dan tabel 4.4);

IV-13

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Tabel 4.2 Skoring Kelas Lereng Hasil Nilai Kelas x Bobot 1 0-8 Datar 20 2 8 - 15 Landai 40 3 15 - 25 Agak curam 60 4 25 - 45 Curam 80 5 45 Sangat curam 100 Sumber : Penanganan Khusus Kawasan Puncak Kriteria Lokasi & Standar Teknik, Dept. Kimpraswil Kelas Lereng Kisaran Lereng (%) Keterangan Tabel 4.3 Skoring Kelas Jenis Tanah Kelas Tanah 1 Kelompok Jenis Tanah Kepekaan Terhadap Erosi Tidak peka Hasil Nilai Kelas x Bobot 15

Aluvial, Tanah, Glei, Planossol, Hidromorf Kelabu, Literite Air Tanah 2 Latosol agak peka 30 3 Brown Forest Soil, Non kurang peka 45 Calcic 4 Andosol, Laterictic peka 60 Gromusol, Podsolik 5 Regosol, Litosol Organosol, sangat peka 75 Renzine Sumber : Penanganan Khusus Kawasan Puncak Kriteria Lokasi & Standar Teknik, Dept. Kimpraswil Tabel 4.4 Skoring Kelas Intensitas Hujan

Kelas Kisaran Curah Hujan Hasil Nilai Intensitas Keterangan (mm/hari hujan) Kelas x Bobot Hujan 1 8 - 13,6 sangat rendah 10 2 13,6 - 20,7 rendah 20 3 20,7 - 27,7 sedang 30 4 27,7 - 34,8 tinggi 40 5 34,8 sangat tinggi 50 Sumber : Penanganan Khusus Kawasan Puncak Kriteria Lokasi & Standar Teknik, Dept. Kimpraswil 4. Berdasarkan hasil penjumlahan skoring ketiga parameter tersebut yaitu lereng, jenis lahan, dan intensitas hujan suatu wilayah hutan dinyatakan memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai hutan produksi tetap jika memiliki skoring fisik wilayah dengan nilai <

IV-14

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


125, tidak merupakan kawasan lindung, serta berada di luar hutan suaka alam, hutan wisata dan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, dan hutan konversi lainnya. Kriteria teknis peruntukan kawasan peruntukan hutan produksi sebagai berikut : 1. Radius atau jarak yang diperbolehkan untuk melakukan penebangan pohon di kawasan hutan produksi: a. > 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau. b. > 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa. c. > 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai. d. > 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai. e. > 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang. f. > 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai. 2. Luas kawasan hutan dalam setiap daerah aliran sungai (DAS) dan atau pulau minimal 30% dari luas daratan. Berdasarkan pertimbangan tersebut setiap provinsi dan kabupaten/kota yang luas kawasan hutannya kurang dari 30% perlu menambah luas hutannya. Sedangkan bagi provinsi dan kabupaten/kota yang luas kawasan hutannya lebih dari 30% tidak boleh secara bebas mengurangi luas kawasan hutannya.

4.2.2 Kawasan Hutan Rakyat Kawasan peruntukan hutan rakyat di Kabupaten Indramayu seluas kurang lebih 38.516 Ha berada di setiap kecamatan. Pengembangan kawasan peruntukan hutan rakyat dapat memanfaatkan kawasan lain berdasarkan daya dukung lingkungan dan nilai ekonomis. Kawasan lain tersebut meliputi: a. b. c. Kawasan sempadan pantai. Kawasan sempadan sungai. Kawasan sekitar waduk dan situ. Melalui pembangunan hutan rakyat berkelanjutan dari tahun ke tahun serta pengelolaannya diarahkan sebagai usaha kelompok tani secara mandiri, diharapkan akan mempercepat upaya rehabilitasi lahan, perbaikan lingkungan, pemenuhan kebutuhan kayu sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan disekitar hutan. Sasaran lokasi hutan rakyat adalah lahan milik rakyat, tanah adat atau lahan di luar kawasan hutan yang memiliki potensi untuk untuk pengembangan hutan rakyatm dapat

IV-15

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


berupa lahan tegalan dan lahan pekarangan yang luasnya memenuhi syarat sebagai hutan rakayat dalam wilayah DAS Prioritas. 4.2.3 Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan budidaya pertanian merupakan kawasan yang ditujukan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Arahan pengembangan pertanian difokuskan pada : 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. Mempertahankan kawasan pertanian pangan irigasi teknis. Mendukung ketahanan pangan provinsi dan nasional. Meningkatkan produktivitas melalui pola intensifikasi, diversifikasi, dan pola tanam yang sesuai dengan kondisi tanah dan perubahan iklim. Ditunjang dengan pengembangan infrastruktur sumberdaya air yang mampu menjamin ketersediaan air. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pemanfaatan yang lestari. Pengembangan kawasan pertanian pangan merujuk pada ketentuan sebagai berikut: Memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian. Terutama berada dalam di lahan beririgasi teknis. Memiliki kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan hortikultura dan memperhatikan aspek penetapan kawasan hortikultura sesuai ketentuan peraturan perundangan. Penetapan kawasan peruntukan pertanian ini diperlukan untuk memudahkan dalam penumbuhan dan pengembangan kawasan pertanian berbasis agribisnis mulai dari penyediaan sarana produksi, budidaya, pengolahan pasca panen dan pemasaran serta kegiatan pendukungnya secara terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan. Manfaat penetapan kriteria peruntukan kawasan pertanian untuk: 1. Meningkatkan daya dukung lahan baik kawasan pertanian yang telah ada maupun melalui pembukaan lahan baru untuk pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan pendayagunaan investasi. 2. Meningkatkan sinergitas dan keterpaduan pembangunan lintas sektor dan sub sektor yang berkelanjutan. 3. Meningkatkan pelestarian dan konservasi sumber daya alam untuk pertanian dan mengendalikan alih fungsi lahan dan pertanian ke non pertanian agar ketersediaan lahan tetap berkelanjutan. 4. Memberikan kemudahan dalam mengukur kinerja program dan kegiatan penumbuhan dan pengembangan kawasan pertanian.

IV-16

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


5. Mendorong tersedianya bahan baku industri hulu dan hilir dan/atau mendorong pengembangan sumber energi terbarukan, dan meningkatkan ketahanan pangan, kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. 6. Menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendapatan nasional dan daerah, melestarikan nilai sosial budaya dan daya tarik kawasan perdesaan sebagai kawasan agropolitan. Kawasan peruntukan pertanian ditetapkan berdasarkan kesesuaian lahan dalam pengembangan komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Tipologi lahan kawasan pertanian berdasarkan kesesuaian lahan dan persyaratan agroklimat tersaji dalam tabel 4.5. Tabel 4.5 Tipologi Lahan Kawasan Berdasarkan Kesesuaian Lahan dan Persyaratan Agroklimat No Kawasan Kesesuaian Lahan Dataran rendah dan dataran tinggi, dengan bentuk lahan datar sampal berombak (lereng <8%), kesesualan lahan tergolong S1, S2 atau S3, memiliki dan atau tidak memiliki prasarana irigasi untuk pengembangan. Dataran rendah dan dataran tinggi, dengan bentuk lahan datan sampai berbukit, kesesuaian lahan tergolong SI, S2 atau S3, clan tersedia sumber air yang cukup. Dataran rendah dan dataran tinggi, dengan bentuk Iahan datar sampai berbukit, kesesualan lahan tergolong SI, S2 atau S3. Persyaratan Agroklimat Disesuaikan dengan komoditas yang dikembarigkan sesuai dengan agropedoklimat setempat Disesuaikan dengan komoditas yang dikembangkan sesuai dengan agropedoklimat setempat Disesuaikan dengan komoditas yang dikembangkan sesuai dengan agropedoklimat setempat Disesuaikan dengan komoditas yang dikembangkan sesuai dengan agropedoklimat setempat

1 Tanaman Pangan

2. Hortikultura

3. Perkebunan

4. Peternakan

Dataran rendah dan dataran tinggi sampai berbukit di luar pemukiman dengan sistem sanitasi yang cukup. Tidak berada di permukiman dan memperhatikan aspek lingkungan.

Sumber :Permentan No. 41 Tahun 2009

IV-17

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Keterangan : S1 = lahan sangat sesuai. S2 = lahan cukup sesuai. S3 = sesuai marjinal. Kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Indramayu meliputi : 1. Kawasan tanaman pangan seluas 92.370 Ha berada di setiap kecamatan. Selanjutnya Kawasan tanaman pangan tersebut akan ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan. 2. Kawasan hortikultura seluas 3.407 Ha berada di setiap kecamatan. 3. Kawasan perkebunan seluas 1.155 Ha berada di setiap kecamatan. 4. kawasan peternakan meliputi : a. Itik tersebar di wilayah Daerah dengan sentra pengembangan komoditas itik meliputi : Kecamatan Haurgeulis, Kecamatan Krangkeng, Kecamatan Jatibarang, Kecamatan Sindang, Kecamatan Anjatan, Kecamatan Gantar, Kecamatan Terisi, Kecamatan Cikedung, Kecamatan Widasari, Kecamatan Kertasemaya, Kecamatan Karangampel, dan Kecamatan Pasekan. b. Kambing dan domba tersebar di wilayah Daerah dengan sentra pengembangan komoditas kambing-domba meliputi : Kecamatan Haurgeulis, Kecamatan Gantar, Kecamatan Kroya, Kecamatan Cikedung, Kecamatan Tukdana, Kecamatan Cantigi, Kecamatan Anjatan, dan Kecamatan Kandanghaur. c. Sapi potong tersebar di wilayah Daerah dengan daerah pengembangan komoditas sapi potong meliputi : Kecamatan Haurgeulis, Kecamatan Gantar, Kecamatan Cikedung, Kecamatan Terisi, Kecamatan Lelea, Kecamatan Tukdana, Kecamatan Kertasemaya, Kecamatan Juntinyuat, dan Kecamatan Anjatan. d. Kerbau tersebar di wilayah Daerah dengan daerah pengembangan komoditas kerbau meliputi : Kecamatan Gantar, Kecamatan Cikedung, dan Kecamatan Terisi. e. Kuda tersebar di wilayah Daerah dengan daerah pengembangan komoditas kuda meliputi : Kecamatan Cikedung, Kecamatan Lelea, Kecamatan Widasari, dan Kecamatan Kandanghaur. f. Ayam ras pedaging di wilayah Daerah dengan sentra pengembangan komoditas ayam ras pedaging meliputi : Kecamatan Haurgeulis, Kecamatan Gantar, Kecamatan Kroya, Kecamatan Gabuswetan, Kecamatan Terisi, Kecamatan Lelea, Kecamatan Kertasemaya, Karangampel, Kecamatan Kecamatan Sukagumiwang, Kedokanbunder, Kecamatan Kecamatan Krangkeng, Lohbener, Kecamatan Kecamatan

Kandanghaur, Kecamatan Bongas, dan Kecamatan Anjatan.

IV-18

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


g. Ayam buras pedaging tersebar di setiap kecamatan. h. Ayam buras petelur tersebar di setiap kecamatan. 4.2.4 Kawasan Peruntukan Perikanan Pengembangan kawasan peruntukan perikanan meliputi: a. Pengembangan kawasan budidaya air tawar. b. Pengembangan kawasan budidaya air payau. c. Pengembangan kawasan budidaya air laut. d. Pengembangan kawasan industri pengolahan perikanan. Pengembangan kawasan peruntukan perikanan, dilaksanakan untuk: a. Meningkatkan produksi ikan. b. Meningkatkan konsumsi ikan. c. Meningkatkan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. d. Meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan dan udang. e. Meningkatkan pengelolaan dan pelestarian sumberdaya perikanan. Kawasan peruntukan perikanan di Kabupaten Indramayu berupa kawasan perikanan tangkap, kawasan perikanan budidaya, kawasan pengolahan, dan kawasan minapolitan. Untuk kawasan perikanan tangkap terdiri dari perikanan tangkap di laut sejauh 4 mil dan kawasan perikanan tangkap di perairan umum. Sementara itu kawasan perikanan budidaya terdiri atas kawasan perikanan budidaya air payau, air tawar, dan budidaya laut. Kawasan perikanan budidaya air payau di Kabupaten Indramayu adalah seluas 14.083 Ha yang berlokasi di Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Sindang, Pasekan, Cantigi, Kandanghaur, Patrol, Sukra, dan Losarang. Sedangkan perikanan budidaya air tawar berlokasi tersebar di setiap kecamatan dengan luas 405 Ha. Sementara itu kawasan perikanan budidaya laut meliputi kawasan pesisir di kabupaten Indramayu yang mencakup 38 desa dan 11 kecamatan dengan laut sejauh 4 mil. Adapun kawasan perikanan budidaya laut ini juga meliputi kawasan peruntukan pelabuhan pendaratan ikan yaitu : 1. 2. 3. Pelabuhan samudera Karangsong yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Indramayu. Pelabuhan perikanan pantai Dadap dan tempat pelelangan ikan Dadap berada di Kecamatan Juntinyuat. Pelabuhan pendaratan ikan Eretan Wetan dan Eretan Kulon yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Kandanghaur.

IV-19

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


4. 5. 6. 7. 8. 9. Pelabuhan pendaratan ikan Glayem yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Juntinyuat. Pelabuhan pendaratan ikan Tegalagung yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Sukra. Pelabuhan pendaratan ikan Ujunggebang yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Sukra. Pelabuhan pendaratan ikan Bugel berada di Kecamatan Patrol. Pelabuhan pendaratan ikan Cemara berada di Kecamatan Losarang. Pelabuhan pendaratan ikan Cangkring berada di Kecamatan Cantigi.

10. Pelabuhan pendaratan ikan Majakerta berada di Kecamatan Balongan. 11. Pelabuhan pendaratan ikan Lombang yang dilengkapai tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Juntinyuat. 12. Pelabuhan pendaratan ikan Limbangan yang dilengkapi tempat pelelangan ikan berada di Kecamatan Juntinyuat. 13. Pelabuhan pendaratan ikan Juntinyuat berada di Kecamatan Juntinyuat. Kawasan pengolahan di Kabupaten Indramayu berupa industri pengolahan hasil perikanan yang berlokasi di Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat, Desa Limbangan Kecamatan Juntinyuat, Desa Karangsong Kecamatan Indramayu, Desa Kenanga Kecamatan Sindang, Kelurahan Paoman Kecamatan Indramayu, Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur, Desa Eretan Kulon Kecamatan Kandanghaur, dan Desa Ujunggebang Kecamatan Sukra. Kawasan minapolitan di Kabupaten Indramayu terdiri dari 4 kawasan minapolitan, yaitu minapolitan garam berada di Desa Santing Kecamatan Losarang, minapolitan perikanan tangkap berada di Desa Karangsong Kecamatan Indramayu, minapolitan perikanan budidaya di Desa Karanganyar Kecamatan Pasekan dan Desa Krimun Kecamatan Losarang serta minapolitan pengolahan hasil perikanan berada di Desa Kenanga Kecamatan Sindang. 4.2.5 Kawasan Peruntukan Pertambangan Pengembangan kawasan peruntukan pertambangan dilakukan dengan tetap menjaga kualitas lingkungan. Pengembangan kawasan peruntukan pertambangan diarahkan untuk: 1. 2. 3. Meningkatkan pendapatan daerah dan perekonomian wilayah. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Mendorong upaya pengendalian pemanfaatan kawasan pertambangan secara lestari, baik untuk pertambangan skala besar maupun skala kecil.

IV-20

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


4. 5. 6. 1. 2. 3. 4. Meningkatkan penerapan penambangan yang memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja. Meningkatkan penanggulangan kerusakan lahan di wilayah kerja pertambangan. Mendukung keberlanjutan ekosistem di wilayah sekitar kawasan. Kawasan peruntukan pertambangan adalah kawasan yang : Memiliki sumberdaya dan potensi pertambangan yang berwujud padat, cair atau gas berdasarkan data geologi. Merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan. Tidak mengganggu fungsi kelestarian lingkungan hidup dan masyarakat sekitarnya. Tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kawasan peruntukan pertambangan di Kabupaten Indramayu meliputi kawasan pertambangan mineral dan kawasan pertambangan minyak dan gas bumi. Kawasan pertambangan mineral terdiri atas mineral bukan logam dan batuan, dimana mineral bukan logam adalah berupa tanah liat yang berlokasi tersebar di setiap kecamatan. Sedangkan batuan berupa sirtu yang berlokasi di Desa Bantarwaru Kecamatan Gantar dan pasir urug yang berada di Kecamatan Gantar, Lohbener, Arahan dan Sukagumiwang. Kawasan pertambangan minyak dan gas bumi di Kabupaten Indramayu berlokasi di Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Sliyeg, Kedokanbunder, Kertasemaya, Jatibarang, Losarang, Lohbener, Kandanghaur, Sukra, Anjatan, Bongas, Kroya,

Gabuswetan, Patrol, Haurgeulis dan Balongan. 4.2.6 Kawasan Peruntukan Industri Sebagian atau seluruh bagian kawasan peruntukan industri dapat dikelola oleh satu pengelola tertentu. Dalam hal ini, kawasan yang dikelola oleh satu pengelola tertentu tersebut disebut kawasan industri. Kawasan peruntukan industri memiliki fungsi antara lain: 1. Memfasilitasi kegiatan industri agar tercipta aglomerasi kegiatan produksi di satu lokasi dengan biaya investasi prasarana yang efisien. 2. Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja. 3. Meningkatkan nilai tambah komoditas yang pada gilirannya meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah yang bersangkutan. 4. Mempermudah koordinasi pengendalian dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan.

IV-21

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Kriteria umum dan kaidah perencanaan kawasan peruntukan industri : 1. Pemanfaatan kawasan peruntukan industri harus sebesar-besarnya diperuntukan bagi upaya mensejahterakan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah dan peningkatan pendapatan yang tercipta akibat efisiensi biaya investasi dan proses aglomerasi, dengan tetap mempertahankan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2. Jenis industri yang dikembangkan harus mampu menciptakan lapangan kerja dan dapat meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat setempat. Untuk itu jenis industri yang dikembangkan harus memiliki hubungan keterkaitan yang kuat dengan karakteristik lokasi setempat, seperti kemudahan akses ke bahan baku dan atau kemudahan akses ke pasar. 3. Kawasan peruntukan industri harus memiliki kajian Amdal, sehingga dapat ditetapkan kriteria jenis industri yang diijinkan beroperasi di kawasan tersebut. 4. Untuk mempercepat pengembangan kawasan peruntukan, di dalam kawasan peruntukan industri dapat dibentuk suatu perusahaan kawasan industri yang mengelola kawasan industri. 5. Khusus untuk kawasan industri, pihak pengelola wajib menyiapkan kajian studi Amdal sehingga pihak industri cukup menyiapkan RPL dan RKL. Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan kawasan peruntukan industri yang berorientasi bahan mentah: 1. Kemiringan lereng : kemiringan lereng yang sesuai untuk kegiatan industri berkisar 0% - 25%, pada kemiringan >25% - 45% dapat dikembangkan kegiatan industri dengan perbaikan kontur, serta ketinggian tidak lebih dari 1000 meter dpl. 2. 3. 4. 5. Hidrologi Klimatologi Geologi Lahan : bebas genangan, dekat dengan sumber air, drainase baik sampai sedang. : lokasi berada pada kecenderungan minimum arah angin yang menuju permukiman penduduk. : dapat menunjang konstruksi bangunan, tidak berada di daerah rawan bencana longsor. : area cukup luas minimal 20 ha, karakteristik tanah bertekstur sedang sampai kasar, berada pada tanah marginal untuk pertanian. Kriteria teknis kawasan peruntukan industri meliputi : 1. Harus memperhatikan kelestarian lingkungan.

IV-22

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


2. Harus dilengkapi dengan unit pengolahan limbah. 3. Harus memperhatikan suplai air bersih. 4. Jenis industri yang dikembangkan adalah industri yang ramah lingkungan dan memenuhi kriteria ambang limbah yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. 5. Pengelolaan limbah untuk industri yang berkumpul di lokasi berdekatan sebaiknya dikelola secara terpadu. 6. Pembatasan pembangunan perumahan baru di kawasan peruntukan industri. 7. Harus memenuhi syarat AMDAL sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundangundangan yang berlaku. 8. Memperhatikan penataan kawasan perumahan di sekitar kawasan industri. 9. Pembangunan kawasan industri minimal berjarak 2 Km dari permukiman dan berjarak 15-20 Km dari pusat kota. 10. Kawasan industri minimal berjarak 5 Km dari sungai tipe C atau D. 11. Penggunaan lahan pada kawasan industri terdiri dari penggunaan kaveling industri, jalan dan saluran, ruang terbuka hijau, dan fasilitas penunjang. Pola penggunaan lahan pada kawasan industri secara teknis dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Pola Penggunaan Lahan Pada Kawasan Industri No. Jenis Penggunaan Struktur Penggunaan (%) 70 % Keterangan

Setiap kaveling harus mengikuti ketentuan KDB sesuai dengan Perda setempat. 2. Jalan dan Saluran 8 12 % Terdapat jalan primer dan jalan sekuder Tekanan gandar primer minimal 8 ton dan sekunder minimal 5 ton Perkerasan jalan minimal 7 meter. 3. Ruang Terbuka Hijau Minimal 10 % Dapat berupa jalur hijau (green belt), taman dan perimeter 4. Fasilitas Penunjang 6 12 % Dapat berupa kantin, guest house, tempat ibadah, fasilitas olahraga, tempat pengolahan air bersih, gardu induk, rumah telekomunikasi. Sumber : Pedoman Teknis Pengembangan Kawasan Industri (Industrial Estate) di Daerah, Balitbang Indag - Puslitbang, 2001

1. Kaveling Industri Maksimal

IV-23

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


12. Setiap kawasan industri, sesuai dengan luas lahan yang dikelola, harus mengalokasikan lahannya untuk kaveling industri, kaveling perumahan, jalan dan sarana penunjang, dan ruang terbuka hijau. Alokasi lahan pada Kawasan Industri dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Alokasi Lahan Pada Kawasan Industri
Luas No Luas Kawasan Industri (Ha) 10 - 20 20 50 50 100 100 200 200 500 500 Lahan Dapat Dijual (Maksimal 70%) Kaveling Industri (%) 65 65 60 50 45 40 70 70 70 70 70 70 Kaveling Komersial (%) Maksimal Maksimal Maksimal Maksimal Maksimal Maksimal 10 10 12,5 15 17,5 20 Kaveling Perumahan (%) Maksimal Maksimal Maksimal Maksimal 10 25 10 30 10 10 10 10 Jalan & Sarana Penunjang Lainnya Maksimal 70% Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai kebutuhan kebutuhan kebutuhan kebutuhan kebutuhan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (%) Minimal Minimal Minimal Minimal Minimal Minimal 10 10 10 10 10 10

No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Sumber : Pedoman Teknis Pengembangan Kawasan Industri (Industrial Estate) di Daerah, Balitbang Indag - Puslitbang, 2001 13. Kawasan Industri harus menyediakan fasilitas fisik dan pelayanan umum. Standar teknis

pelayanan umum dan fasilitas fisik di kawasan industri dapat dilihat tabel 4.8. Tabel 4.8 Standar Teknis Pelayanan Umum di Kawasan Industri No Teknis Pelayanan 1. Tenaga Kerja 2. Luas lahan per unit usaha Standar Kebutuhan 90 110 tenaga kerja/Ha 0,3 5 Ha Keterangan Terdapat beberapa variasi urutan kaveling. Rata-rata kebutuhan lahan 1,34 Ha/unit usaha industri Sumber dari PLN atau swasta Termasuk faximile/telex Telepon umum 1 SST/16 Ha Sumber PDAM/air tanah usaha sendiri sesuai ketentuan yang berlaku Ditempatkan di kiri kanan jalan utama dan lingkungan Saluran tertutup yang terpisah dari saluran drainase Perkiraan limbah padat yang dihasilkan adalah 4 m3/Ha/hari

3. Listrik 4. Telekomunikasi 5. Air bersih 6. Saluran drainase 7. Saluran sewerage 8. Prasarana sampah dan

0,15 0,2 MVA/Ha 4 5 SST/Ha 0,55 0,75 liter/Ha Sesuai debit Sesuai debit sarana 1 bak sampah/kaveling 1 armada sampah/20 Ha 1 unit TPS/20 Ha

IV-24

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


No Teknis Pelayanan 9. Kapasitas kelola IPAL Standar Kebutuhan Standar influent : BOD : 400 600 mg/l COD : 600 800 mg/l TSS : 400 600 mg/l PH : 4 - 10 a. Jalan utama Keterangan Kualitas parameter limbah cair yang berada di atas standar influent yang ditetapkan, wajib dikelola terlebih dahulu oleh pabrik yang bersangkutan 2 lajur 1 arah dengan perkerasan 2 x 7 m, atau 1 jalur dengan perkerasan minimal 8 m 2 arah dengan perkerasan minimal 7 m Diperlukan Trade Center untuk promosi wilayah dan produk Belum termasuk angkutan buruh dan karyawan

10. Jaringan jalan

b. Jalan lingkungan 11. Kebutuhan hunia 1,5 tenaga kerja/unit hunian 12. Kebutuhan fasilitas Sesuai dengan kebutuhan komersila dengan maksimum 20 % luas lahan 13. Bangkitan transportasi Ekspor : 3,5 TEUs/Ha/bulan Impor : 3,0 TEUs/Ha/Bulan

Sumber : Pedoman Teknis Pengembangan Kawasan Industri (Industrial Estate) di Daerah, Balitbang Indag - Puslitbang, 2001

Kawasan peruntukan industri di Kabupaten Indramayu terdiri atas 1. Industri besar seluas 1.000 Ha berada di Kecamatan Balongan. 2. Industri menengah seluas 1.000 Ha berada di Kecamatan Losarang, Kecamatan Kandanghaur, Kecamatan Patrol, dan Kecamatan Sukra. 3. Industri kecil dan makro tersebar di wilayah Daerah meliputi : a. Industri krupuk ikan dan udang berada di Desa Kenanga Kecamatan Sindang. b. Industri batik yang berlokasi di Kelurahan Paoman Kecamatan Indramayu, Desa Pabean Udik Kecamatan Indramayu, Desa Penganjang Kecamatan Sindang, Desa Terusan Kecamatan Sindang dan Desa Babadan Kecamatan Sindang. c. Industri gitar mini berada di Desa Lelea Kecamatan Lelea. d. Industri kain bordir berada di Desa Sukawera Kecamatan Kertasemaya. e. Industri dodol berada di Kecamatan Karangampel. f. Industri keripik melinjo berada di Kecamatan Karangampel. g. Industri gerabah/keramik berada di Kecamatan Kandanghaur. h. Industri kerajinan topeng berada di Kecamatan Sliyeg. i. j. Industri tenun gedogan dan waring berada di Kecamatan Juntinyuat. Industri ayaman bambu dan pandan yang berada di Kecamatan Sliyeg, Arahan dan Lelea. k. Industri kecap berada di Kecamatan Lohbener, Jatibarang dan Juntinyuat.

IV-25

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


l. Industri keripik mangga berada di Kecamatan Lohbener. Dadap Kecamatan Juntinyuat. n. Industri bandeng tanpa duri berada di Kecamatan Indramayu. o. Industri makanan lumpia kering berada di Kecamatan Lohbener. 4.2.6 Kawasan Peruntukan Pariwisata Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Jenis obyek wisata yang diusahakan dan dikembangkan di kawasan peruntukan pariwisata dapat berupa wisata alam atau pun wisata sejarah dan konservasi budaya. Fungsi utama kawasan peruntukan pariwisata memiliki fungsi antara lain: 1. Memperkenalkan, mendayagunakan dan melestarikan nilai-nilai sejarah/budaya lokal dan keindahan alam. 2. Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Kriteria umum dan kaidah perencanaan kawasan peruntukan pariwisata sebagai berikut : 1. Kegiatan kepariwisataan diarahkan untuk memanfaatkan potensi keindahan alam, budaya dan sejarah di kawasan peruntukan pariwisata guna mendorong perkembangan pariwisata dengan memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya, adat istiadat, mutu dan keindahan lingkungan alam serta kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2. Kegiatan kepariwisataan yang dikembangkan harus memiliki hubungan fungsional dengan kawasan industri kecil dan industri rumah tangga serta membangkitkan kegiatan sektor jasa masyarakat. 3. Pemanfaatan lingkungan dan bangunan cagar budaya untuk kepentingan pariwisata, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayan dan agama harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan bangunan cagar budaya tersebut. Pemanfaatan tersebut harus memiliki izin dari Pemerintah Daerah dan atau Kementerian yang menangani bidang kebudayaan. 4. Pengusahaan situs benda cagar budaya sebagai obyek wisata diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dana bagi pemeliharaan dan upaya pelestarian benda cagar budaya yang bersangkutan. 5. Pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan pariwisata harus diperuntukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumber daya tersebut
IV-26

m. Industri rajungan berada di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur dan Desa

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan kaidahkaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup. 6. Pada kawasan peruntukan pariwisata, fasilitas fisik yang harus tersedia meliputi jaringan listrik, telepon, jaringan jalan raya, tempat pembuangan sampah, drainase, dan saluran air kotor. 7. Harus memberikan dampak perkembangan terhadap pusat produksi seperti kawasan pertanian, perikanan, dan perkebunan. 8. Harus bebas polusi. 9. Pengelolaan dan perawatan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah/pemerintah daerah. 10. Setiap orang dilarang mengubah bentuk dan atau warna, mengambil atau memindahkan benda cagar budaya dari lokasi keberadaannya. Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan kawasan peruntukan kawasan pariwisata sebagai berikut : 1. Memiliki struktur tanah yang stabil. 2. Memiliki kemiringan tanah yang memungkinkan dibangun tanpa memberikan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan. 3. Merupakan lahan yang tidak terlalu subur dan bukan lahan pertanian yang produktif. 4. Memiliki aksesibilitas yang tinggi. 5. Tidak mengganggu kelancaran lalu lintas pada jalur jalan raya regional. 6. Tersedia prasarana fisik yaitu listrik dan air bersih. 7. Terdiri dari lingkungan/ bangunan/ gedung bersejarah dan cagar budaya. 8. Memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya, serta keunikan tertentu. 9. Dilengkapi fasilitas pengolah limbah (padat dan cair). Karakteristik kawasan peruntukan pariwisata dapat dilihat pada tabel 4.9 Tabel 4.9 Karakteristik Kawasan Peruntukan Pariwisata
No 1. Jenis Wisata Wisata Alam Wisata bahari Fisik Mempunyai struktur tanah yang stabil Mempunyai kemiringan tanah yang memungkinkan dibangun tanpa memberikan dampak negative terhadap kelestarian Kriteria Teknis Prasarana Jenis prasarana yang tersedia antara lain jalan, air bersih, listrik, dan telepon Mempunyai nilai pencapaian dan kemudahan hubungan yang tinggi dan mudah dicapai Sarana Tersedia angkutan umum Jenis sarana yang tersedia yaitu hotel/penginapan, rumah makan, kantor pengelola, tempat rekreasi dan hiburan, WC umum,

IV-27

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


No Jenis Wisata Kriteria Teknis Prasarana dengan kendaraan bermotor Memperhatikan resiko bahaya dan bencana Perancangan sempadan patai yang memperhatikan tinggi gelombang laut Jenis prasarana yang tersedia antara lain jalan, air bersih, listrik, dan telepon Mempunyai nilai pencapaian dan kemudahan hubungan yang tinggi dan mudah dicapai dengan kendaraan bermotor roda empat

Fisik lingkungan Mempunyai daya tarik flora dan fauna aquatic, pasir putih, dan terumbu karang Harus bebas bau tidak enak, debu, asap serta air tercemar Dibangun disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukannya Status kepemilikan harus jelas dan tidak menimbulkan masalah dalam penguasaannya Mempunyai struktur tanah yang stabil Mempunyai kemiringan tanah yang memungkinkan dibangun tanpa memberikan dampak negative terhadap kelestarian lingkungan Mempunyai daya tarik historis, kebudayaan, dan pendidikan Bebas bau tidak enak, debu, dan air tercemar Luas lahan minimal 3 Ha Mempunyai struktur tanah yang stabil Mempunyai kemiringan tanah yang memungkinkan dibangun tanpa memberikan dampak negative terhadap kelestarian lingkungan Harus bebas bau yang tidak enak, debu, air yang tercemar

Sarana dan musholla Gaya bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan dianjurkan untuk menampilkan cirriciri budaya daerah

2.

Wisata Buatan Tersedia angkutan umum Gaya bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan menampilkan cirri-ciri budaya daerah Jenis sarana yang tersedia yaitu rumah makan, kantor pengelola, tempat rekreasi dan hiburan, WC umum, dan musholla Ada tempat untuk melakukan kegiatan penerangan wisata, pentas seni, pameran dan penjualan barangbarang hasil kerajinan Terdapat perkampungan adat Tersedia angkutan umum Tersedia rumah makan, kantor pengelola, tempat rekreasi dan hiburan, WC umum, Musholla dan tempat parker Tersedia sekurangnya 3 jenis sarana rekreasi yang mengandung unsure hiburan, pendidikan, kebudayaan, dan arena bermain anakanak Ada tempat untuk melakukan kegiatan penerangan wisata,pentas seni, pameran, dan penjualan barangbarang hasil kerajinan

Jenis prasarana yang tersedia antara lain jalan, air bersih, listrik, dan telepon Mempunyai nilai pencapaian dan kemudahan hubungan yang tinggi dan mudah dicapai dengan kendaraan bermotor roda empat

Taman Rekreasi

Sumber : Kriteria Lokasi dan Standar Teknis Kawasan Budi daya, Departemen PU, 2003

IV-28

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Kriteria teknis kawasan peruntukan pariwisata sebagai berikut : 1. Pemanfaatan Taman Wisata Alam untuk kegiatan pariwisata alam dilaksanakan sesuai dengan asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 2. Pemanfaatan Taman Wisata Alam untuk sarana pariwisata alam diselenggarakan dengan persyaratan sebagai berikut: a. Luas kawasan yang dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata alam maksimum 10% dari luas zona pemanfaatan taman wisata alam yang bersangkutan. b. Bentuk bangunan bergaya arsitektur setempat. c. Tidak mengubah bentang alam yang ada. d. Tidak mengganggu pandangan visual. 3. Pihak-pihak yang memanfaatkan kawasan Taman Wisata Alam untuk kegiatan pengusahaan pariwisata alam harus menyusun Rencana Karya Pengusahaan Pariwisata Alam yang dilengkapi dengan AMDAL sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Pemanfaatan kawasan Taman Wisata Alam untuk kegiatan pengusahaan pariwisata alam diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 tahun sesuai dengan jenis kegiatannya. 5. Jenis-jenis usaha sarana pariwisata alam yang dapat dilakukan dalam kawasan Taman Wisata Alam meliputi kegiatan usaha: a. Akomodasi seperti pondok wisata, bumi perkemahan, karavan, dan penginapan. b. Makanan dan minuman. c. Sarana wisata tirta. d. Angkutan wisata. e. Cenderamata. f. Sarana wisata budaya. 6. Dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya setempat, pemerintah daerah dapat menetapkan kawasan, lingkungan dan atau bangunan sebagai lingkungan dan bangunan cagar budaya sebagai kawasan pariwisata budaya. Penetapannya dilakukan apabila dalam suatu kawasan terdapat beberapa lingkungan cagar budaya yang mempunyai keterkaitan keruangan, sejarah, dan arkeologi. 7. Penetapan kawasan, lingkungan dan atau bangunan bersejarah sebagai kawasan pariwisata oleh Pemerintah Kota/Kabupaten berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

IV-29

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


8. Kriteria, tolak ukur, dan penggolongan lingkungan cagar budaya berdasarkan kriteria nilai sejarah, umur, keaslian, dan kelangkaan. Sedangkan kriteria penggolongan bangunan cagar berikut: a. Nilai sejarah dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa perjuangan, ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi simbol nilai kesejarahan tingkat nasional dan atau daerah masing-masing. b. Umur dikaitkan dengan batas usia sekurang-kurangnya 50 tahun. c. Keaslian dikaitkan dengan keutuhan baik sarana dan prasarana lingkungan maupun struktur, material, tapak bangunan dan bangunan di dalamnya. d. Kelangkaan dikaitkan dengan keberadaannya sebagai satu-satunya atau yang terlengkap dari jenisnya yang masih ada pada lingkungan lokal, nasional, atau dunia. e. Tengeran dikaitkan dengan keberadaan sebuah bangunan tunggal monumen atau bentang alam yang dijadikan simbol dan wakil dari suatu lingkungan. f. Arsitektur dikaitkan dengan estetik dan rancangan yang menggambarkan suatu zaman dan gaya tertentu. 9. Berdasarkan kriteria dan tolak ukur, kawasan lingkungan cagar budaya dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan yang berbeda satu dengan lainnya. Penggolongan lingkungan cagar budaya diatur melalui Keputusan Bupati/Walikota setempat. 10. Pelestarian lingkungan dan bangunan cagar budaya yang dijadikan kawasan pariwisata harus mengikuti prinsip-prinsip pemugaran yang meliputi keaslian bentuk, penyajian dan tata letak dengan memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. 11. Pengembangan lahan yang berada dalam kawasan lingkungan cagar budaya harus mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Pengembangan kawasan pariwisata di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada : 1. Pariwisata budaya. Pariwisata budaya di Kabupaten Indramayu berupa Situs Sejarah Wiralodra Indramayu seluas kurang lebih 2 Ha berada di Desa Sindang Kecamatan Sindang dan Cagar budaya Batu Wadon, Batu Lanang, dan rumah adat kayu seluas kurang lebih 3 Ha berada di Desa Cikawung Kecamatan Terisi. 2. Pariwisata alam. Pariwisata alam di Kabupaten Indramayu meliputi: budaya berdasarkan kriteria nilai sejarah, umur, keaslian, kelangkaan, tengeran/landmark, dan arsitektur. Kriteria dan tolak ukur tersebut adalah sebagai

IV-30

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


a. Situ Bolang berada di Kecamatan Cikedung. b. Taman wisata alam laut Kawasan Pulau Biawak seluas kurang lebih 15.540 Ha yang berada di Kecamatan Pasekan. c. Pantai Tirtamaya seluas kurang lebih 9 Ha berada di Kecamatan Juntinyuat. d. Pantai Glayem berada di Kecamatan Juntinyuat. e. Pantai Ujunggebang berada di Kecamatan Sukra. f. Pantai Balongan berada di Kecamatan Balongan. Jatibarang dan Widasari. h. Minawisata sentra garam seluas kurang lebih 1.576 Ha yang berada di Kecamatan Krangkeng, Losarang dan Kandanghaur. i. Wisata flora Rafflesia Arnoldi berada di Desa Pawidean Kecamatan Jatibarang. 3. Pariwisata buatan. Pariwisata buatan di Kabupaten Indramayu yaitu Waterboom Bojongsari dan Waduk Bojongsari seluas kurang lebih 15 Ha yang berada di Kelurahan Bojongsari Kecamatan Indramayu dan Kampung Wisata Air seluas kurang lebih 10 Ha yang berada di Desa Wanantara Kecamatan Sindang. 4. Pariwisata minat khusus. Pariwisata minat khusus meliputi: a. b. c. d. Pondok Pesantren Al-Zaytun seluas kurang lebih 1.200 (seribu dua ratus) hektar berada di Kecamatan Gantar. g. Agrowisata mangga seluas kurang lebih 110 Ha yang berada di Kecamatan

Mangrove centre seluas kurang lebih 5 (lima) hektar berada di Desa Pabean Ilir
Kecamatan Pasekan. Kerajinan batik di Kelurahan Paoman Kecamatan Indramayu. Upacara adat istiadat yaitu: Upacara Ngarot berada Kecamatan Lelea. Pesta laut Nadran di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur, Desa Eretan Kulon Kecamatan Kandanghaur, Desa Karangsong Kecamatan Indramayu, Desa Limbangan Kecamatan Juntinyuat, Desa Lombang Kecamatan Juntinyuat dan Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat. Pesta Sedekah Bumi tersebar di setiap kecamatan. Pesta Ngunjungan tersebar di setiap kecamatan. Jaringan berada di Kecamatan Kandanghaur. Pesta Mapag Tamba tersebar di setiap kecamatan;.

IV-31

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


e. Pesta adat Mapag Sri tersebar di setiap kecamatan.

Wisata kuliner dan wisata tempat pemancingan yang berlokasi tersebar di setiap kecamatan.

4.2.8 Kawasan Peruntukan Permukiman Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan kawasan peruntukan permukiman sebagai berikut : 1. Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%). 2. Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh penyelenggara dengan jumlah yang cukup. Untuk air PDAM suplai air antara 60 L/org/hari 100 liter/org/hari. 3. Tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi). 4. Drainase baik sampai sedang. 5. Tidak berada pada wilayah sempadan sungai/pantai/waduk/danau/mata air/saluran pengairan/rel kereta api dan daerah aman penerbangan. 6. Tidak berada pada kawasan lindung. 7. Tidak terletak pada kawasan budi daya pertanian/penyangga. 8. Menghindari sawah irigasi teknis. Kriteria dan batasan teknis kawasan peruntukan pariwisata sebagai berikut : 1. Penggunaan lahan untuk pengembangan perumahan baru 40% - 60% dari luas lahan yang ada, dan untuk kawasan-kawasan tertentu disesuaikan dengan karakteristik serta daya dukung lingkungan. 2. Kepadatan bangunan dalam satu pengembangan kawasan baru perumahan tidak bersusun maksimum 50 bangunan rumah/ha dan dilengkapi dengan utilitas umum yang memadai. 3. Memanfaatkan ruang yang sesuai untuk tempat bermukim di kawasan peruntukan permukiman di perdesaan dengan menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari bencana hidup. 4. Kawasan perumahan harus dilengkapi dengan: alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan

IV-32

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


a. Sistem pembuangan air limbah yang memenuhi SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. b. Sistem pembuangan air hujan yang mempunyai kapasitas tampung yang cukup sehingga lingkungan perumahan bebas dari genangan. Saluran pembuangan air hujan harus direncanakan berdasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5 tahunan dan daya resap tanah. Saluran ini dapat berupa saluran terbuka maupun tertutup. Dilengkapi juga dengan sumur resapan air hujan mengikuti SNI 03-2453-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan dan dilengkapi dengan penanaman pohon. c. Prasarana air bersih yang memenuhi syarat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kapasitas minimum sambungan rumah tangga 60 liter/orang/hari dan sambungan kran umum 30 liter/orang/hari. d. Sistem pembuangan sampah mengikuti ketentuan SNI 03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman. 5. Penyediaan kebutuhan sarana pendidikan di kawasan peruntukan permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi dan penyelesaian secara lebih rinci ditunjukkan pada tabel 4.10. 6. Penyediaan kebutuhan sarana kesehatan di kawasan peruntukan permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi dan penyelesaian secara lebih rinci ditunjukkan pada tabel 4.11. 7. Penyediaan kebutuhan sarana ruang terbuka, taman, dan lapangan olah raga di kawasan peruntukan permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lahan minimal, radius pencapaian, dan kriteria lokasi dan penyelesaian secara lebih rinci ditunjukkan pada Tabel 4.12. 8. Penyediaan kebutuhan sarana perdagangan dan niaga di kawasan peruntukan permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi dan penyelesaian secara lebih rinci ditunjukkan pada Tabel 4.13. 9. Pemanfaatan kawasan perumahan merujuk pada SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial Perumahan kepada Pemerintah Daerah.

IV-33

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

IV-34

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

IV-35

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

IV-36

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031

IV-37

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


10. Dalam rangka mewujudkan kawasan perkotaan yang tertata dengan baik, perlu dilakukan peremajaan permukiman kumuh yang mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kampung Kota. Fungsi utama kawasan peruntukan permukiman sebagai berikut : 1. Sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan masyarakat sekaligus menciptakan interaksi sosial. 2. Sebagai kumpulan tempat hunian dan tempat berteduh keluarga serta sarana bagi pembinaan keluarga. Kriteria umum dan kaidah perencanaan kawasan peruntukan permukiman sebagai berikut : 1. Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan permukiman harus sesuai dengan daya dukung tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2. Kawasan peruntukan permukiman harus memiliki prasarana jalan dan terjangkau oleh sarana tranportasi umum. 3. Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan permukiman harus didukung oleh ketersediaan fasilitas fisik atau utilitas umum (pasar, pusat perdagangan dan jasa, perkantoran, sarana air bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase) dan fasilitas sosial (kesehatan, pendidikan, agama). 4. Tidak mengganggu fungsi lindung yang ada. 5. Tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumber daya alam. 6. Dalam hal kawasan siap bangun (kasiba) dan lingkungan siap bangun (lisiba), penetapan lokasi dan penyediaan tanah; penyelenggaraan pengelolaan; dan pembinaannya diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri. Kawasan peruntukan permukiman di Kabupaten Indramayu seluas kurang lebih 17.837 Ha yang terdiri dari : 1. Permukiman perkotaan seluas kurang lebih 5.249 Ha yang meliputi 81 desa/kelurahan dan kelurahan tersebar di PKW, PKL, PKLp, dan PPK. 2. Permukiman perdesaan seluas kurang lebih 12.590 Ha yang meliputi 235 desa.

IV-38

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


Arahan pengembangan kawasan permukiman perkotaan : 1. Mengembangkan kawasan permukiman vertikal pada kawasan perkotaan dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi. 2. Mengendalikan kawasan permukiman horizontal pada kawasan perkotaan dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah. 3. Penataan permukiman kumuh perkotaan. 4. Pembangunan Rumah Sakit Tipe B di PKW dan Rumah Sakit Tipe C di PKL. 5. Pembangunan dan pengembangan Puskesmas di PKL, PKLp dan PPK. 6. Pembangunan pusat kebudayaan di PKW. 7. Pembangunan kawasan olahraga terpadu di PKW dan sarana olahraga di PKL, PKLp, dan PPK. 8. Pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Beras Regional berada di Kecamatan Losarang. 9. Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa di PKW, PKL, PKLp, dan PPK. 10. Pengembangan kegiatan perdagangan modern berada di PKW, PKL, dan PKLp. 11. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di PKW, PKL, PKLp, dan PPK. 12. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana peribadatan di PKW, PKL, PKLp, dan PPK. 13. Pengembangan pemakaman umum sebagai ruang terbuka hijau. Sementara arahan pengembangan kawasan permukiman perdesaan diarahkan pada : a. Pengembangan ruang permukiman horizontal mencakup kegiatan pertanian, kehutanan, perikanan, pengelolaan sumberdaya alam, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. b. Penataan permukiman kumuh perdesaan. c. Pembangunan dan pengembangan Puskesmas Pembantu. d. Pembangunan dan pengembangan Pasar Lingkungan. e. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana peribadatan. f. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan dasar. g. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana lapangan olahraga. h. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana peribadatan. i. Pembangunan dan pengembangan taman bermain.

j. Pengembangan pemakaman umum sebagai ruang terbuka hijau.

IV-39

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


4.2.9 Kawasan Budidaya Lainnya Kawasan peruntukan budidaya lainnya di Kabupaten Indramayu adalah berupa kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan negara. Rencana kawasan pertahanan keamanan mencakup penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, yang bertujuan mengamankan dan menjaga fungsi kawasan pertahanan keamanan. Sedangkan sasaran rencana pengamanan tersebut adalah agar terkendalinya kegiatan pembangunan di kawasan pertahanan keamanan, serta terjaminnya kepentingan pertahanan keamanan. Kawasan peruntukan pertahanan keamanan merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan yang terdiri dari kawasan militer dan kepolisian. Kawasan pertahanan keamanan ditetapkan berdasarkan lokasi yang telah ditentukan oleh TNI dan Polri sebagai daerah latihan militer atau daerah pengamanan militer. Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan Negara di kabupaten Indramayu adalah: 1. 2. 3. Markas Batalion Tempur Tentara Nasional Indonesia Arhanudse Batere R berada di Desa Sukamelang Kecamatan Kroya. Markas satuan teritorial Komando Distrik Militer 0616/Indramayu berada di Kecamatan Indramayu. Markas satuan teritorial Komando Rayon Militer yang berlokasi tersebar di 17 (tujuh belas) kecamatan, meliputi : a. Kecamatan Indramayu. b. Kecamatan Sindang. c. Kecamatan Lohbener. d. Kecamatan Jatibarang. e. Kecamatan Bangodua. f. Kecamatan Kertasemaya. g. Kecamatan Sliyeg. h. Kecamatan Karangampel. i. Kecamatan Krangkeng. j. Kecamatan Juntinyuat. k. Kecamatan Losarang. l. Kecamatan Lelea. m. Kecamatan Anjatan.

IV-40

MATERI TEKNIS RTRW KABUPATEN INDRAMAYU 2011-2031


n. Kecamatan Cikedung. o. Kecamtan Haurgeulis. p. Kecamatan Kandanghaur. q. Kecamatan Gabuswetan. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Markas Sub Detasemen Polisi Militer III/3-3 yang berlokasi di Kecamatan Indramayu. Markas Sub Detasemen Zeni Bangunan 073/III Indramayu berada di Kecamatan Indramayu. Markas Polisi Resor Indramayu berada di Kecamatan Indramayu. Markas Polisi Sektor tersebar di setiap kecamatan. Pos TNI Angkatan Laut Dadap berada di Kecamatan Juntinyuat. Pos TNI Angkatan Laut Eretan berada di Kecamatan Kandanghaur.

10. Sub Pos Polair Dadap berada di Kecamatan Juntinyuat. 11. Sub Pos Polair Eretan berada di Kecamatan Kandanghaur.

IV-41

Anda mungkin juga menyukai