Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU BLOK 11 UNIT PEMBELAJARAN 6 BABI DEMAM DAN SESAK NAFAS

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 6

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

BABI DEMAM DAN SESAK NAFAS

I.

LEARNING OBJECTIVE 1) Apa saja penyakit respiratori pada babi yang disebabkan oleh virus? 2) Apa saja penyakit respiratori pada babi yang menular dari unggas?

II.

PEMBAHASAN 1) PENYAKIT RESPIRATORIK PADA BABI a. PRRSV (Porcine Reproductive And Respiratory Syndrome Virus) Virus penyebab penyakit ini berasal dari famili Arteriviridae, yang dapat menyebabkan penyakit reproduksi maupun penyakit respiratori pada babi. Babi yang terjangkit oleh virus ini menunjukkan tanda-tanda demam tinggi, anorexia, dyspnea (susah bernafas), tachypnea (nafas cepat), conjunctivitis

(Brockmeier.dkk, 2002). Virus dari damily Arteriviridae berbentuk icosahedral, beramplop, dan memiliki genome RNA rantai tunggal (Quinn,2002). b. SIV (Swine Influenza Virus) Disebabkan oleh virus influenza tipe A yang merupakan famili dari Orthomyxoviridae. Klasifikasi subtipe didasarkan pada kandungan protein H (Hemagglutinin) dan protein N (Neuraminidase). SIV akut memiliki morbiditas tinggi tetapi mortalitasnya rendah. Hewan yang terserang SIV biasanya menunjukkan gejala demam, dyspnea, batuk dengan suara berat

(Brockmeier.dkk, 2002). Influenza tipe A ini dapat menginfeksi kuda, manusia, unggas, bahkan babi. Serotype yang menyerang manusia dan unggas ternyata dapat pula bereplikasi pada babi (Quinn, 2002).

Skema infeksi virus influenza A:

(Quinn, 2002) c. PRCV (Porcine Respiratory Coronavirus) Merupakan bagian dari family Coronaviridae, biasanya menginfeksi babi berusia 5-8 minggu. Virus ini bereplikasi di epitelium saluran pernafasan (Brockmeier.dkk, 2002). d. PRV (Pseudorabies Virus) Termasuk genus Alphaherpesvirus yang dapat menginfeksi saluran pernafasan dan sistem syaraf. Virus ini memiliki mortalitas tinggi terhadap babi muda, dengan menyerang sistem syaraf pada hewan tersebut. Sedangkan mortalitas dari virus ini rendah pada babi dewasa, dengan menyerang sistem pernafasannya. Babi yang terjangkit virus ini akan mengalami rhinitis, bersinbersin, demam, stress/depresi, tidak mau makan. PRV bereplikasi di epitelium nasofaring dan tonsil, lalu menyebar ke limfonodul dan ke sistem syaraf setelah fase viremia (Brockmeier.dkk, 2002). e. PCV 2 (Porcine Circovirus Type 2) Disebabkan oleh virus dari family Circoviridae, virus yang berukuran kecil, bentuk circuler, memiliki genom DNA. Hewan yang terinfeksi virus ini menunjukkan gejala demam, dyspnea, bahkan bisa diikuti dengan diare. Virus ini memiliki morbiditas yang rendah, namun mortalitas yang tergolong tinggi (Brockmeier.dkk, 2002).

2) SWINE INFLUENZA VIRUS (SIV) a. Etiologi Disebabkan oleh virus influenza tipe A yang merupakan famili dari Orthomyxoviridae. Klasifikasi subtipe didasarkan pada kandungan protein H (Hemagglutinin) dan protein N (Neuraminidase). SIV akut memiliki morbiditas tinggi tetapi mortalitasnya rendah (Brockmeier.dkk, 2002). Virus ini berbentuk pleomorf atau sperikal, nucleocapsid helix, genom RNA rantai tunggal, dan bereplikasi di nukleus (Quinn, 2002).

b. Pathogenesis Penularan virus dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara langsung dapat terjadi secara aerosol, kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Sedangkan penularan secara tidak langsung terjadi bila kotoran

atau bahan tercemar yang mengandung virus kontak dengan hewan yang sehat (Quinn, 2002). SIV bereplikasi pada epitelium saluran pernafasan bagian atas, menyebar ke bronki dan brnkiolus, lalu merusak cillia sehingga terjadi ekstrusi mukus (Brockenmeier, 2002). c. Gejala klinis Biasanya berupa demam akut, sakit pada system respirasi yang ditandai dengan adanya demam (biasanya suhu tubuh 40.5-41.7 C), lesu, anorexia dan kesulitan untuk bernapas. Batuk-batuk dapat terjadi saat fase akhir penyakit. Tingkat morbiditasnya tinggi hampir lebih daripada 100% (Brockmeier.dkk, 2002). Beberapa area dapat menginfeksi daerah paru. Paru yang terinfeksi akan mengalami depresi dan berubah warna menjadi merah tua atau merah-unngu. Limfonodus di daerah antara bronchus dan mediastenalis membengkak. Masa inkubasi 1-3 hari. Utama, timbul dypsnoe. Tidak mampu berjalan bebas, cenderung bergerombol. Radang hidung pengeluaran ingus, bersin-bersin dan konjungtivitis. Punggung melengkung, nafas cepat, apatis, anoreksia, rebah tengkurap. Anorexia. Suhu tubuh 41-41,50C. Setelah 3-6 hari babi dapat sembuh dengan sendirinya. Angka mortalitas babi dewasa kurang dari 1 % kecuali babi dengan bronkopneumonia. (Quinn, 2002) d. Diagnosa Diagnosa dapat dilakukan dengan cara melihat gejala klinis yang ada, selanjutnya dilanjutkan dengan diagnose laboratorium dengan cara mengisolasi virus dari hewan mati terlebih dahulu pada organ trachea, cloaca, feses dan organ lain. Pada hewan yang masih hidup dapat melalui cloaca. Diagnosa dilakukan dengan : TAB, yang digunakan berumur 9-11 hari, panen cairan alantois yang terkandung virus dapat diambil setelah 7 hari inkubasi. HI (Hemaglutinin Inhibition)

Immunodiffusion test Immunoflouresent RT-PCR ELISA Netralisasi (Quinn, 2002) e. Pencegahan Sebagai tindakan pencegahan terhadap penularan atau infeksi dari SIV, babibabi dalam peternakan harus divaksin dengan timing dan jalur pemberian yang tepat. Selain itu, diperlukan juga manajemen kandang yang bagus. Kandang jangan terlalu over populated, suhu jangan terlalu lembab, sirkulasi udara yang bagus bisa mengurangi stress dan mengurangi resiko hewan terserang penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Sistem karantina terhadap babi yang baru masuk, maupun babi yang akan keluar kandang, serta pemisahan babi-babi berdasarkan umur, gender, dan riwayat penyakitnya juga berperan dalam usaha pencegahan terhadap infeksi SIV (Brockmeier.dkk, 2002).

III. DAFTAR PUSTAKA Brockmeier, L.Susan, Patrick G. Halbur, and Eileen L. Thacker. 2002.

Polymicrobial Disease. Cited by ncbi.com. Washington DC: ASM Press. Quinn, P.J. 2002. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Blackwell Science.