Anda di halaman 1dari 39

I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar belakang percobaan, (2) Tujuan Percobaan, (3) Prinsip Percobaan, (4) Manfaat Percobaan, dan (5) Tempat dan Waktu Pelaksanaan Percobaan. 1.1 Latar Belakang Percobaan Sejak dahulu kala, manusia telah melakukan pengawetan pangan. Pengeringan, pengasinan, dan fermentasi biasanya mereka lakukan bila makanan berlebih dan digunakan pada saat makanan segar tidak ada. Sejak jaman purbakala, manusia telah memanfaatkan panasnya api untuk memasak bahan pangan. Walaupun pengawetan dan penemuan panas ini telah lama, namun pemanfaatan panas untuk mengawetkan bahan pangan sesungguhnya baru dimulai pada tahun 1810. Pada waktu itu Nicholas Appert dari Perancis memenangkan hadiah atas keberhasilannya mengawetkan bahan pangan dalam botol dan wadah dengan menggunakan proses pemanasan untuk pertama kalinya

(Wirakartakusumah, 1992). Perpindahan panas merupakan suatu unit operasi yang penting dalam industri pangan, karena hampir setiap proses pengolahan membutuhkan pemindahan panas baik dalam bentuk pemberian maupun pengambilan panas dari bahan untuk mengubah sifat fisik, kimia, karakteristik penyimpanan dari bahan tersebut (Wirakartakusumah, 1992). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga turut memberikan andil yang nyata dalam bidang pengolahan pangan. Pendekatan-pendekatan keteknikan

(engineering) telah banyak membantu mendapatkan hasil olahan yang baik. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perancangan peralatan untuk tiap-tiap unit proses. Berangkat dari kenyataan diatas, maka pemahaman akan unit proses dan peralatan industri pangan merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Beberapa unit operasi yang dibahas antara lain penanganan dan pemilihan bahan, penanganan fluida, pengecilan ukuran, pencampuran, penyaringan, pengolahan dengan menggunakan panas, eveporasi, pengeringan serta pendinginan dan pembekuan. Unit operasi ini dipandang penting dalam mendapatkan hasil olahan pangan yang bermutu (Brennan, 1974). Perpindahan kalor dari satu fluida ke fluida lain melalui suatu dinding padat merupakan masalah yang sering ditemui dalam praktek kimia teknik. Kalor yang dipindahkan itu mungkin berupa kalor laten yang menyertai proses perubahan fase seperti kondensasi (pengembunan), vaporasi (penguapan), atau mungkin pula kalor yang dapat diindera (kalor sensible) yang berkaitan dengan kenaikan atau penurunan suhu, tanpa suatu perubahan fase (Mc Cabe, 1987). 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan perpindahan panas ini adalah untuk mengetahui proses perpindahan panas kalor dari bahan yang mempunyai suhu tinggi ke bahan yang mempunyai suhu rendah. 1.3 Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan perpindahan panas berdasarkan perpindahan panas secara konduksi, konveksi, dan radiasi. Dimana konduksi adalah proses

perpindahan panas atau kalor yang terjadi secara merambat dari satu molekul ke molekul lainnya, tanpa berpindahnya molekul molekul benda. Konveksi adalah proses perpindahan panas dari daerah yang mempunyai suhu tingi ke daerah yang mempunyai suhu rendah disertai berpindahnya molekulmolekul bahan yang bergerak karena adanya dorongan. Dan radiasi adalah proses pemindahan panas yang terjadi secara pancaran dalam bentuk gelombang elektromagnetik. 1.4 Manfaat Percobaan Manfaat dari perpindahan panas antara lain yaitu untuk proses strerilisasi bahan pangan baik cair maupun padat, untuk prosis pasteurisasi bahan cair seperti susu, saribuah, juice buah dll, untuk proses blanching bahan pangan seperti buahbuahan, untuk mengawetkan makanan dari serangan mikroorganisme, untuk proses pengentalan bahan pangan yaitu dengan menggunakan evaporator, serta untuk proses sterilisasi alat-alat dan lain - lain. 1.5 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Percobaan Percobaan ini dilakukan pada tanggal 22 Desember 2012 di laboratorium Mesin dan Peralatan Industri Pangan Universitas Pasundan, Bandung. Jam pelaksanaan pukul 08.00 WIB.

II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan mengenai : (1) Panas dan Perpindahan Panas, (2) Mekanisme Perpindahan Panas, (3) Peralatan Perpindahan Panas,

(4) Pasteurisasi, (5) Jenis Alat Pasteurisasi dan (6) Susu. 2.1 Panas dan Perpindahan Panas Panas diartikan sebagai banyaknya energi yang diberikan pada benda, sedangkan suhu adalah derajat panas-dingin suatu benda. Perubahan suhu suatu benda merupakan akibat adnya panas yang diterma atau dilepaskan benda itu. Benda yang suhunya naik dikatakan menerima panas, sedangkan benda yang suhunya turun dikatkan melepas panas. Makin tinggi kenaikan suhu suatu benda berarti makin banyak pula panas yang diterima benda itu dan bila penurunan suhu suatu benda besar pula panas yang dilepaskan benda itu (Giancoli, 1998). Energi menunjukan kemampuan melakukan usaha. Bila benda mengalami perubahan, menunjukan ada usaha dilakukan pada benda itu. Berbagai perubahan pada benda seperti lilin meleleh, es mencair, terjadi karena benda itu dipanaskan, sedangkan perubahan-perubahan seperti air membeku, rel mengerut jika didinginkan. Uraian diatas menunjukan bahwa kalor dapat melakukan usaha atau merupakan bentuk energi (Giancoli, 1998). Perpindahan panas merupakan suatu fenomena perpindahan energi, peningkatan panas, dan menyebabkan molekul-molekul bergerak lebih cepat sehingga dengan diserapnya panas energi kinetika molekul akan meningkat. Bila molekul dengan kecepatan tinggi bertumbukan dengan molekul yang bergerak

dengan kecepatan lebih rendah, maka panas yang dipindahkan, sehingga molekul yang cepat kehilangan energi sedangkan molekul yang lambat memperoleh tambahan energi (Wirakartakusumah, 1992). Kalor merupakan transfer energi, ketika kalor mengalir dari yang panas ke yang dingin. Dengan demikian, kalor merupakan energi yang ditransfer dari satu benda ke benda lain karena adanya perbedaan suhu. Jumlah total dari semua energi pada semua molekul disebuah benda disebut energi termal atau energi dalam atau dikenal dengan istilah kandungan kalor (Giancoli, 1998). Perbedaan yang jelas dapat dilihat antara temperatur, kalor, dan energi dalam. Temperatur (dalam kelvin) merupakan pengukuran dari energi kinetik ratarata dari molekul secara individu. Energi termal dan energi dalam mengacu pada energi total dari semua molekul pada benda (Giancoli, 1998). Perpindahan panas merupakan suatu unit operasi yang penting dalam industri pangan, karena hampir setiap proses pengolahan membutuhkan pemindahan panas baik dalam bentuk pemberian maupun pengambilan panas dari bahan untuk mengubah sifat fisik, kimia, karakteristik penyimpanan dari bahan tersebut (Wirakartakusumah, 1992). 2.2 Mekanisme Perpindahan Panas 2.2.1.Perpindahan panas dengan cara konduksi Perpindahan panas secara konduksi terjadi bila energi panas dipindahkan dari satu molekul atau molekul atom tanpa merubah posisi molekul tersebut (Giancoli, 1998).

Konduksi adalah proses perpindahan panas atau kalor yang terjadi secara merambat dari satu molekul ke molekul lainnya, tanpa berpindahnya molekul benda. Konduksi panas hanya dapat terjadi dalam suatu benda apabila ada bagian bagian benda itu berada pada suhu yang tidak sama, dan arah alirannya selalu dari titik yang suhunya lebih tinggi ke titik yang mempunyai keadaan suhu yang lebih rendah (Zemansky, 1982). Dasar hukum pemindahan panas secara konduksi diberikan oleh Fourier. Hukum Fourier menyatakan bahwa kecepatan pemindahan panas melalui suatu bahan yang seragam adalah sebanding langsung dengan luas permukaan, perubahan suhu dan berbanding terbalik dengan ketebalan bahan

(Wirakartakusumah, 1992). Hukum Fourier dapat digambarkan sebagai berikut : (dQ/dt = -kA (dt/dX)) Dimana : dQ/dt = Kecepatan pemindah panas (BTU/jam) A = Luas permukaan pindah panas (ft2)

dt/dX = Perubahan suhu per tebal bahan (0 F/ft) K = Konduktivitas termal (BTU / jam ft 0F) Hampir semua jenis makanan memiliki nilai K yang lebih rendah dari K logam. Hal ini disebabkan rendahnya electron bebas dalam bahan makanan tersebut (Wirakartakusumah, 1992).

2.2.2 Perpindahan kalor secara konveksi Pemindahan panas secara konveksi terjadi sebagai hasil gerakan fluida secara bulk. Pemindahan panas konduksi juga terjadi secara simultan, tetapi umumnya tidak nyata dibanding pindah panas secara konveksi. Ada dua jenis cara pemindahan konveksi, yaitu secara alami dan secara paksaan (forded). Dalam konveksi alami, gerakan fluida terjadi karena adanya perbedaan densitas yang terjadi selama pemanasan. Dalam konveksi secara paksaan, aliran terjadi karena adanya pengadukan, pompa atau blower untuk menggerakan fluida

(Wirakartakusumah, 1992). Walaupun zat cair dan gas umumnya bukan merupakan penghantar kalor yang sangat baik, namun dapat mentransfer kalor yang cukup cepat. Konfeksi adalah proses dimana kalor ditransfer dengan pergerakan molekul dari satu tempat ketempat yang lain (Giancoli, 1998). Istilah konveksi ini dipakai untuk perpindahan panas dari satu tempat ke tempat lain akibat perpindahan bahannya sendiri. Tungku udara panas dan sistem pemanasan dengan air panas adalah dua contohnya. Jika bahan yang dipanaskan dipaksa bergerak dengan alat peniup atau pompa, prosesnya disebut konveksi yang dipaksa, kalau bahan itu mengalir akibat perbedaan rapat massa, prosesnya disebut konveksialamiah atau konveksi bebas (Zemansky, 1982). Prosedur yang ditempuh untuk perhitungan dalam prakteknya adalah : H= hA t

Di mana H ialah arus konveksi panas (panas yang karena adanya konveksi diterima oleh atau hilang dari suatu permukaan per satuan waktu). A luas permukaan, dan t adalah perbedaan antara suhu permukaan dengan suhu fluida selebihnya. Langkah berikutnya adalah menentukan nilai h dalam angka yang cocok untuk suatu alat tertentu. Caranya, sebagian berdasarkan analisa dimensi dan sebagian berdasarkan sejumlah percobaan yang rumit. Sebuah contoh yang lazim ialah konveksi alamiah dari dinding atau dari pipa yang suhunya konstan dan dikelilingi oleh udara luar yang beda suhunya dengan suhu dinding atau pipa itu sebesar t (Zemansky, 1982). Kecepatan pindah panas dapat ditentukan dengan hokum Newton yang menyatakan bahwa kecepatan pemindahan panas secara konveksi berbanding lurus dengan luas permukaan dan perbedaan suhu antara fluida yang panas dengan bagian yang dingin. Persamaannya adalah sebagai berikut : Q = h A dt Dimana ; Q = Kecepatan pindah panas (BTU / jam) A = luas permukaan (ft2) dt = Perpindahan suhu (0F) H = Konstanta proporsionalitas (BTU/jam ft2 0F) Konstanta proporsional h disebut juga koefisien pindah panas. Nilai h tergantung dari permukaan, dan kecepatan aliran melewati permukaan dimana terjadi perpindahan panas (Wirakartakusumah, 1992).

2.2.3 Perpindahan kalor secara radiasi Istilah radiasi maksudnya ialah pancaran (emisi) energi terus menerus dari permukaan semua benda. Energi ini dinamakan energi radian dan dalam bentuk gelombang elektromagnet. Gelombang ini bergerak secepat kecepatan cahaya dan dapat melewati ruang hampa, dan juga melalui udara. Kalau terhalang oleh suatu benda yang tak dapat dilaluinya, misalnya telapak tangan atau dinding kamar, gelombang itu akan diserapnya (Zemansky, 1982). Energi radian yang dipancarkan oleh suatu permukaan, per satuan waktu dan per satuan luas, bergantung pada sifat permukaan yang bersangkutan dan pada suhunya. Pada suhu rendah, banyaknya radiasi kecil dan panjang gelombangnya relatif panjang. Jika suhu naik, banyaknya radiasi bertambah dengan cepat, sebanding dengan suhu mutlah pangkat empat (Zemansky, 1982). Pengukuran eksperimental banyaknya pancaran energi radian dari permukaan suatu benda, dilakukan oleh John Tyndall (1820-1893) mengambil percobaan tersebut, dalam tahun 1877 Josef Stefan (1835-1893) mengambil kesimpulan bahwa banyaknya emisi itu dapat dirumuskan berdasarkan hubungan R=eT4 Besaran R disebut sebagai emitansi radian yang sama dengan banyaknya pancaram enrgi radian per satuan luas dan dinyatakan dengan erg per sentimeter kuadrat menurut sistem cgs, dan dalam sistem mks dinyatakan dengan watt per meter kuadrat. Konstanta mempunyai harga 5,6699 X 10-5 dalam satuan cgs. Besaran T ialah suhu kelvin permukaan, dan e dalah daya pancar permukaan yang

terletak

di

antara

nol

dan

satu,

bergantung

pada

sifat

permukaan

(Zemansky, 1982). Misalkan suhu T2 dinding ruang tertutup dibuat tetap dan sejumlah benda yang beralinan emisivitasnya digantungkan bergantian satu per satu di dalamnya. Berapa pun suhu bendabenda itu ketika dimasukkan, pada suatu saat suhu

masingmasing akan menjadi sama dengan suhu dinding ruangan, T2, bahkan sekalipun ruangan dihampaudarakan. Jika bendabenda itu kecil dibandingkan dengan ukuran ruangan, energi radian dari dindingdinding akan mengenai permukaan tiap benda dengan jumlah yang sama besar per satuan waktu. Dari energi ini sebagian terpantul dan sisanya terserap. Kalau dalam ruangan itu tidak terjadi prosesproses lain, energi yang terserap ini akan menyebabkan suhu benda yang menyerap naik. Tetapi ternyata karena suhu benda itu tidak berubah, tiap benda per satuan waktu pastilah memancarkan energi radian dalam jumlah yang sama dengan yang diserapnya. Karena itu penyerap yang baik adalah pemancar yang baik, dan penyerap dan buruk adalah pemancar yang buruk pula. Tetapi karena setiap benda selain menyerap, juga memantulkan energi radian yang diterimanya, penyerap yang buruk pasti juga pemantul yang baik

(Zemansky, 1982). Inilah sebabnya dinding botol vakum harus diberi lapisan perak. Botol termos dibuat dengan dinding gelas rangkap dua, ruang antara dinding dinding ini dihampaudarakan, sehingga pengaliran panas karena konduksi dan konveksi praktis tidak terjadi. Untuk mengurangi pancaran radian sampai serendah

mungkin, dinding dinding tersebut dilapisi dengan lapisan perak, yang sifatnya sangat memantulkan dan karena itu merupakan pemancar yang sangat buruk (Zemansky, 1982). Penyerap yang baik adalah pemancar yang baik, pemancar terbaik adalah permukaan yang menyerap terbaik. Tetapi tidak ada permukaan yang dapat menyerap lebih daripada semua energi radian yang mengenainya. Tiap permukaan yang memancarkan dapat menyerap seluruh energi yang datang merupakan permukaan yang memancarkan paling baik. Permukaan seperti ini tidak memantulkan energi radian, dan sebab itu warnanya akan tampak hitam. Permukaan demikian disebut permukaan hitam sempurna, dan benda yang permukaannnya begini disebut benda hitam sempurna, radiator sempurna, atau benda hitam saja (Zemansky, 1982). Tidak ada permukaaan yang hitam sempurna. Yang sangat hampir hitam sempurna ialah jelaga lampu yang hanya memantulkan kira kira 1% saja. Yang hampir memenuhi syarat- syarat benda hitam ialah ruangan tertutup yang berlubang kecil pada dindingnya. Sebagian energi radian yang masuk lewat

lubang ini akan diserap oleh dinding dinding sebelah dalam. Dari bagian yang terpantul, hanya sebagian yang sangat kecil dapat keluar lagi lewat lubang kecil tersebut. Selebihnya diserap oleh dindingdinding. Jadi lubang itu bersifat sebagai penyerap sempurna. Sebaliknya, energi radian yang dipancarkan oleh dindingdinding tadi atau oleh setiap benda yang ada di dalam ruang tertutup itu lalu keluar lewat

lubangnya, akan sama sifatnya seperti yang dipancarkan oleh radiator sempurna, asal suhu dinding dinding itu uniform (Zemansky, 1982). 2.3. Peralatan Perpindahan Panas Heat exchanger yaitu alat tempat terjadinya pemindahan panas, dengan memanfaatkan panas suatu aliaran fluida untuk pemanasan aliran fluida lain Pemindahan panas dalam heat exchanger dilakukan dengan mengkontakkan dua fluida melalui suatu bidang penukar panas. Fluida pemanas atau pendingin berada dalam suatu jaket, di dalam pipa atau di luar pipa. Luas bidang pemanas harus cukup sesuai dengan kebutuhan panas (Geankoplis, 1933). Heater adalah alat untuk memanaskan atau menaikkan suhu media pemanas. Sebagai pemanas dapat digunakan steam atau fluida panas lain

(Geankoplis, 1933). Cooler adalah alat pendingin atau alat untuk menurunkan suhu suatu fluida. Sebagai media pendingin dapat digunakan air, udara atau fluida lainnya (Geankoplis, 1933). Kondensor adalah alat yang digunakan untuk mengembunkan sehingga terjadi perubahan fase suatu bahan dari gas atau uap menjadi cair (Geankoplis, 1933). Evaporator adalah alat yang digunakan untuk menguapkan pelarut yang terdapat didalam suatu bahan untuk menghasilkan larutan pekat

(Geankoplis, 1933).

Macam-macam alat pemindah panas: 1. Double pipe heat exchanger Exchanger ini terdiri dari satu pipa. Dinding pipa bagian dalam dari permukaan pemindahan kalor. Satu kerugian utama adalah ruang yang secara relatif besar yang duduki untuk kuantitas dari penukar panas dibandingkan dengan jenis lain dari penukar panas lainnya (Toledo, 1994).

Gambar 1. Double pipe heat exchanger 2. Plate heat exchanger Alat ini terdiri dari serangkaian plate stainless stell vertikal yang tipis yang dilengkapi dengan gasket karet sintetis untuk menghasilkan penutup yang kedap air dan untuk mencegah tercampurnya produk dengan media pemanas serta media pendingin platplat ini diberi alur agar cairan mengalami turbulensi dan turbulensi ini, bersamasama dengan, kecepatan tinggi yang diberikan dengan pemompaan, penurunan ketebalan lapisan batas, akan menghasilkan koefisien transfer panas yang tinggi (3000-11500 wm-3 k-1) (Toledo, 1994).

Pengoperasiannya makanan di pompa dari sebuah balance tank ke bagian regenerasi dimana makanan tersebut di beri pra pemanasan oleh makanan yang telah dipasteurisasi terlebih dahulu. Kemudian makanan ini akan dipanaskan sampai temperatur pasteurisasi pada bagian pemanasan dan ditahan pada temperaur tersebut selama waktu yang di butuhkan untuk mencapai pasteurisasi yang di inginkan dalam holding tube jika temperatur tidak tercapai, maka katup pembalik cairan secara otomatis mengembalikan makanan ke dalam balance tank untuk di pasteurisasi ulang. Selanjutnya produk yang telah di pasteurisasi di dinginkan pada bagian regenerasi (dan sekaligus memberikan pra pemanasan terhadap makanan yang datang) dan selanjutnya di dinginkan dengan air dingin, dan jika perlu air (di dinginkan) pada bagian pendingin (Fellow, 1988).

Gambar 2. Mekanisme masuknya cairan dalam PHE 3. Scraped Surface Heat Exchangers Satu jenis penukar panas, yang menemukan penggunaan dalam memproses makanan dalam industri terutama sekali untuk produk yang memiliki kekentalan lebih tinggi, terdiri dari satu silinder jacketed dengan satu silinder internal terpusat pada pertama dan dipasangkan dengan sudut pengikis. Mata pisau berputar,

menyebabkan fluida untuk mengalir sepanjang celah melingkar antara silinder dengan permukaan pemindahan kalor luar secara terus-menerus scraped. Koefisien pemindahan kalor berbeda menurut kecepatan rotasi tetapi daerahnya dengan urutan 900-4000 J s-1 m-2 C-1. Mesin ini adalah digunakan dalam

pembekuan es krim dan dalam pendingin selama manufaktur margarin (Zemansky, 1982).

Gambar 3. Mekanisme Kerja Scraped Surface Heat Exchanger 4. Shell and tube heat exchanger Terdiri dari satu bundel dari tabung diapit oleh shel. Kepala pengaturan memungkinkan untuk satu tabung atau lolos melewati beberapa produk. Lolos dalam satu pengaturan, produk melakukan perjalanan bolakbalik melalui tabung yang berbeda dengan masingmasing lolos sebelum akhirnya meninggalkan heat exchanger. Heat exchanger media diluar tabung biasanya didistribusikan menggunakan sistem buffles (Toledo, 1994).

Gambar 4. Shell and tube heat exchanger 5. Heating Coils Beberapa proses makanan, pemanasan cepat adalah diperlukan dalam panci, sebagai contoh, dalam pendidih dari tiang. Dalam hal ini, satu umparan seperti bentuk sekerup dipasangkan di dalam panci dan uap air sebagai kumparan. Hal ini bisa memberikan lebih besar laju pemindahan kalor dibandingkan jacketed, karena disana mungkin menjadi satu lebih besar permukaan pemindahan kalor dan juga koefisien pemindahan kalor adalah lebih tinggi untuk kumparan dibandingkan untuk dinding panci. Contoh-contoh dari keseluruhan koefisien pemindahan kalor U adalah dikutip sebagai: 300-1400 untuk gula dan solusi tetes tebu memanaskan dengan uap air menggunakan satu kumparan tembaga, 1800 untuk susu dalam satu kumparan memanaskan dengan air diluar, 3600 untuk satu mendidih larutan mengandung air memanaskan dengan uap air dalam kumparan. dengan unit dalam koefisien ini adalah J s-1 m-2 C-1 (Zemansky, 1982).

Gambar 5. Mekanisme Kerja Heating Coils 6. Jacketed Pan Dalam satu jacketed pan, cairan yang dipanaskan terdapat di dalam satu tanki, yang dilengkapi dengan satu penahan cairan yang bergerak melintasi permukaan pemindahan kalor (Zemansky, 1982).

Gambar 6. Jacketed Pan 2.4. Pasteurisasi Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, virus, protozoa, kapang, dan khamir. Proses ini diberi nama atas penemunya Louis Pasteur seorang ilmuwan

Perancis. Tes pasteurisasi pertama diselesaikan oleh Pasteur dan Claude Bernard pada 20 April 1862 (Wikipedia, 2012). Tidak seperti sterilisasi, pasteurisasi tidak dimaksudkan untuk membunuh seluruh mikroorganisme di makanan. Pasteurisasi bertujuan untuk mencapai "pengurangan log" dalam jumlah organisme, mengurangi jumlah mereka sehingga tidak lagi bisa menyebabkan penyakit (dengan syarat produk yang telah dipasteurisasi didinginkan dan digunakan sebelum tanggal kedaluwarsa). Sterilisasi skala komersial makanan masih belum umum, karena dia memengaruhi rasa dan kualitas dari produk. Produk yang bisa dipasteurisasi antara lain susu, anggur, bir, jus buah, cider (sari buah apel), madu, telur, minuman olah raga dan makanan kaleng (Wikipedia, 2012). Pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan mutu susu segar serta memperpanjang umur simpan susu. Pasteurisasi adalah pemanasan susu pada temperatur dan lama waktu tertentu yang tujuan utamanya adalah untuk membunuh bakteri patogen, namun diharapkan perubahan yang terjadi di dalam komposisi, flavor dan nilai nutrisi seminimal mungkin. Standar pasteurisasi menggunakan suhu diatas 62 C selama 3 menit atau suhu 71 C selama 15 detik. Setelah proses pasteurisasi, air susu 0 C atau harus segera didinginkan sampai suhu 4 lebih rendah untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang masih hidup dengan masa simpan tidak rusak dalam waktu kurang lebih 7 hari (Hadiwiyoto, 2009).

Susu pasteurisasi adalah susu sapi segar yang diolah melalui proses pemanasan pada suhu 75 derajat celcius selama 15 detik dengan tujuan mencegah kerusakan susu akibat aktivitas mikroorganisme perusak (patogen) dengan tetap menjaga kualitas nutrisi susu (Multidayadairy, 2011). Metode pengolahan ini merupakan cara yang paling efektif dalam menjaga kemurnian nutrisi susu sapi segar tanpa tambahan zat apapun sehingga umur simpan produk menjadi lebih pendek dibanding produk susu olahan susu lainnya seperti susu UHT (Ultra High Temperature), susu bubuk, dan susu kental manis (Multidayadairy, 2011). Pasteurisasi adalah salah satu proses terpenting dalam penanganan susu. Apabila dilakukan dengan benar, proses ini membuat susu memiliki umur simpan lebih lama. Suhu dan waktu pasteurisasi adalah faktor penting yang harus diukur dengan akurat, untuk menentukan kualitas susu dan kondisi umur simpannya. Untuk susu homogenisasi, pasteurisasi HTST dan susu berkualitas standar, suhu pasteurisasi biasanya 72-75 derajat Celcius selama 15-20 detik. Proses pasteurisasi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain, sesuai dengan peraturan negara setempat. Persyaratan umum di seluruh negara adalah proses pemanasan harus menjamin musnahnya mikro organisme dan semua bakteri patogenik yang tidak diinginkan, tanpa merusak produk tersebut (Anonim, 2012). Dikenal dua metode yang lazim digunakan pada proses pasteurisasi susu yaitu LTLT (Low Temperature Long Time) dan HTST (High Temperature Short Time). Metode LTLT pada dasarnya dilakukan dengan pemanasan susu sampai

suhu 63 65 C dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 30 menit. Alat yang digunakan untuk LTLT berupa tangki terbuka (open vat) dengan pemanas tidak langsung atau lebih dikenal dengan Batch Pasteuriser. Sedang metode HTST dilakukan dengan pemanasan suhu selama 15 -16 detik pada suhu76 C atau lebih dengan alat penukar panas (heat exchanger) dan diikuti dengan proses pendinginan susu dengan cepat agar mikroba yang masih hidup tidak tumbuh kembali (Hadiwiyoto, 2009). 2.5 Jenis Alat Pasteurisasi Alat Penukar Panas (Heat Exchanger) menjadi alat yang paling esensial dalam proses pasteurisasi karena kebutuhan panas yang digunakan untuk pasteurisasi dihasilkan oleh alat penukar panas, beberapa jenis alat penukar panas yang dapat digunakan adalah sebagai berikut : a. Plate Heat Exchanger (PHE) Terdapat 3 komponen yang menyusun PHE, yaitu : 1. Lembar baja tahan karat beralur (plate) Alat penukar panas ini terdiri dari lembar (plate) baja tahan karat (stainless steel) yang telah dicetak dengan mesin press berdaya tinggi yang membentuk aluralur dengan motif tertentu yang dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan lembar baja dan terjadinya turbulensi aliran cairan. Lembar-lembar baja ini disusun dengan jumlah tertentu sesuai kebutuhan dalam suatu kerangka (frame) (Hadiwiyoto, 2009).

Rangka penyusun (frame) Suatu rangka (frame) yang menjepit seluruh susunan lembar baja. Agar setiap pasangan lembar terdapat celah yang dapat dialiri cairan maka disekeliling lembar terdapat parit guna meletakkan pita karet (gasket) (Hadiwiyoto, 2009). Pita karet (gasket) Pita karet (gasket) terbuat dari bahan yang tahan panas/dingin, tahan karat dan non toksis (food grade). Susunan PHE tersebut dapat terdiri dari beberapa bagian (section), misalnya heating, cooling, regeneration, dll (Hadiwiyoto, 2009). b) Tubular Heat Exchanger (THE) Sebelum diketemukan alat penukar panas PHE yang lebih kompak dan dapat diproduksi secara masal , maka alat penukar panas THE telah lebih dahulu digunakan. Perkembangan teknologi THE adalah diperkenalkannya Triple Tube THE dimana pipa terdalam dialiri media pemanas/pendingin, pipa ditengah dialiri produk dan pipa terluar dialiri media pemanas/pendingin lagi. Dengan sistem ini (dikembangkan oleh Stork-Amsterdam) koefisien pemindahan panas THE meningkat (Hadiwiyoto, 2009). Alat penukar panas ini konstruksinya lebih sederhana, yaitu 1. Pipa (tunggal atau kelompok pipa) yang dialiri produk 2. Pipa bagian luar dengan diameter yang lebih besar (jacketed) yang dialiri media pemanas atau pendingin (double tube type THE) (Hadiwiyoto, 2009).

Tabel 1. Perbandingan kelebihan maupun kekurangan dari PHE dan THE Pembanding Plate Heat Exchanger Tubular Heat Exchanger Kelebihan Mudah dibersihkan Pemindahan panas efisien diatas 85 % Dapat mudah kapasitasnya Investasinya lebih murah lebih Dapat difabrikasi di dalam negeri

diperbesar Secara mikrobiologis lebih aman, karena tidak memakai gasket Biaya Perawatan murah

Kekurangan

Investasinya mahal

Koefisien pemidahan dibawah 85 %

panas

Tidak/Belum dapat dibuat di Penambahan kapasitas lebih sulit dalam negeri Jangka waktu lama pemesanan

Biaya perawatan tinggi (Hadiwiyoto, 2009). Dari Tabel 1. diatas dapat dilihat bahwa alat penukar panas jenis PHE merupakan alat penukar panas yang paling efektif dan efisien untuk proses pasteurisasi karena memiliki luas permukaan panas yang lebih tinggi dibandingkan THE (Double Pipe Heat Exchanger). Hal itu juga mengakibatkan efisiensi panas yang dihasilkan oleh alat penukar panas PHE lebih dari 85%. Namun apabila dilihat dari segi investasi yang diperlukan dan skala penggunaan alat tersebut, yaitu laboratorium maka alat jenis THE lebih memiliki keunggulan dibandingkan PHE (Hadiwiyoto, 2009). 2.6 Susu Susu sapi adalah minuman menyehatkan yang digemari banyak orang. Kadar air dalam susu sebenarnya tergantung dari sintesis laktosanya. Jika tanpa

air, maka susu akan menjadi sangat kental karena sebagian besar terdiri dari lemak dan protein yang akan menyulitkan susu untuk keluar dari kelenjar. Jika seseorang menambahkan air ke dalam susu sapi, maka bisa dideteksi dengan mudah melalui beberapa metode yang salah satunya didasarkan pada perubahan titik beku susu (metode cryoscopic). Jika susu ditambahkan air kembali, maka titik bekunya akan mendekati angka nol derajat celsius. Umumnya susu yang tidak ditambahkan air memiliki nilai titik beku -0,5 derajat Celsius (Vera, 2010).

Gambar 7. Susu

III METODOLOGI PERCOBAAN

Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Bahan yang Digunakan, (2) Alat yang digunakan, dan (4) Metode Percobaan. 3.1 Bahan Yang Digunakan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan perpindahan panas adalah susu dan air. 3.2 Alat Yang Digunakan Alat-alat yang digunakan pada percobaan perpindahan panas adalah pasteurizer, termometer, dan gelas ukur. 3.3 Metode Percobaan Pertama-tama siapkan bahan yang akan di pasteurisasi yaitu susu murni sebanyak 1L, lalu atur alat pasteurizer, kemudian masukkan air ke dalam tabung yang terdapat pada pasteurizer, panaskan air hingga suhunya mencapai > 70C, masukkan susu ke dalam tabung bagian atas dan buka kran pengeluaran susu pada bagian bawah tabung, lalu ukur suhu susu dan air sebelum dan sesudah dipanaskan, setelah itu untuk mengetahui volume air ukur tinggi tabung, kemudian hitung kalor perpindahan panas.

Air

Pengukuran Suhu Awal

Pemanasan Pada Pasteurizer T = 700C t = 10 menit

Bahan

Pasteurizer

Bahan Hasil Pasteurizer

Pengukuran Suhu

Perhitungan

Gambar 8. Metode Percobaan Perpindahan Panas

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menguraikan mengenai: (1) Hasil Pengamatan dan (2) Pembahasan. 4.1 Hasil Pengamatan Hasil pengamatan dari percobaan perpindahan panas antara susu dengan air adalah sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Pengamatan Perpindahan Panas Keterangan Hasil Waktu 2 menit V air 0,008 m3 V susu 0,001 m3 T1 air 343 K T2 air 327 K T1 susu 295 K T2 susu 334 K TLMTD air 294,299 K Q perpindahan panas 9831,075 kj (Sumber : Rianty Hedianti, Kelompok A, 2012) 4.2 Pembahasan Suhu yang ditunjukkan termometer tak lain adalah suhu tiap sistem yang berada dalam kesetimbangan termal dengannya. Yang khas pada termometer adalah kepekaannya (perubahan koordinat keadaan akibat sedikit saja peerubahan suhu, dapat terukur), ketelitiannya dalam mengukur koordinat keadaan, dan reproduksibilitasnya (dapat diperbanyak). Satu lagi sifat yang sering dikehendaki dari termometer ialah kecepatannya mencapai kesetimbangan termal dengan sistem lainnya (Zemansky, 1982).

Pemindahan panas atau kalor merupakan suatu fenomena pemindahan energi. Peningkatan panas akan menyebabkan molekul-molekul bergerak lebih cepat, sehingga dengan diserapnya panas energi kinetika molekul akan meningkat. Bila molekul dengan kecepatan tinggi bertumbukan dengan molekul yang bergerak dengan kecepatan lebih rendah, maka panas akan dipindahkan, sehingga molekul yang lebih cepat akan kehilangan energi, sedangkan molekul yang lambat memperoleh tambahan energy (Zemansky, 1982). Termometer yang banyak digunakan di laboratorium adalah termometer termokopel, berupa hubungan dua jenis logam atau logam campuran. Koordinat keadaan termometer ini adalah sebuah besaran kelitrikan yang disebut gaya gerak listrik (ggl) yang dapat diukur dengan potensiometer. Yang sering dipakai adalah termokopel yang salah satu hubungannya terbuat dari platina murni dan yang satu lagi 90% platina dan 10% rhodium. Tembaga dan suatu logam campuran yang disebut konstanta juga sering dipakai (Zemansky, 1982). Termometer tahanan terdiri atas suatu kawat halus, yang biasanya terlindung oleh pipa perak berdinding tipis. Dengan kawat tembaga, termometer ini dihubungkan ke suatu alat pengukur tahanan, misalnya jembatan Whetatone. Karena tahanan dapat diukur dengan ketelitian yang tinggi, termometer tahanan merupakan salah satu alat pengukur suhu yang sangat teliti. Untuk mengukur suhu yang sangat rendah, haruslah dipakai tabung karbon berukuran kecil atau sepotongan kecil kristal germanium sebagai pengganti kumparan kawat halus yang terbuat dari platina (Zemansky, 1982).

Termometer gas terutama dipakai di lembaga standar dan di laboratorium riset universitas. Termometer itu biasanya besar, memakan tempat, dan lambat mencapai kesetimbangan termalnya. Tiap termometer yang dibicaraka diatas dapat dipakai untuk menunjukkan konstannya sutu suhu jika koordinatkeadaannya atausifat termotriknya tetap konstan. Dengan memakai alat tersebut terbuktikan bahwa suatu sistem yang terjadi dari bentuk padat dan bentuk cair bahan yang sama, pada tekanan tetap konstan akan berada dalam kesetimbangan fase hanya pada satu suhu tertentu. Begitu pula, suatu cairan akan berada dalam kesetimbangan fase dengan uapnya hanya pada satu suhu tertentu bila tekanan dibuat tetap konstan (Zemansky, 1982). Sampai saat ini perkataan panas dipakai hanya dalam hubungannya dengan pengaliran atau perpindahan. Jadi pengaliran panas ialah perpindahan energi yang disebabkan hanya olh perbedaan suhu. Jika sepotong kawat tahanan terendam dalam zat cair atau terbalut zat padat, dan dimasukkan sebagai bagian sistem, timbulnya beda potensial konstan V dan arus konstan I dalam kawat tahanan itu membangkitkan (Zemansky, 1982). Perpindahan panas konduksi adalah proses perpindahan panas yang terjadi secara merambat dari satu molekul ke molekul lainnya, tanpa berpindahnya molekul-molekul benda. Perpindahan panas cara ini terjadi pada benda-benda padat. Banyaknya panas yang berpindah dari daerah yang mempunyai suhu tinggi suatu aliran energi yang disebut pengerjaan usaha

ke daerah yang mempunyai suhu rendah per satuan luas permukaan perpindahan panas (Giancoli, 1998). Perpindahan panas radiasi adalah merupakan proses perpindahan panas yang terjadi secara pancaran dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan panas radiasi tidak memerlukan zat perantara atau medium. Gelombang elektromagnetik bergerak dengan kecepatan sama dengan kecepatan sinar dan mempunyai karakteristik panjang gelombang serta frekuensi yang sama (Giancoli, 1998). Radiasi dengan panjang gelombang antara 0,8 sampai 400 mikrometer (infra merah) disebut radiasi panas, karena radiasi pada panjang gelombang ini langsung diserap oleh bahan dikonversikan menjadi panas. Sinar infra merah dipancarkan secara cepat pada permukaan bahan, sehingga biasa digunakan untuk pemanasan pada permukaan (Giancoli, 1998). Semua bahan memancarkan radiasi elektromagnetik, jumlah dan panjang gelombang tergantung pada keadaan fisik dan suhu bahan tersebut. Sebagai perbandingan digunakan bahan yang memancarakn radiasi elektromagnetik secara maksimum, bahan ini disebut sebagai black body (Giancoli, 1998). Menurut teori kinetik, suhu elemen suatu zat sebanding dengan energi kinetik rata-rata molekul-molekul yang membentuk elemen itu. Energi yang dimiliki oleh suatu elemen zat yang disebabkan oleh kecepatan dan posisis relatif molekul-molekulnya disebut energi dalam. Jadi, semakin cepat molekul bergerak, semakin tinggi suhu maupun energi dalam elemen zat. Pemindahan panas secara

konduksi terjadi bila energi panas dipindahkan dari satu molekul atau atom ke molekul atau atom sebelahnya tanpa merubah posisi molekul tersebut (Wirakartakusumah, 1992). Perpindahan panas dalam heat exchanger dilakukan dengan mengkontakkan dua fluida melalui suatu bidang penukar panas. Fluida pemanas atau pendingin berada dalam suatu jaket, di dalam pipa atau di luar pipa. Luas bidang pemanas harus cukup sesuai dengan kebutuhan panas (Wirakartakusumah, 1992). Penggunaan panas dalam pengolahan makanan dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pemanasan. Beberapa bentuk pemanasan antara lain pemasakan, blansir, pasteurisasi dan sterilisasi. Pemasakan atau cooking adalah suatu proses yang tujuan utamanya untuk menghasilkan makanan yang dapat dan enak dimakan. Paling sedikit ada 6 jenis pemanasan, yaitu pemanggangan, perebusan, brioling, penggorengan dan stweing, baking, dan roasting

menggunakan udara panas kering dengan suhu di atas 100 C, brioling dan stewing dilakukan dengan memasukkan produk dalam air mendidih, sedangkan penggorengan melibatkan pemakaian minyak dan suhu 150 C

(Wirakartakusumah, 1992). Percobaan perpindahan panas dilakukan dengan cara pasteurisasi dengan menggunakan alat Plat Heat Exchanger yaitu pasteurizer.

Gambar 8. Pasteurizer Pasteurizer digunakan untuk memberikan heat treatment pada produk yang telah dikemas. Pasteurizer yang digunakan berbentuk bak dari lempengan stainless steel berukuran 2 x 1 x 0.8 m. Sumber panas yang digunakan untuk menaikkan suhu air di dalamnya berasal dari steam (uap panas) yang dihasilkan dari boiler. Air tersebut berfungsi sebagai media penghantar panas dalam proses pasteurisasi. Uap panas dialirkan secara terus-menerus sampai suhu air yang ditunjukkan oleh termometer mencapai 85oC. Setelah mencapai suhu tersebut, suplai steam dihentikan dan kondisi tersebut dijaga selama 15 menit. Di sebelah pasteurizer terdapat bak pendingin yang berfungsi untuk mendinginkan produk setelah dipasteurisasi. Bak pendingin tersebut berisi air dengan suhu maksimum 15oC yang berasal dari cooler. Bak pendingin yang digunakan mempunyai ukuran yang sama dengan pasteurizer yang ada (Model Industri, 2010). Perpindahan panas pada sampel susu ini menggunakan alat pasteurisasi dengan metode HTST (High Temperature Sort Time). Pasteurisasi yang sekarang umum dikerjakan, yaitu cara Batch dan High Temperature Short Time (HTST). Pasteurisasi cara Batch, pemanasan dilaksanakan dalam 2 tangki berdinding

rangkap dengan air panas yang dialirkan ke dalam dinding rangkap berupa lapisan tipis (spray system) dengan kecepatan tinggi atau dengan memenuhinya sama dengan medium pemanas tersebut (flooded system). Setelah pemanasan, susu didinginkan pada tangki yang sama dengan mengganti air panas dengan air dingin yang dialirkan melalui pipa yang sama. Pasteurisasi cara Batch biasanya digunakan oleh industri susu skala kecil mengingat kapasitas pengolahan susunya yang masih terbatas jumlahnya. Kebutuhan akan energi cukup besar untuk membuat air pemanas dan air pendingin untuk memanaskan dan mendinginkan susu. Sementara susu yang dihasilkan dalam jumlah yang sedikit. Ini sangat berpotensi mengalami kerugian dalam setiap proses pasteurisasi susu

(Model Industri, 2010). Pasteurisasi cara High Temperature Short Time (HTST), pemanasan cepat ini dilaksanakan dengan penghantar panas berupa plate heat exchanger yang menggunakan air panas sebagai medium pemanas. Susu yang telah dipanaskan ini kemudian dialirkan ke bagian regenerasi untuk memanaskan susu yang masih dingin dari tangki. Pendinginan sendiri dilakukan pada bagian pendinginan dengan menggunakan air dingin. Pasteurisasi cara High Temperature Short Time (HTST) dimanfaatkan oleh industri susu skala besar yang memerlukan teknologi tinggi serta energi yang besar pula. Memang cara ini lebih canggih dan modern daripada cara Batch, tapi belum memperhatikan efisiensi dan efektifitas penggunaan energi yang mana masih memerlukan air panas dan air dingin, yang

berarti dalam proses pasteurisasinya memerlukan energi untuk membuat air panas dan air dingin (Model Industri, 2010). Mekanisme kerja alat ini adalah berdasarkan perpindahan panas konveksi dan konduksi. Konduksi yaitu pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor secara hantaran atau konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah, proses konduksi pada alat ini yaitu ketika air panas yang merambat pada plat stainlesteel tabung tempat mengalirnya susu sehingga menimbulkan perpindahan panas dari air panas ke pada plat stainlesteel tersebut. Sedangkan konveksi ialah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang dipanaskan. Proses perpindahan kalor secara konveksi merupakan suatu fenomena permukaan. Proses konveksi ini hanya terjadi pada permukaan bahan. Proses konveksi pada alat ini yaitu ketika plate panas yang memanaskan air sebagai media pemanas dan saat stainlessteel memanaskan susu. Sedangkan proses konduksi yang terjadi pada alat ini adalah saat air yang telah panas kemudian memanaskan plat stainlessteel.

Milk

Water

Heater Hot Water Hot Milk Hot Water

Gambar 4. Mekanisme Alat Pasteurizer Pada umumnya tipe heat exchanger dibedakan menjadi 4 menurut aliran fluidanya, yaitu: 1. Pararel Flow, merupakan tipe HE dimana fluida panas dan dingin masuk pada ujung yang sama, mengalir dengan arah yang sama dan berakhir pada ujung yang sama pula. 2. Counter Flow, merupakan tipe HE yang fluida panas dan dingin masuk pada ujung yang berlawanan, mengalir secara berlawanan arah dan berakhir pada ujung yang berlawanan arah pula. 3. Cross Flow, aliran fluida melintang atau tegak lurus. 4. Gabungan antara ke dua atau ketiga tipe diatas (Hadiwiyoto, 2009). Perubahan energi panas dari bahan dapat diketahui dari perubahan suhunya. Jika bahan dipanaskan maka suhu bahan berubah. Panas yang masuk dan

menyebabkan perubahan suhu disebut panas sensible, karena perubahan panas dapat dirasakan. Perpindahan panas yang tidak menyebabkan perubahan suhu disebut panas laten. Panas sesible dapat dihitung dengan persamaan berikut : Q = m Cp dT Dimana Q panas sensible yang dipidahkankan (BTU), m massa bahan, Cp kapasitas panas, dT perubahan suhu bahan (Wirakartakusumah, 1992). Perpindahan panas adalah proses dinamik dimana panas dipindahkan dari bahan yang bersuhu tinggi kebahan yang bersuhu lebih rendah. Kecepatan pemindahan panas tergantung pada perbedaan suhu sehingga perbedaan suhu ini disebut driving forse untuk pemindah panas (Wirakartakusumah, 1992). Perubahan energi panas dapat diketahui dari perubahan suhunya, skala suhu yang umum digunakan adalah derajat celcius, Fahrenheit serta skala-skala absolut derajat kelvin dan rankine. Hubungan skala-skala tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 3. Skala suhu 0 0 C F Titk didih air Titik beku air Kinetika energi nol 100 0 -273 212 32 -460
0 0

373 273 0

672 492 0

(Sumber : Wirakartakusumah, 1992) Panas untuk evaporasi dapat dihitung dari persamaan : Q = m. L Dimana : Q = panas laten yang dipindahkan (BTU)

M = massa bahan yang diuapkan (lb) L = Panas evaporasi (BTU/lb) Misalnya dalam proses pemanasan adalah proses pemanasan dari suhu ruang menjadi uap, maka jumlah panas yang dipindahkan terdiri dari panas yang merubah suhu air dari suhu ruang menjadi suhu didih (100 0 C) kemudian panas yang digunakan untuk merubah air 100 0C menjadi uap pada suhu yang sama. Sehingga total panas yang dipindahkan adalah sebagai berikut : Q total = Q sensible + Q Laten

IV KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini akan menguraikan mengenai: (1) Kesimpulan dan (2) Saran. 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan perpindahan panas dengan menggunakan sampel susu didapat hasil panas yang berpindah pada percobaan adalah

9831,075 kJ. 4.2 Saran Saran saya dalam percobaan ini saat melakukan percobaan sangat diperlukan ketelitian dalam waktu, suhu dan perhitungan sehingga hasil yang diinginkan benar-benar akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Brennan, J.G. (1974), Food Engineering Opration. Applied Science Publishers Limited, London. Cabe Mc. L Warren, (1987), Operasi Kimia Teknik Jilid 1, Erlangga, Jakarta. Fellows, P.J.,(1988), Food Processing Technology, Principle and Practice, Ellis Horwood, New York. Giancoli, C Douglas, (2001), Fisika, Edisi kelima, Erlangga, Jakarta. Geankoplis, C.J., (1993)., Transport Process and Unit Operation, Prentice Hall PTR., United States of America. Hadiwiyoto. (2009). Proses Perpindahan Panas. http://www.scribd.com/doc/98367493/BAB-II-TA. diaskes 28 Desember 2012. Model Industri. (2010). Teknologi Proses Produksi Minuman Nata de Coco, www.unhas.ac.id/gdln/.../04%20NataPeralatan%20produksi.pdf, diakses 28 Desember 2012. Multi. (2011). Susu Pasteurisasi. http://multidayadairy.com/2011/01/31/susupasteurisasi. diaskes 28 Desember 20120. Toledo, Romeo, (1994), Fundamentals of Sood Process Engineering, second Edition, Champan and Hall One Penn Plaza, New York. Vera, (2011), 87% Kandungan Susu Sapi http://www.detikhealth.com, diakses 03 Desember 2011. Adalah Air,

Wikipedia. (2012). Pasteurisasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Pasteurisasi. diaskes 28 Desember 2012 Wiratakusumah, Aman, (1992), Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tingkat Pusat Antar Universitas Pangan dan Institut Pertanian Bogor. Zemansky. Sears., (1982), Fisika untuk Universitas, Binacipta, Jakarta.

LAMPIRAN TLMDT air = T2- T1 ln(T2/ T1) = 7-48 ln(7/48 = 21,2990C = 294,299 K Interpolasi 293,15 294,299 298,15 air 998,23 x 997,08 { Mair M= xv air 4,185 x 4,182 { Qair }( ) M = 997,966 x 0.008 m3 = 7,984 kg Interpolasi 293,15 294,299 298,15 }( ) kg/m3

= m air x cp air x TLMDT air = 7,984 x 4,184 x 294,299 = 9831,075 KJ