Anda di halaman 1dari 14

HIGHWAY

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemetaan Dosen Mata Kuliah : Sukir Maryanto, PhD

Tupa Chandra Ferdi Alfin Putra Valda Anggita Kurnia Cerma Manggala

115090702111002 115090702111001 115090707111001 115090707111003

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatnya sajalah sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini demi keperluan kelengkapan tugas mata kuliah Pemetaan , namun juga demikian semoga makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi penulis tetapi juga bermanfaat bagi para pembaca. Makalah ini ditulis berdasarkan hasil pengumpulan data dari berbagai sumber. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika penulisan dalam makalah ini, oleh karena itu penulis sangat terbuka untuk kritik yang membangun guna memperbaiki makalah-makalah berikutnya. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Terimakasih.

Malang,28 februari 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster. Pengambilan data citra penginderaan jauh melalui media wahana antariksa maupun pesawat terbang, semakin mudah dikerjakan dengan cepat dan akurat. Metoda yang dikembangkan untuk mendukung pembangunan di berbagai sektor pertahanan dibutuhkan teknologi yang mampu menyiapkan maupun memproses dan menampilkan informasi secara cepat akurat dengan biaya tidak mahal. Salah satu metode yang dikembangkan dalam tulisan ini adalah metoda tepat guna yang relatif murah untuk menunjang kepentingan pemetaan terutama di daerah dengan tingkat aktifitas tinggi dengan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan sehingga program monitoring sumber daya alam dan lingkungan baik untuk keperluan komersial maupun militer dapat memberikan manfaat yang lebih baik.

BAB II DASAR TEORI

a.

Pengertian dan jenis Peta Peta dapat didefenisikan sebagai gambaran dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang bersifat selektif di atas bidang datar melalui sebuah bidang proyeksi. Peta bersifat selektif artinya tidak semua kenampakan atau gejala-gejala di permukaan bumi di gambarkan, tetapi dipilih (diseleksi) gejala-gejala yang di butuhkan saja. Peta merupakan penyajian grafis dari bentuk ruang dan hubungan keruangan antara berbagai perwujudan yang diwakili (Ansari, 2002).

Untuk dapat memenuhi kriteria sebuah peta yang baik, maka harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Antara lain: 1) Peta tidak boleh membingungkan 2) Peta itu harus mudah dimengerti atau ditangkap maknanya 3) Peta harus memberikan gambaran yang sebenarnya 4) Peta harus indah, rapi, dan bersih. Peta dapat digolongkan atas beberapa dasar, baik berdasarkan skalanya, isi dan fungsi, maupun tujuannya. 1) Jenis peta berdasarkan skalanya a) Peta skala besar, yaitu semua peta yang mempunyai skala 1 : 25.000. Contoh: peta topografi b) Peta skala sedang, yaitu semua peta yang mempunyai skala lebih dari 1: 25.000 sampai skala 1 : 500.000. c) Peta skala kecil, yaitu semua peta yang mempunyai skala lebih kecil dari 1 : 500.000. 2) jenis peta berdasarkan isi dan fungsinya. a) Peta Umum (General Map), yaitu peta yang memuat kenampakan-kenampakan umum (lebih dari satu jenis), memuat kenampakan fisis (alamiah) dan kenampakan budaya (telah di campuri tangan manusia). b) Peta Tematik, yaitu peta yang memuat satu jenis kenampakan saja (tema tertentu) baik kenampakan fisis maupun kenampakan budaya.

c)

Peta Kart, yaitu peta yang di desain untuk keperluan navigasi, nautical, peta kelautan yang ekivalen dengan peta topografi disebut Peta Batimetrik.

3) Jenis peta berdasarkan tujuan a) Peta Geologi, bertujuan untuk menunjukkan formasi batuan atau aspek geologi lainnya di suatu daerah. b) Peta Iklim, bertujuan menunjukkan berbagai macam sifat iklim di suatu daerah. c) Jenis-jenis lainnya; peta kadaster, peta tanah, peta kependudukan, peta tata guna lahan, dan sebagainya. Untuk menggunakan peta sebagai sumber belajar secara baik perlu tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Tahap membaca peta Pada tahap pertama ini pengguna hendaknya mengidentifikasi simbol (legenda). Untuk ini pengguna harus mengetahui terlebih dahulu bahasa peta. Bahasa peta yang dimaksud meliputi judul, nomor lembar (sheet), skala, orientasi, legenda atau keterangan gambar. 2) Tahap analisis peta Apabila sudah mengetahui secara baik apa yang terdapat pada peta, langkah selanjutnya adalah mengukur atau mencari nilai dari unsur-unsur dalam peta tersebut. Pada tahap ini diperlukan berbagai peralatan untuk membantu menentukan nilai unsur yang bersangkutan (panjang, luas, volume) misalnya mistar, busur derajat, kaca pembesar (lope, steoroskop), benang, planimeter, dan lain-lain. Selain pengukuran, tahap menentukan pola keruangan juga merupakan bagian dari proses analisis. Regionalisasi adalah proses melakukan klasifikasi ruang muka bumi (data spatial); gunanya untuk menyederhanakan agar mudah menafsirkannya. Region adalah hasil akhir dari analisis data spatial yang digambarkan sebagai peta. 3) Tahap interpretasi peta Pada tahap ketiga dalam penggunaan peta yang disebut interpretasi peta, pengguna berusaha mencari jawaban mengapa di bagian tertentu terdapat suatu karakteristik gejala yang berbeda dengan kawasan lainnya, atau mengapa di bagian tertentu terjadi pengelompokan yang berbeda dengan pola di bagian lainnya pada peta yang sama. Untuk itu, diperlukan kemampuan akan kekayaan konsep dan teori keilmuan yang relevan (Hallaf, 2007).

Penggunaan peta ada beberapa macam dan tergantung bidangnya dan kaperluannya diantaranya: 1) Untuk komunikasi informasi ruang, yaitu peta memberikan informasi kepada pengguna misalnya bagaimana kondisi suatu daerah baik fisik maupun sosialnya dalam peta. 2) Untuk menyimpan informasi, dimana peta bisa menggambarkan kondisi suatu daerah dan otomatis data kondisi suatu daerah tersebut tergambarkan dalam suatu peta. 3) Digunakan untuk membantu suatu pekerjaan misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi, perencanaan dan lain-lain, 4) Digunakan untuk membantu dalam suatu desain, misalnya desain jalan, permukiman, dan sebagainya. 5) Untuk analisa data spasial, misalnya perhitungan volume, jarak, kemiringan, dan sebagainya. b. Teknik Pe metaan Pemetaan merupakan suatu kegiatan mengolah data-data nonspasial atau semi-spasial menjadi sebuah data keruangan (peta), sehingga penangkapan informasi dari sebuah objek wilayah dapat lebih mudah dipahami karena sifatnya yang lebih efektif dan efisien. Teknik pemetaan ada yang dilakukan secara manual dan adapula secara digital. Dalam pembuatan peta digital saat ini telah banyak disediakan berbagai model software pemetaan yang hasilnya dapat lebih akurat, efektif dan efisien. Adapun macam-macam software tersebut misalnya Software Ermapper, Surfer, Arcview, ArcGIS dan Mapinfo. Secara umum, teknik pembuatan peta dengan menggunakan software satu dengan software yang lain pada hakekatnya hampir sama, yaitu melibatkan proses input data, pengelolaan dan analisis data, hingga ke proses output data. 1. Proses input data, yaitu kegiatan memasukkan data dan merubah bentuk data asli ke bentuk jenis data yang dapat diterima dan dipakai oleh perangkat lunak. 2. Proses pengelolaan dan analisis data, yaitu kegiatan pengorganisasian data yang melibatkan penambahan data, pengurangan data dan pembaharuan data, sehingga dapat dihasilkan parameter-parameter data yang diinginkan. 3. Proses output data, yaitu kegiatan menayangkan informasi maupun hasil analisis data geografis secara kualitatif ataupun kuantitatif, yang dapat berupa peta, tabel, ataupun arsip elektronik (Nasiah, 2005).

BAB III ISI

Kemajuan teknologi menjadi sangat cepat selama abad jalan raya modern dan berlanjut sampai sekarang. Pengetahuan mengenai tanah dan material jalan raya lainnya dan disain yang menggunakan material tersebut telah sangat luas sehingga material dan desain terserang menjadi lebih ekonomis dan dapat di percaya. Mungkin persoalan paling sulit yang dihadapi pada pengatur jalan raya dan transportasi adalah bagaimana menetapkan penempatan jalan raya yang sesuai dalam perkotaan dan daerah lainnya. Untuk merencanakan , menempatkan , merancang , membangun , dan memelihara jalan raya diperlukan pengumpulan , pengolahan , dan pelaporan data yang sangat banyak. Kemudian disajikan penginderaan jarak jauh yaitu penggunaan foto udara , radar , serta perlengkapan yang serupa untuk pembuatan peta dan lain lain. Penginderaan Jarak Jauh Fotogrametri yang sering disebut penginderaan jarak jauh , di definisikan sebagai ilmu atau cara untuk mendapatkan pengukuran dengan cara fotografi dengan meliputi juga prosedur untuk penafsiran foto dan untuk mengubah foto tunggal kedalam bentuk gabungan (disebut ortofotograf/mozaik) dan kedalam peta. Pemakaiannya tidak hanya pada penempatan , tetapi juga pada perencanaan , desaign geometrik , daerah milik jalan , penyelidikan lalu lintas , klasifikasi dan identifikasi tanah , pengukuran pekerjaan tanah , lokasi material dan survey keadaan kekerasan. Fotogrametri Fotogrametri adalah suatu teknologi dalam meakukan penyelidikan mengenai bentuk , sifat sifat dan lain lain pada permukaan suatu subyek melalui foto fotonya , tanpa berhubungan secara langsung dengan subyek yang sesungguhnya. Secara umum fotogrametri meliputi pengukuran bentuk geometri permukaan dari suatu subyek dan interpretasi foto untuk menyelidiki sifat sifat permukaan dari subyek subyek tersebut.

Sedangkan secara lebih sempit sesuai dengan lokasi pengambilan fotonya , maka fotogrametri dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Fotogrametri udara 2. Fotogrametri teristris 3. Fotogrametri dibawah permukaan air dsb. Pengukuran bidang tanah dengan metoda fotogrametrik untuk pendaftaran tanah sistematik maupun sporadik biasanya dilaksanakan untuk daerah terbuka (mudah untuk diidentifikasi). Alat dan perlengkapan yang digunakan untuk pengukuran bidang tanah yaitu : 1. Peta foto skala 1 : 2500 atau skala 1 : 1000. 2. Meteran/pita ukur, untuk mengukur sisi-sisi bidang tanah. 3. Jarum prik, untuk menandai titik batas bidang tanah pada peta foto. 4. Formulir Gambar Ukur 5. Alat-alat tulis dan lain sebagainya. Hasil pemetaan fotogrametrik yang biasanya digunakan dalam survey lapangan untuk penentuan bidang tanah adalah : 1. Blow up foto udara Blow up foto udara merupakan perbesaran dari pada foto udara dengan skala pendekatan. Blow up foto udara menggambarkan detail keadaan lapangan dari image citra foto . Blow up foto udara bukan merupakan peta. Blow up foto udara merupakan perbesaran dari pada foto udara dengan skala pendekatan. Pengukuran bidang tanah dilaksanakan dengan cara terrestris atau plotting digital sedangkan blow up hanya digunakan sebagai sket bidang tanah dan untuk mencantumkan data ukuran-ukuran sebagai pelengkap Gambar Ukur. Ciri-ciri blow up foto udara biasanya belum dilengkapi dengan format peta, legenda serta simbol-simbol kartografi. Sedangkan yang ada hanya keterangan tentang saat pemotretan yaitu pada bagian tepinya. 2. Peta Foto Peta foto adalah peta yang menggambarkan detail lapangan dari citra foto dengan skala tertentu. Peta foto sudah melalui proses pemetaan fotogrametri oleh karena itu ukuranukuran pada peta foto sudah benar, dengan demikian detail-detail yang ada di peta foto dan dapat didentifikasi dilapangan mempunyai posisi sudah benar di peta. Pelaksanaan pengukuran bidang tanah dengan menggunakan peta foto adalah dengan cara identifikasi batas bidang tanah dan mengukur sisi-sisi bidang tanah dilapangan. 3. Peta Garis Peta garis adalah peta yang menggambarkan detail lapangan dengan garis-garis dan symbol kartografi dengan skala tertentu. Peta garis sudah melalui proses pemetaan fotogrametri oleh karena itu ukuran-ukuran pada peta garis sudah benar, maka detail-

detail yang ada di peta garis yang dapat didentifikasi dilapangan berarti posisinya sudah benar di peta. Pelaksanaan pengukuran bidang tanah dengan menggunakan peta garis sebagai peta dasar pendaftaran adalah dengan mengikatkan terhadap detail-detail yang mudah diidentifikasi di lapangan dan di peta garis atau dengan cara mengikatkan terhadap titik dasar teknik terdekat apabila sudah tersedia sekitar bidang tanah yang diukur. B.1.3. Metoda Lainnya Pengukuran bidang tanah untuk pendaftaran tanah sistimatik maupun sporadik bisa juga dilaksanakan dengan metoda lainnya selain metoda terrestrial maupun fotogrametrik, hal tersebut dimungkinkan apabila teknologi pengukuran dan pemetaan metoda tersebut sudah mencapai ketelitian pengukuran batas bidang tanah sesuai dengan ketelitian kedua metoda diatas seperti misalnya; citra satelit, pengukuran GPS dan lain sebagainya. Dari ketiga metoda diatas prinsip dasar pengukuran bidang tanah dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah adalah harus memenuhi kaidah-kaidah teknis pengukuran dan pemetaan sehingga bidang tanah yang diukur dapat dipetakan dan dapat diketahui letak dan batasnya di atas peta serta dapat direkontruksi batas-batasnya di lapangan. B.2. SISTEM KOORDINAT Sesuai pasal 25 ayat 1 semua pengukuran bidang tanah pada prinsipnya harus dilaksanakan dalam sistem Koordinat Nasional dengan cara pengikatan terhadap titik dasar teknik Nasional terdekat sekitar bidang tanah tersebut. Hal tersebut dapat dilaksanakan apabila perapatan titik dasar teknik orde 3 atau orde 4 sudah tersedia di sekitar bidang tanah tersebut. Pekerjaan perapatan titik dasar teknik secara Nasional sedang berlangsung dilaksanakan, oleh karena itu untuk daerah yang titik-titik dasar tekniknya belum tersedia maka pelaksanaan pengukuran bidang tanah pada pendaftaran tanah sistematik maupun seporadik untuk sementara dapat dilaksanakan dalam sistem koordinat lokal, dimana apabila perapatan titik-titik dasar teknik pada daerah tersebut sudah tersedia harus ditransformasikan ke dalam sistim Koordinat Nasional. Yang harus diperhatikan dalam sistem koordinat adalah : 1. Sistim koordinat yang digunakan dalam pengukuran harus sesuai dengan pemetaannya. 2. Keharusan untuk memetakan bidang tanah adalah kedalam peta dasar pendaftaran yang ada terlebih dahulu walaupun masih dalam sistim koordinat lokal. 3. Peta dasar pendaftaran dan titik dasar teknik dalam sistim koordinat nasional adalah kondisi yang ideal pada pengukuran bidang tanah. 4. Pertimbangan pemakaian sistem koordinat pada pengukuran bidang tanah tergantung kepada Data yang ada Dipakai 1. Tersedia peta dasar pendaftaran Nasional Sistem Koordinat Nasional Tersedia titik dasar teknik Nasional 2. Tersedia peta dasar pendaftaran Lokal Sistem Koordinat Lokal

Tidak tersedia titik dasar teknik Nasional 3. Tersedia peta dasar pendaftaran Lokal Sistem Koordinat Nasional Tersedia titik dasar teknik Nasional 4. Tidak tersedia peta dasar pendaftaran Sistem Koordinat Nasional Tersedia titik dasar teknik Nasional 5. Tidak tersedia peta dasar pendaftaran Sistem Koordinat Lokal Tidak tersedia titik dasar teknik Nasional Untuk pemakaian sistem koordinat Nasional maupun Lokal, setiap bidang tanah yang telah selesai diukur harus segera dipetakan pada peta pendaftaran baik pada peta pendaftaran dengan lembar peta yang sudah tersedia karena ada bidang tanah lain yang sudah dipetakan terlebih dahulu atau lembar peta baru yang dibuat dengan hanya memuat satu bidang tanah yang baru diukur tersebut. C. PENGUKURAN TERRESTRIAL Berdasarkan metoda pengukuran terrestril yang telah diuraikan diatas, pengambilan data ukuran bidang tanah secara terrestrial baik untuk pendaftaran tanah sporadik maupun sistimatik adalah untuk memperoleh data ukuran yang dapat membentuk bidang-bidang tanah secara utuh, artinya setiap bidang tanah dapat dipetakan sesuai bentuk dan ukurannya dilapangan, tidak diperkenankan memaksakan menggambar bidang tanah dengan suatu jarak atau arah perkiraan, harus diambil data ukuran lebih sebagai kontrol hitungan. Beberapa cara mendapatkan data ukuran terestris untuk menggambarkan bidang tanah dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Dilakukan secara manual; yaitu pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit atau pita ukur, perhitungan koordinat menggunakan kalkulator secara manual dan penggambarannya menggunakan mistar, pena, tachen scale dan mistar skala. 2. Semi komputerisasi; yaitu pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur theodolit atau pita ukur, perhitungan koordinat dan penggambarannya dilakukan dengan bantuan komputer dan sofware. 3. Komputerisasi penuh; yaitu pengukuran (pengambiln data), perhitungan dan penggambaran dilakukan secara otomasi menggunakana komputer (Total Station). Dari ketiga cara diatas, dalam pengukuran bidang tanah yang harus tetap dilaksanakan adalah pembuatan gambar ukurnya dengan sket dan catatan langsung di lapangan. Tahapan pengukuran bidang tanah dengan cara terrestrial : 1. Siapkan peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran di lapangan. 2. Tentukan sistem koordinat yang akan dipakai sesuai dengan data yang tersedia. 3. Cari titik dasar teknik terdekat dengan bidang tanah yang tersedia dilapangan berdasarkan informasi dari peta dasar teknik dan buku tugu pada daerah tersebut. 4. Tentukan bidang tanah yang telah ditetapkan batas-batasnya. 5. Cantumkan NIB pada d.i. 201nya. 6. Ukur bidang tanah dengan suatu atau kombinasi dari metoda pengukuran trrestrial yang paling

sesuai dengan peralatan dan keadaan lapangannya (Misal ; pengukuran bidang tanah sporadik, pengukuran bidang tanah sistematik, pengukuran HGU dan lain sebagainya). 7. Buatkan gambar ukurnya. 8. Tentukan luas bidang tanahnya.

Pada highway metode untuk pemetaan yang dilakukan adalah metode FOTOGRAMETRI Pemetaan Dengan Metode Fotogrametri Pemetaan dengan metode fotogrametri dimaksudkan yaitu dengan menggunakan foto udara dan penyiapan ortofotografi (mozaik yang dibuat dari foto yang diperbaiki). Sebagai gambaran , suatu spesifikasi umum untuk ketepatan peta fotografi menyatakan bahwa 90% dari elevasi harus tepat dalam setengah interval garis tinggi dan sisanya dalam satu interval garis tinggi. Syarat lainnya adalah bahwa 90% dari cirri-ciri planimetri harus ditempatkan pada peta dalam seperempat inchi dari lokasi yang tepat , sisanya seperduapuluh inchi. Pada pemetaan highway , foto udara vertical yang di ambil dengan kamera yang di arahkan hamper lurus kebawah adalah yang paling berguna untuk tujuan pemetaan jalan raya. Daerah yang akan diliput difoto dalam gerak parallel, dimana masing-masing gambar diambil sesuai dengan arah terbang (endlap) dan diantara gerakan yang berurutan (sidelap). Beberapa instrument dengan beragam kerumitan untuk melakukan foto udara kedalam peta , antara lain multiplex , plotter stereoskopik Kelsh dan Bolplex , otograf Wild , KG2 Kern dan stereoplanigraf Zeiss. Pada sebagian dari alat tersebut , penggambaran dilakukan secara langsung dibawah proyektor , pada alat lainnya , seperti otograf Wild , peralatan stereoskopik mengendalikan suatu koordinatograf jarak jauh yang dipasang pada sebuah meja besar yang terpisah. Tetapi semuanya menggunakan konsep bahwa jika suatu daerah yang telah terbiasa dengan sepasang foto yang sesuai dipandang melalui stereoskop , maka topografi akan terlihat sebagai relief. Fotogrametri mengahasilkan model medan digital (digital terrain model). Pada model ini , posisi horizontal dan vertical dari permukaan tanah atau permukaan fotografi lainnya dipindahkan secara langsung dari foto udara yang dipasangkan ke data computer. Informasi dapat diperoleh

kembali dan pada computer di program untuk mengahasilkan profil , potongan melintang , jumlah pekerjaan galian dan timbunan tanah. Prinsip Prinsip Penentukan Lokasi HighWay Untuk jalan utama yang baru , penetuan lokasi harus menggabungkan lengkungan , kelandaian , dan unsure unsure jalan lainnya untuk mneghasilkan arteri lalu lintas yang mudah dilalui dan mengalir dengan bebas dan berkapasitas tinggi serta memenuhi standar keselamatan , sementara di lain itu memperkecil pengerusakan pengerusakan tempat tempat bersejarah dan purbakala serta untuk pembangunan kota , industry , usaha , pemukiman , pemandangan , dan rekreasi.

BAB IV PENUTUP

4.1 kesimpulan
Dari makalah yang telah kami diskusikan dapat kami simpulkan. persoalan bagaimana menetapkan penempatan jalan raya yang sesuai dalam perkotaan dan daerah lainnya, dapat diselesaikan dengan melakukan pengumpulan , pengolahan , dan pelaporan data yang sangat banyak. Kemudian disajikan penginderaan jarak jauh yaitu penggunaan foto udara , radar , serta perlengkapan yang serupa untuk pembuatan peta dan lain lain. Metode fotogeometri dapat digunakan untuk melakukan pemetaan highway. Pemetaan dengan metode fotogrametri dimaksudkan yaitu dengan menggunakan foto udara dan penyiapan ortofotografi (mozaik yang dibuat dari foto yang diperbaiki). Fotogrametri mengahasilkan model medan digital (digital terrain model). Pada model ini , posisi horizontal dan vertical dari permukaan tanah atau permukaan fotografi lainnya dipindahkan secara langsung dari foto udara yang dipasangkan ke data computer. Informasi dapat diperoleh kembali dan pada computer di program untuk mengahasilkan profil , potongan melintang , jumlah pekerjaan galian dan timbunan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Suyono , Sosrodarsono . 1997 . Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan Ed . Jakarta . PT. Pradnya Paramita .

Clarkson , H. Oglesby dan R. Gary Hicks . 1988 . Highway Engineering , Fourth Edition . New York . John Wiley & Sons, Inc.