Anda di halaman 1dari 104

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Adat merupakan pencerminan dari pada kepribadian suatu bangsa merupakan salah satu penjelmaan dari pada jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad .Hukum kewarisan merupakan bagian dari hukum keluarga yang memegang peranan sangat penting bahkan menentukan dan mencerminkan sistem dan bentuk hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat. Hal ini disebabkan karena hukum waris itu sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. Setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa, yang merupakan peristiwa hukum yaitu disebut meninggal dunia. Apabila terjadi suatu peristiwa meninggalnya seseorang, hal ini merupakan peristiwa hukum yang sekaligus menimbulkan akibat hukum, yaitu tentang bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu. Penyelesaian hak-hak dan kewajiban seseorang tersebut diatur oleh hukum. Jadi, warisan itu dapat dikatakan ketentuan yang mengatur cara penerusan dan peralihan harta kekayaan (berwujud atau tidak berwujud) dari pewaris kepada para warisnya. Di Indonesia hukum waris adat bersifat pluralistik menurut suku bangsa atau kelompok etnik yang ada. Pada dasarnya hal itu disebabkan oleh sistem garis keturunan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar dari sistem suku-suku bangsa atau kelompok-kelompok etnik.

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang dibahas dalam Karya Tulis ini adalah: 1. Apakah hukum waris adat itu? 2. Bagaimana sifat dan sistem hukum waris adat di Indonesia?

3. Bagaimana kedudukan janda dan anak dalam hukum waris adat? 4. Harta waris mana yang dapat atau tidak dapat dibagi-bagi? 5. Bagaimana proses pewarisan menurut hukum waris adat? 6. Hukum yang mengatur mengenai hukum waris adat?

1.3 Tujuan Penulisan Pada dasarnya tugas ini dibuat sebagai wujud dari pertanggung jawab kami atas tugas yang diberikan oleh dosen sebagai syarat untuk m e m e n u h i a s p e k p enilaian mata kuliah Hukum Adat. Selain itu tugas ini juga ditujukan untuk: 1. Memahami pengertian hukum adat waris yang ada di Republik Indonesia. 2. Mengetahui dan menganalisis aspek apa saja yang ada di dalam hukum adat waris. 3. Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat di dalam permasalahan hukum adat waris yang ada di Indonesia

1.4

Manfaat penulisan

Penelitian merupakan pencerminan secara konkrit kegiatan ilmu dalam memproses ilmu pengetahuan.Secara operasional penelitian dapat berfungsi sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menunjang pembangunan,mengembangkan sistem dan mengembangkan kualitas manusia. Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Oleh karena itu penelitian hukum merupakan suatu

penelitian di dalam kerangka know-how di dalam hukum. Dengan melakukan penelitian hukum diharapkan hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogyanya atas isu yang diajukan.19 Bertitik tolak dari tujuan penelitian sebagaimana tersebut diatas, diharapkan dengan penelitian ini akan dapat memberikan manfaat atau kegunaan secara teoritis dan praktis di bidang hukum yaitu sebagai berikut: a. Secara teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam bentuk sumbang saran untuk penelitian lanjutan, baik sebagai bahan awal maupun sebagai bahan perbandingan untuk penelitian yang lebih luas yang berhubungan dengan harta pemberian yang diberikan orang tua semasa hidup kepada anaknya menurut sistem hukum waris b. Secara praktis Memberi informasi yang dibutuhkan masyarakat di masa mendatang apabila terjadi permasalahan terkait harta pemberian orang tua semasa hidupnya kepada anak menurut sistem hukum waris adat. Memberikan pengertian dan pemahaman yang dapat berguna serta memberikan sumbangan pemikiran dan penjelasan bagi mereka yang hendak mempelajari dan mengkaji harta pemberian orang tua semasa hidupnya kepada anak menurut sistem hukum adat.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Hukum Adat Waris A. Ruang lingkup Soepomo (1977: 81, 82), menyatakan bahwa hukum waris itu adalah: ...memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya. Proses ini telah mulai dalam waktu orang tua masih hidup. Proses tersebut tidak menjadi akuut oleh sebab orang tua meninggal dunia. Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu, akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut. Hukum adat waris di Indonesia sangat dipengaruhi oleh garis keturunan yang berlaku di suatu masyarakat tertentu. Sistem garis keturunan tersebut mungkin menggunakan prinsip patrilineal murni, patrilineal beralih-alih (alternerend) matrilineal ataupun bilateral, ada pula prinsip unilateral berganda (dubbel-unilateral).1Sistem-sistem tersebut berpengaruh terutama terhadap penetapan ahli waris maupun bagian

1Lihat

Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008, hlm. 260.

harta peninggalan yang diwariskan, baik yang secara material maupun immaterial.2 Hukum adat waris terdiri dari tiga sistem kewarisan: a. Sistem kewarisan individual, yaitu sistem kewarisan yang para ahli warisnya mewarisi secara perorangan; b. Sistem kewarisan kolektif, yaitu sistem kewarisan yang para ahli warisnya mewarisi secara bersama (kolektif); c. Sistem kewarisan mayorat: 1. Mayoret laki-laki, yaitu anak laki-laki tertua yang menjadi ahli waris tunggal apabila pewarisnya meninggal. 2. Mayoret perempuan, yaitu anak perempuan tertua yang menjadi ahli waris tunggal apabila pewarisnya meninggal. Apabila sistem kewarisan dihubungkan dengan sistem garis keturunan, maka (Hazairin: 19): Sifat individualataupun kolektif maupun mayorat dalam hukum kewarisan tidak perlu langsung menunjuk kepada bentuk masyarakat di mana hukum kewarisan itu berlaku, sebab sistem kewarisan yang individual bukan saja dapat ditemui di dalam masyarakat yang bilateral, tetapi juga dapat dijumpai dalam masyarakat yang patrilineal seperti di Tanah Batak, malahan di Tanah Batak itu di sana sini mungkin pula dijumpai sistem mayorat dan sistem kolektif yang terbatas; demikian sistem mayorat... itu, selain dalam masyarakat patrilineal yang beralih-alih di Tanah Semendo dijumpai pula pada masyarakat bilateral orang Dayak di Kalimantan Barat, sedangkan sistem kolektif itu dalam batas-batas tertentu malahan dapat pula dijumpai dalam masyarakat yang bilateral seperti di Minahasa, Sulawesi Utara. Menilik kutipan di atas maka sistem kewarisan dalam hukum adat khususnya sistem mayorat terdapat di daerah-daerah tertentu tidak terbatas terhadap prinsip patrilineal, matrilineal, maupun parental/bilateral. Dalam hukum waris adat, harta yang dapat dibagi yaitu harta peninggalan yang telah dikurangi oleh biaya-biaya waktu pewaris

2Ibid.

(almarhum) sakit dan biaya pemakaman serta hutang-hutang yang ditinggalkan oleh pewaris3. Selain itu, dalam hukum adat digunakan dua macam garis pokok untuk menentukan siapa yang menjadi pewaris, yaitu:4 a. Garis pokok keutamaan, yaitu garis hukum yang menentukan urutan-urutan keutamaan di antara golongan-golongan dalam keluarga pewaris dengan pengertian bahwa golongan yang satu lebih diutamakan daripada golongan yang lainnya. Dengan demikian, orang-orang yang mempunyai hubungan darah menurut ketentuan ini dibagi menjadi golongan-golongan berikut: 1) Kelompok keutamaan I: keturunan pewaris. 2) Kelompok keutamaan II: orang tua pewaris. 3) Kelompok keutamaan III: saudara-saudara pewaris, dan keturunannya. 4) Kelompok keutamaan IV: kakek dan nenek pewaris. b. Garis pokok penggantian adalah garis hukum yang bertujuan untuk menentukan siapa di antara orang-orang di dalam kelompok keutamaan tertentu yang tampil sebagai ahli waris.Yang benar-benar menjadi ahli waris adalah: 1. Orang yang tidak mempunyai penghubung dengan peawris. 2. Orang yang tidak ada lagi penghubungnya dengan pewaris. Di dalam pelaksanaan penentuan ahli waris berdasarkan kedua garis pokok tersebut maka perlu diperhatikan pula prinsip garis keturunan yang dianut di dalam suatu masyarakat serta harus diperhatikan pula kedudukan pewaris tersebut (misalnya: janda, duda, bujangan, dsb.). Secara umum, yang menjadi pokok pembahasan hukum waris adat adalah: a. Subjek hukum waris; b. Peristiwa hukum waris; dan c. Objek hukum waris. B. Subjek Hukum Waris
3Ibid, 4Ibid.

hlm. 261.

Subjek dari hukum waris sendiri adalah pewaris atau ahli waris. Pewaris adalah orang yang meninggalkan warisan,sedangkan ahli waris adalah seorang/kelompok yang menerima harta warisan. 5 Biasanya, orang yang menjadi ahli waris adalah orang yang sangat dekat dengan pewarisnya, misalnya anak dari pewaris tersebut adalah ahli warisnya. Dalam hukum adat, untuk menentukan subjek hukum sangat dipengaruhi oleh prinsip kekerabatan yang dianut. Sebagai contoh, di daerah Bali, yang menjadi ahli waris ketika akan mewarisi harta dari pewarisnya adalah anak laki-laki saja karena daerah tersebut menganut prinsip kekerabatan patrilineal. Namun, bukan berarti bahwa dalam suatu sistem kekerabatan dalam menerima warisan tidak selalu sesuai dengan ketentuan dari sistem kekerabatan tersebut. Biasanya ada ketentuanketentuan tertentu yang harus dipenuhi oleh si pewaris. Seperti di daerah Bali bahwa anak laki-laki yang berhak menjadi ahli waris adalah anak lakilaki yang: a. b. tidak melakukan perkawinan nyeburin; dan melaksanakan dharmaning sebagai anak (misalnya tidak durhaka kepada leluhur dan orang tua).6 Selain itu, beberapa yurisprudensi juga memengaruhi hukum adat waris yang biasanya diatur oleh sistem kekerabatan yang dianutnya. Seperti keputusan Mahkamah Agung No. 179/Sip/1961, tanggal 23 Oktober1961 sebagai berikut: ... berdasarkan selain rasa perikemanusiaan dan keadilan umum, juga atas hakikat persamaan hak antara wanita dan pria, dalam beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia, bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal waris bersama-sama berhak atas harta warisan dalam arti bahwa bagian anak laki-laki adalah sama dengan perempuan. ... berhubung dengan itu maka juga di tanah Karo, seorang anak perempuan harus dianggap sebagai ahli waris yang berhak menerima bagian atas harta warisan dari orang tuanya.

5Ibid, 6Ibid.

hlm. 262.

Juga keputusan Mahkamah Agung No. 100 K/Sip/1967 tanggal 14 Juni 1986 sebagai berikut: ... karena mengingat pertumbuhan masyarakat dewasa ini yang menuju ke arah persamaan kedudukan antara pria dan wanita, dan penetapan janda sebagai ahli waris telah merupakan yurisprudensi yang dianut oleh Mahkamah Agung... Jadi, menurut keputusan Mahkamah Agung tersebut maka anak perempuan dan janda dapat dinyatakan sebagai ahli waris di dalam hal pewarisan yang menggunakan prinsip kekerabatan patrilineal khususnya untuk wilayah Batak Karo. Namun, bagaimanakah kenyataannya di dalam masyarakat Bali karena adanya keputusan Mahakamah Agung No. 179/Sip/1961 tersebut? K. Ranghena Purba (1978) menulis di dalam makalahnya bahwa: Di dalam praktik (kenyataan), hukum adat waris lama masih dipertahankan, yaitu masih dipakainya ketentuan bahwa hanya anak lakilaki saja yang memperoleh harta warisan dari orang tuanya. Tetapi dari sudut lain, kita lihat bahwa masyarakat Karo sendiri sudah lebih cenderung untuk menggunakan ketentuan dari Mahkamah Agung No. 179 K/Sip/1961 tersebut dalam mempertahankan haknya ataupun dalam pembagian warisan, yaitu dapat kita lihat pada banyaknya perkara yang masuk ke pengadilan mengenai masalah warisan... Sedangkan pada masyarakat Bali, anak perempuan dan janda berhak menikmati bagian dari harta warisan walaupun mereka bukanlah ahli waris selama haknya tidak terputus. Hal-hal yang menyebabkan anak perempuan atau janda tersebut kehilangan hak untuk menikmati warisan tersebut adalah: a. b. c. d. kawin ke luar; dipecat sebagai anak oleh orang tuanya (untuk anak perempuan); bergendak (untuk janda); dan kawin lagi (untuk janda). Ada beberapa kasus yang menyebabkan Mahkamah Agung mendukung ketentuan hukum adat melalui keputusannya. Contohnya adalah keputusan Mahkamah Agung No. 358 K/Sip/1971, tanggal 14 Juli 1971, bahwa karena terbukti tergugat I sebagai nyeburin sentana pada Ni

Keneng (dalam perkawinannya dengan Ni Keneng, terggugat I berstatus perempuan) dan telah terbbukti pula Ni Keneng meninggal dunia, tergugat I kawin lagi tanpa persetujuan semua keluarga terdekat dari almarhum Nang Runem, maka telah terbukti bahwa tergugat I menyaahi darmanya sebagai janda (tergugat I menurut adat status perempuan.) dan menurut adatnya tergugat I tidak boleh lagi tinggal di rumah almarhum Nang Runem serta mewarisi harta peninggalan Nang Runem. Jika di atas tadi adalah bentuk subjek dari prinsip patrilineal maka lain lagi dengan prinsip bilateral. Dalam sistem bilateral, yang menjadi ahli waris adalah anak laki-laki dan anak perempuan. Di daerah Jawa, antara anak laki-laki dan anak perempuan memiliki hak yang sama dalam menerima harta peninggalan orang tuanya. Hak sama (gelijk gerechtigd) itu mengandung hak untuk diperlakukan sama (geligik gerechtigh) oleh orang tuanya di dalam proses meneruskan dan mengoperasikan harta benda keluarga.7 Anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli waris dapat pula ditemui pada masyarakat yang menganut sistem kekeluargaan bilateral lainnya, misalnya di Kalimantan yaitu pada suku Dayak dan di Sulawesi yaitu pada masyarakat Tanah Toraja. (Soepomo, 1977: 83). Namun, ada pula dalam prinsip bilateral yang memiliki hukum waris yang spesifik, seperti dalam masyarakat Sawu bahwa anak laki-laki hanya mewarisi harta peninggalan ayahnya sedangkan anak perempuan hanya mewarisi harta peninggalan ibunya. Ada pula yang menyimpang dari mayoritas hukum waris adat di Indonesia yaitu masyarakat Tasifeto di Kabupaten Belu Timur (Nusa Tenggara Timur). Pada masyarakat ini yang merupakan ahli waris utama adalah keponakan tertua yaitu anak saudara kandung ayahnya (anak paman). Sedangkan anak-anaknya sendiri tidak mendapatkan warisan, jadi mereka bukan ahli waris (Hidayat Z. M., 1976: 182). Dalam sistem matrilineal seperti di Minangkabau, anak-anaknya termasuk ke dalam keturunan ibunya, maka menurut hukum warisnya anak-anak tidak mungkin mewarisi harta peninggalan ayahnya, tetapi hanya mewarisi harta ibunya. Selain anak kandung, kerabat juga bisa
7

Ibid.

sebagai ahli waris. Di dalam masyarakat ini harta peninggalan merupakan harta pusaka yang tidak dapat dimiliki perorangan di dalam keluarganya, tetapi hanya dapat dimiliki bersama oleh suatu keluarga tersebut. Harta yang diwariskan pun diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Harta pusaka ini biasa disebut dengan istilah harta sako. Dalam penguasaanya, harta pusaka terdiri dari: a. Harta pusaka tinggi, yang dikusai oleh keluarga besar atau kerbat yang dipimpin oleh seorang penghulu andiko atau mamak kepala waris; dan b. Harta pusaka rendah, yang dikuasai oleh keluarga kecil yang terdiri dari istri dan anak-anaknya, atau suami dengan saudara-saudara kandungnya sekandung. Dalam masyarakat lain, terdapat pula golongan tertentu yang menjadi ahli waris, tergantung dari situasi tertentu. Di Sumatera Selatan misalnya, apbila anak laki-laki yang belum kawin meninggal dunia, maka yang menjadi ahli warisnya adalah orang tua sedangkan apabila anak laki-laki tersebut sudah kawin dan tidak memiliki keturunan, maka orang yang menjadi ahli warisnya adalah orang tua dari pihak suami dan isterinya. Apabila orang yang meninggal adalah seorang perempuan yang belum kawin, maka yang menjadi ahli warisnya adalah orang tua dengan kemungkinan saudara-saudaranya pun menjadi ahli waris. Apabila yang meninggal itu adalah seorang isteri yang mempunyai keturunan, maka yang menjadi ahli waris adalah keturunannya dan kemungkinan suami pun dapat menjadi ahli waris. Selain itu, seorang kakek dapat pula menjadi ahli waris. Seperti di masyarakat Lampung. Namun, kedudukan ahli waris di dalam masyarakat ini saling menutupi. Jika masih ada anak tertua laki-laki dari si pewaris, maka kemungkinan bagi orang tua si suami (kakek) tidak dapat menjadi ahli waris, demikian seterusnya. (Rizani Puspawidjaja, dkk., 1981: 43) Lalu, bagaimanakah kedudukan untuk anak-anak yang bukan kandung seperti anak tiridan anak di luar nikah? Menurut Soepomo, hidup bersama dalam satu rumah tangga ini membawa hak-hak dan kewajiban antara yang satu dengan anggota yang lainnya. Kadang-kadang pertalian beserta keturunan saudara perempuan yang

10

rumah tangga antara bapak tiri dan anak tiri yang hidup bersama dalam suatu rumah tangga itu menjadi begitu eratnya shingga terjadi kenyataan bahwa seseorang bapak tiri menghibahkan sebidang tanah sawah kepada anak tirinya. (Soepomo, 1977: 105) Berdasarkan konsep dari Soepomo tadi, maka anak tiri dari seorang ibu kandung adalah bukan ahli waris, tetapi jika anak tiri tersebut memiliki ibu tiri khususnya anak tersebut merupakan anak tertua laki-laki dari orang tuanya laki-laki maka dia berhak untuk mewarisi (Rizani puspawidjaja, dkk., 1981: 41). Sedangkan jika anak tiri tersebut merupakan anak bawaan dari isteri, maka anak tersebut hanya berstatus sebagai anak kandung biasa, tetapi pada dasarnya tidak memiliki hak untuk mewarisi walaupun dia adalah anak tertua laki-laki, melainkan hanya mendapatkan hak sebagai anak saja seperti anak tersebut harus diberi pendidikan yang layak sebagaimana anak kandungnya. Demikian ketentuan dari masyarakat Lampung (Papadon). Jika tadi merupakan anak tiri, maka anak yang lahir di luar nikah hanya menjadi ahli waris di dalam harta peninggalan ibunya saja beserta kerabat dari pihak ibu. Soepomo (1977: 88) Itu menurut hukum waris di masyarakat Jawa. Karena menurut hukum adat di Jawa bahwa setiap anak yang lahir di luar nikah tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak ayah (Djojonegoro-Tirtawinata, 1940: 297). Berbeda lagi di masyarakat Lampung, jika di Jawa anak di luar nikah hanya menjadi ahli waris untuk pihak ibu, maka di dalam masyarkat tersebut anak yang lahir di luar nikah tetapi ketika sebelumnya si ibu menikah dahulu dan anak tersebut lahir kurang dari tujuh bulan terhitung sejak pernikahannya yang sah dan apabila anak tersebut adalah anak laki-laki tertua, maka anak tersebut berhak menjadi ahli waris bagi orang tuanya. Anak tersebut dalam masyarakat Lampung biasa disebut dengan anak kappang tubas. Hal tersebut akan berbeda jika anak yang lahir di luar nikah tersebut lahir dan ibunya tidak menikah dengan laki-laki lain atau tidak memiliki suami, maka anak tersebut tidak berhak menjadi ahli waris dar orang tuanya walaupun dia adalah anak laki-laki tertua. C. Peristiwa Hukum Waris

11

Menurut Soepomo, bahwa pada saat proses pengalihan barang harta keluarga kepada anak-anaknya mungkin telah dimulai ketika orang tua dari anak-anak tersebut masih hidup. Soepomo mengambil contoh dari masyarakat Jawa, keluarga mana yang terdiri dari dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Oleh karena anak laki-laki tertua telah dewasa dan cakap bekerja atau kuat gawe, maka ayahnya memberikan sebidang sawah, pemberian mana dilakukan dihadapan kepala desa. Anak kedua yang adalah anak perempuan, pada saat dinikahkan, diberi sebuah rumah. Maka pemberian tersebut bersifat mutlak, dan merupakan pewarisan atau toescheiding. Perbuatan tersebut bukan merupakan jualbeli, akan tetapi merupakan pengalihan harta benda di dalam lingkungan keluarga sendiri (Soepomo, 1977: 84, 85). Proses peralihan harta warisan tersebut cenderung terjadi di dalam masyarakat-masyarakat yang menganut sistem kewarisan individual, dan peristiwanya pun kadang-kadang sering terjadi maupun kadang-kadang jarang terjadi, tergantung pada kepentingan masing-masing pihak. Adapun pembagian harta warisan yang bersifat sementara seperti misalnya di Bali, pemberian harta warisan kepada ahli waris semasa pewaris masih hidup dapat berwujud jiwa dana, yaitu pemberian lepas dari pewaris kepada ahli warisnya. Kecuali itu, maka pemberian tersebut dapat berupa pengupah jiwa yang merupakan pemberian yang bersifat sementara, hanya untuk dinikmati hasilnya oleh ahli waris. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa di Bali pun terjadi peralihan harta waris dari pewaris kepada ahli waris ketika si pewaris tersebut telah meninggal dunia. Karena masyarakat di Bali menganut sistem kewarisan mayorat, yaitu sistem kewarisan individual yang terbatas. Berbeda dengan proses pewarisan secara hibah wasiat. Terkadang seorang pewaris menyatakan bahwa bagian tertentu dari harta peninggalannnya itu diperuntukkan bagi ahli waris tertentu kepada para ahli warisnya. Seperti di Jawa disebut dengan istilah wekasan (welingen), di Minangkabau disebut umanat, dan istilah-istilah lain sesuai dengan penyebutan di daerah masing-masing. Pewarisan yang demikian ini merupakan peristiwa hukum yang baru akan berlaku setelah orang tua meninggal dunia.

12

Dasar dari pewarisan secara hibah wasiat ditujukan: a. Untuk mewajibkan para ahli untuk membagi-bagi harta warisan dengan cara yan layak menurut anggapan pewaris; b. Untuk mencegah terjadinya perselisihan; c. Dengan hibah wasiat, pewaris menyatakan secara mengikat sifatsifat dari barang-barang harta yang ditinggalkan, seperti barangbarang pusaka, barang-barang yang dipegang dengan hak sende (gadai), barang-barang yang disewa dan sebagainya.8 Terkadang hibah wasiat itu dibuat secara tertulis melalui perantaraan seorang notaris (testament). Menurut Soepomo, meskipun hibah wasiat itu berbentuk akte-notaris, sah atau tidaknya isi hibah wasiat itu dikuasai oleh hukum adat. Misalnya, tidak akan sah suatu pemberian sawah kasikepan kepada seorang waris yang bukan teman sedesa (Soepomo 1977: 89). Untuk bagian dari pembagian harta warisan pun bermacam-macam. Dalam sistem parental seperti di Jawa, pada dasarnya antara anak lakilaki dan anak perempuan mendapatkan bagian yang sama dalam hal pembagian harta warisan, tetapi sebagian kecil di beberapa desa terutama di Jawa Tengah, anak laki-laki memperoleh dua kali bagian dari bagian anak perempuan. Bagi masyarakat yang menganut sistem patrilineal seperti dalam masyarakat Rote, Nusa Tenggara Timur, anak laki-laki tertualah yang mendapatkan bagian terbesar dalam pembagian warisan. Hal ini didasarkan karena anak laki-laki mengemban tanggung jawab yang besar terhadap kelangsungan hidup keluarganya sebab anak tersebut merupakan pengganti ayahnya. Pada masyarakat pulau Andora, Nusa Tenggara Timur, anak perempuan hanyalah memperoleh warisan berupa perhiasan dan bendabenda lainnya, tetapi tanah dan kebun merupakan bagian dari anak lakilaki saja (Hidayat Z. M., 1976: 175) dan seterusnya. Dalam masyarakat matrilineal seperti di Minangkabau, pembagian harta warisan tidak diadakan, melainkan yang menguasai harta warisan

Ibid, hlm. 271

13

tersebut adalah seluruh anggota keluarga dan seluruh kerabat yang diwakili oelh mamak kepala waris.9 Berdasarkan keterangan di atas, maka di dalam hal pewarisan masyarakat Indonesia terdapat harta pewarisan yang tidak dibagi-bagi kepada ahli warisnya tetapi juga terdapat ketentuan yang membagibagikan harta warisan itu kepada ahli warisnya. Namun, hal ini masih dianggap umum karena dalam masyarakat yang menganut sistem yang individual, baik terbatas maupun tidak, masih terdapat harta warisan yang tidak dapat dibagi-bagikan oleh pewarisnya secara individual dan masih terdapat harat warisan yang dikuasai secara bersama sebagai lambang kesatuan dari keluarga itu.10 Seperti di daerah Sulawesi Selatan khususnya dalam masyarakat Minahasa, barang kalakeran adalah milik kerabat yang tidak dapat dibagi-bagikan, kecuali jika semua anggota yang berhak mengehendaki serta menyetujui barang itu dibagi-bagikan. Lalu di Jawa ditemukan pula harta peninggalan yang tidak dibagi-bagikan seperti yang dinyatakan Ter Haar: Pemakaian dan pengurusan harta peninggalan tak terbagi-bagi itu terkadang-kadang dilaksanakan bergiliran di tangan salah satu dari keluarga yang berhak (Jawa: giliran), terkadang di tangan masing-masing dari merek (secara sebagian), akan tetapi dapat juga di tangan salah satu di antara mereka. Bilamana tidak ada kesepakatan, maka tidak ada kewajiban untuk membagi atau menyerahkan hasil daripada harta itu, dan sudah barang tentu di kemudian hari (bila diadakan pembagian harta) tidak dapat dituntut oleh ahli waris bersama tentang penggantian daripada hasil harta peninggalan yang sudah dipungut oleh ahli waris yang memegangnya yang dipergunakan untuk dirinya sendiri itu, tuntutan mana, seperti telah pernah terjadi, sekali tempo diajukan ke muka Lanraad di Jawa. (B. Ter Haar Bzn 1950: 207). Peristiwa hukum adat waris pasti memiliki hak dan kewajiban. Karena meninggalnya si pewaris dan meninggalkan harta warisan, maka perlu ditinjau mengenai hak dan kewajiban dari ahli waris sehubungan degan harta waris yang akan diterima. Beberapa masyarakat yang
9 Ibid, hlm. 273 10 Ibid, hlm. 273,

274.

14

menganut prinsip garis keturunan patrilineal dengan sistem kewarisan mayorat, khususnya pada masyarakat Lampung. Rizani Puspawidjaja dengan kawan-kawannya menyatakan bahwa ahli waris itu memiliki hak unutuk menikmati harta warisan, terutama untuk kelangsungan hidup keluarganya dan berkuasa untuk mengusahakan sebagai sumber kehidupan, baik untuk pribadi bersama keluarga dan untuk adik-adiknya. (Rizani Puspawidjaja, 1981) Pada masyarakat di Minangkabau, dengan mengingat bahwa sistem pewarisannya adalah kolektif, maka harta warisan itu merupakan harta pusakan milik dari suatu keluarga. Barang-barang yang demikian itu hanya dapat dipakai saja (genggem bauntiq) oleh segenap warga keluarga Ambon.11 Dalam masyarakat lainnya, pewarisan merupakan cara untuk memperoleh hak milik, maka dengan dialihkannya harta warisan tersebut kepada ahli waris, harta warisan tersebut menjadi milik ahli waris. Di samping hak, ahli waris memiliki kewajiban yang harus dipenuhi. Kewajiban utama dari ahli waris adalah menjaga dan memelihara keutuhan harta warisan, mengusahakan harta warisan untuk memelihara kelangsungan hidup dan memenuhi kebutuhan adik-adiknya dalam berbagai kehidupan. Di daerah-daerah seperti Tapanuli (suku Batak), Kalimantan (suku Dayak), dan di Bali, para ahli waris berkewajiban membayar hutang pewaris, asalkan penagih hutang tersebut memberitahukan terlebih dahulu haknya kepada ahli waris tersebut. Selain dari kewajiban di atas, terdapat kewajiban-kewajiban lain seperti menyelenggarakan upacara atau selamatan (sedekahan) dalam memperingati hari meninggalnya pewaris. D. Objek Hukum Waris itu secara individual. Jadi, anggota-anggotanya hanya mempunyai hak pakai saja. Demikian halnya dengan masyarakat Hitu di

11

Ibid, hlm. 275.

15

Pada prinsipnya yang merupakan objek hukum waris itu adalah harta keluarga.12 Harta keluarga itu dapat berupa: a. Harta suami atau isteri yang merupakan hibah atau pemberian kerabat yang dibawa ke dalam keluarga; b. Usaha suami atau isteri yang diperoleh sebelum dan sesudah perkawinan; c. Harta yang merupakan hadiah kepada suami-isteri pada waktu perkawinan; dan d. Harta yang merupakan usaha suami-isteri dalam masa perkawinan. Pada masyarakat di Nusa Tenggara Timur, menurut Hidayat Z. M. (1976: 56) harta yang dapat diwariskan adalah: a. Harta milik sendiri dari ayah yang berupa pustaka; b. Harta milik ibu, berupa: 1) 2) milik sendiri, milik bua fua mua (milik bawaan)

c. Harta Ue Malak (harta milik usaha bersama). Sedangkan dalam masyarakat Bali, berdasarkan hasil diskusi Kedudukan Wanita dalam Hukum Waris menurut Hukum Adat Bali, maka warisan itu terdiri dari: a. Harta Pusaka, yang terdiri dari: Harta pusaka yang tidak dapat dibagi, ialah harta warisan yang mempunyai nilai magis-religius, contohnya adalah tempat ibadah (pemerjanan, sanggah), alat pemujaan (siwa krana), harta pusaka yang dapat dibagi ialah harta warisan yang tidak mempunyai nilai magis-religius, misalnya sawah, ladang, dan lainlain. b. Harta bawaan, yaitu harta yang dibawa baik oleh mempelai wanita maupun pria ke dalam perkawinan, misalnya: jiwa dana, tatadan, akskaya. c. Harta perkawinan, yaitu harta yang diperoleh dalam perkawinan (gunakarya).

12

Ibid, hlm. 277

16

d. Hak yang didapat dari masyarakat, misalnya: bersembahyang di kahyangan Tiga, mempergunakan kuburan, melakukan upacara pitra yadnya (I Gde Wayan Pangkat, dalam V. E. Korn, 1972: 47). Dari sejumlah data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa harta warisan itu dapat berupa barang-barang berwujud benda maupun barangbarang yang tidak berwujud benda (immateriale goderen) dan dapat diwariskan kepada ahli warisnya. Termasuk juga hutang yang merupakan barang yang tidak berwujud benda yang dibuat dan belum sempat dilunasi oleh si pewaris.

2.2 Sifat Hukum Adat Waris Kalau kita perhatikan sifat hukum waris adat, tampak jelas menunjukkan corak-corak yang memang khas yang mencerminkan cara berpikir maupun semangat dan jiwa dari pikiran tradisional Indonesia yang didasarkan atas pikiran kolektif/komunal, kebersamaan serta kongkret bangsa Indonesia. Rasa mementingkan serta mengutamakan keluarga, kebersamaan, kegotongroyongan, musyawarah dan mufakat dalam membagi warisan, benar-benar mewarnai dari hukum waris adat. Jarang kita melihat sengketa-sengketa mengenai pembagian harta kekayaan (warisan) dibawa ke tingkat pengadilan. Budaya bangsa Indonesia menganggap tidak baik kalau sampai ada perselisihan antara sesama keluarga hanya garagara soal warisan. Proses peralihan harta kekayaan ini dapat dimulai sejak pewaris itu sendiri masih hidup dan proses itu berjalan terus hingga keturunannya itu masing-masing menjadi keluarga baru dan berdiri sendiri yang kelak pada gilirannya juga akan meneruskan proses tersebut kepada generasi berikutnya (keturunannya). Biasanya proses pewarisan dimulai sejak harta kekayaan itu meninggal dunia. Hal yang terpenting dalam masalah pembagian harta warisan ini adalah bahwa pengertian warisan itu memperlihatkan adanya tiga unsur, yang masing-masing merupakan unsur esensial (mutlak), yakni: a. Seseorang atau beberapa orang ahli waris yang hendak menerima kekayaan yang ditinggalkannya itu.

17

b. Harta warisan atau harta peninggalan, yaitu kekayaan inconcreto yang ditinggalkan dan sekali beralih kepada ahli waris itu. Masing-masing unsur ini pada proses penerusan serta pengoperan kepada orang yang menerima kekayaan itu, akan selalu menimbulkan persoalan sebagai berikut:13 Unsur pertama untuk menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai di mana hubungan seorang peninggal warisan dengan harta kekayaannya dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan dimana si peninggal warisan itu berada. Unsur kedua menimbulkan persoalan bagaimana dan sampai di mana harus ada tali kekeluargaan antara peninggal warisan dan ahli waris. Unsur ketiga menimbulkan persoalan bagaimana dan sampai di mana wujud kekayaan yang beralih itu, dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan tempat si peninggal warisan dan si ahli bersama-sama berada. Kita harus mengadakan pemisahan yang jelas antara proses penerusan dan pengoperasian harta kekayaan di masa pemil9iknya masih hidup yang lazimnya disebut penghibahan dan proses pada waktu pemiliknya meninggal dunia yang pada umumnya disebut warisan. Hukum waris adat ini mempunyai corak dan sifat tersendiri yang memiliki ciri khas bangsa Indonesia dan tentu saja hal ini membedakannya dari hukum Islam maupun hukum waris perdata. Perbedaan terutama terletak pada latar belakang alam pikiran bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila dengan masyarakat yang berBhineka Tunggal Ika. Latar belakang itu pada dasarnya adalah kehidupan bersama yang bersifat kekeluargaan, saling tolong menolong guna mewujudkan kerukunan, keselarasan, dan kedamaian di dalam hidup. Alam pikiran bangsa Indonesia yang murni itu berasaskan kekeluargaan. Kepentingan seluruh masyarakat Indonesia untuk hidup rukun dan damai lebih diutamakan daripada sifat kebendaan dan mementingkan diri sendiri. Jika pada beberapa tahun belakangan ini
13 Soerojo Wignjodipoero. Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat. Cetakan 12. CV. Haji

Masagung. Jakarta. 1994

18

sudah

tampak

kecendrungan

masyarakat

Indonesia

yang

lebih

mementingkan diri sendiri dan kebendaan disebabkan pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia dan telah menjajah alam pikiran bangsa Indonesia. Hukum waris adat menunjukkan corak-corak yang khas dari alam pikiran tradisional bangsa Indonesia. Hukum waris adat ini bersendi atas prinsip yang timbul dari alam pikiran komunal serta kongkret bangsa Indonesia. Menurut Soepomo yang menyatakan: Hukum waris adat, menunjukkan sifat atau corak-corak yang khas bagi aliran pikiran tradisional bangsa Indonesia, yang bersendi atas prinsip-prinsip yang timbul dari aliran-aliran pikiran komunal dan kongkrit bangsa Indonesia.14 Aliran pikiran komunal yang dimaksud adalah bahwa manusia yang satu dengan yang lainnya saling bergantung, sehingga dalam kehidupannya selalu memikirkan masyarakat atau individu yang terikat di dalam suatu masyarakat. Sifat komunal akan tampak pada peristiwa ditangguhkannya pembagian harta peninggalan para waris yang antara lain dikarenakan sebagai berikut: a. Semua atau sebagian harta peninggalan masih tetapi dikuasai oleh orang tua (duda/janda) yang masih hidup, sehingga pembagian harta peninggalan ditangguhkan pembagiannya sampai duda/janda itu wafat. b. Kesatuan harta masih tetapi dipertaruhkan untuk biaya pemeliharaan para waris yang belum dewasa atau yang belum mampu melakukan perbuatan hukum (kesehatannya terganggu dan sebagainya). c. Wujud, sifat dan fungsi bendanya belum dapat dilakukan pembagian untuk mempertahankan kehormatan keluarga (harta pusaka tinggi). d. Harta peninggalan terlalu sedikit tidak seimbang dengan para warisnya sehingga harta peninggalan itu dititipkan pada salah satu warisnya. e. Adanya wasiat dari pewaris untuk menangguhkan pembagian warisan.
14 Soepomo. Bab-bab Tentang Hukum Adat. Jakarta, Pradya Paramita, 1987. hal. 34

19

f.

Ada di antara para pewaris yang belum hadir dalam pertemuan yang diadakan para waris dan belum diketahui alamatnya, sehingga bagiannya dijadikan gantungan yang dititipkan kepada salah seorang waris.

g. Adanya kesepakatan bersama para waris. Apabila ada alasan seperti yang telah disebutkan di atas, maka penangguhan pembagian harta peninggalan kepada ahli waris harus dilakukan meskipun salah satu dari para waris menginginkan agar harta segera dibagi-bagi secara individual. Selain itu, aliran pikiran yang kongkret artinya alam pikiran tertentu dalam pola pikiran, selalu diberi bentuk benda atau tandatanda yang kelihatan secara langsung ataupun tidak langsung. Hal ini tampak dalam peristiwa misalnya pemberian tanah kepada anak lakilaki yang telah dewasa sebelum si pewaris meninggal dunia atau pemberian perhiasan kepada anak perempuan yang sudah mentas. Sedangkan jika kita mengadakan perbandingan dengan hukum waris menurut Hukum Islam maka akan ditemukan perbedaanperbedaan prinsip, antara lain: a. Harta peninggalan bersifat tidak dapat dibagi-bagi atau pelaksanaan pembagiannya ditunda untuk waktu yang cukup lama ataupun hanya sebagian yang dibagi-bagi. b. Tidak ditentukan secara pasti bagian harta peninggalan bagi para waris. Pembagiannya dilakukan secara bersama-sama dengan rukun dan memperhatikan keadaan khusus. c. Dikenal sistem penggantian waris artinya keturunan dari ahli waris utama dapat menggantikan kedudukannya sebagai ahli waris apabila waris utama ini meninggal dunia terlebih dahulu sebelum harta warisan dibagikan. d. Anak angkat berhak untuk mendapatkan harta peninggalan dari orang tua angkat yang berupa harta dari orang tua angkat. e. Tidak mengenal adanya hibah bagi waris yang sedianya akan menerima bagian warisan. f. Untuk anak perempuan tunggal khususnya di Jawa dapat mewaris semua harta peninggalan sehingga dapat menutup hak untuk

20

mendapatkan harta peninggalan bagi kakek neneknya dan saudarasaudara orang tuanya. g. Harta peninggalan tidak merupakan satu kesatuan harta warisan, melainkan wajib dipertahankan sifat/macam, asal dan kedudukan hukum dari barang masing-masing yang terdapat dalam harta peninggalan itu.

2.3 Sistem Hukum Waris Di Indonesia hukum waris adat bersifat pluralistik menurut suku bangsa atau kelompok etnik yang ada. Pada dasarnya hal itu disebabkan oleh sistem garis keturunan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar dari sistem suku-suku bangsa atau kelompok-kelompok etnik. Dasar hukum berlakunya hukum adat terdapat dalam pasal 131 I.S (Indische Staatssregeling) ayat 2 b (Stb 1925 no .415 jo.577), termasuk juga berlakunya hukum waris adat yaitu : Bagi golongan Indonesia asli (Bumi Putra), golongan Timur Asing dan bagian-bagian dari golongan bangsa tersebut, berlaku peraturan hukum yang didasarkan atas agama dan kebiasaan mereka,. Hukum waris adat memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud (Immatereriele Goederen) dari suatu angkatan manusia (Generatie) kepada turunannya. Hukum Waris adat di Indonesia tidak lepas dari pengaruh susunan masyarakat kekerabatannya yang berbeda. Hukum waris adat mempunyai corak tersendiri dari alam pikiran masyarakat yang tradisional dengan bentuk kekerabatan yang sistem keturunannya dibedakan dalam dalam tiga corak yaitu15 : a. Sistem patrilineal, yaitu sistem yang ditarik menurut garis keturunan bapak dimana kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya daripada kedudukan anak wanita dalam pewarisan (Gayo, Alas, Batak, Nias, Lampung, Buru, Seram,Nusa tenggara, Irian).
15

H.Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat , hal.23

21

b. Sistem Matrilineal, yaitu sistem yang ditarik menurut garis keturunan ibu dimana kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya daripada kedudukan anak wanita dalam pewarisan (Minangkabau, Enggano, Timor). c. Sistem Parental, yaitu sistem yang ditarik menurut garis kedua orangtua, atau menurut garis dua sisi. Bapak dan ibu dimana kedudukan pria dan wanita tidak dibedakan di dalam pewarisan (Aceh, Riau, Jawa, Kalimantan, Sulawesi). Di Indonesia faktor sistem kekerabatan mempengaruhi berlakunya aneka hukum adat, termasuk hukum waris yang mempunyai corak sendiri-sendiri berdasarkan masyarakat adatnya masing-masing, demikian juga halnya hukum adat dalam masyarakat Batak Karo. Hal ini sejalan dengan pendapat Hazairin yang mengatakan bahwa Hukum waris adat mempunyai corak tersendiri ada didalam pikiran masyarakat yang tradisional
16

dengan

bentuk

kekerabatan parental Kongres Karo

sistem masih

keturunan nampak Karo

keturunannya kebenarannya. Dari dikemukakan

matrilineal, hasil penelitian

patrilineal, Panitia

Kebudayaan adalah

bahwa

masyarakat

Batak

termasuk

masyarakat yang masih sangat kental dan sangat menjunjung tinggi adatistiadatnya. Ketentuan itu semakin terlihat dari dalam mengatur sendisendi kehidupan masyarakat seperti dalam hal proses perkawinan, kelakuan dan juga dalam hal waris. Seperti yang diketahui sejak dahulu sampai sekarang pada masyarakat adat Batak Karo berlaku sistem keturunan dari pihak bapak (Patrilineal) yaitu didasarkan atas dasar pertalian darah menurut garis bapak.17 Sehingga hanyalah anak laki-laki yang menjadi ahli waris, karena anak perempuan dianggap telah keluar dari kerabat bapaknya, jika ia telah kawin. Dalam masyarakat Batak Karo, apabila seseorang anak perempuan telah menikah maka dianggap tergolong kepada kerabat suaminya. Oleh karena itu dapatlah dimengerti bahwa yang meneruskan
16 17

H.Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat , hal.24 Soerjono Soekanto,Hukum Adat Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada,2001,hal.240

22

garis keturunan dalam masyarakat Batak Karo adalah anak laki-laki saja, sedangkan anak perempuan apabila ia telah kawin maka kekerabatannya akan beralih kepada kerabat suaminya. Garis keturunan dalam masyakat karo ditarik berdasarkan marga (dalam bahasa Batak Karo disebut Merga) yang mengakibatkan timbulnya hubungan kekeluargaan yang hidup dalam masyarakat. Dalam hal ini masyarakat Batak karo mengenal lima jenis marga utama yang biasa disebut dengan Merga Si Lima. Setiap anggota masyarakat Batak karo termasuk kepada salah satu marga ini. Kelima marga ini masing-masing mempunyai cabang atau submarga pula yaitu : a. Marga Karo-Karo b. Marga Ginting c. Marga Tarigan d. Marga Sembiring e. Marga Perangin-angin Seluruh hubungan kekerabatan pada masyarakat Batak Karo tersebut diambil berdasarkan pertalian darah maupun dalam hubungan perkawinan yang dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu Anak Beru, Senina, dan Kalimbubu. Senina pada umumnya mereka yang bersaudara karena mempunyai marga yang sama atau karena ibu mereka bersaudara (Senina Sepemeren) atau karena isteri mereka bersaudara (Senina Separibanen) atau karena suami mereka bersaudara (Senina Secimbangen), Kalimbubu yaitu kelompok dari pihak yang anak perempuannya dikawini, sedangkan Anak Beru adalah kelompok dari pihak yang mengawini anak perempuan tersebut. Dalam hal pembagian warisan, masyarakat Batak Karo pada umumnya melakukan proses pewarisan dengan cara memberikan harta warisan kepada ahli waris setelah pemilik harta atau pewaris meninggal dunia, namun ada dijumpai pula pemberian harta waris itu dapat terjadi pada saat si pewaris masih hidup. Pemberian harta sesudah pewaris meninggal dunia merupakan proses yang universal dalam setiap hukum waris, tetapi pemberian harta warisan sebelum pewaris meninggal dunia (semasa hidup) adalah hal yang tidak biasa dalam hukum waris pada

23

umumnya, namun hal tersebut dalam hukum adat merupakan penerapan dari salah satu asas atau prinsip pewarisan yaitu : menurut hukum adat, harta warisan itu adalah meliputi semua harta benda yang pernah dimiliki oleh si peninggal harta semasa hidupnya. Jadi tidaklah hanya terbatas terhadap harta yang dimiliki pada saat ia mati. Harta pemberian merupakan harta warisan yang asalnya bukan didapat karena jerih payah bekerja sendiri melainkan karena hubungan cinta kasih, balas budi atau jasa atau karena sesuatu tujuan. Bentuk-bentuk pemberian harta benda semasa hidup sebenarnya masih banyak dilakukan di daerah-daerah adat khususnya terhadap pemberian yang dilakukan oleh orang tua semasa hidupnya seperti di daerah Tapanuli disebut Holong Ate, Indahan Arian, atau Pambaenan yang merupakan suatu bentuk pemberian harta benda oleh orang tua kepada anaknya. Pada masyarakat Lampung ada kemungkinan isteri dalam perkawinan jujur mendapat pemberian barang tetap dari orang tua atau kerabatnya disebut Tanoh Sesan atau Saba Bangunan18. Di lingkungan masyarakat adat Daya-kendayan Kalimantan Barat kemungkinan pemberian orang tua kepada anak, akan lebih banyak diberikan kepada Anak Pangkalan yaitu anak yang menjamin memelihara mengurus orang tua sampai wafatnya. Begitu pula di daerah Banten pemberian orang tua biasanya dengan cara memberikan rumah kepada anak wanita dan suami si wanita setelah perkawinan mengikuti si istri. Pemberian masyarakat adat harta pada benda semasa hidup tersebut dalam tentunya lingkungan merupakan suatu bentuk fenomena sosial yang lazim terjadi di kalangan umumnya, khususnya masyarakat patrilineal seperti pada masyarakat adat Batak Karo. Dalam sistem hukum adat waris di Tanah Karo, pewaris adalah hanya anak laki-laki yang merupakan ahli waris dari orang tuanya. Akan tetapi anak laki-laki tidak dapat membantah pemberian harta yang dilakukan orang tua semasa hidupnya kepada anak perempuan, demikian juga sebaliknya. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa orang tua (pewaris) bebas menentukan untuk membagi-bagi harta benda kepada
18

H.Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, Bandung : Alumni,1977, hal.161

24

anak-anaknya

berdasarkan

kebijaksanaan

orang

tua

yang

tidak

membedakan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Salah satu bentuk pemberian semasa hidup ini adalah Pemere yaitu pemberian atas tanah atau ladang dari harta pusaka. Biasanya Pemere diberikan kepada anak yang sudah berumah tangga sebagai harta untuk diusahainya dan sebaai tempat untuk mencari nafkah. Pemberian harta benda semacam ini biasanya bertujuan sebagai bentuk tanda kasih sayang dari orangtua kepada anaknya atau sebagai modal awal yang diberikan kepada si anak pada saat ingin menikah ataupun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya19 Pemberian yang dilakukan secara kerukunan itu terjadi di depan Anak Beru, Senina, dan Kalimbubu. Kadang-kadang pemberian itu juga dihadiri oleh penghulu (Kepala Desa) untuk menambah terangnya pemberian tersebut. Harta pemberian dalam masyarakat adat Batak Karo merupakan suatu bentuk kasih sayang dan pemupukan tali silaturahmi antara orang tua kepada anaknya. Akan tetapi dalam prakteknya masih banyak menimbulkan permasalahan-permasalahan khususnya terhadap harta pemberian semasa hidup tersebut. Pemberian harta yang dilakukan semasa hidup oleh orang tua terkadang pada saat orang tua meninggal dunia menjadi masalah diantara para ahliwarisnya khususnya bagi para ahliwaris yang tidak mendapatkan harta pemberian dari orang tuanya. Keadaan demikian itu tentunya tidak selaras dengan maksud dari harta pemberian yang sesungguhnya dan juga mengakibatkan kesan kurang baik. Tidak jarang masalah harta pemberian tersebut ditemukan setelah orang tua meninggal dunia yang pada akhirnya menjadi sumber sengketa diantara para ahli warisnya. Prinsip kekerabatan masyarakat Minangkabau adalah matrilineal descen yang mengatur hubungan kekerabatan melalui garis ibu. Dengan prinsip ini, seorang anak akan mengambil suku ibunya. Garis turunan ini juga mempunyai arti pada penerusan harta warisan, dimana seorang
Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, Bandung : Refika Aditama,2005, hal.59
19

25

anak akan memperoleh warisan menurut garis ibu. Warisan yang dimaksud adalah berupa harta peninggalan yang sudah turun-temurun menurut garis ibu. Secara lebih luas, harta warisan (pusaka) dapat dikelompokkan dua macam, yaitu pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah harta yang diwarisi dari ibu secara turun-temurun; sedangkan pusaka rendah adalah warisan dari hasil usaha ibu dan bapak selama mereka terikat perkawinan. Konsekwensi dari sistem pewarisan pusaka tinggi, setiap warisan akan jatuh pada anak perempuan; anak lakilaki tidak mempunyai hak memilikihanya hak mengusahakan; sedangkan anak perempuan mempunyai hak memiliki sampai diwariskan pula kepada anaknya. Seorang laki-laki hanya boleh mengambil sebagian dari hasil harta warisan sesuai dengan usahanyasama sekali tidak dapat mewariskan kepada anaknya. Kalau ia meninggal, maka harta itu akan kembali kepada ibunya atau kepada adik perempuan dan kemenakannya (Yunus, 1990: 39-40). Dalam sistem kekerabatan matrilineal, satu rumah gadang dihuni oleh satu keluarga. Rumah ini berfungsi untuk kegiatan-kegiatan adat dan tempat tinggal. Keluarga yang mendiami rumah gadang adalah orangorang yang seketurunan yang dinamakan saparuik (dari satu perut) atau setali darah menurut garis keturunan ibu. Ibu, anak laki-laki dan anak perempuan dari ibu, saudara laki-laki ibu, saudara perempuan ibu serta anak-anaknya, atau cucu-cucu ibu dari anak perempuannya disebut saparuik, karena semua mengikuti ibunya. Sedangkan ayah (suami ibu) tidak termasuk keluarga di rumah gadang istrinya, akan tetapi menjadi anggota keluarga dari paruik rumah gadang tempat ia dilahirkan (ibunya) (Hajizar, 1988:46-47). Menurut sistem matrilineal, perempuan memiliki hak penuh di rumah gadang, dan kaum laki-laki hanya menumpang. Anak perempuan yang berkeluarga atau kawin tinggal pada bilikbilik (kamar-kamar) rumah gadang bersama suami mereka, sedangkan anak perempuan yang belum dewasa tidur bersama saudara perempuan yang lain di ruang tengah. Anak laki-laki yang sudah berumur 7 tahun disuruh belajar mengaji dan menginap di surau. Pada dasarnya di Minangkabau, anak laki-laki sejak kecil (usia sekolah) sudah sudah dipaksa hidup berpisah dengan orang

26

tua dan saudara-saudara wanitanya. Mereka dipaksa hidup berkelompok di surausurau dan tidak lagi hidup di rumah gadang dengan ibunya (Amir, MS, 1999:26). Walaupun perempuan memunyai hak penuh di rumah gadang, namun wewenang untuk memimpin dan membina, serta untuk memelihara ketentraman hidup berumah tangga di dalam sebuah rumah gadang dipegang oleh mamak rumah, yaitu salah seorang laki-laki dari garis keturunan ibu saparuik yang dipilih untuk memimpin seluruh keturunan saparuik tersebut. Mamak rumah itu disebut tungganai dengan gelar Datuak sebagai gelar pusaka yang diterima dari paruiknya. Dalam sistem matrilineal, yang berperan adalah mamak, yaitu saudara ibu yang laki-laki. Ayah merupakan urang sumando atau orang yang datang. Haknya atas anak sedikit karena mamak-nya yang lebih berkuasa (Radjab, 1969:85). Perkawinan di Minangkabau tidaklah menciptakan keluarga inti (nucleus family) yang baru. Suami atau istri tetap menjadi anggota dari garis keturunannya masing-masing (Navis, 1984:20). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Minangkabau sangat terikat pada keluarga luas (exented family), terutama keluaga pihak ibu. Keluarga pihak ayah disebut bako yang perannya sangat kecil dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, di Minangkabau tidak tampak apa yang disebut keluarga batih yang menunjukan ayah lebih berperan, mamak-lah yang lebih berperan. Ayah akan berperan pula sebagai mamak terhadap kemenakannya di rumah keluarga ibunya dan saudara perempuannya (Suwondo,1978:19-20). Di atas telah dijelaskan mengenai sistem hukum waris berdasarkan sistem kekerabatan, di indonesia kita dapat menjumpai tiga sistem kewarisan dalam hukum adat, yaitu: 1. Sistem Kewarisan individual yaitu sistem kewarisan dengan menentukan bahwa para ahli waris mewarisi secara perorangan dengan cirinya harta peninggalan dapat dibagi-bagikan di antara para ahli waris seperti dalam masyarakat bilateral di jawa, batak, sulawesi dan lain-lain 2. Sistem kewarisan kolektif yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa para ahli waris mewaris harta peninggalan secara bersama-

27

sama (kolektif) sebab harta peninggalan yang diwarisi tersebut tidak dapat di bagi-bagi pemilikannya kepada masing-masing ahli waris, biasanya harta peninggalan tersebut berupa harta pusaka yang harta peninggalan ini hanya boleh di bagi-bagikan pemakaiannya saja kepada mereka (hanya mempunyai hak pakai saja) seperti dalam masyarakat matrilineal minangkabau dengan harta pusaka dan masyarakat patrilineal ambon dengan tanah dati. 3. Sistem kewarisan mayorat, yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa harta peninggalan pewaris keseluruhan atau sebagian besar hanya diwarisi oleh seorang anak saja. Sistem mayorat ini ada dua macam : Mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki tertua/suling atau keturunan laki-laki merupakan ahli waris tunggal dari si pewaris, misalnya terdapat di bali, lampung Mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua merupakan ahli waris tunggal dari pewaris, misalnya pada masyarakat tanah semendo di sumsel diman terdapat hak mayorat anak perempuan yang tertua. Ketiga sistem kewarisan ini masing-masing tidak lantas merujuk pada suatu bentuk susunan masyarakat tertentu di mana sistem kewarisan itu berlaku, sebab suatu sistem tersebut di atas dapat diketemukan pula dalam berbagai bentuk susunan masyarakat ataupun dalam satu bentuk susunan masyarakat dapat pula di jumpai lebih dari satu sistem kewarisan dimaksud diatas seperti pada contoh sistem kewarisan kolektif di atas.

2.4 Kedudukan Janda dalam Hukum Waris Adat

28

Di dalam keluarga , lebih tepatnya dalam rumah tangga suamiistri, jika suaminya telah meninggal dunia mempunyai kedudukan istimewa , sebab jika misalkan anaknya telah tinggal terpisah semua , istri sebagai janda tinggal sendri dalam rumah tangga yang ditinggalkan oleh almarhum suami tersebut . Kamar ke-III dari Raad Yustisi Jakarta memutuskan pada tanggal 26 Mei 1939 , bahwa janda tidak dapat dianggap sebagai pewaris almarhum suaminya , akan tetapi ia berhak menerima penghasilan dari harta peninggalan sang suami , yang apabila tidak dapat mencukupi , janda berhak untuk terus hidup sedapat-dapatnya seperti keadaan saat perkawinan . Harta benda keluarga , yaitu rumah tangga suami-istri , terdiri dari : barang asal si suami , barang asal si istri dan barang gono-gini . janda tidak akan menguasai bagian harta benda apabila suami-istri mempunyai anak , segala harta benda akan dialihkan kepada anak , sedangkan anak itu wajb memelihara ibunya dengan sebaik-baiknya Misalkan apabila anak-anak telah dewasa / mencar maka : a. Harta peninggalan (barang asal dari pihak suami , barang asal dari pihak istri dan barang gono-gini) di bagi-bagi antara semua anak . si janda (ibu) berdiam pada salah seorang anaknya dan dipelihara oleh semua anak atau cukup oleh anak yang ditumpanginya b. Mungkin pula si janda mendapat sebagian dari harta peninggalan , misalnya sebuah rumah dan sebidang sawah , mungkin juga barang yang dibagikan kepada janda itu masuk golongan barang asal suami , sedangkan harta lainnya dibagikan ke anak-anak c. Kemungkinan lain , ialah bahwa suami telah mewariskan sebidang sawah yang masuk golongan barang asal suami sendiri , dan sebuah rumah yang masuk golongan barang gono-gini kepada istri , sehingga setelah suami itu meninggal , sisa dari harta peninggalan dibag-bagi antara anak-anak

29

Dalam ketiga macam pembagian tersebut , wujud hukum adat telah tercapai karena janda telah terpelihara kehidupannya .

Dengan tepat Ter Haar menulis dalam bukunya : Beginselen , enz., halaman 210 , bahwa pangkal pikiran hukum adat ialah bahwa istri sebagai orang luar tidak mempunyai hak sebagai waris , akan tetapi sebagai istri , ia berhak mendapat nafkah dari harta peninggalan , selama ia memerlukannya . di Minangkabau misalnya yang sistem kekerabatannya berdasar dari ibu (matrilineal) , istri tidak memerlukan nafkah dari harta peninggalan suaminya

Kedudukan janda terhadap barang asal dari suaminya Apabila barang gono-gini telah mencukupi nafkah janda , waris dapat menuntut supaya barang asal dari eninggal harta diberikan kepada mereka . waris itu mungkin terdiri dari anak-anak dari lain ibu , orangtua suami yang meninggal dan sebagainya . mereka disebut juga waris pancer . Menurut putusan kamar ke-III dari Raad Yustisi Jakarta , tanggal 17 Mei 1940 , baran pusaka jatuh kepada silsilah ke bawah (rechte , nederlande linie) apabila peninggal harta tidak mempunyai anak , maka barang pusaka kembali ke tangan silsilah famili , tempat asal barang itu . namun jika harta gono-gini tidak mencukupi janda berhak menahan pembagian barang asal suaminya , jikalau dan sekedar serta selama barang asal itu sungguh diperlukan untuk mencari nafkah . hak janda untuk menarik penghaslan dari harta peninggalan suaminya berlangsung seumur hidup , kecuali jikalau janda itu kawin lagi . dengan perkawinan baru itu janda melepas kedudukannya dalam rumah tangga suaminya yang telah meninggal dunia , dan menjadi anggota rumah tangga baru .

30

Kedudukan janda lelaki Di jawa kedudukan janda lelaki terhadap harta peninggalan pada dasarnya sama dengan kedudukan janda perempuan , pada dasarnya berlaku juga bagi kedudukan janda lelaki . ini sesuai dengan sistem keluarga di jawa , yang berdasar turunan dari kedua belah pihak orangtua . jadi janda lelaki juga berhak mendapat harta benda keluarga setelah istrinya meninggal .

Dalam kenyataannya , janda lelaki pada umumnya tidak mempunyai alasan-alasan yang begitu mendesak seperti halnya dengan janda perempuan , untuk menahan pembagian harta peninggalan . padaumumnya janda lelaki yang masih kat bekerja , mempunyai mata pencaharian sendiri dan kehidupannya tidak terutama tergantung adari harta peninggalan istrinya . apabila janda lelaki itu sungguh membutuhkan nafkah dari harta peninggalan istrinya , maka ia dapat menuntut supaya harta itu disediakan bagi kehidupannya . barang gono-gini yang tidak dibagi-bagi , setelah salah satu dari suami-istri meninggal dunia , jadi yang tetap dipegang oleh pihak yang masih hidup , apabila pihak tersebut meninggal juga dan suami-istri tidak memiliki anak , jatah separuh atau 2/3 kepada famili pihak suami dan separuh atau 1/3 kepada famili pihak istri

Kedudukan janda baik laki-laki maupun perempuan berbeda di setiap daerah di indonesia , berikut dijabarkan beberapa contoh :

a. Kedudukan janda di daerah Jambi dan sistem pewarisannya Pembagian warisan ini dilakukan oleh ninik mamak dari ahli waris yang akan membagikan harta kekayaan pewaris. Pembagian warisan ini menurut harta kekayaan tidak ada ketentuan waktu yang tepat, dapat 40 hari setelah pewaris wafat atau 100 harinya. Pembagian harta warisan ini 31

harus dalam keadan bersih, maksudnya bahwa harta-harta warisan ini harus dikurangi dengan hutang-hutang pewaris yang ditinggalkannya. Bila harta dalam keadaan bersih ini barulah dibagi-bagikan kepada ahli warisnya. Pembagian harta warisan ini dalam masyarakat Sungai Manau ini dipakai sistem pewarisan kombinasi antara sistem individual dengan sistem kolektif, harta warisan yang dapat dibagi-bagikan kepada ahli warisnya ini merupakan milik perorangan, sedangkan terhadap harta warisan yang tak terbagi-bagikan ini merupakan milik bersama. Mengenai pembagian warisan ini ada beberapa kemungkinan terjadi : 1. Bila istri (ibu) yang wafat, maka pembagian warisannya adalah : Bila suaminya kawin lagi dan tidak mempunyai anak maka suami berhak setengah dari harta pencahariannya. Bila suami kawin lagi dan mempunyai anak, maka suami hanya membawa harta bawaannya sedangkan harta pencaharian diwarisi kepada anaknya yang perempuan, maka anak perempuan mewaris harta pencaharian orang tuanya dan harta pusaka tinggi dari ibunya. Pembagian ini dapat dilakukan diantara ahli waris bila : Bila anak perempuan lebih dari 2 orang sedangkan anak laki-laki hanya satu orang, maka anak laki-laki sebagai pengatur atau mewarisi harta warisan ini terhadap ahli warisnya, maka semua harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah (harta pencaharian) ini diwarisi kepada kedua anak perempuannya. Pembagian warisan ini harus adil menurut hukum adat, adil itu tidak menurut perhitungan matematika. Sebagai contoh : Pewaris meninggalkan harta pusaka tinggi berupa sawah, ladang (kebun) dan harta pusaka rendah (harta pencaharian) berupa rumah, pekarangan serta 3 ekor ternak dan harta ringan lainnya. Pewaris meninggalkan anak 2 orang perempuan dan satu orang anak laki-laki maka harta warisan ini diwarisi oleh kedua anak-anak perempuannya sebagai berikut :

32

Harta pusaka tinggi ini, merupakan harta bersama yang pemakaiannya secara bergantian atau bergiliran, sedangkan harta pusaka rendah (harta pencaharian) ini dibagi-bagikan : yang satu orang mendapat rumah dan 1 ekor ternak, dan satu orang lagi mendapat pekarangan rumah untuk mendirikan rumah dan 1 ekor ternak juga. Sedangkan harta ringan lainnya dapat dibagikan sama banyak dan anak laki-laki juga bisa mendapat harta warisan ini. Sebagai pemegang hak pakai, anak perempuan ini harus memelihara anak laki-laki, seperti kata pepatah adat mengatakan : Kok lapa dak dape makan, kok aus dak dape minum, maksudnya anak perempuan tidak menghormati anak laki-laki (saudaranya) lagi. Bila hal ini terjadi maka anak laki-laki sebagai pengatur dapat menarik harta warisan dan memberikan kepada ahli waris lainnya atau anak laki-laki memanfaatkan semasa hidupnya akan tetapi harta warisan ini tidak dapat diwarisi kepada keturunannya. Bila anak laki-laki lebih dari satu orang, maka disini timbul persoalan, siapa yang berhak mengatur atau mengawasi harta warisan tersebut. Sepeti pepatah adat mengatakan : Tiap-tiap anak berajo ke bapak, bapak berajo ke mamak, mamak berajo ke ninik mamak, ninik mamak berajo kepada mufakat. Mufakat berajo ke kebenaran, kebenaranlah sebenar-benarnya rajo, karena itu rajo adil rajo disembah, rajo zalom, rajo disanggah, menjanggah orang alim dengan kitabnya, menjanggah rajo dengan undang-undangnya. Ini pepatah untuk seorang pemimpin atau yang memegang kekuasaan, arti pepatah tersebut adalah bila anak laki-laki lebih dari satu orang maka sebagai pengatuir / penguasa harta warisan ini adalah anak laki-laki yang benar dan adil menurut keputusan ninik mamak. 2. Bila yang wafat suami (bapak) maka harta pembagian warisan adalah:

33

a. Bila istri tidak mempunyai anak, maka harta pencaharian dibagi dua. b. Bila istri mempunyai anak, maka harta pencaharian ini diwarisi kepada anak-anak yang perempuan. c. Bila pewaris tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai cucu, maka harta warisannya dapat diwarisi oleh ibunya, atau saudara perempuan pewaris atau kemenakan perempuan pewaris. Jika ibu, saudara perempuan dan kemenakan pewaris ini masih hidup maka harta warisan ini dapat diwarisi oleh ahli waris yang berdasarkan keputusan ninik mamak. Sedangkan proses pewarisan ini dalam hukum waris adat masyarakat Sungai Manau ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu: Sebelum Pewaris Wafat Sebelum pewaris wafat, kadang-kadang pembagian warisan itu dilakukan atau dilaksanakan sebelum pewaris wafat dengan menunjukkan oleh pewaris kepada ahli warisnya, misalnya seorang anak perempuan yang telah kawin diberikan sawah perkarangan rumah dan beberapa perhiasan yang dipakai sebelum melangsungkan perkawinannya dan harta ini merupakan harta kekayaan istri, dalam hukum waris adat masyarakat penghulu ini termasuk juga harta warisan. Menurut Bapak Ramli (Gelaar Penghulu Sultan Bandaro) : Bahwa setiap anak atau keturunan pewaris pernah mendapat harta warisan berupa barang atau benda dari pewaris sebelum wafatnya, harta ini sebagai harta tepatan bagi istri dan harta pembao bagi suami. Sesudah Pewaris Wafat Menurut hukum waris adat masyarakat Sungai Manau ini pada dasarnya tidak ditentukan jangka waktu pembagian harta warisan. Tetapi menurut kebijaksanaan ninik mamak dengan para ahli waris, misalnya 40 hari atau 100 hari setelah pewaris wafat. Contoh Kasus : 34

Contoh kasus yang dimaksud dalam hal ini adalah kasus pembagian harta warisan yang berlaku sekarang dalam kenyataannya. Siti dan Abdullah sebagai pewaris dengan meninggalkan empat orang anak dan harta warisan yang berupa harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah (harta pencaharian). Anak yang ditinggalkan itu adalah dua orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki. Setelah pewaris wafat maka harta yang ditinggalkan dibagibagikan kepada ahli warisnya yaitu anaknya yang perempuan. Harta yang ditinggalkan berupa harta pusaka tinggi, yaitu lima petak sawah, harta pusaka rendah (harta pencaharian) ini berupa : rumah dan pekarangannya, dua bidang kebun, lima ekor ternak dan harta ringan lainnya. Pembagian harta warisannya sebagai berikut : Harta pusaka tinggi berupa sawah lima petak ini tidak dibagi-bagikan, akan tetapi merupakan harta bersama yang pemakaiannya secara bergiliran atau bergantian antara ahli warisnya. Sedangkan harta pusaka rendah (harta pencaharia) ini dibagi sama banyak, dimana masing-masing ahli warisnya mendapat : Si Upik mendapat : rumah, satu bidang kebun, 2 ekor ternak dan harta ringan dibagi sama banyak. Sedangkan si Minah mendapat : pekarangan rumah untuk mendirikan rumah, satu bidang kebun, 21/2 ekor ternak dan harta ringan lainnya. Sedangkan anak laki-laki sebagai penguasa atau pengatur harta warisan ini juga mendapat harta ringan dari pewarisan seperti : pakaian atau perlengkapan ke sawah. Sebagai penguasa atau pengatur ini dimusyawarahkan oleh ninik mamak siapa yang berhak atas penguasaan atau pengatur terhadap harta warisan tersebut.

35

b. Kedudukan janda dalam adat batak Menurut hukum adat batak , janda bukanlah ahli waris dari suaminya . hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa janda tidak memiliki hubungan darah dengan suaminya , sehingga janda tidak mempunyai hak untuk mewaris , karenayang menjadi ahli waris pada masyarakat batak hanya anak laki-laki . anak laki-laki mempunyai kedudukan yang penting dalam meneruskan keturunan keluarga , hal ini tentu saja dirasakan tidak adil , karena di dalam suatu perkawinan hubungan lahir maupun bathin antara suami dengan istrinya itu sudah sedemikian eratnya , bahkan jauh melebihi hubungan antara suami dan para keluarga sedarahnya . oleh karena itu kepada janda harus diberikan suatu kedudukan yang pantas disamping kedudukan anak-anak keturunan si pewaris . didalam hukum adat batak yang tradisional , menempatkan kedudukan suami lebih kuat daripada istri didalam kehidupan rumah tangga

Di Indonesia terdapat 3 bentuk sistem kekerabatan , yang memberi pengaruh terhadap kedudukan janda a. Janda dalam sistem patrilineal Masyarakat patrilineal di batak terikat pada sistem patrilineal yang mutlak bersifat genealogis , yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah . corak utama dari masyarakat patrilineal ini adalah perkawinan dengan jujur , pemberian jujur ini oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan adalah sebagai lambang diputuskannya hubungan kekeluargaan si istri dengan kerabatnya dan masuk ke dalam kerabat suaminya . oleh sebab itu , sepanjang perkawinan dengan jujur itu masih dianggapsebagai suatu peristiwa memutuskan pertalian hubungan si istri dengan kerabatnya , maka kedudukansetelah wafatnya suami , bahwa janda tetap merupakan bagian dari kerabat suami , sehingga nasibnya tidak akan terlantar , serta tetap akan menikmati barang-barang peninggalan suaminya .

36

Bahkan sering terjadi janda tersebut menjadi istri dari saudara laki-laki almarhum suaminya . di daerah lampung , jika janda tidak memiliki keturunan , maka dapat memilih untuk kawin dengan salah seorang saudara laki-laki dari suami atau anggota kerabat suami yang lain sehingga tidak akan terlantar dan tetap dapat menikmati barang-barang yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya .

b. Janda dalam sistem matrilineal Sistem garis keturunan matrilineal adalah yang menghitung hubungan kekerabatan melalui perempuan saja , dan hal itu mengakibatkan tiap individu masuk dalam kerabat ibunya . di indonesia , contoh dari masyarakat matrilineal adalah masyarakat minangkabau . biasanya diadakan perbedaan antara harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah . harta pusaka tersebut lazimnya terbagi kedalam 4 kelas atau golongan yaitu : harato pusako tambilang ruyuang atau harato pusako turun tamurun harato pusako tambilang ameh Harato pusako tambilang basi harato pusako tambilang kaitan atau harato hibah Terhadap masalah harta pusaka tinggi sudah jelas akan jatuh kepada saudara laki-laki dan/ saudara perempuan beserta keturunan saudara perempuan almarhum suami . sedangkan janda hanya mendapat sebagian dari harta pusaka rendah (harta pencarian) , dengan ketentuan bahwa pembagian hanya dapat dilakukan setelah dibayar terlebih dahulu hutang bersama . dalam hal ini , ada 4 kemungkinan mengenai kedudukan janda pada sistem matrilineal ini , yaitu : 1) Suami tidak mempunyai anak di rumah tempat ia berusaha dan juga tidak mempunyai anak dan istri di tempat lain

37

2) Sehingga ahli warisnya adalah istrinya , karena harta yang diwariskan bukan harta yang berasal dari kaum dan harta tersebut tidak dapat dituntut olehkaum 3) Suami tidak mempunyai anak ditempat ia berusaha , tetapi mempunyai anak dan istri di tempat lain . hal ini terjadi apabila seorang laki-laki mempunyai 2 istri , yang tinggal di rumah masing-masing . di salah satu rumah ia berusaha dengan istrinya dan mempunyai anak , tetapi di rumah lain tidak . bila suami meninggal , maka harta bersama dibagi 2 , sebagian adalah hak bagi istri yg ikut berusaha dan sebagian lagi untuk ahli warisnya yang dengan sendirinya diapat oleh anak-anak diluar lingkungan tempat berusaha itu 4) Suami mempunyai anak di empat ia berusaha dan tidak mempunyai anak atau istri di tempat lain . hal ini terjadi jika suami anya hanya mempunyai seorang istri dan mempunyai anak . janda berhak atas sebagian harta bersama , yang sebagian untuk harta warisan . c. Janda dalam sistem parental Masyarakat jawa adalah masyarakat yang mempunyai sistem kekerabatan parental/bilateral . yaitu setiap individu menarik garik keturunannya keatas memlaui garis ayah dan ibu secara serentak atau bersamaan . menurut hukum adat jawa , para ahli waris dapat digolongkan dalam urutan sbb : 1. keturunan pewaris 2. orangtua pewarissaudara-saudara pewaris/keturunannya 3. orangtua dari orangtua pewaris 4. didalam urutan tersbut belum termasuk janda , walaupun pada kenyataannya mereka adalah ahli waris uga . hal ini adalah lanjutan dari sistem klewarisan bilateral yang menempatkan kedudukan yang sama antara laki-laki dengan perempuan 38

sehingga memberi kedudukan yang sama pula terhadap janda untuk mewarisi harta peninggalan almarhum suaminya Jangkauan hak mewaris janda , tidak meliputi harta gowan , karna harta gowan akan jatuh pada anak-anak . jadi hak mearis janda terbatas hak gono-gini yang diperoleh selama perkawinan antara janda dengan almarhum suaminya . sehubungan dengan hak dan kedudukan janda untuk mewaris terhadap harta bersama , hukum adat telah menentukan tata cara penyelesaiannya , yaitu : harta gawon kembali keasal , karna janda tidak berhak mewarisinya , harta gono-gini , dikuasai sepenuhnya oleh janda selama masih hidup atau selama janda belum kawin dengan lakilaki lain . dalam hal initidak menjadi soal apakah harta gono-gini itu kecil/besar jumlahnya . pokoknya harta gono-gini itu menjadi hak mutlak janda untuk menguasai harta , selama dia masih hidup atau belum kawin dengan laki-laki lain . harta gawon kembali keasal dan harta gono-gini dibagi dua , sebagian menjadi hak mutlak janda , dan sebagian lagi jatuh kepada ahli waris almarhum suami. 2.5 Kedudukan Anak dalam Hukum Waris Adat 1. Anak Kandung Anak sah adalah anak yang dilahirkan dengan sah, artinya anak yang lahir dari perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian anak kandung tidak lain adalah anak yang dikandung oleh ibu akibat dari buah perkawinan yang sah dari ibu dan bapaknya sesuai dengan undang-undang perkawinan no. 1 tahun 1974. Terdapat suatu perbedaan antara suatu daerah dengan daerah lainnya tentang para ahli waris secara umum menurut Hilman Hadikusuma para waris ialah anak termasuk anak dalam kandungan ibunya jika lahir hidup, tetapi tidak semua anak adalah ahli waris,

39

kemungkinan para waris lainnya seperti anak tiri, anak angkat, anak piara, waris balu, waris kemenakan dan para waris pengganti seperti cucu, ayah-ibu, kakek-kakek, waris anggota kerabat dan waris lainnya.20 Sedangkan Soerojo Wignyodipoero menyatakan bahwa anakanak dari sepeninggal warisan merupakan golongan ahli waris yang terpenting oleh karena mereka pada hakikatnya merupakan satusatunya golongan ahli waris apabila si peninggal warisan meninggalkan anak-anak.21 Namun berdasarkan sifat hukum waris adat yang unik maka setidaknya tidak akan sama siapa-siapa yang menjadi ahli waris dari harta kekayaan yang ditinggalkan pewaris itu, dibawah ini sedikit akan diuraikan pewaris menurut system kekerabatan: a. Ahli waris atau para ahli waris dalam hukum waris di sistem kekerabatan matrilineal, yaitu sistem keturunan yang ditarik menurut garis ibu, dimana kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan pria dalam pewarisan. Contohnya adalah minangkabau. Hukum Waris menurut hukum adat Minangkabau merupakan masalah yang aktual yang tidak henti-hentinya diperbincangkan dan dipersoalkan. Seperti kita ketahui di Minangkabau sejak dahulu sampai sekarang berlaku sistem keturunan dari pihak ibu (matrilineal), yaitu mereka berasal dari satu ibu asal yang dihitung menurut garis ibu yakni saudara laki-laki dan saudara perempuan, ibu dan saudara-saudaranya, baik laki-laki maupun perempuan, nenek beserta saudara-saudaranya, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan sendirinya, anak-anak itu hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya sendiri, baik untuk harta pusaka tinggi maupun untuk harta pusaka rendah. Jika yang meninggal itu adalah seorang laki-laki maka anak-anaknya dan jandanya tidaklah ahli waris mengenai harta pusaka tinggi, tetapi ahli warisnya adalah seluruh kemenakannya. Adat Minangkabau sangat memperhatikan kaum wanita, karena kaum wanitalah yang terlemah dibandingkan dengn kaum laki-laki. Sebab itu, adat Minangkabau memberikan hak istimewa terhadap wanita, sehingga
Hilman hadikusuma, Hukum Waris Adat, Cipta Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 67. 21 Soerojo Wigbyodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, Mas Agung, Jakarta, 1990, hlm. 182.
20

40

di Minangkabau yang punya rumah gadang ialah wanita. Yang laki-laki, mamak, bapak dan dunsanak, adalah mencari, dan semua pencarian itu semuanya dikumpulkan pada anak kemenakan wanita. Buktinya di Minangkabau ini kalau ada anak dua orang, satu lakilaki dan satu perempuan, umpamanya yang perempuan namanya Fatimah dan yang laki-laki namanya Buyung. Kalau ada di situ rumah gadang dan orang bertanya: Itu rumah siapa? Lalu orang menjawab: bahwa itu rumah si Fatimah. Tidak ada orang yang menyebut bahwa itu rumah si Buyung. Kalau akan disebut juga nama laki-laki harus diberi tambahan, umpamanya itu rumah gadang kemenakan Datuk Anu atau rumah dunsanak si Buyung, dan sebagainya. Kalau disebut langsung nama laki-laki, seperti itu rumah si Buyung, artinya soal lain, yaitu bahwa itu rumah istrinya, bukan rumah adiknya. Begitulah adat Minangkabau yang mengagungkan anak wanita. b. Ahli waris atau para ahli waris dalam hukum waris di sistem kekerabatan Patrilineal, taitu system keturunan yang ditarik mulai garis bapak dimana kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan wanita dalam pewarisan. Contohnya adalah batak. Pada masyarakat adat suku Batak, anak perempuan tidak mewaris harta peninggalan orang tuanya, dan harta diwaris atau jatuh kepada saudara kandung laki-laki pewaris. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai dan konsep budaya mengenai perempuan dan laki-laki pada masyarakat Batak, yang mencerminkan hubungan kekuasaan yang timpang antara laki-laki dan perempuan, menempatkan perempuan pada posisi yang lemah, khususnya dalam hal waris. c. Ahli waris atau para ahli waris dalam hukum waris di sistem kekerabatan Parental, yaitu system keturunan yang ditarik melalui garis orang tua atau menurut garis dua sisi (bapak-ibu), dimana kedudukan pria dan wanita tidak dibedakan dalam pewarisan. Contohnya di Jawa. Soepomo mengatakan bahwa menurut hhukum adat tradisional di Jawa, maka pada dasarnya baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak sama atas peninggalan orang tuanya. Hak sama itu mengandung hak untuk diperlakukan sama oleh orang tuanya, didalam proses meneruskan dan

41

mengoprasikan harta benda keluarga.22 Artinya dimata orang tuanya semua anak adalah ahli waris, hanya saja kemungkina jumlah bagian antara laki-laki dan perempuan di beberapa daerah di jawa tengah tida sama, ada juga yang memperikan bagian sama tapi ada juga yang lebih banyak laki-laki daripada perempuan maupun sebaliknya. Ahli waris yang pertama adalah semua anak, ditegaskan lagi oleh Soepomo dalam bukunya, Bab-bab tentang Hukum Adat, halaman 88, Djojo Torto, Jawa Tengah, hal 378, mengatakan bahwa seorang anak tidak boleh kehilangan hak waris dalam arti bahwa ia tidak diberi bagian dari harta benda orang tuanya, yang pantas untuk dijadikan dasar material guna membentuk harta keluarga baru. Apa yang disebut pantas itu , harus dipertimbangkan menurut tiap-tiap keadaan konkrit.(4 Menurut hukum waris jawa, bagian yang layak untuk anak laki-laki dan anak wanita adalah merupakan hal yang patut dilaksanakan. Apakah suatu warisan itu layak atau tidak maka perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Bahwa seorang anak, istri telah kawin dengan pantas (voordelig) Seorang anak lain adalah insolide (cacat) Seorang anak laki-laki yang pelajarannya telah diongkosi dan yang diharap menyokong saudara-saudaranya Anak yang tidak diberi apa-apa didalam pewarisan itu telah menerima warisan dari keluarga lain.

2. Anak Tiri Anak tiri adalah anak yang dibawa ibunya atau dibawa bapaknya dalam perkawinan. Oleh karena itu, anak tiri tidak merupakan ahli waris dari bapak tirinya, demikian pula anak tiri bukan ahli waris dari ibu tirinya.
22

Soepomo, Bab-bab Hukum Adat, PT pradnya paramita, Jakarta 1989, hlm 80

42

anak tiri yang hidup bersama di satu rumah dengan ibu kandungnya dan bapak tirinya adalah anggota rumah tangga pula. Dalam hal demikian, ada kerja sama dan untung bersama yaitu hidup bersama dalam rumah tangga yang membawa hak-hak dan kewajibankewajiban antara anggota yang satu dengan yang lainnya. Terhadap ibunya atau bapaknya sendiri adalah ahli waris, sedangkan terhadap ibu atau bapak tirinya anak itu bbukan ahli waris, akan tetapi teman serumah tangga.23 Sekitar tahun 1937 yaitu sebelum kemerdekaan Landraad Purworedjo yaitu tepatnya pada tanggal 14 agustus 1937, pernah memutuskan sebagai berikut, bahwa anak tiri tidak berhak atas warisan bapak tirinya, ia ikut mendapat penghasilan dan bagian dari harta peninggalan bapak tirinya yang diberikan kepada ibunya sebagai nafkah janda. Pada buku perdata adat jawa barat, Soepomo menulis: di hukum waris adat Jawa Barat, dapat dibenarkan menurut hukum, bapak tiri memberikan sebidang tanah/sawah kepada anak tiri. Hal ini menunjukan adanya pertalian rumah tangga (gezinsband) antara bapak tiri dan anak tiri yang hidup bersama di satu rumah tangga. Apa yang dikemukakan soepomo diatas memang dapat diterima dan dimengerti karena telah merupakan budaya bangsa Indonesia, gotong royong, tolong menolong, bantu membantu, telah membudaya. Dapat juga anak tiri menjadi anak angkat,. Hal ini dapat terjadi apabila anak itu diperlakukan sedemikian rupa oleh bapak atau ibu tirinya, artinya secara lahir batin diperlakukan seolah-olah anak kandungnya sendiri, disekolahkan, dikhitankan, dan mewakili bapak tiri maupun ibu tirinya pada pertemuan-pertemuan reuni kekeluargaan maupun pertemuan desa. Mahkamah agung dalam keputusan tertanggal 10 november 1972 reg no. 637g/gip/1971, memutuskan; anak tiri yang dikhitankan oleh pewaris, mempunyai kedudukan sebagai anak angkat. Hilman
23

Ibid hlm 101

43

Hadikusuma dalam bukunya Hukum Waris Adat, menulis sebagai berikut: di lingkungan masyarakat Lampung beradat pepaduan apabila didalam perkawinan, dimana suami telah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, sedang istri belum mempunyai anak dan selama perkawinan tidak dikaruniai anak, maka ada kemungkinan salah satu dari anak suaminya dijadikan tegak-tegi dari keturunan istri dengan suaminya yang telah wafat. Hal ini misalnya terjadi dalam bentuk perkawinan levirat, dimana istri yang suaminya meninggal dikawin oleh kakak atau adik dari suaminya yang wafat, anak laki-laki suami yang jika dijadikan tegak-tegi dari suami yang wafat maka dengan sendirinya ia berhak atas harta warisan suami pertama yang telah wafat dan berarti pula berhak sebagai waris dari harta bawaan istri dan harta pencaharian suami-istri pertama. Sebaliknya ada kemungkinan terjadi perkawinan antara suami yang telah mempunyai istri tapi tidak punya anak dengan istri kedua, tetapi istri kedua ini telah punya anak, sedang dengan suaminya sekarang tidak dikaruniai anak. Dalam hal ini bisa terjadi, salah satu anak dari istri kedua (anak bawaan), diangkat sebagai penerus keturunan suami itu. Dengan demikian terjadilan anak tiri menjadi ahli waris dari bapak tiri dan ibu tiri dengan jalan pengangkatan anak atau pengakuan anak dari bapak ibu tiri yang bersangkutan. Dengan demikian apa yang ditulis Hilman Hadikusuma diatas dapat dimengerti dann dipahami karena pada masyarakat yang bersistem patrilineal seperti Lampung, Bali, Batak, Ambon, dsb, istri karena perkawinannya masuk menjadi keluarga suaminya, lepas dari keluarga asalnya . kalau suaminya meningga, kemudian istri menjadi janda dan kemungkinan mempunyai anak, adalah kewajiban dari keluarga suami untuk menjaga dan memelihara kelangsungan hidup janda dan anak-anaknya. Kadangkadang dianjurkan untuk melangsungkan perkawinan levirate, artinya saudara laki-laki almarhum suaminya apakah itu kakak atau adiknya dari almarhum untuk bersedia mengawini jandadari almarhum saudaranya. Hal ini tidak lain untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan

44

janda dan anak-anaknya. Hanya saja ini merupakan anjuran bukan keharusan. Di Bali jarang sekali seorang wanita dalam perkawinan membawa anak, sebab wanita tersebut akan menjadi anggota keluarga suaminya, sedang anak yang dibawa bukan hasil dari perkawinannya dengan suaminya yang baru. Biasanya anak tersebut dipelihara oleh orang tua dari wanita itu. Jadi kalau janda akan menikah lagi, anaknya daoat diserahkan pada keluarga bukan suaminya yang pertama, melainkan orang tua dari wanita tersebut. Dengan demikian tidak lah ada persoalan hukum yang terjadi antara anak tiri dengan keluarga baru dari wanita tersebut karena sistem patrilineal di Bali nampaknya sangat ketat dan tidak jarang urusan keluarga sering ikut campur keluarga lain. Selain itu juga ada rasa malu kalau si janda kawin dengan membawa anak. Sesuai dengan arti patrilineal itu sendiri, anak itu seharusnya diserahkan pada keluarga bekas suaminy dahulu, karena anak tersebut ada bertalian darah dengan keluarga bekas/almarhum suaminya. Di Bali ini disebut garis kepuruse (garis kebapaan) sedang anak tiri di Bali disebut dengan istilah pianuk kawalan Di Bali tidak diperkenankan menurut hukum adatnya, yaitu perkawinan antara; Janda dengan anak atau tanpa anak dengan janda laki-laki Janda perempuan dengan anak atau tanpa anak dengan jejaka

Yang diperkenankan adalah perkawinan antara: Gadis dengan jejaka Gadis dengan janda laki-laki

Perlu pula diingat, bahwa pada keluarga Bali pada umumnya perceraian itu adala jarang sekali terjadi.

45

3. Anak Angkat Pengertian anak angkat tak lain adalah anak orang lain yang dijadikan anak dan secara lahir batin diperlakukan seakan-akan sebagai anak kandungnya sendiri. Dalam hukum adat dikenal adanya dua sistem pengangkatan anak, yaitu: a. Pengangkatan anak secara terang-terangan dan tunai, artinya pengangkatan anak yang dilakukan secara terbuka dihadiri oleh para anggota keluarga, pejabat desa maupun pemuka agama dan seketika itu juga dilakukan pembayaran dengan uang adat selaku simbol. Di Bali, selain pengangkatan anak dihadiri oleh sanak keluarga dan pejabat desa, juga dilakukan upacara keagamaan, dilakukan upacara pamit pada sunggah ( tempat persembahyangan keluarga), pamit kepada roh para leluhur karena akan menjadi keluarga baru dari orang yang mengangkatnya. Dengan pengangkatan secara terang dan tunai ini, putuslah sudah hukum kekeluargaan antara anak yang diangkat itu dengan keluarga asalnya dan secara hukum pula anak angkat itu masuk menjadi keluarga orang tua yang mengangkatnya. Di Bali, anak angkat memiliki kedudukan yang sama dengan anak kandung, oleh karena itu anak angkat di Bali mewarisi semua harta peninggalan orang tua angkatnya, baik barang asal, barang barang hasil pencaharian suami istri bahkan kalau belum ada hata pusakapun anak itu berhak mewarisinya. Juga anak angkat itu sebagai penerus keturunan orang tua yang mengangkatnya dan sampai saat ini di Bali yang dapat diangkat anak adalah anak laki-laki saja. b. Secara tidak terang dan tidak tunai. Artinya pengangkatan anak yang dilakukan secara diam-diam, tanpa mengundang keluarga seluruhnya, biasanya dipilih diantara keluarga orang-orang tertentu saja yang termasuk sesepuh-sesepuh, tidak diundang pemuka agama maupun pejabat desa dan tidak pula dengan pembayaran uang adat. Hal ini biasanya bermotif hanya atas dasar perikemanusiaan, ingin membantu suami istri yang dalam keadaan

46

ekonomi lemah dan banyak anak , meringankan biaya kehidupan anak-anaknya dengan jalan diambil anak oleh pasangan suami istri yang kebetulan punya perekonomian yang agak kuat. Oleh karena itu pengangkatan anak semacam ini tidak memutuskan hubungan hukum antara orang tua asal anak itu dengan anak yang diangkat oleh orang lain. Motif dari pengangkatan anak semacam ini hanyalah adanya belas kasihan semata. Oleh karena antara anak angkat tersebut tidak putus hubungan hukumnya dengan orang tua asalnya dan ada hubungan hukum dengan orang tua yang mengangkatnya, maka anak angkat tersebut dapat mewarisi dari orang tua angkatnya juga tetap mewarisi dari orang tua asalnya, hanya saja barang-barang atau benda yang dapat diwarisi dari orang tua angkatnya terbatas pada harta pencaharian bersama (jawa, gono-gini) Pengangkatan anak secara terang dan tunai dengan tidak terang dan tidak tunai pada perkembangan sekarang ini nampaknya cenderung kearah pemutusan hubungan hukum antara anak angkat dengan orang tua yang mengangkat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh pengadilan negeri Banyumas yang dilakukan pada tahun 1981, di kecamatan Sumbang kabupaten Banyumas mengenai anak angkat ini adalah sebagai berikut: Di daerah ini dikenal adanya kebiasaan mengangkat anak. Katakata yang lazim dipakai untuk menyebutkan anak angkat adalah anak pupon. Caranya mengangkat anak ini ialah dengan adanya persetujuan kedua orang tua kandung anak maupun orang tua yang akan mengangkat anak tersebut. Setelah itu baru ke Balai Desa untuk disaksikan kepala desa, selanjutnya oleh kepala desa dibuatkan surat pernyataan/perjanjian pengangkatan anak tersebut, yang mana setelah itu disarankan agar supaya surat perjanjian

47

pengangkatan anak tersebut diserahkan oleh pengadilan negeri. Mengenai pengesahan oleh pengadilan negeri untuk desa karangturi sudah sejak 1965, untuk desa susukan sejak tahun 1960 Pada umumnya baik laki-laki maupun anak perempuan dapat dijadikan anak angkat Pada umumnya dapat mengangkat lebih dari seorang Di daerah ini belum pernah terjadi orang yang belum kawin mengangkat anak Dalam hal pengangkatan anak, orang yang mau mengangkat anak harus ada persetujuan dari orang tua si anak, tidak perlu meminta dari keluarganya sendiri. Anak yang diangkat biasanya umur 7 tahun kebawah. Di desa susukan bahkan pernah terjadi anak yang dijadikan anak angkat sudah berumah tangga, dimana surat perjanjian pengukuhan anak tersebut disahkan oleh pengadilan negeri banyumas pada tahun 1970. Alasan untuk mengangkat umumnya antara suami istri selama dalam perkawinannya tidak mempunyai keturunan Disini tidak dikenal anak pungut Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh pengadilan negeri Banyumas tersebut, jelas kiranya dengan anjuran pengesahan surat perjanjian pengangkatan anak ke pengadilan, sangat erat kaitanya dengan kepastian status hukum dari anak angkat tersebut. Dalam perkembangan masa sekarang ini memang hal ini sangant diperlukan, karena sering timbulnya masalah untuk anak angkat setelah orang tua yang mengangkatnya nantinya meninggal dunia, khususnya yang berkaitan dengan kewarisan.

48

4. Anak di Luar Nikah Anak adalah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita baik anak sah maupun anak diluar perkawinan, hasil hubungannya dengan seorang laki-laki baik itu sebagai suaminya atau tidak. Setelah dibahas mengenai anak kandung, anak angkat dan anak tiri kali ini akan dibahas mengenai anak yang lahir di luar pernikahan. Anak yang lahir di luar pernikahan ialah anak yang lahir dari seorang wanita yang tidak mempunyai suami atau anak yang mempunyai bapak dan ibu yang tidak terikat dalam suatu ikatan perkawinan yang sah. Tentang anak diluar kawin itu ada 2 jenis yaitu: a. Anak yang lahir dari ayah dan ibu antara orang-orang mana tidak terdapat larangan untuk kawin. b. Anak yang lahir dari ayah dan ibu yang dilarang untuk kawin karena sebab-sebab yang ditentukan oleh undangundang atau jika salah satu dari ayah ibu di dalam perkawinan dengan orang lain. Proses terjadinya anak luar kawin dapat dikategorikan sebagai berikut:24 1. Anak dari hubungan ibu sebelum terjadinya pernikahan. Jika dua orang dari 2 jenis kelamin yang berbeda, kedua-duanya tidak terikat perkawinan dengan orang lain mengadakan hubungan badan dan mengakibatkan seorang perempuan hamil, kemudian melahirkan seorang anak dan ada sebagian darah dari seorang anak laki-laki dan seorang perempuan yang menghasilkan anak tersebut yang tercampur dalam diri anak yang bersangkutan. Padahal antara keduanya belum terikat tali perkawinan yang sah,maka anak tersebut adalah anak luar kawin. 2. Anak dari kandungan ibu setelah bercerai lama dari suaminya. Apabila seorang wanita mengadakan hubungan badan
24 Hilman Hadi Kusuma, Hukum Waris Adat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 100

49

dengan bekas suaminya atau seorang laki-laki lain dan mengakibatkan wanita itu hamil kemudian melahirkan seorang anak, maka : Kelahiran anak itu apabila terjadi belum lama dari masa perceraian dengan suaminya maka anak tersebut masih dianggap anak dari bekas suaminya itu, dan Apabila Kelahiran anak tersebut lama setelah masa

perceraian ibunya dengan ayahnya, maka anak tersebut dapat dinamakan anak luar kawin. c. Anak dari kandungan ibu karena berbuat zina dengan orang lain. Apabila seorang istri melahirkan seorang anak karena mengadakan hubungan badan dengan seorang laki-laki lain bukan suaminya, maka suaminya itu menjadi bapak dari anak yang dilahirkan tersebut. Kecuali apabila sang suami ini berdasarkan alasan yang dapat diterima, dapat menolak menjadi bapak, anak yang dilahirkan oleh istrinya karena berbuat zina. Adapun alasannya ialah : Suami tidak bisa menjalankan kewajibannya memenuhi kebutuhan biologis istrinya, misalnya impotensi. Dapat dibuktikan oleh suaminya baik karena pengakuan pria yang melakukan zina dengan istrinya ataupun oleh istrinya sendiri atau oleh masyarakat. d. Anak dari kandungan ibu yang tidak diketahui siapa ayahnya. Apabila seorang perempuan mengadakan hubungan badan dengan lebih dari seorang laki-laki atau mengadakan hubungan badan dengan berganti-ganti pasangan dan mengakibatkan seorang perempuan itu hamil, kemudian melahirkan seorang anak, dan jelaslah di sini bahwa anak tersebut tidak diketahui siapa ayahnya, karena ibunya telah mengadakan hubungan badan dengan berganti-ganti pasangan yang tidak terlibat tali perkawinan yang sah.

50

e. Anak dari kandungan ibu tanpa melakukan perkawinan sah jika dua orang dari 2 (dua) jenis kelamin yang berbeda, kedua-duanya tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain mengadakan hubungan badan dan mengakibatkan seorang perempuan hamil kemudian melahirkan seorang anak dan ada sebagian darah dari seorang lakilaki dan seorang perempuan yang hubungannya menghasilkan anak tersebut, yang tercampur dalam diri anak yang bersangkutan. Padahal antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang kedua-duanya tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain dan kedua pasangan tersebut telah hidup didalam kehidupan rumah tangga. Padahal antara keduanya belum terikat tali perkawinan yang sah. Pada umumnya menurut hukum adat anak yang lahir dari perkawinan ayah dan ibunya yang tidak sah, maka tidak berhak sebagai ahli waris dari orang tuanya. Anak yang tidak sah itu hanya mewaris dari ibu atau kerabat ibunya. Di daerah Jawa anak yang lahir di luar perkawinan yang sah adalah anak kowar, anak ini hanya dapat mewaris dari ibunya atau keluarga ibunya. Walaupun demikian apabila kemudian ibunya setelah anak itu lahir kawin dengan lelaki yang membenih anak tersebut dan anak itu tinggal bersama ayah kandungnya itu, si anak tetap tidak dapat mewaris dari bapaknya. Begitu pula anak yang lahir dari ayah ibunya yang kemudian cerai kemudian rujuk kembali secara diam-diam tanpa dilakukan di hadapan pejabat negara atau agama, ia tetap anak kowar dan tidak bersah sebagai ahli waris. Anak Luar Kawin yang tidak layak menjadi ahli waris apabila :25 Jika oleh hakim ia dihukum karena membunuh pewaris, jadi wajib ada putusan hakim yang menghukumnya. Jika ia secara paksa mencegah kemauan pewaris untuk membuat wasiat.
25 Oemarsalim, Dasar-dasar hukum waris di Indonesia,Rineka Cipta,1991,halaman

141.

51

Jika ia melenyapkan atau memalsu surat wasiat dari pewaris. Melanggar ketentuan adat yang berlaku bagi pewaris. Di beberapa daerah menganggap wanita yang melahirkan anak

itu sebagai ibu anak yang bersangkutan, jadi biasa seperti kejadian normal seorang wanita melahirkan anak dalam perkawinan yang sah. Tetapi di beberapa daerah lain ada pendapat yang wajib mencela keras si ibu yang tidak kawin beserta anaknya, bahkan mereka lazimnya dibuang dari persekutuan. Untuk mencegah nasib si ibu dan anaknya yang malang ini, terdapat suatu tindakan adat yang memaksa pria yang bersangkutan untuk kawin dengan wanita yang telah melahirkan anak itu. Di samping kawin paksa tersebut di atas, adat mengenal usaha yang lain yaitu dengan cara mengawinkan wanita yang sedang hamil itu dengan salah seorang laki-laki lain. Maksudnya supaya anak dapat lahir dalam perkawinan yang sah. Cara ini banyak dijumpai di desa-desa Jawa, disebut nikah tambelan. Tetapi meskipun telah dilakukan upayaupaya adat seperti tersebut di atas, semuanya itu toh tidak dapat menghilangkan perasaan dan pandangan tidak baik terhadap anak yang dilahirkan itu. Anak demikian ini di Jawa disebut anak haram jadah10. Istilah anak haram jadah biasanya banyak digunakan dalam daerahdaerah pedesaan seperti di desa Agung Mulyo, Kecamatan Juwana Kabupaten Pati.

2.6 Harta Waris Harta Peninggalan yang Tidak Dapat Dibagi-bagi Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini, berdasarkan atas alasannya tidak dibagi-bagi, dapat dibeda-bedakan sebagai berikut: a. Karena sifatnya memang tidak memungkinkan untuk tidak dibagi-

bagi (misalnya barang-barang milik kerabat atau famili).

52

b.

Karena kedudukan hukumnya memang terikat kepada suatu

tempat /jabatan tertentu (cntohnya barang-barang keramat kasepuhan Cirebon seluruhnya tetap jatuh pada ahli waris yang menjadi sultan sepuh serta barang-barang itu tetap dsimpan di keraton Kasepuhan). c. Karena belum bebas dari kekuasaan persekutuan hukum yang

bersangkutan, seperti tanah kasikepan di daerah Cirebon d. Karena pembagiannya untuk sementara ditunda, seperti banyak

dijumpai di daerah Cirebon, seperti banyak dijumpai di Jawa, misalnya terdapat anak-anak yang ditinggalkan masih dewasa, maka demi kepentingan janda beserta anak-anaknya supaya tetap mendapat nafkah untuk hidup terus harta peninggalan tidak dibagi-bagi. Dan tiap tuntutan untuk membagi-bagi dari ahli waris yang menurut hakim akan mengakibatkan terlantarnya janda beserta anak-anak tersebut selalu akan ditolak oleh hakim. e. Karena hanya diwaris oleh seorang saja (sistem kewarisan

mayorat), sehingga tidak perlu dibagi-bagi Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini di beberapa lingkungan hukum adat disebabkan karena sifatnya memang tidak memberi kemungkina untuk tidak memiliki barang itu bersama-sama, dengan ahli waris lain-lainnya, sebab harta dimaksud merupakan kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi atau barang itu merupakan lambang persatuan serta kesatuan daripada keluarga yang bersangkutan Sebagai contoh daripada harta peninggalan semacam ini dapat disebut: a. b. Harta pusaka Tanah dati di semenanjung Hitu (Ambon).

Tiap anak yang lahir dalam keluarga itu turut serta menjadi pemilik, sedangkan tiap-tiap suami atau istri yang meninggal dunia selalu

53

membiarkan saja barang-barang itu dalam keadaan yang semula. Harta pusaka karena sifatnya tidak mungkin dibagi-bagi menimbulkan adanya sistem kewarisan kolektif

Harta pusaka di Minangkabau Sifat kekeluargaan di Minangkabau yang matriarchaal ini

memperlihatkan adanya barang-barang keluarga seprti tanah pertanian, pekarangan dengan rumah dan ternak, perkebunan, keris, dan lain sebagainya, yang merupakan harta pusaka milik suatu keluarga. Barang-barang demikian ini hanya dapat dipakai saja genggam bauntuiq oleh segenap warga keluarga yang bersangkutan, tetapi tidak boleh dimiliki oleh mereka itu masing-masing. Oleh para anggota keluarga tersebut hanya memiliki hak pakai saja, maka meninggalnya seorang anggota tidak mempunyai akibat sedikitpun terhadap hubungan hukum antara para anggota keluarga dimaksud yang masih hidup dengan harta pusaka yang bersangkutan. Tetapi wafatnya seorang anggota malahan menambah harta pusaka yang bersangkutan dengan barang-barang yang diperoleh orang yang wafat itu (harta pencaharian) setelah dikurangi dengan pembayaran hutang-hutang si wafat tersebut. Misalnya di daerah Minangkabau ini ada seorang isteri yang mempunyai milik perorangan sebidang sawah meninggal dunia, maka sawah ini memjadi harta pusaka dari anak-anak kandungnya; harta pusaka ini dinamakan harta pusaka dalam generasi pertama juga disebut harta saka atau harta pusaka rendah. Tetapi barang-barang pencarian seorang suami, yang di daerah Minang ini tidak menjadi anggota keluarga isterinya, apabila ia wafat masuk menjadi menjadi harta pusaka keluarga si suami itu sendiri, jadi tegasnya menjadi harta pusaka saudara-saudaranya sekandung beserta anak-anak keturunan dari saudara-saudara perempuan, serta merupakan harta pusaka rendah mereka. Disamping harta pusaka rendah ini dikenal juga adanya harta pusaka tinggi, yaitu harta-harta yang telah turun temurun dalam beberapa

54

keturunan (generasi), semula milik nenek-nenek yang turut serta membangun nagari yang bersangkutan. Harta pusaka yang tinggi ini tetap menjadi milik kerabat serta dikuasai ole pengulu andiko atau mamak kepada ahli waris. Dengan demikian, maka harta pusaka itu mempunyai tingkatan yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan keluarga, artinya sebagai berikut: a. Harta pusaka tinggi dikuasai oleh keluarga yang lebih besar atau kerabat (Ter Haar menyebutnya familie) yang dipimpin oleh seorang pengulu andiko b. harta pusaka rendah dikuasai oleh keluarga yang lebih kecil, yang terdiri atas isteri dan anak-anaknya, atau suami dengan saudarasaudaranya sekandung beserta keturunan saudaranya perempuan yang sekandung. Ada kalanya suatu kerabat menjadi terlau besar jumlah anggotanya. Dalam hal ini ada kemungkinan kerabat itu dipecah menjadi dua dan dengan ini harta pusaka yang dimiliki kerabat itu dipecah juga menjadi dua; peristiwa demikian ini disebut gadang manyimpan. Sebaliknya dapat juga terjadi, yaitu suatu kerabat menjadi habis, punah atau guntung (Minang) karena tidak terdapat lagi orang-orang keturunannya. Dalam hal ini harta pusaka jatuh ke tangan famili yang terdekat, artinya mempunyai hubungan kekeluargaan yang terdekat dengan famili yang punah itu; kalau famili yang terdekat itu juga tidak ada, maka harta pusaka menjadi milik persekutuan hukum yang bersangkutan. Tetapi juga di daerah Minangkabau ini nampak dengan jelas adanya suatu perubahan dalam perkembangan sosialnya yang menunjukkan gejala umum yang memperlihatkan hubungan kekeluargaan somah (suami isteri dan anak-anak makin lama makin mendapatkan tempat yang lebih penting sehingga kekuasaan serta pengaruh kerabat dengan sendirinya makin hari makin menjadi kurang. Sudah barang tentu pergeseran tersebut diatas membawa akibat dan pengaruh yang penting sekali dalam kedudukan harta pencarian di daerah Minangkabau, khususnya harta pencarian suami. Harta pencarian suami yang semula

55

menurut hukum adat tidak diwaris oelh anak-anaknya tetapi oleh saudara-daudara sekandungnya sebagai harta pusaka, maka dengan pergeseran tersebut diatas menjadi milik somah dan kemudian akan diwaris oleh anak-anaknya sendiri.26 Pada umumnya pergeseran dimaksud membawa perubahan yang prinsipal dalam hukum adat waris di daerah ini. Semula dapat dikatakan, bahwa di daerah Minangkabau ini tidak ada hukum waris antara orangorang perorangan, antara individu dengan individu; yang ada ialah hukum waris antara beberapa keluarga. Tetapi sekarang setelah ada pergeseran dimaksud nampak timbulnya hukum waris perseorangan terhadap harta pencaharian.27 Tanah-dati di semenanjung Hitu (Ambon) Sifat kekeluaargaan di daerah ini adalah patriarchaal. Tanahtanah yang didapat seorang secara membeli atau membuka hutan, lama-lama menjadi miliknya keluarga dan kemudian menjadi miliknya famili keturunan pemilik semula. Jadi sepeninggalnya pemilik semula tanah-tanah dengan tanamannya tetap tinggal tidak dibagi-bagi.28 Seperti halnya tanah pusaka di Minangkabau, maka tanah dati ini, apabila dati (kerabat) yang menguasai tanah itu lenyap (habis karena tiada keturunannya lagi), maka tanah itu jattuh ke tangan dati yang mempunyai hubungan kekeluargaan yang terdekat.29 Van Vollenhoven meragu-ragukan, apakah tanah dati ini merupakan tanah milik kerabat, ataukah hanya pembagiannya diantara para ahli waris saja yang ditangguhkan agak lama. Kalau hanya terjadi pertangguhan saja dari pembagian tanah itu, maka sekiranya akan

26 27 28

adatrechtbundel XI hal 147 Van vollenhoven dalam het adatrecht van Ned. Indie jilid I hal 263

Mr. F.D. Holleman : Adat Grondenrecht Ambon van Ned. Indie jilid I hal 263. Ter Haar: beginselen........dan seterusnya halaman 199.

29

56

mudahlah timbulnya di Ambon pula hukum waris perorangan terhadap tanah.30 Selain dua contoh tersebut diatas, dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya memang lazim adanya harta peninggalan yang tetap tinggal tidak dibagi-bagi. Seperti di Minahasa, barang kelakeran adalah juga milik famili yang juga tidak boleh dibagi-bagi, keciali jikalau semua anggota famili yang berhak menghendaki serta menyetujui barang itu dibagi-bagi. Di Minahasa terdapat juga suatu bidang tanah yang selalu dipertahankan menjadi milik bersama famili, yaitu yang disebut tanah wawakes un teranak. Tanah demikian ini menjadi fungsi sebagai tanda pengikat yang riil terhadap tali kekeluargaan famili. Di samping itu tanah demikian ini lazimnya merupakan sejengkal tanah yang kurang artinya apabila akan dibagi-bagi merata diantara para ahli waris. Penggunaan serta penguasaan tanah yang demikian ini kadangkadang dilakukan secara bergilir diantara para ahli waris, kadangkadang dipercayakan kepada salah seorang ahli waris. Hasilnya, apabila tidak ada ketentuan yang ditetapkan bersama olh para ahli waris, di pungut serta dipakai oelh waris yang memelihara tanah tersebut; ahli waris ahli waris lainnya tidak berhak menuntut atas bagiannya terhadap hasil tanah dimaksud. Ad.b dan ad.c ini akan dibicarakan dalam masalah harta kekayaan keluarga yang merupakan harta peninggalan. Perikasa no. 7 di bawah ini. Ad.d. karena pembagiannya memang sengaja untuk sementara ditunda. Ada pula harta peninggalan yang tidak dibagi-bagi bukan karena harta itu tidak dapat dibagi-bagi, melainkan karena pembagiannya memang untuk sementara ditangguhkan. Hal yang demikian ini dapat dijumpai di daerah-daerah yang memiliki sifat kekeluargaan parental, seperti misalnya di Jawa.

30

Van Vollenhoven: het adatrecht jilid I hal 413

57

Pertangguhan

pembagian

harta

peninggalan

disini

pada

pokoknya berdasar atas kebutuhan menegakkan langsung hidupnya atau somah yang terdiri atas suami-isteri dan anak-anak. Kalau suami atau isteri meninggal dunia, maka dirasakan keinginan agar keluarga sesomah ini dapat tetap hidup terus dari harta kekayaan yang ada seperti halnya sebelum peristiwa kematian itu terjadi. Jadi harta peninggalan tersebut menjadi dasar materiil bagi kehidupan janda beserta anak-anaknya yang belum mentas, belum dewasa, belum cukup umur. Selama dan sekedar harta tersebut masih diperlukan guna kehidupan janda beserta anak-anaknya yang belum dewasa yang masih tetap tinggal serumah dengannya, maka selama itu pula pertangguhan pembagian harta peninggalan dibenarkan dan tiap penuntutan untuk membagi-bagi harta tersebut aan ditolak.31 Ini menimbulkan sistem kewarisan mayorat, seperti yang dijumpai di Bali, yaitu semua harta peninggalan jatuh kepada anak lakilaki yang tertua dengan ketentuan, bahwa ia sebagai ganti bapaknya, wajib memelihara saudara-saudaranya hingga ia mentas. Hal semacam di dapat pula di Lampung dan anak laki-laki tersebut di daerah tersebut disebut penyimbang. Kalau di daerah Sumatera selatan sistem kewarisan mayrat juga, yang menerima sejumlah bagian pokok dari harta peninggalan yang mencakup semua jenis barang yang ada pada harta peninggalan, adalah anak perempuan yang tertua yang di daerah ini disebut tunggu tubang. Hanya disini seorang tungu tubang itu menguasai harta peninggalan tadi di bawah pengawasan anak laki-laki yang tertua yang di daerah ini disebut payung jurai Fungsi dari harta peninggalan yang tidak dibagi-bagi ini adalah semacam tempat perlindungan bagi semua anak. Sama dengan kedudukan tunggu tubang di Sumatera selatan ini adalah anak pangkalan pada suku Landa Dayak dan suku Tayan Dayak di Kalimantan.

31

Ter Haar: beginselen........dan seterusnya halaman 202

58

HARTA KEKAYAAN KELUARGA YANG MERUPAKAN HARTA PENINGGALAN Harta peninggalan keluarga tidak merupakan suatu kumpulan ataupu kesatuan harta benda yang semacam dan seasal. Oleh karena itu maka pelaksanaan pembagiannya kepada para ahli waris yang berkepentingan tidak dapat begitu saja dilakukan melainkan wajib diperhatikan sepenuhnya sifat (macam), asal dan kedudukan hukum daripada barang-barang itu masing-masing. Dan sekarang tergantung daripada sifat (macam), asak dan kedudukan hukum dari barang-barang yang ditinggalkan itu, apakah atau bagaimanakah kekuasaan atas barang-barang itu akan beralih kepada para ahli waris atau beberapa orang dari mereka. Disamping perbedaan sifat tersebut diatas, menurut kedudukan hukumnya d dalam harta peninggalan itu terdapat barang-barang yang masih terikat oleh kerabat atau famili (barang asal); ada barang yang termasuk barang pusaka yang keramat; ada barang somah atau keluarga; barang-barang yang belum beres dari hak pertuanan ataupun hak ulayat desa. Barang-barang tersebut dikuasai oleh peraturan-peraturan tersendiri yang mengatur cara pengoperannya. Peraturan tersendiri yang tentang mengatur pengoperan itu, tidak hanya berhubungan dengan kedudukan hukum daripada barang-barang itu saja, melainkan juga oleh karena perbedaan wujudnya feitelijke gesteldheid. Perlu kiranya diperhatikan juga, bahwasanya harta peninggalan itu tidak selamanya terdiri atas bagian-bagian yang menguntungkan para ahli waris saja, tetapi kadang-kadang terdapat pula bagian-bagian yang merupakan beban kepada ahli waris, yaitu hutang-piutang dari yang meninggal dunia yang masih belum dilunasi. Barang-barang keramat atau barang-barang famili Barang-barang ini biasanya dibawa ke dalam harta kekayaan keluarga oleh isteri atau suami sebagai barang asal yang diperolehnya

59

secara warisan dari orang tuanya dan orang tuanya ini memperoleh barang-barang itu dulu juga secara warisan dan begitu seterusnya; pokoknya barang-barang itu sudah turun-temurun menjadi barang warisan. Apabila peninggal warisan tidak mempunyai anak, maka barangbarang famili demikian, kembali lagi kepada famili yang bersangkutan, artinya barang asal dari famili suami kembali kepada famili suami dan barang asal dari famili isteri kembali kepada famili isteri. Adapun maksud dari ketentuan ini adalah agar supaya barangbarang itu tetap menjadi harta milik famili yang bersangkutan dan tidak hilang, artinya berpindh menjadi milik famili lain. Kalau ada anak, maka barang-barang dimaksud akan diwarisi oleh anak-anak tersebut.

Barang-barang pusaka yang keramat Barang-barang pusaka yang keramat seperti keris, tumbak, rencong dan lain sebagainya yang dapat dianggap membawa kebahagiaan kepada keluarga, tidak boleh disamakan dengan barangbarang biasa rumah tangga lain-lainnya. Barang-barang keramat ini kadang-kadang terikat kepada kualitas yang memegangnya, misalnya barang-barang keramat dari keraton kasepuhan di Cirebon akan tetap selalu diwaris oleh yang akan mengganti jadi sultan sepuh. Demikian juga halnya dengan nama, misalnya nama-nama Hamengkubuwono, Paku Alam, Pakubuwono dan Mangkunegoro, tetap selalu akan diwaris oleh yang kemudian akan dinobatkan dalam kedudukan tersebut. Barang-barang somah atau barang-barang keluarga Hubungan kekeluargaan di dalam somah (suami-isteri dan anakanak) menyebabkan adanya perbedaan hak mewaris terhadap barang

60

barang somah bagi anak-anak dari perkawinan pertama, bagi anak-anak dari perkawinan kedua,ketiga, dan seterusnya. Anak-anak dari perkawinan pertama berhak mewariskan barangbarang yang diperoleh dalam masa perkawinan pertama, sedangkan anak-anak dari perkawinan kedua tidak mempunyai hak itu. Ketentuan inilah yang menyebabkan orang-orang dari Sulawesi selatan (Muna) berkata barang-barang somah yang satu tidak boleh berpindah ke somah yang lain. Di Jawa kesulitan-kesulitan yang timbul karena seseorang yang kawin beberapa kali, lazimnya diatasi dengan jalan menghibahkan barang-barang yang bersangkutan semasa hidupnya. Apabila anak-anak dari perkawinan pertama sudah kawin dan mencar, artinya sudah meninggalkan rumah orang tua dan berdiri sendiri, sehingga tidak lagi merupakan warga somah yang kemudian tersusun, karena perkawinan kedua, maka mereka tidak berhak lagi untuk mendapat bagian dari barang-barang yang diperoleh semasa perkawinan yang kedua asalkan mereka telah menerima bagiannya menurut haknya atas barang-barang keluarga yang diperoleh semasa perkawinan yang pertama. Tetapi mereka masih berhak atas barang asal bapaknya. Barang-barang yang belum bebas dari hak pertuanan, hak ulayat desa Seperti sawah kasikepan di tidak boleh jatuh kepada orang yang: a. b. c. Bukan warga desa yang bersangkutan Tidak bertempat tinggal di desa di dalam daerah mana sawah Telah memiliki sawah kasikepan yang lain Peninggal sawah kasikepan ini hanya diperbolehkan yang tidak bebas dari hak

pertuanan itu, apabila pemegangnya meninggal dunia, maka sawah itu

kasikepan dimaksud terletak

mengoperkan sawah itu kepada anak yang tetap tinggal di desanya dengan persetujuan rapat desa.

61

Barang-barang dengan wujud tertentu Pengaturan sendiri yang mengatur tentang pengoperan barang dengan wujud tertentu ini feitelijke bepalde goederen bukan peraturan yang melarang atau mewajibkan, melainkan merupakan suatu ajuran yang seberapa boleh supaya diturut. Di Aceh misalnya, pekarangan yang menjadi tempat kediaman orang tua, pada waktu mereka meninggal dunia, seberapa boleh bikworkeur beralih kepada anak perempuan yang tertua, sedangkan di Tapanuli pada suku Batak, seberapa boleh justru kepada anak laki-laki yang tertua atau yang termuda. Hutang-hutang Terhadap peninggalan yang merupakan beban ini terdapat kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut: Di daerah-daerah Tapanuli (suku Batak), Kalimantan (Suku

Dayak), dan di pulau Bali misalnya, para ahli waris wajib membayar utang pewaris, asal saja penagih hutang memberitahukan haknya kepada para ahli waris tersebut dalam waktu 40 hari sesudah pewaris meninggal atau pada waktu nyekah (di Bali), yaitu selamatan bagi si mati. Di daerah Gianyar di Pulau Bali rupa-rupanya hutang-hutnag sepeninggal warisan hanya beralih dar orang tua kepada anak-anaknya dan dari suami kepada isteri atau sebaliknnya dan tidak kepada lain-lain warga keluarganya.32 Di jawa, orang menganggap bahwa hanya hrta peninggalan pewaris dapat dipergunakan untuk membayar utangnya, sehingga harta itu tidak boleh dibagi-bagi dulu, sebelum hutang pewaris di bayar dari harta tersebut. Menurut adat apa yang pada hakikatnya beralih tangan yang meninggla kepada para ahli warisnya itu ialah barang-barang
32

Dr VE Korn: het adatrecht van Bali halaman 519

62

tingglan atau keadaan bersih, artinya setelah dikurangi dengan pembayaran hutang-hutang dan pembayaran-pembayaran lain (misalnya biaya kubur). Dalam hukum adat pembagian warisan tidak selalu ditangguhkan sampai semua hutang pewaris dibayar. Setelah para ahli waris menerima bagiannya, mereka dapat ditegur oleh para kreditur untuk membayar utang si peninggal warisan. Dan dikebanyakan daerah di Indonesia terutama di Jawa, utang-utang ini harus dibayar oleh para ahli waris sekedar mereka itu menerima bagian harta peninggalan serta kewajiban mereka membayar itu adalah sepadan dengan jumlah yang diterima oleh mereka masing-masing.33 Jikalau harta peninggalan itu tidak mencukupi maka para ahli waris tidak dapat dituntut untuk membayar kekurangannya.34 Putusan Lanraad Purwerejo tgl 23 Maret 1938 di T. 148 halaman 320 berbunyi, bahwa ahli waris bertanggung jawab atas hutang pewaris, sekedar harta warisannya mencukupi. Menurut Djojodigueno-Tirtawinata khususnya di Jawa Tengah seringkali para ahli waris membayar juga kekurangannya dengan maksud agar supaya tidak memberatkan si mati di dunia akhirat.35 Biaya mengubur mayat (khusus untuk Bali = biaya membakar mayat) Biaya untuk menyelenggarakan upacara mayat serta

menguburnya (membakarnya, mengabeni mayat di Bali) memang bukan termasuk bagian daripada harta peninggalan. Malahan harta yang masuk menjadi harta peninggalan harus dipakai terutama sekali untuk

33 34 35

Ter Haar : beginselen en stelsel........dan seterusnya hal 217 prof. Soepomo bab-bab tentang hukum adat hal 88

Djojodigueno Tirtawinata adatprivatrecht van Middle Java hal 401

63

membiayai penyelenggaraan upacara mayat beserta penguburan atau pembakarannya.36 Kewajiban untuk menyelenggarakan upacara mayat serta menguburnya itu adalah demikian pentingnya, sehingga seorang waris dengan tanpa sepengetahuan waris-waris yang lain, boleh menjual sesuatu bagian dari harta peninggalan untuk membiayai penguburan si mati.37 Dengan sendirinya pengeluaran itu harus diselenggarakan dalam batasbatas yang patut. Pembayaran hutang untuk keperluan ongkos mayat harus didahulukan, jika ditagih oleh kreditur. Sebelum harta peninggalan itu dibagi-bagi, maka biaya mayat wajib dibayar lebih dahulu. Kewajiban mengubur adalah demikian pentingnya sehingga, jika seorang yang bukan waris yang mengerjakannya, maka ia berhak untuk mengambil sebagian dari harta peninggalan si mati sebagai ganti biaya yang dikeluarkannya.38 Harta peninggalan seoran g yang tidak mempunya ahli waris dapat diberikan kepada orang yang menyelenggarakan penguburannya.39 Selamatan-selamatan untuk arwah yang meninggal pada umumnya diselenggarakan oleh para ahli waris atas biaya sendiri yang tidak diperhitungkan pada waktu pembagian harta peninggalan di kemudian hari. Selamatan-selamatan yang demikian ini diadakan pada hari meninggalnya pewaris surtanah dan seterusnya pada hari ke-3, ke-7, ke-40, dan ke-100 sesudah meninggalnya si pewaris. Malahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga satu tahun, dua tahun dan seribu hari sesudah pewaris meninggal dunia. Selamatan-selamatan ini disebut wilujengan.

36 37

prof Soepomo adatprivatrecht van west java hal 101 putusan Lanraad purweredjo tanggal 5 April 1935 Indisch tidhrift van het recht 146 hal. putusan Lanraad purweredjo tanggal 14 Juni 1937 T 146 hal 151

151
38 39

Djojodigueno Tirtawinata adatprivatrecht van Middle Java hal 397-398

64

Hutang guna membiayai selamatan tersebut tidak bersifat hutang yang harus dibayar lebih dahulu.40 Ongkos-ongkos guna menyelenggarakan selamatan-selamatan ini tidak termasuk biaya upacara mayat dan biaya penguburannya. Penyelenggaraan selametan-selametan ini terserah kepada para ahli waris sendiri, apakah akan diadakan secara besar atau lengkap rowa atau secara seperlunya ringkes, sehingga dapat menekan ongkosongkos kenduren.41 Setelah semua hutang-hutang pewaris dilunasi dari harta peninggalan, maka jika masih ada sisanya, biaya selamatan tersebut dapat pula diambilkan dari sisa harta peninggalan itu. 2.7 PEWARISAN DAN HIBAH WASIAT Mewariskan semasa hidup, yang berakibat pengalihan dengan seketika barang-barang dari harta benda orang tua kepada waris (dalam bahasa Jaw, disebut : marisake, di Sulawesi Tengah disebut: papassang), adalah berlainan daripada wekasan, welingan atau hibat wasiyat, yaitu pengalihan yang baru akan berlaku setelah orang tua meninggal dunia. Maksud hibat wasiat, ialah terutama untuk mewajibkan para waris untuk membagi-bagi harta warisan dengan cara yang layak menurut anggapan pewaris. Maksud kedua, ialah untuk mencegah perselisihan. Selain daripada itu, dengan hibat wasiat itu pewaris menyatakan secara mengikat (binded) sifat-sifat barang harta yang ditinggalkan, seperti: barang pusaka, barang yang dipegang dengan hak sende (gadai), barang yang disewa dan sebagainya pengeluarannya sampai sekecil-kecilnya. Apabila diselenggarakan secara seperlunya, maka lazimnya upacara itu disebut

40

prof. Soepomo bab-bab tentang hukum adat hal 88 Djojodigueno Tirtawinata adatprivatrecht van Middle Java hal 399

41

65

Kadang-kadang hibat wasiat itu ditulis oleh notaris dan disebut testamen. Meskipun hibat wasiat itu berbentuk akta notaris, sah atau tidaknya isi hibat wasiat itu dikuasai oleh hukum adat material. Misalnya tidak akan sah suatu pemberian sebuah sawah kasikepan kepada seorang waris yang bukan teman sedesa. Dengan jalan pewarisan atau hibat wasiat, pewaris dapat menentukan bagaimana harta bendanya kelak akan dibagi-bagi diantara anak-anaknya. Pewarisan atau hibat wasiat dapat mengenai hanya sebagian atau beberapa bagian yang tertentu dari harta peninggalan, misalnya mengenai sawah ini dan sawah itu, dapat hanya untuk salah satu atau beberapa anak atau untuk istri. Pewarisan atau hibat yang hanya mengenai satu atau beberapa barang dari harta benda dan yang hanya untuk satu atau beberapa anak atau untuk istri, berarti bahwa bagaimanapun caranya harta peninggalan kelak akan dibagi-bagi, barang barang yang telah diwariskan atau diwasiatkan itu akan tetap tinggal di tangan anak atau istri yang menerimanya.42 Mungkin juga pewarisan atau hibat wasiat mengenai seluruh harta benda orang tua. Hal itu berarti pembagian harta benda seluruhnya oleh peninggal harta sendiri. Hal tersebut seringkali diperbuat oleh seorang yang akan pergi naik haji. Pewarisan dan hibat wasiat mempunyai dua corak: a. Mereka yang menerima barang-barang harta itu adalah ahli waris, yaitu istri dan anak-anak. Oleh sebab itu pewarisan atau hibat wasiat hanya merupakan perpindahan (verschuiving) harta benda di dalam lingkungan ahli waris.43

42 43

Soepomo, Jawa Barat, hlm 117

Teer Haar, Beginselen enz, hlm. 204 66

b. Orang tua yang mewariskan itu, meskipun terikat oleh peraturan, bahwa semua anak harus mendapat bagian yang layak, sehingga tidak diperbolehkan melenyapkan hak waris seorang anak, adalah bebas di dalam menetapkan barang-barang manakah yang akan diterimakan kepada anak A dan barang-barang mana kepada anak B, atau kepada istri. Lagi pula pewarisan atau hibat wasiat mempunyai fungsi lain, yaitu: c. Mengadakan koreksi, dimana perlu, terhadap hukum waris

abintestato menurut peraturan-peraturan trdisional atau agama, yang dianggap tidak memuaskan lagi oleh pewaris.44 Di tanah batak misalnya, peraturan adat yang hanya memberikan hak waris kepada anak-anak lelaki, dapat di koreksi dengan adanya kebiasaan, bahwa seorang bapak mewariskan sawah atau kerbau kepada anak perempuan yang kawin (saba bangunan, pauseang, indahan arian). Di minangkabau, peraturan adat yang berbunyi, bahwa harta peninggalan seseorang akan diwarisi oleh keturunan dari pihak ibunya di dalam praktek di koreksi dengan adanya kebiasaan, bahwa seorang bapak mewariskan sebagian atau seluruh harta pencariannya kepada anak-anaknya. Di jawa terdapat kebiasaan, bahwa orang tua mewariskan sebagian dari harta bendanya kepada anak angkat, sehingga anak angkat itu terjamin bagiannya, jika di kemudian hari harta peninggalan itu dibagi-bagi menurut hukum islam.3)

2.8 Proses Pembagian Warisan

A. Pendahuluan Proses pembagian warisan di Indonesia tentu berbeda beda di setiap daerahnya, hal ini menyangkut adanya perbedaan diantara warga
44

Ibid hlm 205

67

nya baik itu di dalam hal budaya, suku, dan ras nya. Ini lah yang menyebabkan semua proses pembagian warisan di indonesia pun ikut berbeda dengan yang lainnya. Di sini kita akan membahas segala bentuk proses pembagian warisan di indonesia yang seperti dikatakan tadi sangat berbeda beda di setiap daerahnya. Warisan di beberapa daerah di Indonesia juga masih terpengaruh oleh proses pewarisan yang dilakukan oleh hukum islam, dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia yang memeluk agama islam. Tapi tentu saja masih ada yang mempertahankan adatnya dalam hal apa pun termasuk itu dalam hal pembagian warisannya. Oleh karena itu mari kita perhatikan secara seksama hal ini.

B. Pembagian Warisan Menurut Islam Hukum45 waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, dalam bahkan merombak ketika sistem itu, pemilikan tidak masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, masyarakat Arab wanita diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya.

Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam bukunya yang berjudul Pembagian Waris Menurut Islam diterjemahkan oleh A.M.Basamalah.
45

68

Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid. Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat Ayat Tentang Pewarisan Berikut ini merupakan ayat ayat atau firman allah yang menjelaskan tentang pembagian warisan dalam islam : ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang

69

ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (an-Nisa': 12) Dua firman Ini menjadi Penjelasan dalam proses pewarisan yang menjadi patokkan atau dapat diikuti oleh para kaum muslim di seluruh dunia baik yang berada di Indonesia juga. Waris Menurut Pandangan Islam Syariat46 Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau kecil. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris, apakah dia sebagai anak, ayah, istri, suami,
Muhammad Ali Ash-Shabuni Dalam Bukunya Proses Pembagian Warisan dalam Islam
46

70

kakek, ibu, paman, cucu, atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci, kecuali hukum waris ini. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. Bentuk Bentuk Waris di Dalam Islam 1. Hak waris secara faradh (yang telah ditentukan bagiannya). 2. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). 3. Hak waris secara tambahan. 4. Hak waris secara pertalian rahim.

Sebab - sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab), seperti kedua orang tua, anak, saudara, paman, dan seterusnya. 2. Pernikahan, yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Adapun pernikahan yang batil atau rusak, tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. 3. Al-Wala, yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan 71

berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan, bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki, baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Rukun Waris: Rukun waris ada tiga: 1) Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. 2) Ahli waris, yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya. 3) Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah, dan sebagainya. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: a) Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). b) Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. c) Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah bagian masing-masing.

Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris

72

Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-- -ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka, atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Sebagai contoh, orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti, sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Hal ini harus diketahui secara pasti, karena bagaimanapun

keadaannya, manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, kecuali setelah ia meninggal. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya, pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Sebagai contoh, jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-- maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan, tertimpa puing, atau tenggelam. Para fuqaha menyatakan, mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi.

Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris

73

Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti, misalnya suami, istri, kerabat, dan sebagainya, sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Sebab, dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung, saudara seayah, atau saudara seibu. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian, ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh, ada yang karena 'ashabah, ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub), serta ada yang tidak terhalang

C. Proses Pembagian Warisan Adat Pembagian dalam Hukum Waris Adat pada sistem Patrilineal yang mencari nafkah adalah istri sendiri, sementara yang berhak atas harta itu adalah suami. Dimanakah letak keadilannya? Padahal tujuan hukum adalah untuk menciptakan keadilan. Sistem patrilineal merupakan sistem keturunan yang ditarik dari garis bapak, dimana kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan wanita didalam pewarisan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak adil untuk pembagian harta pencaharian hasil istri sendiri, karna pada dasarnya bagi masyarakat adat yang menganut sistem patrilineal ini hal tersebut sudah dikatakan adil. Disini hukum tidak mempersulit masyarakatnya, apabila dengan hukum adat ada keluarga yang merasa tidak adil tentunya dapat dimusyawarahkan dengan anggota keluarga yang lain karna bisa digunakan juga hukum waris barat atau dengan hukum waris Islam untuk masyarakat yang beragama Islam. Janda bukan merupakan ahli waris dalam hukum adat

74

Pada umumnya di Indonesia apabila pewaris wafat meninggalkan istri dan anak-anak, maka harta warisan, terutama harta bersama suami istri yang didapat sebagai harta pencaharian selama perkawinan dapat dikuasai oleh janda almarhum pewaris untuk kepentingan berkelanjutan hidup anak-anak dan janda yang ditinggalkan. Pada intinya dimasyarakat patrilineal, matrilineal, maupun parental ini hampir sama, yaitu janda bisa menjadi penguasa harta warisan suaminya yang telah wafat. Disini janda memang bukan merupakan ahli waris, karna sudah ada pembagian yang sudah diatur dalam sistem tersebut. Janda hanya memiliki hak untuk menguasai dan menikmati harta warisan selama hidupnya. Akan tetapi, apabila janda tersebut sudah tua dan anak-anaknya sudah dewasa dan sudah berumah tangga, maka harta tersebut akan dialihkan kepada anak-anaknya. Dalam hukum waris adat tidak mengenal asaz Legitieme Portie, lalu bagaimana pembagiannya? Pembagian hukum waris adat dengan hukum waris barat berbeda. Disini hukum waris barart mengenal adanya azas Legitieme Portie, yaitu bagian minimum dari warisan yang dijamin oleh undang-undang sebagai ahli waris tertentu.

Sedangkan untuk pembagian dalam hukum waris adat tidak mengenal azas Legitieme Portie. Pembagiannya sebagai berikut:

1) Sistem Patrilineal Istri sebagai pewaris: tidak ada ahli waris Suami sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki, tetapi pada daerah tertentu yang ahli warisnya adalah anak tertua (Bali,

75

Lampung yang beradat kepadaan, Jayapura). 2) Sistem Matrilineal

Teluk Yosudarso, dan

Istri sebagai pewaris: ahli warisnya anak perempuan Suami sebagai pewaris: ahli warisnya saudara perempuan suami.

3) Sistem Parental atau Bilateral Istri sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki dan anak perempuan Suami sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki dan anak perempuan Pengkhususan

Untuk daerah Gresik, Madura, Tuban apabila yang menjadi pewaris istri atau suami, maka ahli warisnya anak laki-laki : anak perempuan= 2 : 1 Untuk daerah Sidoarjo dan Malang, ahli warisnya anak laki-laki : anak perempuan= 1 : 1 Untuk daerah Jawa apabila yang menjadi pewaris suami, maka yang menjadi ahli waris adalah anak laki-laki, dan apabila yang

76

menjadi ahli waris istri, maka yang menjadi ahli waris adalah anak perempuan.

Contoh konkrit tentang hak kebendaan Hak kebendaan merupakan harta warisan, apabila pewaris tidak meninggalkan harta warisan bewujud benda, tetapi kemungkinan harta warisan tidak berwujud benda. Disini biasanya berupa hak-hak kebendaan, seperti hak pakai, hak tagihan (hutang piutang) dan atau hak-hak lainnya. Sesuai dengan sistem yang ada, hak-hak kebendaan yang terbagi-bagi pewarisnya dan ada yang tidak terbagi-bagi. Hak pakai dimungkinkan terhadap harta warisan yang seharusnya dibagi-bagi kepada waris tetapi karna keadaannya tidak atau belum terbagi. Apabila terjadi perkawinan antara sistem keturunan yang satu dan yang lain dapat berlaku campuran atau berganti-ganti diantara sistem patrilineal dan matrilineal alternerend. Akan tetapi, sebenarnya hal tersebut dapat dilakukan secara musyawarah dalam keluarga karna pada dasarnya pembagian warisan tidak hanya dapat ditempuh dengan hukum waris adat

Proses pewarisan menurut hukum waris adat, dikala pewaris masih hidup dapat berjalan dengan cara penerusan atau pengalihan, penunjukan dan atau dengan cara berpesan, berwasiat, beramanat. Ketika pewaris telah wafat berlaku penguasaan yang dilakukan oleh anak tertentu, oleh anggota keluarga atau kepala kerabat, sedangkan cara pembagian dapat berlaku pembagian ditangguhkan. Hukum waris adat tidak mengenal cara pembagian dengan perhitungan matematika, tetapi didasarkan atas pertimbangan mengingat wujud benda dan kebutuhan waris bersangkutan. Agama Islam menggariskan maksud dan tujuan pewarisan tidak

77

saja untuk kepentingan kehidupan individual para ahli waris tetapi juga berfungsi sosial untuk memperhatikan kepentingan anggota kerabat, tetangga yang yatim dan miskin. Proses pewarisan dalam hukum Islam sudah ditentukan dalam Al-Quran dan juga telah dicantumkan dalam kompilasi hukum Islam. Jadi proses pewarisan dalam hukum islam dapat dilakuakn berdasarkan ketentuan AlQuran dan kompilasi hukum Islam atau dengan wasiat secara tertulis ataupun lisan. Dalam hukum waris barat/BW cara pewarisan berdasarkan ab intetato dan testament, cara mewaris dalam ab intestato bedasarkan undang-undang, yaitu mewaris karna haknya, kedudukannya sendiri dan karna penggantian tempat. Sedangkan pewaris yang berdasarkan testament, yaitu pewarisan berdasarkan suatu akta yang memuat pernyuataan seseorang tentang apa yang dikhendaki agar terjadi setelah ia meninggal dunia, dan olehnya dapat dicabut kembali. Jadi proses pewarisan dalam hukum waris barat atau BW dapat didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam BW atau dengan wasiat yang dituangkan dalam surat wasiat.

D. Pembagian Warisan Menurut Adat Batak Bangsa Indonesia memiliki keragaman suku dan budaya. Letak geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menyebabkan perbedaan kebudayaan yang mempengaruhi pola hidup dan tingkah laku masyarakat. Kita dapat melihat hal ini pada suku-suku yang terdapat di Indonesia. Salah satu contohnya adalah suku Batak. Suku batak terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu batak toba, batak simalungun, batak karo, batak pakpak dan batak mandailing. Dalam hal ini Saya mengambil pembahasan tentang batak toba.

78

Masyarakat Batak Toba yang berada di wilayah dataran tinggi Batak bagian Utara merupakan suatu suku yang terdapat di provinsi Sumatera Utara. Dalam masyarakat Batak Toba, dibagi lagi dalam suatu komunitas seperti sub suku menurut dari daerah dataran tinggi yang didiami. Seperti wilayah Silindung yang di dalamnya masuk daerah di lembah Silindung yaitu Tarutung, Sipahutar, Pangaribuan, Garoga dan Pahae. Daerah Humbang diantaranya Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Lintong Ni huta, Pakkat dan sekitarnya. Sementara Toba meliputi Balige, Porsea, Samosir, Parsoburan dan Huta Julu. Dari ketiga daerah Batak Toba tersebut, juga memiliki perbedaan dalam hal adat istiadat juga, diantaranya perbedaan dalam tata adat perkawinan, pemakaman juga dalam pembagian warisan. Dan dalam adat istiadat juga ada beberapa daerah yang sangat patuh terhadap dalam adat atau dengan kata lain adat istiadat nya sangat kuat, itu dikarenakan daerah dan keadaan daerah yang masih menjunjung tinggi sistem adatistiadat. Daerah yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat tersebut adalah masyarakat daerah Humbang dan daerah Toba. Masyarakat ini biasanya selalu mempertahankan kehidupan dari budaya dan adat istiadat mereka. Masyarakat Batak yang menganut sistim kekeluargaan yang Patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari ayah. Hal ini terlihat dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari marga ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa kedudukan kaum ayah atau laki-laki dalam masyarakat adat dapat dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita. Namun bukan berarti kedudukan wanita lebih rendah. Apalagi pengaruh perkembangan zaman yang menyetarakan kedudukan wanita dan pria terutama dalam hal pendidikan. Dalam pembagian warisan orang tua. Yang mendapatkan warisan adalah anak laki laki sedangkan anak perempuan mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah. Pembagian harta warisan untuk anak laki laki juga tidak sembarangan, karena pembagian warisan 79

tersebut ada kekhususan yaitu anak laki laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya disebut Siapudan. Dan dia mendapatkan warisan yang khusus. Dalam sistem kekerabatan Batak Parmalim, pembagian harta warisan tertuju pada pihak perempuan. Ini terjadi karena berkaitan dengan system kekerabatan keluarga juga berdasarkan ikatan emosional kekeluargaan. Dan bukan berdasarkan perhitungan matematis dan proporsional, tetapi biasanya dikarenakan orang tua bersifat adil kepada anak anak nya dalam pembagian harta warisan. Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah bercampur dengan budaya dari luar), hal itu juga dimungkinkan terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada anak perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku, doktrin agama dianut dalam keluarga serta kepentingan keluarga. Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan hukum perdata dalam hal pembagian warisannya. Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan hak anak kandung. Karena sebelum seorang anak diadopsi atau diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan bahwa orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari orang yang mengangkatnya. Tetapi memang ada beberapa jenis harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat yaitu Pusaka turun temurun keluarga. Karena yang berhak memperoleh pusaka turuntemurun keluarga adalah keturunan asli dari orang yang mewariskan. Dalam Ruhut-ruhut ni adat Batak (Peraturan Adat batak) jelas di sana diberikan pembagian warisan bagi perempuan yaitu, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno, peraturan adat istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan dalam pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun. Dan yang paling banyak dalam mendapat warisan adalah anak Bungsu atau disebut Siapudan. Yaitu 80

berupa Tanak Pusaka, Rumah Induk atau Rumah peninggalan Orang tua dan harta yang lain nya dibagi rata oleh semua anak laki laki nya. Anak siapudan juga tidak boleh untuk pergi meninggalkan kampong halaman nya, karena anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya, misalnya jika ayahnya Raja Huta atau Kepala Kampung, maka itu Turun kepada Anak Bungsunya (Siapudan) Jika kasusnya orang yang tidak memiliki anak laki-laki maka hartanya jatuh ke tangan saudara ayahnya. Sementara anak perempuannya tidak mendapatkan apapun dari harta orang tuanya. Dalam hukum adatnya mengatur bahwa saudara ayah yang memperoleh warisan tersebut harus menafkahi segala kebutuhan anak perempuan dari si pewaris sampai mereka berkeluarga. Dan akibat dari perubahan zaman, peraturan adat tersebut tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat batak. Khususnya yang sudah merantau dan berpendidikan. Selain pengaruh dari hukum perdata nasional yang dianggap lebih adil bagi semua anak, juga dengan adanya persamaan gender dan persamaan hak antara laki laki dan perempuan maka pembagian warisan dalam masyarakat adat Batak Toba saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang ingin memberikan warisan. Jadi hanya tinggal orang-orang yang masih tinggal di kampung atau daerah lah yang masih menggunakan waris adat seperti di atas. Beberapa hal positif yang dapat disimpulkan dari hukum waris adat dalam suku Batak Toba yaitu laki-laki bertanggung jawab melindungi keluarganya, hubungan kekerabatan dalam suku batak tidak akan pernah putus karena adanya marga dan warisan yang menggambarkan keturunan keluarga tersebut. Dimana pun orang batak berada adat istiadat (partuturan) tidak akan pernah hilang. Bagi orang tua dalam suku batak anak sangatlah penting untuk diperjuangkan terutama dalam hal Pendidikan. Karena Ilmu pengetahuan adalah harta warisan yang tidak bisa di hilangkan atau ditiadakan. Dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan maka seseorang akan mendapat harta yang melimpah dan mendapat kedudukan yang lebih baik dikehidupan nya nanti.

81

E. Adat Istiadat Ranah Minang Dalam adat istiadat dan khazanah Ranahminang yang memiliki filosofi Adat basandi Syarat dan Syarak basandi Kitabullah hasil dari konsensus di Puncak Pato di Daerah Lintau antra kaum adat dan agama. Menyatakan secara jelas dan gamblang bahwa Adat minangkabau yang melanggar aturan harus tunduk dan patuh. Maka pada saat itu dimulailah proses penghilangan adat istiadat yang bertentangan dengan sengenap Ajaran Islam secara doktrin, ajaran dan bukan budaya hidup orang Arab. Dalam adat istiadat Ranahminang dibagi dua jenis Pusaka atau harta kaum (suku) ranah minang. Pertama Pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah harta yang pengelolaannya diwariskan secara turun temurun kepada wanita atau bundo kanduang. Sedangkan harta pusaka rendah, diwariskan sebagai hak suku yang pengelolaannya oleh warga suku sepengetahuan datuak atau niniak mamak. Jika ada kelasahan mohon diluruskan. Pusaka tinggi dalam adat minangkabau berupa, ada mata air, kolam, sawah, parak (kebun) dan juga pandam pekuburan dan juga sebuah rumah gadang. Perolehan harta ini berawal dari pembukaan lahan oleh suatu suku di sebuah perkampungan baru untuk di didiami anak keturunan. Sedangkan harta pusaka rendah adalah tanah suku yang merupakan tempat berladang bagi anggota kaum yang memiliki batasbatas tertentu. Ketentuan pembagian harta pusaka tinggi dan pusaka rendah tidak boleh dilakukan jual beli, namun boleh digadaikan dengan alasan, Pertama. Seorang gadis yang tidak laku (atau telah perawan tua) dan belum memiliki suami, maka sebagian dari harta pusaka boleh di gadaikan untuk keperluan menikahkan sang gadis. Kedua. Ketika mait (orang meninggal) terletak dirumah dan tidak ada biaya untuk menyelenggarakannya.

82

Hal ini berdasarkan kepada: Harta tersebut adalah harta bersama yang awalnya telah diberikan sebagai harta bersama untuk anak keturunan yang diwarikan berdasarkan anak perempuan dan sebagai harta wak kelola, dan bukan harta kepemilikan pribadi. Harta kepemilikan bersama atas nama satu kaum dan orang banyak tidak dapat dibagi secara hukum Islam. Pembagian waris hanya dapat dilakukan untuk harta milik perorangan dari pencarian halal dan benar secara Islam. Harta pusaka tinggi adalah harta yang memiliki hukum qiyas wakaf yang peruntukannya telah ditentukan oleh oleh beberapa generasi sebelumnya. Kepemilikan tidak ada pada orang perorang, namun hak pengelolaannya telah ditentukan. Harta pusaka tinggi, bukanlah pencarian dari Ayah dan Ibu atau kakek dan nenek. Maka tiada hukum waris berlaku atas hal tersebut. Secara ushul fiqih ini masuk dalam ihtihsan dan urf. Dimana di dalamnya terdapat kebaikan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan Islam.

Manfaat dari belakukanya Pusaka Tinggi di ranah minang adalah: Terpeliharanya kaum suku minangkabau, khusus perempuan dari terbuang dari kampungnya sendiri. Ketika ia cerai dengan suami, atau tidak memiliki kekuatan ekonomi maka tanah pusaka dapat menopang ekonomi dan tidak menjadikan hina. Terpeliharanya tanah kaum muslimin, hal ini tidak beralih kepada selain muslim. Tiada penguasaan mutlak atas seseorang dengan luas tanah yang berjuta hektar. Hal ini menghilangkan monopoli sumber ekonomi utama yakni tanah. Hal ini mengacu pada ijtihat Umar bin Khattab dalam

83

mengembalikan tanah rampasan perang di Irak dan Iran kepada penduduk dan mewajibkan membayar Kharaj dan Jizyah atas jaminan keamanan. Terpelihara sistem kekerabatan dan juga silaturrahmi diantara kaum suku di ranahminang. Dimana setiap peralihan dan juga alih fungsi memerlukan musyawarah bersama antara Datuak (kepala kaum) niniak mamak dan juga bundo kanduang (pihak ibu)

2.9 Fakta Indonesia Belum Memiliki Undang-undang Nasional Hukum Waris Adat Berbicara mengenai Hukum Waris Adat, ada baiknya terlebih dahulu memahami pengertiannya sebagai pegangan / pedoman untuk dapat melangkah kepada pembahasan selanjutnya. Hukum Waris Adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan azas-azas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris dan waris serta cara bagaimana harta warisan itu dialihkan pengusaha dan pemiliknya dari pewaris kepada waris. Hukum waris adat sesungguhnya adalah hukum penerusan harta kekayaan dari suatu generasi kepada keturunannya. Ter Haar ,

84

1950 ; 197 menyatakan : Hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusab dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi pada generasi . Supomo , 1967 ; 72 menyatakan : Hukum adat waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengopor barang-barang harta benda dan barangbarang yang tidak berwujud benda ( Immateriele Geoderen ) dari suatu angkatan manusia ( Generatio ) kepada turunannya . Dengan demikian hukum waris itu menurut ketentuan-ketentuan yang mengatur cara meneruskan dan pearlihan cara kekayaan ( berwujud atau tidak berwujud ) dari pewaris kepada ahli warisnya. Cara penerusan dan peralihana harta kekayaan ini dapat berlaku sejak pewaris maish hidup atau setelah meninggal dunia. Hal inilah yang membedakan antara hukum waris barat ( KUH Perdata ) . Tata cara pengalihan atau penerusan harta kekayaan pewaris kepada ahli waris menurut hukum adat dapat terjadi penunjukan, penyerahan kekuasaan atau penyerahan pemilikan atas bendanya oleh pewaris kepada ahli waris. Kemudian didalam hukum waris adat dikenal beberapa prinsip ( azas umum ) , diantaranya adalah sebagai berikut : Jika pewarisan tidak dapat dilaksanakan secara menurun , maka warisan ini dilakukan secara keatas atau kesamping. Artinya yang menjadi ahli waris ialah pertama-tama anak laki atau perempuan dan keturunan mereka . kalau tidak ada anak atau keturunan secara menurun , maka warisan itu jatuh pada ayah , nenek dan seterusnya keatas . Kalau ini juga tidak ada yang mewarisi adalah saudara-saudara sipeninggal harta dan keturunan mereka yaitu keluarga sedarah menurut garis kesamping , dengan pengertian bahwa keluarga yang terdekat mengecualikan keluarga yang jauh. Menurut hukum adat tidaklah selalu harta peninggalan seseorang itu langsung dibagi diantara para ahli waris adalah sipewaris meninggal dunia, tetapi merupakan satu kesatuan yang pembagiannya ditangguhkan dan adakalanya tidak dibagi sebab harta tersebut tidak tetap merukan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi untuk selamanya .

85

Hukum adat mengenal prinsip penggantian tempat ( Plaats Vervulling ). Artinya seorang anak sebagai ahli waris dan ayahnya, maka tempat dari anak itu digantikan oleh anak-anak dari yang meninggal dunia tadi ( cucu dari sipeninggal harta ) Dan bagaimana dari cucu ini adalah sama dengan yang akan diperoleh ayahnya sebagai bagian warisan yang diterimanya . Dikenal adanya lembaga pengangkatan anak ( adopsi ), dimana hak da kedudukan juga bisa seperti anak sendiri ( Kandung ) . ( Datuk Usman, 1992: 157-160) Selanjutnya akan dibicarakan pembagian harta warisan menurut hukum adat, dimana pada umumnya tidak menentukan kapan waktu harta warisan itu akan dibagi atau kapan sebaiknya diadakan pembagian begitu pula siapa yang menjadi juru bagi tidak ada ketentuannya . Menurut adat kebiasaan waktu pembagian setelah wafat pewaris dapat dilaksanakan setelah upacara sedekeh atau selamatan yang disebut tujuh hari , empat puluh hari , seratus hari , atau seribu hari setelah pewaris wafat. Sebab pada waktu-waktu tersebut para anggota waris berkumpul. Kalau harta warisan akan dibagi , maka yang menjadi juru bagi dapat ditentukan antara lain : Orang lain yang masih hidup ( janda atau duda dari pewaris ) atau Anak laki-laki tertua atau perempuan Anggota keluarga tertua yang dipandang jujur , adil dan bijaksana Anggota kerabat tetangga , pemuka masyarakat adat atau pemukaagama yang minta , ditunjuk dan dipilih oleh para ahli waris . ( Hilman Hadikusuma, 1993: 104 105) Apabila terjadi konflik ( perselisihan ) , setelah orang tua yang maish hidup , anak lelaki atau perempuan tertua , serta anggota keluarga tidak dapat menyelesaikannya walaupun telah dilakukan secara musyawarah / mufakat maka masalah ini baru diminta bantuan dan campur tangan pengetua adat atau pemuka agama. Hukum adat tidak mengenal cara pembagian dengan perhitungan matematika ( angka ) , tetapi selalu didasarkan atau pertimbangan mengingat wujud banda dan kebutuhan ahli waris yang bersangkutan. Jadi walau hukum waris adat mengenal azas kesamaan hak, tidak berarti bahwa setiap ahli waris akan

86

mendapat bagian warisan dalam jumlah yang sama, dengan nilai harga yang sama atau menurut banyaknya bagian yang sudah ditentukan. Tatacara pembagian itu ada 2 ( dua ) kemungkinan yaitu : 1. Dengan cara segendong sepikul Artinya bagian anak lelaki dua kali lipat bagian anak perempuan. Atau 2. Dengan cara Dum Dum kupat Artinya dengan anak lelaki dan bagian anak perempuan seimbang (sama) . ( Ibid, Halaman, 106 ) Kebanyakan yang berlaku adalah yang pembagian berimbang sama diantara semua anak. Demikianlah corak dan sifat-sifat tersendiri yang khas Indonesia yang berbeda dengan Hukum Islam . Ini semua setelah dari latar belakang alam fikiran bangsa indonesia yang berfalsafah Pancasila dengan masyarakat yang Bhinika Tunggal Ika , yang didasarkan pada kehidupan bersama , bersifar tolong menolong guna mewujudkan kerukunan , keselarasan dan kedamaian. Untuk membandungkan antara hukum waris adat dengan hukum kewarisan Islam : Dibawah ini dapat dilihat beberapa perbedaan antara lain : a. Harta warisan menurut hukum waris adat yang tidak merupakan kesatuan yang dapat dinilai harganya, tetapi merupakan kesatuan yang tidak dibagi atau dapat dibagi menurut jenis dan macamnya dan kepentingan para ahli waris. Harta warisa adat tidak boleh dijual segabai kesatuan dan uang penjualan itu lalu dibagi-bagikan kepada ahli waris menurut ketentuan yang berlaku b. Didalam hukum waris Islam , harta peninggalan pewaris langsung dibagibagi kepada sesama ahli waris yang tidak berhak berdasarkan hukum faraidh. c. Harta warisan adat terdiri dari harta yang tidak dapat dibagi-bagikan penguasaan dan pemiliknya kepada para ahli waris dan ada yang dapat dibagikan. Harta yang tidak terbagi adalah milik bersama para ahli waris , tidak boleh dimiliki secara perorangan, tetapi dapat dipakai dan dinikmati . Kemudian dia dapat digadaikan jika keadaan sangat mendesak berdasarkan persetujuan para pengetua adat dan para anggota kerabat bersangkutan . Bahkan harta warisan yang

87

terbagi , kalau akan dialihkan ( dijual oleh para ahli waris kepada orang lain harus dimintakan pendapat antara para anggota kerabat, agar tidak melanggar hak ketetanggaan dala kerukunan kekerabatan. d. Hukum waris adat tidak mengenal azas Legitieme Portie atau bagian mutlak e. Hukum kewarisan Islam telah menetapkan hak-hak dan bagian para ahli waris atas harta peninggalan pewaris sebagaimana yang telah dtentukan Al Qur an Surah Annisa f. Hukum waris adat tidak mengenal adanya hak bagi ahli waris untuk sewaktu-waktu menuntut agar harta warisan dibagikan kepada ahli waris . Jika ahli waris mempunyai kebutuhan atau kepentingan , sedangkan ia berhak mendapat warisan , maka ia dapat saja mengajukan permintaan untuk dapat cara bermusyawarah dan mufakat para ahli waris lainnya. Hukum Waris Barat Berbicara mengenai hukum waris barat yang dimaksud adalah sebagaimana diatur dalam KUH Perdata ( BW ) yang menganut sistem individual , dimana harta peninggalan pewaris yang telah wafat diadakan pembagian. Ketentuan aturan ini berlaku kepada warga negara Indonesia keturunan asing seperti eropah, cina , bahkan keturunan arab & lainnya yang tidak lagi berpegang teguh pada ajaran agamanya. Sampai saat ini , aturan tentang hukum waris barat tetap dipertahankan , walaupun beberapa peraturan yang terdapat di dalam KUH Perdata dinyatakan tidak berlaku lagi , seperti hukum perkawainan menurut BW telah dicabut dengan berlakunya UU No. 1 / 1974 , tentang perkawinan yang secara unifikasi berlaku bagi semua warga negara. Hal ini dapat dilihat pada bab XIV ketentuan penutup pasal 66 UU No. 1 / 1974 yang menyatakan : Untuk perkawinan & segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas UU ini, maka dengan berlakunya UU ini, ketentuan-ketentuan yang diatur dalam kitab undangundang hukum perdata ( BW ), ordomensi perkawinan indonesia kristen ( Hoci S. 1993 No. 74 ) , peraturan perkawinan campuran ( Regeling op de gemengde Huwelijken, S . 1898 No. 158 ) & peraturan-peraturan lain

88

yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam undangundang ini , dinyatakan tidak berlaku. Pokok hukum waris barat dapat dilihat pada pasal 1066 KUH Perdata yang menyatakan : 1. Dalam hal seorang mempunyai hak atas sebagian dari sekumpulan harta benda , seorang itu tidak dipaksa mambiarkan harta bendanya itu tetap di bagi-bagi diantara orang-orang yang bersama-sama berhak atasnya 2. Pembagian harta benda ini selalu dituntut meskipun ada suatu perjanjian yang bertentangan dengan itu 3. Dapat diperjanjikan , bahwa pembagian harta benda itu dipertangguhkan selama waktu tertentu 4. Perjanjian semacam ini hanya dapat berlaku selama lima tahun tetapi dapat diadakan lagi , kalau tenggang lima tahun itu telah lau . ( Wirjono Prodjodikoro, 1976 : 14 ) Jadi hukum waris barat menganut sistem begitu pewaris wafat , harta warisan langsung dibagi-bagi kan kepada para ahli waris . Setiap ahli waris dapat menuntut agar harta peninggalan ( pusaka ) yang belum dibagi segera dibagikan , walaupun ada perjanjian yang bertentang dengan itu , kemungkinan untuk menahan atau menangguhkan pembagian harta warisan itu disebabkan satu & lain hal dapat berlaku atas kesepakatan para ahli waris, tetapi tidak boleh lewat waktu lima tahun kecuali dalam keadaan luar biasa waktu lima tahun dapat diperpanjang dengan suatu perpanjangan baru . Sedangkan ahli waris hanya terdiri dari dua jenis yaitu : Ahli waris menurut UU disebut juga ahli waris tanpa wasiat atau ahli waris ab intestato. Yang termasuk dalam golongan ini ialah 1. Suami atau isteri (duda atau janda) dari sipewaris (simati) 3. Keluarga sedarah yang sah dari sipewaris 4. Keluarga sedarah alami dari sipewaris Ahli waris menurut surat wasiat ( ahli waris testamentair ) Yang termasuk kedala keadaan golongan ini adalah semua orang yang oleh pewaris diangkat dengan surat wasiat untuk menjadi ahliwarisnya.

89

Pada dasarnya untuk dapat mengerti & memahami hukum waris ini , cukup layak bidang-bidang yang ahrus dibahas diantaranya pengertian keluarga sedarah & semenda , status hukum anak-anak tentang hak warisan ab intestato keluarga sedarah , dan lain sebagainya. Untuk itu dalam tulisan ini diambil saja bagian yang dianggap mampunyai hubungan dengan penjelasan terdahulu yakni mengenai hukum kewarisan islam & hukum waris adat. Legitine Portie Anak Anak & Keturunan Besarnya bagian mutlak ini ditentukan berdasarkan besarnya bagian ab intestato dari legitimaris yang bersangkutan dengan perkatan lain legitine portie adalah merupakan pecahan dari bagian ab intestato. Untuk mengetahui besarnya bagian mutlak anak-anak & keturunanya terlebih dahulu harus dilihat dari jumlah anak yang ditinggalkan oleh pewaris. Untuk lebih jelas hal ini dapat diketahui dari bunyi pasa 914 KUH Perdata yang pada pokoknya menyebutkan adalah sebagai berikut : a) Jika yang ditinggalkan hanya seorang anak , maka legitine portie anak itu adalah dari harta peninggalan. b) Jika yang ditinggalkan dua orang anak , maka legitine portie masingmasing anak adalah 2/ 3 dari bagian ab intestato masing-masing anak itu c) Jika yang ditinggalkan tiga orang anak atau lebih , maka bagian amsingmasing anak adalah 3/ 4 dari bagian ab intestato masing-masing anak itu . ( Ibid , : 68) . Jadi yang dimaksud dengan tiga orang anak atau lebih adalah termasuk pula semua keturunannya , akan tetapi sebagai pengganti. Demikianlah corak hukum waris di Indonesia saat ini , yang masingmasing mempunyai warna & karakteristik tersendiri , memiliki kelebihan & kekurangan sesuai dengan alam pikiran & jiwa pembentukannya , yang masing-masing hukum waris mempunyai latar belakang sejarah serta pendangan hidup & keyakinan yang berbeda-beda pula & mengakibatkan terdajinya pluralisme hukum waris di Indonesia. Kesimpulan

90

Dari uraian terdahulu tentang pluralisme hukum waris di Indonesia, dapatlah dirangkum seperti tersebut dibawah ini : Bahwa pengertian hukum waris belum terdapat keseragaman sebagai suatu pedoman atau standar hukum , dimana tiap-tiap golongan penduduk memberi arti & definisi sendiri-sendiri , seperti terlihat pada sistem hukum kewarisan Islam , hukum waris barat & hukum waris adat . Namun demikian berbicara mengenai hukum waris, ketiga sistem hukum waris itu sepakat bahwa didalamnya terdapat tiga unsur penting yakni, adanya harta peninggalan atau harta kekayaan pewaris yang disebut warisan, adanya pewaris & adanya ahli waris. Bahwa tipis sekali kemungkinan ataupun mustahil untuk dapat menciptakan unifikasi dan kodifikasi hukum waris, mengingat kebutuhan hukum anggota masyaraka tentang lapangan hukum bersangkutan adalah beraneka ragam dan sering berbeda satu dengan lainnya sedemikian rupa sehingga perbedaan tersebut tidak mungkin disamakan. Disamping itu terkait pula dengan hubungan & didomonasi ole perasaan, kesadaran, kepercayaan & agama, dengan kata lain bertalian erat denga pandangan hidup seseorang. Bahwa dibeberapa daerah sistem pewarisan telah mengarah kepada susunan kekeluargaan parental & sistem pewarisan individual , walaupun disana sini masih nampak adanya pengaruh kedudukan anak tertua lelaki sebagai penggant kedudukan ayah , keluarga-keluarga indonesia cendrung untuk tidak lag mempertahankan sistem kekerabatan patritineal atau matrilineal dengan siste pewarisan kolektif atau mayorat. Artinya didalam kehidupan masyarakat luas, tidak lagi mempertahankan hukum adatnya yang lama, akan tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman. Perlu Tidaknya Dibuat UU Nasional Hukum Waris Adat Pembangunan di bidang hukum Indonesia diarahkan kepada: peningkatan dan penyempurnaan pembinaan hukum nasional dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta

91

menempatkan supremasi hukum bermasyarakat.

dalam tatanan bernegara dan

Upaya pembangunan hukum tersebut sesungguhnya bermaksud mengganti tata hukum yang kini berlaku yang dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan tata hukum yang benar-benar mencerminkan kesadaran hukum masyarakat Indonesia. Hukum adat merupakan salah satu sumber hukum yang penting dalam rangka pembangunan hukum nasional yang menuju ke arah peraturan perundang-undangan. Unsur-unsur kejiwaan hukum adat yang berintikan kepribadian bangsa Indonesia perlu dimasukkan ke dalam peraturan hukum baru agar hukum yang baru itu sesuai dengan dasar keadilan dan perasaan hukum masyarakat Indonesia. Salah satu inti dari unsur-unsur hukum adat guna pembinaan hukum waris nasional adalah hukum waris adat. Untuk menemukan unsur-unsur dari hukum waris adat tersebut salah satunya dengan cara melakukan penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui persamaan dari berbagai sistem dan asas hukum waris adat yang terdapat di seluruh Nusantara ini yang dapat dijadikan titik temu dan kesamaannya dengan kesadaran hukum nasional sehingga apa yang dicita-citakan di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara bahwa untuk seluruh wilayah Republik Indoinesia hanya ada satu sistem hukum nasional yang mengabdi kepada kepentingan nasional. Hukum waris yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia sampai sekarang masih bersifat pluralistis, yaitu ada yang tunduk kepada hukum waris dalam kitab Undang-undang Hukum Perdata. Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Adat. Masyarakat Indonesia berbhineka yang terdiri dari beragam suku bangsa memiliki adat istiadat dan hukum adat yang beragam antara yang satu dengan yang lainnya berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikan hukum adat termasuk di dalamnya hukum waris menjadi pluralistis pula. Permasalahan diatas merupakan beberapa contoh pembaharuan hukum waris islam di Indonesia yang secara langsung atau tidak

92

langsung telah dipengaruhi oleh keadaan realita masyarakat Indonesia dengan hukum waris adatnya. Sehingga dengan memperhatikan keadaan masyarakat Indonesia ( adat ), hukum waris islam di Indonesia dapat dilaksannakan dengan semestinya dengan tidak adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap hukum waris baik secara langsung ataupun tidak langsung. Tentunya semua itu masih dalam koredor syari?ah dan masih berlandaskan semangat al-qur?an yang humanis, berkeadilan dan universal.

2.10

Hukum Waris Adat dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Tentang Sistem Kekerabatan Patrineal, Matrilineal, dan Parental47

1. CONTOH

YURISPRUDENSI

MAHKAMAH

AGUNG

SISTEM

KEKERABATAN PATRILINEAL PUTUSAN No. 461 PK/Pdt/2007 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Prof. Dr. H. R. Otje Salman Soemadinigrat, S. H., Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer: Telaah Kritis terhadap Hukum Adat Sebagai Hukum yang Hidup dalam Masyarakat, Penerbit: PT Alumni, Bandung; 2002, hlm. 46
47

93

MAHKAMAH AGUNG Memeriksa perkara perdata dalam peninjauan kembali telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara: I. NENGAH GINA, bertempat tinggal di Desa Lembean, Kecamatan Kintanami, Kabupaten Bangli, dalam hal ini memberi kuasa kepada Ngakan Kompiang Dirga, S. H., Advokat, berkantor di jalan Saandat II No. Denpasar; Pemohon peninjauan kembali dahulu Pemohon KasasiPenggugat/Pembanding; Melawan: 1. I MADE MARSE; 2. I WAYAN WARNA; 3. I WAYAN RANEM; 4. I MADE WINDA, Kesemuanya bertempat tinggal di Desa Lembean, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; Para Termohon Peninjauan Kembali dahulu para Termohon KasasiPara Tergugat/Terbanding; Putusan Nomor: 461 PK/Pdt/2007 Tanggal 12 Desember 2007 Analisis Kasus: Bahwa Putusan ini adalah mengenai sengketa tanah waris di daerah Bangli, Denpasar, Bali; Sistem Patrilineal (Patrilineal/agnatic descent) adalah sistem

penarikan garis keturunan atau penarikan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pihak laki-laki (ayah). Dalam hal hukum pewarisan, sitem pewarisan patrilineal hanya mengenal ank laki-laki sebagai ahli waris, seperti masyarakat Batak dan Bali. Bahwa Putusan Pengadilan Negeri Bangli mengabulkan gugatan Penggugatan sekarang Pemohon Peninjauan Kembali sebagian yaitu menyatakan Penggugat sebagai ahli waris dari mendiang I Tedun

94

alias Nang Digdig dan I Mara alias Nang Gantra dan menolak selebihnya; (461 PK/Pdt/2007 Tanggal 12 Desember 2007, hlm. 7) Bahwa Pengadilan Tinggi Denpasar menguatkan Putusan PN Bangli, dan Mahkamah Agung menolak kasasi Permohonan Kasasi sekarang Permohonan Peninjauan Kembali; Bahwa Mahkamah Agung Mmenolak Permohonan Peninjauan Kembali dalam pertimbangannya, Menimbang, bahwa oleh karena itu sesuai dengan Pasal 68, 69, 71,dan 72 Undang-undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang No. 5 Tahun 2004, permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya yang diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh undang-undang formal dapat diterima; Bahwa menurut Prof. Dr. H. R. Otje Salman Soemadiningrat, S. H., Pengadilan Negeri menggunakan penerapa hukum positif pada pertimbangan putusannya yaitu pada halaman enam putusan ini, sehingga tidak mempertimbangkan lagi pertimbangan hukum adat yang disampaikan oleh penggugat adat atau Pemohon Peninjauan Kembali.

2. CONTOH

YURISPRUDENSI

MAHKAMAH

AGUNG

SISTEM

KEKERABATAN MATRILINEAL P U T U S A N No. 2258 K/Pdt/2006 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG Memeriksa perkara perdata dalam tingkat Kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

95

1. 2.

BABADAN DT. PITO ALAM; NALAN Gir. MALIN MALANO, keduanya bertempat tinggal di Tabu, Kelurahan KTK, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, dalam hal ini memberi kuasa kepada SYAMSYURDI NOFRIZAL, S. H., Advokat, berkantor di KS. Tubun Nomor 119, Kota Solok, para pemohon Kasasi dahulu para Penggugat/para Pembanding; Melawan:

1.

YASMI, bertempat tinggal di Tabu, Kelurahan IX Korong, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok;

2.

USMAN DT. NAN BAKUPIAH, bertempat tinggal di Kelurahan Sinapa Pilang, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok;

3.

MARAMIS DT. ANDARO MULIA Pgl. BUYA, bertempat tinggal di Sawah Piai, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok;

4. 5.

GUSMARNI; MARISON DT. MALINTANG SUTAN, nomor 4 dan 5 bertempat tinggal di Jl. Prof. Dr. Hamka Kelurahan IX, Korong Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota solok;

6.

MARNIS, bertempat tinggal di Jl. Adi Negoro By pass, Kelurahan KTK, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, dalam hal ini memberi kuasa kepada YUSMANITA, S. H., Advokat berkantor di Jl. Pemda II No. 34, Kelurahan IX Korong, Kota Solok;

7.

KEPALA KANTOR BADAN PERTANAHAN KOTASOLOK, berkedudukan di Jl. Lubuk Sikarah, Kota Solok;

8. 9.

NURLENA; APJUNELIFA;

10. BAMBANG;

96

11. PIMPINAN BENGKEL VULKANISIR BAN AGUNG JAYA PERKASA CABANG SOLOK, No. 8, 9, 10, 11, dan 12 kelimanya bertempat tinggal di Jl. By pass RT 01/RW 02, Kampung Tabu, Kelurahan KTK, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok; para Termohon Kasasi dahulu sebagai para Tergugat/para Terbanding; Tempat: Pengadila Negeri Solok. Putusan Nomor: 2258 K/Pdt/2006 Tanggal 25 Juli 2007 Analisis Kasus: Berdasarkan Putusan tersebut, perkara tersebut berasal dari daerah Solok, Sumatera Barat yang menggunakan sistem kekerabatan Matrilineal; Sistem Matrilineal (matrilineal descent) adalah sistem penarika garis keturunan atau hubungan kekerabatan hanya dari pihak ibu yang masuk dalam hubungan kekerabatan, sedangkan semua keluarga yang berasal dari pihak ayah berada di luar kekerabatan. Dalam sistem ini hanya anak perempua yang memiliki hak waris. Suku Minangkabau adalah salah satu suku yang menganut sistem ini Perkara ini merupakan perkara waris pusoko tinggi; Dalam putusannya, Mahkamah Agung menolak permohonan Kasasi para Pemohon Kasasi dahulu Penggugat/Pembanding; Dalam pertimbangan hukumnya di halaman 9 putusan ini, Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan-alasan ini tidak dapat dibenarkan oleh karena judex factie tidak salah dalam menerapkan hukum, lagi pula hal ini mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan dalam tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan dalam penerapan hukum atau pelanggaran hukum yang berlaku, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana

97

yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata bahwa putusan judex facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh para Pemohon Kasasi: BABADAN DT. PITO ALAM dan kawan-kawan tersebut harus ditolak;

3. CONTOH

YURISPRUDENSI

MAHKAMAH

AGUNG

SISTEM

KEKERABATAN PARENTAL P U T U S A N No. 2500 K/Pdt/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa perkara perdata dalam tingkat Kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara: 1. RODIAH binti OESOEP, bertempat tinggal di Desa Dawung, Ringinrejo, Kabupaten Kediri; 2. MUJIB, bertempat tinggal di Desa Karang Gaam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar;

98

3. MUDAWARI, bertempat tinggal di Desa Bakung, Kecamatan Undanawu, Kabupaten Blitar, dalam hali ini memberi kuasa kepada: MUKIBIN, bertempat tinggal di Desa Dawung, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 28 Februari 2003, Para Pemohon Kasasi, dahulu Para Tergugat/Pembanding; Melawan: 1. 2. MAHMUD bin OESOEP, bertempat tinggal di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar; KATEMI binti OESOEP, bertempat tinggal di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu,Kabupaten Blitar, Para Termohon Kasasi, dahulu Para Penggugat-Terbanding;

dan 1. 2. SUPERLIN binti OESOEP, bertempat tinggal di Desa Waktu Tempeh, Lumajang; SUNDAYAH binti OESOEP, bertempat tinggal di Desa Dawuhan, Mojosari, Kras Kediri, Turut Termohon Kasasi, dahulu Turut Tergugat-Pembanding;

Putusan Nomor: 2500 K/Pdt/2003 Tanggal 12 April 2005 Analisis Kasus: Perkara ini merupakan gugatan harta waris yang terjadi di daerah Blitar, Jawa Timur; Di daerah Blitar menganut sistem kekerabatan Parental/Liberal (parental/bilateral descent), yaitu sistem penarikan garis keturunan atau hubungan kekerabatan dari pihak laki-laki dan pihak perempuan
(Prof. Dr. H. R. Otje Salman Soemadinigrat, S. H., Rekonseptualisasi

99

Hukum Adat Kontemporer: Telaah Kritis terhadap Hukum Adat Sebagai Hukum yang Hidup dalam Masyarakat, Penerbit: PT Alumni, Bandung; 2002, hlm. 46)

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari uraian mengenai hukum waris adat di Indonesia, dapatlah dirangkum seperti tersebut dibawah ini : Bahwa pengertian hukum waris belum terdapat keseragaman sebagai suatu pedoman atau standar hukum , dimana tiap-tiap golongan penduduk memberi arti & definisi sendiri. Namun demikian berbicar mengenai hukum waris, ketiga sistem hukum waris itu sepakat bahwa didalamnya terdapat tiga unsur penting yakni, adanya harta peninggalan atau harta kekayaan pewaris yang disebut warisan adanya pewaris & adanya ahli waris. Bahwa tipis sekali kemungkinan ataupun mustahil untuk dapat menciptakan unifikasi dan kodifikasi hukum waris, mengingat kebutuhan hukum anggota masyarakat tentang lapangan hukum bersangkutan adalah beraneka ragam dan sering berbeda satu dengan lainnya

100

sedemikian rupa sehingga perbedaan tersebut tidak mungkin disamakan. Disamping itu terkait pula dengan hubungan & didomonasi oleh perasaan, kesadaran, kepercayaan & agama, dengan kata lain bertalian erat dengan pandangan hidup seseorang. Bahwa dibeberapa daerah sistem pewarisan telah mengarah kepada susunan kekeluargaan parental & sistem pewarisan individual walaupun disana sini masih nampak adanya pengaruh kedudukan anak tertua lelaki sebagai pengganti kedudukan ayah , keluarga-keluarga indonesia cendrung untuk tidak lagi mempertahankan sistem kekerabatan patritineal atau matrilineal dengan sistem pewarisa kolektif atau mayorat. Artinya didalam kehidupan masyarakat luas, tidak lagi mempertahankan hukum adatnya yang lama, akan tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman.

3.2 Saran

101

102

Daftar Pustaka

Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan Adat, Bandung : Alumni,1977 _________________, Hukum Waris Adat, Cipta Aditya Bakti, Bandung, 1993 Holleman, F.D : Adat Grondenrecht Ambon van Ned. Indie jilid I Oemarsalim, Dasar-dasar hukum waris di Indonesia,Rineka Cipta,1991 Soemadinigrat, Otje Salman, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer: Telaah Kritis terhadap Hukum Adat Sebagai Hukum yang Hidup dalam Masyarakat, Penerbit: PT Alumni, Bandung; 2002, hlm. 46 Soekanto, Soerjono. Hukum Adat Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008 Soepomo. Bab-bab Tentang Hukum Adat. Jakarta, Pradya Paramita, 1987 Suparman, Eman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, Bandung: Refika Aditama,2005 Vollenhoven, Van, het adatrecht jilid I Wigbyodipoero, Soerojo, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, Mas Agung, Jakarta, 1990

103

104