Anda di halaman 1dari 7

Rent Seeking Behavior: Ringkasan Materi dan Contoh Kasus A.

. Pengertian Rent- Seeking : Konsep Klasik vs Ekonomi Politik Teori rent-seeking pertama kali diperkenalkan oleh Krueger yang kemudian dikembangkan oleh Bhagwati dan Srinivasan. Pada saat itu, Krueger membahas tentang praktik memperoleh kuota impor. Kuota impor sendiri bisa diartikan sebagai perbedaan antara harga batas/ border price (cum price) dan harga domestik. Dalam pengrtian ini, perilaku rent-seeking dapat diartikan sebagai pengeluaran sumber daya untuk mengubah kebijakan ekonomi, atau menelikung kebijakan tersebut agar dapat menguntungkan pihak pencari rente. Dalam teori ekonomi klasik, konsep rent-seeking tidak dinilai secara negative sebagai kegiatan ekonomi yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Bahkan, perilaku rent-seeking dapat dinilai positif karena dapat memacu kegiatan ekonomi secara simultan, seperti halnya seseorang yang ingin mendapatkan laba maupun upah. Namun, di sisi lain, dalam literatur ekonomi politik, konsep rent-seeking diangap sebagai perilaku negative. Asumsi yang dibangun dalam teori ekonomi politik adalah, bahwa setiap kelompok kepentingan berupaya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dengan upaya sekecil-kecilnya. Pada titik inilah seluruh sumber daya yang dimiliki seperti lobi akan ditempuh demi mencapai tujuan tersebut. Di sini timbul masalah. Jika hasil dari lobi tersebut adalah berupa kebijakan, maka dampak yang muncul bisa sangat besar. Menurut Olson (seperti terdapat dalam Yustika) proses lobi tersebut dapat berdampak kolosal karena mengakibatkan proses pengambilan keputusan berjalan sangat lambat dan ekonomi pada akhirnya tidak bisa merespon secara cepat terhadap perubahanperubahan dan teknologi baru.

Berdasarkan penjelasan di atas, kegiatan rent-seeking dapat didefinisikan sebagai upaya individual atau kelompok untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan regulasi pemerintah. Prasad (seperti terdapat dalam Yustika) mendefinisikan rent-seeking sebagai proses di mana individu memperoleh pendapatan tanpa secara aktual meningkatkan produktivitas, atau malah mengurangi produktivitas tersebut. Istilah Rent menurut Adam Smith Adam Smith membagi penghasilan (income) dalam tiga tipe, laba, upah dan sewa (profits, wages, and rents). Rents (sewa) adalah tipe termudah yang dapat diperoleh untuk menjadi penghasilan. Uang sewa dibayarkan untuk penggunaan seperti tanah, gedung, kantor, mobil, dimana seseorang menginginkan untuk menggunakan tetapi tidak ingin memiliki. Karena sewa merupakan penghasilan yang termudah dan lebih aman, maka secara alamiah orang ingin penghasilan berasal dari sewa dari pada yang berasal dari laba atau upah. Motivasi yang disebut sebagai pemburu rente (rent-seeking), yang dalam konteks ini adalah sah-sah saja.

B. tipe : a)

Tipe-tipe Rent-Seeking

Menurut Michael Ross , pemburu rente/rent seeking dapat dibagi menjadi dua

Rent Creation, dimana perusahaan (firms) mencari keuntungan yang

dibuat oleh Negara dengan menyogok politisi dan birokrat (in whichfirms seek rents created by the state, by bribing politicians andbureaucrats) b) Rent Extraction, dimana politisi dan birokrat mencari keuntungan dari perusahaan dengan mengancam perusahaan dengan peraturan-peraturan (in which politicians and bureaucrats seek rents held by firms, by threatening fims with costly regulations) Selain kedua tipe di atas, masih ada satu tipe lagi, yaitu :

c)

Rent Seizing, dimana terjadi ketika aktor-aktor negara atau birokrat

berusaha untuk mendapatkan hak mengalokasikan rente yang dihasilkan dari institusi-institusi Negara untuk kepentingan individunya atau kelompoknya. (rent seizing: as efforts by state actors to gain theright to allocate rents).

C.

Kasus Rent Seeking : Kebijakan Monopoli

Kasus rent-seeking di Indonesia dapat kita telusuri pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada saat itu, terdapat persekutuan bisnis besar (yang menikmati fasilitas monopoli maupun lisensi impor) dengan birokrasi pemerintah. Dengan fasilitas tersebut, pemilik rente ekonomi memperoleh dua kentungan. Pertama, mendapatkan laba yang berlebih. Kedua, mencegah pesaing masuk dalam pasar. (Maaf, gambar belum di upload) Gambar di atas adalah gambar yang diadaptasi dari Tullock (1988) untuk menggambarkan kesalahan para ekonom yang menganjurkan kebijakan monopoli. Sumbu horizontal merupakan kuantitas gandum yang dapat diproduksi pada harga CC. kurva permintaan gandum ditunjukkan oleh kurva DD. Pasar kompetitif ditunjukkan oleh unit Q., karena pada titik tersebut kurva permintaan DD mengenai garis biaya (diasumsikan pada titik ini informasi sempurna dan tidak ada biaya transaksi. Titik keseimbangan (equilibrium point) berada pada harga P. lahan di sebelah kanan Q tidak ditanami karena kualitas tanah yang rendah. Pada titik ini, sewa lahan Ricardian adalah area di atas CC dan di bawah P (area yang diarsir), dan para pemilik lahangandum akan berproduksi untuk mengumpulkan gandum.

Produsen gandum dapat melakukan investasi dengan biaya yang lebih murah, atau mereka dapat mengorganisasikan kartel atau monopoli. Hal ini dilakukan agar mereka dapat mengendalikan harga melalui pembatasan produksi. Upaya mengorganisasikan kartel atau monopoli inilah yang disebut sebagai

perilaku rent-seeking. Dengan adanya rent-seeking,produksi akan berubah menjadi Q1 dan harga naik menjadi P1. Hal ini menyebabkan dua konsekuensi. Pertama, keuntungan area segi empat (yang diberi titik-titik) akan ditransfer dari konsumen ke pihak monopolis. Kedua, masyarakat mengalami kerugian yang digambarkan dalam grafik di atas sebagai segitiga yang diarsir. D. Kasus Rent-Seeking : Korupsi Contoh kasus rent-seeking yang sudah akrab dalam kehidupan kita adalah kasus korupsi. Korupsi merupakan permasalahan yang dialami banyak negara, dan hingga saat ini amat sulit untuk ditangani, tidak terkecuali di Indonesia. Korupsi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah penyuapan. Banyak politisi di Indonesia yang terjerat kasus korupsi dengan modus penyuapan. Politisi tersebut mendapatkan rente ekonomi (suap) dari para pengusaha atau investor yang memiliki kepentingan tertentu. Semakin mudah penyuapan dilakukan, maka semakin korup negara tersebut. Berdasarkan laporan lembaga Transparency International pada Corruption Perceptions Index tahun 2010, Indonesia menempati urutan ke 110 dengan nilai 2,8 dari total 178 negara. Semakin tinggi nilai suatu negara (mendekati 10), maka semakin bersih negara tersebut dari korupsi. Dengan angka 2,8, Indonesia masih merupakan lahan subur bagi tindak korupsi. Nilai ini amat jauh bila dibandingkan dengan Singapura yang menempati peringkat pertama dengan nilai 9,3, dan Malaysia yang menempati urutan ke- 56 dengan nilai 4,4. Jika dikaitkan dengan kasus penyuapan, menurut survey yang dilakukan oleh lembagaTransparency International pada tahun 2008, pihak yang paling mudah disuap di Indonesia adalah pihak-pihak legislatif dengan nilai 4,1, menyusul di bawahnya adalah politisi dan polisi dengan nilai masing-masing 3,9. (skala nilai adalah 1-5, dengan ketentuan semakin besar nilai maka semakin mudah disuap). a) Faktor- faktor Penyebab Korupsi Menurut Paolo Mauro dalam Economic Issues Vol. 6 yang diterbitkan oleh IMF, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya tindak korupsi, antara lain:

1)

Pembatasan perdagangan. Jika suatu negara menetapkan kuota impor,

maka keberadaan lisensi impor bagi seorang importir merupakan hal yang sangat berharga, dan importir akan menyuap otoritas yang berwenang demi mendapatkan lisensi impor ini. Disamping kuota impor, kebijakan pemerintah untuk melindungi usaha lokal dari kompetisi asing melalui kebijakan tarif akan memunculkan semi-monopoli bagi industri lokal. Pengusaha lokal dapat melakukan lobbying agar kebijakan ini terus berlangsung dengan menyuap politisi. 2) Subsidi pemerintah. Korupsi dapat tumbuh dengan subur di bawah payung kebijakan sektor industri yang salah sasaran. Jadi, industri tersebut tidak perlu disubsidi, namun karena adanya suatu kebijakan, maka subsidi diberikan bagi sektor industri tersebut. 3) Kontrol atas harga. Kontrol harga yang dimaksudkan untuk menetapkan

harga di bawah harga pasar dapat menimbulkan perilaku rent-seeking. Kontrol harga akan mendorong individu maupun kelompok untuk menyuap pemerintah untuk mempertahankan kebijakan seperti itu, dan memberikan bagian atas harga yang ditetapkan tersebut. 4) Praktek nilai tukar yang bermacam-macam (Multiple Exchange Rate) dan skema alokasi valuta asing. Suatu negara bisa saja memiliki beberapa nilai tukar, misalnya nilai tukar untuk importir, nilai tukar untuk wisatawan, dan nilai tukar untuk investor. Diferensiasi ini mendorong pihak-pihak untuk mengejar nilai tukar yang menguntungkan bagi mereka. 5) Upah yang rendah bagi pegawai pemerintah. Jika upah pegawai pemerintah terlalu rendah, maka pegawai pemerintah dapat menggunakan wewenangnya untuk meminta uang suap, terlebih lagi bila kemungkinan terbongkar kasus suap tersebut amat kecil. 6) Sumber daya alam yang melimpah. Harga jual hasil alam biasanya jauh

melebihi biaya pengolahannya, dan penjualan hasil alam tersebut biasanya harus mengikkuti peraturan pemerintah yang ketat. Hal ini akan menimbulkan

perilaku rent-seeking, di mana hasil penjualan hasil alam tersebut dinikmati olehsegelintir orang saja. 7) Faktor sosiologi. Dalam suatu ikatan keluarga yang kuat, setiap anggota keluargaakan saling tolong-menolong dalam banyak hal. Begitu pula dengan pegawai pemerintah. Maraknya kasus nepotisme merupakan contoh dari ikatan keluarga yang kuat, yang dapat menimbulkan perilaku rent-seeking. b) Dampak Korupsi

Dari segi ekonomi, dampak korupsi adalah memperlambat pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor, antara lain: 1. Menurunkan tingkat investasi dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang signifikan. Di sebuah negara yang korup, para investr menyadari bahwa suap dibutuhkan sebelum sebuah perusahaan berdiri. Setelah perusahaan berhasil berdiri, korupsi masih terus saja terjadi karena penguasa terus meminta bagiannya. Dengan demikian, investor akan menganggap suap dan korupsi sebagai bagian dari pajak. Hal ini akan mengurangi insentif untuk berinvestasi. 2. Alokasi yang salah atas sumber daya manusia yang berkualitas. Insentif finansial akan mendorong sumber daya manusia yang berkualitas untuk bekerja pada sektor yang memiliki kemudahan melakukan rent-seeking, dibandingkan di tempat-tempat yang benar-benar produktif. 3. Mengurangi efektivitas alur bantuan. Dengan adanya korupsi, alokasi bantuan dana bisa saja digunakan untuk pengeluaran pemerintah yang tidak produktif dan sia-sia. Akibatnya, negara-negara donor akan mengurungkan niatnya untuk memberikan bantuan. 4. Menurunkan penghasilan pajak. Pajak yang seharusnya masuk ke kas negara bisa saja masuk ke kantong pribadi pihak-pihak tertentu akbat adanya korupsi. 5. Menurunkan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik.

Daftar Pustaka Bribe Payers Index 2008. Transparency International. Corruption Perceptions Index 2010 Results. Transparency International. Mauro, Paolo.1997. Why Worry About Corruption? Economic Issues Vol. 6. International Monetary Fund. Washington D. C: IMF Publication Services. Yustika, Ahmad Erani. 2006. Ekonomi Kelembagaan. Malang: Bayu Media Publishing.
Share this:

Anda mungkin juga menyukai