Anda di halaman 1dari 2

Smart Building SMART BUILDING, sebagian orang awam pasti banyak tanda tanya besar dan mulai berandai-andai

ketika mendengar kata tersebut apa itu smart building? apakah output atau hasil akhirnya berupa bangunan yang bisa berfikir, bangunan yang bisa ngomong, apakah bangunan yang bisa tahan gempa dan apakah bangunan yang bisa berjalan . Jawabannya adalah mungkin bisa seperti itu, lalu apa yang dimaksud dengan smart building? Sebagian besar negara maju sudah menerapkan sistem smart building karena memang sistem ini memiliki keuntungan yang banyak dari pada bangunan biasa, sebab banyak faktor yang harus dipertimbangkan ketika hendak mendirikan bangunan tersebut misalkan dampak lingkunagan yang akan terjadi, efisiensi energi atau penghematan energi dan beberapa faktor lainnya, beberapa tahun ini tidak asing lagi ditelinga kita tentang pemanasan global atau akrab didengar global warming sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut dan salah satunya adalah pendirian bangunan yang asal-asalan tanpa adanya analisa faktor- faktor disekitarnya. Smart building atau smart house adalah sebuah konsep yang memadu padankan desain arsitektur, desain interior dan mekanikal elektrikal agar dapat memberi kecepatan gerak/mobilitas serta kemudahan kontrol juga akses dari arah mana pun dan waktu kapan pun dalam hal otomatisasi dimana semua aktifitas yang terjadi pada sebuah bangunan atau gedung dapat terjadi tanpa adanya interverensi manusia didalamnya, dalam artian biarpun tidak ada orang didalamnya maka bangunan ini akan menjalankan perintah sesuai dengan program yang telah kita buat dan kita tanamkan pada otak rumah itu, nah dari konsep smart building ini maka memungkinkan dapat mengurangi penggunaan energi dan juga berkontribusi dalam mereduksi gas CO2 di udara. Konsep ini menggunakan teknologi tingkat tinggi yang pada dasarnya adalah dengan memanfaatkan komponen elektronika beberapa diantaranya adalah Mikroprocessor, PLC (Programmable Logic Controllers) yang bertindak sebagai otak atau unit processing yang dihubungkan dengan komponen-komponen lain seperti sensor untuk membaca kondisi dan actuator untuk mengeksekusi perintah, dimana otak tadi mengendalikan hampir seluruh bagian rumah. Berbagai elemen dalam bangunan dihadirkan mulai dari cahaya lampu (lighting), pendingin (AC), keamanan pada pintu-jendela (security) dan komunikasi yang mudah hingga peralatan audio video (sound sistem) saling terhubung dan terkoordinasi di dalam satu sistem otomatisasi yang disebut smart building. Melalui aplikasi konsep ini, pemilik bangunan dapat mengatur tampilan ruang sesuai dengan keinginannya melalui beberapa pilihan skenario suasana/mood sehingga benar-benar memanjakan pemilik bangunan sekaligus menegaskan citra bangunan modern. Dengan adanya konsep smart building ini, maka penghuni rumah akan serasa dimanjakan karena sebagian besar kegiatannya akan dapat dilakukan secara otomatis tanpa campur tangan manusia, misalnya menghidupkan lampu pada malam hari, menyalakan AC ketika penghuni masuk kedalam rumah, pembayaran tagihan listrik secara

otomatis, pemberitahuan akan adanya makanan yang busuk dalam lemari pendingin berkat bantuan teknologi RFID, mematikan beberapa sumber daya yang tidak terpakai ketika penghuni meninggalkan rumah, sampai dengan pengawasan rumah secara berkala dengan penggunaan kamera pengawas yang senantiasa mengawasi seisi rumah dari orang-orang yang tidak berhak untuk memasuki rumah tersebut. Hidup menjadi lebih mudah. Sebagai seorang insinyur terutama disiplin ilmunya Teknik Fisika yang basic-nya tahu dan paham betul mengenai instrumentasi dan control tentu tidak awam lagi dengan hal seperti itu, banyak aspek positif yang bisa ditangkap dari sana dan dikembangkan sebagai awal dan wujud konkrit membantu mereduksi terjadinya pemanasan global, banyak penelitian maupun karya tugas akhir mahasiswa mengenai smart building dan efisiensi energi, bahkan JTF sendiri telah menerapkannya salah satunya di ruang kuliah S2 mengkondisikan udara, menata pencahayaan dan mengatur besarnya energi yang dibutuhkan semua sudah dikendalikan oleh perangkat-perangkat elektronika, alhasil banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan konsep ini, biarpun ruang kuliah S2 bukan termasuk gedung baru namun konsep ini sudah diterapkan cukup lama. Pernahkah kita berpikir bahkan bermimpi suatu hari dapat menerapkan smart building dalam membangun rumah kita. Konsep smart building sebenarnya BUKAN sekedar murah dalam segi operasional, namun masih lebih banyak dari itu, konsep ini tidak hanya menawarkan efisiensi dan keuntungan lingkungan saja. Banyak hal juga yang mendukung terealisasinya konsep ini diantaranya penggunaan produk yang hemat energi, usia efektif yang lama, ramah lingkungan. Antara lain penggunaan TV LED, AC inverter, Mesin Cuci Front Loading/Top Loading dengan daya listrik rendah, Solar Water Heater (bukan pemanas air bertenaga gas), Lemari Es dengan kompresor (inverter) daya listrik rendah, Lampu LED dan Produk yang menggunakan batere (rechargeable). Pembiasaan menggunakan konsep produk berdaya matahari/air/angin atau energy terbarukan dan teknologi listrik berdaya rendah (hybrid, inverter dan control) yang mampu ramah terhadap lingkungan, mari kita lestarikan bumi ini dengan gaya hidup smart terhadap lingkungan dan diri kita namun tetap modern (ARH)

Gambar diambil dari http://www.ecofriend.com/resource-monitor-helps-keep-track-ofenergy-consumption.html

Gambar diambil dari http://www.orble.com/the-smart-home-how-building-managementsystems-integrate-technology-to-increase-energy-efficiency/