Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Krisis moneter yang berlangsung di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah memporakporandakan seluruh aspek kehidupan bangsa terutama sendi-sendi perekonomian nasional dan di bidang sosial. Dampak buruk tersebut dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah, menurunnya daya beli masyarakat, kerusuhan yang terjadi dimanamana, tingkat penganguran yang tinggi. Krisis perekonomian tersebut telah mengakibatkan kondisi Indonesia terpuruk, kembali menjadi salah satu dari 14 negara miskin di dunia. Kemiskinan telah menjadi suatu fenomena sosial yang tidak hanya dialami oleh negaranegara yang sedang berkembang, tetapi juga terjadi di negara-negara yang sebelumnya sudah mempunyai kemampuan di bidang ekonomi. Hal ini pada dasarnya telah menjadi perhatian, isu, dan pergerakan global yang bersifat kemanusiaan. Krisis multi dimensi yang berawal tahun 1997, disusul dengan carut marut perekonomian Indonesia pasca runtuhnya rezim orde baru telah menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia jatuh dalam garis kemiskinan. Kelompok-kelompok masyarakat ekonomi lemah bahkan terpuruk di bawah garis kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Penduduk miskin yang semula 34,91 juta (BPS, 1999) pada kondisi buruk ini kemudian diikuti lagi oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak yang membuat semakin banyak penduduk Indonesia terjerat di bawah garis kemiskinan. Jika kita pahami sebenarnya kenaikan itu tidak begitu berdampak besar apabila persentasenya lebih kecil dari pada persentase kenaikan harga rata-rata. Di saat itu pulalah pemerintah mengalami kesulitan keuangan, sehingga masyarakat dipaksa untuk memaklumi serta menerima kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak. Tetapi seberapa parah kesulitan keuangan yang dialami pemerintah tidak diketahui oleh masyarakat umum karena pemerintah tidak menerapkan asas transparansi. Berdasarkan kondisi yang ada, maka menaikkan harga Bahan Bakar Minyaklah yang menjadi salah satu cara bagi pemerintah untuk mengurangi beban anggaran negara. Namun kenaikan tersebut berdampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan hidup lainnya. Kerentanan terhadap gejolak ekonomi dan rendahnya kemampuan daya beli masyarakat merupakan permasalahan yang sudah terjadi sejak lama di Indonesia dan semakin memburuk sejak adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Kenyataan ini menimbulkan

semakin tingginya tingkat kemiskinan di negeri ini, banyak rakyat yang semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena kenaikan Bahan Bakar Minyak itu tidak hanya terkait dengan kenaikan Bahan Bakar Minyak itu sendiri, melainkan juga terkait dengan naiknya harga barang dan jasa lain. Karena tidak adanya daya beli masyarakat menyebabkan banyaknya perusahaanperusahaan yang mengalami kebangkrutan. Hal ini menyebabkan terjadinya PHK di perusahaan-perusahaan, tidak hanya perusahaan berskala besar tapi juga perusahaan berskala kecil. Dari terjadinya krisis moneter ini menyebabkan meningkatnya angka pengangguran di Indonesia.

1.2 Tujuan Makalah ilmiah ini bertujuan untuk memberitahukan kepada pembaca tentang keadaan Indonesia pada saat krisis moneter serta dampak-dampaknya di bidang sosial. Selain itu makalah ilmiah ini juga bertujuan menambah wawasan para pembaca khususnya mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kemarau yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu, hal inilah yang makin memperparah keadaan Indonesia pada saat krisis moneter. Sebelum krisis moneter dan disusul krisis ekonomi yang melanda seluruh Indonesia tersebut, perkembangan pasar uang dan pasar modal di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Namun, kemudian terjadi krisis moneter yang ditandai dengan depresiasi rupiah terhadap Dolar AS secara tajam selama pertengahan tahun 1997 sampai akhir tahun 1998. Nilai rupiah merosot tajam dari sekitar Rp. 2500,- per dolar AS menjadi diatas Rp. 15.000,- per dolar AS yang mengakibatkan hutang luar negeri baik pemerintah maupun swasta. (Yusgiantoro, Purnomo 2004:125) Dampak krisis moneter di Indonesia dirasakan sangat berat dan merambat kebidangbidang lain seperti sosial dan politik. Kerusuhan-kerusuhan sosial dan instabilitas politik yang terjadi di Indonesia sedikit banyak semakin mengurungkan niat sebagian investor asing untuk menanamkan modalnya, sementara para pemilik modal domestik takut menanamkan modalnya di dalam negeri dan cenderung mengalihkan dananya ke luar negeri. Lemahnya Rupiah secara tidak langsung merupakan efek dari krisis keuangan yang terjadi di Indonesia yang sangat terpengaruh oleh gejolak perekonomian dunia, melalui harga barang-barang ekspor dan impor, neraca pembayaran, valuta asing dan faktor-faktor luar negeri akan mempengaruhi perekonomian domestik terutama inflasi. Inflasi merupakan gejala ekonomi yang sangat menarik untuk diperhatikan. Setiap kali ada gejolak sosial politik atau ekonomi didalam maupun luar negeri, masyarakat akan selalu mengaitkannya dengan masalah inflasi. Kecenderungan kenaikan tingkat harga umum secara terus menerus itu dapat menghasilkan tekanan inflasi yang tak terlalu berat terhadap perekonomian bila laju inflasi sekitar 5% pertahunnya. Inflasi dapat pula menyebabkan

tekanan berat bagi perekonomian suatu Negara bila telah mencapai laju lebih dari 25% pertahunnya. (Boediono, 1998:166) Jadi inflasi merupakan suatu keadaan di mana terjadi kenaikan harga-harga secara tajam yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu cukup lama. Seiring dengan kenaikan harga-harga, nilai uang atau kurs turun secara tajam sebanding dengan kenaikan harga-harga tersebut. Masyarakat miskin dalam satuan rumah tangga adalah kelompok yang paling merasakan beban berat dari dampak krisis moneter pada masa itu. Meningkatnya biaya kebutuhan hidup yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan menjadikan daya beli masyarakat menurun dan selanjutnya menyebabkan kehidupan masyarakat semakin terpuruk. Kerentanan terhadap gejolak ekonomi dan rendahnya kemampuan daya beli masyarakat merupakan permasalahan yang sudah terjadi sejak lama di Indonesia dan semakin memburuk sejak adanya krisis moneter. Kenyataan ini menimbulkan semakin tingginya tingkat kemiskinan di negeri ini, banyak rakyat yang semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat dari kenaikan harga-harga barang yang tinggi pada masa itu. Meningkatnya jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan juga tidak terlepas dari jatuhnya nilai mata uang rupiah yang tajam, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang akibat PHK dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder dan tersier yang semula ada perlahan-lahan dihapus dari anggaran kebutuhan rumah tangga. Bahkan pengeluaran untuk kebutuhan primer seperti makanan dan susu pun mulai dikurangi derajat dan frekuensinya. Tingkat kosumsi terpaksa diturunkan karena tingginya harga barang kebutuhan sehari-hari. Penurunan daya beli tidak saja terjadi terhadap kebutuhan pokok berupa makanan tetapi juga ke berbagai kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Dilaporkan cukup banyak mahasiswa yang terancam drop out karena orang tua mereka tidak lagi mampu membiayai pendidikan mereka. Beberapa perguruan tinggi dilaporkan memberikan pengumuman dispensisi untuk mengambil cuti bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar uang kuliah. Harga kertas dan foto copy yang membumbung tinggi membuat beberapa mahasiswa terpaksa menulis skripsi dengan tulisan tangan dan kertas buram. Di sektor kesehatan dampak krisis juga amat terasa. Mahalnya harga obat membuat sebagian penduduk tidak mampu lagi menjangkau pelayanan kesehatan modern. Dilaporkan banyak penderita meninggal akibat tidak mampu lagi membayar biaya cuci darah. Makin

banyak pula kasus pasien kabur --terutama di RSU pemerintah-- akibat tidak mampu membayar biaya perawatan. Sebagian lagi mencari pengobatan alternatif ke praktek-praktek tradisional. Dampak lanjut dari rendahnya kualitas kesehatan penduduk adalah meningkatnya angka mortalitas. Harga susu yang makin mahal berdampak pada banyaknya bayi yang kekurangan gizi. Pada tahun 1998 tingkat pengangguran mencapai 5,7 persen. Angka ini sebenarnya masih di sekitar tingkat pengangguran natural (Natural Rate of Unemployment), suatu tingkat yang secara alamiah mustahil dihindarkan. Ini mencakup pengangguran yang muncul karena peralihan antar kerja oleh tenaga kerja. Dengan jumlah angkatan kerja 92,7 juta, pengangguran 5,7 persen berarti terdapat 4,5 juta orang penganggur. Krisis moneter yang terjadi pada masa itu memang banyak diyakini telah meningkatkan angka pengangguran. Jumlah penganggur bertambah tidak saja disebabkan oleh makin banyaknya new entrants yang tidak memperoleh lapangan pekerjaan tetapi juga karena terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh banyak perusahaan. Depnaker RI sendiri mengumumkan bahwa jumlah penganggur yang ada di Indonesia pada akhir Maret 1998 berjumlah 13,4 juta yang terdiri dari 2,6 juta penganggur akibat PHK, 6 juta penganggur yang merupakan new entrans dan 4,8 juta penganggur tahun lalu (Jakarta Post, 13 April 1998). Diduga angka-angka tersebut hanya merupakan angka estimasi (prakiraan). Akibat krisis finansial yang memporak-porandakan perkonomian nasional, banyak para pengusaha yang bangkrut karena dililit hutang bank atau hutang ke rekan bisnis. Begitu banyak pekerja atau buruh pabrik yang terpaksa di-PHK oleh perusahaan di mana tempat ia bekerja dalam rangka pengurangan besarnya cost yang dipakai untuk membayar gaji para pekerjanya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya ledakan pengangguran yakni pelonjakan angka pengangguran dalam waktu yang relatif singkat. Awal ledakan pengangguran sebenarnya bisa diketahui sejak sekitar tahun 1997 akhir atau 1998 awal. Ketika terjadi krisis moneter yang hebat melanda Asia khususnya Asia Tenggara mendorong terciptanya likuiditas ketat sebagai reaksi terhadap gejolak moneter. Di Indonesia, kebijakan likuidasi atas 16 bank akhir November 1997 saja sudah bisa membuat sekitar 8000 karyawannya menganggur. Dan dalam selang waktu yang tidak relatif lama, 7.196 pekerja dari 10 perusahaan sudah di PHK dari pabrik-pabrik mereka di Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan berdasarkan data pada akhir Desember 1997. Ledakan pengangguranpun berlanjut di tahun 1998, di mana sekitar 1,4 juta pengangguran terbuka baru akan terjadi. Dengan perekonomian yang hanya tumbuh sekitar 3,5 sampai 4%, maka tenaga kerja yang bisa diserap sekitar 1,3 juta orang dari tambahan angkatan kerja sekitar 2,7

juta orang. Sisanya menjadi tambahan pengangguran terbuka tadi. Total pengangguran jadinya akan melampaui 10 juta orang. Tahun 1996 perekonomian mampu menyerap jumlah tenaga kerja dalam jumlah relatif besar karena ekonomi nasional tumbuh hingga 7,98 persen. Tahun 1997 dan 1998, pertumbuhan ekonomi dapat dipastikan tidak secerah tahun 1996. Pada tahun 1998 krisis ekonomi bertambah parah karena banyak wilayah Indonesia yang diterpa musim kering, inflasi yang terjadi di banyak daerah, krisi moneter di dalam negeri maupun di negara-negara mitra dagang seperti sesama ASEAN, Korsel dan Jepang akan sangat berpengaruh. Jika kita masih berpatokan dengan asumsi keadaan di atas, maka ledakan pengangguran diperkirakan akan berlangsung terus sepanjang tahun-tahun ke depan. Masalah pengangguran pada masa itu pada dasarnya merupakan masalah turunan dari rendahnya permintaan terhadap barang/jasa. Pengangguran terjadi karena permintaan terhadap barang dan jasa berkurang. Karena permintaan terhadap barang dan jasa berkurang maka volume produksi barang dan jasa juga berkurang. Karena volume produksi barang dan jasa berkurang maka input produksi (salah satunya tenaga kerja) juga berkurang. Oleh karena itu terjadilah PHK yang menambah jumlah pengangur. Disisi lain situasi krisis juga berdampak pada menurunnya jumlah investasi. Karena investasi menurun maka kesempatan kerja (dalam arti lowongan pekerjaan) baru juga berkurang. Karena itu tidak semua tenaga kerja yang berada di pasar kerja dapat memperoleh pekerjaan. Akibat lebih lanjut, penganggur juga meningkat. Hal ini mengacu pada teori demand elasticity for labour (elastisitas permintaan terhadap tenaga kerja), yang menyatakan bahwa perubahan permintaan tenaga kerja pada dasarnya merupakan reaksi terhadap pertumbuhan ekonomi yang ada. Makin tinggi pertumbuhan ekonomi akan makin tinggi pula permintaan terhadap tenaga kerja dan karenanya akan makin kecil pengangguran. Krisis moneter ini terjadi begitu hebat. Tidak saja buruh bangunan yang terkena dampaknya, tetapi hampir di semua lapisan merasakan dampak krisi moneter ini. PHK tidak saja terjadi di pekerja lapisan bawah tetapi juga sampai di tingkat manajer menengah dan puncak. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang pesat maka mau tidak mau negara kita terpaksa harus menarik investasi asing karena sangatlah sulit untuk mengharapkan banyak dari investasi dalam negeri mengingat justru di dalam negeri para pengusaha besar banyak yang berhutang ke luar negeri. Hal ini bertambah parah karena hutang para pengusaha (sektor swasta) dan pemerintah dalam bentuk dolar. Sementara pada saat ini nilai tukar rupiah begitu pula tingkat

rendah (undervalue) terhadap dolar. Namun menarik para investor asing pun bukan merupakan pekerjaan yang mudah jika kita berkaca pada situasi dan kondisi sekarang ini. Suhu politik yang juga semakin memanas, kerawanan sosial, teror bom, faktor desintegrasi bangsa, dan berbagai masalah lainnya akan membuat para investor asing enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal inilah yang semakin memicu meningkatnya angka pengangguran pada masa itu. Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Suatu krisis sosial ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya angka kenakalan remaja, melonjaknya jumlah anak jalanan atau preman, dan besarnya kemungkinan untuk terjadi berbagai kekerasan sosial yang senantiasa menghantui masyarakat kita. Bagi banyak orang, mendapatkan sebuah pekerjaan seperti mendapatkan harga diri. Kehilangan pekerjaan bisa dianggap kehilangan harga diri. Walaupun bukan pilihan semua orang, di zaman serba susah begini pengangguran dapat dianggap sebagai nasib. Seseorang bisa saja diputus hubungan kerja karena perusahaannya bangkrut. Padahal di masyarakat, jutaan penganggur juga antri menanti tenaganya dimanfaatkan. Besarnya jumlah pengangguran di Indonesia lambat-laun akan menimbulkan banyak masalah sosial yang nantinya akan menjadi suatu krisis sosial, karena banyak orang yang frustasi menghadapi nasibnya. Pengangguran yang terjadi tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga menimpa orangtua yang kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup. Indikator masalah sosial bisa dilihat dari begitu banyaknya anak-anak yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi pengamen, pedagang asongan maupun pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik. Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara kita adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka kelabakan dan tidak bisa berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor informal. Justru orangorang yang kurang berpendidikan bisa melakukan inovasi menciptakan kerja, entah sebagai joki yang menumpang di mobil atau joki payung kalau hujan. Juga para pedagang kaki lima dan tukang becak, bahkan orang demo saja dibayar. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika banyak para penganggur yang mencari jalan keluar dengan mencari nafkah yang tidak halal. Banyak dari mereka yang menjadi pencopet, penjaja seks, pencuri, preman, penjual narkoba, dan sebagainya.

Masalah pengangguran dan pendidikan pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin mendekati titik yang mengkhawatirkan. Diperkirakan angka pengangguran intelektual yang pada tahun 1995 mencapai 12,36 persen, pada tahun 1995 diperkirakan akan meningkat menjadi 18,55 persen, dan pada tahun 2003 meningkat lagi menjadi 24,5 persen.Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Umumnya perusahaan atau penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga yang siap pakai, artinya sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya, namun dalam kenyataan tidak banyak tenaga kerja yang siap pakai tersebut. Justru yang banyak adalah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan job yang disediakan, tutur dosen di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta). Ia juga mengatakan bahwa pengangguran masih tinggi karena permintaan kerja sangat sedikit dibandingkan tenaga kerja yang tersedia. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bagsa kita di mana para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka sebenarnya menyandang gelar. Selain itu krisi moneter juga memunculkan banyak kerusuhan-kerusuhan yang menyebabkan keadaan Indonesia pada saat itu kacau. Banyak tragedi-tragedi yang terjadi pada saat itu, salah satunya adalah tragedi Trisakti. Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, leher, dan dada. Hal ini disebabkan oleh keadaan ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran kegedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju gedung DPR/MPR pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri--militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri. Akhirnya, pada pukul 17.15 para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di

universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras. Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brigade Mobil Kepolisian RI, Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon Infanteri 202,Pasukan Anti Huru Hara Kodam seta Pasukan Bermotor. Mereka dilengkapi dengan tameng, gas air mata, Styer, dan SS-1. Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei - 15 Mei 1998, khususnya di ibu kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis. Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut. Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah

lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian terhadap orang Tionghoa.