Anda di halaman 1dari 6

Final Report Review Desain Bendungan Logung

7.1. BANGUNAN PELIMPAH 7.1.1. Letak dan Tipe Bangunan Pelimpah Bangunan pelimpah diletakkan di bukit kanan dengan pertimbangan bahwa bukit kanan cenderung mempunyai daya dukung lebih kuat, mempunyai tebing yang lebih curam dan jarak dengan alur sungai lebih pendek serta arah aliran searah dengan aliran downstream sungai Logung sehingga saluran peluncur dan pelepasannya ke sungai tidak terlalu panjang serta mempunyai hidrolis yang baik. Atas dasar hal tersebut dan mengacu pada studi terdahulu maka digunakan tipe pelimpah samping (side over flow type) agar ekonomis. Profil mercu pelimpah digunakan pelimpah bebas tipe Ogee dengan lengkung Harrold. 7.1.2. Saluran Pengarah Saluran pengarah diperlukan untuk mengarahkan aliran menuju pelimpah pada saat terjadi banjir agar hidrolika alirannya masih terkendali. Kecepatan air di saluran pengarah disyaratkan untuk tidak lebih dari 4 m/det dengan kondisi aliran sub-kritis. Apabila kecepatan melebihi 4 m/dt, maka aliran akan bersifat helisoidal yang meningkatkan beban hidrodinamis dan kapasitas pengalirannya akan menurun. Dasar saluran pengarah direncanakan pada elevasi +85,00 m dengan lebar awal 50,00 m. 7.1.3. Saluran Pengatur Untuk bentuk pelimpah tipe ogee, metode yang dipakai untuk menentukan bentuk penampang sebelah hilir (lower nappe) dari titik tertinggi mercu pelimpah adalah lengkung Harrold yang dinyatakan dengan persamaan : X1,85 Hd X Y = = = = 2. Hd0,85. Y Tinggi tekanan rencana Jarak horisontal dari titik tertinggi mercu ke titik di permukaan mercu sebelah hilir. Jarak vertikal dari titik tertinggi mercu ke titik permukaan mercu sebelah hilir.

dengan :

7.1.4. Saluran Samping Dimensi saluran samping direncanakan dengan mencoba beberapa alternatif dimensi, yang kemudian dipilih salah satunya yang dianggap paling sesuai atas pertimbangan ekonomis, hidrolis dan keamanan konstruksinya. Hidrolika saluran samping ditujukan untuk menggambarkan profil aliran yang terjadi pada saluran samping, baik pada kondisi debit banjir rencana (Q 1000) maupun QPMF. Dengan mengetahui profil muka air ini, maka akan dapat ditentukan apakah hasil perencanaan aman ditinjau dari aspek hidrolis. Berdasarkan jenis alirannya, maka hidrolika pada saluran samping ini dapat dikategorikan ke dalam jenis aliran berubah beraturan. Metode yang digunakan untuk analisis profil muka air ini adalah Persamaan Dinamik Aliran Berubah Beraturan (Ven Te Chow halaman 229). Dan secara umum persamaan dinamik untuk aliran berubah beraturan dengan penambahan debit dirumuskan sebagai berikut :

VII - 1

Final Report Review Desain Bendungan Logung

dy/dx = [So-Sf-2.Q.q/g.A2]/[1-Q2/g.A2.D] dengan ; So Sf = = Kemiringan dasar saluran samping. Kemiringan garis energi, yang nilainya dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan Manning = v2.n2/R4/3 [untuk saluran prismatis]. Untuk saluran yang tidak prismatis, maka nilai hf harus ditambah dengan kehilangan tinggi tekan minor losses akibat turbulensi. Debit yang mengalir pada pelimpah banjir (m3/det) Debit per satuan lebar pada pelimpah (m3/det/m) Luas penampang saluran samping (m2) Percepatan grafitasi (=9,81 m/det2) Kedalaman hidrolis (m) Lebar permukaan aliran (m) Perubahan kedalaman aliran (m).

Q q A g D T

= = = = = = =

dy dx

Persamaan di atas merupakan persamaan diferensial yang tidak dapat diselesaikan secara analitis. Menurut skema di atas, maka hukum kekekalan momentum berlaku pada : w/g [Q dv +(V+dV) dQ] = P1 - P2 +W sin - Ff dengan menganggap diferensial sebagai suatu pertambahan terhingga ( finite increment), persamaan di atas dapat ditulis sebagai berikut : y x x w/g [Q.V+(V+V).Q] = -w A.dy +w.So. A.dx - w.Sf. A.dx 0 0 0 = -w.Ar.y + w.So.Ar.x-w.Sf.Ar.x dengan Ar luas rata-rata. Berhubung debit bervariasi sesuai dengan pertambahan panjang saluran terhingga, luas rata-rata dapat dinyatakan dengan : Ar = (Q1+Q2)/(v1+v2) ,dengan Q=Q1 dan v+v=v2 lalu disederhanakan ; Q1.(v1+v2) y = ---------------- * [v + v2/Q1. Q] + So.x - Sf.x g.(Q1+Q2) Penurunan tinggi muka air diantara penampang 1 dan 2 dapat dinyatakan : dy = -dy + So.dx bila diubah menjadi suatu pertambahan berhingga, y = -y + So.x. dengan cara mensubtitusikan persamaan di atas, maka penurunan muka air menjadi : y =[Q1(v1+v2)/(g.(Q1+Q2))][v + v2. Q/Q1] + Sf.x Persamaan di atas dapat dipakai untuk menghitung profil aliran berubah beraturan dengan penambahan debit. Pada bagian kanan persamaan tersebut, suku pertama menyatakan pengaruh kehilangan energi benturan (impact loss) dan suku ke dua menyatakan pengaruh gesekan. Patut dicatat bahwa bila Q=Sf=0 atau Q1=Q2, maka persamaan ini akan berbentuk ; y = .(v22-v12)/2g , yang merupkan persamaan energi untuk debit tetap dan gesekan diabaikan. Selanjutnya teknis perhitungan Integrasi Numeris dapat dilakukan dengan cara bertahap.

VII - 2

Final Report Review Desain Bendungan Logung

Perhitungan profil muka air pada saluran samping untuk debit banjir rencana berupa Q 1000 tahun dan QPMF, disajikan pada LAMPIRAN VII.1. 7.1.5. Saluran Transisi dan Peluncur Rencana teknis saluran-saluran tersebut didasarkan pada perhitungan-perhitungan hidrolika, dan untuk memperoleh profil muka air pada saluran tersebut maka akan ditinjau debit-debit tertentu yaitu debit banjir rencana Q1000 dan QPMF sebagai kontrol. Metode analisis untuk menggambarkan profil muka air pada saluran tersebut didasarkan pada persamaan energi spesifik sebagai berikut : z1 + h1 + v12/2g = z2 + h2 + v22/2g + hf + hs dengan ; z1,z2 = Elevasi dasar saluran pias 1 & 2 pada suatu bidang vertikal h1 h2 v1 v2 hf hs = Kedalaman aliran pada pias 1 = Kedalaman aliran pada pias 2 = Kecepatan aliran pada pias 1 = Kecepatan aliran pada pias 2 =Kehilangan tinggi tekan akibat gesekan dasar dan dinding saluran = Kehilangan tinggi tekan akibat turbulensi (m)

Untuk memecahkan persamaan tersebut, maka diterapkan metode tahapan standar. Bilangan Froude ; Fr = v/(g.h)0,5 Kedalaman kritis ; hc = (q2/g)1/3 7.1.6. Saluran Peluncur Perencanaan dimensi saluran peluncur pada mulanya didasarkan pada kondisi topografi daerah setempat. Dalam perencanaannya hendaknya didasarkan pada aspek ekonomis, keamanan hidrolis dan keamanan konstruksinya. Pada saluran peluncur ini diusahakan memiliki trase yang lurus, dan bilangan Froude yang terjadi di dalamnya tidak melebihi nilai 9. Perhitungan profil muka air pada saluran peluncur ini pada dasarnya sama dengan perhitungan pada saluran transisi, hanya saja dalam hal ini kehilangan tinggi tekan akibat turbulensi diabaikan mengingat bentuk salurannya yang prismatis. 7.1.7. Peredam Energi Sebelum aliran air yang melintasi bangunan pelimpah dikembalikan ke dalam sungai, maka aliran dengan kecepatan yang tinggi dalam kondisi superkritis tersebut harus diperlambat dan dirubah pada kondisi aliran sub kritis. Hal ini untuk mengurangi besarnya energi gerusan yang tinggi dalam aliran tersebut hingga mencapai tingkat yang normal, sehingga aliran tersebut tidak membahayakan kestabilan alur sungai. Untuk mengurangi energi tersebut, maka di ujung hilir saluran peluncur biasanya dibuat suatu bangunan yang disebut peredam energi pencegah gerusan. Berdasarkan dengan tipe bendungan urugan yang dipilih dan kondisi topografi serta sistim kerjanya maka peredam energi mempunyai berbagai tipe, antara lain : Tipe Loncatan Tipe Kolam Olakan Tipe Bak Pusaran

VII - 3

Final Report Review Desain Bendungan Logung

Pertimbangan dalam menentukan tipe peredam energi adalah : Gambaran karakteristik hidrolis pada peredam energi yang direncanakan. Hubungan lokasi antara peredam energi dengan tubuh bendungan. Karakteristik hidrolis dan karakteristik konstruktif dari bangunan pelimpah. Kondisi-kondisi topografi, geologi dan hidrolika di daerah tempat kedudukan calon peredam energi. Situasi serta tingkat perkembangan dari sungai di sebelah hilir. Tipe Loncatan (Water Jump)

7.1.7.1.

Peredam energi loncatan biasanya dibuat untuk sungai-sungai yang dangkal (dengan kedalaman yang lebih kecil dibandingkan kedalaman loncatan hidrolis aliran di ujung udik peredam energi). Tetapi tipe ini hanya cocok untuk sungai dengan dasar alur yang kokoh. 7.1.7.2. Tipe Kolam Olakan (Stilling Basin)

Secara umum tipe kolam olakan dibedakan menjadi 3 tipe utama : Kolam olakan datar Kolam olakan miring ke hilir Kolam olakan miring ke hulu

Akan tetapi yang paling umum dipergunakan adalah kolam olakan datar. Selanjutnya kolam olakan datar dibedakan menjadi 4 macam, yang dibedakan oleh rezim hidrolika alirannya dan kondisi konstruksinya.

a) Kolam olakan datar tipe I


Tipe ini digunakan untuk debit yang kecil dengan kapasitas peredaman energi yang kecil pula dan kolam olakannya berdimensi kecil. Tipe ini biasanya dibangun untuk suatu kondisi yang tidak memungkinkan pembuatan perlengkapan-perlengkapan lainnya pada kolam olakan tersebut.

b) Kolam olakan datar tipe II


Kolam olakan ini dilengkapi dengan gigi-gigi pemencar aliran di pinggir hulu dasar kolam dan ambang bergerigi di pinggir hilirnya. Kolam olakan tipe ini digunakan untuk aliran dengan tekanan hidrostatis yang tinggi dan dengan debit yang besar (q = 45 m 3/dt/m, tekanan hidrostatis > 60 m dan bilangan froude > 4,5) Gigi-gigi pemencar aliran berfungsi untuk untuk lebih meningkatkan efektifitas peredaman, sedangkan ambang bergerigi berfungsi sebagai penstabil loncatan hidrolis dalam kolam olakan tersebut. Kolam olakan tipe ini sangat sesuai untuk bendungan tipe urugan dan penggunaanya cukup luas.

c) Kolam olakan datar tipe III


Pada hakekatnya perinsip kerja kolam olakan ini sangat mirip dengan sistim kerja kolam olakan datar tipe II, akan tetapi lebih sesuai untuk mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis yang rendah dan debit yang agak kecil (q < 18,5 m3/dt/m, V < 18 m/dt dan bilangan froude > 4,5). Untuk mengurangi panjang kolam olakan, biasanya dibuatkan gigi-gigi pemencar aliran di tepi hulu dasar kolam, gigi-gigi penghadang aliran pada dasar kolam olakan. Kolam olakan tipe ini biasanya untuk bangunan pelimpah pada bendungan urugan yang rendah.

d) Kolam olakan datar tipe IV


Sistem kerja kolam olakan tipe ini sama dengan sistem kerja kolam olakan tipe III, tetapi penggunaannya yang cocok adalah untuk aliran dengan tekanan hidrostatis yang rendah dan debit yang besar per unit lebar, yaitu utnuk aliran dalam kondisi super kritis dengan bilangan froude antara

VII - 4

Final Report Review Desain Bendungan Logung

2,5 s/d 4,5. Biasanya kolam olakan ini digunakan pada bangunan pelimpah suatu bendungan urugan yang sangat rendah. 7.1.7.3. Kolam Olakan Tipe Bak Pusaran (Roller Bucket)

Peredam energi tipe bak pusaran adalah bangunan peredam energi yang terdapat di dalam aliran air dengan proses pergesekan antara molekul-molekul air akibat adanya pusaran vertikal di dalam kolam. Biasanya bak pusaran ini membutuhkan pondasi batuan yang kukuh dan air yang terdapat di hilirnya cukup dalam. Bak pusaran ini mempunyai bentuk serta modifikasi yang beraneka ragam, disesuaikan dengan kondisi topografi dan geologi tempat kedudukannya serta kondisi fluktuasi permukaan air di hilir kolam tersebut 7.1.8. Mercu Pelimpah Pelimpah dipilih tipe side spillway. Ambang pelimpah yang digunakan adalah tipe Ogee tanpa pintu, berada pada elevasi +88,50 m sesuai elevasi rencana Muka Air Normal. Lebar pelimpah dipilih 50,00 m, direncanakan mampu mengalirkan debit banjir rencana QPMF. Debit outflow melalui pelimpah tipe mercu Ogee dihitung berdasarkan persamaan di bawah ini (Design of Small Dams, Bereau of Reclamation, 1987) : Q=C.L.H Dengan : Q C L H : debit melalui pelimpah : koefisien debit : lebar efektif mercu pelimpah (m3/det), (m/dt), (m),
3/2

: total tinggi tekanan di atas mercu (m).

Koefisien debit diambil dari persamaan Iwasaki ( bendungan Type Urugan, Suyono Sosrodarsono, 1981). Bentuk geometris mercu pelimpah ditetapkan dengan menggunakan persamaan Harrold's WES sbb.: X185 = 2 Hd0,85.Y Di mana: X Y = Jarak horisontal dari pusat mercu ke punggung hilir pelimpah. = Jarak vertikal dari titik pusat mercu pelimpah ke punggung hilir pelimpah. Hd = Tinggi tekanan rencana Gambar hidrolis bangunan pelimpah disampaikan pada Gambar 7.1.1 pada halaman berikut ini, profil muka air antara pelimpah sampai saluran pelepas dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini. 7.2. BANGUNAN PENGAMBILAN Bangunan pengambilan merupakan fasilitas untuk menyalurkan air dari genangan ke hilir bendungan untuk digunakan baik irigasi, air baku dan debit pemeliharaan sungai (konservasi), yang dengan fasilitas pintu yang dioperasikan melalui bangunan menara. Untuk memperoleh lokasi dan tipe bangunan penyadap senantiasa didasarkan pada kondisi topografi dan geologi tempat kedudukan calon bangunan penyadap, kapasitas serta pada tujuannya. Elevasi dasar bangunan penyadap ditempatkan pada elevasi muka air rendah waduk (LWL). Saluran pembawa berupa gorong-gorong (konduit) tapal kuda modifikasi lebar 4,00 m dan tinggi 4,00 m dengan radius 2,00 m; yang akan dimanfaatkan sebagai saluran pengelak selama periode pelaksanaan konstruksi bendungan. Pada saat darurat bangunan ini juga akan berfungsi sebagai saluran pengelak darurat. Pintu intake irigasi dibuat dua lobang di menara yaitu pada elevasi + 62,46 m untuk pintu bawah, dengan pertimbangan memanfaatkan air genangan selama endapan lumpur belum mencapai puncak

VII - 5

Final Report Review Desain Bendungan Logung

tampungan mati, dan yang ke dua ditempatkan di atas elevasi tampungan mati yaitu + 64,00 m. Debit yang harus dialirkan melalui pintu intake adalah : Air baku Air irigasi & Konservasi Jumlah = 0,200 m3 / det = 3,487 m3 / det = 3,687 m3 / det

Untuk perencanaan pintu intake digunakan debit sebesar 1,2 x 3,687 = 4,424 m 3/det. Direncanakan lobang intake bulat diameter 1,20 m dan pintu sorong (1,10 x 1,10) m. Ukuran penampang konduit didasarkan pada kapasitas maksimum penyadapan. Atau apabila sebelumnya berfungsi sebagai konduit pengelak, maka disesuaikan dengan kapasitas rencana konduit pengelak yang akan mengalirkan debit banjir rencana (Q 25). Akan tetapi sebagai batas minimum diameter konduit, dianjurkan sebesar 1,60 meter supaya memudahkan pembuatannya dan O & P yang akan datang, sedangkan diameter pipa ventilasi disarankan tidak kurang dari 10 cm ( Suyono Sosrodarsono, 1977). Dimensi pipa penyalur yang dianggap aliran tekan ditentukan dengan rumus : Q Q C R g H = = = = = = C . . R2 . (2 . g . H)1/2 debit penyadap, m3/detik koefisien debit jari-jari pipa, m percepatan gravitasi, m/detik2 beda tinggi muka air waduk dengan tinggi energi pada bangunan outlet, m dengan :

Rencana dari bangunan pengambilan adalah memanfaatkan salah satu dari saluran pengelak sebagai perletakan pipa pengambilan. Sarana pengambilanya merupakan bangunan pengambilan vertikal yang terletak di tebing sebelah kanan, yaitu pada elevasi + 62,46 m yang dilengkapi dengan sarana penyaring. Sebagai pengatur aliran akan dibuat menara pengatur diusahakan ditempatkan tidak jauh dari puncak bendungan utama, tujuanya supaya tidak memerlukan jembatan pelayanan yang relatif panjang atau bila terlalu panjang maka jembatan pelayanan akan dibuat dari tebing sebelah kanan. Di dalam menara pengatur ini akan dilengkapi pintu sebagai pengatur aliran yang keluar dari bangunan pengambilan. 7.3. BANGUNAN PENGELAK Bangunan pengelak direncanakan dengan pembuatan konstruksi konduit sebagai saluran pengelak pada saat pelaksanaan konstruksi, sedangkan pada saat bendungan beroperasi, konduit ini akan berfungsi sebagai bagian dari saluran pengambilan untuk pemberian air irigasi dan air baku. Pada saat darurat bangunan ini juga akan berfungsi sebagai saluran pengelak darurat. Kapasitas konduit direncanakan untuk dapat melewatkan debit banjir Q25 = 266,03 m3. Kapasitas aliran dihitung dalam dua kondisi, yaitu sebagai saluran terbuka dan saluran tertutup. Hasil perhitungan didapat sebagai berikut: Konstruksi Dimensi Panjang konduit Kemiringan Elevasi dasar u/s Elevasi dasar d/s : Beton bertulang : 1 x (b = 4,00 m; h = 4,00 m; r = 2,00 m) (tipe tapal kuda) : 235,50 m : 0,01274 : +44,00 m : +41,00 m

VII - 6