SKENARIO 2 BENJOLAN DI LEHER

Kelompok B4 Ketua : Dahvia Nursriyanti (1102008320) Sekretaris : Paradina Wulandari (1102008297) Anggota : Rifia Setyaningrum (1102008) Selvia (1102008235) Praptiningsih (1102008192) Dina Malisa (1102008281) Jamaludin (1102008) Willy Kurnia Almon (1102008) Tri Setyawardana (1102007)

Benjolan di Leher
Tn. P, 42 tahun, datang ke poliklinik yarsi dengan keluhan adanya benjolan di leher sebelah kanan. Benjolan ini mulai muncul sejak 3 bulan yang lalu, didahului oleh rasa demam selama 2 minggu. Benjolan mula-mula berukuran sebesar kelereng, kemudian bertambah besar sehingga sekarang berukuran sebesar bola tenis. Selama 3 bulan ini pasien juga merasa sering demam, dan terdapat penurunan berat badan. Sering pasien berkeringat di malam hari. Benjolan tidak terasa nyeri, hanya terasa pegal seminggu terakhir ini. Pasien adalah seorang buruh pabrik cat dan telah bekerja selama 20 tahun di tempat tersebut. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak kurus, T : 110/70 mmHg, N : 92x/menit, R : 24x/menit. Didapatkan massa berbentuk mendekati bulat berukuran diameter 10 cm di submandibula dekstra, konsistensi kenyal padat, permukaan rata, tidak bisa digerakkan dari sekitarnya, tidak didapatkan nyeri tekan. Oleh dokter, pasien kemudian di lakukan biopsi insisi, dengan hasil PA : limfoma non-hodgkin. Pasien kemudian dianjurkan untuk melalukan kemoterapi 6 seri dan bersabar atas penyakit yang dideritanya.

STEP 1
Sasaran belajar skenario 2
1.

2.

Mampu memahami dan menjelaskan Limfoma Non Hodgkin Mampu memahami dan menjelaskan sabar dalam menghadapi sakit

STEP 2 .

gejala.STEP 3 Memahami & Menjelaskan Limfoma Non Hodgkin Definisi Limfoma non-hodgkin (NLH) adalah kelompok keganasan primer limfosit yang dapat berasal dari limfosit B. maupun prognosis. . baik tipe histologis. limfosit T dan kadang (amat jarang) berasal dari sel NK (natural killer) yang berada dalam sistem limfe yang sangat heterogen. respon pengobatan. perjalanan klinis.

Etiologi dan Faktor Risiko  Translokasi kromosom dan penyusunan ulang molekul memainkan peran penting dalam patogenesis banyak limfoma dan berkorelasi dengan histologi dan imunofenotipe.  Penyakit pencetus  Paparan lingkungan dan pekerjaan  Diet dan paparan lainnya .

Hal ini mungkin karena kontrol multiplikasi sel B tergantung pada fungsi normal sel T.PATOFISIOLOGI LNH Orang dengan imunosupresi. dimana sistim pertahanannya menurun. Jika fungsi sel T menjadi abnormal. seperti pada kasus orang dengan imunosupresi. meningkatkan peluang untuk terserang penyakit limfatik ini. sel B dapat berlipat ganda melalui suatu cara yang tidak terkontrol. . menghadapi peningkatan risiko terserang limfoma non Hodgkin.

Gangguan orofaring penyakit di struktur limfoid (cincin waldeyer) “sakit tenggorok” atau napas berbunyi/tersumbat. keringat pada malam hari.GAMBARAN KLINIS • • • Limfadenopati superfisial. dan penurunan berat badan. Gejala konstitusional : Demam. .

 Anemia. atau trombositopenia dengan purpura mungkin merupakan gambaran pada penderita penyakit sumsum tulang difus. dan pasien dapat datang dengan gejala abdomen akut. netropenia dengan infeksi .  Penyakit abdomen Saluran gastrointestinal adalah lokasi ekstranodal yang paling sering terkena setelah sumsum tulang.  Sitopenia juga dapat disebabkan oleh autoimun. .

atau tiroid sering terkena. Organ lain. Kulit. testis. otak. .  Kulit juga secara primer terkena pada 2 jenis limfoma sel T yang tidak umum dan terkait erat : mikosis fungiodes dan sezary syndrome.

 Temuan kromosom : berbagai subtipe limfoma non-hodgkin dikaitkan dengan translokasi kromosom khas yang mempunyai nilai diagnostik dan prognostik. . Petanda imunologik : Antibodi monoklonal terhadap antigen yang diekspresikan pada sel pada tahapan perkembangan limfoid dan pada jalur atau keadaan aktivasi yang berbeda digunakan dalam klasifikasi limfoma maligna.

KLASIFIKASI Limfoma sel-B Derajat malignitas rendah Limfositik (antara lain CLL) Imunositoma Folikular-sentroblastik/sentrositik Derajat malignitas intermedier Folikular-sentroblastik-sentrositik Difus sentroblastik Sel mantel Sel besar-anaplastik Limfoma sel-B Derajat malignitas rendah Limfositik (antara lain CLL) Imunositoma Folikular-sentroblastik/sentrositik Limfoma sel-T Derajat malignitas rendah Limfositik (T-CLL) Derajat malignitas intermedier/tinggi Pleomorf sel kecil dan sel besar Sel besar anaplastik Imunoblastik Limfoblastik Limfoma sel-T Derajat malignitas rendah Limfositik (T-CLL) .

Lain-lain Lain-lain Terasosiasi mukosa (MALT) Leukemia sel rambut Plasmasitoma Derajat malignitas tinggi Imunoblastik Burkitt Limfoblastik Lain-lain Terasosiasi mukosa (MALT) Leukemia sel rambut Plasmasitoma Lain-lain Terasosiasi mukosa (MALT) Leukemia sel rambut Plasmasitoma Mycosis fungoides Sindroma Sezary Kutan (antara lain CD30+) Lain-lain Mycosis fungoides Sindroma Sezary Kutan (antara lain CD30+) Lain-lain Mycosis fungoides Sindroma Sezary Kutan (antara lain CD30+) WORKING FORMULATION (WF) .

PENEGAKAN DIAGNOSIS  Ananmnesis  Pemeriksaan Fisik Palpasi  Pemeriksaan THT cincin Weldeyer .

Limfangiografi c.  Radiologi a. selain untuk diagnosis juga identifikasi subtipe histopatologi walaupun sitologi biopsi aspirasi jelas limfoma Hodgkin ataupun Limfoma non-Hodgkin. CT scan  Laparotomi . Foto thoraks b. USG d. Pemeriksaan laboratorium  Sitologi biopsi aspirasi  Histopatologi Biopsi tumor sangat penting.

.

Rekomendasi lain: jumlah daerah nodus yang terlibat ditunjukkan dengan tulisan di bawah garis(subscript) (misalnya II3) II 2 : pembesaran 2 regio limfonodi dalam 1 sisi diafragma II 3 : pembesaran 3 regio limfonodi dalam 1 sisi diafragma II E : pembesaran 1 regio atau lebih limfonodi dalam 1 sisi diafragma dan 1 organ ekstra limfatik tidak difus/batas tegas II .PENENTUAN STADIUM Stadi um I Keterangan Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) hanya 1 regio IE : jika hanya terkena 1 organ dekstra limfatik tidak difus/batas tegas Pembesaran 2 regio limfonodi atau lebih. tetapi masih satu sisi diafragma atau keterlibatan lokal pada organ atau tempat ekstralimfatik dan satu atau lebih daerah kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama (IIE).

III Pembesaran limfonodi di 2 sisi diafragma yang juga dapat disertai dengan keterlibatan lokal pada organ atau tempat ekstralimfatik (IIIE) atau keduanya (IIIE+S) IV Jika mengenai 1 organ ekstra limfatik atau lebih tetapi secara difus .

.

.

.

.

.

KGB aksila adalah yang paling sering terkena Kenyal - Sifat KGB Cincin Waldeyer. kecuali pada penderita PH jenis sel B dan usia lanjut > 50% pasien KGB mediastinum < 20% pasien .. traktus gastrointestinal dan testis KGB Abdomen Keras dan berbatas tegas + + . KGB yang terlibat setempat-setempat (terlokalisasi). KGB yang terlibat lebih luas Sentripetal. KGB epitroklear.DIAGNOSIS BANDING LNH PH Pola KGB yang terlibat Sentrifugal.

 Limfadenitis Tuberkulosa Biasanya mengenai kelenjar limfe leher. . Mula-mula kelenjar-kelenjar keras dan tidak saling melekat. berasal dari mulut dan tenggorok (tonsil). terjadi perlekatan-perlekatan. tetapi kemudian karena terdapat periadenitis.

. Mononukleosis Infeksiosa Penyakit yang ditandai dengan demam. nyeri tenggorokan dan pembesaran kelenjar getah bening. virus ini akan menyebar ke limfosit B. Setelah menyusup ke dalam sel-sel di hidung dan tenggorokan. yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr.

PROGNOSIS LNH LNH Indolen :  Memiliki prognosis yang relative baik  Median survival 10 tahun  Biasanya tidak dapat disembuhkan pada stadium lanjut  Risiko kambuh lebih tinggi pada pasien dengan gambaran histologist “divergen” LNH Agresif :  Perjalanan alamiah yang lebih pendek  Lebih dapat disembuhkan secara signifikan dengan kemoterapi kombinasi intensif  Risiko kambuh lebih tinggi pada pasien dengan gambaran histologist “divergen” .

Umur <60 tahun = 0 >60 tahun = 1 Tumor stage I/II = 0 III/IV = 1 LDH serum Normal = 0 Meningkat = 1 Status performans Tidak ada gejala = 0 Ada gejala = 1 Keterlibatan Ekstranodal 1 tempat = 0 > 1 tempat = 1 .

Risk IPI Score Complete RelapseResponse free Rate 5-Year Survival 87% 67% 70% 50% Overall 5-Year Survival 73% 51% Low Low/ intermedi ate High/ intermedi ate 0-1 2 3 55% 49% 43% High >4 44% 40% 26% .

Oncovin. Derajat Keganasan Rendah (DKR)/indolen: Pada prinsipnya simtomatik Kemoterapi: obat tunggal atau ganda (per oral). jika dianggap perlu : COP (Cyclophosphamide. Radioterapi ini dapat dilakukan untuk lokal dan paliatif. Radioterapi: Low Dose TOI + Involved Field Radiotherapy saja . dan Prednisone) Radioterapi: LNH sangat radiosensitif.PENATALAKSANAAN Terapi yang dilakukan biasanya melalui pendekatan multidisiplin. Terapi yang dapat dilakukan adalah: 1.

2. Hydroxydouhomycin. Prednisone) Stadium II . 3. Derajat Keganasan Mengah (DKM)/agresif limfoma Stadium I: Kemoterapi (CHOP/CHVMP/BU)+radioterapi CHOP (Cyclophosphamide. radioterapi berperan untuk tujuan paliasi. Oncovin. Derajat Keganasan Tinggi (DKT) DKT Limfoblastik (LNH-Limfoblastik) Selalu diberikan pengobatan seperti Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)  Re-evaluasi hasil pengobatan dilakukan pada: setelah siklus kemoterapi ke-empat setelah siklus pengobatan lengkap .IV: kemoterapi parenteral kombinasi.

adalah seperti kepala dengan jasadnya. sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SABAR  Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.  Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman.2. .  Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran.  Sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan.

. sabar berarti menahan dan mencegah  Sedangkan dari segi istilahnya. Dari segi bahasa. sabar adalah menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi. kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

.  Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan  Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah.Bentuk-Bentuk Kesabaran Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal :  Sabar dalam ketaatan kepada Allah.

sylvia a. dkk. Buku ajar patologi edisi 7. EGC : Jakarta  Kumar. aru w.com  .eramuslim. Kapita selekta hematologi edisi 4. 2007. EGC : Jakarta  Sudoyo. a. v. 2005.DAFTAR PUSTAKA Hoffbrand. dkk. Dkk. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit. 2007. vinay dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Pusat penerbitan FKUI : Jakarta  www. EGC : Jakarta  Price. 2006.