Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH TEORI BELAJAR MOTIVASI DALAM PROSES REGULASI DIRI MAHASISWA UNTUK BELAJAR

NAMA NIM

: PUNGKY DILAKA PUTRI : 123654240

PRODI / JURUSAN : PENDIDIKAN SAINS FAKULTAS : FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap individu yang memasuki dunia perguruan tinggi untuk menjadi peserta didik atau mahasiswa, dituntut agar melakukan cara belajar yang berbeda daripada cara belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mahasiswa dituntut untuk belajar lebih mandiri dan tidak hanya bergantung pada apa yang disajikan pengajar. Selain itu, mahasiswa juga harus dapat mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang membutuhkan pengaturan waktu agar dapat diselesaikan dengan baik. Pada kenyataannya, cukup banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memenuhi pola belajar di perguruan tinggi. Misalnya, sebagian mahasiswa belum mampu melakukan pengaturan diri dan waktu dalam memenuhi tugas-tugas perkuliahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya cara belajar yang instant sehingga dalam jangka panjang proses pembelajaran menjadi kurang bermakna. Kondisi tersebut di atas disebabkan mahasiswa kurang memiliki keterampilan tentang bagaimana caranya belajar (how to learn) yang mencakup pemahaman tentang kemampuan berpikir, proses berpikir, dan motivasi untuk mencapai tujuan belajar. Kemampuan-kemampuan tersebut dalam istilah psikologi kognitif disebut dengan selfregulated learning atau regulasi diri dalam belajar. Meichenbaum menyatakan bahwa individu dapat di ajarkan untuk memantau dan mengatur perilakunya sendiri. Strategi ini digunakan untuk mengurangi perilaku mahasiswa yang mengganggu pada banyak tingkat kelas. Salah satunya pengaturan diri disini dimaksudkan sebagai sebuah usaha untuk pembuatan strategi untuk mengelola pengetahuan atau pemikiran, dimana didalamnya mencakup merencanakan, memonitor dan memodifikasi: pengetahuan, usaha dalam kuliah, serta pemahaman terhadap pembelajaran, pengingatan, dan pemahaman dari materi yang telah didapat dari kuliah (Pintrich & Groot, 1990). Pengaturan belajar individu ternyata tidak cukup untuk mendapatkan prestasi baik dalam studi, mahasiswa juga harus termotivasi untuk melaksanakan strategi yang telah

ditetapkan (Printich, Cross, Kozma & McKenzie (1986) dalam Pintrich dan Groot (1990)). Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu (Robbins, 2007), sehingga tanpa sebuah motivasi bisa dipastikan seseorang tidak akan melakukan sesuatu. Rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi sering dikaitkan dengan rendahnya motivasi belajar mahasiswa ketika sedang menuntut studi di bangku kuliah. Hal inilah yang menjadi fenomena yang terjadi dalam pendidikan di perguruan tinggi.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa? 2. Apakah ada hubungan antara regulasi diri dalam belajar dengan presentasi akademik mahasiswa?

C. Tujuan Masalah 1. Mengetahui regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa 2. Mengetahui hubungan antara regulasi diri dalam belajar dengan presentasi akademik mahasiswa

BAB II KAJIAN TEORI Teori regulasi diri merupakan salah satu perkembangan dari teori sosial kognitif. Berdasarkan teori sosial kognitif, manusia dikenal sebagai makhluk yang dapat mengorganisasi dirinya sendiri (self-organizing), proaktif, selfreflecting, dan mampu meregulasi dirinya sendiri, bukan makhluk yang reaktif, yang dibentuk dan dipengaruhi semata-mata oleh kekuatan lingkungan atau impuls-impuls dari dalam diri (Schunk & Pajares, 2005). Kemampuan regulasi diri merupakan hasil dari adanya sense of personal agency, yaitu rasa dimana seseorang menganggap dirinya bertanggung jawab atas usaha pencapaian hasil. Maka dari itu ia membuat pilihan, membuat rencana untuk tindakan, memotivasi dan mengatur jalannya rencana dan tindakan (Woolfolk, 2010). Regulasi diri didefinisikan sebagai suatu proses di mana seseorang menghasilkan pikiran, perasaan dan tindakan, merencanakan dan mengadaptasikannya secara terus-menerus untuk mencapai tujuan-tujuan personal (Zimmerman, 2000). Ia pun mengacu pada keterlibatan aktif seseorang dalam membuat tujuan, memantau dan mengevaluasi kemajuan dan, jika dibutuhkan, menyesuaikan strategi untuk mencapai tujuan (Senko & Harackiewicz, 2005). Di Indonesia, sebuah penelitian disertasi menunjukkan hasil bahwa individu yang berprestasi tinggi memiliki karakteristik pekerja keras, disiplin, prestatif, berkomitmen, mandiri, dan realistis (Markum, 1998). Sekalipun tidak secara langsung berbicara tentang regulasi diri, penemuan tersebut bersangkutan dengan self-regulatory ability.

Hal yang sama ditemukan dalam kasus siswa yang berprestasi tinggi di bidang akademik sekaligus atletik di AS. Zimmerman dan Kitsantas (2005) menemukan bahwa pencapaian prestasi membutuhkan lebih dari sekadar bakat dan pelajaran yang berkualitas, tetapi juga keyakinan diri, ketekunan, dan kedisiplinan. Hal itu menunjukkan adanya dimensi self-regulatory dalam suatu kompetensi yang sering kali tersembunyi dan luput disadari berperan besar menjadi salah satu faktor penentu prestasi. Dalam beberapa penelitian dalam konteks akademik, diketahui bahwa siswa yang berprestasi tinggi melakukan regulasi diri dalam aktivitas belajarnya (self-regulated learning). Regulasi diri mempengaruhi cara siswa menghadapi tugas akademiknya. Dalam belajar, tujuan mereka tidak sekadar mendapatkan nilai bagus (performance goal), tetapi juga mencapai penguasaan dan pemahaman materi (mastery goal) (Senko & Harackiewicz, 2005); cenderung untuk tidak melakukan prokrastinasi akademik (Rakes & Dunn, 2010) dan self-handicapping akademik (Thomas & Gadbois, 2007). Evans (2007) dalam abstrak penelitian disertasi pada siswa sekolah menengah, menyimpulkan bahwa regulasi diri bermanfaat dalam membantu siswa mencapai banyak prestasi di sekolah, termasuk prestasi sosial yang dalam hal ini adalah penyesuaian diri dengan lingkungan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa regulasi diri juga berperan dalam mengelola aktivitas sosial, di samping aktivitas belajar siswa.

BAB III PEMBAHASAN

A. Regulasi Diri dalam Belajar pada Mahasiswa


Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan (Resnani, 2004). Proses tersebut dapat menghasilkan perubahan yang positif maupun negatif. Bagi seorang mahasiswa, tentu saja mengharapkan hasil yang positiflah yang diperoleh. Untuk mencapai hal itu, tentu saja membutuhkan strategi dan kesadaran untuk mengatur diri untuk belajar atau diistilahkan dengan pengaturan diri untuk belajar atau pengaturan belajar individu (Pintrich & Groot, 1990). Pengaturan belajar individu diperlukan agar mahasiswa dapat menerapkan berbagai strategi yang dianggap baik untuk menunjang kesuksesan studi, dalam hal ini mengikuti perkuliahan.

B. Hubungan antara Regulasi Diri dalam Belajar dengan Presentasi Akademik Mahasiswa