Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tugas matakuliah Pemuliaan Tanaman. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Ir. Sri Lestari Purmaningsih, M.S. selaku dosen matakuliah Pemulian Tanaman juga kepada pihak-pihak yang ikut serta membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, masyarakat umum dan khususnya bagi penulis, serta dapat menambah ilmu dan memperluas wawasan kita.

Malang, 8 April 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan sumber daya alam dan pada umumnya mayoritas masyarakat Indonesia bermata pencahariaan dibidang pertanian. Cabai adalah salah satu komoditas sayuran yang dibudidayakan oleh banyak petani Indonesia. Tanaman cabai mempunyai nilai ekonomis tinggi dan peluang pasar yang baik, hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat Indonesia menyukai rasa pedas yang dimiliki cabai sehingga permintaan konsumen akan produksi cabai terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk. Namun, dalam beberapa akhir tahun ini produksi cabai baik dari segi kuantitas maupun kualitas terus menurun yang diakibatkan perubahan iklim secara ekstrem dan juga beberapa faktor lainnya. Dampak dari perubahan iklim secara ekstrem tidak hanya menurunkan produksi cabai, namun juga berdampak pada petani yang mengalami kerugian karena kuantitas dan kualitas produksi cabainya menurun dan pada masyarakat yang mengkonsumsi cabai sehari-harinya dikarenakan harga cabai yang melonjak dari harga sebelumnya. Dalam hal ini, pemerintah terus berusaha mencari solusi untuk mengatasi menurunnya produksi cabai dan melonjaknya harga cabai di pasaran. Salah satu solusinya adalah menyerukan kepada masyarakat Indonesia untuk menanam cabai di dalam polybag di pekarangan rumah masyarakat. Tetapi hal ini tidak dapat dibiarkan secara terus-menerus. Para petani cabai akan mengalami kerugian dan pada akhirnya berhenti untuk membudidayakan tanaman cabai. Sebagai mahasiswa pertanian, seharusnya ikut membantu pemerintah dalam menindak lanjuti permasalah tanaman cabai ini. Banyak cara yang dapat dilakukan berdasarkan ilmu pertanian, salah satunya adalah dengan memuliakan tanaman. Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Oleh karena itu, pada makalah ini, penulis ingin menciptakan kultivar baru dari tanaman cabai yang sesuai dengan permintaan konsumen terhadap produksi tanaman cabai. B. Rumusan Masalah 1. Apa saja deskripsi mengenai tanaman cabai? 2. Hal apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tanaman cabai yang ada di Indonesia saat ini? C. Tujuan Adapun tujuan yang dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui deskripsi mengenai tanaman cabai 2. Mengetahui langkah ataupun upaya dalam mengatasi permasalah tanaman cabai di Indonesia saat ini

D. Manfaat Dengan mengetahui deskripsi tanaman cabai dan upaya dalam mengatasi permasalahan tanaman cabai, diharapkan mahasiswa dapat menciptakan suatu kultivar baru dari tanaman cabai yang produksinya tinggi, memiki rasa yang pedas, tahan terhadap hama penyakit yang menyerang dan memilki adaptasi luas juga tahan terhadap iklim ekstrem sehingga dapat membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan tanaman cabai yang melanda Indonesia saat ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Tanaman Cabai 1. Sejarah Cabai merah keriting (Capsicum annum L.) termasuk famili terung-terungan (Solanaceae). Tanaman ini termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman berumur pendek. Tanaman cabai berasal dari daerah tropik Amerika dan telah tumbuh di Amerika Utara dan Amerika Selatan sejak 2000 tahun yang lalu. Pada tahun 1493, Christophorus Colombus membawa biji cabai ke Spanyol dan selanjutnya menyebar keseluruh Eropa. Tanaman ini kemudian diperdagangkan oleh Bangsa Portugis dan menyebar diseluruh dunia termasuk Indonesia (Prajnanta, 2008). Cabai merupakan komoditi sayuran yang dapat dipasarkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pangan. Cabai mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk kesehatan manusia, kandungan gizi cabai merah segar per 100 gr bahan terdiri dari protein 1 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 7,3 g, kalsium 29 mg, fosfor 24 mg, besi 0,5 mg, vit. B1 0,05 mg, vit. C 18 mg, dan air 90,9 g (Setiadi, 1997). 2. Klasifikasi dan Morfologi Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman cabai termasuk kedalam : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Capsicum Spesies : Capsicum annum L Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar ( Harpenas, 2010). Seperti tanaman yang lainnya, tanaman cabai mempunyai bagianbagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. 1. Akar Menurut Harpenas ( 2010), cabai adalah tanaman semusim yang berbentuk perdu dengan perakaran akar tunggang. Sistem perakaran tanaman cabai agak menyebar, panjangnya berkisar 25-35 cm. Akar ini berfungsi antara lain menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman. Sedangkan menurut Tjahjadi (1991) akar tanaman cabai tumbuh tegak lurus ke dalam tanah, berfungsi sebagai penegak pohon yang memiliki kedalaman 200 cm serta berwarna coklat. Dari akar tunggang tumbuh akar- akar cabang, akar cabang tumbuh horisontal

didalam tanah, dari akar cabang tumbuh akar serabut yang berbentuk kecil- kecil dan membentuk masa yang rapat. 2. Batang Batang utama cabai tegak dan pangkalnya berkayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan berwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan mencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan (Hewindati, 2006). Menurut Tjahjadi (1991) tanaman cabai berbatang tegak yang bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150 cm, merupakan tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang dibatasi dengan buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm. 3. Daun Menurut Hewindati ( 2006), daun cabai berbentuk memanjang oval dengan ujung meruncing atau diistilahkan dengan oblongus acutus, tulang daun berbentuk menyirip dilengkapi urat daun. Bagian permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda atau hijau terang. Panjang daun berkisar 9-15 cm dengan lebar 3,5-5 cm. Selain itu daun cabai merupakan Daun tunggal, bertangkai (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, petulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau. 4. Bunga Menurut Hewindati (2006), bunga tanaman cabai berbentuk terompet kecil,umumnya bunga cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu. Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak berlekatan. Disebut berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga, dasar bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Bunga cabai disebut juga berkelamin dua atau hermaphrodite karena alat kelamin jantan dan betina dalam satu bunga. Sedangkan menurut Tjahjadi (1991) bunga cabai merupakan bunga tunggal, berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari ketiak daun. Tjahjadi juga menyebutkan bahwa posisi bunga cabai menggantung. Warna mahkota putih, memiliki kuping sebanyak 5-6 helai, panjangnya 1- 1,5 cm, lebar 0,5 cm, warna kepala putik kuning. 5. Buah dan Biji Buah cabai menurut Henwidati (2006), buah cabai berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengkilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Sedangkan untuk bijinya biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa buahnya yang pedas dapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetap membutuhkannya untuk menambah nafsu makan.

3. Syarat Tumbuh Menurut Setiadi (1997), dalam bertanam cabai terdapat syarat tumbuh yang dimilki oleh tanaman cabai agar dapat tumbuh maksimal, yaitu: a. Tanah Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai keriting. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai keriting menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5.5 6.8. b. Air Tanaman cabai (cabe) memerlukan air cukup untuk menopang pertumbuhannya. Air berfungsi sebagai pelarut unsur hara, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, pengisi cairan tanaman cabai, serta membantu proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi pemberian air tidak boleh berlebihan. c. Iklim Angin sepoi-sepoi cocok untuk budidaya cabai (cabe). Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap kelebihan air. Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman cabai (cabe), berkisar antara 10 12 jam per hari. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai (tanaman cabe) 240C -280C. 4. Teknik Budidaya a. Persiapan Lahan dan Tanam Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut : Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya. Pengapuran dilakukan jika tanah yang akan ditanami cabai keriting cendrung bersifat asam Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 3040 cm, kemudian dikeringkan selama 714 hari. Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan selebar 110 120 cm, tinggi 4050 cm, dan panjang disesuaikan dengan lahan. Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang telah matang. Apabila menggunakan MPHP maka bedengan lansung dicampur dengan pupuk anorganik (Urea, ZA, SP-36, KCL atau pupuk NPK) b. Penyiapan Benih dan Pembenihan Benih dapat disemai langsung dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang, sebelumnya bumbung diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK yang dihaluskan serta Furadan. Bahan

media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam bumbungan hingga penuh. Benih cabai keriting yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua bumbung yang telah diisi benih cabai keriting disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Setelah itu segera lindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan), pemeliharaan persemaian adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air, saat tanaman muda berumur 10 15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit. 5. Pemasangan MPHP Sebelum MPHP dipasang untuk menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total sekaligus. Campuran pupuk buatan ini disebar merata dengan tanah bedengan, setelah itu tutup tanah dengan plastik MPHP. Bedengan yang telah ditutup MPHP dibiarkan dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) benih cabai keriting yang ditanam. Setelah di pasang lalu lakukan pembuatan lubang tanam dengan menggunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi diisi arang. dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. 6. Penanaman Benih cabai keriting yang siap ditanam ialah yang telah berumur 17 23 hari atau berdaun 2 4 helai. Jarak tanam untuk cabai keriting adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, benih cabai keriting yang siap dipindah tanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Setelah media semainya cukup kering, benih cabai keriting di tanam dengan kokerannya. 7. Pemeliharaan Tanaman Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi : a. Pemasangan ajir (turus) bertujuan untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah, pemasangan ajir dilakukan pada tanaman berumur 1 bulan setelah tanam hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman sewaktu memanennya. b. Penyiraman (pengairan) dilakukan pada awal pertumbuhan pada saat cabai keriting menyesuaikan diri tehadap lingkungan, maka penyiraman perlu dilakukan

secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan sesuai keadaan cuaca. c. Penempelan tunas dan bunga pertama bertujuan untuk merangsang pertubuhan tunas-tunas dan percabangan diatasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat. Dilakukan pada umur antara 7 20 hari. d. Pemupukan tambahan (susulan), sekalipun tanaman cabai keriting sudah di pupuk total pada saat akan memasang MPHP, namun untuk menyuburkan pertumbuhan yang prima dapat diberi pupuk tambahan. Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif (daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan Nitrogennya tinggi, pada saat pertumbuhan bunga dan buah (generatif) menggunakan pupuk daun yang mengandung unsur Phospor dan Kaliumnya tinggi. e. Pengendalian hama dan penyakit, salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai keriting adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai keriting karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.) berkisar antara 5% 30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai keriting diajurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, dan cara kimiawi. 8. Panen Panen cabai keriting sangat dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah, umumnya cabai keriting mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 23 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Khusus untuk sasaran ekspor, panen cabai keriting dipilih pada tingkat kemasakan 85% 90% saat warna buah merahkehitaman. Di dataran rendah, panen cabai keriting untuk tujuan ekspor dapat diatur 2 hari sekali sedangkan di dataran tinggi antara 4-6 hari sekali (Setiadi, 1997)

B. Upaya dalam Mengatasi Permasalahan Tanaman Cabai Penggunaan bibit unggul merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil pertanian. Sifat bibit unggul pada tanaman dapat timbul secara alami karena adanya seleksi alam dan dapat juga timbul karena adanya campur tangan manusia melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut seringkali tidak dapat langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak seluruhnya terdapat pada satu genotipe saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya. Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang tinggi tapi rentan terhadap penyakit, sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika seleksi diterapkan secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat unggul tersebut perlu dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen. Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara teknis, persilangan dilakukan dengan cara memindahkan tepung sari kekepala putik pada tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self polination crop) maupun pada tanaman yang menyerbuk silang (cross polination crop). Penyerbukan dapat dibedakan atas dua cara yaitu: 1. Penyerbukan sendiri Penyerbukan sendiri adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma pada bunga yang sama atau stigma dari bunga yang lain pada tanaman yang sama atau klon yang sama. Prinsip yang memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri adalah kleistogami yaitu pada waktu terjadi penyerbukan bunga yang belum mekar atau tidak terbuka, misalnya pada kedelai, padi, tembakau dan lain-lain. Jumlah penyerbukan silang yang munkin terjadi pada tanaman-tanaman tersebut berkisar antara 0% sampai 4 atau 5%. Terjadinya penyerbukan sendiri disebabkan oleh : a. Bunga tidak membuka. b. Serbuk sari sudah matang dan jatuh sebelum bunga terbuka. c. Stigma dan stamen tersembunyi oleh organ bung yang sudah terbuka. d. Stigma memanjang melalui tabung staminal segera sesudah anter membuka. e. Bunga matang serempak. Penyerbukan diawali oleh pembungaan proses ini disebut anthesis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan persilangan buatan, yaitu: 1. Periode bunga tertua jantan dan betina Pengaturan waktu tanam yang perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga saat keluarnya bunga hampir serentak antara kedua tetua yang disilangkan. 2. Waktu emaskulasi dan persilangan. (Nasir, 2001)

Metode pemuliaan yang terbukti telah berhasil terhadap spesies perbanyakan sendiri berada pada kategori sebagai berikut : 1. Seleksi untuk populasi campuran a. Seleksi galur murni Seleksi ini digunakan untuk memilih varietas baru dari varietas yang dahulu telah melewati petani dari generasi ke generasi. Sebagian besar tanaman diseleksi dari varietas tersebut dan dapat diharapkan bersifat homozigot dan inilah titik awal dari perkembangan pemuliaan. b. Seleksi massal Seleksi ini berbeda dengan seleksi galur murni dalam jumlah tanaman dimana tidak hanya sebatang yang diseleksi untuk mendapatkan varietas baru. Varietas yang dikembangkan dengan cara ini mencakup beberapa genotipe yang lebih banyak dibandingkan populasi induknya. 2. Seleksi untuk populasi hasil hibridisasi a. Metode silsilah (pedigree) Metode ini disebut pedigree atau silsilah karena dilakukan pencatatan pada setiap anggota populasi bersegregasi dari hasil persilangan. b. Metode curah (bulk) Metode ini digunakan untuk membentuk galur homzigot dari populasi bersegregasi melalu selfing pollinated selama beberapa generasi tanpa seleksi. c. Metode silang balik (back cross) Dalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan terhadap sifat karakteristik yang sedang dipindahkan dari satu donor induknya.(Allard, 1992) 2. Penyerbukan silang Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda. Contoh dari persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar ,dan lainlain. Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh: a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri. b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik. c. Sterilitas dan inkompatibilitas d. Adanya bunga monoecious dan dioecious. Jagung adalah tipe monoecious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. Ada perbedaan besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan pengontrolan polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai sifat tidak serasi dan dapat dikawinkan tanpa adanya kesulitan terhadap sifat yang tidak cocok (Poespodarsono, 1988) Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan silang antara lain: 1. Seleksi massal Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macam varietas yang disilangkan. Dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya.

2. Pemuliaan persilangan kembali Metode ini digunakan dengan species persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan species yang berpolinasi sendiri. 3. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragaman yang mencirikan hibrid F1 diantara genotipe tertentu. Tipe genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain, dan varietas. 4. Seleksi berulang Seleksi yang diulang, genotipe yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan. 5. Pengembangan varietas buatan. (Allard, 1992). Keberhasilan persilangan sangat ditentukan oleh pemulia tanaman mengenai tehnik persilangan itu sendiri maupun pada pengetahuan akan bunga, misalnya: *. Stuktur bunga. *. Waktu berbunga. *. Saat bunga mekar. *. Kapan bunga betina siap menerima bunga jantan (tepung sari). *. Tipe penyerbukan. Berdasarkan tujuan yang penulis sebutkan dalam makalah ini, maka varietas yang akan penulis gunakan merakit varietas unggul baru adalah varietas hasil hibridisasi dan introduksi. Introduksi adalah mendatangkan tanaman dari tempat yang berbeda (antar kota atau antar negara, antar lembaga). Sementara hibridisasi adalah persilangan buatan yang dilakukan antar tanaman dalam satu spesies, antar spesies dalam satu genus, antar genus atau kerabat liarnya yang bertujuan untuk mendapatkan kombinasi genetik yang diinginkan dari beberapa tetua. Adapun deskripsi mengenai varietas unggul yang penulis gunakan sebagai berikut. Cabai Keriting Varietas Puteri Merupakan varietas introduksi dari India hasil hibridisasi HP 135 X HP 170; tinggi tanaman 104127 cm; ukuran buah 1213 cm (panjang); 0,8-1,3 cm, warna buah merah mengkilat; memiliki rasa pedas; tanaman tahan terhadap curah hujan tinggi/kelembaban tinggi; umur panen genjah (80-88 hst); daya simpan hingga 10 hari hst dan beradaptasi dengan baik di dataran rendah tinggi (Hewindati, 2006). Cabai Keriting Hibridisasi Merupakan varietas hibridisasi dari Indonesia dari produsen PT East West Seed Indonesia (Panah Merah), cocok untuk dataran rendahtinggi; tipe pertumbuhan tegak, kompak, dan seragam; jumlah cabang banyak dan produktif; bentuk buah kerucut dan langsing; warna buah merah cerah; panjang buah 1415 cm; toleran terhadap antraknosa dan layu bakteri; panen umur 110115 hst (Tarigan dan Wiryanta, 2003)

BAB III METODOLOGI

Berdasarkan tujuan yang penulis sebutkan dalam makalah ini, maka metodologi yang akan penulis gunakan untuk membuat kultivar unggul baru tanaman cabai adalah metode curah (bulk) karena varietas yang penulis gunakan untuk merakit varietas unggul baru adalah varietas hasil hibridisasi dan introduksi. Adapun langkah kerjanya: 1. Hibridisasi
Cabai keriting var. Puteri Cabai keriting var. Salero

Varietas baru yang diharapkan

2.

Metode curah

BAB IV PEMBAHASAN

Pada proses hibridisasi hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan tetua. Pemilihan tetua sesuai keinginan pemulia berdasarkan sifat apa yang ingin diturunkan/diwariskan ke generasi selanjutnya. Pada makalah ini, penulis ingin menurunkan sifat umur panen genjah, daya adaptasi luas, daya simpan setelah panen lama, dan tahan hujan dari cabai keriting varietas puteri ke generasi selanjutnya dan menurunkan sifat tanaman tumbuh tegak, kompak, seragam, ukuran buah lebih besar dan lebih pedas, tanaman tahan antraknosa dan layu bakteri dari cabai keriting varietas salero ke generasi selanjutnya. Setelah tahap pemilihan tetua dilakukan emaskulasi yaitu pembuangan alat kelamin jantan pada tetua yang ditujukan sebagai tetua betina. Selanjutnya adalah tahap penyerbukan yang dilakukan oleh manusia dan setelah itu membungkus bunga agar tidak terkontaminasi oleh benang sari dari bunga lain. Kemudian dilakukan pelabelan dari persilangan. Setelah F1 dihasilkan, F1 ditanam didalam rumah kaca. Pada metode bulk tidak dilakukan pemisahan atau seleksi pada generasi awal. Tanaman segregasi dibiarkan tumbuh bercampur dalam populasi, sehingga memungkinkan terjadi persilangan diantara genotipa berbeda. Metode ini memerlukan lebih sedikit pekerjaan dibanding metode pedigree. Setelah seleksi dilakukan hanya generasi lanjut setelah tanaman banyak yang homosigot. Selama tumbuh bercampur dalam suatu populasi, pertama akan terjadi seleksi alam, sehingga tanaman yang tidak tahan menghadapi cekaman lingkungan akan tertinggal pertumbuhannya atau mati. Kedua terjadi peningkatan genetik akibat kemungkinan perubahan silang.Tahap selanjutnya tanaman generasi F2 ditumbuhkan pada petak relatif besar dengan jumlah tanaman ratusan sampai ribuan. Dapat ditanam dengan jarak komersial (sempit). Biji tanaman terseleksi dipanen dan dicampur diadikan benih untuk generasi berikutnya. Generasi F3 dipanen secara bulk dan bijinya dicampur. Sebagian bijinya dijadikan benih untuk generasi berikutnya. Proses seperti generasi F3 diulangi sampai F5, yakni dengan maksud memperoleh proporsi homosigot relatif besar pada populasi, setelah itu baru dilakukan sekeksi secara individual. Biji tanaman terseleksi ditanam dalam barisan atau petakan. Setelah itu dilanjutkan seleksi secara individual, sehingga diperoleh galur yang diharapkan. Galur harapan diuji beberapa lokasi dan musim untuk mengetahui daya adaptasinya. Setelah dilakukan uji lokasi dan musim dan varietas baru dianggap sudah memenuhi criteria varietas dapat dilepas menjadi varietas unggul baru.

BAB V KESIMPULAN

Tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) termasuk famili terungterungan (Solanaceae). Tanaman ini termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman berumur pendek dan menyerbuk sendiri.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman cabai adalah dengan hibridisasi varietas-varietas unggul yang dapat memenuhi permintaan konsumen

Persilangan pada tanaman cabai dapat dilakukan dengan beberap metode sesuai keinginan pemulia Metode pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri 1. Seleksi untuk populasi campuran a. Seleksi massa b. Seleksi galur murni 2. Seleksi untuk populasi hasil hibridisasi a. Metode silsilah (pedigree) b. Metode curah (bulk) c. Metode silang balik (back cross)

DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W. 1992. Metode Penyerbukan. Jakarta: Gramedia Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya. Hewindati, Yuni Tri dkk. 2006. Hortikultura. Jakarta: Universitas Terbuka Nasir, M. 2001. Proses Penyerbukan Tanaman Kedelai. Jakarta: Erlangga Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Bogor : IPB-Press Prajnanta, F. 2008. Agribisnis Cabai Hibrida. Jakarta: PT Penebar Swadaya Setiadi. 1997. Bertanam Cabai. Jakarta: PT Penebar Swadaya Tjahjadi, Nur. 1991. Seri Budidaya: Cabai. Yogyakarta: Kanisius Tarigan, S. dan Wiryanta, W. 2003. Bertanam Cabai Hibrida secara Intensif. Jakarta: PT Agromedia Pustaka

MAKALAH

REKAYASA TANAMAN Capsicum annum L. DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN CABAI DI INDONESIA
(Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemuliaan Tanaman) Dosen: Ir. Sri Lestari Purmaningsih, M.S.

Disusun oleh:

Oleh: Ajla Safira 125040200111188

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013