Anda di halaman 1dari 2

a.

Kerja kanalis semisirkularis lateral Pada praktikum ini mahasiswa (objek) diputar pada kursi putar dengan menundukkan kepala 30 dan memejamkan mata untuk mengetahui sensasinya terhadap perputaran lambat, agak cepat dan lambat kembali. Dengan memejamkan mata maka Hasil yang didapatkan adalah pada perputaran lambat adalah sensasi putar masih searah perputaran, pada perputaran agak cepat objek terasa berputar ke kanan. Ketika perputaran melambat, objek merasa agak pusing dan bumi terasa berputar ke kiri (arah putaran objek ke kanan). Pada saat percobaan objek duduk di kursi putar dengan kepala tertunduk dengan sudut 30 timbul sensasi putar yang searah arah putar kursi yakni ke kanan, maka sensasi yang terasa terjadi karena endolimfe berputar dalam sepasang kanalis semisirkularis yang telah ditempatkan dalam bidang horizontal dari rotasi. Bila rotasi kursi itu dihentikan secara tiba-tiba, endollimfe terus berputar di dalam sepasang kanalis semisirkularis yang telah ditempatkan dalam bidang horizontal, aliran endolimfe ini menyebabkan kupula melentur ke arah rotasi. Sebagai akibatnya, terjadi nistagmus, yaitu gerakan bergulir tiba-tiba ke depan dan kemudian gerakan lambat ke belakang, dengan komponen lambat dalam arah rotasi dan komponen cepat dalam arah sebaliknya. Selama berlangsungnya nistagmus tersebut (kirakira 15 20 detik), objek merasakan bahwa ia sedang berputar dalam arah sebaliknya dengan arah pemutaran sebenarnya di atas kursi tersebut. Nistagmus terjadi karena kanalis semisirkularis dirangsang berputar ke kanan, sehingga gerakan cairan endolimfe ke belakang di dalam kanalis horizontal kiri dan gerakan ke depan di dalam kanalis horizontal kanan. Pada saat kecepatan menurun batang otak merangsang nukleus nervus abdusen menyebabkan objek merasa berputar ke kiri. Ketika kepala membungkuk 30, kedua kanalis semisirkularis lateral (eksternal) kira-kira terletak horizontal permukaan bumi, makula dalam utrikulus dan sakulus khusus untuk mendeteksi

posisi kepala berkenaan dengan arah tarik gravitasi bila kepala tersebut dalam posisi hampir vertikal. Pada pembungkukan 30 posisi kepala tepat hampir vertikal sehingga sensasi keseimbangan yang timbul masih dikatakan normal dan dapat dijadikan kontrol untuk percobaan selanjutnya. b. Kerja Semisirkularis Anterior dan Posterior Pada percobaan ini sama dengan percobaan sebelumnya, namun kedua tangan objek dipegang erat dan kepal dimiringkan 120 ke kanan dengan arah putar ke kanan (searah jarum jam). Objek merasakan sensasi bumi berputar ke kanan pada perputaran lambat, pada perputaran lebih cepat, objek merasakan sensasi bumi berputar oleng atau naikturun ke kiri dan ke kanan. Ketika dilambatkan kembali objek terasa jatuh terdorong ke belakang dan merasakan pusing hingga keluar keringat dingin. Penggunaan sudut 120 dikarenakan ketika kepala makin miring dari posisi tegak lurus, penentuan orientasi kepala oleh sensasi vestibular menjadi makin buruk. Bila kepala tiba-tiba mulai berotasi endolimfe di dalam kanalis semisirkularis membranosa karena kelembamannya cenderung untuk tetap tidak bergerak, sedangkan kanalis semisrkularis berputar sehingga arah aliran cairan endolimfe berlawanan dengan arah rotasi kepala. Hal inilah yang menyebabkan objek merasakan sensasi berputar searah putaran. Pada perputaran cepat kanalis semisirkularis memberitahukan objek akan peningkatan rotasi sehingga rotasi yang cepat menyebabkan pergesekan di dalam kanalis semisirkularis menyebabkan endolimfe berputar secepat kanalis tersebut. Aliran endolimfe ini akan mendesak sel-sel rambut pada kupula untuk mengirimkan rangsang ke sistem saraf sehingga timbul sensasi bahwa objek merasakan hilang keseimbangan akibat aparatus vestibularis tidak mampu mendeteksi posisi kepala. Ketika perputaran dilambatkan hingga berhenti maka akan memberikan respon negatif pada kanalis semisirkularis untuk berhenti, sementara itu endolimfe

terus berotasi. Saat ini kupula melentur ke arah yang berlawanan, sehingga menyebabkan sel rambut sama sekali berhenti mencetuskan impuls, akibatnya objek merasakan ingin jatuh karena aparatus vestibularis tidak mampu lagi mendeteksi posisi kepala untuk beberapa saat.

Kesimpulan Katak termasuk hewan poikiloterm, dimana suhu tubuhnya ditentukan oleh keseimbangannya dengan kondisi lingkungannya, dan berubah-ubah seperti berubahubahnya kondisi suhu lingkungan. Labirin berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh karena memiliki organ-organ vestibular (sakulus,utrikulus, dan kanalis semisirkularis). Sakulus dan utrikulus dikhususkan untuk mendeteksi posisi kepala terhadap arah tarik gravitasi bila kepala dalam posisi hampir vertikal. Kanalis semisirkularis berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan akibat percepatan sudut. Pada saat objek berotasi dengan cepat terjadi nistagmus karena terjadi gerakan endolimfe yang berlawanan arah dengan arah percepatan sudut.

F. Daftar Pustaka Ganong, William F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Edisi 20). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC