Anda di halaman 1dari 23

http://en.wikipedia.

org/wiki/Setsubun

Setsubun
Setsubun (?, pembagian musim) adalah nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim: risshun, rikka, rish, dan ritt. Istilah "setsubun" sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum risshun(hari pertama musim semi) sekitar tanggal 3 Februari, sedangkan hari-hari setsubun yang lain sudah terlupakan.

Sejarah
Pada zaman kuno, perayaan setsubun adalah perayaan tahunan di istana kaisar. Menurut buku Engishiki, berbagai macam boneka dari tanah liat yang sudah diberi warna dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana. Boneka-boneka yang dibuat berbentuk seperti anak-anak dan sapi. Tradisi mengusir Oni di hari setsubun konon berakar dari upacara Tsuina yang sudah dikenal sejak zaman Heian. Upacara Tsuina berasal dari daratan Tiongkok dan dilakukan di hari terakhir dalam setahun menurut kalender Tionghoa. Di zaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sardinyang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa daerah di Jepang, orang menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oniyang dipercaya lahir pada hari setsubun.

Tradisi
=Melempar kacang Kacang kedelai yang sudah digongseng matang dilempar-lemparkan ke arah oni. Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni yang terkena lemparan kacang konon bakal kabur

karena kesakitan. Kacang kedelai juga dimakan setelah dihitung jumlahnya agar sama dengan usia orang yang memakan. Tradisi setsubun merupakan perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dengan upacaraMamemaki (melempar kacang) yang bertujuan serupa di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kacang kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah sesuai dengan selera orang zaman sekarang. Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucap mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Oni di luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi "Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar)," atau kedua belah pihak diminta masuk ke dalam. Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji "Oni" (?, jin) seperti "Onizuka" atau "Kit," mantera juga tidak mengusir "Oni" ke luar. Beberapa pekan menjelang hari setsubun, toko-toko swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame) di tempat khusus yang gampang dilihat pembeli. Kacang dijual dengan hadiah topeng bergambar Oni untuk dipakai sang ayah atau orang lain di rumah yang berperan sebagai oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah. Di sekolah-sekolah dasar dilakukan upacara melempar kacang yang dilakukan murid berusia 12 tahun, karena memiliki shio yang sama dengan shio untuk tahun yang berjalan. Kuil agama Buddha dan Shinto yang bekerjasama dengan taman kanakkanak dantempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita). Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut. -Makan sushi Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut Ehmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan.

Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi di hari setsubun. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji. Di awal zaman Showa, iklan tradisi memakan sushi di hari setsubun (marukaburi zushi) mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi. Seusai Perang Dunia II, tradisi makan sushi di hari setsubun sempat terhenti hingga tahun 1974. Pada tahun itu, pedagang nori di kota Osaka mengadakan lomba cepatcepatan makan norimaki. Di tahun 1977, asosiasi pedagang nori Osaka kembali menghidupkan tradisi memakan sushi di hari setsubun dengan mengadakan acara promosi penjualan nori.

Setsubun (?, Bean-Throwing Festival or Bean-Throwing Ceremony) is the day before the beginning of each season in Japan.[1][2] The name literally means "seasonal division", but usually the term refers to the spring Setsubun, properly called Risshun () celebrated yearly on February 3 as part of the Spring Festival ( haru matsuri?). In its association with the Lunar New Year, Spring Setsubun can be and was previously thought of as a sort of New Year's Eve, and so was accompanied by a special ritual to cleanse away all the evil of the former year and drive away disease-bringing evil spirits for the year to come. This special ritual is called mamemaki (, lit. bean throwing).

Mamemaki
Mamemaki (Bean-Throwing) is usually performed by the toshiotoko () of the household (i.e., the male who was born on the corresponding animal year on the Chinese zodiac), or else the male head of the household. Roasted soybeans (called fuku mame(?)) are thrown either

out the door or at a member of the family wearing an Oni(demon or ogre) mask, while the throwers chant "Oni wa soto! Fuku wa uchi!" (! !).[3] The words roughly translate to "Demons out! Luck in!" The beans are thought to symbolically purify the home by driving away the evil spirits that bring misfortune and bad health with them. Then, as part of bringing luck in, it is customary to eat roastedsoybeans, one for each year of one's life, and in some areas, one for each year of one's life plus one more for bringing good luck for the year to come.[4]

Other practices
At Buddhist temples and Shinto shrines all over the country, there are celebrations for Setsubun. Priests and invited guests will throw roasted soy beans (some wrapped in gold or silver foil), small envelopes with money, sweets, candies and other prizes. In some bigger shrines, even celebrities and sumo wrestlers will be invited; these events are televised nationally. Many people will come, and the event turns wild, with everyone pushing and shoving to get the gifts tossed from above. It is customary now to eat uncut makizushi called EhoMaki () (lit. "lucky direction roll") in silence on Setsubun while facing the yearly lucky compass direction, determined by the zodiac symbol of that year. Charts are published and occasionally packaged with uncut makizushi during February. Some families will also put up small decorations of sardine heads and holly leaves on their house entrances so that bad spirits will not enter.

Regional variations
While the practice of eating makizushi on Setsubun is historically only associated with the Kansai area of Japan, the practice has become popular nationwide due largely to marketing efforts by grocery and convenience stores. In the Tohoku area of Japan, the head of the household (traditionally the father) would take roasted beans in his hand, pray at thefamily shrine, and then toss the sanctified beans out the door. Nowadays peanuts (either raw or coated in a sweet, crunchy batter) are sometimes used in place of soybeans. There are many variations on the famous Oni wa soto, fuku wa uchi chant. In the Nihonmatsu area of Fukushima Prefecture, the chant is shortened to " ! !" (Oni soto! Fuku wa uchi!). And in the city of Aizuwakamatsu, people chant "" (Oni no medama buttsubuse!), lit. "Blind the demons' eyes!".

Celebrities throw roasted beans in Ikuta Shrine, Kobe

Setsubun, Tokuan Shrine

Lichun
The traditional East Asian calendars divide a year into 24 solar terms (). Lchn (pnyn)or Risshun (rmaji) (Chinese and J apanese: ; Korean: ; Vietnamese: Lp xun; literally: "start of spring") is the 1st solar term. It begins when the Sun reaches the celestial longitude of 315 and ends when it reaches the longitude of 330. It more often refers in particular to the day when the Sun is exactly at the celestial longitude of 315. In theGregorian calendar, it usually begins around February 4 and ends around February 18 (February 19 East Asia time).

Lixia
The traditional East Asian calendars divide a year into 24 solar terms (). Lxi (pnyn)or Rikka (rmaji) (Chinese and Japane se: ; Korean: ; Vietnamese: Lp h; literally: "start of summer") is the 7th solar term. It begins when the Sun reaches the celestial longitude of 45 and ends when it reaches the longitude of 60. It more often refers in particular to the day when the Sun is exactly at the celestial longitude of 45. In

theGregorian calendar, it usually begins around May 5 and ends around May 21. Lixia signifies the beginning of summer in East Asian cultures.

Liqiu
The traditional East Asian calendars divide a year into 24 solar terms (). Lqi (pnyn)or Rissh (rmaji) (Chinese and Japa nese: ; Korean: ; Vietnamese: Lp thu; literally: "start of autumn") is the 13th solar term. It begins when the Sun reaches thecelestial longitude of 135 and ends when it reaches the longitude of 150. It more often refers in particular to the day when the Sun is exactly at the celestial longitude of 135. In the Gregorian calendar, it usually begins around August 7 and ends around August 23. Liqiu signifies the beginning of autumn in East Asian cultures.

Lidong
The traditional East Asian calendars divide a year into 24 solar terms (). Ldng (pnyn)or Ritt (rmaji) (Chinese and Japa nese: ; Korean: ; Vietnamese: Lp ng; literally: "start of winter") is the 19th solar term. It begins when the Sun reaches thecelestial longitude of 225 and ends when it reaches the longitude of 240. It more often refers in particular to the day when the Sun is exactly at the celestial longitude of 225. In the Gregorian calendar, it usually begins around November 7 and ends around November 22. Lidong signifies the beginning of winter in East Asian cultures.

http://www.japan-guide.com/e/e2285.html

Setsubun ("seasonal division") is a festival held on February 3 or 4, one day before the start of spring according to the Japanese lunar calendar. Setsubun is not a national holiday. For many centuries, the people of Japan have been performing rituals with the purpose of chasing away evil spirits at the start of spring. Around the 13th century, for example, it became a custom to drive away evil spirits by the strong smell of burning dried sardine heads, the smoke of burning wood and the noise of drums. While this custom is not popular anymore, a few people still decorate their house entrances with fish heads and holy tree leaves in order to deter evil spirits from entering. In modern days, the most commonly performed setsubun ritual is the throwing of roasted beans around one's house and at temples and shrines across the country. When throwing the beans, you are supposed to shout "Oni wa soto! Fuku wa uchi!" ("Devils out, happiness in"). Afterwards you should pick up and eat the number of beans, which corresponds to your age.

As all traditional festivals, setsubun is celebrated in many variations throughout the country.

http://www2.gol.com/users/stever/setsubun.htm

Get Out Ogre! Come In Happiness! Setsubun in Japan; A Lunar "New Years' Eve"
By Steve Renshaw and Saori Ihara

February, 2000 (Revised January 2011)

On February 3rd of 2011, Setsubun will be celebrated throughout Japan. Falling at the end of the period defined by the solar principal term Daikan (Severe Cold), Setsubun occurs one day before the sectional term Risshun (Spring Begins). The setsu of Setsubun (literally "sectional separation") originally referred to the eve of any of the 24 divisions of the solar year (see The Lunar Calendar in Japan for an explanation of these divisions). However, theSetsubun associated with "Spring Begins" gained significance as a symbol of Toshi Koshi (year passing) or Jyo Jitsu (accepting the old year) by marking the completion of the cycle of the 24 divisions of the solar year. Only this Setsubun is still marked on the official calendar. Setsubun achieved the status of an imperial event and further took on symbolic and ritual significance relative to its association with prospects for a "returning sun", associated climatic change, renewal of body and mind, expulsion of evil, symbolic rebirth, and preparation for the coming planting season. Customs surrounding this day apparently date as early as the Ming Dynasty in China, and in Japanese form, began to take shape in the Muromachi Era (1392-1573), that era of Japanese history in which the country saw little internal peace but in which such

customs as tea ceremony and other genteel arts and practices so often associated with Japan developed. Setsubun generally always precedes the lunar New Year, and in the ancient ideal was often actually referred to as New Years' Eve. In 2008, solar and lunar cycles coincided enough to make the ideal almost real in that February 4th marked Risshun (Spring Begins), and February 7th was the actual lunar New Year in both China and Japan. In 2011, Setsubun actually occurs on the lunar New Year (February 3), making the ideal again very close. Setsubun has been celebrated in many ways, but perhaps the most common custom found throughout Japan is the traditional Mame Maki or the scattering/throwing of beans (mame) to chase away the evil oni (ogres, evil spirits, as depicted in the illustration which heads this article). In some ritual forms, the Toshi Otoko [literally "year man" but referring either to the "man of the house" or to men who are born in the animal sign of the coming year (rabbit for the year 2011)] will throw mame within the house or at someone perhaps dressed as oni and repeat the saying Oni wa Soto; Fuku wa Uchi(Get out Ogre! Come in Happiness!). After the ritual throwing of the beans, family members may then pick up the number of beans corresponding to their age; eating these brings assurance of good fortune in the coming year. These days, of course, it is not uncommon to see children dressed in masks of oni, others madly throwing beans, and all gleefully shouting for evil to hit the road. Prominent temples in Japan may also find monks or celebrities showering large crowds of people with mame to ward off spirits and welcome the renewal of the coming New Year.

Depiction of an Edo Era celebration of Setsubun. The Toshi Otoko (left) throws beans about family members of the house to chase away evil. (From Sasama, 1995) Several stories relate to the origin of throwing beans at Setsubun, but perhaps one of the most famous can be seen in a Kyougen (No Comedy) performed at Mibu Temple in Kyoto. Roughly translating (and perhaps with a bit of poetic license) the plot of this play goes something like this: One day an ogre disguised himself and came to the house of an old widow. He possessed a magic mallet, and with it, he fashioned a beautiful kimono. Temptation got the best of the old widow, and she succumbed to its beauty. She plotted to steal it away from the ogre by getting him drunk. Not satisfied with just the kimono, she thought she would get the magic mallet as well. Surprised by the abrasive greed of the old woman, the ogre revealed his true self. So scared, the old widow got hysterical and starting throwing the first thing handy, a bunch of beans she had on hand. They must have hurt, because the ogre fled the scene leaving the widow without her greedy desires but nonetheless wiser and healthier. Other celebrations of Setsubun involve eating Nori Maki, a special sushi roll. Particularly in Western Japan, many may face a "lucky direction" (in geomantic form) and try to eat the entire sushi roll without saying a word. Those who are able to accomplish this feat (the roll is about 20 cm long) are promised luck with their

business, longevity, and freedom from illness. In Osaka, where this tradition appears to have originated, some people say the practice started when a young Geisha ate the tasty delicacy in order to assure she would be with her favorite lover in the coming year. In some areas, the Nori Maki is made with a stuffing of seven colors which represent Shichi Fukujin (seven gods of happiness). These gods can be seen in the illustration of "happiness beans" below.

Fuku Mame (Happiness Beans) are sold at Setsubun. Beans such as these may chase many an ogre away. This particular brand also sports images ofShichi Fukujin (the Japanese seven gods of happiness) sailing merrily along. On the night of Setsubun, many Japanese will decorate a holy tree in front of their houses with a head of a sardine, a clove of garlic, or an onion. Such talismans are designed to keep the oni away as the New Year approaches (though the neighbor's cat may not be so intimidated). Oni are said to be stung by the leaf of the holy tree (a vitalistic Shinto symbol in its own right) and thus keep their distance from the home for the coming year. In more ancient times, with a Chinese based lunar calendar superimposed on indigenous ritual, the seasonal significance of Setsubun was more pronounced, incorporating traditional values of lineality, optimism, and vitality in ritual behavior and in ritual objects themselves. Beans, seeds, the source of life... rice rolled in seaweed, fruits of land and sea... all used to ward off coming evil and insure future

productivity... objects whose ingestion assured vitality and purification. The centrality of this "last event of the year" and its implication for activities of a culture dependent upon an agrarian and marine base still hold at least symbolic significance for many in Japan. These days, because of its solar orientation, Setsubun is one of the few festivals celebrated in Japan relative to actual astronomical reckoning, although most young Japanese have no idea that there is any incongruence throwing beans on a day occurring over a month past their memory of a Gregorian New Year. Of course, when a luni-solar calendar was in actual use, another source of confusion regarding Setsubun occurred. As mentioned in our article on The Lunar Calendar in Japan, years with leap months could contain 383-385 days. "Leap" years could thus often have 2 "Spring Begins", one at the beginning of the year and another at the end or 12th month. The confusion of having two "New Years' Eves" was eloquently described by famed poet Motokata Arihara inKokinshu (see Watanabe, 1994), although our translation does not do justice to his dry wit: Before the year is over "Spring Begins" comes The year is not over It is still the year Oni wa Soto! Fuku wa Uchi!

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www2.gol.com/users/stever/setsubun.ht m&ei=QmEgTeXjG86srAfJkKyRDA&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CDkQ7gEwAg&prev= /search%3Fq%3Dsetsubun%26hl%3Did%26biw%3D1167%26bih%3D762%26prmd%3Divns

Pada tanggal 3 Februari 2011, Setsubun akan dirayakan di seluruh Jepang. Jatuh pada akhir periode didefinisikan oleh surya utama jangka Daikan (parah Dingin), Setsubun terjadi satu hari sebelum masa penampang Risshun (Spring Begins). The setsu dari Setsubun (harfiah "pemisahan sectional") pada awalnya merujuk pada malam salah satu divisi dari 24 tahun matahari (lihat Kalender Lunar di Jepang untuk penjelasan divisi tersebut). Namun, Setsubunterkait dengan "Spring Begins" mendapatkan arti sebagai simbol Toshi Koshi (melewati tahun) atau Jyo Jitsu (menerima tahun lama) dengan menandai selesainya siklus dari 24 divisi dari tahun matahari. Hanya ini Setsubun masih ditandai di kalender resmi. Setsubun mencapai status suatu peristiwa kekaisaran dan selanjutnya mengambil makna simbolis dan ritual relatif terhadap hubungan dengan prospek untuk sebuah "matahari kembali", terkait perubahan iklim, pembaharuan tubuh dan pikiran, pengusiran kejahatan, kelahiran kembali simbolik, dan persiapan untuk musim tanam mendatang. Bea Cukai sekitarnya hari ini ternyata tanggal pada awal Dinasti Ming di Cina, dan dalam bentuk Jepang, mulai terbentuk di Era Muromachi (1392-1573), bahwa zaman sejarah Jepang di negara mana melihat sedikit ketenangan internal tetapi di mana kebiasaan seperti upacara minum teh dan seni sopan lainnya dan praktek sehingga sering dikaitkan dengan Jepang dikembangkan. Setsubun umumnya selalu mendahului Tahun Baru lunar, dan di ideal kuno sering sebenarnya disebut sebagai Tahun Baru 'Eve. Pada tahun 2008, dan siklus lunar bertepatan surya cukup untuk membuat ideal hampir nyata di 4 Februari Risshun ditandai (Spring Begins), dan 7 Februari merupakan Tahun Baru sebenarnya bulan di China dan Jepang. Pada tahun 2011, Setsubun sebenarnya terjadi pada bulan Tahun Baru (3 Februari), membuat ideal lagi sangat dekat. Setsubun telah dirayakan dalam banyak hal, tapi mungkin kebiasaan yang paling umum ditemukan di seluruh Jepang adalah Mame tradisional Maki atau menyebarkan / lempar kacang (mame) untuk mengusir oni jahat (raksasa, roh jahat, seperti digambarkan dalam ilustrasi yang kepala artikel ini). Dalam beberapa bentuk ritual, Toshi Otoko [harfiah "manusia tahun" tetapi mengacu baik kepada "orang rumah" atau pria yang lahir di tanda hewan tahun yang akan datang (kelinci untuk tahun 2011)] akan melemparkan mame dalam rumah atau pada seseorang mungkin berpakaian sebagai oni dan ulangi Onimengatakan wa Soto; Fuku wa Uchi (Keluar Ogre! Datang di Kebahagiaan). Setelah ritual lempar kacang, anggota keluarga kemudian dapat mengambil jumlah biji sesuai dengan usia mereka; makan ini membawa jaminan nasib baik di tahun mendatang. Hari-hari ini, tentu saja, tidak jarang melihat anak-anak mengenakan topeng oni, yang lain liar melempar kacang-

kacangan, dan semua berteriak gembira untuk jahat untuk memukul jalan. Kuil terkemuka di Jepang juga dapat menemukan bhikkhu atau selebriti mandi kerumunan besar orang dengan mame untuk menangkal roh dan menyambut pembaruan Tahun Baru mendatang.

Penggambaran dari sebuah perayaan Era Edo dari Setsubun. The Otoko Toshi (kiri) melemparkan kacang tentang anggota keluarga rumah untuk mengusir kejahatan. (Dari Sasama, 1995) Beberapa cerita berkaitan dengan asal melempar kacang pada Setsubun, tapi mungkin salah satu yang paling terkenal dapat dilihat dalam Kyougen (NoKomedi) dilakukan di Mibu Kuil di Kyoto. Sekitar menerjemahkan (dan mungkin dengan sedikit lisensi puitis) plot bermain ini berjalan seperti ini: Suatu hari seorang raksasa menyamar dan datang ke rumah seorang janda tua. Dia memiliki palu sihir, dan dengan itu, ia kuno kimono yang indah. Godaan mendapatkan yang terbaik dari janda tua, dan dia menyerah pada keindahannya. Dia berencana untuk mencurinya jauh dari si ogre dengan mendapatkan dia mabuk. Tidak puas dengan hanya kimono, ia berpikir ia akan mendapatkan palu sihir juga. Terkejut oleh keserakahan abrasif dari wanita tua, si ogre nya mengungkapkan diri sejati. Jadi takut, janda tua itu histeris dan mulai melemparkan hal pertama berguna, sekelompok kacang dia di tangan. Mereka harus telah menyakiti, karena si ogre melarikan diri dari TKP meninggalkan janda tanpa keinginan serakah, tapi tetap bijaksana dan sehat. perayaan lain Setsubun melibatkan makan Nori Maki, sushi roll khusus. Khususnya di Barat Jepang, banyak mungkin menghadapi "arah beruntung" (dalam bentuk

geomantic) dan mencoba untuk makan sushi roll seluruh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka yang mampu mencapai prestasi ini (roll adalah sekitar 20 cm) yang dijanjikan keberuntungan dengan bisnis mereka, umur panjang, dan kebebasan dari penyakit. Di Osaka, di mana tradisi ini tampaknya berasal, beberapa orang mengatakan praktek dimulai ketika seorang Geisha muda makan kelezatan lezat untuk memastikan ia akan dengan kekasih favoritnya di tahun mendatang. Di beberapa wilayah, Maki Nori dibuat dengan isian dari tujuh warna yang mewakili Shichi Fukujin (tujuh dewa kebahagiaan). Dewa ini dapat dilihat dalam ilustrasi tentang "kacang kebahagiaan" di bawah.

Fuku Mame (Kacang Kebahagiaan) dijual di Setsubun. Kacang seperti ini dapat mengejar raksasa banyak yang pergi. Merek tertentu ini juga olahraga gambar Shichi Fukujin (tujuh Jepang dewa kebahagiaan) berlayar riang bersama. Pada malam Setsubun, Jepang banyak akan menghiasi pohon suci di depan rumah mereka dengan kepala sarden, sebuah siung bawang putih, atau bawang.jimat tersebut dirancang untuk menjaga oni jauh sebagai pendekatan Tahun Baru (meskipun tetangga kucing mungkin tidak begitu terintimidasi). Onidikatakan disengat oleh daun pohon suci (simbol Shinto vitalistic dalam dirinya sendiri) dan dengan demikian menjaga jarak dari rumah untuk tahun mendatang. Di zaman kuno lebih, dengan berdasarkan bulan kalender China ditumpangkan pada ritual adat, signifikansi musiman Setsubun lebih jelas, menggabungkan nilai-nilai tradisional lineality, optimisme, dan vitalitas perilaku ritual dan obyek ritual

sendiri. Kacang, biji, sumber kehidupan ... nasi digulung dalam rumput laut, buah tanah dan laut ... semua digunakan untuk menangkal datang jahat dan menjamin produktivitas masa depan ... benda yang menelan meyakinkan vitalitas dan pemurnian. Sentralitas dari "acara terakhir dari tahun" dan implikasinya untuk kegiatan budaya tergantung pada basis agraria dan kelautan masih terus setidaknya makna simbolis bagi banyak orang di Jepang. Hari ini, karena orientasi surya, Setsubun adalah salah satu dari beberapa festival dirayakan di Jepang relatif terhadap perhitungan astronomi yang sebenarnya, meskipun sebagian besar orang Jepang muda tidak tahu bahwa ada ketidaksesuaian melempar kacang pada hari yang terjadi selama bulan lalu memori mereka Tahun Baru Gregorian. Tentu saja, ketika kalender luni-solar telah digunakan sebenarnya, sumber lain kebingungan tentang Setsubunterjadi. Seperti disebutkan dalam artikel kami pada Kalender Lunar di Jepang , tahun dengan bulan kabisat bisa mengandung 383-385 hari. "Leap" tahun bisa demikian seringkali memiliki 2 "Spring Begins", satu di awal tahun dan satu lagi di akhir atau bulan 12. Kebingungan memiliki "dua Tahun Baru '" tetesan mata yang fasih digambarkan oleh penyair terkenal Motokata Arihara di Kokinshu (lihat Watanabe, 1994), meskipun terjemahan kami tidak melakukan keadilan untuk kecerdasan kering: Sebelum tahun berakhir "Spring Begins" berasal Tahun tidak lebih dari Hal ini masih tahun Oni wa Soto! Fuku wa Uchi!

Mina-san, ogenki desuka? Genki dayoon.. ^^ oke, postingan kali ini membahas tentang "Setsubun". Mengingat hari setsubun dirayakan pada tanggal 2-3 Pebruari di Jepang. Mina-san ada yang tau apa itu setsubun? Yah, mungkin ada yang nggak tahu, tapi setelah K ~ mengatakan "Itu lho, yang biasanya kalian lihat di anime, ada festival lempar2 kacang kedelai, buat ngusir setan.." pasti mina-san jawabnya "oo.." hehe.. Lalu apa sih setsubun itu sebenarnya? Kenapa pake lempar2an kacang kedelai begitu? Mendingan kan di makan aja.. Nah, biar nggak penasaran, kita baca postingan ini yuk? yuk.. ^^ Setsubun adalah nama perayaan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap pergantian musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim (karena di Jepang ada 4 musim): risshun, rikka, rish, dan ritt. Istilah "setsubun" sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum risshun (hari pertama musim semi)eh, sekarang di Jepang musim semi lho.. sekitar tanggal 2-3 Februari, sedangkan harihari setsubun yang lain sudah terlupakan. Wah,

kasian sekali ya yang lainnya.. X( Sejarah dari setsubun ini adalah, pada zaman kuno, perayaan setsubun adalah perayaan tahunan di istana kaisar. Berbagai macam boneka dari tanah liat yang sudah diberi warna dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana. Boneka-boneka yang dibuat berbentuk seperti anak-anak dan sapi. (pertanyaannya kenapa anak2 dan sapi ya? ya.. K ~ juga nggak tahu sih.. ^^") Tradisi mengusir Oni (setan) di hari setsubun konon berakar dari upacara Tsuina yang sudah dikenal sejak zaman Heian. Upacara Tsuina berasal dari daratan Tiongkok dan dilakukan di hari terakhir dalam setahun menurut kalender Tionghoa. Di zaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sardin yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa

daerah di Jepang, orang menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni (setan) yang dipercaya lahir pada hari setsubun. (hoho.. kok tau yah? ^^") Nah, sekarang tradisi melempar kacang.. Kacang kedelai yang sudah digongseng matang dilemparlemparkan ke arah oni (hua.. sayaang kacangnya.. T_T). Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni yang terkena lemparan kacang konon bakal kabur karena kesakitan. Kacang kedelai juga dimakan setelah dihitung jumlahnya agar sama dengan usia orang yang memakan. Tradisi setsubun merupakan perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dengan upacara Mamemaki (melempar kacang) yang bertujuan serupa di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilemparlemparkan biasanya adalah kacang kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah sesuai dengan selera orang zaman sekarang.

Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucap mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Setan di luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi "Oni wa uchi, fuku wa soto (Setan ke dalam, keberuntungan ke luar)," atau kedua belah pihak diminta masuk ke dalam. Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji "Oni" ( ?, jin) seperti "Onizuka" atau "Kit," mantera juga tidak mengusir "Oni" ke luar. Beberapa pekan menjelang hari setsubun, tokotoko swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame) di tempat khusus yang gampang dilihat pembeli. Kacang dijual dengan hadiah topeng bergambar Oni untuk dipakai sang ayah atau orang lain di rumah yang berperan sebagai oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah. Di sekolah-sekolah dasar dilakukan upacara melempar kacang yang dilakukan murid berusia 12

tahun, karena memiliki shio yang sama dengan shio untuk tahun yang berjalan. Kuil agama Buddha dan Shinto yang bekerjasama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita). Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut. Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut Ehmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan. Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi di hari setsubun. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji. Di awal

zaman Showa, iklan tradisi memakan sushi di hari setsubun (marukaburi zushi) mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi. Seusai Perang Dunia II, tradisi makan sushi di hari setsubun sempat terhenti hingga tahun 1974. Pada tahun itu, pedagang nori di kota Osaka mengadakan lomba cepat-cepatan makan norimaki. Di tahun 1977, asosiasi pedagang nori Osaka kembali menghidupkan tradisi memakan sushi di hari setsubun dengan mengadakan acara promosi penjualan nori. Hoho.. ternyata tradisi di hari setsubun asyik juga kan ya.. (maksudnya lempar2 kacangnya sama makan sushinya.. hehe) Di Indonesia, ada yang melakukan kayak gini nggak ya? eh? ato jangan2 setelah membaca postingan ini, mina-san jadi pingin ngelempar2 kacang?? XD