Anda di halaman 1dari 5

SERVISITIS SERVISITIS

Kasus : Seorang wanita 24 tahun, janda dengan satu anak datang ke poli ginekologi dengan keluhan sudah 3 hari menderita keputihan dengan bau tak sedap dan terasa gatal. Aktivitas seksual terakhir sekitar 5 hari yang lalu dengan pria usia 36 tahun yang baru dikenal dan dilakukan tanpa menggunakan kondom. Pasien mengikuti KB injeksi Depoprovera sekitar 2 minggu yang lalu. SERVISITIS : Radang pada servik uteri . ETIOLOGI INSIDEN DAN FAKTOR RESIKO Servisitis sering disebabkan oleh infeksi melalui aktivitas seksual. Infeksi Menular Seksual penyebab servisitis : Chlamydia Gonorrhea

Virus Herpes (genital herpes) Human Papiloma Virus (HPV) (genital warts) Trichomoniasis

Beberapa kasus servisitis disebabkan oleh : 1. Penggunaan kondom wanita (cervical cap dan diafragma) 2. Penyangga uterus (Pessarium) 3. Alergi spermisida pada kondom pria 4. Paparan terhadap bahan kimia Servisitis sering terjadi dan mengenai hampir 50% wanita dewasa dengan faktor resiko : Perilaku seksual bebas resiko tinggi

Riwayat IMS Memiliki pasangan seksual lebih dari satu Aktivitas seksual pada usia dini Pasangan seksual dengan kemungkinan menderita IMS Servisitis juga dapat disebabkan oleh bakteri (stafilokokus dan streptokokus) atau akibat pertumbuhan berlebihan bakteri normal flora vagina (vaginosis bakterial)

GEJALA

Perdarahan Uterus Abnormal: o Pasca sanggama


o o

Pasca menopause Diantara haid

Keputihan berlebihan:
o o o

Berlangsung lama Warna : putih keabuabuan atau kuning Kadang berbau

Nyeri saat sanggama (Dispareunia) Rasa berat di panggul

Catatan : pada beberapa kasus tidak ditemukan gejala dan tanda , disarankan agar penderita keputihan menjalani pemeriksaan skrining klamidia

Tanda & Pemeriksaan : Pemeriksaan panggul dalam dapat memperlihatkan adanya : Keputihan Servik kemerahan

Edema (inflamasi) dinding vagina

Pemeriksaan:

Inspeksi keputihan dengan mikroskop (dapat terlihat candidiasis, trichomoniasis, atau bacterial vaginosis) Pap smear Tes gonorrhea atau chlamydia Kadang kadang diperlukan pemeriksaan colposcopy dan biopsy cervix.

Terapi Untuk infeksi bakteri ( Chlamydia, Gonorrhoea ) diberikan antibiotika. Pada infeksi herpes diberilkan antiviral Terapi hormonal (dengan estrogen atau progesterone) diberikan pada pasien menopause. . Bila terapi tak memberi respon atau servisitis berlangsung lama maka dapat dilakukan terapi : Kriosurgeri (freezing) Electrocauterization

Terapi lazer

Prognosis Servisitis ringan dengan etiologi jelas biasanya memberi respon baik terhadap terapi

Komplikasi Servisitis dapat berlangsung berbulan-bulan (atau bahkan bertahun-tahun) Servisitis dapat menyebabkan nyeri saat sanggama (dyspareunia). Pencegahan Cara menghindari resiko servisitis : Hindari bahan kimia iritan seperti sabun intravaginal atau tampon dengan deodoran Pastikan bahwa benda asing yang dimasukkan kedalam vagina (seperti pembalut wanita khusus) digunakan secara tepat dengan mengikuti petunjuk pemakaian Abstinensia sanggama untuk mencegah IMS atau sanggama tidak dengan sembarangan orang. Gunakan pengaman (kondom) setiap melakukan aktivitas seksual bebas.
Lihat juga informasi lain mengenai: Kondoms Kondom Wanita

Aktivitas Seksual yang Aman

Rujukan 1. Eckert LO, Lentz GM. Infections of the lower genital tract: Vulva, vagina, cervix, toxic shock syndrome, HIV infections. In: Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, eds. Comprehensive Gynecology. 5th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2007:chap 22. 2. Biggs WS, Williams RM. Common gynecologic infections. Prim Care. 2009;36:33-51. [PubMed]
3. U.S. Preventive Services Task Force: Screening for Chlamydial Infection. June

2007. Accessed January 25, 2010. 4. Diseases characterized by urethritis and cervicitis. Sexually transmitted diseases treatment guidelines 2006. Update to CDC's sexually transmitted diseases treatment guidelines. 2006: fluoroquinolones no longer recommended for treatment of gonococcal infections. Available at www.guidelines.gov. Accessed January 25, 2010.
http://obginround.blogspot.com/2011/05/servisitis.html