Anda di halaman 1dari 4

MASKER PEEL OFF MADU http://charlostfc.wordpress.

com/2011/07/03/just-information/ ABSTRAK Formulasi Masker Peel Off Madu dengan Variasi Konsentrasi Polivinyl Alkohol Sebagai Bahan Pembentuk Gel Telah dilakukan penelitian formulasi masker Peel Off madu dengan variasi konsentrasi polivinyl alkohol sebagai bahan pembentuk gel dengan tujuan untuk memperoleh formula gel dari madu yang paling stabil secara fisik. Penelitian ini dibuat dengan tiga formula dengan variasi polivinil alkohol yaitu 10%, 15%, dan 11 %. Kemudian dilakukan pengujian dengan metode penyimpanan dipercepat dengan parameter pemeriksaan organoleptis, pengukuran viskositas, penentuan nilai yield dan pengukuran pH sebelum dan setelah kondisi dipaksakan. Hasil pengujian organoleptis menunjukkan tidak adanya perubahan warna dan bau sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat dari ketiga formula. Pada pengukuran viskositas diperoleh hasil pada formula I (Konsentrasi 10%) dan III (Konsentrasi 11 %) tidak berbeda nyata sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat. Hasil analisa statistic dari nilai yield menunjukkan bahwa formula I (Konsentrasi 10%) dan II (Konsentrasi 10,5%) tidak berbeda nyata sebelum dan sesudah penyimpana dipercepat. Pada rheogram terlihat bahwa formula I (Konsentrasi 10%) dan III (Konsentrasi 11%) memiliki kurva yang hamper berimpit sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat. Pada pengukuran pH, formula I(Konsentrasi 10%) memilki pH netral yaitu 7 dan formula III (Konsentrasi 11) dengan pH 6,7. Sehingga dapat disimpulkan paling optimal yaitu formula 1 (Konsentrasi 10%)

ABSTRACT formulation Peel Off mask of honey with concentration variation of Polyvinyl Alcohol as basic gel The research done about formulation Pell off mask of honey by varying the polyvinyl alcohol as gel base in order to obtains as gel mask formula from honey which is physically stable. In this study, three formulas gel with varying polyvinyl alcohol 10%, 10,5%, and 11%. Then do the evaluation of physical stability by organoleptic examination of the test parameters, measurements of viscosity, yield value determination and pH determination before and after accelerated storage. The result obtained in the second organoleptic examination of the gel formula does not change the color, smell and consistency before and after accelerated storage. The viscosity measurement obtained result in the formula I(concentration 10%) and formula III (concentration 11%) were not significantly different before and after accelerated storage. Result of statistical analysis of the value yield showed that the formula I (concentration 10%) and formula II (concentration 10,5%) were not significantly different before and after

accelerated storage. In the rheogram formula I (concentration 10%) and III (concentration 11%) have the curves that coincide before and after accelerated storage. In the pH determination, formula I (concentration 10%) have neutral pH of 7 % and formula II (concentration 11%) have pH of 6,7 so it can be concluded that two stock is table, but their stability is the most optimal formula I (concentration 10%).

PENDAHULUAN Latar Belakang Madu adalah bahan alam yang berasal dari hewan yaitu jenis lebah madu. Madu ini mengandung fruktosa dan glukosa (80%), sukrosa (8%) dan dextrin (0,26-7), protein, mineral, zat besi, tembaga, belerang, potassium, mangan, fosfor, klorida, sodium, kalsium, silica, silicon, magnesium, vitamin B1, B2, B5, B6, vitamin E dan vitamin C (http://www.abaherbal.com/index.php.option.com). Janice Cox, penulis buku Natural Beauty at Home, dalam salah satu penelitiannya menemukan kandungan madu berupa berbagai macam vitamin B, E, dan C yang berfungsi untuk menjaga dan memelihara kecantikan kulit. Madu merupakan humectants yang memilki kemampuan untuk menarik dan mengikat uap air. Zat alami yang terkandung dalam madu ini membantu tubuh dalam menjalankan fungsinya dalam melembabkan dan menjaga kelembutan kulit (http://www.abaherbal.com/index.php.option.com) Berdasarkan kandungan dan khasiat tersebut, madu berpotensi untuk dikembangkan menjadi suatu sediaan kosmetik salah satunya dalam bentuk masker gel. Masker gel merupakan masker yang praktis, setelah kering masker tersebut dapat langsung diangkat (biasa dikenal dengan sebutan masker pell off). Zat aktif pada masker dapat lebih lama berinteraksi dengan kulit wajah. Manfaat masker gel antara lain dapat mengangkat sel kulit mati agar kulit bersih dan segar, mengembalikan kelembutan kulit, dan dengan pemakaian teratur dapat mengurangi kerutan halus pada kulit wajah (Balsam, 1975) Bahan-bahan pembentuk gel yang biasa digunakan meliputi gom-gom alam yaitu tragakan, karagenan, pectin, agar, dan asam alginat, bahan semisintetik seperti metilselulosa, dan hidroksietilselulosa, hidroksipropilmetilselulosa, dan polimer sintetik yaitu carbopol, plivinil alkohol, polietilen-polioksipropilen, gelatin (Aulton, 1988 dan Gennaro, 1990) Poliviniol alkohol digunakan untuk bahan pembentuk gel yang cepat kering, memberikan lapisan yang kuat dan plastik, kontak yang baik dan untuk pengobatan, memberikan perlindungahn pada kulit dengan tampilan yang baik (Cooper and Gunns, 1979)

PEMBAHASAN Dalam penelitian ini dibuat sediaan masker gel (Peel Off) dari madu dengan menggunakan variasi konsentrasi polivinil alkohol sebagai bahan pembentuk gel, yaitu konsentrasi 10 %, 10,5% dan 11%.

Madu mengandung fruktosa dan glukosa (80%), sukrosa (8%) dan dextrin (0,26-7), protein, mineral, zat besi, tembaga, belerang, potassium, mangan, fosfor, klorida, sodium, kalsium, silica, silicon, magnesium, vitamin B1, B2, B5, B6, vitamin E dan vitamin C. Madu adalah salah satu bahan alami yang merupakan humectants yang memilki kemampuan untuk menarik dan mengikat uap air. Zat alami yang terkandung dalam madu ini membantu tubuh dalam menjalankan fungsinya dalam melembabkan dan menjaga kelembutan kulit. Selain itu, madu alami cocok untuk segala jenis kulit. Berdasarkan khasiat tersebut, madu berpotensi untuk dijadikan sebagai suatu sediaan kosmetik salah satunya edalam bentuk masker gel (Peel Off). Masker gel merupakan masker yang praktis, setelah kering masker tersebut dapat langsung diangkat dan efek dari zat aktif dapat lebih lama berinteraksi dengan kulit wajah. Manfaat masker gel antara lain dapat mengangkat sel kulit mati agar kulit bersih dan segar, mengembalikan kelembutan kulit, dan dengan pemakaian teratur dapat mengurangi kerutan halus pada kulit wajah. Bahan yang ditambahkan dalam formulasi adalah aquadet, alkohol 70%, metal paraben, minyak mawar, natrium bisulfate, dan propilenglikol. Penambahan alkohol berfungsi sebagai bahan untuk mempercepat waktu pengeringan atau penguapan pada saat sediaan digunakan. Propilenglikol merupakan bahan yang berfungsi sebagai humektan yaitu mencegah kekeringan pada sediaan utamanya pada wadah. Selain itu propilenglikol juga berfungsi sebagai emolien sehingga pada saat masker gel diangkat atau dilepas dari kulit wajah tidak menyebabkan rasa sakit. Natrium bisulfat digunakan sebagai antioksidan untuk melindungi madu dari oksidasi. Digunakan metal paraben sebagai pengawet karena masih popular sebagai pengawet yang dibutuhkan pada sediaan semi padat untuk mencegah kontaminasi, peruraian, dan pembusukan oleh bakteri dan jamur karena medium pendispersinya adalah air dimana air sangat rentan terhadap pertumbuhan mikroba. Selain itu metal paraben juga tidak toksik, tidak berbaum tidak berwarna, dan tidak mengiritasi kulit. Penambahan minyak mawar berfungsi sebagai pengharum atu pewangi agar sediaan lebih menarik. Evaluasi kestabilan sediaan gel sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat dilakukan untuk menentukan kestabilan gel secara fisik karena evaluasi tersebut merupakan salah satu uji atau tolak ukur untuk mendeteksi ketidakstabilan dari sediaan. Pengujian ini dilakukan dengan metode kondisi dipaksakan (stress condition) yang bertujuan untuk mempercepat proses peruraian dari bahan-bahan dan untuk mempersingkat waktu pengujian. Masker gel diuji kestabilannya dengan mensiklus antara dua temperatur yaitu 5 C dan 35 C selama 10 siklus, masing-masing siklus berdurasi 12 jam. Evaluasi kestabilan meliputi pemeriksaan organoleptis, pengukuran viskositas dan penentuan nilai yield. 1. Pengamatan Organoleptis Pengamatan organoleptis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan warna dan bau yang terjadi selama kondisi dipaksakan. Berdasarkan pengamatan organoleptis ini, ketiga sediaan masker yang dihasilkan tidak mengalami perubahan warna dan bau baik sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan. 2. Viskositas

Selain pengamatan organoleptis juga dilakukan pengukuran viskositas dengan menggunakan Viskometer Brookfield. Alat ini memiliki keuntungan antara lain mudah digunakan dan sampel uji bisa mudah ditampung. Koefisien keseragaman untuk pengukuran viskositas menunjukkan hasil yang sangat signifikan yang kemudian dilakukan uji lanjutan dengan metode BNJ (Beda Nyata Jujur). Hasil analisa secara statistik diperoleh hasil bahwa formula I dan formula III sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan menunjukkan hasil yang non signifikan sedangkan untuk formula II pada sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Formula I mengalami kenaikan viskositas setelah penyimpanan dipercepat sebanyak 3,4667 P, formula II sebesar 16,9333 P dan formula III sebesar 4,0667 P. 3. Nilai Yield Sediaan masker gel menunjukkan tipe aliran Non-Newton yaitu plastis sesuai yang tergambar pada grafik rheogram (gambar 2, 3, dan 4) dimana semua kurva formula tidak dapat melalui sumbu tekanan geser dan ketiganya memiliki nilai yield, dimana nilai yield adalah besarnya gaya atau tekanan geser yang harus dilampaui agar suatu system dapat mengalir. Nilai yield dan viskositas saling berhubungan karena semakin tinggu viskositas, maka nilai yield semakin besar. Dari hasil penentuan nilai yield pada ketiga formula terjadi perubahan antara sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat yaitu pada formula I dan II menunjukkan hasil yang non signifikan sedangkan formula III sangat signifikan. 4. Gambar Rheogram Pada gambar rheogram terlihat bahwa formula I sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan memiliki kurva yang hampit berimpit, formula II sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan memiliki kurva yang tidak terlalu berimpit, sedangkan formula III memiliki kurva yang hampir berimpit sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa sediaan masker gel dari ketiga formula tersebut yaotu formula I(konsentrasi 10%), formula II (konsentrasi 10,5%) dan formula III (konsentrasi 11%) memiliki kestabilan yang baik namun yang memberikan optimum yaitu formula I (konsentrasi 10%), karena tidak mengalami perubahan fisis antara sebelum dan sesudah penyimpanan.