Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENGABDIAN MASYARAKAT (PKMM)

JUDUL KEGIATAN MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK KERAJINAN BAMBU DI DESA TEGALREJO, KECAMATAN PULUNG, PONOROGO

Oleh :
1. NANANG ADI PRAYITNO 2. DWI EBTANTO (K2303025) (X 2304023) 3. SUTRAN NURWANTO (K2303046)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA SEPTEMBER 2006

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1.Judul kegiatan: Meningkatkan Kualitas Produk Kerajinan Bambu di Desa Tegalrejo, Pulung, Ponorogo. 2.Bidang kegiatan: Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) 3.Ketua pelaksana kegiatan: a.Nama lengkap :Nanang Adi Prayitno b.NIM :K 2303046 c.Jurusan :P.MIPA d.Universitas :Universitas Sebelas Maret (UNS) 4.Anggota pelaksana kegiatan:2 orang 5.Dosen pendamping a) Nama Lengkap dan Gelar : Sukarmin S.Pd, M.Si b) NIP : 132 281 606 6.Biaya kegiatan total a) DIPA : Rp.1.125.000,00 b) Sumber lain : 7.Jangka waktu pelaksanaan :Bulan April s/d September tahun 2006 Menyetujui, PD III FKIP UNS Surakarta, 29 September 2006 Ketua Pelaksana

Drs.Swandono,M.Hum NIP:130 324 440 Pembantu Rektor III UNS

Nanang Adi Prayitno NIM:K2303046 Dosen Pembimbing

Drs.Totok Sarsito,SU,MA NIP:130 794 466

Sukarmin S.Pd,M.Si NIP:132 281 606

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Alloh SWT atas segala limpahan Rahmat dan HidayahNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kegiatan PKM Pengabdian Masyarakat dengan judul Meningkatkan Kualitas Produk Kerajinan Bambu di Desa Tegalrejo, Pulung, Ponorogo. ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Kami atas nama tim pelaksana PKMM menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Dosen Pendamping, Bapak Sukarmin, SPd, M.Si, atas segala arahan dan bimbingannya yang telah diberikan kepada kami dengan penuh kesabaran. 2. Kepala Desa Tegalrejo, Bapak Marno, atas pemberian ijin pelaksanaan kegiatan PKMM ini. 3. Para warga desa Tegalrejo yang telah bersedia mengikuti kegiatan pelatihan ini, dan seluruh pihak yang telah membantu. Laporan ini kami buat, pertama sebagai bahan evaluasi bagi kami dalam kegiatan yang telah kami lakukan, sehingga dapat sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan program program selanjutnya. Kedua, sebagai pertanggungjawaban atas kegiatan yang telah kami lakukan sejak 1 April 2006 hingga 30 September 2006. Demikian laporan ini kami buat, semoga dapat memberikan manfaat kepada pihak pihak yang berkepentingan. Atas perhatiannya, kami sampaikan terima kasih.

Surakarta, September 2006 Tim Pelaksana PKMM

RINGKASAN DAN SUMMARY Desa Tegalrejo merupakan salah satu daerah di wilayah Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Wilayah desa Tegalrejo merupakan daerah dataran tinggi berupa pegunungan. Disamping pekerjaan utama sebagai petani, sebagian besar penduduk desa Tegalrejo tersebut memiliki pekerjaan sampingan yaitu membuat kerajinan dari bambu. Pekerjaan sampingan ini menjadi sandaran utama bagi warga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari- hari. Hasil kerajinan mereka berupa keranjang, tampah, tompo, kipas, dan tempat nasi. Dengan ketrampilan dan produk/hasil yang bisa dikatakan sederhana dalam membuat kerajinan dari bambu tersebut, selama ini sebenarnya sudah dapat sedikit membantu warga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun seiring dengan berkembangannya teknologi, dengan diciptakannya produk produk rumah tangga dari bahan plastik dan aluminium, maka kondisi produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo semakin terpuruk. Sebagai contoh, harga sebuah keranjang yang dulu sekitar Rp. 5000, sekarang hanya sekitar Rp. 3000. Dengan bahan baku (pohon bambu) yang masih harus membeli, karena kurangnya bahan baku di desa tersebut dan sulitnya proses pembuatan yang harus dilakukan, tentunya harga jual sebesar itu belum sesuai dengan bahan baku dan tenaga yang harus dikeluarkan. Salah satu penyebab yang juga mengakibatkan rendahnya harga produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo tersebut ialah karena tidak adanya inovasi atau upaya untuk meningkatkan kualitas/mutu hasil/produk kerajinan bambu tersebut. Mereka hanya membuat kerajinan itu sekedarnya saja sehingga kalah bersaing dengan produk produk kerajinan bambu dari daerah lain yang lebih menarik. Dengan semakin rendahnya harga jual kerajinan bambu yang diproduksinya mengakibatkan warga desa Tegalrejo tersebut merasa rugi dan semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari hari. Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah yaitu: Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu di Desa Tegalrejo. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu di Desa Tegalrejo. Dari kegiatan yang telah kami lakukan, dapat diketahui bahwasanya permasalahan permasalahan dialami para pengrajin bambu di desa Tegalrejo adalah semakin rendahnya harga produk bambu mereka , diakibatkan tidak adanya inovasi dan peningkatan kualitas/mutu produksi kerajinan bambu mereka. Maka untuk memecahkan permasalahan tersebut, dapat dilakukan dengan cara melakukan inovasi terhadap pembuatan kerajinan bambu tersebut. Inovasi tersebut dapat dilakukan dengan cara: a) Merubah anyaman menjadi lebih halus dari sebelumnya b) Memberi motif baru terhadap pola anyaman c) Memberi warna hasil kerajinan bambu dengan cat warna Dengan cara cara tersebut, hasil kerajinan bambu terlihat lebih bagus sehingga menarik minat pembeli. Harga kerajinan bambu pun dapat meningkat, dari harga sebelum ada inovasi sekitar Rp. 5.000 per buah untuk keranjang/rinjing, sekarang bisa terjual mencapai Rp.10.000 tiap keranjangnya. Sedangkan untuk sebuah tampah yang sebelumnya hanya sekitar Rp. 3.000 per buah, sekarang dapat terjual mencapai Rp. 5.000 tiap buahnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Desa Tegalrejo merupakan salah satu daerah di wilayah Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Wilayah desa Tegalrejo merupakan daerah dataran tinggi berupa pegunungan. Desa Tegalrejo merupakan wilayah dengan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Karena sebagian besar lahan yang dimiliki masing masing kepala keluarga hanya sekitar 1 petak, maka dapat dikatakan bahwa petani di desa Tegalrejo termasuk petani gurem (petani kecil). Dengan kepemilikan lahan pertanian yang hanya sedikit itu, maka hasil dari panen yang diperoleh belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Karena hasil dari pertanian belum mampu untuk memenuhi kebutuhan, maka sebagian besar penduduk desa Tegalrejo tersebut memiliki pekerjaan sampingan yaitu membuat kerajinan dari bambu. Pekerjaan sampingan ini menjadi sandaran utama bagi warga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari- hari. Hasil kerajinan mereka berupa keranjang, tampah, tompo, kipas, dan tempat nasi. Dengan ketrampilan dan produk/hasil yang bisa dikatakan sederhana dalam membuat kerajinan dari bambu tersebut, selama ini sebenarnya sudah dapat sedikit membantu warga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun seiring dengan berkembangannya teknologi, dengan diciptakannya produk produk rumah tangga dari bahan plastik dan aluminium, maka kondisi produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo semakin terpuruk. Sebagai contoh, harga sebuah keranjang yang dulu sekitar Rp. 5000, sekarang hanya sekitar Rp. 3000. Dengan bahan baku (pohon bambu) yang masih harus membeli, karena kurangnya bahan baku di desa tersebut dan sulitnya proses pembuatan yang harus dilakukan, tentunya harga jual sebesar itu belum sesuai dengan bahan baku dan tenaga yang harus dikeluarkan. Salah satu penyebab yang juga mengakibatkan rendahnya harga produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo tersebut ialah karena tidak adanya inovasi atau upaya untuk meningkatkan kualitas/mutu hasil/produk kerajinan bambu tersebut. Mereka hanya membuat kerajinan itu sekedarnya saja sehingga kalah bersaing dengan produk produk kerajinan bambu dari daerah lain yang lebih menarik. Dengan semakin rendahnya harga jual kerajinan bambu yang diproduksinya mengakibatkan warga desa Tegalrejo tersebut merasa rugi dan semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari hari. Dengan melihat kondisi seperti itu, kami berencana untuk membantu para pengrajin bambu di Desa Tegalrejo tersebut untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan mereka, sehingga akhirnya nanti produk kerajinan bambu mereka akan dapat bernilai jual tinggi dan mampu bersaing dengan produk produk kerajinan bambu dari daerah lain.

B. Identifikasi Masalah Cara cara apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk bambu dari desa Tegalrejo C. Perumusan Masalah Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu di Desa Tegalrejo ? D. Tujuan Kegiatan Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu di Desa Tegalrejo. E. Kegunaan 1) Ditemukannya cara untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu di Desa Tegalrejo. 2) Dihasilkannya produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo yang berkualitas. 3) Menumbuhkan jiwa kreativitas bagi mahasiswa. 4) Mengembangkan kemandirian dan semangat kerjasama tim bagi mahasiswa. 5) Merangsang perkembangan dan kreativitas mahasiswa sehingga dapat mengaplikasikan ilmu ilmu yang telah dipelajari.

BAB II METODE PENDEKATAN Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah melalui beberapa tahap : 1. Melakukan observasi langsung pada masyarakat desa Tegalrejo, sehingga akan dapat diketahui proses pembuatan kerajinan bambu yang biasa mereka lakukan. 2. Melakukan penyuluhan tentang pentingnya meningkatkan kualitas dari produk kerajinan bambu mereka. 3. Memberikan pelatihan secara terencana dalam pembuatan inovasi dan corak/warna terhadap produk kerajinan bambu mereka. 4. Membantu proses pemasaran terhadap hasil kerajinan bambu tersebut.

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan PKMM berjudul MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK KERAJINAN BAMBU DI DESA TEGALREJO, KECAMATAN PULUNG, PONOROGO ini dilaksanakan pada bulan April hingga September 2006, bertempat dusunSawur, desa Tegalrejo, Kecamatan Pulung, Ponorogo. 2) Tahapan Pelaksanaan Bulan Minggu Persiapan Pelaksan aan Penyusun an lap keg PKM Pelapora n hasi kegiatan I II III 1-4 IV 1-4 VI 14 VI VIII I 1 1 2 3 4 4

1 2 3 4 1-4

3) Instrumen Pelaksanaan

a) b) c) d) e) f)

Bambu Kayu rotan Cat warna Kuas cat Pisau Komputer dan print

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Dari berbagai kegiatan yang telah kami lakukan, maka diperolah hasil sebagai berikut: Dari hasil observasi yang telah kami lakukan terhadap masyarakat desa Tegalrejo, dapat diketahui bahwa penyebab rendahnya harga produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo adalah karena tidak adanya inovasi dan upaya untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambua mereka. Mereka memebuat kerajinan dengan bentuk yang sederhana, dalam arti anyamannya kasar dan berukuran besar besar. Selain itu juga tidak diberi motif yang bagus saat mengayamkan kayu rotannya, serta tidak adanya pemberian warna pada produk kerajinan bambu tersebut. Maka untuk memecahkan permasalahan tersebut, dapat dilakukan dengan cara melakukan inovasi terhadap pembuatan kerajinan bambu tersebut. Inovasi tersebut dapat dilakukan dengan cara: a) Merubah anyaman menjadi lebih halus . Kalau dulu anyaman yang digunakan kasar dan berukuran besar besar, maka sekarang diubah menjadi lebih halus dan berukuran lebih kecil kecil. b) Memberi motif baru terhadap pola anyaman. Yang dimaksud pemberian motif baru disini adalah saat memberi anyaman berupa kayu rotan. Kalau dulu polanya diikatkan biasa, maka untuk menambah keindahan tanpa mengurangi fungsinya, maka dibuat motif baru untuk mengikatkan/menganyamkan dan dibuat lebih banyak. c) Memberi warna hasil kerajinan bambu dengan cat warna Dengan pemberian cat warna terhadap hasil kerajinan bambu, jelas terlihat bahwa hasil kerajinan bambu semakin lebih menarik dari sebelumnya yang tidak diberi warna. Dengan cara cara tersebut, hasil kerajinan bambu terlihat lebih bagus sehingga menarik minat pembeli. Harga kerajinan bambu pun dapat meningkat, dari harga sebelum ada inovasi sekitar Rp. 5.000 per buah untuk keranjang/rinjing, sekarang bisa terjual mencapai Rp.10.000 tiap keranjangnya. Sedangkan untuk sebuah tampah yang sebelumnya hanya sekitar Rp. 3.000 per buah, sekarang dapat terjual mencapai Rp. 5.000 tiap buahnya. Dengan meningkatnya harga jual produk kerajinan bambu tersebut, tentunya dapat menambah penghasilan para pengrajin bambu di desa Tegalrejo, sehingga diharapkan kedepannya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A) Kesimpulan Dari kegiatan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa penyebab rendahnya harga produk kerajinan bambu dari desa Tegalrejo adalah karena tidak adanya inovasi dan upaya untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu mereka. Mereka membuat kerajinan dengan bentuk yang sederhana, dalam arti anyamannya kasar dan berukuran besar besar. Selain itu juga tidak diberi motif yang bagus saat mengayamkan kayu rotannya, serta tidak adanya pemberian warna pada produk kerajinan bambu tersebut. Maka untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan bambu tersebut, dapat dilakukan dengan cara melakukan inovasi terhadap pembuatan kerajinan bambu tersebut. Inovasi tersebut dapat dilakukan dengan cara: 1. Merubah anyaman menjadi lebih halus . Kalau dulu anyaman yang digunakan kasar dan berukuran besar besar, maka sekarang diubah menjadi lebih halus dan berukuran lebih kecil kecil. 2. Memberi motif baru terhadap pola anyaman. Yang dimaksud pemberian motif baru disini adalah saat memberi anyaman berupa kayu rotan. Kalau dulu polanya diikatkan biasa, maka untuk menambah keindahan tanpa mengurangi fungsinya, maka dibuat motif baru untuk mengikatkan/menganyamkan dan dibuat lebih banyak. 3. Memberi warna hasil kerajinan bambu dengan cat warna Dengan pemberian cat warna terhadap hasil kerajinan bambu, jelas terlihat bahwa hasil kerajinan bambu semakin lebih menarik dari sebelumnya yang tidak diberi warna.

B) Saran Bahwa dalam memproduksi kerajinan bambu , pengrajin perlu melakukan inovasi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hasil kerajinan bambu mereka. Upaya untuk meningkatkan kualitas kerajinan bambu itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan merubah anyaman menjadi lebih halus, merubah motif, dan memberi warna terhadap hasil kerajinan bambu.