Anda di halaman 1dari 7

Annisa Octiandari Pertiwi 140410110014 Kel.

03 B

Metabolit Sekunder
Hutan tropis yang kaya dengan berbagai jenis tumbuhan (biodiversity) merupakan sumber daya hayati dan sekaligus sebagai gudang senyawa kimia (chemodiversity) baik berupa senyawa kimia hasil metabolisme primer yang disebut juga sebagai senyawa metabolit primer seperti protein, karbohidrat, lemak yang digunakan sendiri oleh tumbuhan tersebut untuk pertumbuhannya, maupun sebagai sumber senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid dan alkaloid. senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya (Ferry, 2012). Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satuspesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal. Singkatnya, metabolit sekunder digunakan organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya (Anonymous, 2013). Metabolit sekunder tanaman merupakan senyawa dengan berat molekul rendah yang diproduksi tanaman sebagai respon terhadap ancaman lingkungan dan patogen. Hasil studi menunjukkan bahwa produk metabolit sekunder merupakan senyawa yang diturunkan dari metabolit primer, yaitu karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Secara sederhana, metabolit sekunder tanaman terbagi atas tiga golongan besar, yaitu fenolik, senyawa bernitrogen, dan terpenoid (Edwards & Gatehouse 1999). Metabolit sekunder adalah senyawa-senyawa hasil biosintetik turunan dari metabolit primer yang umumnya diproduksi oleh organisme yang berguna untuk pertahanan diri dari lingkungan maupun dari serangan organisme lain. Sedangkan substansi yang dihasilkan oleh organisme melalui metabolisme dasar, digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme yang bersangkutan disebut dengan metabolit primer. Hasil metabolit sekunder dari spons merupakan produk alam yang potensial sebagai bahan baku obat. Perbedaan kondisi lingkungan seperti tingginya kekuatan ionik pada air laut, intensitas cahaya yang kecil, rendahnya temperature,

tekanan dan struktur tubuh yang berbeda dengan organisme darat memungkinkan spons menghasilkan metabolit yang mempunyai struktur kimia yang spesifik dan bervariasi hal ini sangat berpengaruh terhadap bioktivitasnya (MOTOMASA, 1998).

(Gambar 1. Beberapa obat metabolit sekunder nilai komersial tinggi (Dewick, 1999) Metabolit sekunder dialam dihasilkan dalam jumlah sangat kecil (dapat mencapai ng/g) dan dalam kondisi tertentu (kondisi stressing), serta tidak diproduksi secara universal tetapi hanya pada spesies atau bahkan strain spesifik. Sebagian besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti: quinon, flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya. Hal ini disebut sebagai alelopati ( Samosir, 2011 ). Senyawa kimia sebagai hasil metabolit sekunder atau metabolit sekumder telah banyak digunakan sebagai zat warna, racun, aroma makanan, obat-obatan dan sebagainya serta sangat banyak jenis tumbuh- tumbuhan yang digunakan obat-obatan yang dikenal sebagai obat tradisional sehingga diperlukan penelitian tentang penggunaan tumbuh- tumbuhan berkhasiat dan mengetahui senyawa kimia yang berfungsi sebagai obat. Senyawa-senyawa kimia yang merupakan hasil metabolisme sekunder pada tumbuhan sangat beragam dan dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan senyawa bahan alam yaitu terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid dan alkaloid (Ferry, 2012). Starting material (prekusor) biosintesis metabolit sekunder didapatkan dari proses metabolisme primer (Dewick, 1999). Struktur dan jumlah dari perkursor menentukan kerangka

metabolit sekunder yang terbentuk. Oleh sebab itu, precursor-prekursor ini sering disebut sebagai building blocks metabolit sekunder. Meskipun struktur metabolit sekunder pada umumnya berupa makromolekul yang kompleks (Gambar 1), akan tetapi sangat mengherankan bahwa jumlah macam building blocks metabolit sekunder (yang berasal dari senyawa antara intermedir) tidaklah banyak. Secara garis besar hanya ada 3 senyawa antara pokok yaitu: asetat, shikimat dan mevalonat, ditambah beberapa L-asam amino (seperti ornitin dan lisin) yang berasal dari proses metabolisme primer, seperti fotosintesis, glikolisis, siklus pentose dan Krebs, degradasi B-oksidasi, dll. Jadi senyawa antara tersebut merupakan jembatan antara metabolisme primer dan sekunder. Hubungan antara metabolisme primer dan sekunder secara garis besar dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan pada macam senyawa antara sebagai sumber prekursor, maka biosintesis metabolit sekunder dapat dikelompokkan menjadi beberapa jalur (pathway), yaitu: jalur asam asetat (Acetic pathway), jalur asam shikimat ( Shikimate pathway) dan jalur-jalur biosintesis alkaloid, protein/peptide dan karbohidrat. Berdasarkan jalur biosintesis tersebut, maka (lihat gambar 2): senyawa-senyawa asam amino aromatic, flavonoid, terpenoid, lignin, lignin, flavolignan, dll. biosintesisnya masuk kedalam jalur shikimat. Biosintesis kelompok terpen (seperti monoterpen, seskiterpen, diterpen, triterpen), steroid, dll. masuk kedalam jalur prekursor asam amino (baik asam amino protein maupun nonprotein); dan bermacam-macam protein/enzim, hormon (seperti hormonhormon tiroid, hipotalamik, pituitary, pakreas, dll), oligopeptida (misalnya macam-macam interferon, interleukin, dll.) masuk kedalam jalur peptide dengan prekursor asam amino protein. Adapun biosintesis bermacam-macam gula (baik monsakarid, oligosakari maupun polisakarid) masuk ke dalam jalur karbohidrat (Dewick, 1999).

(Gambar 2. Hubungan antara metabolisme primer (dalam kotak) dan metabolisme sekunder melalui beberapa senyawa antara (Dewick, 1999). Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Secara umum kandungan metabolit sekunder dalam bahan alam hayati dikelompokkan berdasarkan sifat dan reaksi khas suatu metabolit sekunder dengan pereaksi tertentu (Putri, 2012). Atas dasar ini, kandungan metabolit sekunder dapat dikelompokkan sebagai berikut: (Putri, 2012). 1. Alkaloid

Merupakan suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian besar atom nitrogen ini bagian dari cincin heterosiklik. Hampir semua alkaloid yang ditemukan dialam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Sifat fisika dan kimia alkaloid : a. b. Berupa kristal, amorf, dan ada yang cair (nikotina dan sparteina) Tidak berwarna

c. d.

Jika bersifat basa, larut dalam pelarut organik Garam alkaloida larut dalam air, tidak larut dalam pelarut organic

Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut sifat seperti : a. Alkaloida (alkaloid sejati)

Alkaloida mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik, berasal dari asam amina.biasanya terdapat dalam tumbuhan sebagai asam organik. b. Proto alkaloida

Proto alkaloida berasal dari asam amino, tetapi nitrogennya tidak terletak pada cincin heterosiklik. c. Asenda alkaloida alkaloida yang

Asenda alkaloida tidak difotosintesis dari asam amino, 2 macam asenda

terpenting adalah alkaloida steroida, misalnya konssina dan alkaloid purina, misalnya koffeina. 2. Triterpenoid / Steroid

Triterpenoid merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosinesis dirumuskan dari hidrokarbon yang kebanyakan berupa alkohol, aldehid, dan asam karbohidrat. Senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif. Steroid adalah golongan senyawa triterpenoid yang mengandung inti siklopentana perhidrofenantren yaitu dari tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin siklopentana. 3. Flavonoid

Merupakan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Selain itu, merupakan senyawa fenil propanoid dengan kerangka karbon C6-C3-C6. Artinya kerangka karbonnya terdiri dari dua gugus C6 disambung dengan rantai alifatik tiga karbon. Sebagian besar senyawa flavonoid ditemukan di alam dalam bentuk glikosida, dimana unit flavonoid terikat pada suatu gula. 4. Fenolik

Merupakan kelompok senyawa aromatik dengan gugus fungsi hidroksil. Sisi dan jumlah grup hidroksil pada grup fenol diduga memiliki hubungan dengan toksisitas relatif mereka terhadap mikroorganisme dengan bukti bahwa hidroksitasi yang meningkat menyebabkan toksisitas yang meningkat. 5. Saponin

Merupakan kelompok senyawa dalam bentuk glikosida terpenoid / steroid. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan.

Dikenal dua jenis saponin yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Saponin triterpenoid dapat mempunyai asam oleanolat sebagai aglikonnya dan asam ini ditemukan juga bebas, meskipun demikian dalam beberapa kasus, aglikonnya hanya dikenal sebagai sapogenin. 6. Kumarin

Merupakan kelompok senyawa fenol yang umumnya berasal dari tumbuhan tinggi dan jarang ditemukan pada mikroorganisme, kumarin ini mempunyai kerangka C6-C3. Senyawa kumarin dibagi empat kelompok : Kumarin sederhana dan turunannya yang berupa hasil hidroksidasi alkoksida,

glikosida. Contohnya : suberosin. Furano kumarin jenis linear dan anguler, dimana terdapat subtitusi pada posisi

benzoid. Contohnya : angelicin. Pyranokumarin analog dengan furano kumarin tapi memiliki cincin enzim pada

subtituennya. Contohnya : xantyletin. 7. Kumarin yang tersubtitusi pada cincin purin. Seperti 4-hidroksi kumarin. Zat warna kuinon

Merupakan suatu heterosikel cincin terpadu yang strukturnya berubah dengan naftalena, tetapi dengan nitrogen pada posisi isokaindina adalah isomer 2-nya. 8. Karotenoid

Senyawa turunan dari isoprena yang berantai panjang. Karotenoid adalah golongan senyawa kimia organik bernutrisi yang terdapat pada pigmen alami tumbuhan dan hewan. Berdasarkan struktur kimianya, karotenoid masuk kedalam golongan ttiterpenoid. Karotenoid merupakan zat yang menyebabkan warna merah, kuning, orange, dan hijau pada buah dan sayuran. Peran penting karotenoid adalah sebagai agen antioksidan dan dalam sistem fotosintesis. Selain itu karotenoid juga dapat diubah menjadi vitamin esensial.

Daftar Pustaka

Anonymous.

2013.

Metabolit

Sekunder.

available

online

at

http://id.wikipedia.org/wiki/Metabolit_sekunder Dewick, J.P. 1999. Medicinal Natural Products, A Biosynthetic Approach. John Wiley & Sons Ltd. England Edwards, R. and J.A. Gatehouse. 1999. Secondary Metabolism. In Lea, P.J. and R.C. Leegood (eds.) Plant Biochemistry and Molecular Biology. Second edition. London: John Wiley and Sons Ltd. Ferry, Endi. 2012. Senyawa Metabolit Sekunder. available online at

http://endiferrysblog.blogspot.com/2012/02/senyawa-metabolit-sekunder.html diakses pada 11 April 2013


MOTOMASA, K. 1998 Search for Biologically Active Substances from Marine Sponges. In: Prosiding Seminar Bioteknologi I (R. R. eds.), Puslit Oseanologi LIPI, Jakarta.

Putri,

Yolanisya.

2012.

Identifikasi

Metabolit

Sekunder.

available

online

at

http://yolanisyaputri.blogspot.com/2012/01/identifikasi-metabolit-sekunder.html Samosir, J. H. 2011. Metabolit Sekunder. available online at : http:// http://jenni-

hartati.blogspot.com/2011/11/biologoi-sains.html. Diakses pada 10 April 2013