Anda di halaman 1dari 8

DISKTRIPSI DIRI

Usaha kreatif Pada Proses belajar mengajar yang telah saya lakukan pada hakekatnya tidaklah menemukan suatu kesulitan yang sangat berarti karena tersesedianya media pembelajaran seperti LCD Dan OHP dengan bekal persiapan materi dalam bentuk power poin yang menarik sehingga proses belajar mengajar berjalan baik, namunpun demikian setiap pertemuan awal semester saya tetap membuat kontrak belajar (kesepakatan) dengan mahasiswa yang berisikan aturan perkuliahan, jam masuk, jumlah pertemuan sesuai sks,buku panduan yang di gunakan,metode pengajaran,tugas kelompok, sistem penilaian. Perkuliahan dalam ruangan tetap dilaksanakan seperti biasa namun setiap mata kuliah yang saya asuh yaitu Pemberdayaan Masyarakat maupun, Penyehatan dan Pengelolaan Sampah juga Pencememaran Lingkungan Fisik, saya selalu menyelingi dalam beberapa materi membuat dengan metode permaianan/ game, cara ini salah salah satu trik mengikutkan mahasiswa lebih membaur dan menggali permasalahan bersama sehingga lebih rileks tanpa ada tekanan ketika menerima materi pelajaran. Selain itu juga dalam penyampaian materi saya menggunakan metode kolokium yaitu menggali permasalahan secara bersama dengan kelompok melalui media Koran, web site, majalah, lalu mahasiswa mengangkat satu permasalahan yang terkini yang sesuai materi yang diinginkan, kemudian mahasiswa memprioritaskan permasalahan , menganalisa dan mencari solusi pemecahan masalah, dan memperentasekan berdasarakan kelompok di dalam ruangan. Metode ini sangat menarik karena keikut sertaan mahasiswa dalam menggali permasalahan dan berperan memberikan solusi dalam pemecahan masalah sehingga keterbukaan ide-ide dari mahasiwa sering menjadi perdebatan yang alot bahkan menjadi perbedaan pendapat yang menegangkan, pada momen inilah kesempatan buat saya meluruskan perbedaan pendapat mahasiswa sesuai dengan teori teori dan materi yang diajarkan. Kelompok Belajar salah satu metode pembelajaran yang saya terapkan, kelompok belajar ini mencari suatu lokasi diseputaran kampus yang menurut mahasiswa memiliki permasalahan kesehatan sesuai acuan materi yang diberikan kepada mahasiswa dan mahasiwa mengamati dalam dua minggu seperti melakukan pengamatan di seputar ruang perkuliahan Materi, Pengelolaan sampah di Ruang Kelas Reguler Tingkat II Jurusan Kesehatan Lingkungan Kemenkes Aceh mengapa terjadi suatu masalah dan apa penyebabnya juga bagaimana solusi mengatasi masalah tersebut, hasil dari pengamatan tersebut didiskusikan dalam kelompok belajar. Dampak Perubahan. Sepanjang pengalaman saya memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswa yang sebelumnya terlalu otodidak dan monoton dan merasakan kejenuhan serta membosankan dengan perubahan metode pembelajaran yang saya lakukan yang diawali dengan kontrak belajar sehingga mahasiswa tidak hanya terpaku menerima materi dari topik yang saya sampaikan tetapi mahasiswa terpacu dan merasa

bertanggung jawab mencari berbagai macam acuan untuk memenuhi materi pembelajaran. Dengan penyampaian materi metode bermain mahasiswa lebih luwes, terbuka, tanpa terbebani harus memaksakan diri menerima materi pemberlajaran tetapi secara perlahan mahasiswa memaknai arti dari permaian tersebut adalah materi dari pembelajaran sehingga tanpa ada paksaan mahasiswa dengan penuh semangat bertanya, mengeluarkan pendapat bahkan memberikan argument. Begitu juga dengan metode kolokium mencari masalah dari beberapa media terkini dan mengangkat satu toufik yang hangat dan di diskusikan, memacu mahasiswa berbagi informasi dan mendorong keingin tahuan mahasiswa yang kurang berminat menjadi lebih kreatif dalam mengikuti pembelajaran. Metode kelompok belajar menggiring mahasiswa lebih kritis menyikapi permasalahan yang ada di sekelilingnya dan memberikan ruang keterbukaan untuk berpendapat, memberikan saran perbaikan, tentu akan menimbulkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekelilingnya juga bertindak sesuai saran mahasiswa tersebut. Secara nyata saya rasakan peralihan metode pembelajaran dari kuliah ceramah yang monoton di ruangan menjadi keterlibatan masiswa berpartisipasi menggali materi pembelajaran terjadi pengkayaan pendapat dari potensi mahasiswa juga lebih memacu mendalami mata kuliah yang saya asuh begitu juga dengan penilaian terhadap mahasiswa lebih mudah membedakan mana mahasiswa yang lebih menonjol baik dalam ujian ataupun dalam berpendapat. Kedisiplinan Aturan adalah kesepakatan bersama yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama dengan mahasiswa maka setiap awal dari pertemuan semester saya selalu membuat kontrak belajar diantaranya tepat waktu masuk dalam ruangan, tidak diperbolehkan menerima telpon dalam ruangan termasuk saya sendiri, HP mode getar, kesepakatan penilaian Ujian Mid semester 30 % Penugasan 20 % Ujian semester 50 %, hasil koreksi penilaian baik penugasan, mid semester atau semester harus di kembalikan kepada mahasiswa. Kesepakatan ini tetap saya berlakukan baik pada kelas regular ataupun swadana begitu juga dengan mahasiwa tingkat yang lainnya dimana saya memberikan perkuliahan pada jurusan kesehatan lingkungan Kemenkes Aceh. Kedisiplinan dalam dalam menjalankan tugas sehari hari seperti jam kantor tetap saya taati, begitu juga dengan mahasiswa yang janji seperti ingin berkonsultasi baik dalam materi perkuliahan, tugas kelompok ataupun dalam laporan praktek ataupun laporan karya ilmiah setiap waktu yang di sepakati tetap saya tepati, apabila ada hal yang tak dapat di hindarkan diluar kemampuan kita atau ada hal mendadak yang lebih penting saya tetap memberikan kabar atau pesan baik melalui telpon ataupun sms sehingga tidak membuat mahasiswa menunggu tanpa ada pemberitahuan, hal ini saya lakukan merupakan penghargaan terhadap nilai janji yang di sepakati agar tidak mempesulit mahasiswa dan dapat memutuskan melakukan kegiatan yang lebih berarti dari pada menunggu menyia nyiakan waktu.

Keteladanan Satu kata dalam perbuatan merupakan prinsip yang selalu saya tanamkan dalam kehidupan saya sehari hari baik dalam pergaulan saya dengan masyarakat dengan teman sejawat ataupun dengan mahasiswa, berbicara dengan sopan santun, berpaikain rapi juga dalam bertindak tidak secara semborono, setiap ada permasalahan baik dengan teman sejawat selalu saya sikapi secara bijaksana dan lebih berfikir secara fositif. Sehingga saya merasa lebih mudah bergaul dengan siapapun dengan tidak membatasi diri bahwa saya sebagai dosen tetapi saya lebih merasa sebagai manusia yang saling membutuhkan satu sama lain. Saling mengharagai dan menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi serta dimana dan bersama siapa kita berada adalah konci dalam pergaulan saya sehari hari, walaupun saya terkadang lebih dekat dan akrab dengan klining sevice, penjaga malam bahkan tukang rumput sekalipun saya merasa tidak akan menurunkan harkat dan martabat saya sebagai dosen karena saya beranggapan keberadaan merekalah akan mendukung profesi saya sebagai dosen. Hubungan dengan mahasiswa selalu saya ciptakan sebagai mitra pembelajaran bukan berarti antara atasan dan bawahan yang harus di takuti, tetapi sebagai mitra yang saling menghargai perbedaan pendapat saling menghormati dan menempatkan diri pada posisi yang tidak bertentangan dengan norma kemasyarakatan ataupun norma agama. Keterbukaan terhadap kritik. Kritikan dan saran yang fositif dari orang lain bagi saya adalah bentuk kepedualian yang tak ternilai harganya atas kekurangan, itu menunjukkan bahwa orang lain menginginkan saya lebih baik di mata mereka, dengan kebesaran hati saya akan terima dan merubah kearah yang lebih baik, seperti dalam diskusi ataupun perkuliahan sering saya lupa waktu atau terlalu monoton maka selalu saya ingatkan kepada mahasiswa tolong beri saran buat saya dalam menyampaikan materi bila ada kekurangan atau kita buat kesepakatan minsalnya saya dalam satu pernyaan saya harus membatasi waktu penjelasan. Maka kebiasaan saya dengan mahasiswa membuat kotak saran berupa amplop kosong yang senantiasa mahasiswa bebas memberi saran positif terhadap saya ataupun bagaimana metode pengajaran yang mahasiswa harapkan. Dalam sistem penilaianpun tetap saya utamakan keterbukaan, untuk saling mengkoreksi apabila terjadi kekeliruan agar tidak merugikan mahasiswa dan menghindarkan kecurigaan pilih kasih antar mahasiwa maka lembar jawaban ataupun lembaran tugas tetap saya kembalikan ke mahasiswa, ini artinya mahasiswa itu sendiri menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan dan upayakan sesuai dengan nilai yang di dapat, dan bila terjadi kekeliruan saya siap memperbaiki.

Pengembangan Keilmuan. Produk Karya Ilmiah Memanfaatkan sampah yang menurut masyarakat yang sudah tidak berguna lagi merupakan suatu upaya yang bernilai tinggi apalagi dapat bermanfaat untuk menurunkan tingkat populasi lalat rumah yang selama ini tanpa di sadari masyarakat dapat menjadi perantara terjadinya penularan penyakit.

Sekam yang dibakar secara sempurna akan menghasilkan abu yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Penggunaan bahan abu dan kapur untuk menolak dan memberantas hama dan serangga, sudah dilakukan di negeri China dan Mesir sejak 1200 SM.
Atas pertimbangan ini saya berinisiatif melakukan penelitian tentang sampah yaitu Abu sekam padi digunakan sebagai pengusir lalat, Abu sekam padi ini banyak terdapat di daerah Kayee Lhee Aceh Besar di karenakan di daerah ini masih tergolong dalam daerah pertanian yaitu Petani padi serta masih banyaknya kilang kilang padi yang abu sekamnya di buang begitu saja. Melakukan penelitian dengan menganalisis, Pengaruh Abu Sekam Padi Terhadap Penurunan Populasi Lalat Rumah Mustica domistica di Desa Kayee Lhee Aceh Besar Penelitian ini dilakukan dengan analisis ANAVA dengan berbagai macam dosis perlakuan, ternyata dari 4 perlakuan bahwa dosis yang paling efektif adalah 400 gr sekam abu padi dapat menurunkan populasi lalat dalam perangkap sebanya 439 lalat rumah mustica domistika. Makna dan Kegunaan Berbagai macam cara telah dilakukan dalam rangka memberantas vektor penyakit, karena masih banyaknya kasus yng di temukan terjangkitnya penyakit yang di akibatkan oleh vector seperti lalat yang berperan sebagai media pembawa kuman, namun lebih banyak menggunakan bahan-bahan yang mengandung bahan kimia seperti pestisida, hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian untuk memanfaat sampah Abu sekam Padi yang tidak digunakan oleh masyarakat lagi yang pada umumnya hanya di bakar begitu saja, dengan adanya penelitian ini merupakan salah satu alternative pemanfaatan sampah dan sekaligus dapat sebagai umpan yang di bubuhi pada sampah yang di pasang perangkap lalat rumah ternyata begitu efektif bahwa, sebagai bahan alternative dan alamiah dengan memanfaatkan abu sekam padi ini juga menghindarkan penggunaan bahan kimia dalam membasmi vektor penyakit seperti lalat rumah. Penelitian ini mendorong masyarakat sekaligus membuka peluang secara ekonomis bahwa abu sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai pengusir lalat rumah dan memberikan pemahaman bagi masyarakat bahwa lalat rumah (mustica domistika) selain sangat menggang kenyamanan juga sangat berperan dalam menularkan berbagai macam penyakit.

Nilai Inovatif Karya penelitian ini merupakan salah satu alternative pemanfaatan sampah yang berupa Abus Sekam Padi yang biasa di bakar begitu saja oleh masyarakat yang berdomisili di Desa Kayee Lhee Aceh Besar kini dapat di gunakan bahan alami yaitu abu sekam padi sebagai penurunan populasi lalat rumah, Abu sekam padi yang selama ini di anggap tidak bermanfaat sehingga di biarkan begitu saja, padahal di daerah aceh pada umumnya wilayah pertanian khususnya petani padi, oleh karenanya banyak terdapat kilang-kilang padi yang berdiri di hampir setiap wilayah kecamatan tanpa ada yang memahami bahwa abu sekam padi tersebut dapat berguna, Berbagai upaya dalam pemberantasan vektor penyebab penyakit yang sebagai media penghantarnya adalah lalat rumah perlu perhatian serius dari berbagai kalangan termasuk para akademisi perlu adanya pembaharuan pemikiran yang memiliki nilai yang berbasiskan ramah lingkungan artinya akan mengarahkan upaya pembentarantasan vector penyakit non kimiawi. Dari bahan yang tidak berguna sehingga menjadi berguna seperti abu sekam padi kini saatnya sudah bisa dimanfaatkan oleh masyakat walaupun dalam pemahaman yang masih rendah dan

Konsistensi. Keselarasan perjalanan pendidikan yang telah saya lalui kendatipun tertatih tatih dan menjalani rentang waktu yang sangat penjang yang di awali dari Deploma I ( SPPH-1990 ) Sekolah Pembantu Penilik Hygine Banda Aceh kemudian meningkat ke Deploma III (APK- 1996 )Akedemi Penilik Kesehatan Kabanjahe lalu Fakultas Kesehatan Masyarakat ( FKM-USU-2003) dan diakhiri dengan Pasca Sarjana (S-2USU- 2009) Manajemen Kesehatan Lingkungan , yang sampai saat ini masih berkecimpung bidang pendidikan kesehatan Lingkungan, begitu juga dalam mengasuh mata kuliah masih termasuk dalam rumpun kesehatan lingkungan seperti mata kuliah Pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan tergolong matakuliah yang baru dan Kewirausahaan yang berbasiskan lingkungan ini merupakan pengembangan keilmuan di bidang kesehatan agar lebih mandiri dan berdaya guna secara ekonomis bukan hanya di bidang kesehatan. Disamping itu sebagai matakuliah pokok yang saya ampu merupakan tolak ukur mempelajari kualitas lingkungan Yaitu Pencemaran Lingkungan Fisik serta Penyehatan dan Pengelolaan sampah. Dibidang penelitianpun saya terpokus pada isu lingkungan seperti penelitian yang pernah saya lakukan tentang pengaruh Kebisingan terhadap kesehatan masyarakat, kemudian pengaruh Abu sekam pada terhadap penurunan populasi lalat serta Identifikasi jentik nyamuk Aedes Agipty keseluruhannya tidak terlepas dari isu-isu dan problematika kesehatan lingkungan.

Target Kerja Terjadinya bencana besar di Aceh yaitu Tsunami akhir tahun 2004 yang memporak porandakan wilayah Aceh termasuk Kampus Akademi Kesehatan Lingkungan yang terletak di Lhoknga bahkan rumah saya sendiri tidaklah meyurutkan langkah dan tekad saya bekerja keras untuk mengabdi pada profesi saya sebagai dosen di bidang keshetan lingkungan. Karena selain kehilangan bangunan fisik pada jurusan kesehatan lingkungan termasuk kehilangan tenaga pengajar di bidang kesehatan lingkungan yaitu rekanrekan sejawat yang tertimpa musibah Tsunami, berangkat dari motivasi yang tinggi padahal saat itu saya masih memiliki ijazah strata S-1 tetap bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Pasca Sarjana S-2 di bidang Lingkungan padahal saat itu saya berada dalam ketidak berdayaan secara ekonomis namun keinginan yang kuat untuk memenuhi peningngkatan kualitas tenaga dosen di jurusan Kesehatan lingkungan Aceh, tepatnya pada tahun ajaran 2006 saya telah melanjutkan pendidikan pada Pasca Sarajana USU Medan dengan program Kesehatan lingkungan dan dapat di selesaikan dalam kurun waktu yang telah ditargetkan. Begitu juga dengan kekurangan kekurang dalam proses belajar mengajar di Kesehatan Lingkungan saya berusaha menjembatani kerja sama secara lintas sektoral termasuk menggagas MoU dengan Balai Kesehatan Lingkungan Medan dan hasilnya hingga saat ini Poltekes Jurusan kesehatan Lingkungan Aceh telah memiliki MoU dengan BTKL Medan dalam rangka Praktek Mahasiswa di laboratorium.

C. Pengabdian masyarakat Kegiatan PKM Sejalan dengan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan secara terpadu di Takengon Aceh tengah ada beberapa kegiatan yang saya dampingi langsung termasuk sebagai nara sumber/penceramah dalam pertemuan mahasiswa bersama masyarakat dalam rangka menentukan priotas masalah kesehatan lingkungan serta memberikan pemahaman pada masyarakat betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tetap terpelihara untuk terhindarnya masyarakar dari berbagai penyakit yang di akibatkan oleh jelaknya sanitasi lingkungan. Kegiatan ceramah ini berlangsung dibalai Desa ataupun di Musala seperti di Desa Toweren, dan One one yang telah di undang oleh masyarakat setempat dan menentukan bahwa masalah kesehatan lingkungan adalah masalah masyarakat itu sendiri dan merekalah yang berhak menentukan bagaimana cara mengatasinnya serta tindakan apa yang harus dan mampu dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masyarakat itu sendiri. Rembuk dengan para tokoh masyarakat desa merupakan kegiatan inti dari program penangan pendampingan dalam rangka mengatasi masalah kesehatan lingkungan di Pedesaan tersebut. Sehingga dalam pelaksanaan penentuan prioritas pemecahan masalahpun di tentukan oleh masyarakat itu sendiri

sehingga kami sebagai pendamping mendorong mengarahkan agar pelaksanaan pemecahan masalah dapat berjalan dengan baik. Dampak Perubahan Secara tidak langsung ketertarikan masyarakat setelah melakukan ceramah atapun rembuk dengan para tokoh masyarakat dalam rangka menangani sanitasi kesehatan lingkungan di Desa One One Takengon, kepedulian dan rasa keingin tahuan dari masyarakat itu sendiri mulai muncul dengan bertanya kepada para mahasiswa yang tinggal di desa tersebut, apa yang harus di lakukan dalam rangka mengatasi masalah sanitasi lingkungan yang jelek, apa saja yang dapat terjadi, menyadari adanya masalah yang berhubungan dengan desa mereka maka masyarakatpun mulai membicarakan hal hal yang belum pernah dibicarakan sebelumnya seperti jamban keluarga, air comberan atau limbah dari rumah tangga, masalah sampah juga masalah air minum dan yang paling menjadi permasalahan banyaknya masayarakat belum memiliki jamban keluarga karena pada umumnya mereka menggunakan jamban umum yang di bangun di Meunasah. Kemudian masayarakat juga menyadari masalah yang terjadi di tersebut adalah masalah sumber air minum yang dimanfaatkan masayarakat dari aliran pegunungan masih bercampur dengan pemampatan sehari hari seperti mandi dan mencuci, masalah inilah yang sangat masyarakat sadari untuk dapat di atasi secara bersama sama.

Dukungan Mendampingi secara terus menerus dan turun kelapangan serta ikut berbagi pendapat dengan masyarakat kegiatan seperti ini menjadi daya tarik dan simpatik dari masyarakat itu sendiri yang pada awalnya hanya beberapa tokoh masyarakat yang ikut berpartisipasi tapi pada kenyataannya semakin lama semakin banyak masyarakat yang ikut bergotong royong membantu kegiatan tersebut, seperti di Desa One one pada awalnya hanya 8 orang yang mau membangun sarana MCK secara bergotong royong namun pada hari ketiga sekitar 20 orang ikut membantu kegiatan tersebut.

Begitu juga dengan pembiayaan yang pada awalnya masyarakat enggan mengeluarkan biaya namun setelah berjalan beberapa hari ternyata banyak masyarakat yang ikut menyumbang walaupun dalam bentuk material, seperti atap, ada yang menyumbang pasir hanya satu kubik kemudian semen hanya satu zak bahkan ada yang menyumbang batu gunung, akhirnya dengan kebersamaan bahkan hanya ada bantuan tenagapun sangatlah berarti seperti tukang tidak perlu dibayarkan ongkosnya lagi, sehingga dengan banyaknya bantuan dari masyarakat yang rencana awalnya selesai pembangunan MCK di Desa One- One dalam waktu 10 hari akhirnya dalam waktu lima hari telah dapat di selesaikan.