Anda di halaman 1dari 32

Jalan Prof. Dr. G. A.

Siwabessy, Kampus UI, Depok 16425 Telepon (021) 7863534, Fax (021) 7270034, (021) 7270036 Laman : http://www.pnj.ac.id

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas izin kuasa-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan. Kami menyadari pentingnya survey ini, baik sebagai kewajiban mahasiswa maupun tanggung jawab dalam memperdalam wawasan kami di dunia Konstruksi Jalan Raya. Laporan survey ini merupakan salah satu syarat penilaian di dalam mata kuliah Konstruksi Jalan Raya II. Adapun isi laporan survey ini dibuat untuk mempelajari dan memahami pembahasan tentang informasi segmen jalan perkotaan. Sebelumnya, dengan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Zainal Nur Arifin selaku dosen mata kuliah KJR 2 serta teman-teman kelas 2 Sipil 2 pagi serta pihak-pihak terkait. Harapan kami adalah sekiranya laporan survey ini dapat membantu dan memberi informasi kepada teman-teman mahasiswa khususnya program studi teknik konstruksi sipil. Akhir kata , tak ada gading yang tak retak, laporan yang sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan. Kami berharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, dosen maupun teman-teman mahasiswa sekalian, sebagai bahan-bahan evaluasi untuk kami agar kedepannya menjadi lebih baik.

Depok, April 2013

Penyusun

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang Manfaat dan Tujuan Ruang Lingkup

2 3 4 5 5 7 13 13 14 15 16 17 18 19 20 20 22

BAB II. DASAR TEORI BAB III. ANALISA (PERHITUNGAN) 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 4.1 4.2 Data Survey Kondisi Geometrik . Kondisi Lalu Lintas Hambatan Samping Analisa Kecepatan Arus Bebas . Analisa Kapasitas .. Analisa Derajat Kejenuhan, Kecepatan, dan Waktu Tempuh Analisa Perilaku Lalu Lintas Kesimpulan .. Saran

BAB 1V. PENUTUP

LAMPIRAN

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jalan adalah sarana transportasi penting, karena dapat menghubungkan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya di suatu wilayah. Untuk menjamin kualitas suatu jalan agar dapat memberikan pelayanan yang baik, sesuai yang diharapkan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat maka selalu ada langkah-langkah upaya peningkatan dengan perbaikan kecil pada geometric jalan. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya ini menyebabkan perbandingan jumlah arus lalu lintas yang timpang jauh dengan kemampuan jalan yang terbatas. Kasus dari masalah tersebut dapat dilihat di kawasan Jalan Raya Margonda di depan gang Kober yang merupakan penghubung gerbang pintu akses utama Kota Depok dengan Jakarta. Jalan tersebut adalah salah satu kawasan kegiatan perdagangan Kota Depok. Kawasan Kober ini dilalui oleh jalur regional langsung menuju Jalan Raya Margonda. Dengan lokasi yang strategis dengan akses kegiatan yang cukup tinggi menjadikan kawasan Kober mempunyai keuntungan posisi lokasional. Tata guna lahan yang ada di sekitar lokasi Jalan Raya Margonda dan gang Kober bervariasi mulai dari perdagangan, pendidikan, jasa, perkantoran, transportasi kereta sampai dengan pedagang kaki lima menjadikan daerah Jalan Raya Margonda. Gang Kober menjadi penghubung pergerakan masyarakat baik dari luar ataupun dari dalam kota Depok sendiri. Karena fungsinya yang sebagai penghubung langsung dengan Jalan Raya Margonda dan pintu keluar menuju Jakarta ini menyebabkan kemacetan di kawasan itu sendiri. Dengan posisi yang dipadati oleh pedagang kaki lima, toko-toko maupun perkantoran. Jalan Raya Margonda di depan gang Kober diklasifikasikan sebagai jalan perkotaan. Jalan perkotaan mempunyai perkembangan secara permanen dan menerus sepanjang seluruh atau hampir seluruh jalan, minimum pada satu sisi jalan baik berupa
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 4

perkembangan lahan ataupun bukan. Jalan di atau dekat pusat perkotaan dengan penduduk lebih dari 100.000 selalu digolongkan ke dalam kelompok ini. Jalan di daerah perkotaan dengan penduduk kurang dari 100.000 juga digolongkan dalam kelompok ini jika mempunyai perkembangan samping jalan yang permanen dan menerus. Volume lalu lintas yang melintasi jalur ini meningkat pesat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan di Wilayah Depok. Dalam kurun tahun terakhir, Jalan Raya Margonda di depan gang Kober masih padat, terutama yang kearah selatan, kearah Bogor, walaupun tipe jalan di kawasan gang Kober ini adalah Jalan enam Lajur dua Jalur. Oleh karena itu, perlu ditinjau dan dianalisa kembali kondisi lalu lintasnya dan melihat klasifikasinya sebagai jalan perkotaan di Wilayah Depok.

1.2

Manfaat dan Tujuan


Manfaat dan tujuan penyusunan laporan survey volume lalu lintas dan

penyeberang jalan antara lain: 1. Mendapatkan data jumlah dan jenis kendaraan yang lewat pada segmen jalan perkotaan. 2. Mendapatkan data jumlah penyeberang yang lewat pada segmen jalan perkotaan 3. Melakukan analisis operasional dan perencanaan segmen berdasarkan data riil yang ada dilapangan dengan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI).

1.3

Ruang Lingkup
Ruang lingkup dan analisis lalu lintas dalam penyusunan laporan ini antara lain:

1. Pengukuran sederhana untuk mendapatkan data primer yaitu data geometrik jalan. Meliputi: tipe jalan, jumlah lajur, panjang segmen jalan, lebar jalur lalu lintas, lebar jalur efektif, kereb, trotoar, lebar median, lebar separator, lebar bahu, lebar bahu efektif, alinyemen jalan, dan rambu lalu lintas.
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 5

2. Inventarisasi dan identifikasi kondisi lalu lintas yang terdapat pada segmen jalan. Meliputi: pemanfaatan bahu jalan, trotoar, dan lingkungan di samping jalan yang mempengaruhi karakteristik lalu lintas. Contoh: pemanfaatan bahu jalan untuk PKL atau parkir. 3. Penggambaran potongan melintang segmen jalan yang ditinjau. 4. Penggambaran hasil pengukuran sederhana dan inventarisasi permasalahan dalam peta situasi. 5. Perhitungan dan pencatatan lalu lintas secara manual yang terklasifikasi berdasarkan jenis kendaraan. Semua kendaraan yang lewat harus dihitung, kecuali kendaraankendaraan khusus misalnya: mesin gilas, grader, kendaraan konvoi militer, tank-tank baja, pemadam kebakaran dan lain-lain. 6. Pencatatan hambatan samping yang terjadi di sepanjang segmen jalan berdasarkan klasifikasi yang ditentukan untuk interval tiap 30 menit selama 2 jam . 7. Analisis operasional dan perencanaan segmen jalan yang ditinjau dengan menggunakan MKJI.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

BAB II DASAR TEORI

Jalan perkotaan / semi perkotaan mempunyai perkembangan secara permanen dan menerus sepanjang seluruh atau hampir seluruh jalan minimum pada satu sisi jalan baik berupa perkembangan lahan ataupun bukan. Jalan di atau dekat pusat perkotaan dengan penduduk lebih dari 100.000 selalu digolongkan dengan kelompok ini. Jalan di daerah perkotaan dengan penduduk kurang dari 100.000 juga digolomgkan dalam kelompok ini jika mempunyai perkembangan samping jalan yang permanen dan menerus. Indikasi penting daerah perkotaan adalah karakteristik arus lalu-lintas puncak pada pagi dan sore hari secara umum lebih tinggi dan terdapat perubahan komposisi lalu-lintas (dengan presentase kendaraan sepeda motor dan kendaraan pribadi yang lebih tinggi, dan presentase truk berat yang lebih rendah dalam arus lalu lintas). Peningkatan arus yang berarti pada jam puncak menunjukan perubahan distribusi arah lalu-lintas (tidak seimbang), dan karena itu batas segmen jalan harus dibuat antara segmen jalan luar kota dan jalan semi perkotaan. Dengan cara yang sama, perubahan arus yang berarti biasanya juga menunjukan batas segmen. Indikasi lain yang membantu yaitu keberadaan kereb: jalan luar kota jarang dilengkapi kereb. Tipe jalan perkotaan adalah sebagai berikut: Jalan dua-lajur dua-arah (2/2 UD) Jalan empat-lajur dua-arah tak terbagi (tanpa median) (4/2 UD) Jalan empat-lajur dua-arah terbagi (median) (4/2 UD)
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 7

Jalan enam-lajur dua-arah terbagi (6/2 D) Jalan satu-arah (1-3/1)

Manual juga dapat digunakan untuk menganalisa perencanaan jalan lebih dari enam lajur.

2.1

Lingkup dan Tujuan


2.1.1 Penggunaan

Berkaitan dengan system klasifikasi fungsional jalan Indonesia (UndangUndang tentang Jalan, No. 13, 1980; Undang-undang tentang lalu-lintas dan Angkutan jalan, No. 14, 1992). Masing-masing tipe jalan tersebut, prosedur perhitungan dapat digunakan untuk analisa operasional, perencanaan dan perancangan jalan perkotaan (jalan kota). Untuk setiap tipe jalan yang ditentukan, prosedur perhitungan dapat digunakan hanya pada kondisi berikut: Alinyemen datar atau hamper datar. Alinyemen horizontal lurus atau hamper lurus. Pada segmen jalan yang tidak dipengaruhi antrian akibat persimpangan, atau arus iringan kendaraan yang tinggi dari simpang bersinyal.

2.1.2

Segmen Jalan

Prosedur digunakan untuk perhitungan segmen jalan tertentu. Segmen jalan didefinisikan sebagai panjang jalan: Diantara dan tidak dipengaruhi oleh simpang bersinyal atau simpang tak bersinyal utama. Mempunyai karakteristik yang hampir sama sepanjang jalan.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

Titik dimana karakteristik jalan berubah secara berarti menjadi batas segmen walaupun tidak ada simpang didekatnya. Perubahan kecil dalam geometric tidak perlu dipersoalkan terutama jika perubahan tersebut hanya sebagian. Dalam penentuan akses segmen jalan ke jalan perkotaan bebas hambatan, jalur penghubung dan daerah jalinan harus dipisahkan dari segmen jalan yang umum, dan dianalisa menggunakan prosedur. Karena jalurpenghubung bisa menjadi daerah krisis untuk kapasitas, analisa tambahan untuk jalinan atau jalur penghubung mungkin diperlukan, terutama dalam analisa operasional jalan layang yang kompleks. Dalam hal demikian prosedur untuk jalan bebas hambatan, jalur penghubung dan bagian jalinan yang terdapat dalam US HCM tahun 1985 (revisi 1994) disarankan digunakan 2.1.3 Jaringan Jalan

Jaringan jalan atau koridor jika sedang dianalisa, sebaiknya dibagi dalam komponen, sebagai berikut: Segmen jalan Simpang bersinyal Simpang tak bersinyal Bagian jalinan Perhitungan kemudian dilakukan secara terpisah untuk masing-masing tipe fasilitas, kemudia digabung untuk memperoleh kapasitas dan ukuran kinerja system secara menyeluruh. Prosedur yang dijelaskan di bawah untuk jalan perkotaan dan semi perkotaan berlaku segmen tanpa pengaruh simpang, dank arena itu sebagian besar data empiris untuk manual ini dikumpulkan dari rute utama perkotaan dan semi perkotaan dan bukan dari jalan kota. Pada jalan kota, dimana banyak persimpangan utama, kapasitas, dan kinerja system jalan akan tergantung terutama pada persimpangan (dan bagian jalinan) dan bukan pada segmen jalan diantara persimpangan. Bagaimanapun, jika analisa
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 9

jaringan diperlukan, prosedur perhitungan untuk segmen jalan yang diberikan di bawah dapat digunakan pada jaringan jalan pusat kota sebagai berikut: Hitung waktu tempuh dengan menggunakan prosedur segmen jalan seolah-olah tidak ada gangguan dari persimpangan atau daerah jalinan yaitu analisa seolah olah tidak ada persimpangan atau daerah jalinan (waktu tempuh tak terganggu). Untuk setiap simpang atau daerah jalinan utama pada jaringan jalan, hitung tundaan dengan menggunakan prosedur yang sesuai pada bagian lain dari manual ini. Tambahkan tundaan simpang / jalinan dengan waktu tempuh tak terganggu, untuk memperoleh waktu tempuh keseluruhan. 2.1.4 Karakteristik Jalan

Karakteristik utama jalan yang akan mempengaruhi kapasitas dan kinerja jalan jika dibebani lalu-lintas diperlihatkan di bawah ini. Setiap titik pada jalan tertentu dimana terdapat perubahan penting dalam rencana geometrik, karakteristik arus lalulintas atau aktivitas samping jalan menjadi batas segmen jalan. Karakteristik yang digunakan pada prosedur perhitungan dalam manual ini bisa secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian besar diantaranya juga telah diketahui dan digunakan dalam manual kapasitas jalan lain. Namun demikian besar pengaruhnya berbeda dengan yang terdapat di Indonesia. A. Geometri Tipe Jalan = berbagai tipe jalan akan menunjukkan kinerja berbeda pada pembebanan lalu-lintas tertentu; misalnya jalan terbagi dan tak-terbagi; jalan satu-arah. Lebar jalur lalu-lintas = kecepatan arus bebas dan kapasitas meningkat dengan pertambahan lebar jalur lalu lintas.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

10

Kereb = kereb sebagai batas antara jalur lalu-lintas dan trotoar berpengaruh terhadap dampak hambatan samping pada kapasitas dan kecepatan. Kapasitas jalan dengan kereb lebih kecil dari jalan dengan bahu. Selanjutnya kapasitas berkurang jika terdapat penghalang tetap dekat tepi jalur lalu-lintas , tergantung apakah jalan mempunyai kereb atau bahu

Bahu = jalan perkotaan tanpa kereb pada umumnya mempunyai bahu pada kedua sisi jalur lalu-lintasnya. Lebar dan kondisi permukaannya mempengaruhi penggunaan bahu, berupa penambahan kapasitas, dan kecepatan pada arus tertentu , akibat pertambahan lebar bahu, terutama karena pengurangan hambatan samping yang disebabkan kejadian di sisi jalan seperti kendaraan angkutan umum berhenti, pejalan kaki dan sebagainya.

Median = median yang direncanakan dengan baik meningkatkan kapasitas Alinyemen jalan = lengkung horizontal dengan jari-jari kecil mengurangi kecepatan arus bebas. Tanjakan yang curam juga mengurangi kecepatan arus bebas. Karena secara umum kecepatan arus bebas di daerah perkotaan adalah rendah maka pengaruh ini diabaikan.

B. Komposisi Arus dan Pemisahan Arah Pemisahan arah lalu-lintas = kapasitas jalan dua arah paling tinggi pada pemisahan arah 50 50, yaitu jika arus pada kedua arah adalah sama pada periode waktu yang dianalisa (umumnya satu jam). Komposisi lalu-lintas = komposisi lalu-lintas mempengaruhi hubungan kecepatan-arus jika arus dan kapasitas dinyatakan dalam kendaraan per jam, yaitu tergantung pada rasio sepeda motor atau kendaraan berat dalam arus lalulintas . jika arus dan kapasitas dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp), maka kecepatan kendaraan ringan dan kapasitas (smp/jam) tidak dipengaruhi oleh komposisi lalu-lintas.
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 11

C. Pengaturan Lalu-Lintas Batas kecepatan jarang diberlakukan di daerah perkotaan di Indonesia, dan karenanya hanya sedikit berpengaruh pada kecepatan arus bebas. Aturan lalu-lintas lainnya yang berpengaruh pada kinerja lalu-lintas adalah pembatasan parker dan berhenti sepanjang sisi jalan; pembatasan akses tipe kendaraan tertentu; pembatasan akses dari lahan samping jalan dan sebagainya. D. Aktivitas Hambatan Samping (Samping Jalan) Banyak aktivitas samping jalan di Indonesia sering menimbulkan konflik, kadang-kadang besar pengaruhnya terhadap arus lalu-lintas. Pengaruh konflik ini, (hambatan samping), diberikan perhatian utama dalam manual ini, jika dibandingkan dengan manual negara Barat. Hambatan samping yang terutama berpengaruh pada kapasitas dan kinerja jalan perkotaan adalah Pejalan kaki Angkutan umum dan kendaraan lain berhenti Kendaraan lambat Kendaraan masuk dan keluar dari lahan di samping jalan

E. Perilaku Pengemudi dan Populasi Kendaraan Ukuran Indonesia serta keanekaragaman dan tingkat perkembangan daerah perkotaan menunjukan bahwa perilaku pengemudi dan populasi kendaraan (umur, tenaga dan kondisi kendaraan, komposisi kendaraan) adalah beraneka ragam. Karakteristik ini dimasukan dalam prosedur perhitungan secara tidak langsung, melalui ukuran kota. Kota yang lebih kecil menunjukkan perilaku pengemudi yang kurang gesit
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 12

dan kendaraan yang kurang modern, menyebabkan kapasitas dan kecepatan lebih rendah pada arus tertentu, jika dibandingkan dengan kota yang lebih besar.

BAB III ANALISA PERHITUNGAN


3.1 DATA SURVEY

Lokasi : Gang Kober, Jl. Raya Margonda Depok


Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 13

Waktu : Rabu, 6 Maret 2013, pukul 17.00 19.00 WIB

3.2

KONDISI GEOMETRIK
3.2.1 Rencana situasi

gambar 3.2.1 contoh rencana situasi

3.2.2 ng Penampa melintang jalan

Buat sketsa penampa ng melintang segmen jalan rata-rata dan tunjukkan lebar jalur lalu-lintas, lebar median, kereb, lebar bahu dalam dan luar tak terganggu (jika jalan terbagi), jarak dari kereb ke penghalang samping jalan seperti pohon, selokan, dan sebagainya. Perhatikan bahwa Sisi A dan Sisi B ditentukan oleh garis referensi penampang melintang pada rencana situasi. Isi data geometrik yang sesuai untuk segmen yang diamati ke dalam ruang yang tersedia pada tabel di bawah sketsa penampang melintang.
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 14

gambar 3.2.2 potongan melintang Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 15

3.3
1.

KONDISI LALU LINTAS


Masukkan data masukan herikut pada kotak yang sesuai dalam Formulir UR-2: LHRT (kend/hari) untuk tahun/soal yang diamati. Faktor-k (rasio antara arus jam rencana dan LHRT; nilai normal k = 0,09) Pemisahan arah SP (Arah 1/Arah 2, Nilai normal, mis: 50/50 %)

2. 3.

4.

5.

Masukkan data survey jumlah kendaraan terbesar ke dalam kolom 2, 4, dan 6 ssesuai dengan jenis kendaraan dan arahnya. Lalu untuk kolom 3, 5, dan 6 masukkan nilai dari kolom 2, 4 dan 6 yang sudah dikalikan dengan nilai emp-nya (lihat lampiran nilai emp untuk jalan perkotaan) Lalu hitung arus total dengan menjumlahkan kolom 3, 5, dan 7 lalu jumlahkan semua arus total (smp/jam). Setelah itu hitung arah (%) dengan membagi arus (smp/jam) dengan arus totalnya (smp/jam). Hitung pemisahan arah (SP) sebagai arus total (kend/jam) Arah 1 pada Kolom 9 dibagi dengan arus total Arah 1+2 (kend/jam) pada Kolom yang sama. Masukkan hasilnya ke dalam Kolom 9 Baris 6. SP = QDH,1/QDH,1+2.
Hitung faktor satuan mobil penumpang Fsmp = Qsmp/ Q ken d dengan membagi jumlah arus pada Kolom 10 Baris 5 dengan jumlah arus pada Kolorn 9, Baris 5. Masukkan hasilnya ke dalam Kolom 10 Baris 7.

6.

gambar 3.3 lalu lintas harian rata-rata tahunan

3.4

HAMBATAN SAMPING
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 16

1. Masukkan 11-mil pengamatan (atau perkiraan jika analisa untuk tahun yang akan datang) mengenai frekwensi hambatan samping per jam per 200 m pada

kedua sisi segmen yang diamati, ke dalam Kolom 23 pada Formulir UR-2 - Jumlah pejalan kaki berjalan atau menyeberang sepanjang segmen jalan. - Jumlah kendaraan berhenti dan parkir. - Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar ke/dari lahan samping jalan dan jalan sisi. - Arus kendaraan yang bergerak lambat, yaitu arus total (kend/jam) dari sepeda, becak, delman, pedati, traktor dan sebagainya. 2. Kalikan frekwensi kejadian pada Kolom 23 dengan bobot relatif dari tipe kejadian pada Kolom 22 dan masukkan frekwensi berbobot kejadian pada Kolom 24. 3. Hitung jumlah kejadian berbobot termasuk semua tipe kejadian dan masukkan hasilnya pada baris paling bawah Kolom 24. 4. Tentukan kelas hambatan samping (lihat lampiran kelas hambatan samping) berdasarkan hasil dari langkah 3.
gambar 3.4.1 kelas hambatan samping

3.5

ANALISA KECEPATAN ARUS BEBAS

Gunakan Formulir UR-3 untuk analisa penentuan kecepatan arus bebas, dengan data masukan dari Langkah A (Formulir UR-1 dan UR-2).
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 17

FV = (FVO + FVW) FFVS FFVCS dimana: FV FVo FVW FFVSF FFVCS = = = = = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan (km/jam) Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan Penyesuaian lebar jalur lalu-lintas efektif (km/jam) Faktor penyesuaian kondisi hambatan samping Faktor penyesuaian ukuran kota (perkalian)

(lihat lampiran untuk table FVo, FVw, FFVsf, FFVcs)

tabel 3.5.1 kecepatan arus bebas kendaraan ringan

3.6

ANALISA KAPASITAS

Tentukan kapasitas segmen jalan pada kondisi lapangan dengan menggunakan data yang diisikan ke dalam Formulir UR-3 Kolom 11-15 dan masukkan hasilnya ke dalam Kolom 16. C = CO x FCW x FCSP x FCSF x FCCS dimana: C = Kapasitas CO = Kapasitas dasar (smp/jam) FC QW= Faktor penyesuaian lebar jalur lalu-li ntas
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 18

FC SP = Faktor penyesuaian pemisahan arah FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping FC CS = Faktor penyesuaian ukuran kota (lihat lampiran untuk table Co, FCqw, FCsp, FCcf, FCcs)

tabel 3.6.1 kapasitas arus bebas kendaraan ringan

3.7
1.

ANALISA DERAJAT KEJENUHAN, KECEPATAN, DAN WAKTU TEMPUH


Lihat arus total (Q) pada Kolom 10 Baris 3 dan 4 untuk masing masing arah dari jalan terbagi, dan masukkan nilainya ke dalam Formulir UR-3 Kolom 21. Dengan menggunakan kapasitas (C) dari Kolom 16, hitung rasio antara Q dan C yaitu derajat kejenuhan dan masukkan nilainya ke dalam Kolom 22. DS = Q/C 2. Untuk kolom kecepatan gunakan grafik Derajat Kejenuhan (Q/C) untuk jalan banyak lajur. Masukan nilai DS di sumbu x lalu tari tegak lurus arah y sampai berpotongan dengan kurva FVlv, lalu tarik ke arah kiri untuk mendapat nilai Vlv.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

19

3.

Untuk waktu tempuh adalah dengan membagi kecepetan dengn lebar segmen.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

20

3.8

ANALISA PERILAKU LALU LINTAS

Manual ini terutama direncanakan untuk memperkirakan kapasitas dan perilaku lalulintas pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan rencana geometrik, lalu-lintas dan lingkungan. Karena hasilnya biasanya tidak dapat diperkirakan sebelumnya, mungkin diperlukan perbaikan kondisi yang sesuai dengan pengetahuan para ahli, terutama kondisi geometrik, untuk memperoleh perilaku lalulintas yang diinginkan berkaitan dengan kapasitas, kecepatan dan sebagainya. Cara yang paling cepat untuk menilai hasilnya adalah dengan melihat derajat kejenuhan dari kondisi yang diamati, dan membandingkannya dengan pertumbuhan lalu-lintas tahunan dan "umur" fungsional yang diinginkan dari segmen jalan tersebut. Jika derajat kejenuhan yang diperoleh terlalu tinggi (DS > 0,75), pengguna manual mungkin ingin meruhah asumsi yang berkaitan dengan penampang melintang jalan dan sebagainya, dan membuat perhitungan baru. Hal ini akan membutuhkan formulir baru dengan nomor soal yang baru. Perhatikan bahwa untuk jalan terbagi, penilaian harus dikerjakan dahulu pada setiap arah untuk sampai pada penilaian yang menyeluruh.

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

21

BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
JALUR Depok Jakarta Jakarta - Depok WAKTU 17.00 19.00 WIB DS 0,51 0,90

SEGMEN BATASAN 1 Fly Over UI Jl. Ir. Juanda

Dari hasil perhitungan kapasitas jalan arah Utara lebih besar daripada arus kendaraan, tetapi pada arah Selatan kapasitas jalan dengan arus kendaraan hamper sama besarnya sehingga ini membuat kepadatan jalan bahakan bias membuat kemacetan yang ditunjukkan dengan nilai DS pada arah Selatan yang besarnya > 0,75. Dengan melihat keadaan aktual dari jalan Margonda Raya yang memiliki tipe jalan 6 lajur 2 jalur, kemacetan yang timbul disepanjang jalan tersebut disebabkan oleh: a. Pejalan kaki yang tidak disiplin, karena tidak memanfaatkan fasilitas zebra cross dan lampu lalu lintas pejalan kaki terutama dilokasi survey di Gang Kober menuj arah seberangnya b. Pengguna kendaraan yang mengabaikan lampu lalu lintas terutama ketika lampu kuning ketika kesempatan itu seharusnya digunakan pejalan kaki yang menyeberang jalan. c. Angkutan umum yang berhenti di pinggir2 jalan yang membuat antrian panjang bagi kendaraan lain yang ingin berjalan.

4.2

SARAN
Kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan Margonda Raya Kota Depok terutama di tempat survey kelompok kami yaitu Gang Kober baik arah Selatan maupun arah Utara tersebut didapatkan solusi dan saran dari masalah adalah sebagai berikut: 1. Ditutupnya median jalan dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang ditempat tersebut sehingga fasilitas yang ada yaitu zebra cross penyebrangan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan 22

2. Ditertibkannya angkutan kota agar berhenti sesuai dengan tempatnya (halte), dibangunnya sebuah halte pemberhentian dan pada setiap titik lokasi survey dibuat jalur lambat/ tempat pemberhentian angkutan kota (Storage). 3. Agar dibuat jembatan penyebrangan untuk pejalan kaki dan menutup median jalan dengan pagar sehingga pejalan kaki dapat menggunakan fasilitas yang disediakan (jembatan penyebrangan). 4. Adanya terminal regional sehingga menyebabkan kendaraan umum terpusat ke Terminal untuk itu disarankan dipindahkannya Terminal Regional Depok ketempat yang lebih sesuai karena kemacetan disebabkan arus lalu lintas terpusat pada terminal regional tersebut (Berdasarkan Perencanaan Tata ruang Wilayah/ RTRW Kota Depok).

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

23

LAMPIRAN

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

24

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

25

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

26

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

27

tabel komposisi lalu lintas

tabel nilai emp untuk jalan perkotaan

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

28

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

29

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

30

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

31

Survey Volume Lalu Lintas dan Penyeberang Jalan

32