Anda di halaman 1dari 6

ASAS-ASAS HUKUM PIDANA INTERNASIONAL

O L E H

NURUL AZIZAH B11110441 KELAS D

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Asas-asas Hukum Pidana Internasional Asas hukum pidana internasional yang bersumber dari hukum internasional secara garis besar dibedakan kedalam asas umum dan asas khusus. Asas hukum pidana internasional yang berasal dari internasional dan umum sifatnya adalah pacta sunt servanda. Asas tersebut merupakan asas hukum yang paling tua dan paling utama yang mengandung arti bahwa perjanjian yang dibuat mengikat para pihak ibarat undang-undang. Bila dihubungkan dengan sumber hukum pidana internasional, dapatlah dipahami bahwa perjanjian internasional menempati urutan teratas dalam hirarki sumber hukum pidana internasional.

(www.prayitnobambang.blogspot.com, 2012-04-21,10:09) Berikutnya adalah asas civitas maxima sebagai asas hukum pidana internasional yang bersumber dari asas hukum internasional umum. Dalam beberapa literatur, asas civitas maxima dikenal dengan istilah asas imperium romanum atau asas roman empire. Asas ini mengandung arti bahwa ada sistem hukum universal yang dianut oleh semua bangsa didunia dan harus dihormati serta dilaksanakan. Bila dikaitkan dengan teori hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional, asas civitas maxima ini sejalan dengan teori monisme yang melihat hukum internasional dan hukum nasional sebagai satu kesatuan sistem dengan menempatkan hukum internasional diatas hukum nasional.

(www.prayitnobambang.blogspot.com, 2012-04-21,10:29) Asas timbal balik. Asas ini juga dikenal dengan asas resiprokal. Pada dasarnya, asas resiprokal ini mengandung makna bahwa jika suatu negara menginginkan suatu perlakuan yang baik terhadap negara. Sedangkan asas khusus dalam hukum pidana internasional adalah :

1. Asas aut dedere aut punere diciptakan oleh Hugo de Groot yang berarti bahwa pelaku kejahatan internasional diadili menurut hukum di tempat ia melakukan kejahatan. Dengan kata lain, pelaku kejahatan internasional diadili sesuai dengan locus delicti. 2. Berasal dari Bassiouni yaitu aut dedere aut judicare yang berarti setiap negara berkewajiban untuk menuntut dan mengadili pelaku tindak pidana internasional dan berkewajiban untuk melakukan kerja sama dengan negara lain dalam menangkap, menahan dan menuntut serta mengadili pelaku tindak pidana internasional. 3. Asas par in parem in hebet imperium yang berarti bahwa kepala negara tidak dapat dihukum dengan menggunakan hukum negara lain. Asas ini merupakan hak impunitas atau kekebalan dari seorang kepala negara asing dalam hubungan internasional. Pada perkembangan selanjutnya, asas par in parem in hebet imperium dikecualikan dari kejahatan-kejahatam serius terhadap masyarakat internasional seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Dalam Pasal 27 Statuta Roma tidak dikenal relevansi jabatan resmi. Dengan kata lain, jika berkaitan dengan kejahatan-kejahatan serius terhadap masyarakat internasional asas par in parem in hebet imperium ini dikecualikan. (www.prayitnobambang.blogspot.com, 2012-04-21,10:51)

Sedangkan asas hukum pidana internasional yang bersumber dari hukum pidana nasional adalah : 1. Asas legalitas 2. Asas teritorial 3. Asas Ne Bis In Idem

4. Asas-asas ekstradisi

Contoh Kasus : Kasus Bom Bali I

Bom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I)adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.

Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.

Peristiwa ini memicu banyak dugaan dan prasangka negatif yang ditujukan kepada lembaga pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya, disebabkan banyak masyarakat yang menggeneralisasi lembaga keagamaan dan mencurigai bahwa terjadi pencucian otak di dalam pesantren, walaupun belum ada bukti signifikan yang ditemukan atas isu tersebut. (www.id.wikipedia.org, 2012-04-25, 21:03)

Dengan adanya kejadian ini, Indonesia dirundung masalah yang berat terkait dengan masalah keamanan. Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara-negara lainnya dengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya untuk dating ke Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://prayitnobambang.blogspot.com/2011/09/asas-asas-hukum-pidana-internasional.html

http://masroed.wordpress.com/2010/06/01/keterkaitan-hukum-pidana-internasional-dalampenegakan-hukum-transnasional-crime/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002