LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RSJD. Dr.

AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Masalah Utama Defisit Perawatan Diri 2. Proses Terjadinya Masalah a. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004). Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000). Tanda dan Gejala :   Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku panjang dan kotor Ketidakmampuan berhias/berpakaian, ditandai dengan rambut acakacakan, pakain kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan.  Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai oleh

ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makana tidak pada tempatnya  Ketidakmampuan eliminasi sevara mandiri, ditandai dengan buang air besar atau buang air kecil tidak pada tempatnya, dan tidak membersihakan diri dengan baik setelah BAB/BAK  b. Penyebab Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut : kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Tanda dan Gejala

Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah: a) Fisik  Badan bau, pakaian kotor.  Rambut dan kulit kotor.  Kuku panjang dan kotor  Gigi kotor disertai mulut bau  Penampilan tidak rapi b)    Psikologis Malas, tidak ada inisiatif. Menarik diri, isolasi diri. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.  Interaksi kurang  Kegiatan kurang  Tidak mampu berperilaku sesuai norma.  Cara makan tidak teratur  BAK dan BAB di sembarang tempat

c) Sosial

3. Pohon masala
Kebersihan diri tidak adekuat (BAB/BAK, Makan minum dan berdandan) Defisit perawatan diri

Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

Isolasi sosial

4. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji a) Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri Data subyektif a. Klien mengatakan saya tidak mampu mandi, tidak bisa melakukan apa-apa, Data obyektif

a. Klien terlihat lebih kurang memperhatikan kebersihan, halitosis, badan bau, kulit kotor b) Isolasi Sosial Data subyektif a. Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. Data obyektif b. Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup, Apatis, Ekspresi sedih, Komunikasi verbal kurang, Aktivitas menurun, Posisi janin pada saat tidur, Menolak berhubungan, Kurang memperhatikan kebersihan

c) Defisit Perawatan Diri Data subyektif a. Pasien merasa lemah b. Malas untuk beraktivitas c. Merasa tidak berdaya. Data obyektif a. Rambut kotor, acak – acakan b. Badan dan pakaian kotor dan bau c. Mulut dan gigi bau. d. Kulit kusam dan kotor e. Kuku panjang dan tidak terawat

5. Diagnosa Keperawatan a. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri b. Isolasi Sosial c. Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan, BAB/BAK

6. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa 1 : Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

Tujuan Umum : Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri

Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri. Perkenalkan nama. TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri. Intervensi a. g. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati. Motivasi klien untuk mandi. keramas dan menyisir rambut. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda.tanda bersih. Buat kontrak interaksi yang jelas. sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur). Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore. b. gunting kuku jika panjang. c. d. Beri kesempatan untuk mandi. Intervensi a. c. d. b. beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien. . f. e. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri. h. nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. e. Penuhi kebutuhan dasar klien. f. b.Tujuan Khusus : TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi. Intervensi a. TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat. g. Berikan salam setiap berinteraksi.

pakaian ganti. ingatkan untuk mencuci rambut. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien. f. f. c.c. e. Intervensi a. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri. b. seperti mandi dan kebersihan kamar mandi. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari. d. e. TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS. ganti baju dan pakai sandal. mandi. sikat gigi. menyisir. d. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri. Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol. g. dan lain-lain. Intervensi a. gosok gigi. keramas. TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri. sikat gigi. Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri. shampoo. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi. TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri. Diagnosa 2 : Isolasi sosial . Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut. handuk dan sandal. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri. Intervensi a.

Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul b. Beri perhatian dan penghaargaan: temani klien walau tidak menjawab. Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya b. memperkenalkan diri. Intervensi A. : Klien dapat membina hubungan saling percaya TUK II Intervensi : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri a. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain B. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri. tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain a. c. tempat dan waktu. b. jelaskan tujuan interaksi. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain b. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain .Tujuan Umum : klien tidak terjadi perubahan sensori persepsi Tujuan Khusus : TUK I Intervensi a. tanda-tanda serta penyebab yang muncul c. buat kesepakatan dengan jelas tentang topik. Dengarkan dengan empati: beri kesempatan bicara. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya TUK III : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain c. ciptakan lingkungan yang tenang. jangan terburu-buru. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain a.

Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu f. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain c. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain Diagnosa 3 : Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain b. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain c. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan TUK IV : Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain Intervensi a. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan e. BAB/BAK Tujuan Umum      : Pasien tidak mengalami defisit perawatan diri Tujuan Khusus : Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri Pasien mampu melakukan berhias/berdandan secara baik Pasien mampu melakukan makan dengan baik Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri . Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan g. Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain c. makan.b. berdandan. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain TUK IV : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial Intervensi a. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai d.

Intervensi 1) Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri a) Menjelasan pentingnya menjaga kebersihan diri. b) Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri c) Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri d) Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri 2) Melatih pasien berdandan/berhias Untuk pasien laki-laki latihan meliputi : a) Berpakaian b) Menyisir rambut c) Bercukur Untuk pasien wanita. latihannya meliputi : a) Berpakaian b) Menyisir rambut c) Berhias 3) Melatih pasien makan secara mandiri a) Menjelaskan cara mempersiapkan makan b) Menjelaskan cara makan yang tertib c) Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan d) Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik 4) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri a) Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai b) Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK c) Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK .

Jakarta: EGC. 2001.Kaplan Sadoch. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC Santosa. Buku Saku Keperawatan Jiwa. 2000. Sudden. Proses Keperawatan Jiwa. EGC . Jakarta : EGC Nurjanah. Edisi 3. 1998. Stuart. Intansari S. Potter. 2006. Kep. B. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. 2006. GW. Jakarta : CV Sagung Seto Stuart. Jakarta. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. B. Jakarta : EGC Rasmun S.Kep. Tarwoto dan Wartonah. 1998. 1998. Edisi 8. Depkes. 2005 . M 2004. Edisi 7. Edisi 5. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. 2005 – 2006. Jakarta : Prima Medika. Standar Pedoman Perawatan jiwa. 2002. Jakarta : EGC Keliat. 2005. Jakarta : EGC. Budi. Sinopsis Psikiatri. Townsend.A. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC Keliat. Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta : Momedia Perry.A. Marry C. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri. 2001. 2000. Lynda Juall. Jakarta.

Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 .LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI DI RSJD.

Menurut Maris. Terbagi menjadi: 1. Silverman. bunuh diri memiliki 4 pengertian. Faktor Psikososial & Lingkungan Faktor genetik (berdasarkan penelitian):  1. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. . misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api. antara lain:  Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional  Bunuh diri dilakukan dengan intensi  Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri  Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif).LAPORAN PENDAHULUAN A. MASALAH UTAMA Resiko bunuh diri B. Pengertian Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Faktor Genetik 2.5 – 3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada individu yang menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan mood/depresi/ yang pernah melakukan upaya bunuh diri. Tanda dan gejala :  Sedih  Marah  Putus asa  Tidak berdaya  Memeberikan isyarat verbal maupun non verbal 2. Berman. Penyebab Secara universal: karena ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan masalah. Faktor Biologis lain 3. dan Bongar (2000).

perasaan negatif thd diri. keletihan  Menarik diri dari lingkungan social  Pikiran dan rencana bunuh diri  Percobaan atau ancaman verbal . kurangnya sistem pendukung sosial 3. misalnya:  Stroke  Gangguuan kerusakan kognitif (demensia)  DiabetesPenyakit arteri koronaria  Kanker  HIV / AIDS Faktor Psikososial & Lingkungan:  Teori Psikoanalitik / Psikodinamika: Teori Freud. memandang rendah diri sendiri  Stressor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga. Lebih sering terjadi pada kembar monozigot dari pada kembar dizigot. yaitu Pola kognitif negatif yang berkembang. dan terakhir depresi. Akibat Resiko bunuh diri dapat megakibatkan sebagai berikut :  Keputusasaan  Menyalahkan diri sendiri  Perasaan gagal dan tidak berharga  Perasaan tertekan  Insomnia yang menetap  Penurunan berat badan  Berbicara lamban. penipuan. Faktor Biologis lain: Biasanya karena penyakit kronis/kondisi medis tertentu.  Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck. yaitu bahwa kehilangan objek berkaitan dengan agresi & kemarahan.

orang lain dan lingkungan Resiko bunuh diri Harga diri rendah D. DO : ada isyarat bunuh diri. POHON MASALAH Resiko mencederai diri sendiri.C. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Masalah keperawatan  Resiko Perilaku bunuh diri DS : menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja. gelisah. tak ada harapan. . pernah mencoba bunuhdiri. masalah semakin banyak  Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko. pengangguran.  Riwayat keluarga: meningkat apabila ada keluarga dengan percobaan bunuh diri / penyalahgunaan zat. DO : nampak sedih. tidak bahagia. mendapat malu di lingkungan social. tak ada gunanya hidup. tidak dapat mengontrol impuls.  Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi): Kehilangan orang yang dicintai. hidup sendiri merupakan masalah.  Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian introvert/menutup diri.  Lain – lain: Penelitian membuktikan bahwa ras kulit putih lebih beresiko mengalami perilaku bunuh diri. ada ide bunuh diri. Pengkajian Faktor Resiko Perilaku bunuh Diri  Jenis kelamin: resiko meningkat pada pria  Usia: lebih tua. 2.  Koping maladaptive DS : menyatakan putus asa dan tak berdaya. mudah marah.

Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat. ketakutan dan keputusasaan. Bicara dengan tegas. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan. Bersifat hangat dan bersahabat. Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.E. dan jujur. jelas. silet. Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.  Klien dapat mengekspresikan perasaannya Tindakan:      Dengarkan keluhan yang dirasakan. Tujuan umum 3. dan lain lain.  Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri Tindakan :    Jauhkan klien dari benda benda yang dapat membahayakan (pisau. kematian.  Klien dapat meningkatkan harga diri Tindakan: . Awasi klien secara ketat setiap saat. Tujuan khusus : Resiko bunuh diri : Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri :  Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan:      Perkenalkan diri dengan klien Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal. gunting. tali. Diagnosa 1 2. kaca. dan lain lain). Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat. Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan.

sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.3 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Hindari penilaian negatif detiap pertemuan klien Utamakan pemberian pujian yang realitas . Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik.  Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif 1.2. Tindakan: 1.2 2. Diagnosa 2 2. Tujuan khusus : Gangguan konsep diri: harga diri rendah : Klien tidak melakukan kekerasan : 1.3. membaca buku favorit. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.)  Bantu untuk mengenali hal hal yang ia cintai dan yang ia sayang. rileks dan tidak menantang. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.1 2. Tindakan: 2.1. dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain. 1. keyakinan. mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan. 1. Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.  Klien dapat menggunakan koping yang adaptif Tindakan:  Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman yang menyenangkan setiap hari (misal : berjalan-jalan. empati. Tujuan umum 3.   Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya. Bicara dengan sikap tenang. menulis surat dll. Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal: hubungan antar sesama. 2. hal hal untuk diselesaikan). Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Klien dapat merencanakan kegiatan yang bermanfaat sesuai kemampuan yang dimiliki Tindakan : 4.2 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah 4. orang lain dan lingkungan : Pasien tidak mencederai diri sendiri. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 5.2 6.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan. Tujuan khusus Pasien mendapatkan perlindungan dari lingkungannya Pasien mampu mengungkapkan perasaannya Pasien mampu meningkatkan harga dirinya Pasien mampu menggunakan cara penyelesaiaan masalah yang baik .1 6. 4. Tujuan umum - : Resiko mencederai diri sendiri. Klien mampu menilai kemampuan yang dapat digunakan untuk diri sendiri dan keluarga Tindakan: 3. Beri klien kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5.4 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga 1.2.1. Beri pujian atas keberhasilan klien 5.3 6.3.2.3. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan : 5. Diagnosa 2.3.1 3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang klien lakukan. orang lain dan lingkungan : 3. 4. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : 6. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 6.

b) Tindakan keperawatan Melindubgi pasien dengan cara:     Temani pasien terus-menerus sampai pasein dapat dipindahkan ke tempat yang aman Jauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya: pisau. Dengan lembut. dan tali pinggang) Periksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya jika pasien mendapatkan obatnya. Tindakan : Mendikusikan cara mengatasi keinginan mencederai diri sendiri.4. RENCANA TINDAKAN KPERAWATAN a. gelas. silet. Intervensi pada pasien a) Tujuan keperawatan Pasien tetap aman dan selamat. jelaskan pada pasien bahwa anda akan melindungi pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri. . Ancaman atau percobaan bunuh diri 1. orang lain dan lingkungan Meningkatkan harga diri pasien dengan cara : o Memberikan kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya o Memberikan pujian jika pasien dapat mengatakan perasaan yang positif o Meyakinkan pasien bahawa dirinya penting o Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien o Merencanakan yang dapat pasien lakukan Tingkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara : o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya o Mendiskusikan dengan pasien efektfitas masing-masing cara penyelesian masalah o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik F.

Daftar Pustaka Keliat A. Budi. Akemat. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC. . 2009.

III. ragu. Kasus (Masalah Utama) Isolasi sosial : menarik diri II.LAPORAN PENDAHULUAN I. perawatan diri kurang. menghindari hubungan dengan orang lain (Budi Ana Keliat. Proses Terjadinya Masalah Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Resiko dari perilaku menarik diri adalah terjadinya perubahan persepsi sensori (halusinasi). menolak hubungan dengan orang lain. menyendiri. Gangguan konsep diri : harga diri rendah 2. banyak diam diri di kamar. putus hubungan. Manifestasi klinik pada klien dengan menarik diri adalah apatis. Pohon Masalah Risiko perubahan persepsi sensori : halusinasi…. afek tumpul. Risiko perubahan persepsi sensori : halusinasi…. Menarik diri dapat juga disebabkan oleh perceraian. Faktor perkembangan yang terjadi adalah kegagalan individu sehingga terjadi tidak percaya pada orang lain. putus asa terhadap hubungan dengan orang lain dan gangguan konsep diri. b. orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak. Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : harga diri rendah IV. Data obyektif . posisi tidur seperti janin (menekur). 1999). Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1. pesimis. dimana klien merasa dirinya tidak berharga.. takut salah. menunduk. Menarik diri dipengaruhi oleh faktor perkembangan dan sosial budaya. Masalah Keperawatan a. Isolasi sosial : menarik diri c. peran keluarga yang tidak jelas. ekspresi sedih. Data yang perlu Dikaji a.

berdiam diri di kamar.2. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : 1.1. klienperawat-klien lain. memperkenalkan diri. perawat-klien-kelompok.2. tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain 2. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab 1. 2. Rencana Tindakan Keperwatan a. jelaskan tujuan interaksi. Tujuan umum : tidak terjadi perubahan persepsi sensori : halusinasi b. menyendiri. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. kadang hanya dijawab dengan singkat ya atau tidak. Klien dapat menyebut penyebab menarik diri Tindakan : 2.Apatis. Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain 3. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah VI. Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap : klien-perawat. buat kesepakatan / janji dengan jelas tentang topik. afek tumpul.3. Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara. Diagnosa Keperawatan 1. Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri 3. Risiko perubahan persepsi sensori : halusinasi… berhubungan dengan menarik diri 2.1.1. jangan terburuburu. Bantu mengidentifikasikan kemampuan yang dimiliki untuk bergaul 4. klien-keluarga Tindakan : . banyak diam b. ekspresi sedih. ciptakan lingkungan yang tenang. waktu 1. Klien dapat menyebutkan keuntungan hubungan dengan orang lain Tindakan : 3. Data subyektif Sukar didapat jika klien menolak komunikasi. Tujuan khusus : 1. V.2. tempat.

Beri pujian atas keberhasilan klien 6. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga .4.1. Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien jika mungkin perawat sama 4. Klien mendapat dukungan keluarga Tindakan : 6. Motivasi/temani klien untuk berkenalan dengan orang lain 4. Tingkatkan interaksi secara bertahap 4.1.5. Diskusi dengan klien setiap selesai interaksi/kegiatan 5. Fasilitasi hubungan klien dengan keluarga secara terapeutik 5.4.6. Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi 4. Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain Tindakan : 5.2.1. Bantu melaksanakan aktivitas setiap hari dengan interaksi 4.2.3.2. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga 6.

Jakarta : EGC. Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Sundeen SJ. Jakarta : EGC. 1999 3. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Keliat BA. Edisi 1. Psychiatric Nursing : Contemporary Practice. 2000 5. dkk. 2003 4. Nihart MA. Amino Gondoutomo. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Tim Direktorat Keswa. 1998 2. Bandung : RSJP Bandung. 1998 . Philadelphia : Lippincott-Raven Publisher. Aziz R. Semarang : RSJD Dr. Boyd MA. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Stuart GW.DAFTAR PUSTAKA 1.

memecahkan perabot. perilaku kekerasan dapat disebabkan adanya perubahan sensori persepsi berupa halusinasi baik dengar. orang lain dan lingkungan 2. Risiko mencederai diri. Klien merasa diperintah oleh suara-suara atau bayangan yang mengejeknya. takut.1998) Perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi. manipulasi atau intimidasi. Perubahan persepsi sensori : halusinasi…. Kasus (Masalah Utama) Perilaku kekerasan/amuk II. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji a. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Towsend. Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya bagi dirinya. Masalah keperawatan 1. kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan pada orang lain. visual maupun lainnya. orang lain dan lingkungan Perilaku kekerasan/amuk Perubahan persepsi sensori : halusinasi…. orang lain maupun lingkungan. membakar rumah dan lain-lain. III. IV. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.LAPORAN PENDAHULUAN I. Perilaku kekerasan/amuk 3. Pohon Masalah Risiko mencederai diri. seperti menyerang orang lain. orang lain maupun lingkungan. Proses Terjadinya Masalah Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri. Pada klien gangguan jiwa. Perilaku kekersan juga menggambarkan rasa tidak aman. .

VI. pandangan tajam d. Nada suara tinggi dan keras. perkenalan dan jelaskan tujuan interaksi Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab Bicara dengan sikap tenang. wajah agak merah b. bicara menguasai c. Data yang perlu dikaji 1. Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang b. Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri. orang lain dan lingkungan b. Tujuan khusus : 1. Ekspresi marah saat membicarakan orang. rileks dan tidak menantang 2. Mata merah.b. Merusak dan melempar barang-barang V. Data Objektif a. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah c. Rencana Tindakan Keperwatan a. Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya 2. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. Klien dapat mengidentifikasikan penyebab perilaku kekerasan Tindakan : Beri kesempatan mengungkapkan perasaan Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal . Risiko mencederai diri. Perilaku kekerasan/amuk berhubungan dengan perubahan persepsi sensori : halusinasi…. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/amuk 2. Data Subjektif a. empati. Diagnosa Keperawatan 1.

Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan tenang 3. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan Tindakan : . Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan Tindakan : Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan Tanyakan apakah klien ingin mempelajari cara baru yang sehat 6. ibadah. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan Tindakan : Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel atau kesal Observasi tanda perilaku kekerasan Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang dialami klien 4. berolahraga. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Tindakan : Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Tanyakan apakah dengan tindakan seperti itu dapat menyelesaikan masalah 5. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan Tindakan : Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat Diskusikan cara lain yang sehat. memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran 7. memukul bantal/kasur Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/tersinggung Secara spiritual : berdoa. Secara fisik : tarik napas dalam jika sedang kesal.

dosis.Bantu memilih cara yang paling tepat Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel/marah 8. dosis. obat. frekuensi. cara dan waktu) Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan . Klien mendapat dukungan dari keluarga Tindakan : Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga 9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program) Tindakan : Diskusikan dengan klien tentang obat (nama. efek dan efek samping) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien.

LAPORAN PENDAHULUAN I. sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu. Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri (self esteem) dan keutuhan keluarga dapat merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri. tersenyum atau berbicara sendiri. Hal ini mengakibatkan sulit untuk membedakan mana rangsangan yang berasal dari pikirannya sendiri dan mana yang dari lingkungan. Individu yang mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi berasal dari lingkungan. tidak dapat mengendalikan dorongan ego. 1998). melakukan gerakan seperti menikmati sesuatu. Rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah. gelisah. rasa takut ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Kasus (Masalah Utama) Perubahan sensori perseptual : halusinasi II. mengenal perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan perasaan sendiri menurun. Gejala dengan meningkatnya kecemasan. didengar atau dirasakan) . marah. pikiran dan perasaannya sendiri. secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain. rasa sepi. sehingga segala sesuatu diartikan berbeda dan proses rasionalisasi tidak efektif lagi. Juga keterangan dari klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat. kemampuan untuk memisahkan dan mengatur persepsi. Ancaman terhadap harga diri dan keutuhan keluarga meningkatkan kecemasan. Proses Terjadinya Masalah Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn..

Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus d. orang lain dan lingkungan 2. Klien berbicar dan tertawa sendiri b. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata b. Data Subjektif a. Data Objektif a. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu c. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji a. Klien ingin memukul/melempar barang-barang 2. Disorientasi . Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata c. Masalah keperawatan 1. Perubahan sensori perseptual : halusinasi 3. Pohon Masalah Risiko mencederai diri. Isolasi sosial : menarik diri b. Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar g. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya f. orang lain dan lingkungan Perubahan sensori perseptual: halusinasi Isolasi sosial : menarik diri IV. Klien merasa makan sesuatu e. Risiko mencederai diri. Data yang perlu dikaji 1. Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu d.III.

topik) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan Empati Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan 2. Diagnosa Keperawatan 1. VI. frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi 3. Klien dapat mengenal halusinasinya Tindakan : Kontak sering dan singkat Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. Risiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan b. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenag – buat kontrak yang jelas (waktu. Katakan bahwa perawat akan membantu Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi 2. tetapi perawat tidak mendengarnya. waktu. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu. tempat. Rencana Tindakan Keperwatan a. Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri. Tujuan khusus : 1. Klien dapat mengontrol halusinasinya Tindakan : Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya . Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri.V.

cara. cara merawat. dosis. nama. mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar” Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi 4. memutus halusinasi. cara. efek dan efek samping minum obat Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien. . waktu) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar. Klien dapat menggunakan obat dengan benar Diskusikan tentang dosis. informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga 5.Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi. Klien dapat dukungan dari keluarga Tindakan : Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala. melakukan kegiatan. frekuensi. obat.

Keliat Budi Ana. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Edisi 1. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. 2003 4. Tim Direktorat Keswa. Aziz R. dkk. Amino Gonohutomo. Edisi I. 1995 2. Sundeen. Stuart GW. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. 2000 . Bandung. RSJP Bandung. Buku Saku Keperawatan Jiwa. 1999 3. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA 1.

Masalah keperawatan a. bentuk dan ffungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit. Situasional. Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan. (Budi Ana Keliat.. Data yang perlu dikaji a. misal harus operasi. Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara : 1. merasa gagal mencapai keinginan. Kronik. 1999). Proses Terjadinya Masalah Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri.LAPORAN PENDAHULUAN I. dicerai suami. Isolasi sosial : menarik diri b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah c. III. yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. 2. pemeriksaan perianal. Pohon Masalah Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Berduka disfungsional IV. Kasus (Masalah Utama) Gangguan konsep diri : harga diri rendah II. putus sekolah. Data Subyektif . perlakuan petugas yang tidak menghargai. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1. dll). harapan akan struktur. putus hubungan kerja dll. pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter. termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. kecelakaan. Berduka disfungsional 2. yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba.

Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 2. Diagnosa Keperawatan 1. mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. digunakan . mengkritik diri sendiri. tidak bisa.Klien mengatakan saya tidak mampu. utamakan memberi pujian yang realistis Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3. tempat dan topik pembicaraan) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri 2. Tujuan khusus : 1. buat kontrak yang jelas (waktu. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan : Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien. Rencana Tindakan Keperawatan a. ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. ciptakan lingkungan yang tenang. jelaskan tujuan interaksi. Tujuan umum : klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya. tidak tahu apa-apa. Data Obyektif Klien terlihat lebih suka sendiri. V. VI. b. perkenalan diri. bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. bodoh. b.

3.2. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan : 4.Tindakan : 3.3.1.Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah 4. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga . Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 4.2. Beri pujian atas keberhasilan klien 5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan : 5.1. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5.1.Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3.2. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 6. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan 4.

Buku saku keperawatan jiwa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : EGC. Sundeen SJ. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Azis R. dkk. 1998 Keliat BA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Edisi 1. Amino Gondoutomo. Philadelphia : LipincottRaven Publisher. 2000 . Proses kesehatan jiwa. 1998 Tim Direktorat Keswa. Hihart MA. Edisi 1. Edisi 3. 2003 Boyd MA. Bandung : RSJP Bandung. Semarang : RSJD Dr. 1999 Stuart GW. Pedoman asuhan keperawatan jiwa.

Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 .LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI RSJD.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI DI RSJD. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 . Dr.

AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 . Dr.LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENARIK DIRI DI RSJD.

Dr.LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN WAHAM DI RSJD. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 .

AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Oleh : FLORETTA ANGGA RINI N1111019 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 2012 .LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN DI RSJD. Dr.

pertengkaran orang tua dan aniaya. keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan. MASALAH UTAMA : Perubahan proses pikir : waham 2. tidak ada kasih sayang. bermusuhan. klien tampak tidak mempunyai orang lain. kebesaran. lingkungan). Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. 3. ekspresi wajah tegang. mudah tersinggung. orang lain dan lingkungan Perubahan proses pikir : waham Gangguan konsep diri : harga diri rendah . orang lain. putus asa. Waham dapat dicetuskan oleh adanya tekanan. merusak (diri. PROSES TERJADINYA MASALAH Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. isolasi. Waham juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan komunikasi verbal. kadang panik. Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama. tidak berdaya. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan. tidak tepat menilai lingkungan / realitas. curiga. kecurigaan. POHON MASALAH Kerusakan komunikasi verbal Resiko mencederai diri. kekerasan. sangat waspada. pengangguran yang disertai perasaan tidak berguna.LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM 1. takut. A.

Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah. 2) Data yang perlu dikaji : a). RENCANA KEPERAWATAN a. kadang panik. sangat waspada. merusak (diri.2. keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan. tidak membicarakan isi waham klien. Resiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham c. Data obyektif : Klien tampak tidak mempunyai orang lain. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.B. lingkungan). b. ciptakan lingkungan yang tenang. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. curiga. kebesaran. tidak tepat menilai lingkungan / realitas. Kerusakan komunikasi : verbal b). jelaskan tujuan interaksi. Bina hubungan. perkenalkan diri. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1). 5. Data subyektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama. 4. saling percaya: salam terapeutik. katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati. buat kontrak yang jelas topik.1. kecurigaan. Masalah keperawatan : a). tempat). Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham b. ekspresi wajah klien tegang. Tujuan khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat Tindakan : 1. bermusuhan. Tujuan umum : sesuai masalah (problem). . orang lain. mudah tersinggung. waktu. b). takut. 1. Perubahan proses pikir : waham c).

Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis. Klien dapat berhubungan dengan realitas Tindakan : 4. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri 2. 4.1. 4. 3.1. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.2. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi Tindakan : 3.5. 4. 1.3. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri.3. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman.2. cemas. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.hari dan perawatan diri).4. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki Tindakan : 2.4. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien . Observasi kebutuhan klien sehari-hari. 2. marah). 3. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit. 3. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).3. 3. tempat dan waktu).3. 2. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.4. Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari . gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian. 2. Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.1.1. 3.2. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting. orang lain. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya.

frekuensi. Diskusikan dengan kiten tentang nama obat. 5.1.4. 5. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. Klien dapat menggunakan obat dengan benar Tindakan : 5.5. obat. 6. lingkungan keluarga dan follow up obat. efek dan efek samping minum obat. cara merawat klien.1. Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien. 6. Klien dapat dukungan dari keluarga Tindakan : 6.3. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham.2. 5. dosis. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga .2. dosis. cara dan waktu).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful