Anda di halaman 1dari 10

3.1.

Prakiraan Rumah/Bangunan Walet Pada awalnya usaha walet rumahan di Singkawang dilakukan setelah mengetahui bahwa walet bersarang secara alami pada bangunan gudang dan bangunan tinggi lainnya. Setelah melihat di beberapa wilayah lainnya walet rumahan berkembang, maka dimulailah investasi membuat bangunan untuk sarang walet. Pengembangan rumah walet di Kota Singkawang tergolong masih baru sejak sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 2004 diketahui jumlah bangunan walet adalah 70, kemudian terus meningkat secara signifikan sampai tahun 2008 sebanyak 620. Seiring dengan turunnya harga sarang burung secara drastis akhir tahun 2011, maka pembangunan bangunan walet di Singkawang juga mengalami stagnasi. Pada tahun 2012 Jumlah rumah/bangunan total sarang burung walet di kota Singkawang belum diketahui secara pasti. Sejak tahun 2008 sampai 2012 menurut hasil pengamatan dan wawancara dengan pengusaha walet, kenaikkan jumlah bangunan walet tidak naik secara signifikan lagi. Tabel 3.1.1. Perkembangan Jumlah Usaha Sarang Burung Walet di Kota Singkawang Jumlah Usaha 2004 70 2005 146 2006 270 2007 421 2008 620 2009 632* 2010 642* 2011 652* 2012 657* Sumber: Pemerintah Kota Singkawang dan BPS *Prakiraan berdasarkan wawancara dan Tahun pengamatan Walaupun berdasarkan sensus yang dilakukan oleh pemerintah Kota Singkawang dengan BPS Kota Singkawang jumlah bangunan walet sudah lebih dari 600 bangunan, akan tetapi menurut Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kota Singkawang pada tahun 2012 sampai bulan September 2012 Izin yang telah dikeluarkan dalam pengelolaan Sarang burung walet adalah sebanyak 258. Sedangkan bangunan atau rumah walet di kota Singkawang jumlah lantainya bervariasi, mulai bangunan berlantai 1 sampai berlantai 5. Berdasarkan data yang diperoleh bangunan walet di Kota Singkawang sebagian besar berlantai 3 yaitu

sebesar 165 bangunan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.1.2. Jumlah Bangunan Walet berdasarkan Jumlah Lantai No 1 2 3 4 5


Terpadu yang telah diolah kembali (2012)

Lantai Berlantai 1 Berlantai 2 Berlantai 3 Berlantai 4 Berlantai 5 Total

Jumla h 22 57 165 14 1 258

Persenta se 8,1 22,1 64,0 5,4 0,4 100,0

Sumber: Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan

Luas bangunan/rumah walet bervariasi, mulai dari 20 m 2 sampai 2214 m2, dengan luas total 112.866,62 m2 dan luas rata-rata setiap rumah/bangunan walet adalah 437,5 m2. Pada umumnya semakin banyak lantainya, maka luas total bangunan/rumah juga semakin luas. Dari 258 bangunan yang telah mendapat izin pengelolaan walet dari Kantor
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kota Singkawang, jumlah bangunan yang mempunyai luas 401 m2 sampai 500 m2 adalah 79. Data jumlah bangunan berdasarkan luas, dapat dilihat pada tabel 3.1.3 berikut ini. Tabel 3.1.3. Jumlah bangunan Walet berdasarkan Luas Bangunan

No 1 2 3 4

Luas Bangunan <100 m2 100 m2 200 m2 201 m 300 m2


2

Jumla h 6 26 34 52

Persenta se 2,3 10,1 13,2 20,2

5 6

301 m2 400 m2 401 m 500 m2


2

79 61

30,6 23,6

500 m2 258
yang telah diolah kembali (2012)

100

Sumber: Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu

Bangunan/rumah yang digunakan untuk sarang burung walet ada beberapa jenis, yaitu bangunan khusus walet, bergabung dengan ruko, bergabung dengan tempat tinggal, dan bergabung dengan bangunan lainnya seperti gudang. Pada awalnya belum ada peraturan dan perizinan dalam membuat bangunan dan usaha walet, akan tetapi dengan berkembangnya usaha walet tersebut maka diperlukan regulasi untuk menata bangunan walet sehingga tidak mengganggu lingkungan dan tata ruang wilayah. Hampir seluruh wilayah Kota Singkawang cocok untuk pengembangan walet, sehingga penyebaran bangunan walet menyebar di semua kecamatan di Kota Singkawang. Menurut Pemerintah Kota Singkawang dan BPS (2008) sebaran bangunan/rumah walet yang paling tinggi adalah di Kecamatan Singkawang Barat sebanyak 238 bangunan, sedangkan sebaran yang paling sedikit adalah di Kecamatan Singkawang Utara sebanyak 13 bangunan. Lokasi bangunan walet tersebut tersebar di pusat kota, perumahan pendududuk, dan di pinggiran kota. Lokasi di pusat kota adalah wilayah yang umumnya menjadi pusat pertokoan dan daerah yang berada di sekitarnya, lokasi pemukiman adalah wilayah dekat pusat kota tempat bermukimnya sebagian besar penduduk, sedangkan wilayah pinggiran kota adalah wilayah yang relatif jauh dari pusat keramaian kota. Wilayah ini sebagian besar terdiri dari lahan pertanian dan perhutanan. Kecamatan di Kota Singkawang yang paling banyak bangunan/rumah waletnya adalah Singkawang Barat sebanyak 238 bangunan. Tiga Kecamatan yang mendominasi

berdirinya bangunan walet adalah Kecamatan Singkawang Barat, Singkawang Selatan, dan Singkawang Tengah, dimana hampir 90 persen bangunan walet tersebut berada di 3 kecamatan tersebut. Untuk lebih rincinya dapar dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3.1.4. Jumlah Bangunan Walet berdasarkan Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Singkawang Selatan Singkawang Timur Singkawang Utara Singkawang Tengah Singkawang Barat Total
telah diolah kembali

Jumlah 201 50 13 118 238

Persentase 32,4 8,1 2,1 19 38,4

620

100,0

Sumber: Pemerintah Kota Singkawang dan BPS (2008) yang

Sedangkan sebaran bangunan walet berdasarkan kelurahan juga bervariasi. Kelurahan Pasiran (144 bangunan atau 23 %) dan Kelurahan Sedau (134 bangunan atau 21, 61 %) adalah kelurahan yang paling banyak bangunan waletnya, sedangkan kelurahan Sagatani, Mayasopa, Bagak Sahwa, dan Bukit Batu tidak mempunyai bangunan walet. Untuk lebih rincinya dapat dilihat dalam tabel berikut ini Tabel 3.1.4. Jumlah Bangunan Walet berdasarkan Kelurahan No Kelurahan Jumlah Persenta se

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Pasiran Sedau Melayu Sijangkung Roban Condong Sanggau Kulor Jawa Kuala Pajintan Sekip Lama Sungai Garam Hilir Sungai Wi Sungai Bulan Sungai Rasau Naram Pangmilang Nyarungkop Semelagi Setapuk Besar Setapuk Kecil Tengah Sagatani Mayasopa Bagak Sahwa Bukit Batu

144 134 67 66 41 36 33 26 26 16 12 4 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 620

23,23 21,61 10,81 10,65 6,61 5,81 5,32 4,19 4,19 2,58 1,94 0,65 0,48 0,32 0,32 0,32 0,16 0,16 0,16 0,16 0,16 0,16 0 0 0 0 100

Sumber: Pemerintah Kota Singkawang dan BPS (2008) yang telah diolah kembali

3.2. Estimasi Produksi Sarang Burung Walet


Estimasi produksi total sarang walet di Kota Singkawang dihitung berdasarkan prakiraan produksi sarang burung walet setiap bangunan/rumah walet dikalikan dengan prakiraan total bangunan/rumah walet yang ada di kota

Singkawang. Untuk mendapatkan informasi yang tepat produksi sarang burung walet masih sulit di dapat, hal ini disebabkan karena burung walet yang masuk ke dalam bangunan/rumah walet bersifat dinamis, mereka bersifat liar dan masuk dan keluar sarang sangat tergantung kepada faktor lingkungan mikro bangunan/rumah. Apabila lingkungan bangunan baik di dalam maupun diluar cocok bagi walet, maka jumlah walet yang akan bersarang relatif banyak. Meningkatnya jumlah walet yang masuk kedalam bangunan dan membuat sarang. Dapat menyebakan meningkatnya produksi sarang burung walet. Sulitnya memperkirakan produksi sarang burung walet bukan saja disebabkan karena sifat burung walet yang masih liar, akan tetapi juga informasi dari pengusaha atau pengelola walet masih sulit dilakukan, Hanya sedikit pengusaha atau penglola walet yang menyampaikan informasi lebih terbuka tentang produksi sarang walet yang dimilikinya. Oleh karena itu untuk membuat estimasi produksi sarang burung walet dilakukan dengan mengkombinasikan hasil wawancara dengan responden dengan teori kepustakaan dan pengalaman produksi walet di tempat lain. Lama waktu yang dibutuhkan oleh bangunan/rumah walet sampai ada populasi walet yang membuat sarang atau sampai waktu yang diperlukan untuk melakukan panen pertama/perdana masing-masing tempat dan lokasi berbeda. Pada umumnya usaha sarang burung walet memiliki ketidak pastian produksi dan memiliki resiko yang tinggi, karena memang tidak ada kepastian bahwa rumah walet yang telah dibangun akan didatangi dan dijadikan tempat bersarang oleh burung walet. Pada dasarnya usaha sarang burung walet hanya mengharapkan burung walet akan datang dan bersarang ke dalam rumah walet yang telah dibangun. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau pada saat wawancara sebagian responden mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha sarang burung walet tidak terlepas dari unsur keberuntungan. Dari hasil survey oleh tim juga terungkap bahwa ada pengusaha walet yang selama 3 tahun belum pernah panen. Menurut pengusaha tersebut tidak dilakukannya panen

karena memang tidak ada sama sekali burung walet yang bersarang di rumah walet yang telah dibangun atau jumlah burung walet yang bersarang masih terlalu sedikit. Umumnya pengusaha walet memiliki alasan sendiri untuk menentukan kapan panen yang pertama kali dilakukan, dengan mempertimbangkan jumlah sarang yang telah dihasilkan dan gangguan yang mungkin terjadi pada saat pemanenan.

Jumlah sarang walet dari suatu rumah/bangunan walet juga ditentukan oleh jumlah walet yang masuk dan bersarang di rumah/bangunan walet tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden bahwa untuk memperkirakan produksi sarang burung walet dapat dilakukan dengan melihat burung yang tampak di luar sekitar bangunan walet pada waktu sore hari mulai pukul 17.30 - 18.00, apabila banyak yang berkeliaran, maka menandakan banyak burung yang akan masuk rumah, sehingga produksi sarang burung walet akan meningkat. Pada umumnya 1 (satu) sarang burung walet ditempati oleh 2 (dua) ekor burung walet. Secara umum produksi sarang burung walet ditentukan oleh berbagai faktor seperti lokasi bangunan, bentuk bangunan, luas bangunan, konstruksi bangunan, suhu ruangan, kelembaban ruangan, pemeliharaan, teknik memancing walet dan lain-lain. Walaupun sudah memenuhi beberapa persyaratan diatas, menurut hasil wawancara dengan stake holder walet keberhasilan dalam memproduksi sarang burung walet juga ditentukan faktor keberuntungan. Hal ini disebabkan karena pada beberapa kasus pada bangunan walet yang berdekatan, produksi sarang burung walet sangat berbeda diantara rumah/bangunan walet, walaupun keadaan fisik dan non fisik bangunan walet relatif tidak jauh berbeda. Disamping faktor-faktor diatas, produksi walet juga ditentukan oleh sistem pemanenannya. Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipanen. Untuk melakukan pemanenan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam memanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah ke tempat yang lain. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik rumah/bangunan walet perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan.

Pola panen adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai dilakukan sekali panen, atau berapa kali panen yang dilakukan dalam satu tahun. Lama tidaknya waktu yang dibutuhkan sampai dilakukan sekali panen selain mempengaruhi jumlah sarang burung walet yang akan dipanen juga akan mempengaruhi kualitas sarang burung walet yang dipanen tersebut. Semakin lama sarang burung walet tidak dipanen maka kualitasnya akan semakin menurun, warnanya akan menjadi kekuningan. Selain itu juga ada kemungkinan sarang yang sudah ada akan ditempati kembali oleh burung walet yang akan bertelur, bukannya membuat sarang baru, sehingga sarang menjadi lebih tebal dan banyak bercampur dengan bulu. Tetapi semakin sering dilakukan panen (waktu yang dibutuhkan untuk sekali panen lebih singkat) juga mengakibatkan kemungkinan terjadinya gangguan terhadap burung walet pada saat pemanenan menjadi lebih sering. Oleh karena itu masing-masing pengusaha walet memiliki pertimbangan sendiri untuk memilih pola pemanenan yang akan mereka lakukan terhadap rumah walet yang mereka miliki. Pemanenan sarang burung walet dilakukan melalui 2 (dua) cara, yaitu panen rampasan dan panen pilih. Panen rampasan adalah panen yang dilakukan terhadap semua sarang burung walet yang ada dalam rumah walet tanpa mempertimbangkan kondisi sarang burung walet tersebut. Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur. Cara kedua biasanya dikenal dengan sistem panen pilih, yaitu pemanenan yang dilakukan dengan memilih sarang burung walet yang akan diambil. Pada sistem panen pilih, sarang burung walet yang diambil hanya sarang yang telah kosong, yaitu sarang yang sudah tidak ada telur maupun anak burung walet yang belum bisa terbang di dalamnya. Pola panen yang dilakukan oleh pengusaha walet di Kota Singkawang pada umumnya dengan sistem panen pilih. Sistem panen pilih akan mempengaruhi pola pemanenan yang akan dilakukan oleh pengusaha sarang burung walet.

Interval panen walet dalam 1 tahun bervariasi dari mulai dari 1 kali panen dalam setahun sampai 24 kali panen dalam setahun. Dari hasil wawancara Tim dengan 40 pengusaha walet di Kota Singkawang, ternyata pengusaha walet umumnya melakukan panen 1 kali panen sampai 4 kali panen dalam 1 tahun, dan 2 responden mengatakan belum pernah panen.

Tabel 3.2.1. Interval waktu panen sarang burung walet Interrval panen Jumla h Samp el 1 2 kali kali dalam dalam 1 5 1 2 13 % 5% 47 % 35% 100 % tahun tahun 3 kali tahun 4 kali dalam 1 13 38 tahun Total Sumber : Hasil Survey (2012)
Pendapatan pengusaha walet disamping ditentukan oleh harga dan produksi sarang, juga ditentukan oleh kualitas sarang tersebut. Kualitas sarang burung walet menentukan harga jual. Pada umumnya kualitas sarang burung walet dibagi menjadi 3 kualitas yaitu kualitas A, B, dan C. Akan tetapi ada juga kualitas campuran, yang di Singkawang dikenal dengan kualitas locong. Kualitas

Persenta se

dalam 1 18

A adalah sarang yang dinilai bermutu tinggi bentuknya sempurna seperti mangkok. Ukuran garis tengah berkisar 10 cm dan garis lintang seimbang. Bagian pinggirnya tidak pecah atau tergores, kandungan airnya relatif kecil , terbebas dari kotoran dengan berat diatas 8 gram,

kualitas B, adalah sarang berbentuk kipas dengan garis tengah 10 cm, berat sarang 6 sampai 8 gram (dalam keadaan kering). Sarang ini biasanya disebut mutu balkon atau perak, kualitas C, adalah bermutu sedang dengan keadaan kurang bersih terdapat bulu-bulu yang menempel. Sarang ini bentuknya sudut dengan berat sampai dengan 6 gram, sedang kualitas locong yaitu campuran dari kualitas A, B, dan C.