Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikatakan Plato dalam filsafat negara, lahir istilah kontrak sosial dan pemimpin atau kepemimpinan. Kaitannya dengan budaya kerja organisasi pemerintah, pemimpin tidak bisa dilepaskan dalam operasionalisasi budaya kerja, karena pemimpin memiliki peran apakah budaya kerja dalam suatu organisasi pemerintah tumbuh subur dengan baik atau malah layu dan mati, pemimpin memiliki peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan budaya kerja. Namun apa yang kita lihat sekarang ini banyak penyelewengan budaya kerja yang menghambat daripada kinerja organisasi pemerintahan saat ini dimana banyak pegawai yang sulit untuk mematuhi disiplin kerja yang sudah ada dalam organisasi tersebut. Ironisnya budaya kerja yang seperti ini malah dianggap sudah biasa dalam lingkungan organisasi sehingga menimbulkan kecenderungan yang lain untuk mengikuti pola kerja yang seperti itu. Oleh karena itu peran pemimpin dalam hal ini sangat besar untuk dapat mengatasi masalah tersebut seperti dengan menciptakan disiplin kerja dan sanksi yang tegas pula bagi pegawai yang melanggar aturan/norma dalam organisasi tersebut. B. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang yang seperti yang di atas maka rumusan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Apa saja yang terkandung dalan kultur dan etika organisasi? 2. Bagaimana peran kepemimpinan dalam lingkungan organisasi? 3. Bagaimana menciptakan disiplin kerja yang menunjang kinerja pegawai? C. TUJUAN 1. Membangun budaya organisasi yang baik sebagai budaya yang membedakan organisasi itu dari organisasi yang lain. 2. Menjadikan gaya kepemimpinan yang memiliki kredibilitas untuk mengelola nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi. 3. Membuat disiplin kerja organisasi sebagai motivasi pegawai pemerintahan untuk melaksanakan kinerja yang lebih baik.

BAB II
Etika administrasi & pemerintahan| 1

PEMBAHASAN
A. KULTUR dan ETIKA ORGANISASI Kultur organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi lainnya. Kultur adalah sebuah istilah deskriptif dan berbeda dengan konsep kepuasan kerja karena kepuasan kerja berusaha mengukur respon efektif terhadap lingkungan kerja. kepuasan kerja berhubungan dengan bagaimana karyawan merasakan ekspektasi organisasi, praktik praktik imbalan dan sebagainya dengan kata lain kepuasan kerja bersifat evaluatif. Kultur organisasi mewakili sebuah persepsi yang sama dari para anggota organisasi oleh karena itu bahwa individu individu yang berbeda atau berada pada tingkatan yang sama dalam organisasi akan memahami kultur organisasi dengan pengertian yang serupa. Kultur memiliki sejumlah fungsi dalam sebuah organisasi: Hal ini berperan sebagai penentu batas batas artinya kultur menciptakan perbedaan antara suatu organisasi dengan organisasi lainnya. Memuat rasa identitas anggota organisasi Kultur memfalitisasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar dari pada kepentingan individu. Kultur adalah perekat social yang membantu menyatukan organisasi dengan cara yang menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan karyawan, Kultur bertindak sebagai mekanisme serta kendali yang menuntun dan membentuk sikap dan perilaku karyawan. Tapi kultur organisasi juga ada yang berupa kultur negatif seperti kelalaian kerja yang dilakukan karyawan atau pegawai dimana kultur ini sudah dianggap biasa sehingga sulit untuk dihilangkan terlebih dalam lingkungan kerja mereka hukuman sanksi yang diberikan juga kurang cukup kuat. Sehingga hal ini menjadi tanggung jawab pimpinan dalam mengawasi, mengintegrasi, ataupun mengontrol etika perilaku pegawainya dalam melaksanakan tugas kerja mereka. Selain itu juga pimpinan harus bisa menciptakan/menjaga kutur organisasi yang baik kepada pegawai. Komunikasi antara atasan dan bawahan biasanya akan menjaga hubungan kerja serta sistem manajemen terkontrol dalam suatu organisasi yang membawa pada motivasi kerja pegawai. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa etika merupakan cara bergaul atau berperilaku yang baik. Nilai-nilai etika tersebut dalam suatu organisasi dituangkan dalam aturan atau ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Aturan ini mengatur bagaimana seseorang harus bersikap atau berperilaku ketika berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu organisasi dan dengan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut. Cukup banyak aturan dan ketentuan dalam organisasi yang mengatur struktur hubungan individu atau kelompok dalam organisasi serta dengan masyarakat di lingkungannya sehingga menjadi kode etik atau pola perilaku anggota organisasi bersangkutan. Perilaku seseorang sebagaimana diketahui merupakan cerminan dari nilai-nilai yang dianut oleh orang tersebut. Nilai-nilai yang diyakini oleh individu tersebutlah yang mendasarinya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan/perilaku. Nilai-nilai itu pula yang menyebabkan seseorang terdorong atau memiliki semangat untuk melakukan hal yang baik atau buruk, salah atau benar. Dalam hal kepemipinan nilai-nilai tersebut dituntut sebagai etika
Etika administrasi & pemerintahan| 2

pemimpin guna menjalankan suatu organisasi berdasarkan norma-norma yang mencerminkan kepribadian dari pemimpin tersebut terhadap pegawainya serta gaya kepemimpinan yang diterapkannya. Dalam organisasi, peran individu sangat penting, karena organisasi terbentuk dengan adanya sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam mewujudkan tujuan tertentu. Peran ini yang dijalankan oleh pemimpin organisasi bagaimana untuk dapat mengkoordinasi semua aspek yang ada kemudian dilaksanakan dalam suatu sistem birokrasi. Organisasi juga dapat dipandang sebagai koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi berdasarkan hierarki otoritas dan tanggung jawab. Dengan demikian, organisasi dapat dipandang sebagai entitas sosial yang terkoordinasi dengan batas-batas yang relatif dapat diidentifikasi dan relatif berfungsi secara kontinyu untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian bahwa dalam organisasi terdapat interaksi atau hubungan antarindividu dan/atau antarkelompok untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama. Interaksi antarorang atau antarkelompok yang memiliki nilai serta latar belakang yang berbeda-beda akan saling memengaruhi satu sama lain sehingga membentuk suatu nilai baru yang akan melandasi perilaku individu untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi yang pada akhirnya akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan organisasi. Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Para pemikir itu telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersebut dapat diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran. a. Prinsip Keindahan Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja. b. Prinsip Persamaan Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun. c. Prinsip Kebaikan Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormatmenghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat. d. Prinsip Keadilan Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini
Etika administrasi & pemerintahan| 3

mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain. e. Prinsip Kebebasan Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. f. Prinsip Kebenaran Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan bahwa prinsip tersebut wajib untuk dimiliki oleh setiap pemimpin sebagai dasar daripada tindakan terhadap setiap pegawai yang berlatar belakang berbeda-beda dalam organisasi tersebut. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Membangun Kultur Dan Etika Internal Organisasi Yang Anti Kecurangan: 1. Komitmen dari Top Manajemen Dalam Organisasi 2. Membangun Lingkungan Organisasi Yang Kondusif 3. Perekrutan dan Promosi Pegawai 4. Pelatihan Yang Berkesinambungan 5. Menciptakan Saluran Komunikasi Yang Efektif 6. Penegakan kedisiplinan B. PERAN KEPEMIMPINAN DALAM LINGKUNGAN ORGANISASI Kepemimpinan merupakan salah satu isu dalam manajemen yang masih cukup menarik untuk diperbincangkan hingga dewasa ini. Media massa, baik elektronik maupun cetak, seringkali menampilkan opini dan pembicaraan yang membahas seputar kepemimpinan. Peran kepemimpinan yang sangat strategis dan penting bagi pencapaian misi, visi dan tujuan suatu organisasi, merupakan salah satu motif yang mendorong manusia untuk selalu menyelidiki seluk-beluk yang terkait dengan kepemimpinan. Kualitas dari pemimpin seringkali dianggap sebagai faktor terpenting dalam keberhasilan atau kegagalan organisasi demikian juga keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi baik yang berorientasi bisnis maupun publik, biasanya dipersepsikan sebagai keberhasilan atau kegagalan pemimpin. Organisasi yang berhasil dalam mencapai tujuan serta mampu memenuhi tanggug jawab sosialnya akan sangat tergantung pada para pimpinan. Suatu organisasi membutuhkan pemimpin yang efektif, yang mempunyai kemampuan mempengaruhi perilaku anggotanya atau anak buah. Jadi, seorang pemimpin akan diakui sebagai seorang pemimpin apabila ia dapat mempunyai pengaruh dan mampu mengarahkan bawahannya kearah pencapaian tujuan organisasi.
Etika administrasi & pemerintahan| 4

Setiap pimpinan di lingkungan organisasi kerja, selalu memerlukan sejumlah pegawai atau bawahan sebagai pembantunya dalam melaksanakan tugas-tugas yang menjadi volume dan beban kerja unit masing-masing. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap pimpinan berkewajiban memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk membina, menggerakkan dan mengarahkan semua potensi pegawai di lingkungannya agar terwujud volume dan beban kerja yang terarah pada tujuan. Pimpinan perlu melakukan pembinaan yang sungguh-sungguh terhadap pegawai di lingkungannya agar dapat meningkatkan kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja yang tinggi. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Masing-masing gaya tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan. Seorang pemimpin akan menggunakan gaya kepemimpinan sesuai kemampuan dan kepribadiannya. Setiap pimpinan dalam memberikan perhatian untuk membina, menggerakkan dan mengarahkan semua potensi pegawai di lingkungannya memiliki pola yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya . Perbedaan itu disebabkan oleh gaya kepemimpinan yang berbeda-beda pula dari setiap pemimpin. Kesesuaian antara gaya kepemimpinan, norma-norma dan kultur organisasi dipandang sebagai suatu prasyarat kunci untuk kesuksesan prestasi tujuan organisasi. Masalah budaya kerja aparatur selain masih maraknya korupsi, diantaranya : masih perlu ditingkatkannya kedisiplinan, Kinerja rendah, Prosedur tidak jelas, Lama dan berbelit belit, Pungutan liar, Tidak adil dan lain lain. Padahal PERMENPAN merupakan pedoman dan mekanisme dalam melaksanakan dan memantau Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara pada lingkungan instansi/lembaga masing-masing, untuk menumbuhkan dan meningkatkan semangat/etos kerja, disiplin dan tanggung jawab moral aparaturnya secara terus menerus dan konsisten, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan iklim komunikasi yang kondusif dalam lingkungan kerjanya, sehingga kemampuan berkomunikasi bagi seorang pemimpin sangat penting baik dalam situasi normal maupun dalam situasi krisis, Komunikasi memegang peranan penting dalam suatu organisasi, apakah itu organisasi pendidikan, jasa, atau perusahaan, yang tentu dalam sebuah organisasi tidak akan terlepas dari sebuah manajemen, terlebih lagi di sebuah lembaga pemerintah setiap personal yang terlibat harus saling berkomunikasi agar permasalahan yang ada serta sejauh mana perkembangan organisasi dapat diketahui. Dengan demikian dapat dilakukan langkah lebih lanjut, selain itu, komunikasi ini juga sangat membantu dalam pembuatan keputusan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan pendapat-pendapat dari para personal untuk menemukan pendapat yang dapat menyumbang solusi yang tepat. Seorang pemimpin agar mampu menjadi panutan dan mahir ketika berperan sebagai komunikator maka harus memiliki kredibilitas. Effendy mengatakan dalam proses komunikasi seorang komunikator akan sukses apabila ia berhasil menunjukkan source credibility, artinya menjadi sumber kepercayaan bagi
Etika administrasi & pemerintahan| 5

komunikan, kepercayaan komunikan kepada komunikator ditentukan oleh keahlian komunikator dalam bidang tugas pekerjaannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. C. MENCIPTAKAN DISIPLIN ORGANISASI Disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman. Dari pendapat diatas, dapat dipahami bahwa disiplin menyatu dalam diri seseorang. Sikap disiplin diperoleh dari adanya pembinaan yang dimulai dari lingkungan yang paling kecil dan sederhana yaitu keluarga. Untuk mendukung lancarnya pelaksanaan pekerjaan, maka diperlukan adanya disiplin kerja. Disiplin dalam kaitannya dengan pekerjaan adalah ketaatan melaksanakan aturan-aturan yang mewajibkan atau diharapkan oleh suatu organisasi agar setiap tenaga kerja dapat melaksanakan aturan-aturan yang mewajibkan atau diharapkan oleh suatu organisasi agar setiap tenaga kerja dapat melaksakan pekerjaan dengan tertib dan lancar. Dalam suatu organisasi seorang pimpinan memerlukan alat untuk komunikasi dengan para karyawannya mengenai tingkah laku para karyawan, dan bagaimana memperbaiki perilaku para karyawan menjadi lebih baik lagi, dan disiplin kerja yang diterapkan merupakan alat komunikasi pimpinan. Iklim organisasi penting untuk diciptakan karena merupakan persepsi seseorang tentang apa yang diberikan oleh organisasi dan dijadikan dasar bagi penentuan tingkah laku anggota selanjutnya. Iklim ditentukan oleh seberapa baik anggota diarahkan, dibangun dan dihargai oleh organisasi. Dilihat dari sisi manajemen, terjadinya disiplin kerja itu akan melibatkan dua kegiatan pendisiplinan: 1. Preventif, Pada pokoknya, dalam kegiatan ini bertujuan untuk mendorong disiplin diri diantara para karyawan, agar mengikuti berbagai standar atau aturan. Sehingga penyelewengan kerja dapat dicegah. 2. Korektif, Kegiatan yang ditujukan untuk menangani pelanggaran terhadap aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut (Heldjrachman dkk, 1990). Perlu disadari bahwa untuk menciptakan disiplin kerja dalam organisasi/perusahaan dibutuhkan adanya : a. Tata tertib/ peraturan yang jelas. b. Penjabaran tugas dari wewenang yang cukup jelas. c. Tata kerja yang sederhana, dan mudah diketahui oleh setiap anggota dalam organisasi.

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN
Etika administrasi & pemerintahan| 6

Suatu organisasi membutuhkan pemimpin yang efektif, yang mempunyai kemampuan mempengaruhi perilaku anggotanya atau anak buahnya. Jadi, seorang pemimpin atau kepala suatu organisasi akan diakui sebagai seorang pemimpin apabila ia dapat mempunyai pengaruh dan mampu mengarahkan bawahannya ke arah pencapaian tujuan organisasi. Disiplin diri yang baik dihasilkan dari kesadaran diri untuk bekerja keras dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan kontribusi yang maksimal terhadap apa yang sedang dilakukan. Walaupun harapan terhadap sesuatu itu terlihat sangat kecil atau tidak mungkin, tapi disiplin diri yang berpersepsi bahwa harapan yang sangat kecil itu sebagai sebuah kewajiban yang harus dikerjakan dengan sepenuh hati; dalam fokus untuk menghasilkan kualitas, kontribusi, pelayanan, dan tanpa memikirkan jabatan, kenaikan pangkat, pujian, ataupun pengakuan dari siapapun; maka, disiplin diri dari kesadaran tertinggi ini akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa buat kemajuan dan prestasi diri bahkan organisasi. Ini dapat dilakukan juga dengan membuat disiplin organisasi yang dikontrol oleh pemimpin dengan mengarahkan pegawai untuk berkontribusi penuh dalam semua aktivitas organisasi serta mendorong mereka mengikuti standar dan aturan kerja untuk menghindari pelanggaran atau penyelewengan kerja terhadap organisasi. Sering sekali dalam realitas, saat tuntutan kerja tidak terlalu banyak, dan saat organisasi tidak memberikan sanksi atas sikap malas dan kurang disiplinnya karyawan; maka, saat itu karyawan akan terjebak dan bekerja sebatas rutinitas dan menjadi malas berpikir, sehingga potensi di dalam diri perlahan-lahan akan mengalami kemunduran, dan suatu ketika karyawan tersebut sudah sulit diharapkan untuk berkontribusi secara maksimal buat pencapaian kinerja organisasi. Hal ini juga akan berpengaruh pada kualitas kinerja organisasi dalam memberikan pelayanan yang maksimal, apabila kondisi kerja seperti itu terus berlanjut maka akan menimbulkan budaya dan pencitraan organisasi yang tidak baik terhadap masyarakat. Dengan begitu kemampuan seorang pemimpin dalam hal ini akan sangat diuji bagaimana untuk menghilangkan budaya seperti ini dan menciptakan lingkungan organisasi yang kondusif, terkontrol, menjunjung tinggi etika akan menimbulkan semangat dan motivasi kerja karyawan/pegawai dalam rutinitas memberikan pelayanan yang maksimal.

Etika administrasi & pemerintahan| 7

Anda mungkin juga menyukai