Anda di halaman 1dari 2

Ma'rifatul Rasul

Risalah: Sesuatu yang diwahyukan A11ah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat. Rasul: Seorang laki-laki (21:7) yang diberi wahyu oleh Allah SWT yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia. Pentingnya iman kepada Rasul : Iman kepada para rasul adalah salah satu Rukun Iman. Seseorang tidak dianggap muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa Allah mengutus para rasul yang menginterprestasikan hakekat yang sebenarnya dari agama Islam, yaitu Tauhidullah .Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul, dan tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya. (Al-Asyqor:56)

Tugas para rasul : 1. Menyampaikan (tablig) Yang disampaikan berupa 1. Marifatullah (Mengenal hakikat Allah), Tauhidullah [Mengesakan Allah] , 2. Basyir wa nadzir (Memberi kabar gembira dan peringatan) 3. Mendidik dan Membimbing Sifat-sifat para rasul : 1. Mereka adalah manusia (17:93-94,8:110] 2. Mashum *terjaga dari kesalahan+ *3:161, 53:1-4] 3. Sebagai suri teladan [33:2l, 6:89-90] 1. Kemudian sebagai seorang muslim, kita perlu tahu secara jelas mengenai rasul beserta ciri-cirinya. Diantara ciri-ciri rasul adalah sebagai berikut: Memiliki sifat-sifat asasiyah. Sifat asasiyah ini terdiri dari sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap rasul yang mengemban atau membawa risalah dari Allah SWT. Memiliki mu'jizat. Salah satu contohnya adalah mu'jizat Rasulullah SAW ketika membelah bulan. Allah berfirman dalam (QS. 54 : 1 - 2) Berita kedatangannya. Berita kenabian. Setiap rasul senantiasa membawa perintah Allah untuk mengajak umatnya ke jalan yang baik. Perihal kerasulan merekapun Allah beritahukan. Dalam al-Qur'an Allah berfirman (QS. 7 : 158) Adanya hasil dari da'wah yang dilakukannya. Hal ini dapat kita lihat, pada hasil da'wah Rasulullah SAW yang dari segi kualitas, mereka memiliki keimanan yang sangat kokoh, tidak tergoyahkan oleh apapun juga. Kemudian dari segi kuantitas, jumlah mereka demikian banyaknya, tersebar kesluruh pelosok jazirah Arab, bahkan melewati jazirah Arab.

2.

3. 4.

5.

BEKTI KHONAAH K2512024

Ibadah Ala Rasulullah


Ketika menjadi imam, Rasulullah akan memendekkan bacaan dan meringankan shalatnya, tetapi ketika shalat sendiri, ia akan memanjangkannya. Rasulullah suka shalat berlama-lama sepanjang malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. Apabila cuaca dingin, Rasulullah menyegerakan shalat, sedangkan apabila cuaca panas, Rasulullah menangguhkannya. Ketika berwudu, Rasulullah menggunakan air dengan hemat. Usai wudu, ia ciduk sedikit air yang dipercikkan ke tempat sujudnya. Sebelum membasuh tangan, Rasulullah memindahkan cincinnya hingga bagian jarinya itu tersentuh air. Dan ketika mencuci punggung lengannya hingga sikut, Rasulullah menggosok-gosoknya secara merata. Lalu, ia membasuh dan menggosok cuping telinganya, kemudian menciduk air untuk dibasuhkan ke dagu dan janggutnya secara merata seraya ditelisik dengan jari-jarinya. Ketika mencuci kaki, Rasulullah menggosok sela-sela jari-jari kakinya dengan jari kelingkingnya. Alih-alih mengeringkan dengan handuk, Rasulullah lebih suka mengangin-anginkan kedua tangan dan kakinya setelah berwudu. Usai berwudu, ia shalat dua rakaat. Usai shalat subuh, Rasulullah duduk dan berdoa menghadap Kakbah hingga terbit matahari. Tatkala memulai shalat dengan melakukan takbiratul ihram, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang terbuka dan telapak menghadap ke depan seraya mengucapkan: Allhu Akbar. Kemudian ia turunkan kedua tangannya dan memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Ketika rukuk, Rasulullah membungkukkan pinggangnya, dan meletakan kedua tangannya dengan jari-jari yang terbuka tepat di atas kedua lututnya. Rukuknya begitu sempurna dan punggungnya tampak rata sehingga jika kaukucurkan air di atasnya, air itu akan tetap di sana dan tidak akan mengalir. Ketika menempuh perjalanan jauh, Rasulullah shalat Lohor dan Asar bersama-sama pada waktu asar, serta menghimpun shalat Magrib dan shalat Isya. Pada hakikatnya, Rasulullah selalu berada dalam keadaan shalat, karena ia tidak pernah lupa kepada Allah. Kadang-kadang Rasulullah shalat di kebun dan ruang terbuka. Ia suka shalat di tempat seperti itu. Biasanya ia shalat di atas sehelai kulit domba yang sudah disamak atau di atas selembar tikar jerami. Sebelum shalat, kadang-kadang kasutnya ia lepaskan, tetapi di lain waktu ia tetap mengenakannya. Rasulullah selalu mendirikan shalat sunat di antara waktu Asar dan waktu Magrib, tetapi ia melarang orang lain mengikutinya. Rasulullah selalu mendirikan shalat sunat kabliyah dan bakdiyah. Dalam keadaan shalat, kadang-kadang Rasulullah mengerling ke sekeliling dengan sudut matanya. Rasulullah dapat melihat apa yang terjadi di belakangnya seolah-olah terjadi di depannya. Kadang-kadang, akibat kelelahan, Rasulullah memajangkan sujudnya hingga tertidur. Ketika bangun, ia teruskan shalatnya. Meskipun tidur seperti itu membatalkan shalat, tetapi bagi Rasulullah tidak, karena hanya matanya yang tertidur, sementara hatinya tetap terjaga. Jari-jari tangannya dibiarkan terbuka ketika melakukan takbiratul ihram, rukuk, dan di saat bertasyahud, namun jari-jarinya dirapatkan ketika bersujud, bersebelahan dengan wajahnya. Ia angkat sikutnya tinggitinggi sehingga orang dapat melihat ketiaknya yang putih bersih. Usai shalat, Rasulullah memanjatkan doa-doa pribadinya. Pertama-tama berdoa untuk dirinya, kemudian untuk mereka yang sangat membutuhkan. Ketika berdoa untuk seseorang, doanya tidak hanya ditujukan untuk orang itu, tetapi juga untuk keluarganya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Dalam doa, Rasulullah membuka tangannya dengan telapak tangan menghadap wajah, dan kadang-kadang ia mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit. Usai berdoa, ia usapkan telapak tangan ke wajahnya.

BEKTI KHONAAH K2512024