Anda di halaman 1dari 5

A.

Rekayasa Akuntansi dan Permasalahannya di Indonesia (Bambang Sudibyo) Dalam artikel ini, ada dua bagian yang dibahas, yaitu pertama, pendapat si penulis mengenai akuntansi merupakan bidang studi rekayasa. Dan kedua, pendapat si penulis mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam menerapkan rekayasa akuntansi di Indonesia. Dalam bagian yang pertama, si penulis berpendapat bahwa akuntansi merupakan bidang studi rekayasa. Alasan si penulis mengajukan pendapat tersebut adalah karena akuntansi merupakan suatu disiplin rekayasa informasi dan pengendalian keuangan (yang disebutnya dengan Teknologi Perangkat Lunak). Menurut si penulis, akuntansi sebagai teknologi tidak ditujukan untuk menerangkan dan meramalkan perilaku variabel-variabel sosial/ekonomis tertentu, melainkan untuk mengendalikan variabel-variabel itu guna memperbaiki status ekonomis. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran bagi si penulis untuk menyatakan bahwa akuntansi lebih tepat dikatakan sebagai suatu teknologi perangkat lunak daripada akuntansi dikatakan sebagai suatu seni maupun sebagai suatu ilmu dalam artian ilmu murni. Si penulis memberikan beberapa alasan mengapa si penulis sangat menolak jika akuntansi dikatakan sebagai suatu seni maupun suatu ilmu dalam artian ilmu murni, yaitu : 1. Kata seni, jika diartikan lebih kepada rasa ataupun selera terhadap sesuatu. Di dalam akuntansi yang selalu diutamakan adalah pemakaian penalaran logika, dan bukanlah pemakaian perasaan. 2. Di dalam seni, yang menjadi unsur yang paling utama adalah unsur estetika (rasa keindahan). Sementara di dalam akuntansi unsur tersebut tidaklah terlalu begitu penting untuk digunakan. 3. Di dalam seni tidak ada pemakaian aturan-aturan formal yang membatasi ruang gerak perasaan dalam melakukannya, sedangkan di dalam akuntansi terdapat pemakaian aturan-aturan formal yang mengandung unsur logika dalam melakukannya. 4. Jika dikatakan sebagai ilmu dalam artian ilmu murni, sangatlah tidak tepat. Karena apabila akuntansi suatu ilmu murni, maka peristilahannya merupakan suatu anomali, seperti: accountology atau accountics. Dan bukanlah seperti ilmu-ilmu murni lain yang memakai akhiran logy atau ica dalam peristilahannya, seperti: biology, sociology, physics, dan lain sebagainya. 5. Literatur dalam akuntansi belum memiliki struktur ilmu yang jelas.

Si penulis juga memberikan pendapat mengenai penyebab akuntansi sering dikatakan sebagai suatu seni maupun ilmu dalam artian ilmu murni, yaitu : 1. Pada umumnya para akuntan sering tidak menyadari perbedaan antara akuntansi sebagai bidang studi dan akuntansi sebagai bidang pekerjaan 2. Pemakaian langkah-langkah yang kurang tepat menurut alur logika dalam praktek akuntansi. Seperti: pengambilan langkah-langkah atas dasar judgment akuntan 3. Adanya anggapan bahwa ilmu-ilmu dalam akuntansi hendaknya dikembangkan sebagai suatu ilmu murni. Si penulis berpendapat bahwa sampai sekarang ini teori akuntansi tidak ada. Alasannya adalah karena literatur akuntansi belum memenuhi karakteristik suatu teori. Apalagi jika ditinjau berdasarkan metodologi analitikalnya Karl Popper, si penulis merasa bahwa karakteristik suatu teori yang dinyatakan dalam metodologi analitikalnya Karl Popper belum pernah ada di dalam literatur akuntansi. Dalam bagian yang kedua, si penulis berpendapat mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam menerapkan rekayasa akuntansi di Indonesia. Masalah-masalah tersebut merupakan masalah rekayasa informasi dan masalah rekayasa pengendalian akuntansi. Di dalam masalah rekayasa informasi, dibahas mengenai masalah Shopping of Technology di Indonesia, yaitu masalah dalam pemilihan teknologi yang sudah mapan di suatu negara, yang kira-kira cocok dengan lingkungan Indonesia. Pemilihan teknologi ini dilakukan, dilatarbelakangi karena sampai pada tahun 1973, belum ada standar akuntansi keuangan di Indonesia. Pada waktu itu praktek akuntansi keuangan di Indonesia tidak mempunyai referensi otoritatif standar yang bisa dipakai sebagai dasar penyeragaman dalam praktek. Sehingga para Profesi Akuntansi di Indonesia sering merekayasa sendiri standar akuntansi keuangan yang dibutuhkannya. Hal inilah yang membuat IAI melakukan Shopping of Technology di Indonesia. Dalam hal ini, IAI telah memilih teknologi standar yang dipakai di Amerika Serikat. Di antara beberapa ciri, ada dua ciri yang sangat mendominasi warna teknologi standar dari Amerika itu. Yang pertama, perekayasaan informasi keuangan yang sesuai dengan teknologi standar itu (GAAP) sangat diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan informasi dari para kreditur dan pemegang saham. Yang kedua, teknologi standar ini sangat difokuskan pada pengukuran income atau laba. Di dalam masalah rekayasa pengendalian akuntansi, dibahas mengenai masalah pengendalian birokrasi. Birokrasi adalah agen yang menjabarkan ide rasionalisme ke

dalam rekayasa dan praktek pengendalian akuntansi. Birokrasi merupakan infrastruktur yang mendukung sistem pengendalian akuntansi. Untuk itu, di dalam birokrasi harus ada landasan keteraturan di dalam pengendaliannya. Tetapi di Indonesia, yang menjadi tantangan bagi para akuntan adalah

keterlangkaannya birokrasi rasional yang berlandaskan keteraturan. Birokrasi yang tipikal di Indonesia adalah birokrasi yang berlandaskan emosional. Hal inilah yang menjadi masalah bagi para akuntan di dalam pengendalian akuntansi di Indonesia. Padahal jika dilihat kembali mengenai arti dari birokrasi, untuk melakukan pengendalian akuntansi, sangat dibutuhkan birokrasi yang sehat sebagai prasyarat efektifnya pengendalian akuntansi di Indonesia.

B. Metodologi Falsificationnism Popper dan Penelitian Akuntansi (Prof. Dr. H.S. Hadibroto) Dalam artikel ini, si penulis membahas mengenai keberatannya terhadap metodologi falsificationism Karl Popper yang dipakai sebagai acuan untuk menilai keberadaan Teori Akuntansi. Jika dilihat menurut metodologi falsificationism Karl Popper, pada faktanya keberadaan Teori Akuntansi, sebenarnya tidaklah pernah ada. Tetapi, si penulis merasa berkeberatan jika Teori Akuntasi dinilai tidak ada hanya karena memakai acuan dari metodologi falsificationism Karl Popper. Si penulis mengambil berbagai pendapat, seperti: Ruth D. Hines, Kuhn, Feyerband, Lakatos, dan Laudan, untuk menolak pandangan Popper dalam menilai suatu teori, khususnya Teori Akuntansi. Si penulis juga memberikan beberapa alasan, mengapa penulis tidak dapat menerima begitu saja Teori Akuntansi dinilai tidak ada berdasarkan metodologi falsificationism Karl Popper, yaitu : 1. Teori Popper tentang falsificationism terbukti banyak yang menolak (Kuhn, Feyerband, Lakatos, dan Laudan) 2. Teori falsificationism terbukti merupakan bumerang, karena sejarah (observasi) menyimpang dari teori itu, sehingga teori falsificationism tidak benar 3. Apabila teori Popper tidak menerima adanya teori normatif, maka teori Popper sendiri tidak konsisten, karena kriteria untuk teori sifatnya normatif 4. Apabila teori falsificationism benar, maka teori Galileo, teori Copernicus, teori Newton, dan teori Bohr tidak ada!

Kesemua alasan di atas, diberikan si penulis untuk menolak anggapan Popper bahwa teori tetap dianggap berlaku selama belum ada observasi yang menyimpang dari itu, namun teori tidak dianggap benar karena ada observasi yang sesuai, jadi teori tidak mungkin dibuktikan kebenarannya.

C. Teori Akuntansi (Prof. Dr. H.S. Hadibroto) Dalam artikel ini, si penulis membahas mengenai keberadaan Teori Akuntansi. Menurut si penulis, bahwa keberadaan Teori Akuntansi itu sebenarnya ada. Si penulis mengambil beberapa pendapat para ahli akuntansi untuk mendukung pendapatnya mengenai adanya Teori Akuntansi. Beberapa ahli tersebut adalah Prof. Watts dan Zimmerman. Si penulis mengambil pendapat Prof. Watts dan Zimmerman pada intisari buku mereka Positive Accounting Theory pada bagian Bab I, yaitu bahwa mereka membedakan antara Teori Akuntansi Positif dan Teori Akuntansi Normatif. Selanjutnya, mereka berpendapat bahwa dalam menyusun teori positif terdapat berbagai pendekatan, antara lain, pendekatan ekonomi, dan pendekatan perilaku (behavior). Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, penulis artikel ini membuat kesimpulan dari buku Positive Accounting Theory, yaitu : 1. Teori Akuntansi dianggap ada 2. Terdapat berbagai Teori Akuntansi tergantung dari tujuan teori itu Dari kedua kesimpulan di atas, penulis artikel ini beranggapan bahwa apabila teori didefenisikan sebagai hasil pemikiran yang berdasarkan metode ilmiah atau logika, maka kesimpulan tadi dapat diterima. Dengan penafsiran teori sebagai hasil pemikiran berdasarkan metode ilmiah, maka mata kuliah Teori Akuntansi mempunyai dasar eksistensinya, sehingga berteori (berfikir secara ilmiah) mengenai masalah-masalah akuntansi masih tetap dapat dilaksanakan, bahkan penting untuk terus dilaksanakan, apabila disiplin akuntansi ingin dianggap sebagai disiplin ilmu disamping sifatnya yang teknis, prosedural. Jadi, hal tersebutlah yang menjadi acuan dasar si penulis untuk membuat kesimpulan bahwa keberadaan Teori Akuntansi sebenarnya ada.

D. Teori Akuntansi VS Teknologi Akuntansi (Rosjidi) Dalam artikel ini, si penulis membahas tentang artikel yang dibuat oleh Bambang Sudibyo dan Prof. Dr. H.S. Hadibroto. Si penulis memberikan komentar-komentar seputar kedua artikel yang dibuat oleh kedua ahli tersebut melalui artikel ini. Si penulis melihat bahwa adanya suatu pertentangan diantara artikel kedua ahli tersebut. Menurut si penulis, bahwa Bambang Sudibyo menyatakan bahwa akuntansi merupakan bidang studi rekayasa, yang dengan sendirinya menolak defenisi akuntansi sebagai seni maupun ilmu dalam artian ilmu murni. Menurutnya, Bambang Sudibyo juga menyatakan bahwa Teori Akuntansi tersebut tidaklah ada sampai sekarang ini, yang walaupun suatu saat bisa menjadi ada dengan menempuh proses yang sangat lama dan panjang seperti Teori Ekonomi. Pendapat daripada Bambang Sudibyo tersebut, sangatlah tepat menurut si penulis. Sedangkan, jika dilihat pada artikel Prof. Dr. H.S. Hadibroto, menurut si penulis, bahwa Hadibroto menyatakan bahwa Teori Akuntansi itu ada. Pendapat Hadibroto ini tampaknya secara tersirat ditujukan untuk menjawab atau menolak anggapan yang selama ini ada, yaitu akuntansi itu sebagai bidang studi rekayasa/teknologi, yang dengan sendirinya menolak defenisi akuntansi sebagai seni maupun ilmu dalam artian ilmu murni, dengan demikian teori akuntansi dianggapnya tidak ada. Si penulis merasa bahwa pendapat daripada Hadibroto itu sangatlah tidak tepat. Itu dikarenakan bahwa Hadibroto hanya mengutip pendapat Watts dan Zimmerman saja, yaitu yang terdapat pada bagian pengantar dan bab satu dari buku Positive Accounting Theory mereka, untuk mendukung pendapatnya dalam menyatakan keberadaan Teori Akuntansi. Keadaan yang dibuat pendapat Hadibroto tersebut, memberikan kesan kurang menempatkan permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, dalam arti bahwa, metode ilmiah tidak analog dengan logika. Jadi menurut si penulis, jika hanya bertumpu pada logika seperti maksud dari pendapat Hadibroto, maka semuanya seperti kembali pada zaman Yunani Purba dan terperangkap dalam kondisi Solipisme.