Anda di halaman 1dari 13

Perang Vietnam (Perang Indochina)

Perang Vietnam

atau Perang Indochina Kedua

adalah

perang yang terjadi antara

tahun 1957 sampai dengan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin. Dua aliansi yang berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Dalam perang tersebut Vietnam Selatan didukung oleh negara Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia,Selandia

Baru dan Filipina, sedangkan Vietnam Utara yang merupakan negara komunis didukung oleh USSR / Uni Soviet dan China.1 Di dalam makalah ini akan menganalisa sebagian dari rangkaian perang Vietnam pada studi kasus pembantaian terhadap ratusan penduduk sipil yang tidak bersenjata, yang dilakukan oleh pasukan Amerika di sebuah desa yaitu My Lai pada tanggal 16 Maret 1968. Sebagian besar penduduk sipil yang menjadi korban pembantaian adalah perempuan dan laki laki tua serta anak anak. Pembantaian ini menjadi catatan sejarah kejahatan perang Amerika di Vietnam, sehingga mengakibatkan kecaman dunia Internasional, menurunkan kewibawaan Amerika dan menurunkan dukungan dari rakyat Amerika itu sendiri. Instrumen yang digunakan dalam menganalisa studi kasus pembantaian oleh pasukan Amerika, yang dipimpin oleh Letnan William Calley sebagai komandan peleton 1C adalah Hukum Humaniter Internasional (juga disebut Hukum Perang atau Hukum Konflik Bersenjata) Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I 1977.

Pada saat Perang Vietnam, Provinsi Quang Ngai tepatnya di desa Son My Vietnam Selatan dicurigai oleh pasukan Amerika sebagai tempat perlindungan

kaum gerilyawanAngkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat

dari Front Nasional untuk

Pembebasan Vietnam (FNPV), yang juga disebut "Viet Cong" atau "VC". Desa Son My oleh pasukan Amerika disebut Pinkville (karena pada peta berwarna merah jambu). Pada serangan tanggal 16 Maret 1968, selain membantai ratusan penduduik sipil, pasukan Amerika juga menghancurkan rumah rumah yang ada di desa Song My, tepatnya di dusun My Lai. Pasukan Amerika menganggap penting bahwa para gerilyawan FNPV harus dimusnahkan. Oleh sebab itu, mereka tidak mengukur berapa banyak wilayah atau lokasi strategis yang direbut atau dikuasai sebagai suatu sasaran operasi, melainkan berdasarkan "jumlah mayat" penduduk yang dicurigai sebagai gerilyawan FNPV yang terbunuh.

Tujuan operasi pasukan AS menyerang My Lai adalah mencari dan menghancurkan musuh. Namun komandan kompi C yaitu Kapten Ermest Medina merasa tidak jelas tindakan apa yang diambil bila menemukan orang sipil di dusun My Lai. Ada seorang prajurit Kompi C menannyakan kepada komandannya yaitu Kapten Medina mengenai kemungkinan tindakan yang di ambil bila bertemu dengan orang sipil khususnya wanita dan anak-anak. Kapten Medina mengarahkan agar bertindak secara akal sehat, bila mereka bersenjata dan berusaha melawan, maka diperbolehkan menembaknya. Berdasarkan informasi intelijen bahwa dusun My Lai telah diduduki oleh FNPV dan seluruh penduduknya sudah mengungsi. Pada pagi hari 16 Maret 1968, satu peleton pasukan Amerika yang dipimpin oleh Letnan Willian Calley memasuki dusun My Lai, mereka menemukan sekelompok penduduk yang terdiri dari para perempuan, anak-anak dan laki laki tua yang sedang melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari. Penduduk sipil tersebut kemudian ditembaki secara membabi buta, ada sebagian penduduk dimasukkan ke dalam suatu banker tempat persembunyian, kemudian bunker tersebut dimasukan granat, bahkan banyak para wanita yang diperkosa sebelum dibunuh. Selama serangan, tidak ada suara tembakan atau tidak ada perlawanan dari pihak penduduk sipil yang ada di dusun My Lai. Jumlah korban tewas dalam serangan di dusun My Lai mencapai 500 orang. Prajurit Amerika mendapatkan doktrin dari atasannya agar dalam laporan hasil operasi tersebut untuk melebihkan perhitungan jumlah korban yang tewas dari pihak FNPV. Dalam perjuangannya, para gerilyawan dari FNPV membaur dengan penduduk sipil, sehingga pasukan Amerika kesulitan membedakan gerilyawan FNPV dan pendudk sipil tersebut. Pasukan Amerika merasa kesulitan menghadapi taktik dari gerilyawan FNPV. Hal lain yang melatar belakangi pembantaian di My Lai adalah ketidakmampuan pasukan Amerika untuk mengejar gerilyawan yang selalu lolos dari penyergapan dan timbulnya rasa takut akan penyergapan balik dari gerilyawan FNPV. Ada kemungkinan pasukan Amerika melampiaskan kemarahannya dengan cara melakukan pembantaian terhadap penduduk sipil yang tidak bersenjata di dusun My Lai. Pada awalnya, peristiwa pembantaian ini ditutupi oleh Angkatan Darat AS dan dinyatakan sebagai kemenangan menghadapi gerilyawan gerilyawan FNPV. Satu tahun setelah

pembantaian di My Lai, masalah ini mencuat di media masa, sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat AS. Pada tanggal 29 Maret 1968, Ronald Ridenhour seseorang

prajurit dari satuan lain mengetahui pembantaian di My Lai dan memberitahukan kepada Melvin Laird yang menjabat sebagai sekretaris Menteri Pertahanan AS. Para wartawan mengetahui apa yang terjadi, kemudian memberitakan peristiwa tersebut sebagai high lines

news. Dengan gencarnya pemberitaan peristiwa pembantaian ini di media masa, menimbulkan protes dari masyarakat Amerika sendiri. Tindakan selanjutnya adalah pihak Angkatan Darat AS melaksanakan penyelidikan terhadap tindakan prajurit Amerika pada perang Vietnam tersebut. Presiden Richard Nixon pada waktu itu memerintahkan untuk mempercepat penarikan kembali pasukan AS dari Vietnam. Pihak Angkatan Darat AS memeriksa 12 personel yang terdiri dari perwira, tamtama dan bintara. Hasil dari penyelidikan dan penyidikan di mahkamah militer menyatakan bahwa Letnan William Calley bersalah dan dihukum seumur hidup. Penjatuhan hukuman ini menimbulkan protes dari para veteran perang dan menuntut untuk membebaskan Letnan Calley.

a. Sebelum Kejadian / Data Intelijen 1) Januari 1968, pada Serangan Tet2, serangan-serangan dilakukan di Quang Ngaioleh Batalyon ke-48 dari FNPV. Intelijen militer AS membentuk pandangan bahwa Batalyon ke48, setelah mengundurkan diri, berlindung di desa Son My. 2) Informasi intelijen menyatakan bahwa unit 48th Local Force NLF diperkirakan sekitar 200 gerilyawan telah tersebar di sekitar daerah operasi My Lai / Pink Ville. 3) Banyak penduduk yang menjadi simpatisan Viet Cong sudah meninggalkan My Lai. 4) Banyak perwira intel AD termasuk yang dari Brigade 11st dan Americal Division percaya bahwa musuh berada dekat My Lai. 5) Daerah sasaran peleton Letda William Calley kemungkinan akan mendapatkan

perlawanan dari Yon Veteran musuh, pada waktu memasuki daerah tersebut. 6)Bila telah memasuki daerah sasaran, kemungkinan musuh sudah membaur dengan penduduk sipil. 7) Bukit sebelah Utara dan Barat Laut May Lai-4 kemungkinan merupakan markas komando batalyon musuh. b. Rencana Operasi. Tidak ditemukan adanya dokumen tertulis tentang Rencana Operasi Muscatine yang dipimpin oleh Letkol Barker. Kalaupun ada, kemungkinan sudah dimusnahkan. Sedangkan Letkol Barker sudah meninggal dalam kecelakaan heli pada bulan Juni 1968 Operasi dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 1968 dan diberlakukan mulai jam 07.303. Tugas yang diberikan kepada masing masing kompi adalah sebagai berikut : Kompi A memblokade sebelah utara sungai Diem Diem, sedangkan kompi B dan C bergerak ke

Selatan untuk menyerang musuh yang diharapkan mergerak menuju mulut sungai Tra Khuc yang akan disergap oleh kompi A. Letkol Barker sangat menekankan bahwa VC akan bersembunyi di terowongan yang sangat panjang dan rumit yang terdapat di daerah tersebut dan menyerang dari belakang. Letkol Barker menugaskan peleton 1 A bergerak ke arah puncak bukit 85 (bukit elephant) dengan tujuan untuk melindungi kompi B dan C. Kompi C didaratkan dengan menggunakan Helly pada jam 07.30 dan mulai bergerak ke Timur menuju dusun keci My Lai. Perkampungan Son My merupakan target dan sasaran operasi. c. Pelaksanaan Operasi tgl 16 Maret 1968. Jam 05.30, Kompi C melaksanakan persiapan embarkasi dengan Helly. Jam 07.30, sebelum helly mendarat, 4 meriam artileri howitser 105 mm mulai melakukan tembakan ke arah area landing zone di dekat My Lai. Pada awal serangan, kompi C Kapten Ernest Medina telah menembak seorang petani yang berada di sawah namun tidak bersenjata. Jam 08.00, Kapten Medina melaporkan hasil serangan awal : 15 orang Viet Cong tewas. Pasukan kompi C menganggap bahwa penduduk di desa My Lai adalah sebagai kombatan Viet Cong yang menjadi sasaran yang sah. Peleton Letnan Calley dibagi menjadi 3 kelompok dan bergerak dari arah Selatan My Lai 4. Letnan Calley berhasil menemukan beberapa penduduk yang dijadikan sebagai tawanan dan akan di interogasi. Di sisi lain, anak buah Letnan Calley berbeda pendapat dengannya yaitu langsung menembakinya setelah penduduk dikumpulkan. Bahkan prajurit peleton Letnan Calley menembaki apa saja yang bergerak termasuk hewan ternak. Jam 08.30, Kolonel Henderson dan Letkol Barker inspeksi pelaksanaan operasi, kemudian Kapten Medina melaporkan jumlah korban yang tewas yaitu 84 orang. Jam 09.00, seorang pilot helly yaitu Chief Warrant Officer Hugh Thompson terbang di atas My Lai. Thompson melihat banyak mayat dan beberapa penduduk yang menderita kesakitan akibat luka tembak di sekitar desa My Lai. Pilot tersebut berkali-kali melihat lelaki dan perempuan muda ditembak dari jarak dekat. Melihat perlakuan pasukan Amerika terhadap penduduk, kemudian Thompson sangat kecewa dan melaporkan kejadian ini ke markas brigade. Letnan Calley mengumpulkan penduduk sipil berjumlah sekitar 80 orang yang terdiri dari laki laki tua, wanita dan balita di sekitar saluran irigasi, di sebelah Timur My Lai. Kemudian Letnan Calley memerintahkan anak buahnya untuk menggiring penduduk

tersebut untuk memasuki saluran irigasi. Setelah penduduk dimasukkan ke dalam saluran irigasi, kemudian Letnan Calley memerintahkan prajuritnya untuk menembakinya, namun ada beberapa prajurit menolak perintah tersebut. Salah satu anak buahnya yaitu Paul Meadlo mengikuti perintah Letnan Calley dan menembaki penduduk tersebut sekitar 25 orang. Calley sendiri turut serta dalam pembantaian ini. Bahkan ada seorang anak berumur 2 tahun yang selamat dan berhasil melarikan diri, namun ditangkap kembali oleh Letnan Calley, kemuidian anak kecil tersebut dilempar ke saluran irigasi dan ditembak mati oleh Letnan Calley. Pliot Hugh Thompson, melihat mayat-mayat di saluran irigasi termasuk beberapa orang yang masih hidup. Dia mendaratkan helikopternya dan menginformasikan kepada Calley untuk menghentikan prajuritnya menembaki penduduk dengan cara tidak manusiawi. Pilot tersebut kemudian mengevakuasi penduduk sipil yang masih hidup. Thompson

memerintahkan crew-nya untuk menghalau pasukan Amerika dengan cara menembaknya bila mereka masih menembaki penduduk sipil. Pilot tersebut berhasil mengevakuasi 9

orang termasuk 5 anak-anak dan dibawa ke rumah sakit AD terdekat. Kemudian, Thompson mendarat lagi dan menyelamatkan seorang bayi yang masih merangkul jenazah ibunya. Jam 11.00, Letkol Barker mendapat informasi dari Puskodal bahwa beberapa pilot telah memberitahukan kepada komandan kompinya tentang pembantaian penduduk sipil yang tidak bersalah yang dilakukan oleh anak buahnya. Letkol Barker segera memberitahu XO yang sedang terbang di atas daerah pertempuran untuk menyelidiki peristiwa sebenarnya. Bila laporan kejadian itu benar, maka segera mengambil tindakan untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Letkol Barker meminta kepastian dari kapten Medina tentang kejadian tersebut yang diinformasikan oleh para pilot. Kemudian Letkol Barker meminta jaminan kepada Kapten Medina kalau memang laporan dari pilot tersebut tidak pernah terjadi. Kapten Medina melaporkan kepada Letkol Barker bahwa tidak ada pembantaian terhadap pendudk sipil. Kemudian Letkol Barker memerintahkan kepada kompi C untuk menghentikan tembakan kepada penduduk sipil. d. Sesudah Kejadian Laporan yang dibuat oleh dua perwira Angkatan Darat Amerika yaitu Tom Glen danRon Ridenhour yang membuat surat kepada presiden Nixon tentang kejadian pembantaian di desa My Lai, menimbulkan pemberitaan di media masa yang ditanggapi negative oleh masyarakat Amerika Serikat, terutama protes dari para veteran perang Vietnam. Pada tanggal 17 Maret 1970, mahkamah militer Amerika mengadili 14 perwiranya yang terkait pembantaian My Lai. Hasil penyidikan, Letnan William Calleydinyatakan bersalah

telah melakukan pembunuhan terencana dengan memerintahkan penembakan terhadap masyarak sipil. Letnan William Calley semula dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, namun dua hari kemudian, Presiden Richard Nixonmemerintahkan untuk memebebaskan dari penjara. Keputusan akhir, Letnan William Calley menjalani tahanan rumah selama 3 tahun di markasnya di Fort Benning, Georgia, kemudian diperintahkan bebas oleh seorang hakim federal. ANALISIS KEJADIAN 1. Pertanggung jawaban Komando (command responsibility) Ketentuan yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum pertanggung jawaban komando adalah Pasal 86 dan 87 Protokol Tambahan I 1977. Ketentuan-ketentuan hukum humaniter yang mengatur tentang pertanggungjawaban komando tersebut mengandung 3 aspek penting yang harus dipenuhi untuk menentukan seorang perwira atau komandan harus bertanggung jawab atas tindakan kejahatan bawahannya : a. Ada hubungan atasan-bawahan dalam kasus terjadinya tindakan kejahatan yang telah dilakukan. Ini ditunjukkan dengan bukti-bukti yang jelas, saksi, dokumen, dsb. b. Atasan mengetahui atau diduga patut mengetahui adanya tindakan kejahatan yang dilakukan oleh bawahan. Komandan atau atasan gagal untuk mencegah atau menindak (menghukum) pelaku kejahatan tersebut atau menyerahkan pelakunya kepada pihak yang berwenang. Untuk menentukan seorang komandan bersalah atas tindakan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan perlu dibuktikan bahwa: a. Prajurit pelaku kejahatan berada di bawah komando atau kontrol atasan tertuduh. b. Atasan tertuduh mengetahui secara aktual (actual notice), yaitu mengetahui atau diberitahu tentang terjadinya tindak kejahatan perang dan kemanusiaan pada saat tindak kejahatan tersebut berlangsung. c. Atasan tertuduh mengetahui secara konstruktif (constructive notice) yaitu telah terjadi tindak pelanggaran dalam skala besar sehingga tertuduh atau seseorang pasti sampai pada kesimpulan bahwa ia mengetahui tindak kejahatan tersebut.

d. Atasan tertuduh mengetahui ada tindak kejahatan tetapi menunjukkan sikap yang secara sengaja tidak acuh terhadap konsekuensi dari sikap membiarkan tersebut (imputed notice). e. Atasan tertuduh gagal mengambil langkah-langkah yang perlu dalam kewenangannya untuk mencegah atau menghukum tindak kejahatan ketika ia mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk melakukan hal tersebut. Dari hasil analisa pelanggaran hukum humaniter pada pembantaian di May Lai oleh pasukan Amerika dari aspek pertanggungjawaban komando adalah sebagai berikut : a. Letkol Frank A Barker, sebagai Komandan Task Force 1) Sebagai Komandan Task Force, Letkol Frank Barker berwenang dan

bertanggungjawab memberikan tugas pokok kepada Komandan Kompi C (Kapten E. Medina). Secara hirarkhi, konsep operasi yang dikembangkan oleh Kapten Medina berdasarkan pada Perintah Operasi dari Komandan Task Force atau Komandan Gusus

Tugas. Perintah yang diberikan oleh Kapten Medina sebagai Komandan Kompi C kepada Letnan William Calley sebagai Dan Ton 1 C masih merupakan tanggung jawab pengawasan dan pengendalian Letkol Frank Baker sebagai Komandan Task Fors / DAN GT. 2) Dari permasalahan pemabantaian di desa My Lai, maka Letkol Frank Barker telah dapat dikenakan sanksi pasal 87 ayat 2 dan 3 adalah : a) Seorang Komandan tidak berusaha menyebar luaskan atau memberitahukan / mensosialisasikan tentang Hukum Humaniter, hal ini melanggar pasal 87 ayat 2. b) Seorang Komandan tidak berusaha mengambil tindakan yang harus diambil pada saat bawahan melakukan pelanggaran dan telah mememprakarsai terjadinya pelanggaran Hukum Humaniter, hal ini melanggar pasal 87 ayat 3. b. Kapten Medina sebagai Komandan Kompi C 1) Pada saat briefing, Kapten Medina sebagai seorang Komandan kompi C memerintahkan kepada anak buahnya untuk menghancurkan My Lai dengan cara membakar rumah penduduk, membunuh hewan peliharaan penduduk dan membunuh apa saja yang

hidup di desa tersebut. Kapten Medina juga tidak mengaahkan untuk menganalisa ulang data intelijen yang diinformasikan oleh komando atas. 2) Pada saat Danton 1 C / Letnan William Calley melaporkan perkembangan situasi di My Lai melalui radio, justru Kapten Medina memerintahkan untuk membunuh penduduk sipil di My Lai. 3) Sesuai dengan Protokol I 1977, maka tindakan Kapten Medina tersebut telah melanggar pasal : a) Pasal 87 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa : Seorang Komandan tidak mencegah adanya pelanggaran terhadap Konvensi-konvensi dan protokol ini yang dilakukan oleh anggota Angkatan Bersenjata yang berada dibawah komandonya dan juga oleh orang lain yang dibawah pengawasannya. b) Pasal 87 ayat 2, Seorang Komandan tidak berusaha menyebar luaskan tentang Hukum Humaniter, khususnya kepada anak buahnya di kompi C. c) Pasal 87 Ayat 3, yang menyebutkan bahwa Seorang Komandan tidak mengambil tindakan yang harus diambil pada saat bawahannya melakukan pelanggaran dan justru memberikan perintah yang mengakibatkan pelanggaran Hukum Humaniter c. Letnan William Calley, sebagai Komandan Peleton 1 C 1) Tindakan yang diambil oleh Letnan Calley merupakan tindakan yang berdasarkan perintah dari kapten Medina sebagai komandan kompi C. 2) Letnan William Calley sebagai seorang prajurit telah mentaati perintah dari komandan kompi / atasan langsung untuk melaksanakan membunuh penduduk yang ada di desa My Lai. Letnan William Calley juga secara langsung melakukan penembakan secara membabi buta terhadap penduduk sipil termasuk, wanita, laki-laki berusia lanjut dan anak - anak. 3) Analisa terhadap tindakan Letnan William Calley : a) Tidak sesuai dengan Azas Hukum Humaniter yaitu Azas Perikemanusiaan (Humanity). Di dalam Azas Hukum Humaniter dikenal tiga yaitu Azas Perikemanusiaan (Humanity), Azas Kepentingan Militer dan Azas Kesatriaan (Chivalry)9. Bila

dihubungkan dengan tindakan yang dilakuakan oleh Letnan William Calley, maka perwira tersebut telah melanggar Azas Perikemanusiaan dimana pihak pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan perikemanusiaan, dimana mereka dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu. Namun tindakan Letnan William Calley justru melakukan pembunuhan tidak manusia, dengan cara menembak penduduk sipil secara membabi buta terhadap orang-orang yang seharusnya. a) Melanggar Konvensi Jenewa IV tahun 1949. Letnan William Calley secara langsung telah bertindak yang menjadikan

penduduk sipil (perempuan, laki-laki tua dan anak-anak), yang tidak terlibat dalam perang sebagai sasaran penembakan dan seharusnya wajib untuk mendapatkan perlindungan dari pihak yang bersengketa. b) Melanggar Protokol Tambahan I 1977, yang merupakan tindak lanjut dari Konvensi Jenewa 1949, yaitu : (1) Melanggar pasal 50, 51 dan 56 Tidak menempatkan orang atau obyek yang yang tidak berbahaya sebagai mestinya. (2) Telah menggunakan senjata serta cara-cara membunuh yang mengakibatkan luka yang berlebihan dan atau penderitaan yang tidak perlu, hal ini melanggar ketentuan larangan-larangan yang berlaku dalam sengketa bersenjata. (3) Tidak memberlakukan orang yang dianggap musuh dan atau musuh yang sudah menyerah secara baik dan telah dijadikan sebagai sasaran serangan, hal ini melanggar ketentuan larangan-larangan yang berlaku dalam sengketa bersenjata. d. Pelanggaran yang dilakukan anak buah. Pertanggung jawaban komando di dalam Hukum Humaniter Internasional, selain melibatkan atasan, maka yang menjadi bagian rantai komando adalah juga anak buah / bawahan langsung yang melakukan pembunuhan / pelanggaran :

Melanggar Azas Hukum Humaniter (Humanity) yaitu Azas Perikemanusiaan, Konvensi Jenewa IV tahun 1949 dan Protokol Tambahan I 1977 (anak buah melakukan tindakan yang sama dengan apa yang dilakuakn oleh Danton-nya (Letnan Wlliam Calley) Dari uraian analisa yang sudah dijelaskan diatas, maka para komandan yang berkaitan dengan pembantaian di My Lai telah melakukan pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949 antara lain : a. Pembunuhan yang disengaja; b. Penganiayaan atau tindakan yang merendahkan martabat manusia, termasuk percobaanpercobaan biologi, dengan sengaja mengkibatkan penderitaan hebat; c. Pemilikan dan perusakan harta benda secara meluas yang tidak dapat dibenarkan berdasarkan kepentingan militer dan dilakukan secara tidak sah dan dengan semenamena; d. Memaksa tawanan perang untuk mengabdi pada Penguasa Perang; e. Dengan sengaja menghilangkan hak-hak tawanan perang atas peradilan yang jujur dan teratur sebagaimana ditegaskan dalam Konvensi Jenewa III; f. Memindahkan atau menstransfer penduduk dengan paksa; g. Menjatuhkan hukum kurungan; h. Melakukan penyanderaan Selain melanggar Konvensi Jenewa 1949, para komandan tersebut, juga telah melakukan tindakan pelanggaran berat menurut Protocol I 1977 adalah sebagai berikut : a. Menjadikan penduduk sipil atau orang sipil sebagai sasaran; b. Serangan membabi buta yang menimbulkan kerugian yang besar pada sipil atau obyekobyek sipil; c. Menjadikan daerah-daerah yang tidak dipertahankan atau demiliterised zone sebagai sasaran serangan;

d. Menjadikan seseorang yang tak berdaya sebagai sasaran serangan; e. Menyalahgunakan lambang-lambang perlindungan seperti lambang Palang Merah Internasional dan lambang-lambang lainnya yang diakui oleh Konvensi-konvensi Jenewa dan protokolnya. 2. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya pelanggaran hukum humaniter pada waktu pembantaian di My Lai yang dilakukan oleh pasukan Amerika, yang mengarah pada katagori kejahatan perang dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : a. Berlarut larutnya perang Vietnam yang berlangsung selama 18 tahun yang dimulai tahun 1957 s.d tahun 1975 dan terus bertambahnya korban dari pihak Vietnam dan Amerika. b. Adanya unsur keterpaksaan menjadi wajib militer di pihak Amerika sehingga mempengaruhi mental bertempur. c. Ada sebagian perwira baru Amerika yang mempunyai latar belakang pendidikannya rendah seperti Letnan William Calley yang berasal dari komuniti pengangguran dan putus sekolah diperguruan tinggi sehingga mempengaruhi perilaku kepemimpinan. d. Para komandan pasukan Amerika di lapangan tidak menganalisa keakuratan data intelijen. e. Kebiasaan rotasi penugasan bagi pasukan Amerika yang bertugas di Vietnam adalah 1 tahun, namun kebijakan ini tidak dipenuhi, karena banyak prajurit Amerika yang baru bertugas beberapa bulan sudah di-rotasi kembali ke Amerika sehingga mengakibatkan kurangnya pengalaman f. Banyak prajurit Amerika yang tidak saling mengenal diantara kelompoknya (Kompi, peleton) sehingga sangat mempengaruhi pergaulan dan bekerja sama dalam bertempur. 3. Keakuratan Data Intelijen Dengan Fakta Di Lapangan Informasi Intelijen yang menyatakan bahwa ada sekitar 200 gerilyawan FNPV berlindung di desa Son My adalah tidak terbukti. Ada beberapa kemungkinan hal tersebut bisa terjadi :

a. Informasi intelijen tersebut benar, karena memang diakui oleh pasukan Amerika bahwa para gerilyawan FNPV sangat pandai menghindari kepungan pasukan Amerika ditambah lagi dengan kurang pengalamannya pasukan Amerika. b. Informasi tersebut kurang akurat, kemungkinan hanya sebagai cara dari komando atas pihak Amerika untuk meningkatkan kesiagaan pasukannya. 4. Hal-hal yang positif. a. Sikap Hug Thomson sebagai pilot Helly mengutamakan azas Perikemanusiaan (Humanity) dalam pertempuran yang menolong dan mengevakuasi penduduk sipil untuk dibawa ke rumah sakit. b. Bila ditinjau dari perspektif azas azas hukum hukmaniter yaitu Azas Kesatriaan (Chivalry) maka sikap perwira muda Amerika yaitu Tom Glen dan Ron Ridenhour yang menulis surat kepada presiden Nixon untuk melaporkan peristiwa pembantaian di My Lai sangat terpuji.

5. Hal-hal yang negatif. a. Bila ditinjau dari perspektif azas azas kerahasiaan sebagai prajurit militer maka sikap perwira muda Amerika yaitu Tom Glen dan Ron Ridenhour yang menulis surat kepada presiden Nixon untuk melaporkan peristiwa pembantaian di My Lai sangat terpuji adalah sangat tidak proporsional. b. Bila ditinjau dari aspek profesionalitas, maka percepatan rotasi penugasan bagi prajurit Amerika yang bertugas di medan tempur prajuritnya. c. Letkol Fank Barker selaku Komandan GT tidak mengikuti secara langsung untuk mengikuti manuver pasukannya dalam beroperasi. d. Informasi intelijen yang diberikan kepada pasukan yang akan beroperasi kurang akurat. e. Kapten Ernes Medina, sebagai Komandan Kompi tidak mencegah terjadinya pembantaian, tidak menyebarluaskan Hukum Humaniter dan tidak mengambil sangat mempengaruhi pengalaman

tindakan terhadap pelanggaran Hukum Humaniter.

f. Letnan William Calley tidak mencegah terjadinya pelanggaran hukum humaniter tetapi justru turut serta dalam pembantaian dengan cara menembakai penduduk sipil.