Anda di halaman 1dari 19

B. Aspek Materi Khusus 4.

3 Persemaian Benih Pinus Pembangunan persemaian adalah langkah awal dari rangkaian kegiatan untuk mendapatkan hasil hutan yang baik. Tanpa adanya persemaian maka tidak ada kegiatan penanaman, pemeliharaan, sampai dengan pemanenan hasil hutan. Oleh karena itu, kegiatan pembangunan persemaian merupakan kegiatan yang sangat penting dan harus mendapatkan perhatian yang cukup. Salah satu persemaian yang dikelola oleh perum perhutani unit II Jawa Timur KPH Jember adalah Persemaian Permanen Garahan (PPG). Jenis tanaman yang dikembangkan di PPG adalah Pinus merkusii dan JPP, tetapi hanya jenis pinus yang dikembangkan dengan cara generatif atau pengecambahan benih. Kegiatan praktik materi khusus aspek persemaian benih pinus dibimbing oleh Bapak Sugeng selaku mandor. Dilaksanakan pada tanggal ...di PPG, KPH Jember, RPH Garahan, BKPH Sempolan tepatnya di petak 5d dengan luas 14,56 Ha dan secara administrative termasuk wilayah desa Sidomulyo, Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Adapun Plank nama PPG dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Plank nama persemaian permanen garahan (PPG). Lokasi PPG Garahan mempunyai ketinggian 550 mdpl dan dikelilingi vegetasi tegakan Pinus merkusii. Suhu harian berkisar 20-32 C, dengan suhu terendah pada bulan Juni dan suhu tertinggi pada bulan Desember. Kelembaban 60%-90%. Type iklim B menurut Smith Ferguson dengan curah hujan tahunan 3500 mm. Sarana dan prasarana yang ada di PPG yaitu : plank persemaian, layout persemaian, alat-alat pertania (seperti cangkul, parang, meteran, ayakan, ember, gembor, gerobak, dan selang), bak penampungan air 5 buah, bedeng tabur sebanyak 9 bedeng, bedeng sapih sebanyak 66 bedeng, bedeng induksi sebanyak x, open area seluas x, shadding area seluas x, kebun pangkas seluas x, kebun pangkas cadangan seluas x, gudang media, gubuk kerja, wisma penginapan, mushola, aula, lapangan tenis, buku mutasi barang gudang (polybag, kompos, topsoil, pasir, dan lain-lain, serta pemakaiannya), papan kemajuan pekerjaan,

buku lalu lintas bibit (pengangkutan), buku tamu, buku hadir pekerja, daftar inventaris alat-alat kerja, serta buku harian mandor/pengelola persemaian. Layout persemaian dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Layout Persemaian Permanen Garahan RPH Garahan persemaian pinus di PPG, RPH Garahan dipilih berdasarkan beberapa persyaratan antara lain : tersedia SDM Perhutani yang secara manajemen dan teknis menguasai pembuatan bibit pinus dengan ketentuan kemampuan 1 orang mandor dalam pengelolaan persemaian benih pinus adalah 40.000 plc, luas lokasi memenuhi kebutuhan minimal untuk lokasi pengecambahan benih pinus dan penyapihan pinus, ketinggian lokasi di atas 400 m atau 1500-4000 mdpl, topografi relatif datar dengan kemiringan maksimal 15%, solum/ketebalan tanah 40 cm dan tidak berbatu, aksesibilitas tinggi atau mudah dijangkau baik untuk kepentingan angkutan bibit dan sarana prasarana maupun pengawasan, drainase baik, bebas banjir dan angin kencang, tersedia tenaga kerja baik jumlah maupun keterampilannya dengan mengutamakan tenaga kerja dari warga sekitar persemaian. Serta lokasinya dekat dengan sumber air yang cukup sepanjang tahun dengan kebutuhan air untuk jenis tanaman pinus merkusii adalah 600m3/ha/hari, Sumber air berasal dari sungai Mayang yang di jernihkan sebanyak 2 kali penyaringan dan ditampung di bak penampung. Bak penampung di persemaian benih pinus dapat dilihat pada Gambar x.

Gambar x Bak penampung air

Tipe persemaian pinus di RPH Garahan adalah tipe persemaian permanen. Sumber daya manusia untuk bidang persemaian ini yaitu: mandor yang bertanggung jawab di persemaian pinus adalah Sugeng. Jumlah pekerja sebanyak 9-10 orang termasuk di dalamnya pekerja harian dan pekerja borongan. Kegiatan yang menggunakan sistem harian merupakan kegiatan yang berkelanjutan dan memerlukan keahlian, sedangkan kegiatan yang menggunakan sistem borongan merupakan kegiatan yang harus diselesaikan pada saat itu juga tanpa memerlukan tenaga khusus. pekerja harian di persemaian pinus (persiapan media, penaburan, penyapihan, dan pemeliharaan) sebanyak 6 orang, dan pekerja borongan (pengisian polybag) sebanyak 3 orang yang berasal dari masyarakat setempat. Upah harian yang diterapkan di persemaian yaitu Rp. 17.500/hari. Persemaian pinus ini berada di bawah tanggung jawab KRPH Garahan. Struktur organisasi persemaian pinus dapat dilihat pada Gambar x
KRPH Garahan Suyono

Mandor Sugeng

Pembagian pekerja

Persiapan media dan Penaburan benih pengisian polybag Hartono Lifi Mistardi Latifi Lifi Nur Eko Ahmad

penyapihan Sum Wofi Lifi Latifi

pemeliharaan Sum Wofi

Gambar x Struktur persemaian persemaian pinus Hal yang perlu diperhatikan dalam kelancaran pembuatan persemaian pinus adalah ketersediaan benih. Benih adalah tanaman atau bagian yang digunakan untuk memperbanyak atau mengembangbiakan tanaman. Benih untuk kebutuhan persemaian pinus tidak diambil dari sembarang tegakan yang ada, tetapi diambil dari SSO (Seedling Seed Orchard) yang merupakan kerjasama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Cepu dengan Universitas Gajah Mada. Kelas sumber benih SSO ini termasuk ke dalam Kebun benih semai (KBS). KBS sempolan berada di RPH Sumberjati BKPH Sempolan KPH Jember. Lokasi berada di petak 36 seluas 38,40 ha dan petak 39 seluas 57,60 ha. Jenis tanah regusol berpasir dengan ketinggian tempat sekitar 600 mdpl. KBS ditanam

mulai tahun 1978 dengan cara mengambil biji dari 1.000 pohon plus di Jawa. Tujuan KBS pada awal pembangunan adalah untuk progenic test yaitu untuk melakukan uji keturunan yang diharapkan dapat menghasilkan biji atau keturunan dengan pohon lurus, produksi besar dan tidak banyak cabang. Namun untuk saat ini selain mengarah pada tegakan yang bagus juga diarahkan pada produksi getah yang banyak atau dikenal dengan sebutan pinus bocor getah. Untuk menjaga kemurnian hasil produksi benih dari KBS, sekeliling kebun benih ditanami tanaman jalur isolasi (tanaman non pinus) seperti Mahoni, Eucalyptus dan jati dengan radius 200 meter dari tanaman pokok. KBS Pinus merkusii di petak 39 dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x KBS Pinus merkusii petak 39 Kegiatan pemeliharaan kebun benih semai dilaksanakan dengan mengadakan penjarangan pada lokasi yang dipandang perlu diadakan penjarangan yang dilaksanakan oleh tenaga khusus dari UGM serta diadakan pembabatan tumbuhan bawah dan pemupukan pada setiap pohon yang biayanya sudah menjadi tanggung jawab UGM. Metode yang dilakukan dalam pengadaan benih pinus dilaksanakan secara konfensional hal ini dikarenakan adanya keterbatasan biaya. Kegiatan pengadaan benih diawali dengan pengunduhan strobilus betina maupun jantan dengan cara pemanjatan pohon pinus (bulan baik untuk panen adalah bulan Maret sampai dengan bulan Juli). Strobilus yang sudah terkumpul dari kegiatan pengunduhan akan diseleksi dengan cara memisahkan strobilus muda dan tua. Yang kemudian dilakukannya pengeraman strobilus selama 7 hari pada strobilus muda sampai strobilus benar-benar cukup matang sedangkan strobilus tua dapat langsung dikeringkan. Adapun strobilus muda dan tua dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Strobilus muda

Gambar x Strobilus tua

Strobilus yang sudah cukup matang akan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama 4-5 hari. Yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengekstraksian strobilus. Pengambilan biji dapat dipermudah dengan cara dipukul atau diinjak, hal itu bertujuan agar sisik strobilus terbuka, namun strobilus yang benar-benar kering dapat mengeluarkan biji dengan sendirinya karena sisikstrobilus terbuka akibat penjemuran. Setelah biji dikeluarkan dari dalam buah harus segera dijemur kembali selama 4-5 hari sehingga berat biji menjadi tetap (konstan) dan ditampi agar bersih dari segala kotoran maupun sayap yang melekat pada biji. Namun sebelum ditampi, biji diremas terlebih dahulu dengan tujuan agar sayap yang melekat pada biji akan mudah lepas. Kegiatan penjemuran, penampian dan pemilihan biji dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Penjemuran strobilus

Gambar x pengumpulan biji

Gambar x Biji pinus

Gambar x Peremasan biji

Biji jelek

Biji bagus
Gambar x tampi biji Gambar x Pemilihan biji

Biji yang telah selesai dibersihkan kemudian disortasi atau dilakukannya pemilihan biji. Biji terpilih akan dibawa ke tempat pengujian benih untuk diuji daya kecambah dan kadar air. Pengujian daya kecambah diakukan dengan cara pengecambahan biji pada wadah beralaskan kertas steril yang telah dibasahi yang kemudian disimpan dalam tempat pengecambahan. Sedangkan pengujian kadar air dilakukan dengan cara penimbangan biji secara berulang hingga biji benarbenar memiliki berat yang tetap (konstan).biji yang telah selesai diuji akan segera dikemas (packing) dalam plastik berukuran 1 kg. Kegiatan pengujian benih dan pengemasan dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Uji kecambah

Gambar x Tempat pengecambahan

Gambar x Biji jelek

Gambar x Biji bagus

Pengemasan (packing) dilakukan pada biji yang bagus maupun yang jelek, hal ini bertujuan agar diketahui jumlah biji jelek yang dihasilkan dalam kegiatan pengadaan benih yang berfungsi sebagai pembanding terhadap biji bagus yang dihasilkan, sehingga jumlah benih yang ditargetkan terpenuhi. Biji pinus yang telah selesai dikemas segera disimpan dalam alat pendingin dengan suhu 2-5 C denag kelembaban relatif 40%. Adapun alat pendingin dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Alat pendingin biji pinus Rendemen yang dihasilkan dalam produksi biji sebesar 0,317%/buah. Sedangkan produksi biji yang dihasilkan sebesar 42000 biji/kg, dengan daya kecambah 86%, daya tahan simpan dipendingin 2 tahun serta biaya eksploitasi Rp 150.000,00/kg. Kapasitas produksi benih KBS 1 ton, namun produksi benih KBS setiap tahunnya berbeda-beda, hal ini dikarenakan kegiatan produksi benih dilaksanakan sesuai dengan surat perintah (SP) yang diturunkan dari pusat. Adapun data jumlah produksi benih KBS yang terealisasi selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel x Tabel x data realisasi produksi benih KBS
No 1 2 3 4 5 Tahun Produksi 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah benih (kg) 400,00 54,50 165,91 473,00 342,70

Benih pinus yang dikirimkan kepada setiap BKPH jumlahnya disesuaikan dengan rencana pembuatan persemaian pinus. Untuk kebutuhan benih KBS di PPG pada tahun 2013 sebesar 5 kg dengan jumlah bibit sebanyak 53.000 plc , sedangkan kebutuhan benih KBS dan jumlah bibit yang terealisasikan di PPG selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel x

Tabel x Data realisasi kebutuhan benih dan jumlah bibit yang terealisasikan di PPG
No 1 2 3 4 5 Tahun Produksi 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah benih (kg) 11 12 6 4 1 Jumlah bibit (plc) 113.950 116.731 65.196 42.878 7.029

4.3.1 Pembuatan media Pembuatan media merupakan langkah awal dalam kegiatan pengadaan bibit dari benih dan merupakan hal yang sangat diperhatikan. Dalam pembangunan persemaian pinus, media yang digunakan yaitu pasir sebagai media tabur serta campuran top soil dan kompos yang merupakan media penyapihan. Pasir yang digunakan berasal dari sungai yang sebelum digunakan, pasir harus disterilkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari selama 3-4 hari. Pasir yang sudah steril diayak terlebih dahulu oleh ayakan dengan ukuran 2-5 mm, yang kemudian pasir dimasukkan dalam bedeng tabur (5 m x 1 m x 0,1 m). kegiatan pengayakan dan pengisian media di bedeng tabur dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Pengayakan media tabur

Gambar x Pengisian media di bedeng tabur

Penggunaan top soil (diambil dari bawah tegakan pinus) dan kompos untuk media sapih memiliki perbandingan 1:1. Alasan pengambilan topsoil yang berasal dari tegakan pinus yaitu sebagai sumber mikoriza yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan unsur hara terutama fosfor, meningkatkan penyerapan air, mengurangi pupuk buatan, memperbaiki struktur tanah, dan mengurangi serangan cendawan/patogen. Berbeda dengan bedeng tabur, di bedeng sapih Top soil dan kompos yang sudah melewati proses pengayakan (ukuran ayakan 0,5 cm) dan pencampuran akan segera dimasukkan ke dalam polybag berwarna hitam yang berukuran 15x10 cm. Polybag yang telah terisi oleh media disusun dalam bedeng sapih (ukuran 5 m x 1 m). satu bedeng sapih memiliki kapasitas 1000 polybag. Pengaturan polybag di bedeng sapih dibagi menjadi 10 kelompok, yang setiap kelompoknya berisikan 100 polybag dengan maksud untuk mempermudah

pengamatan. Kemampuan orang membuat media sebanyak 1,5 m3/hari. Adapun kegiatan pengayakan media, pengisian media dan penyusunan polybag di bedeng sapih dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Pengayakan media

Gambar x Media yang siap digunakan

Gambar x Pengisian dan penataan polybag

Gambar x Tata letak polybag di bedeng sapih

4.3.2 Kegiatan di bedeng tabur Bedeng tabur di bangun sebagai tempat pengecambahan benih pinus. Bedeng tabur dibuat sedemikian rupa, sehingga dimungkinkan menjadi tempat pengecambahan yang baik bagi benih pinus. bedengan diberi penutup bagian atasnya sebagai pelindung dari pukulan air hujan serta mengurangi intensitas sinar matahari secara langsung. Adapun bedeng tabur disajikan pada Gambar x

Gambar x Bedeng tabur Persiapan benih merupakan langkah awal untuk memulai kegiatan di bedeng tabur. Dalam prosedur kerja (PK), benih terlebih dahulu direndam selama 612 jam dengan air dingin sebelum dilakukannya penaburan. Namun pada kenyataannya kegiatan perendaman benih tidak dilakukan. Hal ini didasari dengan alasan bahwa perendaman benih memakan waktu yang cukup lama, hasil pengecambahan benih pinus tanpa dilakukannya perendaman sama bagusnya dengan benih yang direndam terlebih dahulu bahkan jauh lebih bagus, lamanya waktu keluarnya kecambah seperti pentol korek api antara benih yang tidak direndam terlebih dahulu dengan benih yang direndam sama, selain itu bibit pinus yang dihasilkan dapat memenuhi target. Penaburan benih dilakukan pada pagi hari dengan cara dust sowing (ditabur merata) di atas media tabur sebanyak 0,25 kg/bedeng. Sebelum dilakukannya penaburan benih, media terlebih dahulu disiram oleh air hingga cukup basah. Benih yang sudah ditabur di atas media kemudian ditekan sedikit oleh bambu. Hal ini bertujuan agar benih sedikit masuk ke dalam media. Benih kemudian ditutup tipis oleh pasir (tebal 5 mm) yang dilapisi serasah daun pinus yang telah dicacah di atasnya. Penutupan benih dengan pasir bertujuan agar benih terlindungi dari gangguan hama seperti burung dan tikus, sedangkan penutupan dengan serasah daun pinus bertujuan untuk menghindari kerusakan akibat air hujan serta menjaga kelembaban media. Benih mulai berkecambah pada umur 1011 hari. Adapun kegiatan penaburan benih dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Proses perataan media tabur

Gambar x Proses penaburan benih

Gambar x Proses perataan biji

Gambar x Psroses penutupan biji menggunakan pasir

Gambar x Proses pencacahan daun pinus

Gambar x Proses penutupan biji menggunakan serasah daun pinus

Teknik pemeliharaan di bedeng tabur dilakukan dengan cara penyiraman sebanyak 12 kali sehari (pagi dan sore) selama 15 menit atau disesuaikan dengan kondisi kelembaban media. Selain itu pemberian pestisida (decis) dengan dosis 1 tutup kemasan/tangki 15 liter yang bertujuan agar benih terlindungi dari hama. Serta penyiangan terhadap rumput yang tumbuh di bedeng tanur. Adapun kegiatan pemeliharaan di bedeng tabur dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Penyiraman di bedeng tabur

Gambar x Kemasan insektidida (Decis)

Gambar x Penyemprotan insektisid (Decis)

Gambar x Penyiangan rumput di bedeng tabur

4.3.2 Kegiatan di bedeng sapih Bedeng sapih dibangun sebagai tempat penyapihan pinus yang sudah berkecambah. Bedeng sapih dibuat sedemikian rupa sehingga dimungkinkan menjadi tempat pertumbuhan yang baik bagi kecambah pinus. bagian atas bedengan diberi shadding (75%), hal ini dikarenakan kecambah yang baru saja diambil dari bedeng tabur rentan terhadap panas. Sehingga perlu adanya tindakan untuk mengurangi intensitas matahari terhadap kecambah yang dipindahkan ke bedeng sapih. Adapun bedeng sapih disajikan pada Gambar x

Gambar x Bedeng sapih Penyapihan merupakan pekerjaan yang menentukan keberhasilan

persemaian. Tingkat keberhasilan dalam penyapihan akan sangat bergantung dari teknik penyapihan yang digunakan dan keterampilan yang dimiliki pekerja. Penyapihan (overspin) dilakukan pada pagi secara seragam, dimana kecambah masih berbentuk pentul korek api dengan tinggi minimal 3 cm dan tangkainya berwarna merah. Penyapihan dilakukan pada kecambah yang sehat saja yaitu kecambah yang segar dan berbatang lurus. Kegiatan penyapihan disesuaikan dengan kondisi benih yang tumbuh di bedeng tabur serta dilaksanakan secara bertahap. Kecambah pinus yang siap disapih disajikan pada Gambar x

Gambar x Kecambah pinus

Gambar x Kecambah pinus yang sudah di cabut

Sebelum dilakukannya penyapihan, media sapih harus cukup basah. Pembasahan media dilakukan dengan cara penyiraman menggunakan gembor ( 2-3 gembor/bedeng) berukuran 15 liter. Media yang sudah cukup basah kemudian

dilubangi menggunakan stik dengan diameter lebih besar dari kecambah pinus dengan maksud agar proses penyapihan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Kemampuan orang melakukan penyapihan (overspin) sebanyak 2,5 bedeng atau 2500 plc. Adapun kegiatan penyapihan dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Pencabutan kecambah pinus di bedeng tabur

Gambar x Penyiraman media di bedeng sapih

Gambar x Pelubangan media menggunakan stik

Gambar x Penyapihan kecambah pinus

Teknik pemeliharaan yang dilakukan di bedeng sapih adalah penyiraman dan penyiangan gulma, penyeleksian, penyulaman, pemberian pupuk, dan pergeseran polybag. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan springkle

(selama 15 menit) sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari yaitu pagi hari jam 07.0010.00 dan sore hari jam 15.0018.00 atau disesuaikan dengan kondisi kelembaban media. Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali pada musim hujan dan

1 bulan sekali pada musim kemarau atau disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kegiatan penyiraman dan penyiangan gulma dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Penyiraman di bedeng sapih dengan menggunakan springkle

Gambar x Penyiangan gulma

Penyeleksian bibit dilakukan agar anakan dapat tumbuh baik dan merata serta dapat diketahui jumlah kematian bibit per bedeng. Seleksi dilakukan 23 kali yaitu pada bulan-bulan awal penyapihan, pada pertengahan, dan terakhir pada saat bibit akan diangkut ke lapangan. Pada awal penyapihan, seleksi dilakukan dengan cara pengamatan terhadap bibit yang mati baik akibat hama maupun penyakit, yang kemudian akan ditindak lanjuti dengan penyulaman dan pemberian pestisida. Seleksi pada pertengahan (antara awal penyapihan sampai bibit akan diangkut kelapangan) dilakukan dengan cara memisahkan kantung plastik yang semainya mati dan tertekan. Hal ini bertujuan agar bibit dapat seragam dan tidak tertekan oleh semai lain. Sedangkan seleksi pada saat bibit akan diangkut ke lapang yaitu memisahkan semai yang kualitasnya tidak memenuhi syarat seperti bengkok atau pertumbuhannya merana serta ketinggian semai yang masih kurang. Kegiatan seleksi untuk bibit pinus di PPG yang baru terealisasi yaitu pada awal penyapihan yang ditindaklanjuti dengan kegiatan sulaman. Sedangkan seleksi pertengahan (antara awal penyapihan sampai bibit akan diangkut kelapangan) dan seleksi pada saat bibit akan diangkut ke lapang belum dilaksanakan. Hal ini dikarenakan kegiatan persemaian pinus di PPG baru berjalan 1,5 bulan. Bibit pinus yang siap tanam adalah bibit yang mempunyai tinggi 30 cm, perakaran dan media kompak, bibit sehat, memiliki penampilan yang baik, dan berumur sekitar 8-12 bulan. Ciri utama siap tanam adalah keluarnya pucuk yang menyerupai ekor tupai. Kegiatan penyulaman pinus dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Kegiatan penyulaman Pemberian pupuk dilakukan setelah benih berumur 3-4 bulan. Mengingat bibit di persemaian masih berumur 1,5 bulan, sehingga kegiatan pemberian pupuk belum bisa dilaksanakan. Jenis pupuk yang digunakan adalah Z-A dengan dosis 0,4 gr/liter air. Pemberian pupuk bertujuan untuk mempertinggi unsur hara yang dapat diserap di dalam tanah, sehingga pertumbuhan, hasil, serta kualitas bibit pinus yang tumbuh dapat ditingkatkan. Waktu pemupukan dilakukan setelah penyiraman bibit yaitu pagi hari sebelum jam 10.00. pelaksanaan pemupukan setiap 15 hari sekali atau menurut kebutuhan. Ada pun bibit pinus berumur 1,5 bulan terhitung dari benih baru ditabur dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x bibit pinus berumur 1,5 bulan

Pemangkasan akar untuk bibit pinus tidak dilakukan, akan tetapi menggunakan sistem geser. Sistem geser dilakukan apabila akar telah menembus polybag, yaitu dengan cara memindahkan polybag dari satu tempat ke tempat lain. Tujuan dilakukannya sistem geser yaitu mencegah akar menembus tanah. Selain itu, sistem geser merupakan salah satu cara untuk mengurangi terjadinya stres terhadap bibit pada saat dilakukannya pengangkutan ke lokasi penanaman. Hal ini dikarenakan bibit pinus tidak dipindahkan ke open area terlebih dahulu. Pelaksanaan kegiatan penggeseran dilakukan setiap 15 hari sekali pada saat benih berumur 4-5 bulan atau disesuaikan dengan kondisi perakaran. Adapun alur penggeseran bibit dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Alur Penggeseran bibit 4.3.3 Kegiatan pengangkutan bibit Kegiatan pengangkutan bibit pinus dilakukan menggunakan mobil bak terbuka atau disesuaikan dengan jumlah bibit yang akan diangkut. Agar bibit terhindar dari dehidrasi selama proses pengangkutan, bibit sebelum diangkut disiram terlebih dahulu sampai jenuh. Beda halnya dengan bibit jati, bibit pinus diangkut tanpa menggunakan box. Bibit disusun rapi dalam bak mobil dengan posisi ditidurkan. hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko bibit rusak akibat angin pada saat pengangkutan. Waktu pengangkutan bibit dilakukan pada pagi hari atau disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jarak pengiriman. Mengingat umur bibit yang belum siap tanam serta belum adanya kegiatan penanaman, sehingga kegiatan pengangkutan bibit pinus di PPG belum dapat dilakukan. 4.3.4 Hama dan penyakit di persemaian pinus Suatu spesies dikatakan hama dan penyakit apabila serangan yang dilakukannya melebihi ambang batas ekonomi. Hama dan penyakit yang sering menyerang persemaian pinus, yaitu semut, jamur (musuh alami penaburan), serta penyakit lodoh atau layu busuk (musuh alami penyapihan). Semut merupakan hama yang dapat merusak bibit pinus pada saat bibit masih berbentuk seperti petol korek api, baik di bedeng tabur maupun di bedeng sapih (awal penyapihan).

Semut akan memisahkan batang dengan kepala (yang berbentuk pentol) dengan cara memotong bagian leher bibit, sehingga bibit akan mati. Pengendalian hama semut ini menggunakan insektisida (decis) dengan dosis 1 tutup kemasan/tangki 15 liter. Adapun bagian bibit yang dipotong oleh semut dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Bagian bibt yang dipotong oleh semut Penyakit yang sering timbul di bedeng tabur yaitu jamur. Hal ini diakibatkan karena kondisi bedeng tabur yang terlalu lembab. Akibat serangan jamur ini dapat menyebabkan layu bahkan kematian pada bibit pinus. pengendalian penyakit jamur ini menggunakan pestisida (dithane) dengan dosis 2 gr/liter air. Adapun jamur yang menyerang bibit pinus dapat dilihat pada gambar x

Gambar x Jamur di bedeng tabur

Penyakit lodoh disebabkan oleh bakteri yang sering menyerang bibit di persemaian. Serangan bakteri ini dapat menyebabkan layunya bibit bahkan mati, sehingga perlu dilakukannya tindakan yang serius dalam menangani penyakit lodoh ini. bibit yang terkena penyakit lodoh harus segera dipisahkan atau dicabut agar tidak menular kebibit yang lainnya. Adapun bibit yang terkena penyakit lodoh dapat dilihat pada Gambar x

Gambar x Penyakit lodoh di bedeng sapih Permasalahan Permasalahan yang dihadapi dalam teknik dan manajemen persemaian pinus di RPH Garahan, BKPH Sempolan, Petak 5d yaitu: kurangnya SDM (hanya 1 orang mandor) serta pekerja memiliki tugas ganda, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan pekerjaan. Oleh karena itu, jumlah SDM yang bertugas perlu ditambah dan perlu dilakukannya pemplotan pekerja yang benar sesuai dengan bidang keahliannya sehingga pekerjaan di persemaian pinus dapat berjalan dengan lancar dan selesai lebih awal tanpa ada pekerjaan yang terbengkalai.