P. 1
Makalah Pengantar Farmasi

Makalah Pengantar Farmasi

|Views: 2,584|Likes:
Dipublikasikan oleh yunihikmawati

More info:

Published by: yunihikmawati on Apr 13, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2014

pdf

text

original

DISUSUN OLEH : 1. Gita Novitasari 2. Irma Abriantika 3. Risma Damba Rentiana 4. Rita Septiani 5. Yuni Hikmawati 6.

Nyoman Juliati 7. Durrotun Nashriyah 8. Budi

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pengantar Farmasi di Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini, khususnya kepada : 1. Ibu Rachmi Hutabarat, S.si. M.si. Apt. Selaku dosen mata kuliah pengantar farmasi I. 2. Ibu Afifah Mulyadi, Dra. Selaku dosen mata kuliah pengantar farmasi II. 3. Rekan-rekan kelompok kami. 4. Semua pihak yang tak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………………….. 2 DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………………………………… 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………………………………. 4 1.2 Tujuan……………………………………………………………………………………………………………………………………… 4

BAB II PEKERJAAN KEFARMASIAN 2.1 Definisi Pekerjaan Kefarmasian………………………………………………………………………………………………… 6 2.2 Ruang Lingkup Pekerjaan Kefarmasian…………………………………………………………………………………….. 6

BAB III PEKERJAAN KEFARMASIAN DI DINAS KESEHATAN 3.1 Definisi Dinas Kesehatan…………………………………………………………………………………………………………. 7 3.2 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan……………………………………………………………………………….. 7 3.3 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan………………………………………………………………………………………. 8 3.4 Visi dan Misi Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan……………………………………………………. 9 3.5 Tugas Pokok Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan…………………………………………………… 10 3.6 Program di Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan………………………………………………………. 10 3.7 Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian……………………………………………………………………………………….. 10 3.8 Studi Kasus……………………………………………………………………………………………………………………………… 15

KESIMPULAN……………………………………………………………………………………………………………………………. 20 PENUTUP…………………………………………………………………………………………………………………………………. 21

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kefarmasian serta makin tingginya kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, maka dituntut juga kemampuan dan kecakapan para petugas dalam rangka mengatasi permasalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat. Dengan demikian pada dasarnya kaitan tugas pekerjaan Farmasis dalam melangsungkan berbagai proses kefarmasian, bukannya sekedar membuat obat, melainkan juga menjamin serta meyakinkan bahwa produk kefarmasian yang diselenggarakan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyembuhan penyakit yang diderita pasien. Mengingat kewenangan keprofesian yang dimilikinya, maka dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan prosedur-prosedur kefarmasian demi dicapainya produk kerja yang memenuhi : syarat ilmu pengetahuan kefarmasian, sasaran jenis pekerjaan yang dilakukan serta hasil kerja akhir yang seragam, tanpa mengurangi pertimbangan keprofesian secara pribadi. (ISFI, Standar Kompetensi Farmasi Indonesia, 2004). WHO dalam rapatnya tahun 1997, mengenalkan lahirnya asuhan kefarmasian. Dimensi pekerjaan profesi farmasis tidak kehilangan bentuk, tetap menjadi seorang ahli dalam bidang obat. Pasien menikmati layanan professional dari seorang farmasis dalam bentuk penjelasan tentang obat, sehingga pasien memahami program obatnya. Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian menurut PP 51 tahun 2009 meliputi pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi, produksi sediaan farmasi, distribusi dan penyaluran sediaan farmasi, pelayanan sediaan farmasi. Selain melakukan pelayanan kefarmasian di Apotek maupun Rumah Sakit yang langsung berhubungan dengan pasien, peran farmasis juga sangat diperlukan oleh dinas kesehatan dalam rangka menjamin mutu, keamanan, dan kemanfaatan dari sediaan farmasi dan alat kesehatan sehingga masyarakat dapat terlindungi.

1.2 Tujuan

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 4

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diuraikan bahwa tujuan umum dan khusus dari penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan umum Memahami pekerjaan kefarmasian yang mencakup pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, vahan obat, dan obat tradisional. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui ruang lingkup pekerjaan kefarmasian dan perbekalan kesehatan di Dinas Kesehatan. b. Memahami pelaksanaan pekerjaan kefarmasian dan perbekalan kesehatan di Dinas Kesehatan. c. Memahami tugas pokok dan fungsi serta visi dan misi pekerjaan kefarmasian dan perbekalan kesehatan di Dinas Kesehatan.

BAB II PEKERJAAN KEFARMASIAN

2.1 Definisi Pekerjaan Kefarmasian Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. (Permenkes nomor 889/Menkes/Per/V/2011) Tenaga kefarmasian terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian yang meliputi Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Asisten Apoteker/Tenaga Menengah Farmasi dan Analis Farmasi. Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki Surat Tanda Registrasi. Surat Tanda Registrasi tersebut berupa : 1. 2. STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) bagi Apoteker STRTTK (Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian) bagi Tenaga Teknis Kefarmasian

STRA dan STRTTK berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan.

2.2 Ruang Lingkup Pekerjaan Kefarmasian Ruang lingkup pekerjaan kefarmasian meliputi ligkungan kegiatan, tanggung jawab, kewenangan dan hak. Seluruh ruang lingkup pekerjaan kefarmasian harus dilaksanakan dalam kerangka sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masyarakat. Bentuk pekerjaan kefarmasian tersebut dapat dilakukan di : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Rumah Sakit Apotek Industri Lembaga Riset Badan POM Menteri Kesehatan Dinas Kesehatan

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 6

BAB III PEKERJAAN KEFARMASIAN DI DINAS KESEHATAN

3.1 Definisi Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan merupakan suatu instansi pemerintah di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mendukung terlaksananya pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Dalam mewujudkan pembangunan kesehatan, maka Dinas Kesehatan dalam pelaksanaannya merumuskan berbagai kebijakan-kebijakan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan di masyarakat sehingga dapat berjalan efektif dan efisien. Selain itu dalam mewujudkannya, Dinas Kesehatan membentuk struktur organisasi sebagai acuan pelaksanaanya. Berdasarkan struktur organisasi yang telah dibentuk, Dinas Kesehatan dibagi menjadi beberapa bidang, salah satunya yaitu bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan (PSDK) yang terdiri dari seksi perencanaan pendayagunaan dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan, seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan, serta seksi pembiayaan kesehatan. Seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan adalah seksi yang mempunyai wewenang untuk menyusun perencanaan, merumuskan kebijakan teknis operasional, dan melaksanakan pembinaan teknis produksi, pengadaan, distribusi penggunaan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, kosmetika, alat kesehatan, makanan dan minuman. Sehubungan dengan wewenang tersebut dapat dipastikan bahwa ada banyak pekerjaan kefarmasian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 meliputi pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi, produksi sediaan farmasi, distribusi da penyaluran sediaan farmasi, pelayanan sediaan farmasi. Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan seorang Apoteker di Dinas Kesehatan tentunya tidak seperti yang terdapat di Apotek maupu Rumah Sakit, dimana Apoteker dapat berhubungan langsung dengan pasien dalam pelayanan obat baik resep maupun non resep, melainkan lebih ke system regulasi yang ada. Dengan demikian diperlukan suatu keputusan profesi oleh seorang Apoteker dalam rangka menjamin mutu, keamanan, dan kemanfaatan dari sediaan farmasi dan alat kesehatan sehingga masyarakat dapat terindungi.

3.2 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan

Secara umum, tugas pokok dari Dinas Kesehatan adalah melaksanakan urusan rumah tangga dalam bidang kesehatan yang menjadi tanggung jawab provinsi dan dekonsentrasi serta tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah. Dan yang akan dibahas disini hanyalah tugas pokok dan fungsi seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan.

3.3 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Adapun struktur organisasi Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut:

(Gambar 1.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Yang mengatur uraian tugas salah satu bidang yaitu Falkalkes yang merupakan salah satu seksi pada struktur organisasi Dinas Kesehatan. Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan dibagi menjadi 3 (tiga) seksi, yaitu 1. 2. 3. Program perencanaan pendayagunaan dan pengembagan sumber daya manusia kesehatan. Program pembiayaan kesehatan. Program kefarmasian dan perbekalan kesehatan.

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 8

Masing-masing program tersebut dipimpin oleh seorang yang bertanggung jawab kepada seksi/bidang.

3.3 Visi dan Misi Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan 1. Visi seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan Program Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan mempunyai visi pemerataan pelayanan kefarmasian dan perbekalan kesehatan dalam mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat. 2. Misi seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan Berdasarkan visi program Farkalkes, maka program kefarmasian dan perbekalan kesehatan didasarkan pada misi : a. Meningkatkan pemerataan pelayanan kefarmasian dan perbekalan kesehatan yang bermutu, aman dan bermanfaat. b. Meningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan farmasi klinik dalam kerangka pelayanan kesehatan komprehensif dan didukung oleh profesionalisme. c. Meningkatkan ketersediaan obat esensial dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan dasar. d. Melindungi masyarakat dari penggunaan obat, perbekalan kesehatan dan makanan yang tidak memenuhi standar mutu dan keamanan serta bahaya penyalahgunaan napza dan bahan berbahaya melalui pembinaan dan pengendalian terhadap sarana produksi dan distribusi serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat. e. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kesehatan dibidang kefarmasian, perbekalan kesehatan dan makanan-minuman.

3.4 Tugas pokok seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan Seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan mempunyai tugas pokok sebagai berikut : 1. Menyiapkan bahan perencanaan program pembinaan dan pengendalian obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan. 2. Menjabarkan kebijakan operasional dibidang obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika. 3. Menyiapkan bahan penyusunan pedoman, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis serta prosedur tetap program pembinaan dan pengendalian obat, obat tradisional, narkotika, psikitropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan.

4.

Menyiapkan rekomendasi izin prinsip usaha industri obat tradisional, industri farmasi, industri alat kesehatan, industri perbekalan kesehatan rumah tangga, pedagang besar farmasi, penyalur alat kesehatan, izin pedagang besar farmasi cabang, sub dan cabang penyalur alat kesehatan, izin prinsip dan izin usaha industri kecil obat tradisional.

5.

Menyiapkan bahan pembinaan, pengendalian dan pengawasan dibidang obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan.

6.

Melaksanakan fasilitas program pembinaan dan pengendalian obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan.

7.

Menyiapkan bahan koordinasi lintas progam, lintas sector, organisasi profesi, institusi pendidikan, asosiasi, lembaga swadaya masyarakat dan pihak swasta program pembinaan dan pengendalian obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan.

8.

Menyiapkan bahan evaluasi program pembinaan dan pengendalian obat, obat tradisional, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, kosmetika, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan informasi keracunan.

9.

Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang.

3.3

Program-program di Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi program-program : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Program Obat Publik dan Penggunaan Obat Rasional (OBLIK & POR) Program Farmasi Komunitas dan Klinik (FARKOMNIK) Program Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) Program Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (ALKES & PKRT) Program Obat Tradisional dan Kosmetika (OT-KOS) Program Makanan dan Minuman (MAKMIN) Ketenagaan & Pelayanan Masyarakat (Ketenagaan &YANMAS)

3.4

Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan meliputi: 1. Pembinaan, pengendalian sarana dan distribusi obat, alat kesehatan, makanan minuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional serta kosmetika.

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 10

2.

Perizinan dan akreditasi usaha/pengelolaan obat, alat kesehatan, makanan-minuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional serta kosmetika.

3.

Perencanaan, pengadaan dan pendistribusian obat pelayanan kesehatan dasar sangat esensial skala provinsi.

4. 5.

Pengelolaan obat buffer stock provinsi, obat bencana, dan obat program. Pemantauan ketersediaan obat di sarana instalasi farmasi kabupaten/kota dan pelayanan kesehatan dasar.

6.

Pemantauan dan evaluasi usaha obat, alat kesehatan, makanan-minuman, narkotika, psikotopika, zat adiktif lainnya, obat tradisional serta kosmetika yang terakreditasi. Melihat dari hal-hal yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan, maka dapat dipastikan bahwa pada

subdinas ini banyak melibatkan pengabdian profesi Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Di dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, pastilah ada keputusankeputusan professional yang diambil oleh seorang Apoteker didalamnya. Contoh keputusan-keputusan professional oleh seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian apabila dilihat dari pekerjaan kefarmasian point 1-6 adalah: 1. Memutuskan kebijakan apa yang harus ditetapkan untuk obat, alat kesehatan, makanan-minuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional dan kosmetika agar masyarakat trlindung dari bahaya penyalahgunaan obat, psikotropika dan zat adiktif serta bahan berbahaya lainnya, juga melindungi masyarakat dari penggunaan sediaan farmasi, makan dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu keamanan, menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan obat yang bermutu. Dapat dilihat dari sebuah contoh yaitu seperti yang telah kita ketahui bahwa Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin. Kemudian apabila ditemukan ada seorang Apotekr di sebuah Apotek yang mengadakan perbekalan farmasi dari jalur tidak resmi, maka akan ada tindakan dari Dinas Kesehatan. Tindakan tersebut dapat merupakan suatu bentuk professional judgement karena hal tersebut melanggar hokum yang berlaku. 2. Dalam hal perizinan dan akreditasi usaha/pemgelolaan obat, alat kesehatan, makanan-minuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional serta kosmetika, keputusan seorang professional adalah dapat memutuskan bahwa usaha/pegelolaan obat, alat kesehatan, makananminuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional serta kosmetika ini telah layak mendapat izin atau tidak sesuai dengan peryaratan yang ditetapkan. 3. Mengambil keputusan dalam perencanaan, pengadaan dan pendistribusian obat pelayanan kesehatan dasar esensial skala provinsi.

4.

Memutuskan apabila timbul sebuah kasus/permasalahan tentang obat, alat kesehatan, makananminuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, obat tradisional dan kosmetika yang ditemukan di masyarakat seiring berjalannya waktu, maka tindakan apa yang dapat dilakukan untuk menangani kasus/memecahkan masalah tersebut, apalagi bila sampai melanggar hukum. Maka dari itu perlunya pemantauan dan evaluasi setiap waktu. Adapun penjelasan mengenai aplikasi yang dilakukan dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian,

diantaranya sebagai berikut :

1.

Pharmaceutical Care Pharmaceutical Care adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab profesi Apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, Apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku untuk dapat melaksanakan interaksi langsung. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat dan mengetahui tujuannya sehingga sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik. Implementasi Pharmaceutical Care di tingkat pemerintah terutama Dinas Kesehatan tercermin dalam undang-undang yang berlaku, antara lain Kepmenkes No. 1027 Tahun 2004 mengenai Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan farmasi yang berdasarkan Pharmaceutical Care di Apotek dibutuhkan tenaga Apoteker yang professional, bahwa penyerahan obat dilakukan oleh Apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan. Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Selain itu aplikasi Pharmaceutical Care terkait obat lainnya yang terdapat di Dinas Kesehatan terlihat pada fungsi pembiaan dan pengendalian obat, alkes, makanan-minuman, narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya dan obat tradisional serta kosmetika. Wujud nyata yang dapat dilakukan adalah a. b. c. pemberian informasi tentang penggunaan obat secara rasional ke masyarakat pemberian informasi kepada masyarakattentang bahaya penyalahgunaan NAPZA Pemberian informasi kepada masyarakat tentang obat tradisional dan kosmetika yang memenuhi syarat serta untuk menjamin kebenaran pengelolaan obat d. Pihak Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Badan POM untuk melakukan sidak ke Apotek untuk mengecek dokumen pengadaan obat, misalnya kebenaran pengadaan dari sumber yang legal.

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 12

Semua hal tersebut tentunya dalam rangka menjamin mutu, keamanan, dan kemanfaatan dari sediaan farmasi dan alat kesehatan sehingga masyarakat dapat terlindungi.

2.

Practice Business Plan Dinas Kesehatan Propinsi dengan apotek tidak berhubungan secara langsung. Adapun bentuk hubungan tersebut antara lain : a. Pendirian apotek Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 sebagai perubahan atas permenkes No.

922/Menkes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian ijin apotek. Dalam pasal 4 disebutkan bahwa izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan yang melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, pencabutan izin apotek kepada Menteri Kesehatan tembusan Dinas Kesehatan Propinsi. Pengurusan Izin Apotek (SIA) diajukan oleh pemohon kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan diketahui oleh Dinas Kesehatan Propinsi. Untuk memperoleh SIA, pemohon harus memiliki SP/SK yang diajukan ke Departemen Kesehatan. Dalam hal ini Dinas kesehatan Propinsi sebagai pihak yang merekomendasikan. b. Pelaporan dan pengawasan narkotika dan psikotropika Permenkes no. 922 tahun 1993 pasal 30, Departemen Kesehatan juga melaksanakan pembinaan dan pengawasan apotek. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menerima record dan report penggunaan narkotik dan psikotropik di apotek melalui Sistem Pelaporan Narkotika Psikotropika (SIPNAP) serta mengawasi proses pemusnahannya, yang selanjutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi. Pelaporan pengunaan narkotika psikotropika oleh apotek ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang kemudian diteruskan kepada Kepala Balai POM dengan tembusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Dokumen pelaporan yang berada dalam kewenangan Departemen Kesehatan disimpan sesuai ketentuan sekurang-kurangnya 3 tahun. Dinas Kesehatan Propinsi bekerjasama dengan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Balai Besar POM juga melakukan pengawasan dan pembinaan tentang penyimpanan

dan pengamanan sediaan narkotika dan psikotropika. Di dalam Undang-Undang telah diatur bahwa narkotika dan psikotropika wajib disimpan secara khusus dan juga ada alur pelaporan untuk mencegah adanya penyalahgunaan pemakaian obat-obat tersebut.

3.

Public Health Kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan pada Subdin PSD yang terkait dengan public health adalah merencanakan dan merumuskan kebijaksanaan teknis operasional, menetapkan pedoman penyuluhan dan kampanye kesehatan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian promosi kesehatan, dan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat. Selain itu Dinas Kesehatan juga mengadakan promosi kesehatan yang melibatkan petugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai implementasi kebijakan Dinas Kesehatan Propinsi yang merupakan fasilitator bimbingan teknis dan koordinator, antara lain promosi penggunaan obat secara rasional kepada masyarakat melalui media-media, penyuluhan pengobatan secara teratur, seminar dan brosur.

4.

Research and Development a. Data record based R&D Data penyakit di setiap kabupaten/kota  profil penyakit  hal yang perlu dilakukan untuk pengobatan dan pencegahan. b. People based R&D Survey gizi buruk balita di seluruh kabupaten/kota  angka prevalensi  hal yang perlu dilakukan untuk pengobatan dan pencegahan.

5.

Continuous Professionalism Development Continuous Professionalism Development merupakan upaya belajar secara berkelanjutan untuk mengembangkan professionalisme diri. Sebagai seorang apoteker apabila berkesempatan untuk melaksanakan praktek profesi di lembaga pemerintahan khususnya Dinas Kesehatan, maka peningkatan Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan Page 14

kemauan untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan terhadap perundangan dan peraturan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang kesehatan harus terus dilakukan. Hal ini dikarenakan lembaga pemerintahan adalah institusi yang senantiasa berhubungan dengan regulasi. Saya juga harus lebih banyak mencari tambahan informasi tentang kesehatan sehingga bisa selalu up-date dalam perkembangan kesehatan yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat dan menghasilkan out come yang lebih optimal serta meningkatkan yang sudah ada. Selain itu sikap tanggap terhadap berbagai masalah yang ada di masyarakat khususnya yang berhubungan dengan praktek kefarmasian harus senantiasa dikembangkan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kedudukan seorang apoteker di mata dunia kesehatan, sehingga peran profesi apoteker tidak lagi dipandang sebelah mata.

3.5 Studi Kasus Program Obat Publik dan Penggunaan Obat Rasional (OBLIK & POR) 1. Kasus 1 Anton adalah seorang apoteker yang menjabat sebagai kepala instansi farmasi kabupaten X. Dalam suatu kegiatan monitoring terpadu ke salah satu puskesmas ditemukan adanya pemakaian injeksi vitamin B kompleks sebanyak 2000 ampul selama 1 tahun. Data jumlah pasien dalam 1 tahun sebanyak 1000 orang, jumlah pasien malnutrisi sebanyak 100 orang. a. Apa yang dapat disimpulkan oleh Anton tentang data yang ditemukan tersebut ? b. Apa yang harus diperhatikan dalam pemakaian atau pemberian injeksi yang benar? c. Obat jenis apa lagi selain injeksi yang perlu dimonitor sebagai indikator penggunaan obat yang rasional ? d. Langkah apa yang harus dilakukan oleh anton untuk mewujudkan pelaksanaan penggunaan obat yang rasional di kabupaten x? Penyelesaian Kasus 1: a. Yang dapat disimpulkan tentang data adanya pemakaian injeksi vitamin B kompleks sebanyak 2000 ampul selama 1 tahun dengan jumlah pasien sebanyak 1000 orang dan 100 orang mengalami malnutrisi dalam 1 tahun yaitu adanya pemakaian injeksi vitamin B

kompleks yang tidak rasional, hal ini dikarenakan injeksi vitamin B kompleks hanya digunakan pada keadaan orang yang malnutrisi (lemah, tidak punya daya, tidak ada kekuatan sehingga sulit untuk absorbsi lewat usus melalui oral), sehingga dari 1000 orang pasien yang tidak mederita malnutrisi tidak harus diberikan injeksi vitamin B kompleks. Hanya dalam keadaan yang membutuhkan injeksi vitamin B kompleks saja baru dapat diberikan, dan jangan menuruti permintaan pasien yang mempunyai asumsi jika belum disuntik maka tidak bisa sembuh. b. Yang harus diperhatikan dalam pemakaian atau pemberian injeksi yang benar adalah harus diberikan berdasarkan alasan yang kuat, misalnya pada pasien yang tidak kooperatif dengan obat-obatan secara oral (menimbulkan mual dan muntah), pada pasien yang tidak sadar, atau efek local pada pembedahan gigi dan anestesi harus diberikan suntikan.
c.

Jenis obat selain injeksi yang perlu dimonitor sebagai indikator penggunaan obat yang rasional, yaitu:
   obat penurun panas / antipiretik antibiotik suplemen / multivitamin

d. Langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan pelaksanaan penggunaan obat yang rasional di kabupaten x adalah:
  

Review kembali penggunaan obat yang ada di puskesmas Beri penyuluhan-penyuluhan kepada petugas farmasi Beri informasi kepada dokter tentang standar pengobatan di pelayanan kesehatan tingkat dasar dan lanjutan (penerapan penggunaan DOEN dalam setiap upaya pelayanan kesehatan)

Penerapan pelayanan kefarmasian yang baik (pharmaceutical care), perubahan dari product oriented ke patient oriented

Pemberdayaan masyarakat melalui KIE

2.

Kasus 2

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 16

Puji sebagai Kepala Instalasi Farmasi Kabupaten Y yang bertanggungjawab dalam upaya penyediaan obat terutama untuk obat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan jaringan di wilayahnya. Langkah – langkah apa yang harus dilakukan oleh Puji, untuk menjamin ketersediaan obat untuk pelayanan kesehatan dasar di wilayahnya sehingga tidak memungkinkan terjadi kekosongan obat, baik dalam keadaan normal ataupun dalam keadaan KLB atau bencana di wilayahnya? Penyelesaian Kasus 2: Langkah – langkah untuk menjamin ketersediaan obat untuk pelayanan kesehatan dasar:
a. Perencanaan dan pengadaan obat:     Mengumpulkan data penduduk (jumlah bayi, balita, bumil dan lansia) Mengumpulkan data pola penyakit (prevalensi penyakit yang sering muncul dan membahayakan) Mengumpulkan data penduduk yang berobat ke puskesmas Perkiraan bencana alam dan KLB berdasarkan data-data yang ada sebelumnya, misalnya keracunan, wabah (seperti cacar, herpes, diare), banjir b. Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat adalah:  Tahap pemilihan obat : Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang memberikan efek terapi jauh lebih baik dibanding efek samping yang akan ditimbulkan. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin dengan cara menghindari duplikasi dan kesamaan jenis.  Jika ada obat baru harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi yang lebih baik. Hindari penggunaan obat kombinasi, kecuali jika efeknya lebih baik Apabila jenis obat banyak maka kita memilih berdasarkan drug of choice dari penyakit yang prevalensinya tinggi. Tahap perhitungan kebutuhan obat melalui pendekatan : metode konsumsi : didasarkan atas analisa data konsumsi sebelumnya (paling umum digunakan), penggunaan tahun ini sebagai acuan tahun depan tetapi harus ada buffer stok dan waktu tunggu untuk pemesanan. Untuk KLB sesuaikan kondisi & anggaran yang tersedia. metode morbiditas : didasarkan atas pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan.

Harus dipertimbangkan juga jumlah penduduk yang dilayani, jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit, standar/ pedoman pengobatan, menghitung perkiraan kebutuhan obat, disesuaikan degan alokasi dana.
c. Langkah-Langkah Pengelolaan Obat:

(Gambar 1.2 Langkah-langkah pengelolaan obat)  Perencanaan menetapkan jumlah dan jenis obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar Tahapan :     Tahap pemilihan Tahap kompilasi pemilihan obat Tahap perhitungan kebutuhan obat

Penyimpanan Suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 18

Distribusi rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan pengiriman obat-obatan yang bermutu, terjamin keabsahan dari gudang obat secara teratur untuk memenuhi kebutuhan unitunit pelayanan kesehatan

LPLPO LPLPO disampaikan oleh puskesmas/UPK ke instalasi farmasi kabupaten/kota LPLPO dibuat rangkap 3 : Asli untuk instalasi farmasi kabupaten/kota Tindasan 1 untuk arsip instansi penerima/puskesmas Tindasan 2 dikirim untuk dinas kesehatan kabupaten/kota

KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. (Permenkes nomor 889/Menkes/Per/V/2011) 2. Ruang Lingkup Pekerjaan Kefarmasian: a. b. c. d. e. 3. Rumah Sakit Apotek Industri Lembaga Riset Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan merupakan suatu instansi pemerintah di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mendukung terlaksananya pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu.

4.

Seksi kefarmasian dan perbekalan kesehatan adalah seksi yang mempunyai wewenang untuk menyusun perencanaan, merumuskan kebijakan teknis operasional, dan melaksanakan pembinaan teknis produksi, pengadaan, distribusi penggunaan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, kosmetika, alat kesehatan, makanan dan minuman.

5.

Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 meliputi pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi, produksi sediaan farmasi, distribusi da penyaluran sediaan farmasi, pelayanan sediaan farmasi.

6.

tugas pokok dari Dinas Kesehatan adalah melaksanakan urusan rumah tangga dalam bidang kesehatan yang menjadi tanggung jawab provinsi dan dekonsentrasi serta tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah.

7.

Aplikasi yang dilakukan dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian : a. Pharmaceutical Care b. Practice Business Plan c. Public Health d. Research and Development e. Continous Professionalism Development

Pekerjaan Kefarmasian di Dinas Kesehatan

Page 20

PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->