Anda di halaman 1dari 43

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN

A. Pengertian Sistem Urinaria Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

Sistem perkemihan atau biasa juga disebut Urinary System adalah suatu system kerjasama tubuh yang memiliki tujuan utama mempertahankan keseimbangan internal atau Homeostatis. Fungsi lainnya adalah untuk membuang produk-produk yang tidak dibutuhkan oleh tubuh dan bayak fungsi lainnya yang akan dijelaskan kemudian.

B. Susunan Sistem Perkemihan

Keterangan gambar : 1. Kemih sistem Manusia 2. Ginjal 3. Pelvis ginjal 4. Ureter 5. Kandung kemih 6. Uretra 7. Kelenjar adrenal 8. Renal artery and vein 9. Inferior vena cava 10. Abdominal aorta 11. Renal arteri dan vena 12. Hati 13. usus besar 14. Pelvis

1. Ginjal
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, di depan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar transversus abdominalis, kuadratus lumborum dan psoas mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Disebelah posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan dianterior dilindungi oleh bantaan usus yang tebal. Pada orang dewasa ginjal panjangnya 12-13 cm, lebarnya 6 cm dan beratnya antara 120-150 gram. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran tubuh. 95 % orang dewasa memiliki jarak antara katup ginjal antara 11-15 cm.

Perbedaan panjang dari kedua ginjal lebih dari 1,5 cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting karena kebanyakan penyakit ginjal

dimanifestasikan dengan perubahan struktur. Permukaan anterior dan posterior katup atas dan bawah serta pinggir lateral ginjal berbentuk konveks sedangkan pinggir medialnya berbentuk konkaf karena adanya hilus. Ada beberapa struktur yang masuk atau keluar dari ginjal melalui hilus antara lain arteri dan vena renalis, saraf dan pembuluh getah bening. Ginjal diliputi oleh suatu kapsula tribosa tipis mengkilat, yang beriktan longgar dengan jaringan dibawahnya dan dapat dilepaskan dengan mudah dari permukaan ginjal.

a. Bagian Bagian Ginjal Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).

1. Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler kapiler darah yang tersusun bergumpal gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal. 2. Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai

bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses. 3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).

b. Fungsi Ginjal: Ginjal berfungsi sebagai berikut : 1. Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh .Kelebihan air dalam tubuh akan dieksresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang di eksresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relative normal. 2. Mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan / pengeluaran yang abnormal ion ion akibat pemasukan garam yang berlebihan / penyakit perdarahan (diare , muntah) ginjal akan meningkatkan eksresi ion ion yangpenting (mis. Na , K , Cl , Ca dan fosfat) 3. Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan, campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam , pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein . Apabila banyak makan sayur sayuran , urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi antara 4 , 8 8,2 . Ginjal menyekreksi urine sesuai dengan perubahan pH darah. 4. Eksresi sisa hasil metabolisme (ureum , asam urat , kreatinin) zat zat toksik , obat obatan , hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida). 5. Fungsi hormonal dan metabolisme . Ginjal menyekresi hormone renin yang mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (system renin angiotensin aldesteron ) membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis ).

c. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal

Peredaran Darah Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior. Aorta abdominalis ginjal Arteria renalis Arteri arkuata Arteria interlobaris glomerulus simpai bowmen vena renalis vena kava inferior Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison. Persarafan ginjal : Ginjal mendapat persarafan dari fleksus renalis (vasomotor).

d. Suplai Darah - Arteri Renalis Percabangan Aorta Abdomen yang mensuplai masingmasing ginjal dan masuk ke Hilus melalui cabang Anterior dan Posterior. - Cabang Anterior dan Posterior Arteri Renalis membentuk Arteri-arteri Interiobaris yang mengalir diantara Piramida Ginjal. - Arteri Arkuarta Berasal dari Arteri Interlobaris pada area pertemuan antara Korteks dan Medula. - Arteri Interlobaris Merupakan percabangan arteri arkuarta di sudut kanan dan melewati Korteks. - Arteriol Aferen Berasal dari Arteri Interlobaris yang membentuk Glomerulus. - Kapiler Peritubular Yang mengelilingi Tubulus Proksimal dan Distal untuk memberi Nutrien pada Tubulus. - Kapiler Peritubuler mengalir kedalam Vena Korteks yang kemudian membentuk Vena Interlobaris.

e. Nefron Unit fungsional ginjal adalah nefron. Pada manusia setiap ginjal mengandung 1-1,5 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Dapat dibedakan dua jenis nefron:

1. Nefron kortikalis yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian luar dari korteks dengan lingkungan henle yang pendek dan tetap berada pada korteks atau mengadakan penetrasi hanya sampai ke zona luar dari medula. 2. Nefron juxtamedullaris yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian dalam dari korteks dekat dengan cortex-medulla dengan lengkung henle yang panjang dan turun jauh ke dalam zona dalam dari medula, sebelum berbalik dan kembali ke cortex.

Bagian-bagian nefron: a. Glomerolus Suatu jaringan kapiler berbentuk bola yang berasal dari arteriol afferent yang kemudian bersatu menuju arteriol efferent, Berfungsi sebagai tempat filtrasi sebagian air dan zat yang terlarut dari darah yang melewatinya. b. Kapsula Bowman Bagian dari tubulus yang melingkupi glomerolus untuk mengumpulkan cairan yang difiltrasi oleh kapiler glomerolus. c. Tubulus, terbagi menjadi 3 yaitu: 1.Tubulus proksimal Tubulus proksimal berfungsi mengadakan reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubuli dan mensekresikan bahan-bahan ke dalam cairan tubuli.

2.Lengkung Henle Lengkung henle membentuk lengkungan tajam berbentuk U. Terdiri dari pars descendens yaitu bagian yang menurun terbenam dari korteks ke medula, dan pars ascendens yaitu bagian yang naik kembali ke korteks. Bagian bawah dari lengkung henle mempunyai dinding yang sangat tipis sehingga disebut segmen tipis, sedangkan bagian atas yang lebih tebal disebut segmen tebal. Lengkung henle berfungsi reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubulus dan sekresi bahan-bahan ke dalam cairan tubulus. Selain itu, berperan penting dalam mekanisme konsentrasi dan dilusi urin. 3.Tubulus distal Berfungsi dalam reabsorbsi dan sekresi zat-zat tertentu. d. Duktus pengumpul (duktus kolektifus) Satu duktus pengumpul mungkin menerima cairan dari delapan nefron yang berlainan. Setiap duktus pengumpul terbenam ke dalam medula untuk mengosongkan cairan isinya (urin) ke dalam pelvis ginjal.

Ada 3 hormon utama yang diproduksi oleh ginjal, yaitu : 1. Renin yaitu hormon yang terkait dengan tekanan darah. 2. Erythropoetin yaitu hormon yang membantu pembuatan sel darah merah. Penderita gagal ginjal biasanya kekurangan sel darah merah (anemia) yang menyebabkan keletihan serta dapat merusak hati, sehingga penderita biasanya membutuhkan injeksi erythropoetin. 3. Calcitriol yaitu hormon yang membantu tubuh menyerap kalsium pada makanan. Tanpa bantuan hormon tersebut, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang yang mana untuk jangka panjang hal tersebut dapat menyebabkan penyakit tulang.

2. Ureter
Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal & bermuara pada vesica urinaria. Panjangnya 25 30 cm. Persarafan ureter oleh plexus hypogastricus inferior T11L2 melalui neuron simpatis.

Terdiri dari dua bagian : - pars abdominalis - pars pelvina Tiga tempat penyempitan pada ureter : - uretero- pelvic junction - tempat penyilangan ureter dengan vassa iliaca sama dengan flexura marginalis - muara ureter ke dalam vesica urinaria Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari : a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah otot polos c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.

Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi

pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. Ureter pada laki laki dan perempuan Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh leksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinarai pada sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urineria, dinding atas dan dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dan vesika urinaria.

Ureter pada wanita terdapat di belakang fossa ovarika dan berjalan ke bagian medial ddan ke dapan bagian lateral serviks uteri bagian atas , vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter didampingi oleh arteri iterina sepanjang 2,5 cm dan sellanjutnya arteri ini menyilang ureter dan mmenuju ke atas di antara lapisan ligamentum. Ureter mempuunyai 2 cm dari sisi. Pembuluh darah ureter: a. Arteri renalis b. Arteri spermatika interna c. Arteri hipogastrika d. Arteri vesikalis inferior Persarafan Ureter Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus inferior, fleksus spermatikus, dan pleksus pelvis sepertiga dari nervus vagus rantai eferens dan nervus vagus rantai eferens dari nervus torakali ke-11 dan ke-12, nervus lumbalis ke-1,dan nervuus vagus mempunyai rantai eferens untuk ureter .

3. Vesica Urinaria
Disebut juga bladder/ kandung kemih. Vesica urinaria merupakan kantung berongga yang dapat diregangkan dasn volumenya dapat disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di dindingnya. Secara berkala urin dikososngkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter. Organ ini

mempunyai fungsi sebagai reservoir urine (200 - 400 cc). Dindingnya mempunyai lapisan otot yang kuat. Letaknya di belakang os pubis. Bentuk bila penuh seperti telur ( ovoid ). Apabila kosong seperti limas. Apex ( puncak ) vesica urinaria terletak di belakang symphysis pubis.

Bagian Vesica Urinaria : Apex Dihubungkan ke cranial oleh urachus (sisa kantong allantois ) sampai ke umbilicus membentuk ligamentum vesico umbilicale mediale. Bagian ini tertutup peritoneum dan berbatasan dengan ileum & colon sigmoideum Corpus Fundus Vesica urinaria dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior yaitu: Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L1-2. Serabut-serabut preganglioner parasimpatis N. S2,3,4 melalui N. splancnicus & plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria. Disini terjadi sinapsis dengan serabut-serabut post ganglioner. Serabut-serabut sensoris visceral afferent: N. splancnicus menuju SSP Serabut-serabut afferen mengikuti serabut simpatis pada plexus hypogastricus menuju medulla spinalis L1-2.

Fungsi vesica urinaria: (1) Sebagai tempat penyimpanan urine, dan (2) mendorong urine keluar dari tubuh.

4. Urethra Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal, ureter, vesica urinaria.

Uretra adalah saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok kelok melalui tengah tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki laki terdiri dari : 1. Uretra Prostaria 2. Uretra membranosa 3. Uretra kavernosa Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.

C. Persarafan Kandung Kemih Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus, yang berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis, terutama berhunbungan dengan medulla spinalis segmen S2 dan S3. Berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf motoik. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. Tanda tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama bertanggung jawab untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan kandung kemih. Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat para simpatis. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang terletak dalam dinding kandung kemih, saraf postganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor.

Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi kandumg kemih. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus kandung kemih, yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Selain itu kandung kemih juga menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus, terutama hubungan dengan segmen L2 medula spinalis. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensai rasa penuh dan pada beberapa keadaan rasa nyeri.

D. Transpor urin dari ginjal melalui ureter dan masuk ke dalam kandungan kemih Urin yang keluar dari kandungan kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentes; tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih.

Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan aktivitas pacemakernya, yang kemudian

mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter dangan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersafari oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada pleksus intramular dan serat-saraf yang meluas diseluruh panjang ureter. Seperti hanya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi perislaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis. Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa sentimeter menembus kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih. Setiap gelombang peristaltic yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus kandung kemih membuka dan memberi kesempatan kandung urin mengalir ke dalam kandung kemih. Panjang ureter yang menembus kandung kemih kurang dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong kembali ke dalam ureter ini disebut refluks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan jika parah dapat meningkatkan tekanan kaliks renalis dan struktur struktur dan di medula renalis, mengakibatkan kerusakan daerah ini.

E. Pengisian kandung kemih dan tonus dinding kandung kemih : Sistometrogram Perubahan tekanan intravesikular sewaktu kandung kemih terisi dengan urin.pada saat tidak ada urin di dalam kandung kemih ,tekanan intravesikuler,sekitar 0,tetapi setela terisi urin sebanyak 30 sampai 50 mililiter,tekanan meningkat menjadi 5sampai 10 sentimeter air.tambahan urin sebanyak 200 sampai 300 mililiter hanya sedikit menambah peningkatan tekanan,nilai tekanan yang konstan ini di sebabkan oleh tonus intrinsic pada dinding kandung kemih sendii.bila urin yang terkumpul di dalam kandung kemih lebih banyak dari 300 sampai 400 mililiter,akan menyebabkan peningkatan tekanan secara cepat. Punak tekanan dapat meningkat hanya beberapa sentimeter air,atau mungkin meningkat hingga lebih dari 100 sentimeter air.puncak tekanan ini disebut gelombang mikturisi

F. Proses Miksi (Rangsangan Berkemih) Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis. Jadi,reflex mikturisi merupakan sebuah sikus yang lengkap yang terdiri dari: 1. Kenaikan tekanan secara cepat dan progresif 2. Periode tekanan menetap 3. Kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal.

G. Perangsangan atau penghambatan berkemih oleh otak. Pusat pusat ini antara lain: 1. Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak, terutama terletak di ponds, dan 2. beberapa pusat yang terletak korteks serebral yang terutama bekerja penghambat tetapi dapat menjadi perangsang. Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat yang lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai pengendali akhir dari berkenmih sebangai berikut:

1. Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan refleks berkemih kecuali jika peristiwa berkemih dikehendaki. 2. apusat yang lebih tinggi dapat mecegah berkemih, bahkan jika refleks berkemih timbul, dengan membuat kontraksi tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapatkan waktu yang baik untuk berkemih. 3. Jika tiba waktu berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat berkemih sacral untuk membantu untuk mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi. Berkemih di bawah keinginan biasanya tercetus dengan cara berikut: Pertama, seseorang secara sadar mengkontraksikan otot otot abdomennya, yang

meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan mengakibatkan urin ekstra memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior di bawah tekanan, sehingga meregangkan dindingnya.

H. Urine (Air Kemih) Mikturisi ( berkemih ) merupakan refleks yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat persarafan yang lebih tinggi dari manusia. Gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menambah tekanan di dalam rongga dan berbagai organ yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tetapi berbeda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye, pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6. 1. Sifat sifat air kemih - Jumlah eksresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya. - Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh. - Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat obatan dan sebagainya. - Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak. - Baerat jenis 1.015 1.020. - Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam) 2. Komposisi air kemih Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga

beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat. Komposisi air kemih: - Air kemih terdiri dari kira kira 95 % air - Zat zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin - Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat - Pigmen (bilirubin, urobilin) - Toksin - Hormon 3. Mekanisme Pembentukan Urine Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali. 4. Tahap tahap Pembentukan Urine a. Proses filtrasi Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginja.

b. Proses reabsorpsi Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis. c. Augmentasi (Pengumpulan) Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.

I.

Ciri-Ciri Urin Normal 1. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. 2. Warnanya bening oranye tanpa ada endapan. 3. Baunya tajam 4. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata

BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI (BPH)


A. Pengertian Hiperplasia Prostat Benigna (BPH) adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun (Brunner & Suddarth, 1999). BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 2000).

Dahulu disebut juga sebagai hipertrofi prostat jinak (Benign Prostat Hipertropy = BPH), istilah hipertrofi karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke periper dan menjadi simpai bedah (Mansjoer, Arief, 2000).

B. Anatomi dan fisiologi a. Anatomi Prostat Merupakan kelenjar yang berada dibawah vesika urinaria melekat pada dinding bawah vesika urinaria disekitar uretra bagian atas. Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari, berat prostat pada orang dewasa normal kira-kira 20 gram, yang letaknya retroperitonial, melingkari leher kandung kemih dan uretral dan terdiri dari kelenjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos.

Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30 50 kelenjar, yang terbagi atas lima lobus, yaitu lobus posterior, medius, anterior dan dua lobus

lateral, tetapi selama perkembangan selanjutnya ketiga lobus posterior bersatu dan disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus-lobus lain tampak homogen berwarna keabuabuan, dengan kista kecil-kecil berisi cairan seperti susu. Kista-kista ini ialah kelenjar-kelenjar postat. b. Fisiologi Prostat ialah suatu alat tubuh yang bergantung pengaruh endokrin dan dapat dianggap imbangan (counterpart) dari pada payudara pada wanita. Fungsi kelenjar prostat, menambah cairan alkalis pada cairan seminalis, yang berguna melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra.

C. Etiologi Penyebab BPH belum jelas, namun terdapat faktor risiko umur dan hormon androgen. Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia 30 40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun keatas (Mansjoer Arief, 2000).

D. Patogenesis Menurut Mansjoer Arif (2000), ialah: a. Teori Dehidrostetosteron (DHT) Telah disepakati bahwa aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron dalam sel prostat menjadi faktor terjadinya penetrasi DHT kedalam inti sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA sehingga menyebabkan terjadinya sintesis protein. Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a-reduktase.

b. Teori Hormon Estrogen berperan pada inisiasi dan maintenance pada prostat manusia. c. Faktor interaksi stroma dan epitel Hal ini banyak dipengaruhi oleh growth factor. Basic Fibroblast Growth Factor (b-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada klien dengan pembesaran prostat jinak. b-FGF dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi. d. Teori kebangkitan kembali (reawakening) atau reinduksi dari kemampuan mesenkim sinus urogenital untuk berproliferasi dan membentuk jaringan prostat. E. Patofisiologi Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi lagi sehingga terjadi retensio urine, yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Adapun patofisiologi dari masingmasing gejala awal BPH adalah: a. Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal dan menetap dari BPH. b. Hesitancy terjadi karena destrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi uretra. c. Intermittency terjadi karena destrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urine yang banyak dalam buli-buli. d. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval pada tiap miksi lebih pendek. e. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama tidur. f. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan destrusor sehingga terjadi kontraksi involunter. g. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urine keluar sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan sfingter.

Skema Patofisiologi (Mansjoer, Arief (2000) Bertambahnya Usia

Reaksi enzim 5-a-reduktase Menuurun

Produksi testosteron aromatase

Reaksi enzim

DHT

Konversi testosteron menjadi estrogen

DHT reseptor kompleks dalam sitoplasma sel prostat

Tidak seimbang

Inti sel

Testosteron menurun

Estrogen meningkat

RNA

Sintesis protein Proliferasi sel

Pembesaran prostat

Perubahan pada Traktus urinarius akibat resistensi

Rangsangan pada vesika

Uretra

Tonus trigonum dan leher vesika

kekuatan kontraksi destrusor Kontraksi vesika meningkat walaupun belum penuh

Fase kompensasi (penebalan destrusor )

Dekompensasi otot destrusor Dengan gejala iritatif : 1) 2) Nokturia, Urgency, Disuria Frekuensi meningkat Nyeri akut Iritasi mukosa

Kekuatan kontraksi destrusor menurun

Dekompensasi otot destrusor menurun/gagal

Dengan gejala obstruksi : 1) Hesitency 2) Intermittency 3) Terminal dribbling 4) Pancaran lemah 5) Rasa belum puas sehabis miksi Urine sisa

Prostatektomi Post operasi

Terpasang kateter Tekanan dan iritasi kateter / balon Nyeri akut

irigasi bladder

luka operasi

konsumsi minum 2500-3000 ml/24 jam banyak terbentuk urine aliran urine lancar bekuan darah tidak terbentuk

Kurang 2500 ml/24 jam urine sedikit terbentuk aliran urine tidak lancar bekuan darah terbentuk Retensi urine

Distensi bladder

perdarahan

nyeri bladder

perembesan urine

F. Manifestasi klinis Biasanya pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai Lower Urineary Tract Symptoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif (Mansjoer Arief, 2000). a. Gejala iritatif : 1) Sering miksi (frekuensi). 2) Terbangun untuk miksi pada malam hari (nocturia). 3) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgency). 4) Nyeri pada saat miksi (disuria). b. Gejala obstruktif : 1) Pancaran melemah. 2) Rasa tidak lampias sehabis miksi. 3) Kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitency). 4) Harus mengedan (straining). 5) Miksi terputus-putus (intermittency).

6) Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urine dan inkontinensia urine karena overflow. Selain gejala diatas, gejala generalisata mungkin juga tampak termasuk keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik. Gejala dan tanda pada klien yang telah lanjut penyakitnya, misalnya gagal ginjal, yang dapat ditemukan uremia, peningkatan tekanan darah, denyut nadi, respirasi, foetor uremik, perikarditis, ujung kuku yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta neuropati perifer. Bila sudah terjadi hidronefrosis atau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di Costo Vertebrae Angularis (CVA). Buli-buli yang distensi dapat dideteksi dengan palpasi dan perkusi. Pemeriksaan penis dan uretra penting untuk mencari etiologi dan menyingkirkan diagnosis banding seperti sriktur, karsinoma, stenosis meatus atau fimosis. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urine setelah miksi spontan, sisa urine diukur dengan cara mengukur sisa urine yang masih dapat dikeluarkan dengan kateterisasi. Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan inter vensi pada hipertropi prostat (Mansjoer Arief, 2000 : 332).

G. Pemeriksaan penunjang Menurut Mansjoer Arief, (2000) pemeriksaan penunjang pada penyakit BPH, meliputi: a. Pemeriksaan laboratorium Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan infeksi. Bila terdapat hematuri harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu, infeksi saluran kemih. Elektrolit, kadar ureum, dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik. Pemeriksaan Prostat Spesifik Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan.

b. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan yang biasanya dilakukan adalah foto polos abdomen, pielografi intravena, USG dan sistoskopi, tujuannya adalah untuk memperkirakan volume BPH.

H. Diagnosis Banding Kelemahan otot destrusor dapat disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik), misalnya pada lesi medula spinalis, neuropati diabetes, bedah radikal yang mengorbankan persarafan didaerah pelvis, dan penggunaan obat-obatan (penenang, penghambat reseptor ganglion dan parasimpatik). Kekakuan leher buli-buli dapat disebabkan oleh proses fibrosis. Resistensi uretra dapat disebabkan oleh pembesaran prostat (jinak atau ganas), tumor dileher buli-buli, batu uretra dan striktur uretra.

I.

Penatalaksanaan Rencana pengobatan bergantung pada penyebab, keparahan obstruksi, dan kondisi klien (Mansjoer Arief, 2000). a. Observasi Dilakukan pada klien dengan keluhan ringan, nasehat yang diberikan ialah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia,

menghindari obat-obat dekongestan (parasimpatolitik), dan mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol. b. Terapi Medikamentosa 1) Penghambat adrenergik a Obat yang biasa dipakai ialah prazosin, yang berfungsi untuk mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas destrusor. 2) Penghambat 5-a-reduktase Obat yang dipakai adalah finasteride. Golongan obat ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang membesar akan mengecil. 3) Fitoterapi c. Terapi Bedah Waktu penanganan untuk tiap klien bervariasi tergantung berat ringannya gejala dan komplikasi. Indikasi absolut untuk terapi bedah, yaitu : 1) Retensio urine berulang. 2) Hematuri. 3) Tanda penurunan fungsi ginjal. 4) Infeksi saluran kemih berulang. 5) Tanda-tanda obstruksi berat, yaitu divertikel, hidroureter, dan hidronefrosis. 6) Ada batu saluran kemih. Engram, Barbara (1999) menyebutkan ada empat cara pembedahan prostatektomi, masing-masing dengan hasil yang berbeda, yaitu: 1). Transurethral Resection of the Prostate (TURP)

a). Jaringan abnormal diangkat melalui rektoskop yang dimasukan melalui uretra. b). Tidak dibutuhkan balutan setelah operasi. c). Dibutuhkan kateter foley setelah operasi. 2). Prostatektomi suprapubik a) Penyayatan perut bagian bawah dibuat melalui leher kandung kemih. b) Diperlukan verban luka drainase, kateter foley dan kateter suprapubik setelah operasi. 3). Prostatektomi retropubis a). Penyayatan dilakukan pada perut bagian bawah. b). Tidak ada penyayatan pada kandung kemih. c). Diperlukan balutan luka, foley kateter, dan drainase. 4). Prostatektomi perineal a). Penyayatan dilakukan diantara skrotum dan anus. b). Digunakan jika diperlukan prostatektomi radikal. c). Vasektomi dilakukan sebagai pencegahan epididimistis. d). Persiapan buang hajat diperlukan sebelum operasi (pembersihan perut, enema, diet rendah sisa dan antibiotik). e). Setelah operasi balutan perineal dan pengeringan luka (drainase) dilekatkan pada tempatnya kemudian dibutuhkan rendam duduk. d. Terapi Invasif Minimal 1) Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT). 2) Dilatasi Balon Transurethral (TUBD). 3) High-instensity Focused Ultrasound. 4) Ablasi jarum Transuretra. 5) Stent Prostat.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI (BPH)


Proses Keperawatan adalah proses yang terdiri dari lima tahap, yaitu pengkaji, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Doenges, 2000). A. Pengkajian Menurut Doenges, (2000), pengkajian pada klien dengan Hiperplasia Prostat Benigna, meliputi : a. Sirkulasi darah Tanda: Peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal). b. Eliminasi Gejala: Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine; tetesan, keragu-raguan pada berkemih awal, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap; dorongan dan frekuensi berkemih, nokturia, disuria, hematuri, duduk untuk berkemih, inpeksi saluran kemih berulang, riwayat batu (stasis urinaria), konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum). c. Makanan / cairan Gejala: Anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan. d. Nyeri / kenyamanan Gejala: Nyeri Suprapubis, panggul, atau punggung; tajam, kuat, nyeri punggung bawah. e. Keamanan Gejala: Demam. f. Seksualitas Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual, takut

inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi. g. Penyuluhan / pembelajaran Gejala: Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal, penggunaan antihipertensi atau antidepresan, antibiotik urinarius atau agen antibiotik, obat yang diual bebas untuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik. Pertimbangan pemulangan: Memerlukan bantuan dengan manajemen terapi, contoh cateter. h. Pemeriksaan Diagnostik 1) Urinalisa : Warna kuning, coklat gelap, atau terang (berdarah); penampilan keruh; pH 7 atau lebih besar (menunjukkan infeksi); bakteri. 2) Kultur urine : Dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella, Pseudomonas atau Escherchia coli.

3) Sitologi urine : Untuk mengesampingkan kanker kandung kemih. 4) BUN / Kreatinin : Meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi. 5) Asam fosfat serum / antigen khusus prostatik : Peningkatan karena pertumbuhan selular dan pengaruh hormonal pada kanker prostat (dapat mengidentifikasikan metastase tulang). 6) Sel Darah Putih (SDP) : Mungkin lebih besar dari 11.000 mm3, mengidentifikasikan infeksi bila klien tidak imunosupresi. 7) Penentuan kecepatan aliran Urine : Mengkaji derajat obstruksi kandung kemih. 8) IVP dengan film pasca berkemih : Menunjukkan perlambatan pengosongan kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih. 9) Sistouretrografi berkemih : Digunakan sebagai ganti IVP untuk

memvisualisasi kandung kemih dan uretra karena ini menggunakan bahan kontras lokal. 10) Sistogram : Mengukur tekanan dan volume dalam kandung kemih untuk mengidentifikasi disfungsi yang tak berhubungan dengan BPH. 11) Sistouretroskopi : Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan dan perubahan dinding kandung kemih (kontra indikasi pada adanya infeksi saluran kemih (ISK) akut sehubungan dengan risiko sepsis gram negatif). 12) Sistometri : Mengevaluasi fungsi otot destrusor dan tonusnya. 13) Ultrasound transrektal : Mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine; melokalisasi lessi yang tak berhubungan dengan BPH.

B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial (Doenges, 2000). Menurut Doenges (1999), diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan BPH, yaitu: a. Diagnosa keperawatan Pra operasi 1) Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan obstruksi mekanik;

pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor, ketidak mampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. 2) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih, kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi.

3) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi urine dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis, Endokrin: ketidak seimbangan elektrolit (disfungsi ginjal). 4) Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan;

kemungkinan prosedur bedah, malu / hilang martabat sehubungan dengan pemajanan genital sebelum, selama dan sesudah tindakkan; masalah tentang kemampuan seksualitas. 5) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, masalah tentang area sensitive. b. Diagnosa keperawatan Pasca operasi 1) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanikal : bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter/balon. 2) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vascular, kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukkan praoperatif. 3) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering, trauma jaringan, insisi bedah (contoh perineal). 4) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon kandung kemih (traksi). 5) Risiko disfungsi seksual sehubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital). 6) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

C. Perencanaan keperawatan Perencanaan merupakan petunjuk untuk penanganan, aktivitas dan tindakan yang membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan (Doenges, 2000). Menurut Doenges, (2000), rencana tindakan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia, adalah: a. Pra operasi DX I: Retensi urine berhubungan dengan tekanan uretral tinggi karena kelemahan detrusor (dekompensasi otot detrusor).

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengeluaran urine lancar. NOC: Inkontinensi urine Kriteria Hasil: 1. Bebas dari kebocoran urine diantara berkemih. 2. Kandung kemih kosong sempurna 3. Tidak ada sisa setelah buang air > 100-200cc. 4. Asupan cairan dalam rentang yang diharapkan. Ket Skala: 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan NIC: Katerisasi urine 1) Pantau asupan dalam haluaran urine. 2) Pantau derajat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi. 3) Instrusikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluran urine bila diperlukan.. 4) Rujuk pada spesialis kontinensia urine jika diperlukan. DX II: Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera ( iritasi kandung kemih, spame, sesuai dengan prosedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau hilang. a. NOC 1: Level Nyeri Kriteria Hasil: 1. Laporkan frekuensi nyeri 2. Kaji frekuensi nyeri 3. Lamanya nyeri berlangsung 4. Ekspresi wajah terhadap nyeri 5. Perubahan TTV b. NOC 2: Kontrol Nyeri Kriteria Hasil: 1. Mengenal faktor penyebab 2. Gunakan tindakan pencegahan 3. Gunakan tindakan non analgetik

4. Gunakan analgetik yang tepat Ket Skala: 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan NIC: Manajemen Nyeri 5) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab. 6) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 7) Berikan analgetik dengan tepat. 8) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 9) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide, imagery,terapi musik,distraksi) DX II: Resiko infeksi berhubungan dengan peningkaran paparan lingkungan terhadap patogen (pemasangan kateter). Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi. a. NOC 1: Deteksi Infeksi Kriteria Hasil: 1. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi 2. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan 3. Mampu mengidentifikasi potensial resiko b. NOC 2: Pengendalian Infeksi Kriteria Hasil: 1. Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi 2. Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan 3. Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi 4. Mengatur gaya hidup untuk mengurangi resiko Ket Skala: 1 = Selalu menunjukkan 2 = Sering menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Jarang menunjukkan

5 = Tidak pernah menunjukkan NIC: Teaching diases proses 1) Deskripsikan proses penyakit dengan tepat 2) Sediakan informasi tentang kondisi pasien 3) Diskusikan perawatan yang akan dilakukan 4) Gambaran tanda dan gejala penyakit 5) Instruksikan pasien untuk melaporkan kepada perawat untuk melaporkan tentang tanda dan gejala yang dirasakan. DX IV: Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga tidak mengalami kecemasan. NOC: Control Cemas Kriteria Hasil: 1. Monitor Intensitas kecemasan 2. Menurunkanstimulasi lingkungan ketika cemas 3. Menggunakan strategi koping efektif 4. Mencari informasi untuk menurunkan cemas 5. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas Ket Skala: 1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan NIC: Penurunan Kecemasan 1) Tenangkan Klien 2) Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan 3) Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis, dan tindakan. 4) Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa sakit. 5) Instruksikan pasien untuk menggunakan metode/ teknik relaksasi. DX V: Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi mengenai pengobatan. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien dan keluarga bertambah.

NOC: Pengetahuan: proses penyakit. Kriteria Hasil: 1. Mengenal tentang penyakit 2. Menjelaskan proses penyakit 3. Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan 4. Menjelaskan faktor resiko 5. Menjelaskan komplikasi dari penyakit 6. Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit Ket Skala: 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan NIC: a. NIC 1: Health Care Information exchange 1) Identifikasi pemberi pelayanan keperawatan yang lain 2) Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga dalam mengimplementasikan keperawatan setelah penjelasan 3) Jelaskan peran keluarga dalam perawatan yang berkesinambungan 4) Jelaskan program perawatan medik meliputi; diet, pengobatan, dan latihan. 5) Jelaskan rencana tindakan keperawatan sebelum mengimplementasikan b. NIC 2: Health Education 1) Jelaskan faktor internal dan eksternal yang dapat menambah atau mengurangi dalam perilaku kesehatan. 2) Jelaskan pengaruh kesehatan danperilaku gaya hidup

individu,keluarga/lingkungan. 3) Identifikasi lingkungan yang dibutuhkan dalam program perawatan. 4) Anjurkan pemberian dukungan dari keluarga dan keluarga untuk membuat perilaku kondusif.

b. Pascaoperasi DX I: Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi dengan diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

NOC: Fluid balance Kriteria Hasil: 1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia 2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal 3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik. 4. Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan. Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan NIC: Fluid manajement 1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat. 2. Monitor status hidrasi (kelemahan membran mukosa, nadi adekuat) 3. Monitor vital sign 4. Monitor cairan/makanan dan hitung intake kalon harian 5. Kolaborasikan pemberian cairan IV 6. Masukkan oral 7. Keluarga untuk membantu pasien maka DX II: Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi ( terputusnya kontinuitas jaringan akibat pembedahan). Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau hilang. a. NOC 1: Level Nyeri Kriteria Hasil: 1. Laporkan frekuensi nyeri 2. Kaji frekuensi nyeri 3. Lamanya nyeri berlangsung 4. Ekspresi wajah terhadap nyeri 5. Perubahan TTV b. NOC 2: Kontrol Nyeri Kriteria Hasil: 1. Mengenal faktor penyebab 2. Gunakan tindakan pencegahan 3. Gunakan tindakan non analgetik

4. Gunakan analgetik yang tepat Ket Skala: 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan NIC: Manajemen Nyeri 1) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab. 2) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 3) Berikan analgetik dengan tepat. 4) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 5) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide, imagery,terapi musik,distraksi) DX III: Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (nyeri). Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat meningkatkan mobilisasi pada tingkat yang paling tinggi NOC: Mobility level Kriteria Hasil: 1. Keseimbangan penampilan 2. Memposisikan tubuh 3. Gerakan otot 4. Gerakan sendi 5. Ambulansi jalan 6. Ambulansi kursi roda Ket Skala: 1 = Dibantu total 2 = Memerlukan bantuan orang lain dan alat 3 = Memerlukan orang lain 4 = Dapat melakukan sendiri dengan bantuan alat 5 = Mandiri

NIC: Exercise Therapy: Ambulation 1) Bantu pasien untuk menggunakan fasilitas alat bantu jalan dan cegah kecelakaan atau jatuh 2) Tempatkan tempat tidur pada posisi yang mudah dijangkau/diraih pasien. 3) Konsultasikan dengan fisioterapi tentang rencana ambulansi sesuai kebutuhan 4) Monitor pasien dalam menggunakan alatbantujalan yang lain 5) Instruksikan pasien/pemberi pelayanan ambulansi tentang teknik ambulansi. DX IV: Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan integritas kulit tidak terjadi. NOC: Integritas Jaringan: kulit dan membran mukosa Kriteria Hasil: 1. Sensasi normal 2. Elastisitas normal 3. Warna 4. Tekstur 5. Jaringan bebas lesi 6. Adanya pertumbuhan rambut dikulit 7. Kulit utuh Ket Skala: 1 = Kompromi luar biasa 2 = Kompromi baik 3 = Kompromi kadang-kadang 4 = Jarang kompromi 5 = Tidak pernah kompromi NIC: Skin Surveilance 1) Observation ekstremitas oedema, ulserasi, kelembaban 2) Monitor warna kulit 3) Monitor temperatur kulit 4) Inspeksi kulit dan membran mukosa 5) Inspeksi kondisi insisi bedah 6) Monitor kulit pada daerah kerusakan dan kemerahan 7) Monitor infeksi dan oedema

DX V: Resiko infeksi berhubungan dengan peningkaran paparan lingkungan terhadap patogen (adanya media masuknya kuman akibat prosedur invasif). Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi. NOC 1: Deteksi Infeksi Kriteria Hasil: 1. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi 2. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan 3. Mampu mengidentifikasi potensial resiko NOC 2: Pengendalian Infeksi Kriteria Hasil: 1. Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi 2. Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan 3. Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi 4. Mengatur gaya hidup untuk mengurangi resiko Ket Skala: 1 = Selalu menunjukkan 2 = Sering menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Jarang menunjukkan 5 = Tidak pernah menunjukkan NIC: Teaching diases proses 1) Deskripsikan proses penyakit dengan tepat 2) Sediakan informasi tentang kondisi pasien 3) Diskusikan perawatan yang akan dilakukan 4) Gambaran tanda dan gejala penyakit 5) Instruksikan pasien untuk melaporkan kepada perawat untuk melaporkan tentang tanda dan gejala yang dirasakan.

D. Implementasi (Pelaksanaan) Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien post operasi prostat mengacu pada rencana keperawatan yang sesuai dengan teori Doenges, M.E. (2000), meliputi: mempertahankan homeostasis/stabilitas hemodinamik, meningkatkan kenyamanan, mencegah komplikasi dan memberikan informasi tentang prosedur bedah/prognosis, pengobatan dan kebutuhan rehabilitasi. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melaksanakan tindakantindakan keperawatan yang telah direncanakan dan melakukan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan.

E. EVALUASI a. Pre operasi DX I KRITERIA HASIL NOC: Inkontinensi urine 1. Bebas dari kebocoran urine diantara berkemih. (4 ) 2. Kandung kemih kosong sempurna. (4) 3. Tidak ada sisa setelah buang air > 100-200cc. (4) 4. Asupan cairan dalam rentang yang diharapkan.(4 ) II NOC 1: Level Nyeri 1. Laporkan frekuensi nyeri (4) 2. Kaji frekuensi nyeri. (4) 3. Lamanya nyeri berlangsung (4) 4. Ekspresi wajah terhadap nyeri (4) 5. Perubahan TTV (4) NOC 2: Kontrol Nyeri 1. Mengenal faktor penyebab (4) 2. Gunakan tindakan pencegahan(4) 3. Gunakan tindakan non analgetik(4) 4. Gunakan analgetik yang tepat(4) III NOC 1: Deteksi Infeksi 1 = Tidak pernah menunjukkan KETERANGAN SKALA 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan

1. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan 2 = Jarang menunjukkan infeksi (4) 2. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan (4) 3. Mampu mengidentifikasi potensial resiko(4) NOC 2: Pengendalian Infeksi 1. Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi(4) 2. Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan 3. Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi. (4) 4. IV 3. Mengatur gaya hidup untuk mengurangi resiko (4) NOC: Control Cemas 1. Monitor Intensitas kecemasan (4) 2. Menurunkanstimulasi lingkungan ketika cemas (4) 3. Menggunakan strategi koping efektif (4) 4. Mencari informasi untuk menurunkan cemas (4) 5. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas (4) 1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan

NOC: Pengetahuan: proses penyakit. 1. Mengenal tentang penyakit (4) 2. Menjelaskan proses penyakit(4) 3. Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan 4 4. Menjelaskan faktor resiko(4) 5. Menjelaskan komplikasi dari penyakit(4) 6. Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit(4)

1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan

b. Pasca operasi DX I NOC : KRITERIA HASIL Fluid balance KETERANGAN SKALA 1 = Tidak pernah menunjukkan

1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia 4 2 = Jarang menunjukkan 2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas 3 = Kadang menunjukkan normal(4) 4 = Sering menunjukkan

3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor 5 = Selalu menunjukkan kulit baik. (4) 4. Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan. (4) II NOC 1: Level Nyeri 1. Laporkan frekuensi nyeri (4) 2. Kaji frekuensi nyeri(4) 3. Lamanya nyeri berlangsung(4) 4. Ekspresi wajah terhadap nyeri(4) 5. Perubahan TTV(4) NOC 2: Kontrol Nyeri 1. Mengenal faktor penyebab(4) 2. Gunakan tindakan pencegahan(4) 3. Gunakan tindakan non analgetik(4) 4. Gunakan analgetik yang tepat(4) III NOC: Mobility level 1. Keseimbangan penampilan (5) 2. Memposisikan tubuh(5) 3. Gerakan otot(5) 4. Gerakan sendi(5) 5. Ambulansi jalan(5) 1 = Dibantu total 2 = Memerlukan bantuan orang lain dan alat 3 = Memerlukan orang lain 4 = Dapat melakukan sendiri dengan bantuan alat 5 = Mandiri 1 = Tidak pernah menunjukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan

IV

NOC: Integritas Jaringan: kulit dan membran mukosa 1. Sensasi normal(4) 2. Elastisitas normal(4) 3. Warna(4) 4. Tekstur(4) 5. Jaringan bebas lesi(4) 6. Adanya pertumbuhan rambut dikulit(4) 7. Kulit utuh(4)

1 = Kompromi luar biasa 2 = Kompromi baik 3 = Kompromi kadang-kadang 4 = Jarang kompromi 5 = Tidak pernah kompromi

NOC 1: Deteksi Infeksi

1 = Tidak pernah menunjukkan

1. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan 2 = Jarang menunjukkan Infeksi(4) 2. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan(4) 3. Mampu mengidentifikasi potensial resiko(4) NOC 2: Pengendalian Infeksi 1. Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi(4) 2. Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan.4 3. Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi. (4) 4. 4. Mengatur gaya hidup untuk mengurangi resiko(4) 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukkan

DAFTAR PUSTAKA

Pearce , Evelyn C.2006. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Sander , Mochamad Aleq . 2004. Patologi Anatomi . Jakarta : Rajawali Pers. Sobotta.Atlas Anatomi Manusia Ed.1.Jakarta : EGC. Syaifuddin . 2003 . Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC. Wibowo , Daniel S . 2005 . Anatomi Tubuh Manusia . Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia. http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/ http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html Carpenito, L. J., 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Alih Bahasa Monica Ester, EGC, Jakarta. Corwin, E. J., 2000, Buku Saku Pathofisiologi, Editor Endah P., EGC, Jakarta. Doenges, M. E., Moorhous, M. F., & Geissler, A. C., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Alih Bahasa I Made Kariasa dan Ni Made Sumarwati, EGC, Jakarta. Engram, B, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. Jakarta: Morsby. Mansjoer, A., dkk, 2000, Kapita SelektaKedokteran, Edisi Jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta. McCloskey, Cjoane, dkk. 1995.NIC. Jakarta: Morsby. NANDA, 2005, Panduan Diagnosa Keperawatan. Nanda 2005-2006, Editor Budi Santoso, Prima Medika, Jakarta. Potter, P. A., & Perry, A. G., 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Prose.c, dan Praktik, EGC, Jakarta. Price, S. A., & Wilson, L. M., 2005, Pathofsiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Alih Bahasa: Editor Caroline Wijaya, Edisi 4, EGC, Jakarta. Purnomo, B. B., 2000, Dasar-dasar Urologi, CV Info Medika, Jakarta. Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W., 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta Smeltzer, S. C., & Bare, B. G., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, Editor Suzane, C. S., Brenda, G. B., Edisi 8, EGC, Jakarta