Anda di halaman 1dari 7

- TUGAS V KOTA & PERKEMBANGANNYA di INDONESIA Dosen : Prof. Gunawan Tjahjono, Ph.

PEMETAAN JARINGAN AGEN KORAN di JAKARTA SELATAN (Dengan Pendekatan Emik)

Syarifah F. Syaukat 7104102069

KAJIAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA 2005

Pada tugas ini, saya menyusun pemetaan jaringan agen koran di Jakarta Selatan dengan pendekatan emik. Untuk mendapatkan informasi tersebut saya dibantu oleh narasumber yang merupakan agen koran yang memiliki 3 lokasi cabang di wilayah Jakarta Selatan (satu lokasi di Manggarai dan dua lokasi di Depok). Dari narasumber, Saya mendapatkan data agen koran di Jakarta Selatan, menurut narasumber jaringan agen tersebut memiliki ketergantungan dan memelihara hubungan baik dan kepercayaan dari para penerbit media cetak yang merupakan supplier mereka dan mereka para agen saling membantu untuk memelihara hubungan baik dengan para penerbit, meskipun tak jarang ada agen yang merugikan agen yang lain, namun agen yang seperti itu tidak bertahan lama dalam usahanya. Selain itu juga diungkap narasumber bahwa dalam hubungan agen dan penerbit, semua agen mendapat perlakuan yang sama dari para penerbit atau tidak ada peraturan yang berlaku khusus pada setiap agen.

Jenis Pekerjaan : Agen Koran Narasumber Lokasi Usaha Tempat Lahir Tanggal Lahir : Laris Naibaho : Friendship Service, Jl. Barkah N0.49, Jakarta 12860 : Pangururan (Toba-Samosir) : 4 Oktober 1959

Menurut Laris Naibaho, awalnya dia berkecimpung dalam dunia distribusi media cetak adalah pada tahun 1975 dengan mengikuti jejak abangnya sebagai loper yang sudah memulai sejak 2 tahun sebelumnya. Laris mulanya dengan menjadi loper di jalan Pariaman - Pasar Rumput mulai tahun 1975-1979. Dulu pekerjaan loper ini tidak dianggap sebagai pekerjaan, namun dia buktikan bahwa pekerjaan ini mampu menghasilkan dan menjanjikan dengan menjadi agen koran pada 3 lokasi cabang dan mampu menyekolahkan anak hingga bangku kuliah. Laris menuturkan bahwa dirinya menjalankan usaha distribusi ini secara kebetulan dan bukan pilihannya, namun merupakan bagian dari takdir atau suratan tangan. Saat ini andai masih dapat memilih dia berkeinginan untuk menjadi pengacara atau wartawan, seperti pendidikan yang pernah ditempuhnya di fakultas hukum UKI dan di STP (Sekolah Tinggi Publisistik) untuk jurusan jurnalistik. Namun ia mengaku tidak dapat meninggalkan pekerjaan yang sekarang ini digelutinya karena sudah mendarah daging, ia mengungkapkan pepatah madilog yaitu materialisme, dinamisme dan logika yang menjadikannya tetap berada di usaha ini. Loper dan agen memiliki inti kegiatan yang sama yaitu berjualan koran (dan media cetak lainnya, seperti tabloid dan majalah), tutur Laris. Namun sebagai berikut menurutnya
2

pembeda loper dan agen koran. Loper ini sebetulnya hanya bekerja di agen yaitu mereka yang mengambil koran dari agen untuk didistribusi ke pelanggan, cara distribusi dapat sebagai pengecer (mengantar langsung ke pembeli dan tidak memiliki pelanggan), pengantar (mengantar langsung ke pembeli dan sudah memiliki pelanggan) dan pedagang (didatangi oleh pembeli). Sedangkan agen koran adalah pembeli utama dari penerbit (tidak hanya koran, tapi juga tabloid dan majalah, namun Laris mengakui bahwa umumnya masyarakat menyebutkan usahanya dengan agen koran saja meskipun yang ia tawarkan tidak hanya koran) yang kemudian mendistribusikan media cetak kepelanggan melalui loper. Membeli dari penerbit melalui sirkulasi dengan jenis pembayaran di muka (sebelum menerima media cetak agen harus terlebih dahulu membayarkan sejumlah uang kepada penerbit, jumlah uang yang dibayarkan agen ke penerbit dapat perhari, perminggu atau perbulan sesuai kesepakatan agen dengan penerbit), pembayaran berjalan (pembayaran dapat dilakukan sebagian atau seluruhnya oleh agen kepada penerbit pada saat media cetak sedang dipasarkan atau diantarkan ke pembeli, periode pembayaran dapat dilakukan perhari, perminggu atau perbulan sesuai kesepakatan agen dengan penerbit) dan pembayaran belakangan (pembayaran dapat dilakukan setelah penjualan media cetak berjalan, pembayaran dapat dilakukan perhari, perminggu atau perbulan sesuai dengan kesepakatan dengan pihak penerbit). Dan, Laris menegaskan bahwa usaha agen yang digelutinya hanya untuk para pelanggan (jenis loper pengantar, bukan pengecer ataupun pedagang). Hubungan antara agen sebagai pendistribusi dan penerbit saling membutuhkan, tutur Laris. Agen sangat tergantung dengan penerbit, karena setiap barang (media cetak) tidak bersifat substitusi (seperti Kompas yang tidak bisa diganti dengan Suara Pembaruan, atau sebaliknya) kecuali pelanggan meminta. Sifat substitusi ini karena karakter setiap media berbeda. Laris mengakui bahwa ketergantungannya terhadap penerbit memang tinggi, ia memelihara hubungan itu dengan baik, karena dari awal usaha sebagai agen koran ia tidak membutuhkan modal namun ia hanya mengantongi kepercayaan dari penerbit saja untuk mendapat kiriman koran. Pola hubungan ketergantungan ini pada posisi dikuasai dan menguasai atau Laris menegaskannya dengan posisi si lemah yang tidak berdaya dan si kuat yang berkuasa, ia mengumpamakan seandainya ia telat melakukan pembayaran ke penerbit, maka ia dapat saja digugat oleh penerbit yang menurutnya berada pada kondisi lebih kuat dari agennya (namun hal itu belum pernah terjadi padanya), namun jika agennya merasa dirugikan oleh perlakuan penerbit, maka ia tidak mampu menggugat penerbit, karena selain akan merusak hubungan yang berakibat buruk pada usahanya juga karena prioritas keuangan yang dimilikinya tidak untuk itu, sehingga berat rasanya mengeluarkan biaya untuk itu. Saat ini menurut Laris, penerbit tidak memberikan ketentuan khusus untuk menjadi agen, yang dibutuhkan untuk menjadi agen hanya kemauan dan trust dari penerbit, agen tidak perlu
3

memiliki

badan

hukum,

izin

usaha,

modal,

bahkan

penentuan

lokasi

di

suatu

kawasan/kotamadya. Para penerbit umumnya tidak mengatur atau membatasi jumlah agen dalam suatu kawasan atau kotamadya, dimanapun lokasi yang ditetapkan oleh agen untuk berusaha tidak menjadi hal yang penting bagi penerbit, yang penting bagi penerbit bahwa agen dapat menyerap koran dalam jumlah yang besar dengan aliran pembayaran yang lancar. Namun ada etika berusaha atau peraturan tidak tertulis di kalangan jaringan agen bahwa setiap usaha agen tidak boleh saling menggangu wilayah jangkauan pelayanan masing-masing. Usaha agennya juga menjangkau wilayah pelayanannya di sekitar Kotamadya Jakarta Selatan (Manggarai) dengan menerapkan kode etik agen, tutur Laris. Jaringan agen ini dalam kondisi tertentu, baik yang berhubungan dengan kegiatan usaha maupun tidak kerap bekerjasama dan saling membantu, seperti jika terdapat over supply pada suatu agen, maka agen lain yang mengalami kekurangan supply dapat memintanya kepada agen yang over supply, sehingga informasi antar jaringan agen ini juga sangat cepat beredar, tutur Laris lagi.

Kiri : lokasi usaha agen milik Laris Naibaho di Manggarai (Friendship Service), Tengah : Ruangan dalam agen friendship service yang beroperasi pada 4.00-7.00 WIB dan 15.00-19.00 WIB, Kanan : Publikasi antar agen koran

Laris yang saat ini menjabat sebagai direktur YLI (Yayasan Loper Indonesia) juga mengungkapkan bahwa di Jakarta ini telah ada sebanyak 217 agen koran. Sedangkan di wilayah usahanya berada (kotamadya Jakarta Selatan) terdapat 44 agen koran (pemetaan jaringan agen kotamadya Jakarta Selatan terlampir), Agen dengan jumlah loper terbesar dan terkecil di Jakarta terdapat di wilayahnya ini, yaitu agen di kawasan Tebet dengan jumlah loper terbanyak yaitu dengan 100 orang, sedangkan agen dengan jumlah loper yang terkecil terdapat di kawasan Duren Tiga dengan memiliki 6 orang loper. Namun, besarnya jumlah loper tidak mempengaruhi hubungan agen dengan penerbit, para penerbit umumnya tidak memberikan perlakuan khusus pada salah satu agen, namun semua peraturan usaha (pengambilan barang dan pembayaran) media cetak berlaku sama bagi semua agen. Pada data jaringan yang diungkap Laris tentang agen yang berada di Kotamadya Jakarta Selatan dapat dilihat pada pemetaan bahwa pada kawasan Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru terdapat lokasi agen yang sangat dekat. Namun, pada pemetaan jaringan hanya dicantumkan salah satu penerbit dari beberapa penerbit yang merupakan supplier dari setiap agen.
4

Untuk peraturan perizinan usaha, Laris menganggap hal ini adalah kelemahan dan perlu dilakukan pencerahan untuk mengarahkan pada para agen agar membentuk perusahaan dalam bentuk badan hukum, namun memang sulit karena meskipun hal itu penting namun bukan yang utama, karena dengan tidak memiliki badan hukum kegiatan agen masih bisa berjalan seperti biasa. Namun, untuk menjadi agen yang besar yang selain mendapatkan stok media cetak dari dalam negeri, untuk menjadi distributor utama pada jaringan media cetak luar negeri, sebuah agen harus berbadan hukum dan izin usaha. Laris juga menuturkan bahwa usaha ke arah tersebut membutuhkan modal keuangan yang tidak sedikit dan membutuhkan modal pinjaman dari bank, namun karena perizinan umumnya belum dimiliki oleh agen, maka pengembangan usaha agen kadang terhambat oleh hal tersebut. Masih menurut Laris bahwa peraturan umum mengenai kegiatan usaha yang ditetapkan oleh pemerintah belum dilaksanakan oleh para agen, namun menurutnya hal itu tidak dapat disalahkan kepada para agen karena jenis usaha distribusi media (agen dan loper) memang tidak dijelaskan secara spesifik dalam peraturan usaha. Saat ini pada 1 (satu) cabang agen yang ia miliki di kawasan Manggarai (Jakarta Selatan), ia memiliki 52 pekerja, dengan rincian 10 staf administrasi dan 42 loper. Laris menegaskan bahwa usaha agen yang digelutinya hanya untuk distribusi kepada para pelanggan (jenis loper pengantar, bukan pengecer ataupun pedagang), ia tidak mau menggeluti eceran karena sulit utk bergulat dalam ketidakpastian jumlah serapan media yang dikelola, sehingga menurutnya usahanya menjadi tidak tersistem dengan baik seperti layaknya sebuah perusahaan. Dengan jenis distribusi yang ia pilih ini, Laris sangat berkomitmen dengan kepuasan pelanggan, ia membuka layanan konsumen sejak jam 4 dini hari sampai jam 9 siang dan mulai kembali jam 3 sore sampai jam 7 malam (sesuai dengan waktu pengantaran koran/tabloid/majalah). Untuk komitmen ini Laris sangat memperhatikan para lopernya, karena ini merasa tulang punggung dari usahanya adalah loper, utamanya yaitu ketepatan waktu para loper dalam menyampaikan surat kabar kepada para pelanggannya. Jika loper terlambat beberapa menit saja menurutnya nilai surat kabar yang diantar akan berkurang, untuk itu dia mempunyai motto dalam memperlakukan lopernya dengan Loperku Manis Loperku Sayang. Loper yang bekerja pada Laris memiliki waktu bekerja 30 hari dalam satu bulan, dengan 6 hari cuti dalam 1 (satu) tahun. Hal-hal yang sifatnya mengangkat kesejahteraan loper menjadi alasan Laris untuk membentuk Yayasan Loper Indonesia (YLI) yang tujuan utamanya untuk membina dan mendidik para loper agar dapat hidup lebih baik, diantaranya dengan memberikan jaminan berupa asuransi kesehatan dan pendidikan. Keterlibatan masyarakat sekitar sebagai lopernya, saat ini menurut Laris hanya berkisar 20% sisanya dari luar wilayah tempat usahanya berdiri. Namun, awalnya usaha Laris ini memang didukung 100% oleh masyarakat sekitar (yang berada di kawasang Menteng Atas), karena
5

sebagian besar mereka tergusur, maka keterlibatan masyarakat sekitarpun berkurang. Saat ini pola keterlibatan loper pada agennya adalah berdasarkan informasi dari teman ke teman (seorang yang sudah menjadi loper mengajak temannya untuk menjadi loper). Umumnya sebelum bekerja menjadi loper, loper yang bekerja pada Laris bekerja sebagai buruh. Kisaran wilayah tempat tinggal lopernya adalah sekitar Kodya Jakarta Timur tepatnya wilayah Pondok Gede/Matraman dan Menteng-Jakarta Pusat). Laris mengungkapkan bahwa penghasilan yang didapat loper dalam satu bulan mencapai 500 ribu, sehingga dengan mimik yang berat ia sebutkan jika jumlah tersebut bukan nilai yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup di ibukota ini (namun menurut Laris memang banyak dari lopernya yang menggantungkan hidupnya dari mata pencarian ini), tetapi ada tersirat bangga dari raut muka Laris ketika menyebutkan bahwa ia telah mempekerjakan beberapa mahasiswa yang saat ini telah lulus dan memiliki posisi kerja sebagai manager. Akhirnya Laris tegaskan bahwa kontribusi terbesar dari sebuah agen koran adalah meningkatkan minat baca anak bangsa, dan menyampaikan informasi tentang perkembangan yang sedang berjalan di seluruh penjuru dunia. Saat ini loper yang bekerja pada Laris, harus melayani pelanggan yang tercatat berkisar 10.000 kk. Pelanggan ini didapatkan Laris baik berdasarkan informasi dari loper maupun dari angket yang disebarkannya. Di awal usahanya di distribusi media cetak, Laris hanya menjual koran dengan mengecer tanpa pelanggan. Masih menurut Laris, kondisi krisis moneter dan kenaikan BBM menyebabkan pelanggannya berkurang, karena menurutnya jika semua kebutuhan masyarakat meningkat, maka berlangganan koran yang pasti diputuskan pertama oleh masyarakat, masyarakat tidak memungkin memutuskan berlangganan listrik atau air, namun koran menjadi sasaran utama pemutusan pelanggan pada saat kesulitan ekonomi. Fluktuasi oplah yang dapat diserap agennya selain karena dua hal di atas, juga dapat dikarenakan redisain surat kabar, karena pembaca menganggap redisain sebagai pengibirian hak baca pelanggan (karena umumnya redisain surat kabar di Jakarta dilakukan dengan memperkecil ukuran material kertas, sehingga kolom akan lebih sedikit).

Lokasi penerbit

Arah dukungan penerbit dalam bentuk supply media cetak