Anda di halaman 1dari 48

Biografi

Roger lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illnois. Orang tuanya merupakan pasangan religius & taat, dan Carl menjadi tertarik pada kitab Injil. Mulanya Rogers berkeinginan menjadi petani dan kuliah di University of Wisconsin, jurusan pertanian. Akan tetapi, ia kehilangan minat dan lebih taat pada bidang keagamaan. Tahun 1924, bergabung dengan Seminari Union Theological di New York dengan intensi untuk menjadi pastor. Disinilah ia mengikuti beberapa kelas psikologi dan mulai terpengaruh dan ia mulai kehilangan minat akan sikap doktrinasi dari studi keagamaan. Akhirnya pada tahun 1926, ia meninggalkan seminari untuk menghdiri Teachers College dan mengambil jurusan psikologi klinis & pendidikan. Tahun1927, Rogers bekerja sebagai staf di Institue of Child Guidance sambil menyelesaikan gelar doktornya.

Menerima gelar Ph.D tahun 1931 dan bekerja dengan Rochester Society of the Prevention of Cruelty to children. Selama fase karier profesionalnya,Rogers sangat terpengaruh dengan gagasan Otto Rank, yang merupakan salah satu teman Freud yang dikeluarkan dari lingkaran Freud. Ia mendapat gagasan bahwa terapi adalah hubungan emosional yang tumbuh dan menghasilkan, yang dipupuk oleh kemampuan mendengar yang baik dari terapis dan penerimaan tidak bersyarat dari klien. . Tahun 1957 ia menerima posisi di University of Wisconsin, karena ingin memperluas penelitian & gagasan mengenai psikiatri.akan tetapi Ia merasa kecewa dan frustasi karena tidak dapat menyatukan antara psikiatri dan psikologi. Ia pun pindah ke California dan bergabung dengan WBSI. Dan Rogers pun meninggal setelah mengikuti operasi untuk pembedahan pinggulnya yang patah pada 4 Februari 1987.

Pendekatan yang dilakukan Rogers dikenal sebagai nondirective. Pendekatan tersebut memakai beragam istilah, antara lain pendekatan yang berpusat pada klien (client-centered), yang berpusat pada pribadi (person-centered) merujuk pada teori kepribadian Rogers, yang berpusat pada siswa (student centered), yang berpusat pada kelompok (group-centered), dan person-to-person.

1. Kecenderungan Formatif Rogers (1978, 1980) yakin bahwa terdapat kecenderungan dari setiap hal, baik organic maunpun non-organik, untuk berevolusi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks. 2. Kecenderungan Aktualisasi kecenderungan setiap manusia (selain hewan dan tanaman) untuk bergerak menuju keutuhan atau pemusatan dari potensi .
Kebutuhan pemeliharaan peningkatan diri

Aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran. Rogers (1959) mengajukan 2 subsistem yaitu konsep diri (self-concept) diri ideal (ideal self) Perbedaan yang besar antara diri ideal dan konsep diri mengindikasi inkongruensi dan merupakan kepribadian yang tidak sehat.

Kesadaran
Rogers (1959) mendefinisikan kesadaran sebagai representasi simbolik (walaupun tidak selalu dalam symbol verbal) dari sebagian pengalaman kita. Tingkat Kesadaran Rogers (1959) menemukan tiga tingkat kesadaran: 1. kejadian yang dialami di bawah batas kesadaran biasanya diabaikan atau disangkal. 2. beberapa pengalaman akan disimboloskan secara akurat dan dimasukkan dengan bebas ke dalam struktur diri. 3. Meliputi pengalaman yang diterima dalam bentuk yang terdistorsi.

Penyangkalan atas pengalaman positif


Kebanyakan orang menemukan kesulitan dalam menerima pujian yang tulus dan umpan balik positif bahkan saat mereka patut menerimanya.

Dalam semua kasus pujian dari orang lain juga mengimplikasikan hak dari seseorang untuk mengkritik atau menghujat sehingga pujian membawa ancaman yang tersirat

Menjadi seorang manusia


Kontak adalah pengalaman minimum yang penting untuk menjadi seorang manusia. penghargaan positif Saat orang mengembangkan kebutuhan untuk dicintai ,disukai atau di terima oleh orang lain. penghargaan diri yang positif pengalaman menghargai diri sendiri.

penghargaan bersyarat Penghargaan bersyarat timbul saat penghargaan positif dari significant other memiliki persyaratan, saat individu tersebut merasa dihargai dalam beberapa aspek dan tidak dihargai dalam aspek lainnya. inkongruensi Inkongruensi antara konsep diri dan pengalaman organismik adalah sumber dari gangguan psikologis.
Kerentanan Kecemasan dan Ancaman

Sikap defensif Dua perlindungan yang utama adalah distorsi penyangkalan. Disorganisani Disorganisasi dapat terjadi secara tiba-tiba, atau dapat terjadi secara bartahap selama rentang waktu yang panjang. Dalam kondisi disorganisasi, manusia kadang berperilaku secara konsisten dengan pengalaman organismiknya dan kadang sesuai konsep diri yang hancur.

Psikoterapi
Terapi yang berpusat pada klien (client-centered) terlihat sederhana dalam teori, namun cukup sulit dalam praktiknya. Seperti teori yang berpusat pada pribadi, pendekatan konseling yang berpusat pada klien dapat ditanyakan dalam bentuk jika-lau. Jika kondisi kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat, dan mendengarkan secara empati dari terapi tersedia dengan baik dalam hubungan klien-konselor, maka proses terapi dapat terjadi. Jika proses terapi terjadi, maka beberapa hasil dapat diprediksikan.

Terapi Rogerian dapat dilihat dalam hal : kondisi proses hasil.

Kondisi
Rogers mengasumsi bahwa agar suatu perkembangan terapik dapat terjadi,beberapa kondisi dianggap perlu dan memadai.
Klien yang cemas atau rentan harus bertemu dengan terapis yang kongruen, yang memiliki empati , dan penerimaan positif tidak bersyarat untuk klien tersebut. Klien harus dapat melihat karakteristik tersebut ali terapisnya. (empati dan penerimaan positive tidak bersyarat) Pertemuan klien dan terapis harus ada durasi tertentu.

Terapi yang berpusat pada klien menjadi unik dalam penekanannya atas kondisi kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat, dan mendengar secara empati dari konselor yang dianggap perlu dan memedai.

Kongruensi konselor
kongruensi terjadi apabila pengalaman organismik seseorang sejalan dengan kesadaran atas pengalaman tersebut, serta dengan kemampuan dan keinginan untuk secara terbuka meekspresikan perasaan-perasaan tersebut.

Konselor yang kongruen yaitu :


Tidak hanya seorang yang baik hati dan ramah, namun seorang manusia yang utuh , dengan perasaan bahagia, marah, frustasi, kebingungan dll Tidaklah pasif, menyendiri dan tentu saja tidak tak berarah. Tidaklah statis Tidak memakai topeng atau berusaha memalsukan tampilan luar yang menyenagkan, dan menghindari pura-pura ramah atau menunjukkan afeks saat mereka tidak merasakan emosi tersebut.

Penerimaan positif tidak bersyarat.


Saat kebutuhan untuk disukai, dihargai dan diterima oleh orang lain muncul tanpa adanya syarat atau kualifikasi

Terapis dengan penerimaan positif tidak bersyarat :


Akan menunjukkan kehangatan dan penerimaan yang non-posesif, (memiliki kepedulian pada orang laintanpa menutupi atau memiliki oaring tersebut) Bukan persona yang terlalu berlebihan. Dapat menerima dan menghargai klien mereka tanpa batasan atau keraguan dan tanpa melihat perilaku klien dengan tetap konstan dan konsisten. Tidak mengevaluasi klien ataupun menerima suatu perolaku ataupun menlak suatu perilaku.

Mendengarkan Secara Empati


Empati hadir saat terapis secara akurat dapat merasakan perasaan klien dan mengkomunikasikan perspsi ini,supaya mengetahui orang lain telah memasuki dunia perasaan tanpa prasangka,proyeksi,ataupun evaluasi.

Rogers(1980),empatiberarti untuk sementara hidup dalam kehidupan orang lain,bergerak di dalamnya dengan hati-hati tanpa menghakimi

Proses
Apabila kondisi-kondisi terapis yang kongruen,penerimaan positif yang tidak bersyarat,dan empati telah hadir,maka proses perubahan terpeutik akan berlangsung.Walaupun setiap orang yang mencari psikoterapi itu unik,Rogers (1959)yakin bahwa ada aturan-aturan tertentu yang menjadi karakterisasi dari proses terapi.

Tahapan dalam Perubahan Terpeutik Rogers (1961) membagi kontinum ini menjadi menjadi tujuh tahapan.
Tahap 1 Dicirikan dengan ketidamauan untuk mengkomunikasikan apa pun tentang diri. Tahap 2, Klien mulai menjadi sedikit tidak kaku. Tahap 3, Mereka lebih bebas dalam membicarakan diri mereka sendiri walaupun masih sebagai objek. Tahap 4, Mulai berbicara mengenai perasaan mendalam,tetapi bukan yang sedang dirasakan saat itu. Tahap 5, Mereka mulai melalui perubahan dan perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. Tahap 6, Mengalami perubahan dramatis dan pergerarakan menuju seorang manusia sepenuhnya Tahap 7, Klien telah menjadi manusia masa depan(People of tmorrow) yang berfungsi sepenuhnya.

Penjelasan Teoritis dari perubahan Teraupetik


Memberikan penjelasan sesuai dengan alur logika.Ketika seseorang sendiri merasa dihargai dan diterima tanpa syarat , mereka menyadari bahwa, mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat dicintai

Hasil
Apabila proses perubahan terapeutik mulai terjadi, maka dapat diharapkan beberapa hasil mulai dapat diobservasi.Salah satu hasil yang paling mendasar dari terapi yang berpusat pada klien adalah klien yang kongruen,tidak defensif, dan lebih terbuka, terhadap pengalaman.Hasil lain merupakan konsekuensi logisdari hasi dasar ini.

Tabel 11.1 teori perubahan Terapeutik Rogers

Jika kondisi-kondisi anda

Oleh karena itu, perubahan terapeutik berlangsung dan klien akan..


1.menjadi lebih kongruen 2.menjadi lebih terlalu defensif 3.menjadi lebih terbuka pada pengalaman 4.mempunyaipandangan yang lebih realistis akan dunia 5.mengembangkan penghargaan diri yang positif 6.mempersempit jarak antara diri ideal dengan diri sebenarnya 7.menjadi tidak terlalu rentan atas ancaman 8.menjadi tidak terlalu cemas 9.mengakui pengalaman pengalamannya; 10.menjadi lebih menerima orang lain

1.Klien yang rentan dan cemas 2.Kontak dengan konselor yang memiliki: 3.Kongruensi dalam hubungan 4.Penerimaan positif yang tidak bersyarat untuk klien 5.Pengertian secara empati untuk kerangka refrensi internal klien, dan 6,Klien dapat melihat kondisi 3,4,5ketiga kondisi yang penting dan memadai untuk pertumbuhan terapeutik

Pada tahun 1951, Rogers pertama kali mengemukakan karakteristik dari kepribadian yang telah dimodifikasi ia kemudian memperluas pada konsep manusia yang berfungsi sepenuhnya dalam sebuah jurnal yang tidak dipublikasikan. Pada tahun 1959, teorinya tentang kepribadian yang sehat dijelaskan dalam seri buku Koch, dan ia sering kembali ke topik ini selama awal tahun 1960an (Rogers,1961,1962,1963). Beberapa saat setelahnya, Rogers kemudian mendeskripsikan tentang dunia masa depan dan Manusia masa depan (Rogers,1980)

tipe orang yang sehat secara psikologis memiliki kemungkinan karakteristik yaitu, 1. Lebih mudah beradaptasi, sehingga mereka mempunyai kemungkinan untuk bertahan, inilah yang mendasari judul manusia masa depan. 2. Manusia-manusia masa depan akan lebih terbuka atas pengalaman-pengalaman mereka. 3. Kecenderungan untuk sepenuhnya hidup pada masa sekarang.Oleh karena itu orang-orang tersebut lebih terbuka terhadap pengalamannya , mereka akan mengalami kondisi perubahan yang konstan.

Cont
4. Manusia masa depan akan tetap percaya terhadap kemampuan diri mereka untuk merasakan hubungan yang romantis dengan oranglain. 5. Manusia masa depan lebih terintegrasi, lebih utuh, tanpa batasan-batasan buatan antara proses kognitif yang dilakukan secara sadar ataupun yang tidak. 6. Manusia masa depan mempunyai kepercayaan pada kemanusiaan .mereka tidak akan menyakiti orang lain hanya untuk kepentinagn pribadi, 7. Manusia masa depan terbuka dengan dengan semua pengalaman, mereka akan lebih menikmati kekayaan hidup daripada orang lain.

Filosofi ilmu Pengetahuan


Menurut Rogers (1968), ilmu pengetahuan bermula dan berakhir dengan pengalaman subjektif walaupun semua yang ada di antaranya harus objektif dan empiris. Rogers (1968) meyakini bahwa ilmuwan harus secara utuh terlibat dalam fenomena yang sedang mereka kaji. sebagai contoh, orang-orang yang melakukan penelitian tentang psikoterapi, pertama-tama harus mempunyai karier yang panjang sebagai terapis.

Ilmu pengetahuan dimulai saat seorang ilmuwan yang intuitif mulai untuk melihat suatu pola dalam sebuah fenomena, sampai dapat dirumuskan menjadi hipotesis yang dapat dikaji. Hipotesis ini adalah hasil dari ilmuwan yang memiliki pemikiran yang terbuka dan bukanlah hasil dari pikiran stereotip yang telah ada. Pada titik ini, metodologi mulai masuk dalam gambaran besar. Walaupun kreativitas dari ilmuwan dapat membuahkan metode penelitian yang inovatif, prosedur tersebut harus secara ketat dikontrol, empiris, dan objektif.

The Chicago Studies


Sejalan dengan filosofi ilmu pengetahuannya, Rogers tidak memperbolehkan metodologi untuk mendikte bentuk penelitiannya. Dalam penelitian atas hasil dari psikoterapi yang berpusat pada klien, pertama di Pusat Konseling di University of Chicago (Rogers & Dymond, 1954) dan kemudian dengan pasien skizofrenia di University of Wisconsin (Rogers, Gedlin, Kiesler & Truax, 1967),

Tujuan dari Chicago Studies adalah untuk meneliti proses dan hasil dari terapi yang berpusat pada klien. Terapis berada dalam tahapan "Journeyincin . Mereka, termasuk Rogers dan anggota fakultas lainnya walaupun mahasiswa, juga bekerja menjadi terapis.

Hipotesis
Penelitian pada University of Chicago Counseling Center dibangun dengan landasan hipotesis dasar yang berpusat pada klien, yang menyatakan bahwa semua orang memiliki di dalam diri mereka kapasitas baik bersifat aktif ataupun later.

Roges (1954) berhipotesis bahwa selama terapi, klien akan mengasimilasikan perasaan dan pengalaman yang pernah mereka tolak ke dalam kesadaran. la juga memprediksikan bahwa selama dan setelah terapi, perbedaan antara diri yang sebenarnya dan diri ideal dapat berkurang serta dapat diobservasi perilaku-perilaku, seperti lebih bersosialisasi, lebih menerima diri sendiri, dan Lebih menerima orang lain. Hipotesis ini kemudian menjadi landasan dari beberapa hipotesis lain yang spesifik, yang secara operasional telah dinyatakan dan diuji.

METODE
Hipotesis dari kajian mendikte bahwa perubahan subjektif kepribadian yang tidak terlalu menonjol akan diukur dengan cara efektif pemilihan instrument test menjadi sulit. Untuk dapat mengkaji perubahan dari sudut pandang eksternal, peneliti menggunakan: 1. Thematic Apperception Test (TAT), 2. The Self-Other Attitude Scale (S-O Scale) dan, 3. Willoughby Emotional Maturity Scale (E-M Scale). Instrument TAT, tes kepribadian objektif yang digunakan oleh Henry

Murray (1938), digunakan untuk melakukan tes pada hipotesis yang membutuhkan diagnosis klinis yang standar. *S-O scale, instrument yang dikumpulkan di Counseling Center dari beberapa sumber yang telah lebih dulu didapatkan, untuk mengukur : 1. tren antidemokrasi 2. etnosentrisme, E-M scale digunakan untuk membandingkan deskripsi dari prilaku dan kematangan emosi klien yang dilihat oleh dua teman dekat dan klien sendiri. Untuk mengukur perubahan dari sudut pandang klien. Peneliti terantung pada teknik Q sort yang dikembangkan oleh William Stephenson dari university of Chicago.

Desain dari Chicago studies


Kelompok
control pribadi
Priode tunggu selama 60 hari terapi Masa tindak lanjut selama 6-12 bulan

kelompok terapi
Kelompok yang tidak kontrol Kelompok yang menunggu Kelompok kontrol Kelompok yang tidak menunggu
terapi

Masa tindak lanjut selama 6-12 bulan

60 hari

6-12 bulan

6-12 bulan

Rangkuman hasil
Chicago studies menunjukkan bahwa orang0orang yang menerima terapi yang berpusat pada klien, pada umumnya menunjukkan pertumbuhan dan peningkatan. Akan tetapi, peningkatan ini jauh dari optimal, kelompok terapi memulai perawatan sebagai kelompok yang tidak lebih dekat dari pada kelompok control, mereka menunjukkan beberapa pertumbuhan selama terapi, dan mempertahankan peningkatan yang mereka raih selama priode setelah terapi , mereka tidak pernah meraih level kesehatan psikologis yang diperlihatkan oleh orang-orang normal yang ada di kelompok control.

Melihat hasil dari sudut pandang yang lain, dapat dilihat bahwa orang yang menerima terapi yang berpusat pada klien mungkin tidak akan pernah sampai pada tahap 7, seperti yang dihipotesiskan oleh Rogers dan telah didiskusikan sebelumnya. Harapan yang paling realities bagi klien adalah mencapai tahap 3 dan 4. Terapi yang berpusat pada klien memang efektif, tetapi tidak selalu menghasilkan manusia yang berfungsi sepenuhnya.

Teori Diskrepansi Diri


Pada tahun 1980-an, E Tory Higgins mengembangkan satu versi dari teori Rogers yang di sebut dengan teori diskrepansi diri, yang beragumen tidak hanya mengenai perbedaan antara diri sebenarnya dan diri ideal, melainkan juga untuk diri sebenarnya dan diri seharusnya (Higgins, 1987). Satu perbedaan antara Higgins dan Roger terletak pada teori Higgins yang lebih spesifik. Dengan mengajukan setidaknya dua jenis diskrepansi yang berbeda, Higgins memprediksikan bahwa aka nada dua bentuk hasil negative yang berbeda dari masing-masing diskrepansi. Sebagai contoh, diskrepansi atas diri sebenarnya-ideal biasanya berakibat pada emosi yang cenderung mematahkan semangat (misalnya depresi, keseihan, dan kekecewaan) sementara diskrepansi diri sebenarnya-seharusnya biasanya berakibat pada emosi yang meningkatkan kekacauan (misalnya kecemasan, ketakutan, terancam). Teori Higgins tetap saja mempunyai bentuk dan asumsi yang sama dengan teori Rogers; bahwa seseorang dengan kadar diskrepansidiri yang tinggi memiliki kemungkinan untuk memahami afek negatif dalam diri, seperti kecemasan dan depresi.

Ann Philips dan Paul Silvia memprediksikan bahwa emosi negative yang dialami dari diskrepansi diri sebenarnya-ideal dan sebenarnya-seharusnya akan sangat ekstrem ketika orang yang mengalaminya lebih memilih fokus-diri (self-focus) atau sadar diri (self aware). Kondisi fokus-diri tidak hanya membuat seseorang lebih sadar atas sifat-sifatnya yang self relevant, tetapi juga membuat seseorang lebih mungkin untuk mendeteksi diskrepansinya sehingga lebih tertarik untuk menjadi kongruen. Untuk menguji prediksi mereka, Philips dan Silvia membawa partisipan ke lab, setengah dari mereka dimunculkan kesadaran dirinya dengan membuat mereka menjawab pertanyaan sambil duduk di depan cermin. Sementara sebagian yang lainnya dibiarkan menjawab pertanyaan tanpa harud duduk di depan cermin. Seperti yang telah di prediksikan, fenomena mengalami emosi negatif sebagai hasil dari diskrepansi hanya terjadi pada pertisipan yang memiliki kesadaran-yang lebih tinggi (yaitu mereka yang mengisi kuesioner di depan cermin).

Motivasi dan Peralihan Tujuan


Menetapkan dan meraih tujuan adalah suatu cara manusia untuk mengatur kehidupannya supaya dapat memberikan hasil yang diinginkan dan menambah arti pada kegiatan sehari-hari. Menurut Rogers sumber dari kecemasan psikolgis adalah inkongruensi, atau saat diri ideal seseorang tidak cukup bertumpukan dengan konsep dirinya, dan ingkongruensi ini dapat dipresentasikan melalui tujuan-tujuan yang seseorang pilih untuk meraihnya.

proses penialian organismik (organismik valuing process-OVP), yaitu insting alami yang mengarahkan pada pencapaian-pencapaian yang paling bermakna Ken Sheldon dan koleganya (2003) telah melakukan eksplorasi keberadaan dari OVP pada mahasiswa dengan merancang penelitian yang meminta mahasiswa untuk menilai kepentingan dari beberapa tujuan secara berulang dalam periode waktu bebrapa minggu Setelah enam minggu, partisipan menilai kembali tujuan yang sama dan kemudian, sekali lagi pada waktu enam minngu setelahnya, apa yang ditemukan oleh peneliti, sejalan dengan prediksi bahwa manusia memiliki OVP, partisipan cenderung untuk menilai tujuan yang lebih memuaskan dengan kadar kepentingan yang meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan tujuan materialistis dengan kadar kepentingan yang menurun.

tujuan yang yang termotivasi secara intrinsic dan ekstrinsik. Tujuan instrinsik adalah tujuan yang dianggap seseorang memuaskan dan bermakna; tujuan ini adalah bagian dari diri ideal, dan orang akan terarah menuju OVP mereka. Pencapaian tujuan instrinsik ini tidak membutuhkan dukungan berupa uang, nilai, atau hadiah. Hanya dengan mencapai tujuan ini saja merupakan pengalaman yang menyenangkan sebagaimana adanya. Tujuan ekstrinsik, kebalikannya, adalah tujuan yang tidak dirasakan menyenagkan; tujuan ini dapat dipresentasikan dalam konsep diri seseorang, namun tidak selalu merupakan bagian dari diri idela. Tujuan ekstrinsik biasanya termotivasi oleh faktor-faktor, seperti uang dan gengsi

Tujuan ins dan eks

Kritik terhadap Rogers


1. Teori Rogerian telah mengahsilkan banyak penelitian dalam ranah psikoterapi dan pembelajaran ruang kelas (lihat Rogers, 1983), tidak terlalu banyak penelitian di luar kedua area tersebut sehingga mendapatkan penilaian sedang dalam kemampuannya untuk memancing munculnya aktivitas penelitian dalam ruang lingkup umum psikologi. 2. Teori Rogerian tinggi dalam kemampuan untuk di uji ulang. Rogers merupakan salah satu dari beberapa pakar teori yang memakai kerangka apabila-maka dalam teorinya, dan paradigama seperti itu memberikan kesempatan untuk konfirmasi atau sebaliknya.

3.

Apakah teori yang berpusat pada pribadi dapat mengorganisasikan penegtahuan ke dalam kerangka yang bermakna? Penelitian yang dimunculkan oleh teori Rogerian terbatas pada hubungan interpersonal, teori tersebut tetap dapat diperluas kepada ranah kepribadian manusia yang lebih luas. Kita menilai teori yang berpusat pada pribadi tinggi dalam kemampuannya untuk menjelaskan apa yang diketahui mengenal perilaku manusia sejauh ini. 4. Bagaimana teori yang berpusat pada pribadi berperan sebagai acuan untuk solusi masalah praktis? Untuk psikoterapis, jawabannya tidak serempak. Untuk membawa perubahan kepribadian, terapis harus memiliki kongruensi dan mampu mendemostrasikan pemahaman secara empati da penerimaan secara positif tidak bersyarat untuk kliennya. Rogers mengtakan bahwa ketiga kondisi ini wajib dan cukup mempengaruhi pertumbuhan dalam hubungan interpersonal, termasuk yang ada di luar terapi

5. Apakah teori yang berpusat pada pribadi memiliki konsistensi internal, dengan seperangkat definisi operasional? Teori ini cukup tinggi dalam aspek konsistensi dan defines operasionalnya yang di buat dengan hati-hati. Pembuat teori di masa depan dapat belajar suatu pelajaran berharga dari hasil pekerjaan yang dilakuakn Rogers dalam mengonstruksikan teori kepribadian. 6. Apakah teori Rogers termasuk hemat da terbebas dari konsep yang terlalu berat dan bahasa yang sulit? Teori ini cukup jelas dan ekonomis, tidak sepeerti kebanyakan teori, tetapi beberapa bahasa yang digunakan tergolong canggung dan tidak jelas. Kritik ini hanyalah sesuatu hal yang kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan kekuatan dan kehematan dari teori yang berpusat pada pribadi.

Carl Rogers sebagai salah satu tokoh psikologi penganut aliran humanistik mengemukakan teori yang berpusat pada pribadi/pendekatan yang berpusat pada klien (psikoterapi). Rogers mengajukan dua asumsi dasar tentang manusia bahwa manusia memiliki kecendrungan untuk berevolusi dari tingkat sederhana menjadi tingkat yang lebih kompleks dan kecendrungan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Rogers mengemukakan konsep tentang kesadaranrepresentasi simbolik dari sebagian pengalaman kitameskipun Rogers tidak menyangkal pentingnya proses ketidaksadaran yang akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Rogers mendeskripsikan bahwa proses yang diperlukan untuk menjadi seorang manusia adalah seseorang harus menjalin hubungan (kontak) dengan orang lain baik itu bersifat positif maupun negatif. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, tidak dipungkiri adanya penghargaan positif dari orang lain dan penghargaan positif dari diri sendiri.

Rogers juga mengembangkan konsep tentang hambatanhambatan yang ditemui dalam kesehatan psikologis, yaitu: adanya penghargaan bersyarat bahwa orang lain akan menghargai dirinya jika dapat mewujudkan harapan orang tersebut, ingkongruensi yaitu adanya ketimpangan antara diri sebenarnya dengan diri ideal yang akan menyebabkan gagguan psikologis seperti adanya gangguan kecemasan dan kerentanan, sikap defensif dapat menjadi hambatan kesehatan psikologis karena sikap defensif terhadap ancaman cenderung membuat orang menyangkal hal yang sebenarnya sehingga menyebabkan terjadinya distorsi terhadap suatu hal, disorganisasi juga cenderung menjadi permasalahan psikologis karena ketidakmampuan manusia mennghadapi pengalaman secara teratur.

Konsep yang tidak kalah penting yang dikemukan oleh Rogers adalah tentang psikoterapi yang dibagi menjadi tiga tahap yaitu; kondisi terapis, proses terapi, dan hasil terapi. Kondisi terapis akan sangat berpengaruh terhadap hasil terapi. Seorang terapis haruslah seseorang yang kongruen yaitu seorang manusia yang ramah, memiliki perasaan positif, tidak pasif, tidak serius, tidak memakai topeng, memiliki penerimaan positif yang tidak bersyarat, mendengarkan secara empati. Terkait dengan proses terapi, Rogers mengemukakan 7 tahapan dalam perubahan terapeutik seperti yang dikemukakan diatas. Hasil terapi yang telah dilaksanakan akan terlihat saat klien menjadi lebih kongruen,lebih terbuka,mempunyai pandangan yang lebih realistis, dan menjadi lebih menerima orang lain.