Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN NON-STERIL SEDIAAN SIRUP CHLORPHENIRAMINE MALEAT ( CTM ) SIPROMELT

Dosen I.G.N. Agung Dewantara S.Farm., M.Sc., Apt Asisten Made Surya Wedana J.S. Oleh : Lia Puspitasari Clarissa Puteri K A. A. Ayu Indrasuari Ni Putu Erikarnita Sari Made Gede Praditya Putra Indra Lesmana Ni Putu Asri Ramayati (0908505025) (0908505026) (0908505027) (0908505028) (0908505029) (0908505030) (0908505031)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

BAB I TINJAUAN PRAFORMULASI 1.1 Indikasi 1.1.1 Pengertian Sirup adalah larutan oral yang mengandung sakarosa, kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa, C12H22O11, tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0% (Depkes RI, 1979). 1.1.2 Golongan Obat CTM (Chlorpheniramini Maleas) merupakan golongan antagonis reseptor-H1 (H1blokers atau antihistaminika) generasi pertama, bekerja mengantagonis histamin dengan jalan memblok reseptor H1 di otot licin dari dinding pembuluh, bonchi, saluran cerna, kandung kemih, dan rahim. Antihistamin H1 merupakan obat yang dapat menanggulangi gejala hipersensitivitas secara efektif, terutama bersin dan gatal-gatal di mata (Tjay dan Rahardja, 2007). CTM (Chlorpheniramini Maleas) termasuk dalam golongan obat bebas terbatas, yaitu obat-obat yang dapat dibeli bebas tanpa resep dari dokter di apotek sesuai dengan batasan obat yang ditetapkan, memiliki tanda lingkaran biru pada kemasannya sesuai dengan SK Menteri Kesehatan RI No : 2380/A/SK/VI/83, tanggal 15 juni 1983. Pada sediaan obat ini juga harus dilengkapi dengan tanda peringatan P No.1 (awas obat keras, bacalah aturan memakainya), yang ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. 6355/Dir.Jend/SK/1969, tanggal 28 Oktober 1969. 1.1.3 Reaksi reaksi alergi : Obat antihistamine H1 sering digunakan sebagai obat pilihan pertama untuk mencegah atau mengobati gejala reaksi alergi. Pada rhinitis alergi dan urtikaria dengan histamin sebagai mediator utama, antagonis H1 adalah obat pilihan (drug of choice) dan sering sangat efektif. Namun pada asma bronchial yang melibatkan beberapa antagonis H 1 sangat tidak efektif (Katzung, 2001). Antihistamin H1 digunakan untuk pengobatan alergi seperti demam hay, dengan pemilihan obat yang bertujuan untuk meminimilkan efek sedasinya; di Amerika Serikat, obat yang paling banyak digunakan adalah golongan alkilamin. Bagaimanapun efek sedasi dan efektivitas terapi dari berbagai obat sangat bervariasi pada orang yang berbeda,

sehingga lazim untuk memberikan pada pasien contoh dari masing masing kelompok besar untuk menentukan obat yang paling efektif dengan efek samping yang paling kecil untuk pasien tersebut (Katzung, 2001). Terjadinya angioderma diduga dikarenakan rilis histamine tetapi dipertahankan oleh peptide kinin yang tidak dipengaruhi oleh obat antihistamine. Antihistamine H 1 digunakan untuk pengobatan alergi seperti hay fever, dengan pemilihan obat yang bertujuan untuk meminimalkan efek sedasinya. Efek sedasi dan efektivitas terapi dari berbagai obat sangat bervariasi pada orang yang berbeda, sehingga lazim untuk memberikan pasien contoh dari masing masing kelompok besar untuk menentukan obat yang paling efektif dengan efek samping yang paling kecil pada pasien tersebut (Katzung, 2001). Alergi (Lat. berlaku berlainan) yang disebut juga hipersensitivitas, pertama kali dicetuskan oleh Von Pirquet yang menggambarkan reaktivitas khusus dari tuan rumah (host) terhadap suatu unsur eksogen yang timbul pada kontak kedua kali atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini meliputi sejumlah peristiwa auto-imun serta alergi serta merupakan kepekaan berbeda terhadap suatu antigen eksogen atas dasar proses imunologi. Pada hakekatnya reaksi imun tersebut, walaupun bersifat merusak, berfungsi melindungi organisme terhadap zat-zat asing yang menyerang tubuh (Tjay dan Rahardja, 2007). Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulang kali ke dalam aliran darah seorang yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B akan membentuk antibodies dari tipe IgE di samping IgG dan IgM. IgE ini, yang juga disebut regain, mengikat diri pada membrane mast cells tanpa menimbulkan gejala (Tjay dan Rahardja, 2007). Apabila kemudian antigen (alergen) yang sama atau mirip rumus bangunnya memasuki darah lagi, maka IgE akan mengenali dan mengikat padanya. Hasilnya adalah suatu reaksi alergi akibat pecahnya membran mast-cell (degranulasi). Sejumlah zat perantara (mediator) dilepaskan yakni histamin bersama serotonin, bradikinin, dan asam arachidonat, yang kemudian diubah menjadi prostaglandin dan leukonutrien. Zat-zat yang menarik makrofag dan neutrofil ke dalam injeksi untuk memusnahkan penyerbu. Di samping itu juga mengakibatkan beberapa gejala, seperti bronchokontriksi, vasodilatasi dan pembekakan jaringan sebagai reaksi terhadap masuknya antigen. Medulator tersebut secara langsung atau melalui susunan saraf otonom menimbulkan berbagai macam penyakit alergi penting, seperti asma, rhinitis allergic (hay fever) dan eksim (Tjay dan Rahardja, 2007). Gejala reaksi alergi tergantung pada lokasi di mana reaksi allergen-antibodi berlangsung, misalnya di hidung (rhinitis allergic), di kulit (eksim, urticaria=biduran,

kaligata), mukosa mata (conjunctivitis) atau di bronchi (serangan asma). Gejala tersebut juga dapat timbul bersama waktu di berbagai tempat, misalnya pada asma, demam merang, (hay fever, pollinosis) dan eksim (Tjay dan Rahardja, 2007). 1.1.4 Motion Sickness dan Gangguan Vestibular Scopolamine dan antagonis H1 generasi pertama tertentu adalah obat paling efektif untuk mencegah motion sickness. Obat antihistamin dengan efektivitas yang paling besar pada penggunaan tersebut di muka adalah diphenhydramine dan promethazine. Piperazine (cyclizine dan meclinize) juga mempunyai aktivitas yang bermakna dalam mencegah terjadi motion sickness dengan sedikit efek sedatif pada sebagian besar pasien. Dosis yang digunakan adalah dosis yang digunakan untuk pengobatan alergi. Keduanya scopolamine dan antagonis H1 lebih efektif untuk mencegah motion sickness apabila dikombinasikan dengan ephedrine dan amphetamin (Katzung, 2001). Telah dinyatakan bahwa obat antihistamin yang efektif untuk mencegah terjadinya motion sickness ternyata berguna pada sindroma meniere, tetapi efektivitasnya terhadap sindroma tersebut tidak diterangkan dengan baik (Katzung, 2001). 1.2 Farmakokinetika 1. Absorbsi Chlorpeniramine maleat diabsorpsi baik melalui pemakaian oral, walaupun obat ini mengalami metabolisme substansial pada mukosa gastrointestinal sebelum diabsorpsi dan mengalami reaksi first pass metabolisme di hati. Data menunjukkan sebesar 25 45% dan 35 60% dosis tunggal peroral Chlorpeniramine maleat tablet dan sediaan cair berturut turut melewati sirkulasi sistemik sebagai obat tak berubah (parent drug). Bioavaibilitas sediaan lepas lambat dari obat ini dikurangi dengan membandingkan bioavaibilitas pada sediaan tablet dan cair Chlorpeniramine maleat (Mc Evoy, 2002). Chlorpeniramine maleat diabsorpsi relatif lambat dari saluaran pencernaan, konsentrasi puncak plasma diketahui sekitar 2,5 sampai 6 jam setelah dosis per oral (Sweetman, 2002). Pada pemakaian oral tablet dan sediaan cair Chlorpeniramin maleat, keberadaannya di plasma selama 30 60 menit dan waktu puncak plasmanya mencapai 2 6 jam. Pada pemakaian oral dengan dosis tunggal 4 mg pada tablet atau sediaan cair pada keadaan puasa, orang dewasa sehat, menunjukkan konsentrasi puncak plasmanya berturut turut yaitu 11 dan 5,9 mg/mL. Pada pemakaian oral

dengan dosis tunggal 0,12 mg/kg pada sediaan cair dalam keadaan puasa anak kecil yang menderita rhinitis alergi, menunjukkan konsentrasi puncak plasmanya terdapat pada rentang 8 sampai 18,5 mg/mL. Efek antihistaminnya menekan wheal and flare respon yang diinduksi oleh pemakaian histamine secara intrakutan, secara nyata dalam 6 jam setelah pemakaian dosis tunggal peroral dan bertahan selama 24 jam (McEvoy, 2002). 2. Distribusi Distribusi Chlorpeniramine maleat pada jaringan dan cairan tubuh manusia belum dapat dikarakterisasi secara lengkap. Pada pemakaian secara intravena pada kelinci, konsentrasi tertinggi obat ini dijumpai pada paru paru, jantung, ginjal, otak usus halus, dan limpa sedangkan konsentrasi terendah dijumpai pada usus besar, otot, lambung, kelenjar adrenal, lemak, hati dan mesentery (McEvoy, 2002). Pada manusia pemakaian secara intavena menunjukkan Chlorpeniramine maleat terdistribusi secara cepat dan luas. Keadaan steady state pada apperent volume distribusi pemakaian obat secara intravena berada pada rentang 2,5 3,2 L/kg pada orang dewasa dan 3,8 L/kg pada anak anak. Chlorpeniramine maleat terdistribusi pada saliva dan sejumlah kecil obat maupun metabolitnya terdistribusi ke empedu. Secara invitro, chlorpeniramine maleat kira kira terikat pada protein plasma sebesar 69 72% (McEvoy, 2002). 3. Eliminasi Pemakaian secara intravena chlorpeniramine maleat, konsentrasi plasma obatnya menunjukkan penundaan dalam dua fase, bagaimanapun salah satu menunjukkan bahwa obat dapat memperlihatkan tiga fase eliminasi dan permulaan fase distribusi yang cepat (McEvoy, 2002). Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal dan hati yang normal, waktu paruh eliminasi chlorpeniramine maleat yaitu 12 43 jam, meskipun penelitian sebelumnya telah menduga waktu paruhnya antara 2 4 jam, hasil ini kemungkinan diambil dari waktu sampling yang pendek dan metode pengujian yang berbeda. Pada anak anak dengan fungsi hati dan ginjal yang normal, waktu paruh eliminasinya antara 9,6 13,1 jam. Pada pasien dengan kerusakan ginjal kronis dengan hemodialisis, waktu paruh chlorpeniramine maleat antara 280 330 jam (McEvoy, 2002).

Chlorpeniramine maleat termetabolisme secara cepat dan luas dan mengalami metabolisme substansial pada mukosa gastro intestinal sebelum diabsorpsi dan mengalami first pass metabolisme di hati setelah pemakaian secara oral. Chlorpeniramine maleat mengalami dan N-dealkilasi menjadi dan bentuk terutama monodesmetilchlorpeniramine didesmetilchlorpeniramine

termetabolisme menjadi metabolit yang belum diketahui. Chlorpeniramine dan metabolit metabolitnya diekskresi secara lengkap melalui urin. Ekskresi melalui urin dari chlorpeniramine dan metabolit metabolitnya yang merupakan hasil dari Ndealkilasi bervariasi terhadap pH urin dan aliran urin. Penurunan substansial terjadi karena peningkatan pH urin dan penurunan aliran urin. Pemakaian dosis tunggal oral dan intravena pada orang sehat dengan fungsi ginjal dan hati yang normal menunjukkan 20% dari dosis terekskresi melalui urin dalam 24 jam dan 35% dalam 48 jam dan hanya 1% yang diekskresi melalui feses dalam 48 jam, 3 7% dari dosis diekskresi melalui urin dalam bentuk tidak berubah dalam waktu 48 jam, 2-4% sebagai monodesmetilchlorpeniramine, 1-2% sebagai didesmetilchlorpeniramine dan sisanya sebagai metabolit yang belum diketahui. Pada penelitian lain menunjukkan pada orang sehat dengan fungsi ginjal dan hati yang normal menunjukkan 20% dari dosis tunggal peroral diekskresikan melalui urin dalam bentuk tak berubah, 20% sebagai monodesmetilchlorpeniramine, dan 5% sebagai didesmetilchlorpeniramin (McEvoy, 2002).

1.3 Mekanisme Chlorpheniramine mengikat reseptor H1 dengan cara antagonis kompetitif reversible pada sel efektor di saluran gastrointestinal, pembuluh darah dan saluran pernapasan (Katzung, 2001). 1.4 Efek Samping Pada sistem pencernaan dapat menyebabkan mual, muntah, diare, anoreksia. Pada sistem pernapasan, obat ini dapat menekan sistem pernapasan dan mengentalkan sekresi bronkial.. Pada saluran kencing, menimbulkan penurunan sekresi urin. Pada ginjal dapat menyebabkan poliuria dan pada sistem sirkulasi sitemik dapat mengakibatkan

bradikardia (Katzung, 2001). Menyebabkan sedatif ringan yang disebabkan oleh depresi SSP dan daya anti kolinergis (Tjay dan Rahardja, 2007). 1.5 Kontra Indikasi a. Pada pasien dengan hipersensitif terhadap antihistamin. b. Pada pasien dengan glaukoma sudut sempit. c. Pada pasien dengan riwayat asma . d. Pada pasien dengan terapi obat golongan MAOIs. e. Pada neonatal dan ibu menyusui. 1.6 Peringatan Kehamilan dan Ibu Menyusui Merupakan kontraindikasi dan tidak digunakan sebelum trimester I, kontraindikasi pada saat menyusui. Geriatri Digunakan dengan perhatian karena menyebabkan peningkatan terjadinya efek samping karena penurunan fungsi organ terutama hati dan ginjal. Pasien dengan keadaan khusus Pada pasien dengan sirosis hati ataupun penyakit kerusakan hati lainnya, penderita asma, hipertensi dan penyakit jantung iskemik. (McEvoy, 2002) 1.7 Interaksi Obat Alkohol, CNS depressan, dan tricyclic antidepressant Menyebabkan terjadinya penekanan sistem saraf seperti mengantuk, pusing, penurunan koordinasi motorik. Obat obat golongan MAOIs Menyebabkan peningkatan efek antikolinergik dari Chlorpheniramine. (McEvoy, 2002) 1.8 Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya (Depkes RI, 1995). (McEvoy, 2002)

BAB II SIFAT FISIKOKIMIA BAHAN 2.1 Bahan Obat/ Bahan Aktif Chlorpheniramine Maleat Rumus kimia Struktur kimia : C16H19ClN2.C4H4O4 :

2-[p-kloro,-(2-dimetilamino-etil)-benzil]-piridina maleat Berat molekul Kandungan : 390,87 gram/mol. : Chlorpheniramini Maleat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5% C16H19ClN2.C4H4O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian Penyimpanan Kelarutan : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit. : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya (Depkes RI, 1995). : Mudah larut dalam air (1:4) ; larut dalam etanol (1:10); larut dalam kloroform (1:10) ; sukar larut dalam eter dan benzena. Stabilitas Terhadap cahaya Terhadap suhu : Tidak stabil terhadap cahaya : Chlorpheniramini maleas umumnya disimpan pada temperatur kurang dari 40oC, lebih baik lagi pada suhu 15-30oC. Terhadap pH : Didapar pada pH 2, 4, 6, dan 8 (McEvoy, 2002).

Inkompatibilitas

: Inkompatibilitas telah dilaporkan dengan kalsium klorida, kanamisin sulfat, noradrenaline (norephineprine) asam tartat, pentobarbital natrium dan meglumin antipioden (Reynolds, 1989).

Titik lebur

: 1300 C sampai 1350 C (Depkes RI, 1995).

Keasaman kebasaan pH larutan : 1,0% b/v 4,0 5,0 (Depkes RI, 1979). 2.2 Bahan Tambahan 1. Gliserin Pemerian Higroskopik Kelarutan : cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna; rasa manis; hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak). : netral terhadap lakmus. : dapat bercampur dengan air dan dengan ethanol; tidak larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap. Bobot jenis : tidak kurang dari 1,249 gram/mL (Depkes RI, 1995) 2. Sirupus Simplek Sukrosa adalah gula yang diperoleh dari Saccharum officinarum Linn. (Famili Gramineae), Beta vulgaris Linn. (Famili Chenopodiaceae) dan sumber-sumber lain. Pemerian : hablur putih atau tidak berwarna; masa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus. Kelarutan : sangat mudah larut dalm air; lebih mudah larut dalam alr mendidih; sukar larut dalam ethanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter. Titik lebur : 160 - 186C (Depkes RI, 1995) 3. Sorbitol

Pemerian Kelarutan

: serbuk, granul atau lempengan; higroskopis; warna putih; rasa manis (Depkes RI, 1995) : sangat mudah larut dalam air; sukar larut dalam ethanol, dalam metanol dan dalam asam asetat (Depkes RI, 1995).

Keasaman kebasaan pH larutan : 10% b/v 4,5 7,0 (Kibbe, 2000). Titik lebur : 110 - 112C untuk bentuk anhidrat; 97,7C untuk bentuk gamma polymorph (Kibbe, 2000). 4. Pemerian Kelarutan Sodium Benzoat : butiran atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau. Bersifat higroskopis. : Larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol (95%)P (Depkes 1995). Digunakan sebanyak 0,02-0,5 % dalam sediaan obat oral Penggunaan : Pengawet (Kibbe, 2000) 5. Pemerian Asam Sitrat : hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih; tidak berbau atau praktis tidak berbau; rasa sangat asam. Berbentuk hidrat mekar dalam udara kering (Depkes RI, 1995). Kelarutan : sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam ethanol; agak sukar larut dalam eter (Depkes RI, 1995) Keasaman kebasaan pH larutan : 1% b/v 2,2 (Kibbe, 2000). Titik lebur : 100C (Kibbe, 2000). 6. Pemerian Kegunaan Aquadest : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. : Pelarut. Stabilitas dan kondisi penyimpanan: Dalam wadah tetutup baik. RI,

(Depkes RI, 1979) BAB III BENTUK BAHAN, DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN 3.1 Bentuk Sediaan Bentuk sediaan : sirup 2 mg / 5 mL (@60ml = 120 ml) 3.2 Dosis Umur < 2 tahun 2-6 tahun 6-12 tahun > 12 tahun dan dewasa Orang tua Dosis oral 0,3 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 4-6 jam 1 mg tiap 4-6 jam (maksimum 6 mg sehari) 2 mg tiap 4-6 jam (maksimum 12 mg sehari) 4 mg tiap 4-6 jam (maksimum 24 mg sehari) 4 mg 1x atau 2x sehari (Reynolds, 1989) 3.3 Cara Pemberian Aturan pakai sirup CTM : 2 6 tahun 6 12 tahun Geriatri (lansia) : sendok teh 4-6 kali sehari : 1 sendok teh 4-6 kali sehari : 2 sendok teh 1-2 kali sehari (McEvoy, 2002)

> 12 tahun & dewasa : 2 sendok teh 4-6 kali sehari

BAB IV MACAM-MACAM FORMULASI 4.1 Macam-macam Formula (Baku/Standar) Formulasi Standar I Chlorpeniramini Maleat Glyserin Sirupus Simpleks Larutan Sorbitol Sodium Benzoat alkohol Pewarna dan perasa Air yang sudah masak 0,4 g 25 mL 83 mL 282 mL 1g 60,0 mL qs ad 1000 mL (Reynolds, 1989)

Formula Standar II Bill of materials Scale (mg/5 mL) 2.00 3000.00 4.50 1.50 1.00 2.40 2.00 Item 1 2 3 4 5 6 7 8 Material Name Chlorpheniramine maleate Sucrose Methyl paraben Propyl paraben Citric acid (monohydrate) Sodium citrate Banana green flavor Water, purified Quantity/L (g) 0.40 600.00 0.90 0.30 0.20 0.48 0.40 q.s. to 1 L (Niazi, 2004) Formula Standar III Sirup Antihistamin : Chlorpheniramine Maleate, USP Glycerin, USP Sirup, NF Sorbitol Solution, USP Sodium Benzoate, NF 0,4 g 25,0 mL 83,0 mL 282,0 mL 1,0 g

Alcohol, USP Pewarna dan Pemberi Rasa Purified Water, USP

60,0 mL q.s 1000,0 mL (Ansel, 2008)

4.2 Formula yang Akan Dibuat Formulasi yang digunakan : Chlorpeniramini Maleat Glyserin Asam sitrat Sirupus Simpleks Larutan Sorbitol Sodium Benzoat Pewarna Perasa Jeruk Aquadest 24 mg 1,5 mL 1% 5 mL 17 mL 60 mg qs ad 60 mL

4.3 Permasalahan Chlorpeniramini Maleat mempunyai rasa yang pahit dalam sediaan Penggunaan sirupus simpleks dapat menyebabkan caplocking pada sediaan Pada formulasi sirup CTM, digunakan air sebagai pelarut, sehingga kemungkinan besar sirup dapat ditumbuhi mikroba. CTM memiliki pH 4-5 dan mempunyai kestabilan pada larutan dengan pH 2, 4, 6, dan 8. 4.4. Penyelesaian Permasalahan Digunakan sorbitol dan perasa untuk menutupi rasa pahit dari CTM. Digunakan gliserin dan sorbitol sebagai anticaplocking. Ditambahkan sodium benzoat sebagai pengawet. Untuk menjaga kestabilan CTM, maka sediaan ditambahkan dapar asam sitrat sejumlah tertentu, yang akan mendapar sediaan pada pH 4 .

4.5 Perhitungan Formulasi dan Penimbangan 4.5.1 Perhitungan Formulasi Adapun perhitungan formulasi bahan serta tabel penimbangan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut. * Chlorpeniramine Maleat =
60mL 1000mL 400mg = 24mg

Untuk pembuatan 2 formulasi = 24 mg x 2 = 48 mg

* Glyserin

60mL 25mL = 1,5mL 1000mL

Untuk pembuatan 2 formulasi = 1,5 mL x 2 = 3,0 mL

* Sirupus Simpleks

60mL 83mL = 4,98mL = 5mL 1000mL

Untuk pembuatan 2 formulasi = 5 mL x 2 = 10 mL Pembuatan sirupus simpleks : Sukrosa = Air =


64 5 gram = 3,2 gram 100 36 5mL = 1,8mL 100

Untuk pembuatan 2 formulasi Sukrosa = 3,2 gr x 2 = 6,4 gr Air = 1,8 mL x 2 = 3,6 mL

* Larutan sorbitol =

60mL 282mL = 16,92mL = 17 mL 1000mL

Pembuatan larutan sorbitol :

Sorbitol = 4,8mg 17mg = 81,6mg Air ad 17 ml Untuk pembuatan 2 formulasi Sorbitol = 81,6 mg x 2 = 173,2 mg Air = ad 17 mL x 2 = ad 34 mg

* Sodium benzoat = 60mL 1gram = 60mg


1000mL

Untuk pembuatan 2 formulasi = 60 mg x 2 = 120 mg

* Asam sitrat Perhitungan asam sitrat sebagai dapar atau buffer Persamaaan Henderson-Haselbach Persamaan ini digunakan untuk mengetahui perbandingan asam dan garamnya, dimana rumus yang digunakan untuk buffer asam lemah dengan garamnya adalah: pH = pKa + pada praktikum kali ini, pH yang diinginkan adalah pH 4 dan asam sitrat memiliki pKa sebesar 6,40 sehingga perbandingannya menjadi: pH = pKa +

= 6,40 +

-2,40 =

Antilog -2,40

= antilog (

0,398 x 10-3 = 0,398 x 10-3 [a] = [g]

Sehingga perbandingan konsentrasi asam : garam = 0,398 x 10-3 : 1 Setelah diketahui perbandingan tersebut, dilakukan perhitungan untuk mencari volume dapar yang dibutuhkan dengan menggunakan Persamaan Koppel Spiro Van Styke Persamaan ini dituliskan sebagai berikut: Persamaan Koppel-Spiro-Van Slyke untuk Kapasitas Dapar: Ka = antilog (-pKa) = antilog (-6,4) = 3,98. 10 -7 H = antilog (-pH) = antilog ( -4) = 1.10 -4

= 2,3 C

0,01

= 2,3 C

0,01 0,01 C C 1,1 1,1 1,1 [a] [g]

= 2,3 C = 2,3 C (3,9485 x 10-3) = 1,1 mol/L = [g] + [a] = [g] + [a] = 0,398 x 10-3[a] + [a] = 1,000398[a] = 1,099 = (1,099 x 0,398 x 10-3) = 4,374 x 10-4

berdasarkan data yang diperoleh pada persamaan ,maka,

Diketahui: BM C6H8O7 = 192,12 Sehingga: Dapar yang diperlukan untuk 1 L sediaan:

[a] = 1,099 ; [g] = 4,374 x 10-4 [a] = 1,099 x 192,12 = 211,13 gram/L Dapar yang diperlukan untuk 120ml sediaan:

= 25,33 gr = 12,67 gr dalam 60 ml sediaan 4.5.2 Penimbangan Fungsi dalam Formulasi Zat aktif Rentang Dosis 2g/5ml 20%-35% 4,8 mg 2,5% 0,1% 1% 64% 36% Sorbitol/ml <20% 0,1%-0,2% 1% b/v 4 64% 36% Pelarut Pewarna Perasa q.s. % yang digunakan 24g/60ml 28,33% Jumlah untuk 2 sediaan 48 mg 34 ml 163,2 mg Ad 34 ml 3 ml 120 mg 25,33 g 10 ml 6,4 gr 3,6 ml Ad 120 ml q.s.

No.

Nama Bahan Chlorpeniramini Maleat Larutan Sorbitol : Sorbitol - Aquadest Glyserin Sodium Benzoat Asam sitrat Syrupus Simplex : Sukrosa - Aquadest Aquadest Pewarna dan perasa

1.

(antihistamin) Anticaplocking dan pemanis Pelarut Anticaplocking Pengawet Dapar Pemanis

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

dan

BAB V PROSEDUR KERJA 5.1 Alat dan Bahan Alat Timbangan Gelas ukur Penangas air Sendok tanduk Pipet tetes Pipet ukur Batang pengaduk Beker glass Botol 60 ml (2 buah)

Bahan Chlorpeniramini Maleat glycerin Sukrosa

Sorbitol Sodium benzoate Asam sitrat Perisa dan pewarna jeruk Aquadest 5.2 Cara Kerja 1. Ditera dua buah botol yang akan digunakan dengan menggunakan air sebanyak 60 mL dan diberi tanda, lalu air dikeluarkan. 2. Kemudian ditimbang zat aktif dan zat tambahan dengan seksama, sementara itu air dididihkan terlebih dahulu 3. Dibuat syrupus simpleks dengan cara dimasukkan 3,2 gram sukrosa ke dalam beaker glass, ditambahkan 1,8 mL air yang sudah mendidih sambil diaduk hingga larut. 4. Natrium benzoat sebanyak 60 mg dilarutkan ke dalam sebagian air. 5. Asam sitrat ditambahkan air secukupnya, diaduk sampai larut kemudian ditambahkan Chlorpheniramine maleat diaduk sampai larut (campuran 1) 6. Sirup simpleks, gliserin, larutan sorbitol, dan larutan natrium benzoat dicampur dalam campuran 1 dan diaduk hingga homogen 7. Perasa nanas dan pewarna kuning dilarutkan dalam sedikit air, ditambahkan ke dalam campuran tadi, dan diaduk hingga homogen. 8. Larutan dimasukkan ke dalam botol yang telah ditera dan kemudian larutan dalam botol ditambahkan air sampai tanda batas botol 60 mL. Botol dikap, diberi etiket, brosur dan dikemas dalam kemasan yang telah disediakan 5.3 Skema Kerja Ditera dua buah botol yang akan digunakan dengan menggunakan air sebanyak 60 mL dan diberi tanda, lalu air dikeluarkan.

Ditimbang zat aktif dan zat tambahan dengan seksama, sementara itu air dididihkan

Dibuat syrupus simpleks dengan cara dimasukkan 3,2 gram sukrosa ke dalam beaker glass, ditambahkan 1,8 mL air yang sudah mendidih sambil diaduk hingga larut.

Natrium benzoat sebanyak 60 mg dilarutkan ke dalam sebagian air.

Asam sitrat ditambahkan air secukupnya, diaduk sampai larut kemudian ditambahkan Chlorpheniramine maleat diaduk sampai larut (campuran 1)

Sirup simpleks, gliserin, larutan sorbitol, dan larutan natrium benzoat dicampur dalam campuran 1 dan diaduk hingga homogen

Perasa nanas dan pewarna kuning dilarutkan dalam sedikit air, ditambahkan ke dalam campuran tadi, dan diaduk hingga homogen

Larutan dimasukkan ke dalam botol yang telah ditera.

Larutan dalam botol ditambahkan air sampai tanda batas botol 60 mL. botol dikap, diberi etiket, brosur dan dikemas dalam kemasan yang telah disediakan

BAB VI EVALUASI SEDIAAN 6.1 Evaluasi Fisika 6.1.1 Viskositas Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer Hoeppler. Sampel dan bola diletakkan dalam tabung gelas dalam, dan dibiarkan mencapai temperatur keseimbangan dengan air yang berada dalam jaket di sekelilingnya pada temperatur konstan. Tabung dan jaket air tersebut kemudian dibalik, yang akan menyebabkan bola berada dalam puncak tabung gelas dalam. Waktu bagi bola tersebut untuk jatuh antara dua tanda diukur dengan teliti dan diulangi beberapa kali. Kemudian viskositas suatu cairan Newton dihitung dengan rumus: = t ( Sb-Sf ) B Dimana: t adalah waktu interval dalam detik, lamanya bola jatuh antara kedua titik tersebut. Sb adalah gravitasi jenis dari bola Sf adalah gravitasi jenis dari cairan B adalah konstanta untuk bola tertentu

6.1.2 Berat Jenis Berat jenis sediaan diukur dengan menggunakan piknometer. Piknometer bersih, kering, yang telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru dididihkan pada suhu 25o. Atur hingga suhu eliksir yang diuji lebih kurang 20 o, kemudian dimasukkan ke dalam piknometer. Piknometer yang telah diisi diatur suhunya hingga 25o, kelebihan zat uji dibuang dan ditimbang. Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi. Bobot jenis suatu larutan eliksir adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air, dalam piknometer. Keduanya ditetapkan pada suhu 25o (Depkes RI, 1995).

6.1.3 Volume Terpindahkan Tuang isi sirup perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukan gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 3 menit. Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran : volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang diperoleh dari sepuluh wadah tidak kurang dari 100%, dan tidak satu pun volume wadah yang kurang dari 90% dari volume yang dinyatakan pada etiket (Depkes RI, 1995). 6.1.4 Uji Organoleptis Evaluasi organoleptis meliputi evaluasi terhadap bau, rasa, warna, kejernihan, kelengkapan etiket, brosur dan penandaan pada kemasan.

6.2 Kimia 6.2.1 Identifikasi Pada sejumlah zat uji tambahkan metanol P secukupnya hingga kadar kurang lebih dua setengah mg/ml aduk selama 30 menit. Setrifuge campuran dan gunakan supernatan dari larutan tersebut. Larutan baku adaah eritromosin etilsuksinat BPFI dalam metanol hingga kadar kurang lebih 3 mg /ml kemudian totolkan secara terpisah masing-masing 10 ml larutan uji dan larutan baku pada lempeng kromatografi silika gel setebal 0,25 mm.

Elusi dengan campuran fase gerak metanol P : kloroform P (85 : 15) jarak pengembangan 9 cm. Keringkan, semprot dengan campuran etanol mutlak P : Pmetoksibenzaldehida : Asam sulfat P (90 : 5 : 5). Panaskan lempeng pada suhu 100 oC selama 10 menit. Chlorpheniramine Maleat (CTM) tampak sebagai bercak berwarna hitam hingga lembayung. Harga Rf larutan uji sesuai dengan Rf larutan baku (Depkes RI, 1995). 6.2.2 Penetapan kadar Pada 200 ml sirup yang diukur secara seksama tambahkan larutan natrium hidroksida p50 % b/v secukupnya hingga pH kurang 11. Pindahkan kedalam corong pisah 500 ml, bilas 3 kali, tiap kali dengan 10 ml larutan jenuh natrium klorida P. Sari berturut-turut dengan 70 ml, 40 ml, 40 ml, 40 ml,dan 40 ml heksana P, dengan pengocokan perlahan lahan untuk mencegah terjadinya emulsi. Cuci kumpulan sari 2 kali, tiap kali dengan 10 ml air, kocok cairan cucian 2 kali, tiap kali dengan 20 ml heksana P. Saring kumpulan sari melalui kapas, cuci corong pisah dan penyaring dengan heksana P. Uapkan filtrat di atas penangas air dengan mengalirkan udara hingga kering. Pada sisa tambahkan 5 ml anhidra asetat P dan 25 ml asam asetat glasial P, biarkan selama 15 menit titrasi dengan asam perkolat 0,1 N menggunakan indikator 2 tetes larutan kristal violet P (Depkes RI, 1979).

6.3 Biologi 6.3.1 Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba Mikroba Uji : gunakan biakan mikroba berikut : Candida albicans, Aspergillus niger, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus. Media untuk biakan awal mikroba uji : pilih media agar yang sesuai ntuk pertumbuhan yang subur mikroba uji, seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium. Pembuatan inokulat : sebelum pengujian dilakukan inokulasi permukaan

media agar bervolume yang sesuai, dengan biakan persedian segar mikroba yang akan digunakan. Inkubasi pada suhu 300-350 selama 18-24 jam. Gunakan larutan natrium klorida P 0,9% steril untuk memanen biakan bakteri dengan mencuci permukaan pertumbuhan dan hasil cucian dimasukkan ke dalam

wadah yang sesuai dan tambahkan larutan natrium klorida P 0,9% steril secukupnya untuk mengurangi angka mikroba hingga lebih kurang 100 juta per mL. Tetapkan jumlah satuan pembentuk koloni tiap mL dari setiap suspensi, dan angka ini digunakan untuk menetapkan banyaknya inokula yang digunakan pada pengujian. Prosedur : jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptis menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet lakukan pengujian pada lima wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus secara aseptik pindahkan 20 mL sampel ke dalam 5 tabung bakteriologik bertutup berukuran sesuai dan steril. Inokulasi masing-masing wadah atau tabung dengan salah satu tabung suspensi mikroba baku menggunakan perbandingan 0.10 mL inokula setara dengan 20 mL sediaan dan campur. Tetapkan jumlah mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula, dan hitung angka awal mikroba tiap mL sediaan yang diuji dengan metode lempeng. Inkubasi wadah atau tabung yang telah di inokulasi pada suhu 20-250. Amati wadah atau tabung pada hari ke 7, ke 14, ke 21, dan ke 28 sesudah inokulasi. Catat tiap perubahan yang terlihat dan tetapkan jumlah mikroba viabel pada tiap selang waktu tersebut dengan metode lempeng. Dengan menggunakan bilangan teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung perubahan kadar dalam % tiap mikroba selama pengujian. Penafsiran hasil : suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji jika : a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih 0,1% dari jumlah awal. b. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari jumlah awal. c. Jumlah mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dari bilangan yang disebut pada a dan b. (Depkes RI, 1995). 6.3.2 Uji Cemaran Mikroba Dilakukan untuk memperkirakan jumlah mikroba aerob viabel di dalam semua jenis perbekalan farmasi, mulai dari bahan baku hingga sediaan jadi dan untuk menyatakan perbekalan farmasi tersebut bebas dari spesimen mikroba tertentu. Spesimen uji biasanya terdiri dari Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas

aeruginosa dan Salmonella. Pengujian dilakukan dengan menambahkan 1 mL dari tidak kurang enceran 10-3 biakan mikroba berumur 24 jam kepada enceran pertama spesimen uji (dalam dapar fosfat 7,2, Media fluid Soybean-Casein Digest atau Media Fluid Lactose Medium) dan diuji sesuai prosedur (Depkes RI, 1995).\

BAB VII HASIL DAN PEMBAHASAN 7.1 Hasil Evaluasi fisika yang dilakukan yaitu A. Uji Organoleptis 1. Warna 2. Bau 3. Rasa 4. Capcloking B. Penetapan pH pH sediaan : 3,88 : kuning : aroma buah nanas : agak manis : tidak ada

C. Pengukuran Volume Terpindahkan V1 : 59 mL V2 : 59 mL V3 : 59 mL

V4 : 58,5 mL V5 : 58,5 mL D. Uji Viskositas t1 : 2 s t2 : 1s 70 t3 : 1s 76 t4 : 1s 73 t5 : 1s 65 t6 : 1s 84

7.2 Perhitungan - Volume terpindahkan1 = 59 mL x 100% 60 mL = 98,3% - Volume terpindahkan2 = 59 mL x 100% 60 mL = 98,3% - Volume terpindahkan3 = 59 mL x 100% 60 mL = 98,3% - Volume terpindahkan4 = 58,5 mL x 100% 60 mL = 97,5% - Volume terpindahkan5 = 58,5 mL x 100% 60 mL = 97,5% Volume terpindahkan rata rata = 98,3% + 98,3% + 98,3% + 97,5% + 97,5% 5 = 97,98%

Viskositas () Dik : B = 0,650 mPa. cm3/g = 7,7064 g/ cm3 bola t1 : 2 s t2 : 1s 70 t3 : 1s 76 t4 : 1s 73 t5 : 1s 65 t6 : 1s 84 Dit : ...?

air = 1,214 g/mL

Jawab : 1 = t1 ( bola - air ) B = 2 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 8,44 mPa. s 2 = t2 ( bola - air ) B = 1,70 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 7,174 mPa. s 3 = t3 ( bola - air ) B = 1,76 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 7,42 mPa. s 4 = t4 ( bola - air ) B = 1,73 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 7,30 mPa. s 5 = t5 ( bola - air ) B = 1,65 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 6,96 mPa. s 6 = t6 ( bola - air ) B

= 1,84 s (7,7064 g/ cm3 1,214 g/mL) 0,650 mPa. cm3/g = 7,76 mPa. s rata-rata = (8,44 + 7,174 + 7,42 + 7,30 + 6,96 + 7,76) mPa.s 6 = 6,27 mPa .s

7.3 Pembahasan Praktikum ini bertujuan untuk memformulasi sediaan sirup chlorpheniramine maleat. Formulasi sirup Chlorpheniramini maleat ini mengacu pada formula-formula standar yang ada pada literatur, tetapi praktikan merancang formulasi baru dengan mengganti bahan yang ada pada formula standar dengan bahan-bahan baru dengan fungsi yang masih sama. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sakarosa, kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa, C12H22O11, tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0% Pada sediaan ini, untuk memenuhi kadar sakarosa minimal yang terdapat pada suatu sediaan sirup dtambahkanlah sirupus simplex. Selain itu, sirupus simplex pada formula ini juga berfungsi sebagai corrigen saporis untuk menutupi rasa pahit dari bahan obat Chlorpheniramini maleat. Pertama-tama, praktikan membuat sirupus simplex yang merupakan larutan sukrosa dalam air dengan perbandingan sukrosa dan air yaitu 64 : 36. Sejumlah sukrosa ditimbang kemudian dilarutkan dalam sejumlah air panas agar sukrosa cepat larut. Pada sediaan ini, kandungan sakarosa atau gula yang tinggi dapat mengakibatkan terbentuknya caplocking sehingga untuk mengantisipasi terjadinya caplocking dibutuhkan anti capcloking agent yaitu sorbitol. Selanjutnya, pada beaker dimasukkan asam sitrat yang berfungsi sebagai dapar pada pH 4 dan ditambahkan air. Lalu ditambahkan Chlorpheniramini maleat sebagai zat aktif ke dalam campuran tersebut. Sorbitol yang telah dicampurkan dengan metil paraben dimasukkan ke dalam campuran Chlorpheniramini maleat dan asam sitrat. Selanjutnya, ditambahkan

larutan sirupus simplex. Lalu ditambahkan perasa nanas dan pewarna kuning dan ditambahkan air hingga volume 120 ml di dalam gelas ukur. Pada formulasi ini ditambahkan flavouring agent nanas. Adapun fungsi penambahan perasa dan pewarna pada sediaan ini adalah untuk menutupi rasa CTM yang pahit sehingga anak-anak bisa tertarik mengkonsumsi sirup CTM ini. Perasa nanas yang digunakan sekaligus memberikan warna kuning pada sediaan sirup sehingga warna yang dihasilkan sesuai dengan rasa nanas. Pada formulasi ini menggunakan air sebagai pelarut dimana air merupakan media pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, digunakan metil paraben sebagai pengawet. Pengawet ini akan mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada sediaan selama penyimpanan dan pemakaian. Sediaan sirup CTM dibuat sebanyak 60 mL karena dengan volume 60 mL ini sudah cukup memenuhi dosis yang ditentukan dan sudah mampu memberikan efek terapi yaitu 4-6 kali sehari sebanyak 5 mL dengan kandungan CTM 2 mg setiap 5 mL. Sirup CTM merupakan sediaan untuk mengobati alergi (anti alergi) yang dapat dikonsumsi oleh anananak dari umur 2 tahun sampai dewasa. CTM merupakan golongan obat bebas terbatas yaitu obat-obat yang dapat dibeli bebas tanpa resep dari dokter di apotek sesuai dengan batasan obat yang ditetapkan, yang memiliki tanda lingkaran biru pada kemasannya. Dilakukan evaluasi terhadap sirup CTM sebanyak 2 kali yaitu saat hari I dan II setelah pembuatan sirup. Pada pengujian hari pertama, sirup CTM dievaluasi secara fisika meliputi uji organoleptis, penetapan pH, pengukuran volume terpindahkan, pengukuran bobot jenis, serta uji viskositas. Pengamatan organoleptis meliputi : warna, bau, rasa, dan ada tidaknya caplocking. Warna dari sirup CTM yaitu kuning dengan rasa manis dan aroma nanas, hal ini menunjukkan bahwa sirup CTM yang dibuat stabil karena tetap menunjukkan warna, bau rasa yang sama dengan saat peracikan. Sediaan tidak mengalami capcloking ditandai dengan tidak adanya gumpalan yang terdapat pada tutup botol yang dapat menyebabkan kesukaran dalam membuka botol, berarti sorbitol (28,33%) yang digunakan efektif sebagai anti capcloking agent. Uji pH sediaan menunjukkan pH 3,97. Hasil uji pH yang diperoleh telah mendekati dengan literatur dimana asam sitrat sebagai dapar sebesar 1% mampu mendapar sediaan pada pH 4. Namun kekurangtepatan pH yang diperoleh disebabkan karena adanya pengaruh kandungan asam sitrat pada perasa yang digunakan. Volume terpindahkan rata rata setelah diukur yaitu sebesar 97,98%. Jika diamati dari segi viskositas, dihasilkan viskositas sebesar 6,27mPa.s. Nilai viskositas yang dihasilkan sudah cukup baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan volume terpindahkan sebesar

97,98% dimana persentasenya telah mendekati nilai 100% yang berarti sediaan sirup mudah dituang. Viskosimeter yang dipergunakan untuk uji viskositas adalah viskosimeter bola jatuh karena sirup mengikuti hukum Newton, dimana viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung kepada kecepatan geser. Oleh karena itu, viskositasnya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. (Martin,1993)

BAB VIII PENUTUP 8.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain : 1. Formulasi sediaan sirup CTM SIPROMELT terdiri dari zat aktif Chlorpheniramini maleat; sukrosa sebagai pemanis untuk menutupi rasa pahit dari CTM yang dibuat sebagai sirupus simplex; metil paraben sebagai pengawet karena digunakan pelarut air; asam sitrat sebagai pendapar; sorbitol sebagai anticaplocking agent serta aroma nanas; dan air sebagai pelarut. 2. Tahapan-tahapan dalam pembuatan sediaan sirup CTM SIPROMELT yaitu : pembuatan sirupus simplex, pencampuran bahan-bahan sesuai formulasi, dan pengemasan sediaan termasuk didalamnya pemberian etiket, brosur, serta sendok sebagai kelengkapan sediaan. 3. Sediaan sirup yang dihasilkan secara organoleptis memiliki warna kuning, rasa agak manis, bau buah nanas, dan tidak terdapat caplocking; volume terpindahkan rata - rata sebesar 97,98%, viskositas sebesar 6,70 mPa.s, dan pH sediaan 3,97. Penurunan pH karena digunakan sukrosa dalam jumlah besar; essence nanas sebagai pemberi warna, rasa,

dari yang seharusnya dapat disebabkan oleh penambahan asam sitrat yang berlebih dari perasa nanas yang digunakan.

BAB IX PENGEMASAN 9.1 Kemasan Primer Terlampir 9.2 Etiket Terlampir 9.3 Brosur Terlampir

DAFTAR PUSTAKA Ansel, H.C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Katzung, B.G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 1. Jakarta : Salemba Medika. Kibbe, A. H. 2000. Handbook of Pharmaceuticals Excipients. London-United Kingdom: Pharmaceutical Press. Evoy, Mc and Gerald K. 2002. AHFS Drug Book 4, American Society of Health System Pharmacist. Niazi, Sarfaraz K. 2004. Hand book of Pharmaceutical Manufacturing Formulations OverThe-Counter Products. United States of America : CRC Press. Reynolds, J.E.F. 1989. Martindale The Extra Pharmacopoeia Twenty-Ninth Edition . London : The Pharmaceutical Press.

Sweetman, Sean C. 2002. Martindale The Complete Drug Reference Thirty-Third Edition . London Chicago: Pharmaceutical Press. Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-obat Penting Khasiat Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Computindo.

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN NON-STERIL SEDIAAN SIRUP CHLORPHENIRAMINE MALEAT ( CTM ) SIPROMELT

Dosen I.G.N. Agung Dewantara S.Farm., M.Sc., Apt Asisten Made Surya Wedana J.S.

Oleh : Lia Puspitasari Clarissa Puteri K A. A. Ayu Indrasuari Ni Putu Erikarnita Sari Made Gede Praditya Putra Indra Lesmana Ni Putu Asri Ramayati (0908505025) (0908505026) (0908505027) (0908505028) (0908505029) (0908505030) (0908505031)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011