Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

ISOLASI KURKUMIN DARI TEPUNG KUNIR (RIMPANG Curcuma longa L.)


OLEH KELOMPOK 6

ANITA NUR RAMADHANI SARTIKA AGUSTIANI ANDI RAJENG FRADINA IMRAN

H 311 08 281 H 311 08 282 H 311 08 287 H 311 08 288 H 311 08 289

ASISTEN : YAFETH TANDI BENDON

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Metil salisilat terdapat dalam minyak gandapura yang merupakan zat cair tanpa warna, berbau khas menyenangkan dan secara mudah diserap oleh kulit. Ini digunakan sebagai pelarut turunan selulosa dalam bahan perasa makanan. Dalam pengobatan digunakan untuk analgetik dalam reumatik, bersifat aniseptik dan anti gatal. Asam salisilat dan banyak turunannya mempunyai efek antipiretik dan analgetik yang bisa menurunkan demam dan reumatik. Senyawa-senyawa ini kualitatif serupa tetapi berbeda dalam keaktifan kuantitaif. Asam salisilat dan garam-garamnya yang sederhana memberi perangsangan lambung dan rasa tak enak, maka dibuat ester-eser yang larut lebih sedikit. Senyawa-senyawa ini melalui lambung tak berubah. Hablur putih, tanpa bau, berasa manis, digunakan sebagai bahan pengawet karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri yang juga digunakan dalam pembuatan zat celup. Ester-ester alkil contohnya metil salisilat yang diabsorbsi lebih baik melalui kulit. Ester-ester asil contohnya asam asetil salisilat yang lebih kuat sebagai antipretik dan analgesik. Metil salisilat sebagai turunan asam salisilat dapat dibuat secara sintetik. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mereaksikan metil salisilat dengan metanol. Percobaan ini dilakukan dengan maksud membuktikan sntesis metil salisilat dapat menggunakan kedua bahan tersebut

1,2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Pecobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk menyintesis senyawa metil salisilat dari senyawa asam salisilat melalui penambahan metanol dan penambahan asam sulfat sebagai katalis. 1.2.2 Tujuan Percoban Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menyintesis senyawa metil salisilat dari senyawa asam salisilat 1.3 Prinsip Percobaan Sintesis senyawa metil salisilat dengan metode refluks selama 4 jam, kemudian dicuci dengan akuades dengan menggunakan corong pisah untuk mendapatkan lapisan organik. Lapisan organik yang didapatkan ditambahkan dengan natrium sulfat anhidrat untuk menarik sisa-sisa air yang mungkin terdapat dalam lapisan organik, selanjutnya filtrat diukur indeks biasnya dengan menggunakan refraktometer. 1.4 Manfaat Percobaan Manfaat yang bisa didapatkan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui cara membuat senyawa metil salisilat yang biasa digunakan untuk campuran dalam obat gosok dan campuran wangi dalam keperluan farmasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Asam Salisilat Asam salisilat berbentuk hablur putih, tanpa bau, berasa manis, digunakan sebagai bahan pengawet karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri yang juga digunakan dalam pembuatan zat celup (Amiruddin, dkk., 1997). Menurut Riawan (1990) Asam salisilat (asam o-hidroksi benzoat) Terdapat sebagai metil salisilat dalam beberapa minyak esensial misalnya minyak gandapura. Sifat-sifat: Asam salisilat dan banyak turunannya mempunyai efek anti piretik dan analgetik dan menurunkan demam reumatik. Senyawa-senyawa ini kualitatif serupa tetapi berbeda dalam keaktifan kuantitaif. Asam salisilat dan garamgaramnya yang sederhana memberi perangsangan lambung dan rasa tak enak, maka dibuat ester-eser yang larut lebih sedikit. Senyawa-senyawa ini melalui lambung tak berubah. Ester-ester alkil misalnya: metil salisilat diabsorbsi lebih baik melalui kulit. Ester-ester asil misalnya: asam asetil salisilat lebih kuat Sintesis: Pemanasan Na-fenola + CO2 pada tekanan tinggi.

antipretik dan analgesik (Riawan, 1990). Beberapa turunan-turunan asam salisilat menurut Riawan (1990): 1. Na-salisilat (Na-2-hidroksi benzoa), yang dibuat dari asam salisilat + NaHCO3 Larut dalam air, alkohol, gliserol.

dipakai pada reumatik articular dan untuk efek analgesik dan antipiretiknya.

2. Asam asetil salisilat (aspirin, aeossal, naspro) 3. Metil salisilat terdapat dalam minyak gandapura dapat dibuat dengan cara pengesteran dari asam salisilat + metanol (+H2SO4 pekat) cairan, td. 219 OC-224 OC, sedikit larut dalam air, lebih baik dalam alkohol. Penggunaan: Obat gosok Zat rasa dalam banyak hasil farmasi sebagai zat wangi dan sebagainya.

2. Metil Salisilat Minyak gandapura yang merupakan zat cair tanpa warna, berbau khas menyenangkan dan secara mudah diserap oleh kulit. Ini digunakan sebagai pelaru urunan selulossa baha perasa dalam makanan. Dalam pengobatan digunakan unuk analgetik dalamm reumatik, berifa aniseptik dan anti gatal (Amiruddin, dkk., 1993). Produk yang dijual secara komersial mengandung 99 % kemurniannya, dimana mp. -8,6 OC; bp 220-224 OC; d2525 1,184 (Merc index, 1997).

3. Metanol Memiliki sifat-sifat d40 0,8100; d415 0,7960; d420 0,7915; d425 0,7866 dengan mp -97,8O ;

nD15 dengan densitas 1,1, dipol momen 1,69.

Dapat larut dengan air,

etanol, eter, benzen, keton dan pada umumnya pelarut organik yang lainnya. Metanol biasanya pelarut yang lebih baik dari pada etanol yang masih terlarut banyak garam organik (Merc index, 1997) 4. Agen Pengering Beberapa agen pengering yang berfungsi untuk membentuk hidrat, di antaranya adalah (Pasto, dkk., 1992): 1. CaSO4 : Dalam bentuk padatan disebut Drierite, memiliki kapasitas (berbentuk hemihidrat), kerja yang cepat, efisien dan bersifat umum. Bentuk tidak berwarna digunakan untuk mengeringkan cairan. Indikasi bentuk warna merah dari (merah muda ketika hidrat) digunakan pada pengeringan di tabung. 2. CaCl2 : Secara umum digunakan dan cepat. Berbentuk heksahidrat, dapat bereaksi atau membentuk senyawa kompleks dengan asam karboksil, amina, alkohol dan senyawa karbonil. 3. Na2SO4 : Agen pengering yang bersifat netral. Lambat, namun dengan kapasitas yang tinggi (berbentuk dekahidrat). Paling baik pada pengeringan sampel agak basah. 4. MgSO4 : Agen mengering asam fluorida (HF). Bukan sebagai CaSO4 atau CaCl2. memiliki kapasitas lebih rendah dari pada Na2SO4.

5. K2CO3

: Agen pengering dasar, sangat baik untuk basa organik atau senyawa asam sensitif, tidak dapat digunakan dengan senyawa asam.

5. Ekstraksi Ekstraksi merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi dalam dua pelarut yang tidak saling campur. Kb = C1/C2 Kb adalah koefisien distribusi atau koefisien partisi yang merupakan tetapan keseimbangan yang merupakan kelarutan relative dari suatu senyawa terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur dengan air. C1 dan C2 adalah kadar senyawa terlarut dalam pelarut 1 dan pelarut 2. Kerap kali sebagai pelarut

pertama adalah air sedangkan pelarut kedua adalah pelarut organik yang tidak saling campur dengan air. Dengan demikian ion anorganik atau senyawa organik polar sebagian besar akan terdapat dalam fasa air, sedangkan senyawa organik non polar sebagian besar akan terdapat dalam fasa organik. Hal ini yang

dikatakan like dissolve like yang berarti bahwa senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar dan sebaliknya (Sudjadi, 1988). Proses ektraksi berlangsung dalam tiga tahap yaitu (Khopkar, 1990): 1. pembentukan kompleks tidak bermuatan yang merupakan golongan ekstraksi 2. distribusi dari kompleks yang tereksitasi 3. interaksi yang yang mudah dalam fase organik

6. Ekstraksi Berulang kali Jika koefisien distribusinya sangat besar (lebih dari 1000), ekstraksi

dengan corong pisah telah memungkinkan hampir semua senyawa terlarut dan terekstraksi. Walaupun demikian ekstraksi akan lebih efektif jika larutan pengekstrak di bagi dalam beberapa bagian kecil dari ekstraksi sekali dengan semua ekstraksi yang tersedia. Tujuan ekstraksi berulang kali untuk mendapatkan harga berat sekecil mungkin untuk berat tertentu ekstraksi. Untuk itu nilai n (banyaknya ekstraksi) harus besar dan nilai S (koefisien distribusi pengekstrak) harus kecil. Dengan kata lain, hasil terbaik didapatkan dengan membagi pelarut ekstraksi dalam bebarapa bagian dari satu kali penyarian dengan semua jumlah pengekstraksi yang tersedia Garam anorganik yang terhidrasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut air dari pada organik (benzena, kloroform, dsb). Pelarut organik lebih cepat larut dalam pelarut organik dibandingkan dalam pelarut air, kecuali jika mengandung banyak gugus hidrofilik lain dalam senyawa itu. Dalam analisis ekstraksi pelarut ini berhubungan dengan metode-metode dimana keterlarutan akation anorganik dalam air dapat dihilangkan dengan reagensia-reagensia yang sesuai (Sudjadi, 1988). 7. Refluks Proses refluks adalah pemanasan larutan dan kondensasi gas pada suatu cara yang kemudian kembali terkondensasi di dalam labu reaksi . Teknik refluks digunakan pada penyiapan senyawa kimia organik untuk mempertahankan reaksi pencampuran pada temperatur konstan, dimana digunakan pendingin air yang seharusnya digunakan hanya untuk temperatur yang rendah sedangkan pendingin udara digunakan untuk temperatur yang lebih tinggi (Pasto, dkk., 1992).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain, neraca analitik, labu alas bulat 250 mL, gelas ukur 100 mL, pipet skala 25 mL, batu didih, heating mantel, statif + klem, corong pisah 250 mL, gelas piala 250 mL, gelas piala 50 mL, refraktometer, dan pipet tetes. 3.2 Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam salisilat, asam sulfat pekat, metanol p.a, akuades, Na2SO4 anhidrat, tisu roll. 3.3 Cara Kerja Asam salisilat yang berupa hablur putih dimasukkan ke dalam labu alas bulat, ditambahkan dengan metanol absolut dan asam sulfat pekat, serta batu didih untuk mencegah terjadinya bumping agar cairan tidak keluar meluap dari labu alas bulat. Kemudian direfluks dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi melalui proses pendidihan, penguapan, pengembunan yang terjadi secara terus menerus selama 4 jam. Setelah direfluks, kemudian didinginkan dengan menggunakan air es untuk mempercepat proses pendinginan. Campuran yang telah dingin dimasukkan dalam corong pisah kemudian ditambahkan 30 mL air sebanyak dua kali untuk mengekstraksi, agar fase organik dan fase air dapat terpisah, dimana lapisan air terdapat pada bagian bawah, sedangkan lapisan organik pada lapisan atas. Setelah diekstraksi, lapisan organik kemudian ditambahkan serbuk Na 2SO4 untuk menarik sisa-sisa air setelah proses ekstraksi yang kemudian didiamkan

sekitar 12 jam sehingga di peroleh metil salisilat yang baik. Metil salisilat yang diperoleh kemudian diukur indeks biasnya dengan menggunakan alat

refraktometer

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Perlakuan Asam salisilat Asam Salisilat +Metanol + H2SO4 Direfluks selama 4 jam Menguap dan tetap terbentuk endapan Ditambahkan 20 mL akudes Terbentuk endapan putih Didiamkan Terbentuk endapan putih dan air pada lapisan Dipisahkan Endapan putih dipisahkan Lapisan organik dicuci dengan Terbentuk lapisan organik akuades sebanyak dua kali 15 mL kemudian dipisahkan Lapisan organik ditambahkan Na2SO4 anhidrat untuk mengikat kelebihan air Terbentuk filtrat (metil salisilat) dan residu (kalsium klorida yang sudah mengikat air Filtrat diukur indeks biasnya Diperoleh indeks bias 1, pada suhu 28,9 oC. bawah sedangkan lapisan organik pada lapisan atas. Pengamatan Hablur putih Terbentuk endapan putih pada dasar labu.

4.2 Reaksi
O C O
-

H O H

O C

O H OH H OH
+

O H OH

O C H3C O H
+

O C OH -H2O

H H OH

O C

CH3 O H OH -H
+

O C O CH3 OH

Metil Salisilat

4.3 Pembahasan Asam salisilat yang berupa hablur putih dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Kemudian ditambahkan dengan metanol absolut sebagai pereaksi dan asam sulfat sebagai katalis dan memberikan suasana asam. Metanol dan asam sulfat tidak melarutkan asam salisilat, sehingga terlihat adanya endapan yang berwarna putih pada dasar labu alas bulat. Kemudian ditambahkan batu didih untuk mencegah terjadinya bumping, yang mungkin terjadi karena labu alas bulat yang digunakan terbuat dari kaca yang memiliki permukaan dasar yang halus sehingga tidak mampu memecah tegangan permukaan larutan saat mendidih. Refluks bertujuan untuk menyempurnakan reaksi melalui proses pendidihan, penguapan, pengembunan yang terjadi secara terus menerus selama 4 jam. Setelah refluks, campuran kemudian didinginkan dengan menggunakan air es untuk mempercepat proses pendinginan. Campuran yang telah dingin, dimasukkan dalam corong pisah kemudian ditambahkan 30 mL air sebanyak dua kali untuk mengekstraksi, agar fase organik dan fase air dapat terpisah, dimana lapisan air terdapat pada bagian bawah, sedangkan lapisan organik pada lapisan atas. Penambahan air dimaksudkan untuk menarik pengotor-pengotor yang bersifat polar. Setelah

diekstraksi, kemudian ditambahkan serbuk Na2SO4 anhidrat untuk menarik sisasisa air setelah proses ekstraksi yang kemudian didiamkan sekitar 12 jam sehingga diperoleh metil salisilat yang baik. Metil salisilat yang diperoleh kemudian diukur indeks biasnya dengan menggunakan alat refraktometer, indeks bias yang diperoleh adalah 1,38439 pada suhu 28,9C. Sedangkan menurut literatur indeks bias metil salisilat adalah 1,535-1,538 pada suhu 38 oC. Perbedaan hasil yang

diperoleh disebabkan karena perbedaan suhu dimana semakin tinggi suhu, maka indeks bias semakin tinggi dan sebaliknya.

BAGAN KERJA SINTESIS METIL SALISILAT.

Asam Salisilat Lapisan air Ditimbang sebanyak 7 gram Dimasukkan ke dalam labu alas bulat 250 mL Ditambahkan 30 mL metanol Ditambahkan 8 mL H2SO4 Diaduk Ditambahkan batu didih Direfluks selama 4 jam Didinginkan Dimasukkan dalam corong pisah Dicuci dengan akuades (2x 15 mL) Didiamkan Dipisahkan Lapisan organik Filtrat -Diuji indeks biasnya Ditampung dalam gelas piala Ditambahkan Na2SO4 anhidrat Didiamkan sekitar 12 jam Disaring Residu

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Setelah melakukan percobaan sintesis Metil Salisilat dapat disimpulkan bahwa diperoleh metil salisilat dengan indeks bias 1,38493 pada suhu 28,9C dimana hasil ini berbeda dari indeks bias teoritik yaitu 1,535-1,538 pada suhu 38 oC . 5.2 Saran Pada percobaan selanjutnya digunakan bahan atau senyawa lain yang dapat digunakan untuk mensintesis metil salisilat.

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, A., Surasa, J., Harlim, J., Genisa, A., Amiruddin., K. dan Pudjatmaka, A. H., 1993, Kamus Kimia Organik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 23 dan 146. Budavari, S., ONeil M., J., Smith A., and Heckelman, P., E., 1989, The Merck Index, Merck & Co., Inc, Rahway, New Jersey, USA. Khopkar, S. M., 1990, Konsep Dasar Analitik, UIP, Jakarta, 85 87. Pasto, D. J., Johnson, J. R. dan Miller, M. J., 1992, Experiments And Techniques in Organic Chemistry, New Jersey, USA, 18 dan 27. Riawan, S., 1990, Kimia Organik, Edisi I, Binarupa Aksara, Jakara Barat, 200-201.