Anda di halaman 1dari 127

Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -1

1 TAQWA
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar
taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan Islam.”
(QS. Ali Imran/3:102).

***

Taqwa, semua orang pernah mendengar kata tersebut, walaupun ada


yang belum memahami makna sesungguhnya. Namun, semua maklum
bahwa ”taqwa” adalah istilah untuk sesuatu yang baik. Dalam Islam,
taqwa merupakan tingkatan paling mulia yang harus dicapai oleh setiap
manusia, sebagaimana firman Allah SWT;
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
lelaki dan se-orang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan ber-
suku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang pal-
ing mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di ant-
ara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 1
Dengan jelas Allah SWT menempatkan taqwa di antara sekian tingkat
yang harus dicapai oleh hamba-hamba-Nya.

Hakikat Taqwa, Hidup & Mati

Kata “taqwa” berasal dari bahasa Arab yang merupakan akar kata dari “al-
Wiqayah” atau “al-Wiqwa” yang berarti alat pelindung kepala atau perisai
untuk menghindari diri dari sesuatu yang ditakuti dan membahayakan di-
rinya. “At-Taqwa” adalah bentuk mashdar yang artinya “al-Itqaa” yaitu
membuat perlindungan. Sedangkan menurut para ahli hakikat, taqwa be-
rarti memelihara diri dengan jalan taat ke-pada Allah SWT atau menjauhi
semua yang dilarang-Nya sehingga tetap terlindung.

1
QS. 49:13
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -2

Taqwa dalam taat berarti ikhlas ketika me-laksanakan perintah Allah.


Sedangkan taqwa dalam maksiat ialah dengan menjauhi setiap yang dilar-
ang-Nya. 2
Pengertian Taqwa yang paling sederhana ialah sifat dan sikap ketaatan
mu’min terhadap syari’at Allah SWT yaitu dengan menjalankan perintah
Allah dan menjauhi setiap yang dilarang-Nya. Maksudnya, seseorang dis-
ebut bertaqwa (mutta-qin) apabila ia mampu menguasai diri dengan selalu
menjalankan kebaikan serta memelihara diri dari perbuatan keji dan mun-
kar. Kedua batasan Allah tersebut semuanya terkandung dalam Al-Quran
dan Al-Hadits.
Perumpamaan yang paling mudah kita fahami tentang makna taqwa ini
ialah dialog antara Umar Bin Khatab dengan Ubai Bin Ka’ab. Umar ber-
tanya kepadanya tentang taqwa, lalu Ubai Bin Ka’ab menjawab dengan se-
buah pertanyaan:”Bukankah engkau pernah melewati jalan yang penuh onak
dan duri? Bagaimana sikapmu ketika berjalan di atasnya?” Umar pun men-
jawab: ”Saya akan selalu siap dan mencari pijakan dengan hati-hati.” “Itulah
taqwa !” jawab Ubai Bin Ka’ab.
Jadi ibaratnya, kehidupan ini merupakan jalan yang penuh duri dan harus
diwaspadai, sedangkan hududullah merupakan rambu-ram-bu petunjuk
untuk keselamatan perjalanan. Bila menemui daerah berbahaya, maka
bukalah pedoman perjalanan hidup yang telah Allah berikan lewat
utusan-Nya yaitu Kitab suci Al-Quran dan tuntunan Sunnah Nabawiyah.
Sehingga persinggahannya di alam fana ini berjalan mulus dan meraih ke-
bahagiaan yang dituju. Kalau kita mampu melewati jalan tersebut, maka
tujuan kita pun tercapai yaitu meraih mardlatillah (keridlaan Allah) di
dunia dan di Akhirat. Tetapi sebaliknya, apabila sikap hati-hati (baca: Taq-
wa) tidak kita miliki, pastilah kita terluka oleh duri kehidupan dan tidak
akan mencapai tujuan hidup kita.
Sayyid Qutb pernah menjelaskan dengan kalimat yang indah dalam
tafsirnya “Fi Dhilal Al-Quran,” katanya: ”Demikianlah taqwa, ke-pekaan bat-
in, kelembutan perasaan, rasa takut dan selalu waspada serta hati-hati jangan
sampai menginjak duri jalanan. Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri
godaan dan syah-wat, kerakusan dan mimpi-mimpi, kekhawatiran dan kegelisa-
han, harapan semu dan yang tidak bisa diharapkan kebaikannya. Ketakutan palsu
dari sesuatu yang tidak pantas ditakuti. Dan masih banyak yang lainnya.”
Demikianlah sikap hidup seorang muttaqin dan sebagai puncaknya ialah
mencapai derajat Haqqa Tuqatih yaitu manusia yang sebenar-benarnya
taqwa. 3
Allah Ta’ala menjadikan bumi sebagai tempat berpijak manusia dan men-
jalani kehidupannya.4 Dunia sebagai sarana untuk mencapai kehidupan
2
At-Ta’rifat, Al-Jarjany:65
3
QS. Ali Imran:102
4
QS. 7:24-25
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -3

yang lebih kekal dan abadi yaitu alam akhirat yang hanya dibatasi oleh
kematian. Manusia yang berhak mengisinya ialah mereka yang suci jiwan-
ya dengan amal shalih dan ketaqwaan. Firman Allah; “Sesungguhnya ber-
untunglah orang-orang yang membersihkan diri. Dan menyebut nama Tuhannya
lalu me-laksanakan shalat. Tetapi kalian (orang kafir) mengutamakan kehidupan
dunia. Sedang akhi-rat itu lebih baik dan lebih kekal.” 5
Begitulah kehidupan dunia, dipenuhi de-ngan hiasan yang bisa melalaikan
manusia dari hakikat manusia diciptakan yaitu beribadah ha-nya kepada
Allah SWT. Padahal dari makna lahir saja, kata “dunia” menggambarkan
kehi-dupan yang kecil dan sesaat.
Dalam “Tahdibul Akhlaq”, dijelaskan; “Du-nia dan akhirat adalah ibarat dua
keadaan. “Ad-Dunya” berarti “al-Qarib” (sementara) dan “Ad-Danaa” (hina
dan kecil) yaitu segala per-kara yang ada sebelum kematian datang. Sedangkan
akhirat adalah al-Mutarakhi (tujuan akhir) yang terjadi setelah kematian.” 6
Karenanya, Rasulullah SAW mewanti-wanti ummatnya dari kehidupan
dunia yang melebihi batas. Dalam sebuah hadits dijelaskan ada malaikat
yang menyeru; “Biarkan dunia bagi mereka yang mencintainya !” hingga di-
ulang sampai tiga kali, “Barangsiapa yang mencari dunia melebihi batas keper-
luannya, maka dia akan menemui ajal dalam keadaan tak sadar.”7
Kematian memang satu hal yang sudah pasti datangnya, kapan atau di-
mana, hanya Allah yang tahu. Oleh karena itu, persiapannya harus dalam
setiap saat. Allah SWT memberikan tuntunan hidup bagi manusia agar
tidak takut menghadapi kematian yaitu mempersiapkan bekal menuju ke-
hidupan kekal nanti. Dan bekal yang sebaik-bainya adalah taqwa.8
Dengan merujuk pada pengertian taqwa di atas, maka aplikasi dari taqwa
ini ialah berhati-hati dan selalu memperhitungkan setiap amal perbuatan
yang akan dilakukan, apakah bertentangan dengan titah-Nya atau tidak.
Imam Al-Baidlawi dalam kitab tafsirnya, membagi taqwa menjadi tiga
tingkatan;

Tingkatan Pertama, Taqwa seseorang yang didorong oleh rasa takut akan
siksa yang kekal sehingga dia memelihara diri dari perbuatan dosa dan
syirik kepada Allah. 9

Tingkatan Kedua, Taqwa dengan menjauhi setiap perbuatan dosa sampai


dosa yang dianggap kecil oleh sebagian manusia. Inilah o-rang yang men-
capai derajat taqwa sesuai dengan definisi di atas.

5
QS. 87:14-17
6
Hlm. 78
7
HR. Al-Bazzar
8
QS. 2:197
9
QS. 48:26
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -4

Tingkatan Ketiga, Taqwa dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dari


yang pa-ling ringan hingga rahasia-rahasia yang ada di balik semua perin-
tah-Nya dan menjaga diri dari perbuatan dosa yang paling kecil yang ber-
akibat kejahatan-kejahatan yang lebih besar. Tingkatan inilah yang men-
capai derajat “haqqa tuqatih”.
Setiap muslim wajib meyakini akan adanya hari berbangkit, dimana setiap
manusia akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah lang-
sung tanpa perantara. Mulai dari amaliah zhahir sampai bisikan hati
sekalipun. Inilah yang dimaksud dengan rahasia-rahasia di balik sebuah
perbuatan. Baik perbuatan yang berbentuk amal badani maupun batin
harus sejalan dengan ketentuan Allah sebagai manifestasi taqwa yang ses-
ungguhnya.

Konsekuensi Taqwa

Melaksanakan sebuah perbuatan, selalu mendapat balasan yang setimpal.


Seorang yang berbuat baik pada sesama, akan memperoleh keuntungan
dicintai dan dihormati o-rang lain. Sebaliknya, perbuatan jahat akan
mendapat balasannya pula.
Demikian halnya dengan seorang yang bertaqwa, konsekuensi dari per-
buatan taqwanya ialah memperoleh kebahagiaan hakiki disebabkan
kesabaran dalam mempertahankan nilai ketaqwaannya. Firman Allah
SWT: “Barang-siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan
baginya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rizqi dari arah yang tiada
disangka-sangka.” 10
Dalam menafsirkan ayat ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany seorang
ulama hadits me-nyoroti aspek dari sebab turunnya ayat di atas dalam kit-
abnya “Takhrij Ahaditsil Kasyaf,” antara lain; “Al-Hakim meriwayatkan dari
Jabir karanya; “Ayat ini turun berkenaan dengan seorang tua renta yang miskin
lagi papa. Pada suatu hari Rasulullah SAW datang kepadanya dan bersabda;
“Taqwalah kepada Allah dan bersabarlah !” Tidak lama kemudian datanglah anak
pamannya dengan membawa ternak-ternaknya.” 11 Hadits ini menjelaskan ba-
gaimana Allah memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa
setelah dia mengerti apa hakikat taqwa sesungguhnya sesuai
tingkatannya.
Banyak ayat Al-Quran yang menyatakan balasan bagi orang yang benar-
benar bertaqwa serta menghayatinya dengan memperlihatkan amal shalih
dan perilaku terbaik di hadapan Allah SWT. Firman-Nya; “Sesungguhnya
o-rang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalam
surga yang dipenuhi mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera
10
QS. At-Thalaq/65:2-3
11
Sanad hadits ini masih diperbincangkan
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -5

yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah Kami berikan ke-pada


mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan
dengan kesenangannya. Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali
mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka, sebagai karunia
dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. Sesung-
guhnya Kami mudahkan Al-Quran itu dengan bahasamu supaya mereka
mendapat pelajaran. Maka, tunggulah, sesungguhnya mereka itu menunggu
(pula).” 12

Karakteristik Muttaqin

Cukup menarik untuk dikaji ulang, tentang sifat dan sikap muttaqin yang
lebih praktis, dengan tujuan agar kita mampu mengapli-kasikannya dalam
kehidupan dan rutinitas sehari-hari.
Ada beberapa tanda muttaqin sejati yang penting untuk dihayati oleh se-
tiap muslim, di antaranya:

Pertama: Mu’ahadah (Selalu Mengingat Janji)

Seorang muttaqin sejati akan selalu mena-namkan sikap mu’ahadah yaitu


berusaha se-kuat tenaga untuk melaksanakan dan meme-nuhi janjinya,
terutama perjanjian dengan Allah SWT. Tidakkah kita sadar bahwa setiap
kali shalat kita mengucapkan janji setia dengan mengikrarkan IYYAKA
NA’BUDU WA IYYA-KA NASTA’IN (Hanya kepada-Mu ya Allah kami
menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).
Artinya segenap hidup kita diserahkan hanya untuk beribadah kepada Al-
lah SWT dan selalu mengadu kepada-Nya.
Allah SWT sendiri mengingatkan dalam firman-Nya: ”Dan tepatilah per-
janjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah ka-mu membatalkan
sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan
Allah sebagai saksimu (terhadap sum-pahmu itu). Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu perbuat.” 13

Kedua: Muraqabah (Menyadari Allah selalu mengawasinya)

Tanda kedua ini merupakan cerminan sikap Ihsan yang harus dimiliki oleh
setiap muslim dan muttaqin sejati. Ihsan artinya kita selalu merasa diawasi
Allah walaupun kita tidak melihat-Nya langsung, karena Allah SWT

12
QS. Ad-Dukhan/44:51-59
13
QS. 16: 91
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -6

memiliki sifat Maha melihat dan Maha mendengar. Sebagaimana firman


Allah SWT: “Dia-lah Allah yang melihatmu ketika kamu berdiri (shalat) dan
melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” 14
Muraqabah ini dapat terlihat dari wujud ketaatan kita terhadap Allah SWT.
Maksudnya, kita dituntut untuk memperhatikan setiap ke-giatan kita,
apakah sesuai dengan Syari’at Allah atau tidak. Karena sekecil apapun
amal kita, kelak akan diperlihatkan dan dibalas, sebagaimana firman Allah
SWT: ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya
dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan se-
berat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” 15 Sejauh mana
sikap muraqabah kita terhadap Allah SWT ?

Ketiga: Muhasabah (Introspeksi Diri)

Muhasabah merupakan upaya kita meningkatkan kualitas keimanan yang


ada dalam diri masing-masing. Karena dengan menghitung, sudah berapa
banyak amal baik yang kita miliki akan lahir kesadaran untuk men-
ingkatkannya setiap saat. Umar Bin Khathab menasehati ki-ta, “Hisablah
dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang dan
bersiap-siaplah untuk menghadiri hari yang agung (kiamat). Pada hari itu kamu
dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang
satu pun.”
Disamping menghitung kadar jumlahnya dari amal shalih yang kita lak-
ukan, juga kita se-lalu meningkatkan kualitas amal tersebut, apa-kah kita
ikhlas mengamalkannya atau karena keterpaksaan belaka? Dengan de-
mikian setiap detik yang kita lewati, dengan muhasabah akan lahir amal
yang lebih baik dari sebelumnya. Firman Allah SWT: ”Hai orang-orang
yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatik-
an apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat) dan bertaqwalah ke-
pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”16

Keempat: Mu’aqabah (Memberikan Sanksi)

Sesungguhnya sikap Mu’aqabah ini lahir dari kesadaran untuk tetap men-
jalankan sya-ri’at Allah. Mu’aqabah ialah pemberian sanksi kepada diri
sendiri, apabila kita menyalahi perjanjian yang kita buat. Namun tentu
saja sanksi tersebut tidak boleh menyalahi Sunnah Rasulullah SAW seperti
tidak akan menikah, shaum terus menerus dan lain-lain. Sanksi ini hanya
untuk mengingatkan apabila kita lalai dari perjanjian.

14
QS. Asy-Syura: 218-219
15
QS. 99: 7-8
16
QS. Al-Hasyr: 18
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -7

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari Umar Bin Khathab RA men-
gurus kebun sampai-sampai ia tertinggal berjama’ah shalat Ashar. Maka
beliau berkata: ”Aku tertinggal berjama’ah Ashar hanya karena sepetak kebun,
kini kebunku aku jadikan shadaqah buat orang-orang miskin.” Sungguh mulia
akhlaq shahabat Umar, hanya karena tertinggal shalat Ashar ia memberik-
an sanksi yang begitu besar. Tidakkah kita tergugah untuk meneladan-
inya?

Kelima: Mujahadah (Bersungguh-sungguh dan berusaha keras)

Tanda muttaqin sejati ialah Mujahadah artinya seluruh kemampuannya ia


kerahkan untuk melaksanakan syari’at Allah SWT, baik jiwanya, hartanya
ataupun kekuasaan dan kehormatannya. Seorang muttaqin akan ber-
usaha semaksimal mungkin beribadah kepada Allah sesuai dengan atur-
an-aturan-Nya, melaksanakan Sunnah-Sunnah-Nya, memperhatikan
keikhlasannya. Firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sung-guh mencari keridlaan Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya
Allah beserta orang yang berbuat baik.” 17
Inilah lima tanda muttaqin sejati. Sudahkah kita miliki? Insya Allah.
RABB IJ’ALNII LI AL-MUTTAQINA IMA-MA (Ya Rabbi, Jadikanlah aku
pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa). Amien.

***

17
QS. Al-Ankabut: 69
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -8

2 MA’RIFATULLAH

Umar Ibnu Khattab hari itu menelusuri lorong-lorong


perkampungan negerinya bersama shahabat Aslam.
Sebagai seorang khalifah, tugas rutin ini biasa dilakukan untuk menget-
ahui kondisi rakyat yang dipimpinnya secara langsung. Pada saat mereka
berhenti melepas lelah, terdengar olehnya seorang perempuan tua
memanggil puterinya dan terjadilah percakapan yang membuat sang khal-
ifah tertegun mengamati-nya: “Puteriku, ambilah susu itu dan campurilah
dengan sedikit air !” perintah ibunya. Anak gadis itupun menjawab; “Bu,
tidakkah ini menyalahi perintah amirul mu’minin !?” “Amirul Mu’minin ?
dia kan tidak melihat kita!” kilah ibunya. Tetapi dengan nada tegas gadis
itupun menimpalinya: “Memang Amirul mu’minin tidak melihat kita,
tetapi Allah selalu menyaksikan setiap perbuatan kita !” Akhirnya sadar-
lah perempuan tadi akan kealpaan yang telah diperbuatnya. Khalifah
Umar tertegun kagum dan menyuruh Aslam memberi tanda pada pintu
rumah keluarga itu. Ringkas cerita Umar memanggil anak lelakinya dan
menikahkannya dengan gadis tadi dan lahirlah dari mereka generasi sha-
lih ialah Umar Ibnu Abdul Aziz yang terkenal keadilan dan keshali-
hannya.
(Tarikh Umar oleh Ibnu Al-Jauzi)

***
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika -9

Ma’rifatullah adalah sikap yang merupa-kan cermin taqwa dan keimanan


yang tertanam dalam hati seorang muslim kaaffah. Kisah di atas merupakan
salah satu ilustrasi dari ma’rifatullah yang dapat menjadikan seseorang
menyadari hakikat apa yang diyakini dan dianutnya. Ma’rifat akan me-
lahirkan sikap disiplin dan rasa tanggung jawab yang besar, kapan dan di-
manapun ia berada. Sebagai konsekuensinya, ia akan mendapatkan ba-las-
an yang setimpal di dunia maupun Akhirat kelak.
Makna asal dari ma’rifat ialah pengetahuan atau mengenal dengan sangat
akrab. Sehingga bila dihubungkan dengan ma’rifatullah, maka artinya sese-
orang telah mencapai tingkat pe-ngetahuan yang tinggi yaitu mengenal
Allah lebih dekat sebagaimana digambarkan QS. Qaaf:16, “Dan sesung-
guhnya Kami telah men-ciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan
oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Akibat-
nya, setiap perbuatan yang ia lakukan merasa Allah SWT sebagai
“shahabat” yang mengawasi dirinya setiap saat dan pengawasan-Nya
melebihi pengawasan manusia, sehingga hadir dan tidaknya seseorang
tidak mempengaruhi aktifitasnya, selalu optimis, kerja keras dan bertang-
gung jawab.
Inilah konsep pengawasan dalam Islam yang lebih menitikberatkan pada
kesadaran ummatnya dalam beramal shalih dan niat ikhlas. Kesadaran
seseorang muslim mengingat Allah serta mengenal sifat-sifat-Nya yang
Maha dari segalanya ini telah dijelaskan lewat firman-firman-Nya yang
agung serta telah diberikan teladan lewat utusan-Nya yang berakhlaq mu-
lia. Dengan keimanan yang tinggi, taqwa yang melekat di hati, pencapaian
ma’rifatullah akan terangkat bersama amal shalih sehingga me-nyingkap
tabir cahaya keimanan yang pada asalnya tertutup oleh sampah duniawi
yang terkadang mengotori kebeningan hati. Dengan cahaya inilah terasa
terang benderang oleh hidayah dan taufik-Nya.
Firman Allah SWT: “Allah memberi cahaya kepada langit dan bumi. Per-
umpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan bintang
yang bercahaya seperti mutiara yang dinyalakan dari pohon yang banyak
berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan barat,
minyaknya saja hampir-hampir me-nerangi walau tidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya. Allah membimbing kepada caha-yanya siapa yang dikehendaki dan
Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Allah Maha mengetahui segala se-
suatu.” 18 Inilah yang menurut Imam Ghazali sebagai “Kasyf” yaitu proses
tersingkapnya mata hati dari noda dan dosa yang mengotorinya.
Menurut Prof. Dr. Hamka, bila seseorang telah beragama dan mengenal
Tuhannya, ma-ka akan timbul beberapa sifat dan sikap hidup dalam dir-
inya yaitu;

18
QS. An-Nur:35
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 10

Pertama; Al-haya, ialah sifat malu melakukan perbuatan kotor dan jahat.
Sebelum ia melakukan sesuatu perbuatan yang meragukan hatinya, maka
dengan pertimbangan rasa malunya ia akan memutuskan. Bila akan men-
imbulkan celaan dan buah bibir orang, tidak ia lakukan karena malu yang
beralasan. Karena-nya Rasulullah SAW menyatakan bahwa “Malu
merupakan bagian dari iman.”

Kedua; Al-Amanah, yaitu terpercaya bila diserahi tugas atau jabatan ter-
tentu. Bila ma-nusia diserahi “tugas” oleh Sang Pencipta untuk beribadah
dan melaksanakan setiap perbuatannya19 maka dengan penuh amanat dan
rasa tanggung jawab ia akan berusaha melaksanakannya. Demikian juga
dengan tugas yang dibebankan oleh sesamanya. Sehingga tidak akan ter-
jadi penyalahgunaan wewenang dan jabatan.

Ketiga, Ash-Shiddiq, yaitu berlaku jujur dan benar, inilah modal seseorang
bila ingin mendapat penghargaan sesamanya. Bila sudah terjerumus pada
dusta dan bohong maka kepercayaanpun akan sirna dan jadilah ia ma-
nusia yang terhina, bahkan Solon -seorang ahli politik Yunani memberlak-
ukan hukuman bu-nuh kepada rakyatnya yang berdusta sekecil apapun.20

Metode Mencapai Ma’rifat

Setelah memahami fungsi dan hakikat dari ma’rifatullah bagi kehidupan


manusia, terutama bagi para pelaksana pembangunan yang membutuhkan
manusia berkualitas dan ber-kepribadian al-haya, al-amanah serta ash-shid-
diq, maka penanaman ma’rifatullah itu sudah selayaknya digalakan sebagai
manifestasi taq-wa yang merupakan tujuan pendidikan bangsa.
Imam Ibnu Al-Qayyim dalam kitabnya “Al-Fawa-id” mengemukakan
jalan menuju ma’ri-fatullah untuk membentuk insan kamil yang diharapkan.
Thariqah pertama ; dengan mengenali seluruh ciptaan Allah SWT, mend-
alaminya serta mengungkap hikmah di balik setiap kejadian alam yang
pada hakikatnya adalah tanda ke-kuasaan-Nya. Dengan langkah ini akan
me-numbuhkan sikap ta’zhim dan taqarub yaitu kagum dan lebih
mendekatkan diri kepada-Nya. Firman Allah SWT: “Kami akan memperli-
hatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri
me-reka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa sesungguhnya Ia adalah
benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu.” 21
Pendekatan lewat ilmu pengetahuan alam dan makhluk ini akan benar-
benar meyakinkan kita kepada kemahakuasaan dan kemahasempurnaan
19
QS. 51:56
20
Tasawuf Modern, 1983:75
21
QS. 41:53
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 11

Allah SWT, sebagaimana banyaknya para ilmuan yang menemukan hi-


dayah lewat penelitian dan pengkajian alam.
Dr. Muhammad al-Khatib seorang ilmuan mengemukakan dalam bukun-
ya “Al-Islam Wal ‘Ilmu, Nadzaratun Mu’jizah” (Sains dan Islam, Kemu’j-
izatan Dunia).
“Untuk meyakinkan kita mengenal Allah SWT, saya tidak perlu menyuruh anda
melengkapi laboratorium dengan berpuluh-puluh per-kakas dan peralatan yang
paling canggih. Tidak perlu mengajak anda menjelajahi ruang angkasa dalam se-
buah pesawat atau menyelam ke dalam lautan dalam sebuah kapal. Dan tidak ter-
lalu penting anda mempelajari buku-buku yang pernah ditulis, baik orang dulu
maupun sekarang. Semua itu tidak perlu kalau hanya untuk mengetahui keesaan
dan ketuhanan Dia yang Maha Pencipta. Lihat saja diri anda sen-diri. Perhatik-
anlah ujung jari anda, pangkal leher anda, perhatikan satu saja diantara persen-
dian-persendian yang terdapat dalam tubuh anda, anda pasti menemui bukti akan
adanya Allah.” 22
Thariqah kedua; membaca dan memahami firman Allah SWT yang ter-
tulis dalam Al-Quran. Kandungan Al-Quran yang menjelaskan sifat-sifat
Allah, tentang halal dan haram, ayat muhkamat dan mutasyabih serta tamsil
(per-umpamaan) yang bisa dijadikan suri teladan, bagaimana mengenal
Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Firman Allah: “Ini adalah sebuah kit-
ab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepada-mu penuh dengan berkah, supaya
mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya menjadi peringatan bagi or-
ang-orang yang berakal.” 23
Dalam sejarah, diceritakan betapa besar esensi Al-Quran memberi
pengaruh pada kehidupan seseorang, seperti kisah masuk Islamnya Umar
Ibn Khatab RA setelah dia mende-ngar Fatimah adiknya membacakan sur-
at Thaha:1-8, sehingga merubah haluan hidupnya menjadi seorang muslim
sejati. Hal ini termaktub dalam firman Allah SWT: “Dan apabila mereka
mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad) Kami melihat
mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah
mereka ketahui, seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, kami telah beriman, maka cata-
tlah kami menjadi orang-orang yang bersaksi (atas kebenaran Al-Quran dan ken-
abian Muhammad SAW).” 24
Inilah dua jalan mencapai tingkat ma’ri-fatullah. Proses pencapaian ini
tidak akan berhasil tanpa adanya kesabaran sikap pribadi muslim yang
mengakui sepenuhnya posisi dan tugas dirinya, karena manusia diberi po-
tensi akal dan penalaran, untuk menimbang apa yang terbaik bagi ke-
hidupannya serta memutuskan bagaimana seharusnya berbuat.
Kekuatan ma’rifatullah ini akan membentuk sosok pribadi muslim
paripurna yang bertanggung jawab atas amanat Allah SWT kepada setiap

22
1985:10
23
QS.36:29
24
QS. 5:83
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 12

manusia, sehingga terlihat kualitas ke-imanan yang ada dalam hatinya.


Firman Allah SWT : “Maha suci Allah yang ditangan-Nya lah segala kerajaan
dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa diantara ka-mu yang lebih baik amalannya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” 25
Tinggallah ummat Islam belajar dari penga-laman spiritual tadi dan men-
gikuti proses pencapaian ma’rifat dengan thariqat yang benar dan cermat
sehingga akan membentuk insan kamil (manusia seutuhnya) yang memiliki
ke-pribadian muslim kaffah.

***

3 AL-HAYA

Al-haya artinya malu, tapi malu bukan karena rasa bersalah atau sebab
lain yang disebabkan perasaan jelek. Al-haya adalah malu yang didorong
oleh rasa hormat dan segan terhadap sesuatu yang dipandang dapat
membuat dirinya terhina. Jika seseorang hendak melakukan sesuatu per-
buatan tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena terdapat akibat
jelek yang bisa menurunkan harkat dirinya dimata orang yang dihormati,
maka dia telah memiliki sifat Al-haya. Inilah salah satu sikap yang
merupakan cerminan akhlaq malu dalam hatinya.
Namun, tentu saja malu setiap orang berbeda sesuai dengan tingkatan
keyakinan (ke-imanan) yang dimilikinya akan sesuatu yang dijadikan ob-
jek malu tersebut. Bahkan seseorang bisa saja menjadikan objek malu yang
salah dan menyesatkan atau membawanya ke-pada riya dan syirik.
Sebuah riwayat menceritakan, ketika Zulaikha hendak melakukan maksiat
kepada Yusuf AS, dia melihat patung di sekelilingnya terbuka, kemudian
dia menutupinya dengan kain. Lalu Yusuf bertanya, “Mengapa patung-pa-
tung itu ditutupi ?” Jawab Zulaikha; “Aku malu bila perbuatan maksiat ini di-

25
QS. 67:1-2
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 13

lihat oleh tuhan-tuhanku.” Dalam hal ini, malu ditempatkan pada sesuatu
yang menyesatkan, sehingga maknanya menjadi lain.
Dalam Islam, Al-haya termasuk akhlaqul karimah yang amat luhur, ter-
utama bila sudah mencapai tingkat malu yang paling tinggi. Sifat malu
lahir ketika manusia mengalami penga-laman beragama dan menjalani ih-
san sebagai puncak pengabdian manusia terhadap Khaliq-nya.
Al-haya adalah bagian iman yang utama. Sabda Rasulullah SAW: “Malu
dan diam adalah cabang dari iman, sedangkan keji dan keras (banyak omong)
adalah cabang dari nifaq.” 26
Hadits lain menyebutkan, sabda Rasulullah SAW; “Malu adalah bagian dari
iman, dan iman membawanya ke dalam surga, sedangkan kekejian adalah perkara
kotor yang tempatnya adalah di neraka.” 27
Keutamaan Al-haya ini banyak dikemuka-kan oleh para ahli hikmah yang
memandang bahwa malu merupakan pangkal kebahagiaan seseorang.
Karena dengan sifat malu, dia akan berhati-hati dalam setiap amaliahnya.
Malu adalah salah satu bentuk ihsan yang artinya keyakinan kita ketika
melaksanakan ibadah seakan kita melihat Allah SWT dan Dia menyaksik-
an perbuatan kita sekecil apapun. Salah sebuah Hadits mengingatkan kita,
sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya yang menjadi peringatan Nabi-Nabi
terdahulu kepada ma-nusia ialah, apabila kamu tidak punya rasa malu, maka lak-
ukanlah apa yang kamu kehendaki sesukamu.” 28
Hadits ini menunjukkan akan keutamaan Al-haya sebagai ajaran yang did-
a’wahkan se-tiap para utusan Allah. Maka setiap mujahid da’wah,
selayaknya memahami hakikat Al-haya ini, supaya manusia mengerti fung-
si dan peran Al-haya dalam kehidupannya. Hadits di atas mengisyaratkan
juga bahwa bila rasa malu telah hilang dalam hati seseorang, maka alamat
dia telah terjerumus menjadi manusia yang hilang akalnya, sehingga ber-
buat sesuka hatinya tanpa mengindahkan lagi aturan Allah SWT maupun
kehormatan dirinya. Na’udzubillahi Min Dzalik.

Pembagian Al-haya

Sebagai penjelasan makna Al-haya ini, Imam Al-Mawardi membagi jenis


Al-haya men-jadi tiga bagian. Pertama, malu terhadap Allah SWT. Kedua,
malu terhadap manusia, dan Ketiga, malu terhadap diri sendiri. Ketiga ba-
gian ini menunjukkan tingkatan malu berdasarkan faktor pendorongnya.

Tingkatan Pertama, malunya seseorang terhadap Allah SWT ialah jenis


malu yang pa-ling tinggi, dimana seorang hamba merasa bahwa dirinya
disaksikan, sehingga secara sadar dia melaksanakan setiap perintah Allah
26
HR. Hassan Ibnu Athiah dari Abi Umamah
27
HR. Abu Salamah dari Abu Hurairah RA
28
HR. Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud RA
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 14

SWT serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Sebagaimana sebuah Hadits


dari Ibnu Mas’ud RA, sabda Rasulullah SAW: “Malulah kalian terhadap Al-
lah SWT sebenar-benarnya malu.” Kemudian shahabat bertanya: “Bagaimana
cara kita malu terhadap Allah yang sebenar-benarnya itu?” Rasulullah SAW
menjawab: “Barangsiapa yang memelihara kepala dan apa yang di dalamnya
menjaga perut dan isinya serta meninggalkan hiasan kehidupan dunia, men-
gingat mati dan kesusahan, maka dia telah malu terhadap Allah dengan sebenar-
benar-nya.”
Penjelasan ini cukup menjadi peringatan bagi kita akan sikap malu kita
terhadap Allah SWT, sudahkah kita memilikinya?
Banyak lagi Hadits lainnya, bahkan sebuah Hadits menyebutkan; “Barang-
siapa yang sedi-kit rasa malunya, maka dia telah kufur.” Maksudnya ialah,
sedikit malunya terhadap Allah, dimana dia tidak pernah melaksanakan
hak-hak Allah atau lalai terhadap kewajibannya sebagai hamba-Nya.

Tingkatan Kedua ialah malu terhadap manusia. Maksudnya, ketika kita


akan bermaksud jelek, kemudian ada perasaan bahwa jika perbuatan tadi
dilihat oleh sesama manusia akan menimbulkan kejelekan di mata mereka.
Namun, bukan berarti kita menyekutukan Allah dengan manusia, tetapi
malu dalam hal ini sebagai manifestasi taqwa kita terhadap Allah SWT,
seperti dijelaskan dalam sebuah riwayat; “Bagian dari taqwa kepada Allah ia-
lah berhati-hati dari manusia.”
Dalam riwayat lain diceritakan, suatu hari Hudzaifah Bin Al-Yamani ter-
lambat shalat Jum’at, dimana orang-orang telah selesai. Kemudian dia ber-
paling dari jalan orang-orang yang selesai shalat Jum’at. Dia berkata;
“Ada-lah bukan suatu kebaikan barangsiapa yang tidak malu terhadap manusia.”
Malu terhadap manusia semakna dengan muru-ah yaitu sifat menjaga ke-
hormatan diri di hadapan manusia. Sya’ir Arab menyebutkan; “Barang-
siapa yang tidak menjaga perbuatannya, tidak takut kepada Khaliq dan tidak me-
rasa malu terhadap makhluq, maka lakukanlah apa yang kamu mau.”

Tingkatan Ketiga adalah malu terhadap diri sendiri yaitu sifat iffah,
artinya memelihara kebersihan jiwa dari sifat tercela meskipun dalam
keadaan menyendiri. Para ahli hikmah ber-kata; “Barangsiapa melakukan
perbuatan dalam sunyi yang apabila perbuatan itu dilakukan dalam keramaian
dia merasa malu, maka telah hilang kemuliaan darinya.” 29
Al-haya merupakan ciri seorang yang selalu dekat dengan Allah SWT
(muraqabah). Karena amat dekatnya dia dengan Allah SWT sehingga ia
yakin akan sifat Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar seluruh
perbuatannya, baik lahir maupun batin. Firman Allah:

29
Adabud Dun-ya Wad Din:242
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 15

“Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia dan Kami mengetahui apa yang
dibisikkan oleh jiwanya dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” 30
Kesadaran inilah yang mendorong manusia beramal shalih dimanapun
dan kapanpun. Ma-ka seorang mujahid sudah seharusnya berusaha
dengan sungguh-sungguh memelihara sifat malu, sehingga tetap berada
dalam keri-dlaan Allah SWT. Karena dengan demikian, tugasnya menyer-
ukan Al-haq telah terpenuhi, baik bagi dirinya sendiri maupun sesama
muslim lainnya.
Rasulullah SAW sendiri memberi teladan sifat malu, sebagaimana diri-
wayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry; “Adalah Rasulullah SAW lebih pemalu
daripada gadis pingitan. Tetapi bila terjadi sesuatu yang tidak disukainya, kami
dapat mengetahuinya dari raut wajahnya.” 31
Sifat malu lahir dari dua dorongan, sebagai-mana dikemukakan Abul
Qasim (Junaid); “Malu itu timbul karena memandang budi kebaikan dan meli-
hat kekurangan diri.” Memang, dengan menyadari kekurangan diri dalam
hal amal kebaikan itu akan menjadi motivasi mem-perbaiki perbuatan
kita, sebagaimana akhlaq dan perilaku Nabi-Nabi terdahulu. Firman Allah
SWT: “Sesungguhnya mereka itu bersegera dalam kebaikan dan mereka memohon
kepada Allah dengan pengharapan dan ketakutan, dan mereka berserah diri
dengan khusyu’ kepada Kami.” 32

Wallahu A’lam Bis-Shawwab

***

30
QS. 50:16
31
HR. Al-Bukhari & Muslim
32
QS. 21:90
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 16

4
IKHLAS
Allah SWT berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Akulah sebaik-baiknya sekutu (teman). Barang siapa mempersekutukan Aku ber-
sama yang lain, ia akan
diserahkan kepada sekutu itu. Wahai sekalian manusia, beramallah kalian dengan
ikhlas karena Allah.
Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal
seseorang kecuali amal yang berdasarkan ikhlas karena-Nya. Janganlah kalian
mengucapkan “ini demi Allah dan demi kekerabatan“, perbuatan itu akan men-
jadi karena kekerabatan saja dan tidak sedikitpun karena Allah.
Dan jangan pula kalian mengucapkan “ini demi Allah dan demi pemimpin kali-
an.” Amalan seperti itu hanya untuk kehormatan/pemimpin kalian saja,
dan bukan karena Allah.”
(HR. Al-Bazzar dari Adh-Dhahak).
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 17

***

Imam Abu Zakaria Yahya Ibn Syarf An-Nawawi dalam kitabnya ‘Riy-
adhusshalihin’ menempatkan masalah ikhlas pada bab pertama,
mengawali masalah lainnya yang tidak kalah penting. Namun, tentu saja
penempatan itu mengandung maksud, bahwa ikhlas merupakan amal
yang paling mendasar untuk di-ketahui dan dihayati maknanya.
Barangkali pandangannya terhadap esensi ikhlas tidak jauh berbeda
dengan ulama lainnya seperti Hujatul Islam Imam Al-Ghazali, Ibnul Qay-
im Al-Jauziah dan para Salafusshalih lainnya yang menjadikan masalah
ikhlas sebagai amaliah yang patut mendapatkan perhatian sungguh-sung-
guh dari setiap pribadi muslim. Karena tanpa itu, semua perbuatan kita
tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT.
Sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Hadits Qudsi di atas yang men-
gingatkan kita bahwa Allah hanya menerima amal yang didasari oleh ikh-
las semata karena-Nya. Untuk itu, ada baiknya bila kita merenungi kem-
bali beberapa firman Allah dan sabda Rasulullah SAW tentang ikhlas ini
yang diperjelas juga oleh manhaj para ulama salaf, sehingga kita dapat
menerapkan akhlaq ikhlas ini dalam beramal.

Ikhlas dan Aplikasinya

Ikhlas artinya membersihkan maksud dan motivasi bertaqarrub kepada Al-


lah dari berbagai maksud dan niat lain. Atau mengesakan hanya Allah-lah
sebagai tujuan dalam berbuat kebajikan, yaitu dengan menjauhi dan
menga-baikan pandangan mahluk serta tujuan kedu-niaan dan senantiasa
berkonsentrasi kepada Allah semata. Demikian Dr. Ahmad Faridl me-
nyimpulkan dari berbagai definisi para ulama di antaranya Imam Al-
Ghazali, Imam Ibnu Razaq Al-Hambali dan Ibnul Qayim Al-Jauziah.33
Pengertian ini selaras dengan pemahaman ulama lainnya seperti Ar-
Raghib dan Abdul Qa-sim Al-Qusyairi yang menyebutkan bahwa ikhlas
adalah menjadikan satu tujuan dalam menjalankan Al-Haq hanya kepada
Allah SWT serta menjauhi maksud selain Allah. yaitu dorongan-dorongan
hawa nafsu atau meng-harap pujian manusia.
Dalam Al-Quran disebutkan lebih kurang 24 tempat yang menjelaskan
ikhlas ini, bahkan dalam QS. Az-Zumar diulang sampai empat kali dan
dalam QS. As-Shaffat sampai lima ayat yang menjelaskan ikhlas dan
keutamaannya. Setiap ayat tersebut menegaskan bahwa ikhlas merupakan
syarat pertama diterimanya amal manusia seperti tercantum dalam fir-

33
Tazkiyatun Nufus: 1
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 18

man-Nya: “Sesungguhnya kamu pasti akan merasa-kan adzab yang pedih, dan
kamu tidak diberi balasan kecuali atas kejahatan yang telah kamu perbuat. Dan
hamba-hamba Allah yang meng-ikhlaskan diri (dalam menjauhi dosa), mereka
mendapat rizqi yang ditentukan.” 34 Ayat ini mengisyaratkan bahwa amal
yang disertai de-ngan keikhlasan akan mendapat balasan yang berlipat
ganda, sementara mereka yang mempunyai niat jahat, juga akan mener-
ima balasan kejelekannya. Allah SWT memang memberi keutamaan dalam
akhlaq ikhlas ini. Bukankah salah satu surat di dalam Al-Quran diberi
nama Al-Ikhlas. Ini menunjukan bahwa ikhlas merupakan akhlaq utama
dalam menjalankan ke-taatan kepada Allah SWT sebagaimana dijelaskan
dalam surat Al-Ikhlas yang berisi tauhid yang menjadi dasar keyakinan
ummat Islam.
Sayid Muhammad Ibnu Alwy Ibnu Abbas Al-Maliki Al-Makky Al-Hasani
dalam kitabnya “Qul Hadzihi Sabili,” memasukkan ikhlas sebagai Al-
Manjiyyat yaitu sesuatu yang dapat memberi keselamatan kepada siapa
saja yang mengamalkannya. Ikhlas menurutnya identik dengan Iman,
sambil mengutip QS. 17: 19 yang artinya, “Dan barang siapa yang meng-
hendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh
sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya
dibalas dengan baik.”
Ayat ini juga memberikan pemahaman bah-wa motivasi orang yang beri-
man (baca: ikhlas) adalah kehidupan Akhirat serta bersungguh-sungguh
untuk meraihnya.
Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Ikhlaslah dalam men-
jalankan agamamu, pasti kamu mendapatkan balasan wal-au amal sekecil apa-
pun.” Ketika beliau ditanya “Apa yang dimaksud iman ?”, Nabi menjawab: ”Ia-
lah ikhlas karena Allah,.” lalu sabdanya: ”Allah tidak akan menerima semua
amal kecu-ali disertai keikhlasan kepada-Nya serta meng-harap keridlaan-Nya
semata.” 35
Ibnu Alwy memberi batasan Mukhlis (orang ikhlas) yaitu apabila ia melak-
ukan ataupun meninggalkan sesuatu perbuatan, baik dalam sunyi
ataupun banyak orang tetap menyandarkan tujuannya hanya kepada Al-
lah, tanpa men-campuradukkan dengan maksud lain, misalnya karena
hawa nafsu atau keduniaan (harta, tah-ta, wanita). Dan jika dia berniat
disamping Allah juga karena manusia, maka dia termasuk Raiy yaitu or-
ang yang berbuat riya dan amalnya tidak akan diterima. Apabila dia be-
ramal karena manusia semata, maka dia telah terjerumus ke dalam ke-
binasaan dan riyanya telah mencapai tingkat Munafiq, na’udzubillahi min
dzalik. 36

34
QS. 31: 41
35
HR. An-Nasai
36
hal. 121
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 19

Imam Al-Ghazali juga mengemukakan tentang pertarungan antara ikhlas


dan riya ini dan membaginya menjadi tiga jenis dorongan dan akibatnya,
(1) Jika pendorong amalnya (ikhlas) sama kuat dengan dorongan nafsun-
ya, maka kedua-duanya harus digugurkan dan jadilah amalnya tidak ber-
pahala dan juga tidak berdosa.
(2) Jika dorongan riya lebih kuat dan me-nang, jadilah amalannya tidak
bermanfaat, malah mengakibatkan adzab baginya. Siksaan dalam kondisi
seperti ini lebih ringan dibanding amal yang semata-mata riya.
(3) Jika niat bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah lebih kuat
dibanding dengan yang lainnya, maka ia mendapat pahala dari
kekuatannya memelihara keikhlasan tadi.37

Memperhatikan uraian di atas, kita dapat memahami bahwa keikhlasan


patut dipelihara dari sifat-sifat yang mengotorinya seperti riya., ujub (mer-
asa bangga akan perbuatannya), takabbur bahkan syirik sekecil apapun.
Rasulullah SAW pernah memperingatkan ummatnya akan syirik ini, sab-
danya: “Sesung-guhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian
ialah syirik yang paling kecil.” Para shahabat bertanya; “Apakah yang disebut
syirik yang paling kecil itu ?” Beliau menjawab; “Riya“, Allah berfirman pada
Hari Kiamat ketika memberikan balasan terhadap manusia menurut per-
buatannya: “Pergilah kamu sekalian kepada sesuatu yang dijadikan tempat mem-
perlihatkan amal kamu di dunia, maka tunggulah apakah kamu menerima balas-
an dari mereka itu.” 38
Sehubungan dengan masalah ini, Imam Ibnul Qayim Al-Jauziah dalam
“Al-Fawaid“ men-jelaskan: “Ikhlas dan tauhid adalah pohonnya hati, sedang
amal adalah cabangnya, dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan
mendapat tempat yang menyenangkan di Akhirat kelak. Dan syirik, dusta serta
riya sebagai pohonnya hati, maka buahnya rasa takut, was-was, gelisah dan
sempit jiwanya serta gelap hatinya di dunia, kelak di Akhirat ia men-dapat adzab
yang pedih. Demikianlah ta’wil dari perumpamaan dua pohon dalam QS.
Ibrahim: 26.” 39.
Inilah salah satu makna dan hakikat ikhlas yang memiliki keutamaan serta
selalu mendapat tantangan dari sifat yang dihembuskan sye-tan. Hanya
orang-orang yang kuat imanlah yang akan mampu menghadapi tantangan
tadi. Mereka melaksanakan ikhlas tidak hanya di mulut, tetapi juga dalam
penghayatan yang mendalam sebagai bukti nyata dari ikrar yang selalu
kita ucapkan “Innaa Shalatii Wanusukii wa mahyaaya wa mamaatii Lillahi
Rabbil ‘Alamiin.” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku,
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam).

37
Ihya 1V:372
38
HR. Ahmad dari Mahmud Bin Labid
39
hal. 214
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 20

Apabila kita membuka kembali kisah-kisah para auliyaurrahman serta pen-


jelasan para ulama salaf, maka akan kita temukan mutiara hikmah yang
merupakan cerminan sifat ikhlas yang mereka miliki. Di antaranya kisah
Khalid Bin Walid ketika diangkat menjadi panglima jihad fi sabilillah. Sete-
lah sekian lama dia me-mimpin pasukannya melawan musuh-musuh Is-
lam dan telah banyak meraih kemenangan yang gemilang, tanpa diduga
Khalifah Umar Bin Khattab mengirim surat penggantian ja-batannya seba-
gai panglima, padahal saat itu dia sedang memimpin perang Yarmuk
melawan tentara Romawi. Namun karena sifatnya yang terpuji, dengan
penuh keikhlasan dia menyerahkan jabatannya kepada penggantinya Abu
Ubaidah. Demikian luhur akhlaqnya, ia berjihad bukan karena Umar atau
tujuan lainnya selain Allah SWT, sehingga walaupun telah turun
jabatannya, ia terus melanjutkan jihad fisabilillah dengan sempurna.
Suatu hari Mu’adz Bin Jabal RA meminta nasehat kepada Rasulullah SAW
sewaktu dia akan diutus ke Yaman. Katanya; “Wahai Rasulullah SAW,
berilah aku nasehat,” Rasul ber-sabda; “Ikhlaslah dalam agamamu, meskipun
kerjamu sedikit.” 40
Pada kesempatan lain, Mu’adz menangis di sisi kuburan Nabi, ketika
Umar melihatnya ia menegurnya “Ada apa, kenapa kamu mena-ngis?“
Mu’adz menjawab; “Aku teringat sebuah sabda Rasulullah SAW: “Sekecil apa-
pun dari riya adalah termasuk kemusyrikan. Barang siapa yang memusuhi para
wali Allah, maka ia telah menantang kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencin-
tai orang-orang yang berbuat ba-ik, orang-orang yang bertaqwa dan orang yang
bersembunyi yaitu jika mereka tidak hadir, tidak dicari orang, dan bila mereka
hadir, tidak dikenal. Hati mereka adalah lampu-lampu petunjuk, mereka ter-
selamatkan dari setiap bencana kegelapan.” 41
Nasehat Rasulullah SAW kepada Mu’adz ini mengandung pelajaran yang
berharga bagi kita, antara lain mengungkap tiga sifat dan sikap para
Mukhlishin yaitu:
1. Selalu berbuat baik walaupun manusia membenci kebaikan yang dia per-
buat. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya: ”Maka sembahlah Allah
dengan seikhlas-ikhlasnya beribadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir
tidak menyukainya.” 42
2. Mendasari setiap amal shalihnya dengan taqwa dan iman kepada Allah
SWT.
3. Sikapnya berbuat baik tidak ingin dilihat atau dipuji manusia, ia bersem-
bunyi di balik amal shalihnya. Ya’kub AS pernah mengatakan: ”Orang
yang ikhlas ialah orang yang menyembunyikan kebajikannya sebagaima-na ia
menyembunyikan keburukan-keburuk-annya.”

40
HR. Al-Hakim
41
HR. Al-Hakim
42
QS. 40: 14
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 21

Sebagai upaya membina terwujudnya ke-ikhlasan yang mantap dalam hati


setiap mu’-min, sudah selayaknya kita memperhatikan beberapa hal yang
dapat memelihara ikhlas dari penyakit-penyakit hati yang selalu mengin-
tai kita, di antaranya:
Pertama, dengan meyakini bahwa setiap amal yang kita perbuat, baik lahir
maupun batin, sekecil apapun, selalu dilihat dan dide-ngar Allah SWT dan
kelak Dia memperlihatkan seluruh gerakan dan bisikan hati tanpa ada
yang terlewatkan. Kemudian kita menerima balasan atas perbuatan-per-
buatan tadi. Firman Allah: “Barang siapa yang beramal kebajikan sebesar debu,
pahala kebajikannya itulah yang akan dilihatnya. Dan barang siapa yang berbuat
kejahatan sebesar debu, maka siksa kejahatannya itulah yang akan dilihatnya
kelak.” 43
Dan yang sering tidak kita sadari adalah penyimpangan niat dari ikhlas
lillahi Ta’ala menjadi riya. Dalam hadis Qudsi dikemukakan: ”Kelak pada
Hari Kiamat akan didatangkan beberapa buku catatan amal yang telah disegel.
Lalu dihadapkan kepada Allah SWT tetapi kemudian Dia berfirman: ”Buanglah
semua buku-buku ini !” Malaikatpun berkata: ”Demi kekuasaan-Mu, kami tidak
melihat didalamnya selain kebaikannya saja.” Lalu Allah berfirman; “Se-sung-
guhnya amalan yang memenuhinya dilakukan bukan karena Aku, dan Aku tidak
menerima kecuali apa yang dilakukan karena mencari keridlaan-Ku.” 44

Kedua, memahami makna dan hakikat ikhlas serta meluruskan niat dalam
beribadah hanya kepada Allah dan mencari keridlaan-Nya semata, setelah
yakin perbuatan kita sejalan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Maka ketika niat kita menyimpang dari keikhlasan, kembalikanlah kepada
keimanan dan ke-taqwaan serta segeralah mensucikan diri de-ngan ber-
taubat dan meluruskan kembali niat baik tadi. Firman Allah: “Kecuali or-
ang-orang yang bertaubat dan memperbaiki amal mereka serta berpegang teguh
kepada agama Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah,
maka mereka itu adalah bersama orang yang beriman dan kelak Allah memberik-
an kepada orang yang beriman pahala yang besar.” 45
Imam Yahya An-Nawawi membagi amal baik berdasarkan niatnya kepada
tiga macam,
(1). Amal hamba sahaya, apabila kita me-lakukan perbuatan baik karena
merasa takut akan adzab dari Allah.
(2). Amal Saudagar, yaitu jika kita beramal karena mengharapkan pahala
dan surga dari Allah SWT.
(3). Amal manusia merdeka, yaitu beramal sebagai bukti keikhlasan kita
kepada Allah SWT serta rasa syukur dengan menyadari akan kewajiban

43
QS. 99: 7-8
44
HQR. Al-Bazzar & at-Tabrani
45
QS 4; 146
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 22

untuk beribadah kepada-Nya dan inilah tingkatan amal baik yang paling
tinggi dalam pandangan Allah SWT.46

Ketiga, Berusaha membersihkan hati dari sifat yang mengotorinya seperti


riya, sum’ah, nifaq atau bentuk syirik lainnya sekecil apapun. Allah berfir-
man: ”Barang siapa yang berharap menemui Rabb-nya, hendaklah ia menger-
jakan perbuatan baik dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada
Rabb-nya dengan sesuatu apapun.“ 47 Kehati-hatian ini sebagai cerminan
sikap ikhlas kita, meskipun tidak jarang kita khilaf dan menyimpang dari
niat semula. Namun, dengan memahami seluk beluk penyakit hati ini, di-
harapkan kita dapat mengambil sikap yang benar.
Fudlail Bin ‘Iyadl mengatakan: “Meninggal-kan amal karena manusia adalah
riya, sedang beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah
menyelamatkanmu dari kedua pe-nyakit tersebut.”

Keempat, Memohon petunjuk kepada Allah agar menetapkan hati kita


dalam ikhlas. Ka-rena hanya Dia-lah yang berkuasa menurunkan hidayah
dan menyelamatkan kita dari godaan syetan yang selalu menghembuskan
kejahatan yang dapat membinasakan manusia. Tidak sedikit manusia
yang terjerumus pada riya dan syirik yang tersembunyi, sebagaimana
diperi-ngatkan dalam Hadits Nabi SAW, sabdanya: ”Barangsiapa yang
shalat dengan riya, sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan barang siapa
yang shaum dengan riya, sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan demikian
juga, barangsiapa yang bersedekah dengan riya sesungguhnya ia telah melakukan
syirik, karena Allah ‘azza wajalla berfirman (dalam Hadits Qudsi): ”Aku adalah
penentu yang terbaik bagi orang yang telah menyekutukan sesuatu de-ngan-Ku.
Amal perbuatannya sedikit maupun banyak bagi yang disekutukannya sedang
Aku sama sekali tidak perlu padanya.” 48
Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai pribadi muslim untuk terus
memelihara keikhlasan dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dan
menjauhkan diri dari sifat-sifat yang mengotorinya. Hanya kepada-Nyalah
kita berserah diri dan memohon petunjuk-Nya.
Ya Muqollib Al-Qulub, Tsabbit Quluubanaa ‘ala diiniKa, Ashbahnaa ‘ala fitratil
Islam Wa-kalimatil Ikhlash Wa ‘Ala dini Nabiyina Muhammad Sallallau’alaihi
wasallam, wa’alaa millati abiinaa Ibrahiima haniifaa, wamaa kaanaa minal
musyrikiin. “
(Ya Allah yang berkuasa membolak-balik-kan hati manusia, tetapkanlah
hati kami dalam agama. Jadikanlah kami dalam fitrah Islam dan teg-
uhkanlah kami dalam prinsip keikhlasan, berpegang teguh kepada agama

46
Hadits Qudsi, 1988: 277
47
QS. 18: 110
48
HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tabrani dalam “Al-Mu’jam Al-Kabir
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 23

Nabi kami, Muhammad SAW, juga millah Ibrahim dengan setulus hati.
Dan Ibrahim itu bukan dari golo-ngan orang musyrik ).

***

5
SHABAR

Dr. Yusuf El-Qardhawi menulis sebuah buku dengan judul “Ashabru fil-
Quran Al-Karim” (Shabar dalam Al-Quran), Me-ngungkap secara luas dan
terperinci makna shabar serta aplikasinya dalam kehidupan mus-lim, kar-
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 24

ena tanpa memahami makna shabar yang sesungguhnya, maka sulit men-
getahui seseorang disebut penyabar, atau sudah adakah sifat shabar pada
diri kita, sehingga tercermin dalam perilaku nyata dan kehidupan sehari-
hari.
Shabar merupakan perbuatan batin yang hanya Allah-lah yang menget-
ahuinya. Namun sebagai akhlaq, tentu shabar harus dapat terdefinisi
dalam amal badani sehingga dapat dilaksanakan. Untuk itu, Allah SWT
mengutus para Rasul sebagai figur dan contoh teladan setiap ummat
dalam perilaku dan akhlaq baik yang zhahir maupun batin.
Firman Allah: ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu ada pelajaran bagi
kaum yang berpikir. Bukanlah itu suatu hal yang dibuat-buat, akan tetapi mem-
benarkan yang terdahulu dan perincian terhadap segala sesuatu serta sebagai pe-
tunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” 49
Mengingat pentingnya manusia memiliki figur hidup untuk mencapai ke-
bahagiaan dunia dan Akhirat, maka dalam hal shabar-pun Allah men-
jadikan beberapa orang utusannya sebagai figur manusia shabar yaitu
mereka yang dijuluki Ulul ‘Azmi (orang-orang yang tabah mengha-dapi
cobaan).

Siapa Ulul ‘Azmi ?

Para mufassirin berbeda dalam menentukan nama para rasul yang direbut
Ulul ‘Azmi ini. Ibnu Abbas dalam “Tanwirul Miqbas” nya membagi dua
kriteria Ulul ‘Azmi, sesuai de-ngan penafsirannya. Al-’Azmi mempunyai
dua makna.
Pertama, Para rasul yang memiliki keteguhan dalam mempertahankan
kebenaran Tauhid, sehingga melakukan perlawanan bersama pengikut-
nya. Misalnya Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, dan Isa AS.
Kedua, Al-’Azmi berarti para rasul yang tabah menjalani cobaan baik lang-
sung dari Allah SWT atau siksaan kaum kafir yang menentang ajarannya,
seperti Nabi Ayyub AS, Nabi Zakaria AS, dan Nabi Yahya AS. 50
Dalam hal ini Ibnu Abbas tidak menentukan nama para rasul yang termas-
uk Ulul ‘Azmi ini, tetapi berdasarkan jenis cobaan yang me-nimpanya.
Lain lagi dengan penafsiran Ibnu Katsir yang melihat dari makna kalimat
‘Min Ar-Rusuli” pada ayat di atas.51 Dia mengemukakan dua pendapat,
Pertama, “Min” berarti Lit- Tab-’iedh, maksudnya hanya menunjukan seba-
gian saja dari para rasul, yaitu lima orang rasul.
Sedangkan pendapat kedua, memandang bahwa “Min” pada ayat di atas
tidak menunjukan Lit-tab’iedh tapi Libayanil-jinsi, artinya menunjukan pen-
49
QS. 12:111
50
Tanwirul Miqbas:426
51
QS. 46:35
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 25

jelasan bahwa Ulul ‘Azmi itu dari golongan para rasul bukan dari go-
longan lainnya, sehingga menurut pendapat kedua ini semua para rasul
termasuk Ulul ‘Azmi, sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah Hadits dari
Aisyah RA: “Adalah Rasulullah SAW selalu melaksanakan shaum padahal itu
membuatnya kepayahan. Kemudian pada suatu hari ia ber-sabda: “Wahai Aisyah
RA, sesungguhnya ma-salah duniawi tidak menjadi beban bagi diri Muhammad
juga bagi keluarganya. Wahai Aisyah RA, sesungguhnya Allah mencurahkan
keridlaannya kepada Ulul ‘Azmi karena keshabarannya melakukan yang ia benci
dan meninggalkan yang ia cintai, maka akupun menginginkan keridlaan Allah
dengan menerima apa yang Dia berikan sebagaimana kepada mereka.” Lalu dia
membacakan ayat di atas dan bersabda: “Demi Allah sesungguhnya aku berusaha
untuk shabar seperti mereka para rasul sesuai kemampuanku, tiada kekuatan
selain dari Allah.” 52
Sebelumnya, Ibnu Katsir mengemukakan pendapat yang paling masyhur
tentang nama-nama Ulul ‘Azmi di antaranya: Nuh AS, Ibrahim AS, Musa
AS, Isa AS dan Muhammad SAW berdasarkan QS. Al-Ahzab:7 dan QS.
Asy-Syura:13. Firman Allah: ”Dan ingatlah ke-tika Kami mengambil perjanji-
an dari para Nabi dan dari kamu (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan
Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teg-
uh.” 53,54
Imam Al-Maraghi menjelaskan dalam “Taf-sirul Mufradat“ ayat di atas
dengan mengutip bait sya’ir Imam Mujahid: “Ulul ‘Azmi Nuh wa khalilul
Mumajid... wa Muusaa wa ‘Isa wal habibu Muhammad...“ (Ulul ‘Azmi adalah
Nuh dan Khalil Ibrahim yang dimulyakan... juga Musa, Isa dan
Muhammad yang dicintai.” 55
Memang, bila dilihat dari cobaan yang me-nimpa kelima orang rasul ini
jauh lebih berat dibanding Nabi lainnya, dengan tidak me-nafikan
keshabaran seluruh para utusan Allah SWT yang tercantum dalam Al-
Quran. Maka, sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al-Quran, sudah
selayaknya kita mencontoh keshabaran seluruh para Rasul terutama yang
telah diki-sahkan dalam Al-Quran dan lebih khusus lagi menjadikan figur
Ulul ‘Azmi sebagai suri teladan dalam ketabahan mereka mempertahan-
kan ajaran tauhid.

Shabar & Fadlilahnya

Dalam Al-Quran terdapat lk. 103 kata yang berasal dari lafadz shabara
dengan berbagai bentuk dan maksudnya masing-masing.56 Imam Al-

52
HR. Ibnu Abi Hasyim & Dailami
53
QS. 33:7
54
Ibnu Katsir IV:172
55
Al-Maraghi IX, 26:38
56
Al-Mu’jamul Mufahrats:399
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 26

Ghazali mencatat dalam Ihya-nya 70 tempat dalam Al-Quran, sedangkan


Ibnul Qayim me-nyebut 90 tempat yang berkenaan dengan shabar. Ko-
mentar Abu Thalib Al-Makki dalam “Quth al-Yaum,” katanya; “Adakah
yang lebih utama daripada shabar ? Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya le-
bih dari 90 tempat, kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah seban-
yak ini kecuali shabar.”
Demikian tinggi nilai shabar dalam pandangan Allah SWT, sehingga men-
jadi akhlaq yang utama yang harus dimiliki setiap muslim. Karenanya, Al-
lah Ta’ala memberikan balasan yang amat besar, seperti dalam firman-
Nya; ”...dan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu
sambil berucap; “keselamatan atas kalian berkat keshabaran kalian, maka
alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” 57
Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi Allah SWT berfirman; “Apabila telah
kubebankan ke-malangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada
badannya, hartanya atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan shabar
yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada Hari
Kiamat atau membukakan buku catatan amalannya baginya.” 58
Shabar memang mudah diucapkan tapi sulit diterapkan dalam kehidupan
kita, apalagi menjadi akhlaq yang selamanya kita amalkan. Hal ini mun-
gkin disebabkan kurang memahami makna shabar, bahkan artinya se-
makin dipersempit hanya dalam masalah-masalah kecil saja. Padahal, bila
kita mau mengungkapkan hakikat sesungguhnya, betapa shabar mampu
memberi semangat baru dalam beramal shalih, sebagaimana firman Allah
SWT: “Sekarang Allah telah meringankan kepada-mu dan Dia telah mengetahui
bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang
shabar niscaya mereka dapat menga-lahkan dua ratus orang, dan jika di antara-
mu ada seribu orang yang shabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu
orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang shabar.” 59
Pada ayat ini Allah SWT mengemukakan kualitas keshabaran mampu
mengalahkan dua kali lipat dan pengertian shabar tidak identik dengan
menunggu seperti yang biasa kita fahami.
Dr. Yusuf Al-Qardlawi setelah mengutip beberapa ayat Al-Quran
menyimpulkan bahwa makna shabar dalam Al-Quran berarti: Menahan
diri atas sesuatu yang tidak disukai menim-pa dirinya karena mengharap ridla
Allah.60
Banyak sekali definisi yang dikemukakan para ulama seperti Ar-Rhaghib,
Dzun-Nun dan lain-lain, yang semuanya merujuk pada suatu pengertian
di atas. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menegaskan: ”Shabar ialah tetap
tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan

57
QS. 13:23-24, lihat juga QS. 76:12, 25:75, 2:153
58
HR. Al-Qudla’i, Ad-Dailami dan Al-Hakim, Turmudzi dari Anas RA
59
QS. 8:66
60
Shabar, Suatu Prinsip Gerakan Islam, 1989:4
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 27

agama ialah hidayah Allah kepada manusia untuk menge-nal-Nya, Rasul-Nya


serta mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya serta kemaslahatan-kemasla-
hatan yang bertalian dengan akibat-akibatnya. Shabar ialah sifat yang membe-
dakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang
dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dilak-
sanakan. Barangsiapa yang tegak bertahan sehingga dapat menundukkan
dorongan hawa nafsu secara terus menerus, orang tersebut termasuk golongan or-
ang yang shabar.” 61
Shabar selalu dikaitkan dengan cobaan atau ujian. Karenanya, sebelum
menjelaskan pembagian shabar terlebih dahulu harus difahami jenis co-
baan yang menimpa manusia beriman.
Dr. Abdul Qodir Abu Faris dalam bukunya “Al-Ibtila wal Mihan Fid-
Da’awaat” membagi jenis cobaan menjadi dua bagian besar.

Pertama, Ibtila Al-Fardi yaitu cobaan yang Allah berikan langsung kepada
individu guna menguji keimanan dan ketabahannya.62 Seper-ti yang men-
impa Ayub AS dengan penyakit yang berat. Jenis cobaan ini meliputi tiga
bentuk antara lain:

a) Cobaan badaniah dan rohaniah berupa penyakit, luka, cacat badan, rasa
susah, gelisah, duka cita, rasa tidak aman dan lain-lain.
b) Cobaan melalui harta kekayaan berupa kehilangan, kekurangan, keru-
sakan dsb.
c) Cobaan melalui sanak keluarga dan keturunannya, seperti kematian, ke-
sakitan pada keluarga dll.

Kedua, Ibtila Jama’i, jenis ujian ini terjadi sebagai hasil pertarungan antara
Aulia‘ur-Rah-man dengan Aulia‘usy-syaithan seperti perjalanan da’wah Ra-
sullullah SAW yang mendapat tantangan dari kaum kafir Quraisy.
Adapun medan Shabar menurut Al-Ma-wardi dalam ”Adabud-dun-ya
Wad-Din” meliputi enam bidang, yaitu;

1.Shabar dalam menjalankan perintah Allah serta menjauhi cegahannya


dengan penuh keikhlasan.

2.Shabar ketika ditimpa musibah yang amat berat dihadapinya dengan


jiwa besar dan tidak bersedih.

3.Shabar di saat sesuatu yang diharapkan tidak terwujud. Sabda Rasu-


lullah: ”Barang siapa yang diberi (dikabulkan harapannya) bersyukurlah, bila tidak

61
Hadits Qudsi 1988:102
62
QS. 29:2
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 28

terwujud bershabarlah, bila dizhalimi maafkanlah, dan bila menzhalim mohonlah


ampunan, merekalah orang yang mendapat ketenangan dan hidayah.”

4.Shabar ketika yang ditakuti terjadi menimpa dirinya padahal se-


belumnya optimis akan berhasil.
5.Shabar ketika menanti dan menjalankan semua cita-cita dan harapan.
Ibnu Al-Maqfa berkata dalam “Qasru Ardisyir”: “Shabar adalah kunci keber-
hasilan.” (Ash-Shabru Miftahud Darki).

6.Shabar disaat melewati sesuatu yang dikhawatirkan menimpa, seba-


gaimana Hadits dari Ibnu Abbas RA, Sabda Rasulullah, “Pertolongan beserta
keshabaran, & Kemudahan beserta kesulitan.” 63

Adapun aplikasi shabar terbagi menjadi tiga kegiatan, antara lain;

Pertama, Shabar bil-Qalbi yaitu aktifitas batin dalam melaksanakan


keshabaran, misalnya sikap iffah (shabar menahan hawa nafsu dan shah-
wat), Hilm (Sikap bijaksana), Qana’ah (tidak berlebihan) dan lain-lain.
Kedua, Shabar Bi Al-Lisan dengan mengu-capkan ungkapan sebagai cermin
sikap shabar, seperti dalam firman Allah: ”Dan sungguh akan kami berikan
cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira bagi orang yang shabar. Yaitu orang
yang bila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inaa lillahi wa inaa ilahi
raji’un.” 64
Ketiga, Shabar Bil Jawarih yaitu kekuatan anggota badan melaksanakan
shabar walaupun menderita kepedihan dan cobaan berat.

Shabar & Shalat

Setelah mengetahui makna dan hakikat shabar, ternyata tidaklah mudah


menjadi orang shabar dalam arti sebenarnya. Karena disam-ping membu-
tuhkan kesiapan diri, juga dituntut pengorbanan yang tidak sedikit, baik
jiwa maupun raga. Namun, dibalik pengorbanan itu, Allah SWT menye-
diakan balasan-Nya sebagai buah dari keshabaran tadi.

Shabar dalam Al-Quran dikaitkan dengan shalat. Firman Allah; “Jadikan-


lah shabar dan shalat sebagai pertolongan. Sesungguhnya yang demikian itu
amat berat, kecuali orang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini
bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya dan bahwa mereka akan kembali ke-
pada-Nya.” 65

63
hlm. 276
64
QS. 2: 155-156
65
QS. 2:45-46
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 29

Setiap hari, tidak kurang dari 17 kali kita membacakan Iyaka Na’budu Wa
Iyaka Nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-
Mu kami memohon pertolo-ngan). Ucapan ini merupakan do’a kita ke-
pada Allah SWT agar mencurahkan pertolongan-Nya dalam menghadapi
cobaan di dunia dan akhi-rat kelak. Namun, tentu saja permohonan terse-
but harus sesuai dengan cara dan syarat yang telah digariskan oleh-Nya.
Karena bila permohonan tersebut hanya sebatas ucapan saja, kecil kemun-
gkinan do’a akan terkabul.
Oleh karena itu, Allah SWT memberikan cara kita memohon kepada-Nya,
yaitu dengan shabar dan shalat, sebagaimana firman-Nya; “Hai orang-or-
ang yang beriman, jadikanlah shabar dan shalat sebagai pernolongmu.” 66
Ayat ini menjadi tafsir dari surat al-Fatihah, yaitu tata cara beristi’anah ke-
pada-Nya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah di-
timpa suatu masalah yang dirasakan amat berat dan beliau memohon per-
tolongan kepada Allah yaitu dengan melaksanakan shalat, kemudian
beliau membaca ayat tentang shabar, “Innallaha Ma’ash-shabirin” (Sesung-
guhnya Allah beserta orang-orang yang shabar). Dari hadits ini bisa disim-
pulkan, ketika seorang ditimpa bencana atau kesusahan, maka disyar-
i’atkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dengan shabar dan
shalat.
Namun, sampai di sini kita masih bertanya, bagaimana bentuk amaliah
shabar dan shalat sehingga mampu mengatasi ketegangan jiwa dan prob-
lema hidup.
Menurut sunnatullah, setiap manusia selalu mengalami kesusahan dan co-
baan. Firman Allah ; “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah
lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat
kebaikan, ia amat kikir.”
Jadi, masalah sebenarnya terletak pada sikap manusia terhadap cobaan
tersebut, dan sikap ini tercermin dalam sikap lahiriah yang berkeluh kesah
dan sikap batin yang tidak shabar menghadapi cobaan tadi.
Maka, bila seseorang bersikap tidak shabar dan selalu mengeluh akan ke-
susahannya, sudah termasuk dosa yang tidak terasa, dan cara
menghapusnya ialah dengan shalat.
Rasulullah SAW bersabda; “Barangsiapa yang di pagi harinya telah
mengadukan kesulitan hidupnya kepada sesamanya, berarti ia tidak mensyukuri
pemberian Allah kepadanya. Barangsiapa yang di pagi harinya merasa sedih
dengan keduniaan yang menimpa dirinya, berarti ia tidak shabar dan tidak men-
gimani taqdir Allah kepadanya. Dan barangsiapa yang me-rendahkan dirinya ke-
pada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga imannya.”
Para Ahli Hikmah membagi shabar kepada lima bagian;

1.Ash-Shabru Fil ‘Ibadah, yaitu melaksanakan ibadah dengan tekun.


66
QS. 2:153
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 30

2.Ash-Shabru ‘Indal Mushibah, yaitu berteguh hati ketika mendapat musi-


bah seperti jatuh miskin, kecelakaan dll.
3.Ash-Shabru ‘Anid Dunya, yaitu tidak menjadi budak harta.
4.Ash-Shabru ‘Anil Ma’shiyah, yaitu mengendalikan diri dari perbuatan
dosa dan maksiat.
5.Ash-Shabru Fil Jihad yaitu menyadari bah-wa hidup adalah perjuangan
yang membutuhkan pengorbanan.67

Adapun fungsi shalat dalam mengatasi masalah kegelisahan atau rasa


stress, tersirat dalam firman Allah ; “Dan dirikanlah shalat pada siang dan
awal malam. Sesunguhnya kebaikan itu menghapuskan kejahatan/dosa. Itulah
peringatan bagi orang yang menerimanya. Dan bershabarlah, karena sesung-
guhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” 68
Sehubungan dengan ayat ini, dikisahkan Abal Yasar Bin ‘Amr Bin
Ghaziyah Al-Anshary yang gelisah setelah ia melakukan dosa dengan se-
orang wanita, walaupun tidak sampai ber-zina. Kemudian ia menyesal
dan menceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau ber-sabda; “Tung-
gulah keputusan Tuhanku !” Setelah selesai shalat Ashar, turunlah ayat di
atas, yang menjelaskan bahwa dengan shalat (perbuatan baik) bisa
menghilangkan kegelisahan dan dosa kecil.69
Kemudian pada QS. Al-Ma’arij:20-22 dijelaskan bahwa Al-Mushallin (or-
ang yang mendirikan shalat) yaitu orang yang apabila ditimpa kesusahan,
ia tidak berkeluh kesah dan bila dia mendapat keberuntungan, ia tidak
lupa diri.
Ada beberapa faktor yang dapat memperteguh keshabaran kita agar tetap
menjadi pribadi shabar seperti Ulul ‘Azmi sebagai figur manusia tabah,
antara lain:

Pertama: Menyadari sepenuhnya bahwa cobaan dan bencana adalah


sunatullah, dan kehidupan dunia ini merupakan tempat cobaan guna
mempersiapkan kehidupan abadi di Akhi-rat. Ali Bin Abi Thalib pernah
ditanya tentang dunia, ia menjawab: ”Apa yang dapat aku katakan tentang
dunia yang awalnya tangis, tengahnya kesengsaraan dan ujungnya ketidak aba-
dian!.” Firman Allah: ”Apakah manusia mengira akan dibiarkan saja
mengatakan: ”Ka-mi telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi ?” 70

Kedua, Meyakini bahwa semua yang kita miliki, dunia dan seisinya adalah
milik Allah dan Dia berkuasa atas jiwa dan raga kita, semua akan kembali
kepada-Nya, sebagaimana maksud ucapan istirja’ “Inaa lillahi wa inaa ilaihi

67
Hadits Qudsi, 1988:105
68
QS. 11:114-115
69
Ayat-Ayat Hukum, 1990:191
70
QS. 29: 2
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 31

raji’un.” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami


kembali), sehingga bila menimpa kepadanya malapetaka tidak menjadi be-
ban yang terus diratapi tetapi dihadapinya dengan penuh keshabaran.

Ketiga, Yakin bahwa dibalik cobaan dan malapetaka terdapat balasan ke-
baikan serta jalan keluar. Firman Allah: ”Apa yang di sisimu akan lenyap dan
apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi
balasan kepada orang-orang shabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.” 71

Keempat, Mengambil pelajaran dan meneladani orang shabar dan tabah,


serta merenungi perjuangan mereka yang jauh lebih berat dibanding co-
baan yang menimpa pada kita, sebagaimana sabda Rasulullah SAW ketika
menghibur hati para shahabat: ”Di antara o-rang-orang sebelum kamu dahulu
ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya, ada
yang disisir tubuhnya dengan sisir besi yang tajam sampai dagingnya terkelupas,
tetapi siksaan itu tidak menggo-yahkan tekad mereka untuk tetap memperta-
hankan dien-Nya. Demi Allah pasti Allah akan mengakhiri semua cobaan itu se-
hingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadlratul Maut tanpa rasa takut ke-
pada siapapun selain kepada Allah dan hanya takut kambingnya di-serang
srigala, tetapi kalian tampak terburu-buru dan kurang bershabar.” 72

Kelima, meyakini bahwa yang menimpa kita adalah taqdir Allah yang
harus diimani agar hilang kesedihan dan duka cita. Firman Allah: ”Tiada
suatu bencana pun yang menim-pa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan
telah tertulis pada kitab (Lauh Al-Mahfudh) sebelum Kami menciptakannya. Ses-
ungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan) supaya kamu jangan ber-
dukacita terhadap yang luput dari kamu. Dan supaya kamu jangan terlalu gem-
bira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” 73

Keenam, Menjauhi akhlaq jelek yang me-rusak keshabaran, seperti isti’jal


(tergesa-gesa), ghadab (pemarah), mengeluh, putus asa dan sifat lainnya.

Ketujuh, Memohon pertolongan Allah dan bertawakal menyerahkan diri


sepenuh hati akan kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. Firman Allah
“Mintalah pertolongan kepada Allah dan bershabarlah.” 74

Demikian pengaruh shabar dalam membentuk pribadi manusia yang utuh


dan teguh memegang keyakinannya sehingga muncul gene-rasi Ulul

71
QS. 16: 96
72
HR. Al-Bukhari
73
QS. 57: 22-23
74
QS. 7: 128
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 32

‘Azmi dan shahabat salafush-shalih yang berjiwa penyabar dan tabah. Su-
dah sela-yaknya kita meneladani akhlaq mereka terutama dalam
keshabarannya. Rabbana Afrigh ’Alainaa shabran Watsabit Aqdamanaa
Wanshurnaa ‘alal Qaumil Kafirin Watawaffanaa Muslimin.” (Rabbana,
curahkanlah keshabaran atas kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan
tolonglah kami dari orang-orang kafir serta wafatkanlah kami dalam
keadaan berserah diri kepada-Mu). Amien.

***

6
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 33

MENSYUKURI
NIKMAT WAKTU
Demi masa, sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling
menasehati
dalam keshabaran.”
(QS. Al-’Ashr/103:1-3)

***

Kehidupan memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sang waktu.


Karena setiap nafas dan gerak membutuhkan waktu sehingga banyak or-
ang kemudian menyusun kon-sep tentang waktu ini disebabkan
kepentingannya dalam memahami waktu agar mereka tidak menjadi
manusia yang diperbudak waktu.
Islam sudah sejak 15 abad yang silam memberikan konsep dan cara
memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma. Sebenarnya manusia
setiap detiknya mengisi waktu yang disediakan, hanya kegiatan yang di-
jadikan pengisi waktu itulah yang membedakan dia termasuk golongan
yang mana.
Maka, bagi kaum muslimin telah ada pedoman mengisi waktu ini, baik
dari Al-Quran maupun dari Hadits Nabi SAW, bahkan secara praktis tel-
ah diberikan contoh manusia yang pandai memanfaatkan waktu, baik
melalui para rasul atau orang-orang shalih.
Al-Quran mencantumkan beberapa istilah yang berkenaan dengan waktu
seperti Al-fajr, Al-lail, Al-nahar, Al-dhuha, dan Al-'ashr. Semua istilah terse-
but mengingatkan manusia tatakala melewati waktu-waktunya, karena
ter-nyata kebanyakan manusia selalu lupa diri membiarkan waktu terus
bergulir tanpa menggunakannya dalam kebaikan. Sabda Rasulullah SAW:
"Dua nikmat yang kebanyakan manusia terkecoh karenanya, yaitu nikmat sehat
dan waktu luang.” 75
Mengingat pentingnya waktu dalam kehidupan muslim, ada baiknya kita
merenung sejenak, guna mengetahui sudah sejauhmana kita meman-
faatkan waktu yang telah Allah berikan. Sehingga dengan cara itu,

75
HR. Al-Bukhari
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 34

mudah-mudahan kita dapat menata kembali jadwal hidup yang selalu


diisi dengan amal shalih.
Atas pertimbangan inilah, Dr. Yusuf Qar-dhawi menulis sebuah buku
yang secara khusus membahas masalah ini dengan judul "Al-Waqt fii
Hayat Al-Muslim" (Waktu dalam kehidupan Muslim) yang secara luas
dan terpe-rinci mengungkap rahasia waktu dalam Al-Quran serta aplikas-
inya dalam kehidupan muslim. Membaca buku ini seakan kita dibawanya
menembus waktu sehingga timbul kesadaran setelah kita lalai atas nikmat
waktu yang Allah berikan.
Menurutnya, waktu memiliki karakter sendiri. Di antaranya;
Pertama, waktu berlalu sangat cepat dan tidak menunggu manusia men-
gisinya. Memang kita rasakan tidak disadari setiap detik yang kita lalui
sampai tahun-tahun yang kita masuki dirasakan hanya sesaat dan terus
berganti. Untuk itu perlunya menata aktifitas dengan amal shalih agar kita
tidak kecolongan sang waktu, sebagaimana sya’ir Arab mengatakan, Al-
Waqt ka Al-Saif. Fa In Lam Taqtha'haa Qatha'aka. Artinya, "Waktu laksana
pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebas-mu.”

Kedua, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali dan akan men-
jadi kenangan indah atau sebuah penyesalan. Imam Hasan Al-Bishri men-
gungkapkan; "Setiap hari ketika merekah fajar, sang waktu berseru, "Wahai
anak Adam, aku adalah makhluk baru, dan atas amal perbuatan kalian aku men-
jadi saksi. Oleh karenanya ambillah bekal dariku. Sesungguhnya bila aku telah
berlalu, aku tidak akan pernah kembali sampai Hari Kiamat.”

Ketiga, waktu adalah milik manusia yang amat menentukan. Karenanya


bila manusia membiarkannya berlalu tanpa amal shalih, sungguh amat
merugi.
Bagaimana agar kita tidak menjadi manusia yang merugi di dunia dan
Akhirat ? Allah SWT selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada manu-sia,
sehingga ketika manusia menginginkan kebahagiaan di dunia dan Akhir-
at, dia memberikan petunjuk-Nya melalui firman-Nya dalam surat Al-
Ashr; "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keru-
gian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling
menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam keshabaran.” 76
Imam Syafii pernah berkomentar: "Kalaulah Al-Quran hanya diturunkan
satu surat saja, maka cukup surat Al-Ashr ini mewakili isi Al-Quran.” Hal ini
bisa kita fahami dari pesan yang disampaikannya, antara lain menjelaskan
bahwa kehidupan manusia adalah rangkaian waktu dan untuk men-
gisinya dibutuhkan empat aktifitas.

76
QS 103:1-3
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 35

Pertama, dengan keimanan secara total kepada Allah, baik hati, lisan dan
anggota badan. Yaitu iman yang memiliki 76 cabang, yang tertinggi ka-
limat tauhid Laa ilaha illallah dan yang paling ringan membuang duri yang
membahayakan. Dengan memperhatikan wak-tu, setiap saat diisi dengan
kegiatan yang men-cerminkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Kedua, mengisi waktu dengan amal shalih baik yang dipandang baik di
hadapan Allah atau sesama manusia. Karena Allah menjamin kebahagiaan
bagi orang yang beriman dan beramal shalih, firman Allah: "Dan barang-
siapa mengerjakan amal shalih dan dia dalam keadaan beriman, maka ia tidak
khawatir akan perlakuan yang tidak adil terhadapnya atau dirampas haknya.” 77

Ketiga, memberikan nasehat yang benar yaitu memberikan jalan kebaikan


yang telah diyakini kebenarannya. Al-Haq menurut Al-Maraghy adalah
suatu kebenaran yang kuat dan didasari oleh dalil dan bukti yang otentik
dari Nabi SAW.78

Keempat, memberi nasehat keshabaran dalam mengahadapi cobaan dari


Allah yang pada hakikatnya menguji keimanan kita kepa-da-Nya. Al-shabr
adalah kekuatan jiwa yang membuat manusia mampu menahan keseng-
saraan dalam melakukan amal kebaikan. Sehingga dengan kekuatan jiwa
ini seseorang akan mudah melewati berbagai rintangan untuk mencapai
tujuan yang mulia.

Banyak sekali ayat Al-Quran dan Hadits Nabi SAW yang menyuruh kita
memperhatikan waktu. Salah sebuah Hadits menyatakan sabda Nabi
SAW: "Bersegeralah kamu melakukan amal-amal shalih, karena sesungguhnya
akan terjadi kekacauan seperti bagian malam yang gelap gulita. Di pagi hari seor-
ang menjadi mu’min tetapi di sore hari ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya
demi Keduniaan semata.” 79
Maka untuk membiasakan diri mengisi waktu dengan amal shalih, Dr.
Yusuf Qardhawi memberikan lima kiat sebagai sikap muslim terhadap
waktu.

Pertama, menjaga manfaat waktu dengan seefisien mungkin, sebagaimana


kita menjaga harta bahkan lebih dari itu. Rasulullah SAW pernah ditanya:
"Siapakah manusia yang pa-ling baik?" Ia menjawab: "Ialah orang yang panjang
umurnya dan baik amalnya.” Kemudian ditanya lagi: "Siapakah orang yang pal-

77
QS 20:112
78
Al-Maraghi X:30
79
HR. Muslim
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 36

ing buruk?" Rasul menjawab: "Ialah orang yang panjang umurnya tapi jelek
amalnya.” 80

Kedua, tidak menyia-nyiakan waktu luang karena waktu adalah nikmat Al-
lah yang tidak boleh disia-siakan. Sebuah Hadits menyebutkan: "Man-
faatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara.... manfaatkanlah waktu
senggangmu sebelum datang kesibukan.”

Ketiga, bersegera dalam kebaikan, jangan ditunda-tunda. Ibnu Umar RA


berkata: "Apa-bila ada kesempatan waktu sore janganlah kamu menunggu sam-
pai pagi, dan apabila datang kesempatan waktu pagi janganlah kamu tunda
hingga sore. Jadikan waktu sehatmu sebelum datang sakit dan waktu hidupmu se-
belum datang kematian.”

Keempat, merenungi setiap detik waktu yang kita gunakan dan mengambil
pelajaran darinya. Sabda Rasulullah SAW ; "Seorang hamba tidak akan ber-
pindah tempatnya sebelum ditanya empat perkara; tentang umurnya dengan apa
dilalui, tentang ilmunya apa yang telah dilakukannya, tentang hartanya darim-
ana ia dapat dan kemana ia nafkahkan dan tentang fisik-nya bagaimana ia gun-
akan.” 81
Kelima, mengatur waktu sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, serta disip-
lin terhadap aturan waktu yang telah ada dan menyelesaikannya dengan
penuh kesungguhan. Firman Allah SWT: "Maka apabila kamu telah selesai
dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan
hanya kepada Tuhanmu sebaiknya kamu berharap.” 82

Inilah di antaranya urgensi waktu dalam kehidupan muslim yang sarat


dengan amal shalih dan kebaikan. Maka yang harus dijadikan motto
hidup muslim adalah: "Hayatuna kulluha ‘ibadah.” (Hidup, seluruhnya un-
tuk ibadah).
Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari sebelumnya dan
merugilah orang yang hari ini sama dengan hari sebelumnya. Dan celaka-
lah orang yang hari ini lebih buruk dari hari sebelumnya.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwa-
lah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu
Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-
orang yang fasiq.” 83

80
HR. Turmudzi dari Abdurrahman Ibn Abi Bakrah
81
HR. Turmudzi
82
QS 94: 7-8
83
QS 59: 18-19
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 37

***

7 SHALAT KHUSYU’

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang


beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’
dalam shalatnya.”
(QS.al-Mu’minun/23:1-2)

***

Ali Ath-Thanthawi pernah menulis risalah kecil dengan judul “Shalat Ar-
Rak’ataini” yang diterjemahkan oleh penerbit GIP dengan “Menuju Shalat
Khusyu’.” Dalam kar-yanya ini ia mencoba membuat rumusan metode
praktis pelaksanaan shalat khusyu’ de-ngan menampilkan contoh shalat
dua rakaat mulai dari sebelum takbiratul ihram sampai salam.
Memang kita akui, pelaksanaan shalat yang kita lakukan sehari-hari masih
belum meme-nuhi ketentuan baik syarat maupun rukunnya. Shalat kita
hanya terbatas pada pelaksanaan zhahirnya saja, belum terasa fungsi shal-
at dan manfaatnya dalam kehidupan sehari hari. Bahkan terkadang shalat
dijadikan beban yang teramat berat, bukan dijadikan amal kebaikan
primer.
Apabila shalat sudah memenuhi ketentuan yang zhahir dan batin, maka
akan terwujud Muqiimush-Shalat yang mengaplikasikan shalatnya dalam
setiap langkah. Firman Allah: “Bacalah apa yang telah diwahyukan Allah ke-
padamu, yaitu kitab Al-Quran dan dirikan-lah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih baik keutamaannya dari ibadah lainnya. Dan Allah menget-
ahui apa yang kamu kerjakan.” 84
Secara teoritis memang pelaksanaan shalat amatlah mudah dan cepat.
Hanya dalam beberapa menit saja sekian raka’at kita selesaikan. Namun
apakah shalat tersebut sudah memenuhi ketentuan yang dikehendaki Al-
lah SWT sehingga mencapai derajat khusyu’ yang merupakan puncaknya
ibadah shalat ?

84
QS. 29:45
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 38

Khusyu’ dalam Shalat

Ada lk. 15 kata dalam berbagai bentuknya yang berasal dari akar kata
“khasya’a” dan sedikitnya ada lima ayat yang berkaitan dengan shalat
khusyu’.85 “Khusyu’an” adalah bentuk isim mashdar dari kata “khasya’a”
yang berarti takut atas sesuatu sehingga merasa rendah dan hina ketika
berhadapan dengan-Nya.
Dalam kitab “Al-Ta’rifat” dijelaskan, Khasyi’ (orang yang khusyu’) ialah
yang meren-dahkan diri dihadapan Allah SWT dengan seluruh hati dan
anggota badannya.86 Ibnu Abbas menafsirkan khusyu’ pada surat Al-
Mu’minun ayat 1-2 sebagai perasaan rendah dan tawadhu’ di hadapan Al-
lah ketika shalat, sehingga tidak menoleh ke kanan atau ke kiri serta diam
sejenak.87 Penafsiran seperti ini diikuti pula oleh para ulama lain seperti
Mujahid, Al-Hasan. Qatadah dan Al-Zuhri.
Dalam hal ini Ibnu Abbas menyatukan antara aktifitas lahir dan batin
pada praktek shalat secara bersamaan. Kebanyakan ulama menekankan
makna khusyu’ sebagai perbuatan batin yang menimbulkan gerak anggota
badan sesuai dengan kekhusyu’an hati. Ali Bin Abi Thalib dan Hasan Al-
Bashri mengistilahkannya sebagai khusyu’ Al-Qalb (hati yang khusyu’).
Berbeda dengan Ibnu Katsir yang memandang ayat di atas dari aspek asb-
abunnuzul yang memang berkaitan dengan peristiwa shalat para shahabat.
Muhammad Ibnu Sirin me-ngatakan, para shahabat Rasul selalu me-
ngangkat pandangannya ke atas ketika shalat, maka pada waktu turun
ayat ini, mereka me-nundukkan pandangannya ke tempat sujud. Bahkan
ada yang berpendapat, tidak boleh pandangan melampaui batas tempat
sujud, maka jika melebihi hendaklah menundukkannya.88,89
Khusyu’ menurutnya sama dengan ihsan yang maksudnya ialah beribadah
kepada Allah seakan kita melihat-Nya dan menyadari Dia selalu melihat
kita.90

Fadhilah Shalat Khusyu’

Beberapa ayat Al-Quran menyebutkan batasan bagi orang yang khusyu’


dalam shalatnya. Salah satu di antaranya firman Allah SWT: “Sesung-
guhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki dan perempuan yang
mu’-min, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang ben-
85
Fathurrahman: 129
86
Al-Jurjany: 95
87
Tanwirul Miqbas: 284
88
HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim
89
III:238
90
Tafsir Ibnu Katsir III: 488
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 39

ar, laki-laki dan perempuan yang shabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang ber-
puasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi
mereka ampunan dan pahala yang sangat amat besar.” 91
Umar Bin Khathab RA menceritakan tentang turunnya 10 ayat surat Al-
Mu’minun, Rasulullah SAW apabila turun wahyu beliau selalu mendengar
suara dengung seperti suara lebah, maka kami menunggu sesaat kemudi-
an dia menghadap Kiblat dan mengangkat dua ta-ngannya berdo’a: “Ya
Allah, tambahlah jumlah kami dan jangan Kau kurangi, muliakanlah kami jan-
gan Kau hinakan kami, dan ridhailah.” Setelah itu beliau bersabda: “Telah
turun sepuluh ayat, barangsiapa yang melaksanakannya dijamin masuk surga,
kemudian membacakan ayat: “qad aflaha Al-mu’minun, alladzinaahum ‘an shal-
atihim khasyi’un....” sampai ayat 10.92,93
Khusyu’ merupakan salah satu akhlaq Rasulullah SAW yang utama seba-
gaimana penjelasan Aisyah RA ketika ditanya tentang akh-laq Nabi, ia
menjawab: “Adalah akhlaqnya Al-Quran” kemudian membaca 10 ayat pertama
surat Al-Mu’minun.94
Di samping ayat yang menjanjikan kebahagiaan juga ada beberapa ayat
yang menyebutkan ancaman bagi mereka yang melalaikan shalatnya95
bahkan dalam QS An-Nisa: 147 dikatakan: “Sesungguhnya orang munafik
itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipu daya mereka, apabila mereka
berdiri untuk shalat mereka bermalas-malasan. Mereka bermaksud riya (dengan
shalatnya) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit.”

Metode Shalat Khusyu’

Syekh Ahmad Musthafa Maraghi mengemukakan dalam kitab tafsirnya


tiga cara melaksanakan shalat yang khusyu’;

Pertama, memahami dan merenungkan (tadabbur) setiap bacaan shalat,


tidak hanya makna luarnya saja tetapi juga setiap rahasia dan kandungan
hikmahnya, sebagaimana firman Allah SWT: “Apakah mereka tidak men-
tadabburi kandungan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” 96
91
QS 33:35
92
HR. Hakim, Abu Abdillah dll
93
Asbab Al-Nuzul, Al-Naisabury: 209
94
HR. Al-Nasai
95
lihat QS 107: 5
96
QS 47:24
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 40

Kedua, mengingat Allah (dzikir) dan merasa takut akan balasan-Nya se-
hingga bersungguh-sungguh ketika menghadap-Nya. Firman Allah; “Di-
rikanlah oleh kamu shalat untuk mengingat-Ku.” 97

Ketiga, menghindari pikiran yang macam-macam selain shalat. Karena


shalat merupakan hubungan batin dengan Allah SWT. Bahkan para ulama
berkata; “Shalat tanpa khusyu’ se-perti jasad tanpa ruh.” 98

Untuk meraih khusyu’ seharusnya kita memperhatikan beberapa hal yang


harus dilakukan antara lain;

1. Memahami urgensi dan fungsi shalat.

Banyak orang Islam yang melaksanakan shalat bukan karena sebagai ke-
butuhan tapi merasa sebagai kewajiban yang membebani dirinya. Oleh se-
bab itu, sebagai langkah pertama agar khusyu’ dalam shalat ialah mema-
hami fungsi dan keutamaan kita melaksanakannya. Beberapa ayat men-
jelaskan keuta-maan memelihara shalat. Firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah orang-orang yang
akan me-warisi. Yaitu akan memperoleh surga Firdaus dan mereka akan kekal di
dalamnya.” 99
Rasulullah SAW menjelaskan tentang shalat, sabdanya; “Barangsiapa yang
memelihara shalat, maka ia akan mendapat cahaya, petunjuk dan kebahagiaan
pada Hari Kiamat, dan barangsiapa yang tidak memeliharanya maka tidak ada
baginya cahaya, petunjuk dan kebahagiaan pada Hari Kiamat, mereka bersama
Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay Ibn Khalaf (para pemimpin kafir).” 100
Agar kita dapat merasakan shalat sebagai kebutuhan bukan sebagai be-
ban, ada baiknya kita mempelajari hikmah di balik pelaksanaan dan
gerakan shalat terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Sebagaimana yang
dibahas Prof. Saboe dalam bukunya “Shalat dan Kesehatan” dengan pen-
dekatan medis. Misalnya, ketika duduk tuma’ninah dengan jari kaki dilip-
atkan, akan menekan seluruh saraf yang berhubungan dengan otak, mata
dan bagian vital lainnya, sehingga berpengaruh mengatasi beberapa
penyakit.101

2. Mempelajari dan Menguasai Fiqh Shalat secara Keseluruhan.


97
QS 20:14
98
Al-Maraghi IV/8:4
99
QS. 23:9-11
100
HR. Ahmad, Thabrany, Ibnu Hibban dari Abdullah Ibn Amr Ibn Ash
101
Lebih luas lagi pembahasan yang dikemukakan Dr. Muhammad Al-Khatib dalam
bukunya, “Al-Islam Wal ‘Ilm Nadzaratun Mu’jizah.” (Sains dan Islam, Kemu’jizatan
Dunia)
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 41

Salah satu sebab kekhusyu’an terganggu ialah kurangnya menguasai teori


dan praktek shalat. Padahal pelaksanaan shalat ini harus baik dan benar,
sebagaimana peringatan Rasulullah SAW; “Yang pertama dihisab dari seor-
ang hamba pada Hari Kiamat ialah shalat. Apabila shalatnya baik maka baiklah
seluruh amalnya. Dan barangsiapa yang shalatnya buruk, maka buruk pula se-
luruh amalnya.” 102
Materi praktek shalat telah banyak dibahas dalam buku dan kitab fiqh
seperti “Tertib Shalat dan Do’a-do’a dalam Al-Quran”, karya Hussein
Badjerei, “Pengajaran Shalat.” karya A. Hassan. “Shifat Shalat Nabi”,
karya Imam Al-Albany dan lain-lain yang berdasarkan dalil yang shahih
dan kuat. Disamping penguasaan do’a dan bacaannya juga perlu difahami
setiap makna bacaan shalat. Karena shalat adalah do’a (permohonan). Bila
kita memohon tanpa mengerti isi permohonan itu, tentu kurang sem-
purna.

3. Membersihkan hati dan pikiran dari perkara yang mengganggu kekhusyu’an.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa pengertian khusyu’ lebih


ditekankan pada perbuatan hati. Hal ini dapat terwujud dengan beberapa
cara, di antaranya;

•Menyadari bahwa kita sedang menghadap Allah SWT Yang Maha


Mengetahui segala sesuatu termasuk bisikan hati yang tersembunyi
sekalipun. Firman Allah SWT; “Dan pada Allah-lah kunci-kunci ghaib. Tak ada
yang mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Tiada sehelai daunpun yang
gugur melainkan Dia mengawasinya. Dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam
kegelapan bumi atau basah dan kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”
103

•Merenungi kata demi kata setiap bacaan shalat sehingga menyentuh


perasaan batin yang paling dalam, sebagaimana firman Allah SWT;
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Quran yang
serupa lagi berulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada
Tuhan-Nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat
Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada ba-
ginya penolong.” 104

102
HR. Ath-Thabrani dari Abdullah Ibn Qarth
103
QS. 6:59
104
QS. 39:23
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 42

• Bertekad dalam hati bahwa shalat yang sedang kita laksanakan harus sem-
purna sehingga akan dijalankan dengan sungguh-sungguh karena merasa
takut tidak bisa melaksanakannya kembali. Firman Allah;
“Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya sendiri yang ia hadapkan kepadanya.
Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Al-
lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 105

• Memusatkan perhatian hanya pada bacaan shalat. Jika konsentrasi mulai


kabur maka ingatlah bahwa kita sedang menghadap Allah. Inilah di ant-
aranya fungsi takbir dalam setiap gerakan shalat.

• Bersikap tenang, tuma’ninah dan tidak terburu-buru. Karenanya bila ter-


lintas dalam hati kita bisikan syetan misalnya; “Percepat-lah shalatmu kar-
ena si fulan tengah menantimu, dia lebih penting, cepatlah !” Maka diamlah
dan katakanlah dalam hati “Allahu Akbar !”

***

105
QS. 2:148
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 43

8 DO’A MUSTAJAB
“Dan Tuhanku berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku
niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam
dalam keadaan hina dina.”
(QS. al-Mu’min/40:60)

***

Syaqiq Al-Balkha meriwayatkan, pada suatu hari Ibrahim Bin Adham


-seorang ulama sufi sedang menelusuri pasar Bashrah. Orang-orangpun
berkerumun mengitarinya ingin mena-nyakan masalah agama kepadanya.
Mereka bertanya tentang firman Allah SWT; UD’UNI ASTAJIB LAKUM.
(Berdo’alah kalian kepada-Ku, pasti Aku kabulkan). Mereka berkata; “Kami su-
dah cukup lama berdo’a, tapi do’a itu tidak terkabul juga.” Mendengar
penuturan mereka, Ibrahim Bin Adham berkata; “Hati kalian telah mati dari
sepuluh hal, (1) Kalian meyakini Allah SWT, tapi kalian tidak menunaikan hak-
hak-Nya, (2) Kalian membaca Kitab Allah, namun kalian tidak
mengamalkannya, (3) Kalian mengaku memusuhi iblis, namun kalian mengikuti
jejaknya, (4) Kalian mengaku mencintai Rasul, namun kalian meninggalkan at-
sar dan Sunnahnya, (5) Kalian mengaku mencintai surga, namun kalian tidak
beramal untuk surga, (6) Kalian mengaku takut neraka, namun kalian tidak ber-
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 44

henti dari dosa, (7) Kalian mengaku bahwa maut pasti tiba, namun kalian tidak
mempersiapkan diri, (8) Kalian sibuk membicarakan cela orang lain, namun kali-
an melupakan cela diri sendiri, (9) Kalian me-nikmati rizqi Allah, namun kalian
tidak mensyukuri-nya, (10) Kalian mengubur orang mati, namun kalian tidak
mengambil pelajaran darinya.” 106
Demikianlah nasehat Ibrahim Bin Adham yang sarat hikmah dan ilmu
tentang pertanyaan yang sering kita ungkapkan sehubungan dengan do’a-
do’a kita yang tidak terkabul. Dia memberikan satu pedoman berdo’a
yang menekankan bahwa dikabulkannya do’a seseorang sangat
dipengaruhi oleh akhlaq dan amal shalihnya sehari-hari.
Pada dasarnya firman Allah SWT di atas me-rupakan kebenaran dan ke-
pastian yang tidak bisa disangkal, namun diperjelas lagi oleh beberapa
Hadits yang mengemukakan tentang syarat dan faedah do’a, sehingga
pengabulan do’a seorang hamba kepada Allah SWT sangat ditentukan
oleh terpenuhinya beberapa ketentuan yang telah Dia gariskan. Seperti
juga diisyaratkan dalam firman-Nya; “Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa
takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Al-
lah amat dekat kepada o-rang-orang yang berbuat baik.” 107
Ayat ini memberikan penjelasan bahwa do’a harus dibarengi dengan sikap
batin yang penuh harap dan berserah diri kepada Allah, dan perbuatan
baik (ihsan) akan mendekatkan rahmat-Nya dengan terkabulnya do’a.
Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Tiada seorang muslim di
atas bumi berdo’a melainkan pasti diterima dan terhindar dari malapetaka,
asalkan dia tidak ber-do’a akan suatu dosa atau untuk memutuskan silatur-
rahmi.” Kemudian seorang shahabat berkata; “Kalau demikian, kami akan mem-
perbanyak do’a kepada Allah.” Nabi menjawab; “Sesungguhnya Allah amat ban-
yak karunia-Nya.” 108 Riwayat lain menambahkan; “Atau do’a tersebut ditang-
guhkan pengabulannya.” 109
Maka, bila diperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, bisa disimpulkan
bahwa do’a seorang muslim akan dikabulkan jika memenuhi ketentuan
Allah dan pengabulannya itu bisa dengan tiga cara
Pertama; Allah mengabulkan do’anya secara langsung begitu selesai dia
sampaikan sesuai de-ngan permohonannya.
Kedua, ditunda sampai Allah menghendaki untuk mengabulkannya pada
saat dia sangat membutuhkan, misalnya ketika tertimpa bahaya yang
tidak disangka-sangka.

106
Nashaihul ‘Ibad No. 211
107
QS. 7:55
108
HR. At-Tirmidzi dari Ubadah Bin Shamit
109
HR. Hakim dari Abu Sa’id
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 45

Ketiga, ditangguhkan sampai datang Hari Kiamat sebagai catatan amalnya


yang dapat menyelamatkannya dari api neraka serta meringankan mizan
kejelekannya.”110

Kedudukan dan Fungsi Do’a

Adalah sunnatullah, kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan cobaan


dan pengalaman pahit. Tidak jarang kita mengalami kegagalan dan kepu-
tusasaan akibat terbuai hawa nafsu dan perasaan bersalah yang berlarut-
larut. Kadangkala problema hidup tersebut dapat di atasi dengan
mengandalkan kemampuan sendiri. Jika masalah itu belum juga tersele-
saikan, biasanya kita meminta pertolongan kepada sesama untuk me-
ringankan beban tadi. Namun, setelah meminta pertolongan orang lain
masih juga belum teratasi, maka pada saat inilah biasanya kita memohon
kekuatan Allah Yang Maha Penolong. Demikianlah sifat manusia men-
jalani kehidupannya di dunia. Hal ini disinyalir Allah SWT dalam firman-
Nya; “Allah hendak mem-berikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan
bersifat lemah.” 111
Karena sifat lemah inilah, tidak sedikit manusia yang terseret ke dalam
lembah dosa dan tergoda oleh kehidupan dunia yang fana. Maka, bagi
me-reka yang telah terjerumus mengikuti hawa nafsunya, Allah SWT
memberi jalan bagi mereka untuk mengakui kelemahannya tetapi juga
tidak berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, sebagaimana fir-
man-Nya; “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah
mengampuni semua dosa-dosa-mu. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” 112
Sifat manusia lainnya adalah berkeluh kesah dan tamak. Firman Allah
SWT: ”Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir. Apa-bila ia
ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat
kikir, kecu-ali orang-orang yang mengerjakan shalat.” 113
Dari ketiga sifat di atas, akan timbul beberapa karakter manusia dalam
menyikapi problema kehidupan. Ada manusia yang selalu optimis dan
selalu berserah diri hanya kepada Allah, ada juga manusia yang berputus
asa dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT dengan tidak mau
memohon kepada-Nya karena merasa dirinya kuat. Padahal Allah SWT
sangat mengecam hamba-Nya yang membanggakan diri dan tidak mau

110
Riyadlus shalihin: 375
111
QS. 4:28
112
QS. 39:53
113
QS. 19:22
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 46

berdo’a kepada-Nya, sebagai mana firman-Nya dalam Hadits Qudsi:


”Barang siapa yang tidak berdo”a kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya.” 114
Berdasarkan alasan inilah, berdo’a merupakan suatu kewajiban sekaligus
merupakan kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam men-
jalani kehidupannya, lebih-lebih ketika ditimpa kesusahan, kesulitan dan
malapetaka. Namun, tidak sedikit juga manusia yang berdo’a hanya pada
saat ditimpa musibah saja dan bila kesulitan itu telah berlalu, mereka lupa
akan nikmat Allah serta me-ninggalkan do’anya sama sekali. Firman Allah
SWT; “Dan apabila manusia itu ditimpa kesulitan, dia memohon pertolongan ke-
pada Tuhannya de-ngan kembali kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan mem-
berikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kesulitan yang pernah dimo-
honkan kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu...” 115
Maka, sudah selayaknya manusia memahami hakikat dan fungsi do’a,
agar tidak terjerumus men-jadi orang-orang yang menyombongkan diri
dan melebihi batas-batas Allah SWT. Karena sikap se-perti ini amatlah ter-
cela di hadapan Allah. Do’a hanya dijadikan tempat pelarian untuk
mendapatkan jalan keluar saja, bukan sebagai kebutuhan utama dalam ke-
hidupannya. Padahal sebuah Ha-dits menyebutkan sabda Rasulullah
SAW: “Do’a itu adalah ibadah.” 116 Artinya, selama hayat dikan-dung badan,
kewajiban berdo’a tersebut merupakan salah satu dari tugas manusia
yaitu ber-ibadah kepada Allah SWT.117
Karenanya, kita dituntut untuk berdo’a kepada Allah dalam keadaan apa-
pun sebagai bukti ke-taatan kita kepada-Nya, disamping pengakuan kita
akan ke-Maha Rahiman-Nya mencurahkan kasih sayang kepada hamba-
Nya yang menengadahkan tangan memohon pertolongan-Nya. Sebuah sy-
a’ir Arab menyebutkan, ALLAHU YAGHDLABU IN TARAKTA SU-
ALIHI... WA BANI ADAM HINA YUS-ALU YAGHDLABU... (Allah akan
murka bila kamu tidak memohon kepada-Nya... Tetapi manusia akan marah bila
ia diminta pertolongan... )

Adab Berdo’a

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas 118 mengutip perkataan Ka’ab
Al-Akhbar; “Kalian (ummat Islam) diberi tiga kelebihan yang tidak pernah
diberikan kepada ummat sebelumnya (1) Para Rasul terdahulu diutus hanya un-
tuk satu ummat tertentu, tetapi kalian menjadi saksi untuk seluruh ummat

114
HQR. Askari dalam kitab Mawa’idl dari Abu Hurairah RA de-ngan Sanad Hasan
115
QS. 39:8, lihat juga QS. 10:12, QS. 41:51
116
HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi dari An-Nu’man Bin Basyir
117
QS. 51:56
118
QS. 40:60
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 47

manusia, (2) Ummat terdahulu tidak diberi kelonggaran dalam menjalankan


agamanya, sedangkan kalian mendapatkannya, (3) Ummat terdahulu hanya dika-
bulkan do’anya melalui Rasul mereka, tetapi kalian diberi perintah “Berdo’alah
kalian masing-masing, niscaya Aku mengabulkan do’a kalian.” 119,120
Dengan keterangan ini, alangkah ruginya bila kita tidak mengamalkan
perintah berdo’a setiap saat selama Allah SWT menghendaki dan seyogya-
nyalah kita memperhatikan keutamaan dan adab berdo’a supaya selaras
dengan maksud dan faedah do’a seperti yang Allah kehendaki.
Beberapa ayat Al-Quran menjelaskan bagaimana sikap batin ketika ber-
do’a, sebagaimana firman-Nya; “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan
penuh harap (akan terkabulnya do’a) dan cemas (dari adzab-Nya). Dan mereka
adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” 121
Dalam ayat ini dijelaskan tentang sikap sebelum dan ketika berdo’a yaitu
bersegera dalam melakukan amal shalih serta sikap hati yang khusyu’
mengharap keridlaan Allah SWT dengan penuh harap (optimis) akan ter-
kabulnya do’a kebaikan tersebut dan merasa takut akan adzab neraka, se-
hingga bersungguh-sungguh memohon untuk dijauhkan darinya.
Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” me-ngemukakan adab berdo’a
antara lain:

1) Hendaklah melakukannya pada waktu yang uta-ma, seperti Hari Ara-


fah, Bulan Ramadlan, Wak-tu Sahur, Hari Jum’at dll.

2) Dilakukan dengan penuh khidmat, misalnya ke-tika bersujud dalam


ketenangan hati.
3) Menghadap kiblat disertai penyerahan diri ke-pada Allah.
4) Merendahkan suara agar lebih terasa pengha-yatan dari do’a tersebut.
5) Menggunakan bahasa yang sederhana tetapi me-ngandung maksud
yang disampaikan, dan lebih utama dengan do’a-do’a yang ma-tsur dari
Nabi SAW.
6) Tawadlu’ dan khusyu’.
7) Meyakini do’anya pasti dikabulkan Allah dan tidak merasa bosan bila
do’anya belum terkabul.
8) Selalu optimis dan penuh harap sehingga terus mengulangi do’a-do’an-
ya.
9) Hendaklah memulai do’a dengan menyebut as-ma Allah, Hamdallah
dan Shalawat pada Nabi SAW.
10) Sebelum berdo’a diperintahkan untuk melaksa-nakan tazkiyatun Nafsi
(Pembersihan Jiwa) dari perbuatan yang menghalangi terkabulnya do’a,
119
HR. Ibnu Abi Hatim dari Qatadah
120
Tafsir Ibnu Katsir IV:85
121
QS. 21:90
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 48

misalnya dengan taubat, tidak memakan harta yang haram atau tidak ber-
do’a yang mustahil menurut akal dan mencelakakan orang lain ke-cuali
karena didzalimi. 122

Ulama lainnya juga mengemukakan pedoman berdo’a seperti Ahmad


Ibnu Taimiyah Al-Haramy dan Muhammad Bin Abdul Wahab An-Najdi
dalam kitabnya “Majmu’at At-Tauhid” menyusun delapan belas cara ber-
do’a yang langsung diambil dari Ha-dits Nabi SAW, di antaranya;

• “Ada seorang lelaki yang masuk masjid, kemudian shalat dan berdo’a dengan
tergesa-gesa, maka Rasulullah SAW menegurnya; “Janganlah kamu tergesa-
gesa, shalatlah dengan tenang, lalu duduklah, memuji Allah (bertahmid)
dengan me-nyebut asma-Nya, bershalawat untukku barulah berdo’a sesuai ke-
hendakmu !” Kemudian datang seorang lainnya, dia bertahmid, bershalawat
atas Nabi SAW, maka Nabi SAW berkata kepadanya; “Hai Mushalli, berdo’a-
lah kamu, pasti akan terkabul, bila engkau duduk mulailah dengan memuji Al-
lah, membaca shalawat atasku kemudian berdo’alah untuk dirimu.” Lalu Nabi
SAW ber-sabda: “Mintalah, pasti diberi, sesungguhnya do’a itu terdiam antara
langit dan bumi, tidak ada yang bisa mengangkatnya selain mengucapkan
shalawat atas Nabimu.”
• “Adalah Rasulullah SAW gemar sekali pada kalimat do’a yang singkat tetapi
meliputi semua maksud dalam do’a dan meninggalkan selain itu.”123
• “Jangan suka berdo’a yang tidak baik terhadap dirimu sendiri atau anak-ana-
kmu atau harta milikmu, mungkin saja do’amu bertepatan saat Allah menerima
do’a, maka dikabulkanlah do’a tersebut.” 124
• “Selalu diterima do’a seseorang selama tidak tergesa-gesa dengan berkata;
“Saya telah ber-do’a tetapi tidak dikabulkan juga.” 125
• “Do’a seorang muslim untuk saudaranya diluar pengetahuan orang yang
dido’akan itu mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a itu malaikat
muwakkal mengucapkan setiap kali do’a keba-ikan untuk saudaranya: AMIN
WA LAKA BIMITS-LIK (Semoga diterima dan untukmu seperti itu).” 126
• “Berdo’alah kepada Allah dengan keyakinan pasti dikabul, dan ketahuilah bah-
wa Allah tidak mengabulkan do’a seseorang yang hatinya lalai.” 127
• “Apabila seorang hamba berkata; “Ya Rabby, Ya Rabby, Allah akan menjawab;
Labbaik hamba-Ku, mintalah, pasti Aku beri.” 128

122
Ihya I:306-309
123
HR. Abu Dawud dari Aisyah RA
124
HR. Muslim dari Jabir RA
125
HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah RA
126
HR. Muslim dari Abi Darda
127
Al-Hadits
128
Al-Hadits
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 49

• “Adalah Rasulullah SAW menganjurkan un-tuk mengakhiri do’a seseorang ber-


tanya; “Dengan apa mengakhirinya?” Beliau menjawab: “Dengan Amien
(semoga Allah mengabulkan).” 129

Selain adab berdo’a, dijelaskan pula lima belas waktu yang utama untuk
berdo’a, antara lain:

1. Pada akhir malam dan setiap selesai shalat fardlu,


2. Antara adzan dan iqamat,
3. Antara dua khutbah Jum’at,
4. Setelah Ashar sampai terbenam matahari pada hari Jum’at,
5. Ketika sujud,
6. Do’a seseorang yang sedang sakit,
7. Seseorang yang shaum ketika berbuka,
8. Imam yang adil,
9. Orang yang didzalimi,
10. Do’a Ibu / Bapak,
11. Do’a musafir (orang yang bepergian),
12. Satu saat dalam setiap malam,
13. Ketika ditimpa musibah,
14. Ketika turun hujan,
15. Menjelang adzan maghrib.130

Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal dalam melaksanakan ibadah


do’a ini agar tidak ragu-ragu lagi kita mengamalkannya setiap saat dan
menjadi kebutuhan ruhaniah yang essensi dalam kehidupan kita.

Pertama, Meyakini bahwa do’a adalah ibadah seperti juga ibadah mahdlah
lainnya, bahkan dalam sebuah Hadits dijelaskan sabda Rasulullah SAW:
“Do’a adalah intinya ibadah.” 131 Dan mereka yang tidak mau berdo’a ter-
masuk orang yang menyombongkan diri dan dimurkai Allah SWT. 132
Setiap do’a yang kita sampaikan pasti didengar oleh Allah SWT dengan
memperhatikan ketentuan dan syarat-syarat di atas sebagaimana sabda
Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah akan malu ke-pada hamba-Nya yang
menengadahkan tangan berdo’a kepada-Nya, kembali dengan tangan ham-pa.” 133

Kedua, Menerapkan do’a bukan hanya dalam ucapan tetapi diwujudkan


dalam perilaku sehari-hari baik dengan menghindari perbuatan dosa dan

129
hlm. 621-623
130
Kitab Majmu’at At-Tauhid: 624-625
131
HR. At-Tirmidzi dari Anas RA
132
QS. 40:60
133
HR. Al-Arba’ah selain Nasa’i dari Sulaiman
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 50

maksiat ataupun dengan amal shalih dan berserah diri kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT: “Siapa-kah yang lebih baik perkataannya daripada orang
yang berdo’a kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata; “Sesung-
guhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” 134

Ketiga, Melaksanakan do’a setiap saat, baik ketika ditimpa kesulitan hidup
maupun ketika mendapat kenikmatan. Karena hal ini merupakan salah
satu tanda syukur kita atas pemberian Allah SWT yang tidak terhitung
banyaknya, disamping juga sebagai pengakuan kita atas kemahakuasaan-
Nya, kemaha rahiman-Nya dan Asmaul Husna milik-Nya, firman Allah
SWT: “Hanya milik Allah-lah Asmaul Husna (nama-nama yang baik) maka ber-
mohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul Husna.” 135
Serta dengan do’a dan dzikir, kita akan terhindar dari sifat orang yang
lalai, sebagaimana firman-Nya; “Dan sebutlah (nama Tuhanmu) dalam
hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan de-ngan tidak meninggikan
suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
lalai.” 136
Sudah saatnya kita mengingat kembali do’a-do’a yang telah kita lupakan
dan mengulanginya sebagai sebuah ibadah dan amal shalih yang penuh
dengan hikmah dan manfaat.
ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI WAL
BUKHLI WAL HA-RAMI WA ‘ADZABIL QABRI, ALLAHUMMA ATI
NAFSI TAQWAHA WA ZAKKIHA ANTA KHAI-RU MAN ZAKKAHA
ANTA WALIYYUHA WA MAULAHA.
ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN ‘IL-MIN LA YANFA’ WAMIN
QALBIN LA YAKH-SYA WA MIN NAFSIN LA YASYBA’ WA MIN
DA’WATIN LA YUSTAJABA LAHA.
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ke-lemahan dan malas, kikir dan ketu-
aan serta siksa kubur. Ya Allah, curahkanlah ke dalam hatiku taqwa dan pensu-
cian dari dosa, Engkau sebaik-baiknya yang mensucikan hati, Engkau Pelindung
dan Penguasanya. Ya Allah, aku berlindung ke-pada-Mu dari ilmu yang tidak
bermanfaat dan hati yang tidak khusyu’, dan nafsu yang tidak puas serta dari
do’a yang tidak diterima) Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

***

134
QS. 41:33
135
QS. 7:180
136
QS. 7:205
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 51

9
IKHTIAR DAN DO’A
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi
walkasali wa a’udzubika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min ghalabatid-
dain wa qahrirrijal.”
(Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari
rundungan sedih dan duka, aku berlindung
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 52

kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku


berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu
dari beban hutang
dan penindasan orang).

***

Al-Imam Al-Syahid Hassan Al-Banna seorang aktifis pergerakan Ikh-


wanul Muslimin dan tokoh ulama Mesir mencantumkan untaian do’a di
atas dalam kitabnya “Al-Matsurat” yang berisi kumpulan dzikir dan do’a
bagi kaum muslimin terutama yang bergerak langsung dalam bidang
da’wah, karena mereka akan banyak me-ngalami tantangan dari berbagai
arah, bahkan dijelaskan dalam “Al-Wazhifat Al-Kubra” (Ke arah mema-
hami Al-Matsurat) bahwa dengan mengamalkan wirid qurani, wirid mat-
surat dan do’a rabithah, jiwa, akal, emosi dan jasad para pengemban
da’-wah akan memperoleh curahan rahmat dan berkah serta akan me-
neguhkan ikatan ukhuwah Islamiah dengan pemahaman dan pengamalan
kandungannya.137
Ketika manusia lahir ke dunia ini semuanya sama lemah tidak berdaya
dan hanya berbekal harapan hidup. Kemudian jalan hidup pun kita jalani
dengan kompetisi menuju satu maksud dan tujuan yaitu meraih kebahagi-
aan, sehingga satu sama lain mempunyai pengalaman yang berbeda,
status sosial yang tidak sama serta tingkat kehidupan yang beragam.
Sering kita saksikan suasana kehidupan yang sangat mencolok, namun hal
ini jangan dijadikan kecemburuan sosial yang menimbulkan pertenta-ngan
kelas di masyarakat. Tapi juga jangan dibiarkan menjadi sebuah kewa-
jaran yang tidak teratasi. Status hidup sangat ditentukan oleh besar
tidaknya usaha manusia ke arah perubahan yang lebih baik, sebagaimana
firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka
merubah keadaan mereka sendiri.” 138 Namun seberapa besar upaya manusia
merubahnya, tidak bisa lepas dari keputusan yang Maha Kuasa. Karenan-
ya, ikh-tiar manusia tidak cukup dengan ikhtiar badani saja, tapi harus
dibarengi dengan permohonan ke-kuatan mencapai apa yang diharapkan.
Jadi, ikh-tiar dalam kasab dan ikhtiar dalam do’a mutlak harus dilakukan
oleh seseorang yang ingin mengu-bah keadaan hidupnya.
Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi dijelaskan peran ibadah (baca: do’a)
sangat besar dalam kehidupan seorang manusia. Firman Allah: "Wahai
anak cucu Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku pasti hatimu akan
kucurahkan ketenteraman dan lebar dada serta aku akan menutupi keadaanmu.

137
1995:30
138
QS 13:11
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 53

Tapi jika kamu tidak beribadah ke-pada-Ku, Aku akan bebankan kepadamu
kesibukan-kesibukan dan tidak pernah Kututupi kebutuhanmu." 139
Manusia kerap mengalami ketegangan dalam berinteraksi dengan
lingkungan dan masyarakat sekelilingnya, baik secara langsung atau
akibat lain yang membebani langkahnya. Karena itu Allah SWT dengan
kemurahan-Nya membekali manusia dengan akal dan bimbingan wahyu
yang secara lengkap diberikan contoh figur Rasulullah SAW.
Tapi setelah mengalami perjalanan hidupnya, banyak manusia yang ter-
goda oleh sampah duniawi dan terjerumus dalam perangkap Iblis la’natul-
lah, sehingga menyimpang dari tujuan pokok yaitu beribadah kepada-Nya
dan menjadi manusia sesat yang kehilangan pegangan. Sebab itu
hubungan dengan Allah perlu diperkuat agar mendapat kemantapan
dalam jiwanya. Manusia disuruh agar senatiasa berdo’a dan bermunajat
kepada-Nya dengan memohon petunjuk-Nya setiap saat.
Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid, dilihatnya seorang
shahabat duduk tepekur berdzikir, terlihat khusyu’ dengan mata dibasahi
air mata kebimbangan. Setelah didekati, ternyata dia adalah Abi Umamah
Al-Bahily salah seorang shahabat yang dikenal tegar memperjuangkan
dan membela Islam. Rasul pun bertanya: "Apa gera-ngan yang menyebabkan
kedukaan ini ?" Diapun berkisah: ”Wahai Rasulullah, aku ini seorang yang ter-
lilit hutang teramat banyak sehingga aku tidak mampu melunasinya.” Rasulul-
lah tertegun, kemudian bersabda; "Maukah kau kuajarkan sebuah do’a yang
bisa membuat hatimu tenteram dan menghilangkan kegelisahanmu ?" Abu Um-
amah mengangguk, maka Rasulullah membacakan do’anya: “Allahumma
inni a'udzu bika minal hammi wal hazan waa'udzu bika minal 'ajzi walkasali wa
a'udzubika minal bukhli wal jubni wa a'udzu bika min ghalabatiddain wa qahrir-
ijal.” (Ya Allah, aku ber-lindung kepada-Mu dari rundungan sedih dan
duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku ber-
lindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-
Mu dari beban hutang dan penindasan orang).
Ternyata do’a pendek itu mampu membangkitkan gairah hidup Abu Um-
amah yang hampir terperosok dalam jurang keputusasaan dan rasa stress
yang kronis. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyingsingkan lengan
bajunya untuk meng-aplikasikan do’a yang telah dia terima dari seorang
utusan yang agung. Dia memahami betul makna dan maksud do’a yang
sarat hikmah dan nasehat yang tinggi nilainya. Akhirnya dia menjadi seor-
ang shahabat yang selalu optimis menghadapi kehidupan dan tidak pes-
imis atau putus asa dengan keadaan yang telah menimpanya, sehingga ia
termasuk salah seorang yang disebutkan dalam Al-Quran "Yaitu mereka
yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami memberi petunjuk kepada mereka dan se-
sungguhnya Allah bersama orang yang berbuat baik.” 140
139
HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibn Majah
140
QS Al-Ankabut: 69
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 54

Al-hammi dalam do’a di atas adalah rasa khawatir dan resah menghadapi
kejadian yang akan menimpa sebelum terjadi. Pepatah mengatakan “kalah
sebelum bertanding", akibatnya selalu meng-ganggu pikiran dan menjadi
beban hidup. Seharusnya seorang mu’min tidak gelisah menghadapi masa
depan dan selalu berkeyakinan Al-ghadd biyadillah (masa depan di tangan
Allah), sehingga tetap optimis menghadapi masa depan dengan usaha se-
maksimal mungkin.
Al-Hazan adalah kebingungan atas apa yang telah terjadi, terus larut
dalam kesedihan yang ber-kepanjangan. Akibatnya jalan hidup tertutup
dan hidup hanya berandai-andai dalam lamunan ham-pa. Sebuah sya'ir
Arab menyebutkan:"Yang lalu biarlahlah berlalu, masa depan belumlah tahu,
yang ada hanyalah sekarang yang sedang kau jalani."
Al-’Ajzi ialah perasaan lemah tidak berdaya. Melihat orang lain maju tidak
jadi pemicu gairah kerja, tetapi menimbulkan rasa rendah diri dan
ketidakmampuan. Padahal setiap manusia diberi kelebihan dari yang
lainnya.
Al-Kasal artinya tidak punya kemauan atau sifat malas yang tanpa alasan.
Rasa malas ini lahir ketika melihat pekerjaan yang dia pandang tidak
sanggup melaksanakannya. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan kerja
sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, sehingga semangat kerja tetap stabil
dan bergairah selalu.
Al-Bukhli berarti kikir, di mana seseorang telah meraih apa yang dicita-
citakan, dia lupa daratan dan tidak ingat kejadian asalnya serta me-
lupakan jasa orang kecil yang membantunya mencapai kesuksesan.
Al-Jubn adalah sifat rakus dan pengecut akibat rasa takut hilangnya harta
atau jabatan yang ada dalam genggamannya. Berat rasanya dia tinggalkan
kekayaan yang dia raih. Akibatnya menjadi seorang manusia yang diliputi
rasa takut dan muncul sifat sombong dengan hasil usahanya tersebut.
Ghalabatu dain ialah terlilit hutang seperti yang terjadi pada Abu Umamah.
Dengan menghindari diri dan berlindung kepada-Nya dari sifat Al-Hamm,
Al-Hujn, Al-’Ajzi, Al-Kasal, Al-Bukhl dan Al-Jubn akan mudahlah dia
menyelesaikan masa-lahnya serta bisa melunasi hutang-hutangnya.
Yang terakhir ialah Qahr ar-Rijal yaitu mohon perlindungan dari penin-
dasan manusia disebabkan menurunnya martabat karena berhutang,
menge-mis dan lain-lain. Dengan permohonan ini, ia akan menjadi
manusia yang terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia.
Demikianlah, apabila manusia dapat menjauhi sifat-sifat di atas dan
mengamalkannya baik dalam do'a maupun ikhtiar, pastilah akan tercapai
kebahagiaan yang diharapkan serta hilanglah rasa tertekan atau stress
yang menjadi penyakit masyarakat modern sekarang ini dan menjadi
manusia yang selalu optimis menghadapi masa depan. Insyaallah.
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 55

***

1 AKHLAQ
PEWARIS AL-QURAN
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di ant-
ara hamba-hamba Kami,
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 56

lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara
mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu
berbuat
kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu
adalah karunia yang amat besar.”
(QS. Fathir/35:32)

***

Al-Quran merupakan sumber utama dan pertama dalam Islam, dis-


amping sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia 141 juga merupakan
petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.142 Kandungan Al-
Quran amat luas dan dalam mencakup segala pokok-pokok ajaran yang
terdapat dalam kitab sebelumnya. Isinya selalu relevan sampai kapanpun,
sebab ayat demi ayatnya adalah firman Allah yang Maha Benar dan Maha
Tahu waktu yang lampau, sekarang dan yang akan datang.
Keotentikan Al-Quran dari dulu sampai se-karang terjamin dan terpeli-
hara di sisi Allah SWT baik susunan hurufnya maupun kandu-ngan
maknanya. Kemudian dibuktikan oleh manusia yang punya kelebihan
ilmu. Abdul Hamid Mahmud, Syekh Al-Azhar menyatakan: “Para ori-
entalis yang dari saat ke saat berusaha menemukan kelemahan Al-Quran, namun
tidak berhasil.”
Setelah kita meyakini akan keotentikan Al-Quran sebagai wahyu dari Al-
lah SWT, maka tanpa ragu lagi seorang muslim dituntut untuk memahami
dan mengamalkannya disamping membaca sebagai amal ibadah yang
teramat mulia dengan pahala berlipat ganda, firman Allah SWT : “Dan Al-
Quran ini telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacan-
ya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi ba-
gian.” 143
Al-Quran memang hanya 114 surat saja dan tidak akan bertambah atau
berkurang,144 tetapi setiap saat, kandungan makna dan keluasan ilmunya
tidak pernah habis. Sudah beratus jilid buku dan kitab mengungkapkan
ayat demi ayatnya, namun semakin digali semakin bertambah luas
kajiannya. Dari wahyu Ilahy ini telah lahir berbagai cabang ilmu sesuai
dengan perkembangan zamannya. Pokok-pokok kan-dungan Al-Quran te-
lah banyak diulas dalam Ulumul Quran, yaitu ilmu yang menjelaskan se-
luk beluk Al-Quran.
Sebagai konsep, Al-Quran memang termasuk kitab yang lengkap dan ter-
jamin validitasnya, sehingga banyak orang yang kagum akan ke-

141
QS. 2:105
142
QS. 2:2
143
QS. 17:106
144
QS. 5:3
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 57

beradaannya. Namun, sebenarnya tujuan diturunkan Al-Quran ialah pen-


erapan dan pengamalan konsep-konsep tadi dalam perilaku kehidupan
manusia, sehingga setiap ma-nusia sadar akan tujuan hidup dan hakikat
penciptaannya. Tanpa dipelajari isinya serta diikuti petunjuk-petunjuk-
nya, maka Al-Quran tidak akan menjadi hidayah, sebagaimana per-
umpamaan yang dikemukakan Abul A’la Maududi dalam “Fundamentals
of Islam“ de-ngan judul “It is Imperative to Understand and Follow Qur-
an” (Masalah terpenting dalam memahami dan mengikuti Al-Quran);
“Bagaimana pendapat anda bila seseorang yang sakit kemudian diberi resep atau
kamus obat-obatan, apakah hanya dengan membolak-balik dan membaca resep
tersebut bisa meng-hilangkan penyakitnya ?, tentu jawabnya mustahil, dan orang
akan menganggapnya gila. Demikian juga perlakuan kita terhadap sebuah konsep
(Al-Quran) yang datang dari Yang Maha Penyembuh, berisi resep yang bisa me-
nyembuhkan penyakit hati. Apakah hanya dengan memandanginya dan mem-
bacanya penyakit itu akan hilang. Tanpa mengikuti petunjuk yang diberikan
serta menerapkannya, maka konsep itu akan sia-sia.” 145
Dalam hal ini Maududi menekankan agar sikap kita terhadap Al-Quran
jangan seperti orang sakit yang diberi resep obat tapi hanya dilihat tanpa
dimengerti isinya apalagi dilaksanakan aturan-aturannya. Nasehat di atas
sesuai dengan sebuah firman Allah SWT;
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di ant-
ara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka
sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada
pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu
adalah karunia yang amat besar.” 146
Ayat ini mengungkapkan tiga sifat dan sikap ummat Muhammad SAW
terhadap Al-Quran, yaitu;

Pertama, mereka yang menganiaya dirinya sendiri, ialah orang yang lebih
banyak kejahatannya daripada kebaikannya.
Kedua, golongan pertengahan ialah orang yang kebaikannya sebanding
dengan kesalahan.
Ketiga, mereka yang bersegera dalam kebaikan, ialah orang-orang yang
kebaikannya amat banyak dan jarang berbuat salah.147
Mengenai ketiga sifat ini, Ibnu Katsir me-ngemukakan beberapa pendapat
tentang balasan Allah kepada mereka masing-masing. Sementara sebagian
mufasir memandang golo-ngan pertama termasuk kafir walaupun dia tel-
ah menerima Al-Quran. Yang berpendapat seperti itu di antaranya Mu-
jahid dan Ibnu Abi Najih. Ada pula yang menganggapnya munafik, sep-
erti Imam Malik, Qatadah, Al-Hasan dan lain-lain. Tetapi yang lebih

145
Maududi, 1976:19
146
QS. Al Fathir 35:32
147
Tanwirul Miqbas Min Tafsir Ibni Abbas:367
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 58

shahih menurut Ibnu Katsir, golongan pertama ini masih termasuk ummat
Islam sebagaimana zhahirnya ayat (min ‘ibaadinaa...) selain diperkuat oleh
beberapa Hadits, diantaranya sabda Rasulullah SAW: “Allah Ta’ala menur-
unkan ayat ini (QS. 35:32); orang yang bersegera dalam kebaikan (golongan
ketiga) mereka masuk surga tanpa hisab, orang yang pertengahan (golongan ke-
dua) mereka mendapat hisab yang mudah dan orang yang mendzalimi dirinya
(golongan pertama) mereka mendapat hisab yang lama di Mahsyar kemudian Al-
lah memaafkan mereka dengan rahmat-Nya, mereka itu termasuk o-rang-orang
yang diampuni.”148,149
Dalam khulashahnya, Syekh Al-Maraghi menjelaskan sikap ketiga go-
longan tersebut. Golongan pertama, sedikit mengamalkan Al-Quran dan
sering mengikuti hawa nafsunya. Golongan kedua, seimbang antara
pengamalan dan pengingkarannya. Golongan ketiga, me-ngejar pahala dari
Allah SWT dengan amal shalih dan pengamalan Al-Quran.150
Memperhatikan ketiga sifat di atas, maka sudah selayaknya kaum
muslimin yang telah mewarisi Al-Quran mengintrospeksi diri ma-sing-
masing, sudah sejauh manakah sikap kita terhadap Al-Quran terutama
pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk meningkatkan pema-
haman dan pengamalan kita terhadap Al-Quran, ada beberapa manhaj
(aturan) yang harus dilaksanakan sesuai dengan tingkatan kemampuan
masing-masing pribadi muslim.

Manhaj Pertama, Mendengarkan Al-Quran

Bila kita melihat sejarah pada masa Rasulullah SAW, ketika ummat Islam
masih minoritas dan dikucilkan, yang pertama kali dijadikan cara ber-
da’wah ialah dengan memperkenalkan bacaan Al-Quran. Banyak diantara
mereka setelah mendengar ayat demi ayat dengan se-ngaja atau tidak
mereka tertarik kemudian memeluk Islam. Disamping tidak sedikit juga
yang menutup kupingnya, tidak ingin terpengaruh oleh bacaan Al-Quran,
sebagaimana di-sinyalir dalam firman Allah SWT: “Dan apabila dibacakan
kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri, seolah-
olah dia tidak mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya, maka
beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.” 151
Umar Bin Khatab adalah seorang shahabat yang mendapat hidayah sete-
lah mendengar Fatimah adiknya, membaca QS. Thaha ayat 1-8, dan luluh
hatinya di hadapan Sa’id Bin Zaid. Padahal sebelumnya beliau termasuk
tokoh kafir yang sangat ditakuti. Ibnu Mas’ud menya-takan; “Sungguh,
masuk Islamnya Umar adalah satu kemenangan. Sebelumnya kami tidak sanggup

148
HR. Ahmad dari Abi Darda
149
Ibnu Katsir III:555
150
Al-Maraghi VIII, 22:130
151
QS. 31:7
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 59

shalat di Ka’bah, namun setelah Umar masuk Islam, ia menentang pembesar


Quraisy, tanpa takut ia lakukan shalat di Ka’bah dan kamipun mengikutinya.
Merekapun segan untuk mengusik kami lagi.” Inilah bukti dikabulnya do’a
Rasulullah SAW ;”Ya Allah, kokoh-kanlah Islam dengan Abil Hakam (Abu Ja-
hal) Bin Hisyam atau Umar Bin Khatab.”
Juga masuk Islamnya Thufail Bin Amr seorang tokoh Quraisy dan ahli sas-
tra, yang akhirnya terkagum-kagum mendengarkan indahnya sastera dan
kandungan al-Quran.152
Pengertian mendengar di sini tidak hanya menikmati alunan bacaannya,
tetapi juga men-dengar setiap nasehat yang bersumber dari Al-Quran. Ke-
wajiban mendengar ini tercantum dalam firman Allah: “Dan apabila diba-
cakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikan dengan tenang
agar kamu mendapat rahmat.” 153
Rasulullah SAW sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al-Quran
dari orang lain. Pernah suatu hari beliau menyuruh Ibnu Mas’ud untuk
membacakan Al-Quran, dan ketika sampai pada surat An-Nisa:41 Rasul
bersabda; “Cukup ya Ibnu Mas’ud !” Ibnu Mas’ud melihat Rasulullah SAW
meneteskan air mata dan menundukan kepala karena menghayati setiap
ayatnya.154
Inilah salah satu bukti bahwa mendengarkan Al-Quran tidak saja
menikmati indahnya suara qari’, tetapi juga menghayati penjelasan-pen-
jelasan yang dikandungnya. Firman Allah; “Dan apabila mereka mendengar
apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka men-
cucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah me-reka ket-
ahui.”155

Manhaj Kedua, Membaca Al-Quran

Allah SWT dalam wahyu yang pertama memerintahkan kepada Rasul-


Nya untuk mem-baca. Membaca dalam pengertian yang luas. Membaca
ayat-ayat qauliyah 156 dan membaca ayat-ayat kauniyah yaitu memperhatik-
an setiap tanda kekuasaan-Nya di jagat raya ini.157
Para ulama terdahulu tidak henti-hentinya membaca dan memperdalam
Al-Quran. Kare-na hanya Al-Quran lah kitab suci yang dijadikan rujukan
pokok dan diyakini membacanya sebagai ibadah yang diberi pahala ber-
lipat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah, maka baginya satu ke-
baikan. Satu kebaikan itu akan berlipat ganda menjadi sepuluh kali lipat. Aku
152
Al-Qur’an Wa Ashab Rasulillah SAW, 16-18.
153
QS. 7:204
154
Muttafaq ‘Alaih
155
QS. 5:83
156
QS. 38:29
157
QS. 41:53
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 60

tidak menganggap alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf,
laam satu huruf dan miim satu huruf.” 158
Membaca Al-Quran juga merupakan salah satu tanda ke-imanan dan men-
jadi pembeda antara seorang muslim dan kafir, firman Allah SWT; “Dan
apabila kamu membaca Al-Quran, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-
orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhirat, suatu dinding yang tertu-
tup.” 159
Allah SWT memberikan hujjah yang kuat bagi mereka yang membaca Al-
Quran. Firman-Nya; “Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya
Kami akan menurunkan kepa-damu perkataan yang berat.” 160
Dalam membaca Al-Quran, kemampuan orang beragam. Ada yang lancar
dan tidak sedikit yang masih mengeja. Meskipun demi-kian, setiap orang
mendapat balasan sesuai usahanya.

• Tingkatan Pertama, membaca dengan mengeja huruf.

Walau tingkat ini termasuk paling rendah dalam pandangan manusia,


namun di sisi Allah Ta’ala termasuk amal yang besar pahalanya. Sabda
Rasulullah SAW; “Barangsiapa membaca Al-Quran dengan lancar, maka dia
bersama malaikat penulis wahyu yang mulia, dan barangsiapa yang membaca Al-
Quran, namun lidahnya masih berat dan terbata-bata, maka baginya mendapat
dua pahala.” 161 Dua pahala ini adalah Pertama, karena dia membaca Al-
Quran dan Kedua, karena dia mau belajar mendalami kitabullah ini.

• Tingkatan Kedua, membaca sesuai dengan tajwid dan hukum qiraat yang ber-
laku.

Firman Allah; “Dan bacalah Al-Quran dengan tartil.”162 Beberapa Hadits juga
menjelaskan tentang keutamaan membaguskan bacaan Al-Quran, se-
hingga Imam An-Nawawi dalam “Riyadlus Salihin”nya memuat bab
khusus “Istihbab Tahsinis Saut bil Quran wa Thalabal Quran min husnis saut
wal Istima’ lahu.” (Bab keutamaan membaguskan suara bacaan Al-Quran
dan mencari bacaan yang lebih baik lagunya serta mendengarkannya).
Dalam bab ini terdapat sabda Rasulullah SAW;
“Barangsiapa yang tidak membaguskan baca-an Al-Quran, maka ia bukan dari
golongan kami.” 163

158
HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud
159
QS. 17:45
160
QS. 73:4-5
161
Muttafaq Alaih
162
QS. 73:4
163
HR. Abu Dawud dari Abi Lubaba Basyir Ibn Abil Mundzir
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 61

• Tingkatan Ketiga, Membaca Al-Quran dan mengetahui terjemahnya.

Tingkat ini merupakan pengembangan setelah mampu membaca Al-Qur-


an. Dengan menguasai terjemah setiap kata, maka akan membuka jalan
selanjutnya pada tahap pemahaman Al-Quran.
Iyas Bin Mu’awiah pernah berkata:
“Perumpamaan orang-orang yang membaca Al-Quran sedang mereka tidak men-
getahui tafsirnya, bagaikan kaum yang diberi surat oleh raja mereka di waktu
malam, sedang mereka tidak punya pelita, mereka merasa ketakutan tetapi tidak
mengetahui apa yang ada dalam surat itu. Dan perumpamaan orang yang men-
getahui tafsir Al-Quran, adalah bagaikan orang membawa pelita kepada mereka
sehingga mereka dapat membaca apa yang ada dalam surat itu.”164

• Tingkatan Keempat, membaca Al-Quran dengan penghayatan dan pemahaman


yang mendalam sehingga meresap ke dalam hati dan mampu menenangkan jiwa.
Firman Allah SWT; “Sesungguhnya orang yang beriman itu hanyalah mereka
yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan
kepada mereka ayat-ayatnya bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada
Rabb-lah mereka bertawakal.” 165
Demikian luas makna membaca Al-Quran, sehingga kita dianjurkan untuk
meningkatkan pendalaman terhadap Al-Quran. Sabda Rasulullah SAW;
“Katakanlah kepada pemilik Al-Quran, bacalah dan perbaikilah bacaannya, serta
bereskanlah sebagaimana kamu memperhatikan masalah keduniaan, sesung-
guhnya tempat berhenti ketika membaca adalah akhir ayat.” 166
Perhatian para shahabat terhadap Al-Quran patut dicontoh. Banyak di
antara me-reka yang sudah hapal ketika usia dini dan banyak yang
mengkhatamkan Al-Quran. Abdullah Bin Umar setiap pekan sekali
khatam Al-Quran. Utsman Bin Affan, Zaid Bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan
Ubay Bin Ka’ab khatam setiap hari Jum’at. Bahkan para ulama salaf men-
contohkan, seperti An-Nakha’i yang meng-khatamkan Al-Quran setiap
tiga pekan sekali, dan Qatadah yang khatam setiap tujuh malam sekali.
Rasulullah SAW sendiri memberi batasan cara mengkhatamkan Al-Quran
sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Amr Bin Ash, ia bertan-
ya kepada Rasulullah SAW ; “Ya Rasulallah SAW, berapa lamakah aku harus
membaca Al-Quran (sampai khatam)?” Beliau menjawab; “Bacalah dalam waktu
sebulan !” Ia berkata lagi; “Aku mampu lebih cepat dari sebulan.” Rasul men-
jawab; “Tamatkanlah dalam 25 hari !” Katanya lagi; “Aku mampu lebih cepat
dari itu.” Rasul menjawab; “Tamatkanlah dalam 20 hari !” Dia berkata lagi;
“Aku mampu lebih cepat dari itu.” Rasulullah SAW menjawab; “Tamatkanlah
dalam 7 hari !” Dia berkata lagi; “Aku mampu lebih cepat dari itu.” Lalu Rasu-

164
Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurthubi, Muqaddimah
165
QS. 8:2
166
HR. Abi Dawud & At-Tirmidzi dari Abdullah ibn Amr Ibn Ash
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 62

lullah SAW bersabda; “Tidak akan mengerti isi Al-Quran orang yang menam-
atkannya kurang dari tiga (hari).” 167
Rasulullah SAW pernah mewasiatkan ke-pada ummatnya untuk mendidik
generasi Islam dengan tiga hal;
1. Didiklah anakmu dengan mencintai Rasul.
2. Didiklah anakmu dengan mencintai keluarganya.
3. Didiklah anakmu dengan membaca al-Quran.
Namun, apa yang terjadi sekarang sungguh mengkhawatirkan, dimana
anak-anak tidak lagi interes pada pengajian malam, mereka lebih senang
duduk di depan Televisi atau Video Game. Seperti diungkapkan KHE.
Abdurrahman; “Umumnya anak-anak kaum muslim se-karang tidak banyak
yang pernah tamat al-Quran, bahkan di kalangan juru da’wah yang banyak hafal
al-Quran ada yang belum pernah membaca dari awal sampai tamat. Kebiasaan
lama khataman Quran mulai hilang dan cara yang dicontohkan Nabi belum ber-
jalan.” 168

Manhaj Ketiga, Mentadabburi dan mengikuti Al-Quran

Tadabbur ada kesamaan arti dengan tafakkur. Bedanya, tadabur lebih bersi-
fat khusus yaitu menghayati ayat-ayat Allah dengan tujuan mendekatkan
diri kepada Allah sedekat-dekat-nya. Firman Allah SWT; “Ini adalah kitab
(Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya
mereka merenungkan ayat-ayatnya (tadabbur) dan supaya menjadi pelajaran bagi
mereka yang berpikir.” 169
Sedangkan tafakkur lebih umum yaitu me-renungkan ayat-ayat Allah
yang penuh dengan rahasia kemahakuasaan-Nya, maupun ayat-ayat
Qauliah (Al-Quran).
Mentadaburi Al-Quran termasuk yang di-perintahkan dan tinggi nilainya
di hadapan Allah Ta’ala. Sabda Rasulullah SAW; “Neraka wail bagi orang
yang membaca Al-Quran tetapi tidak mentadaburinya.” 170
Hadits ini amat keras mengecam orang yang tidak menghayati Al-Quran
dan mengikuti aturan-aturannya yang merupakan salah satu cara men-
tadabburi kandungan Al-Quran. Firman Allah; “Thaha, Kami tidak menur-
unkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peri-
ngatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah).” 171
Sikap tadabbur ini akan melahirkan sikap tadzakkur yaitu menjadikannya
sebagai sumber hukum dan kamus hidup yang memapah pada kebahagi-
aan dunia dan Akhirat. Untuk itu Allah menjadikan Al-Quran sangat

167
HR. Ahmad
168
Perbandingan Madzhab-Madzhab
169
QS. 38:29
170
HR. Abid Ibn Hamid
171
QS. 20:1-3
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 63

mudah untuk dipelajari, sebagaimana firman-Nya; “Dan sesungguhnya tel-


ah Kami mudahkan Al-Quran itu untuk pelajaran, maka adakah orang-orang
yang mengambil pelajaran ?“ 172
Imam Ibnul Qoyim menyebutkan lima po-kok perhatian terhadap Al-Qur-
an ketika me-nafsirkan QS. 25:30.

Pertama, perhatian dengan mendengarkan, mengimani dan tunduk ke-


padanya.
Kedua, perhatian dengan mengamalkan dan menerima seluruh kandun-
gannya walaupun bertentangan dengan hawa nafsunya.
Ketiga, perhatian dengan menjadikan sumber hukum yang valid dan diter-
ima keputusannya.
Keempat, perhatian dengan mentadabburi serta memahami apa yang di-
maksud di dalamnya.
Kelima perhatian dengan menjadikannya sebagai penawar hati yang ter-
jangkiti penyakit batin. 173

Manhaj Keempat, Mengajarkan dan menyebarkan Al-Quran.

Setelah ummat Islam menguasai ketiga manhaj sebelumnya maka ke-


wajiban selanjutnya adalah mengajarkan apa yang telah didapatnya dan
menyebarkan kebenaran Al-Quran ke seluruh pelosok negeri, agar ummat
Islam tidak ada yang “buta Al-Quran,” baik dalam pengertian sebenarnya
maupun dalam makna majazi.
Firman Allah; “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Quran itu dengan
bahasamu, agar kamu dapat memberikan kabar gembira dengannya kepada orang-
orang yang bertaqwa dan agar kamu memberikan peringatan dengannya kepada
kaum yang membangkang.” 174
Rasulullah SAW menganjurkan dalam sabdanya:”Sebaik-baiknya kamu ada-
lah orang yang mau belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” 175
Tinggallah ummat Islam menghisab diri, sudah sejauh mana sikap kita ter-
hadap Al-Quran ? Tidakkah kita terdorong oleh sebuah hadits; Sabda Ra-
sulullah SAW ;
“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga da-ri golongan manusia.” Ketika ditan-
ya: “Siapa-kah mereka itu ?” Beliau menjawab; “Yaitu Ahlul Quran (Orang
yang membaca dan meng-amalkan isi Al-Quran). Mereka adalah keluarga Allah
dan orang-orang yang istimewa bagi-Nya.” 176

172
QS 54:17
173
Fawaid 1985:108
174
QS 19:97
175
HR. Al-Bukhari
176
HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Hakim dan Nasa’i dari Anas RA
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 64

”Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan
memberikan kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal
shalih bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.” 177

***

1
177
QS 17:9
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 65

TAUBAT
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat
yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan-mu akan menghapuskan
kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai.” (QS. at-Tahrim/ 66:8)
***

“Taubat bukan karena berbuat dosa”. Ungkapan ini mungkin janggal


kedengarannya. Karena biasanya seseorang bertaubat disebabkan dia tel-
ah berbuat dosa atau kesalahan. Tapi ini ? Taubat bukan karena berbuat
dosa. Sebenarnya ungkapan ini berasal dari pemahaman penulis terhadap
sebuah Hadits dari Abu Hurairah RA yang mengungkapkan sabda Rasu-
lullah SAW: "Wallahi, sungguh aku beristighfar kepada Allah SWT dan ber-
taubat ke-pada-Nya tidak kurang dari 70 kali dalam sehari semalam.” 178
Dalam Hadits lain beliau bersabda: "Wahai manusia bertaubatlah kepada Al-
lah SWT dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat ser-
atus kali dalam sehari.” 179
Dua Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa taubat juga dilakukan oleh
Rasulullah SAW yang dikenal ma'shum yaitu terpelihara dari berbuat
dosa. Bahkan beliau memerintahkan manusia berbuat taubat termasuk
juga mereka yang tidak berbuat salah apalagi yang telah melakukan kesa-
lahan, sebagaimana firman Allah SWT: ”Dan bertaubatlah kamu sekalian ke-
pada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” 180
Maka dengan memahami fungsi dan hakikat taubat, kita akan menjadi
manusia yang se-lalu memohon ampunan-Nya walaupun tidak melak-
ukan dosa atau maksiat yang sengaja kita perbuat, apalagi jika kita melak-
ukannya, sege-ralah bertaubat dan menyadari kesalahan tersebut. Sabda
Rasulullah SAW: “Setiap anak cucu Adam (manusia) pernah melakukan dosa
kesalahan. Sebaik-baik orang yang yang mela-kukan kesalahan adalah mereka
yang bertaubat.” 181
Lalu, bagaimana caranya kita melaksana-kan akhlaq taubat ini, agar
melakukan taubat tidak hanya ketika berbuat dosa tapi di setiap saat dan
dimanapun berada.
Bila Rasulullah SAW bertaubat lebih dari seratus kali dalam sehari,
mengapa kita bertaubat hanya ketika berbuat dosa. Bahkan terkadang kita
tinggalkan atau lupa bertaubat pada saat berbuat kesalahan. Atau kita
178
HR. Al-Bukhari
179
HR. Muslim dari Al-Aghari Ibn Yasar Al-Muzanni
180
QS 24: 31
181
HR. Turmudzi dan Ibnu Hibban dari Anas RA
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 66

ban-dingkan dengan akhlaq taubatnya para shahabat yang dengan sebab


taubatnya mereka meraih kemenangan sebagaimana dijelaskan dalam ayat
31 surat Al-Nur di atas yang turun di Madinah setelah para shahabat
melakukan hijrah dengan keimanan dan shabar serta taubat yang mem-
buahkan kemenangan.
Apabila melihat dari lafadznya, taubat berarti ra-ja-'a, atau kembali. Mak-
sudnya, kembali dari maksiat kepada taat. Dari apa yang dibenci kepada
yang diridhai. Dari sifat tercela kepada sifat yang terpuji. Dan makna yang
lebih mendekati pengertian sebenarnya, kembali dari yang asalnya jauh
dari Allah menjadi lebih dekat kepada-Nya, demikian menurut Al-Ijiy.
Menurut Al-Qurthuby mengutip pendapat para muhaqqiqin: "Taubat ialah
menjauhi perbuatan dosa yang biasanya mendahuluimu secara sungguh-sungguh
atau menurut kemampuannya.” 182
Memperhatikan pengertian taubat di atas, maka sudah jelas bahwa taubat
harus selalu di-lakukan sebagai tanda orang yang beriman. Bahkan dalam
sebuah ayat dijelaskan: "Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mere-ka
adalah orang-orang yang zhalim.” 183
Dengan demikian, kelompok manusia dilihat dari pengertian taubat
terbagi menjadi dua golongan. Pertama, mereka yang selalu bertaubat se-
bagai jaminan keimanannya, dan Kedua ialah orang-orang yang tidak ber-
taubat dan merupakan ciri kezhaliman, karena mereka tidak mengenal
Tuhan, tak tahu hak-hak-Nya serta tidak mengetahui dan mengakui cela
dirinya. Inilah salah satu alasan taubat wajib bagi setiap muslim.
Namun tentu saja pelaksanaannya berbeda dengan mereka yang melak-
ukan dosa dengan sengaja. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah ayat
184
bahwa taubat nasuha menjadi sebab dihapusnya dosa dan kesalahan,
baik yang disadari atau yang tidak disadari. Jadi bukan karena berbuat
dosa lantas kita bertaubat. Lagi pula Allah SWT hanya menerima taubat
dari dosa yang diperbuat karena kebodohan, sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang
melakukan kejahatan karena kebodohannya, yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera. Maka me-rekalah yang yang diterima Allah taubatnya, dan Allah
Maha mengetahui dan Maha bijaksana.” 185
Al-Quran dan terjemahan DEPAG memberikan penjelasan, “jahalah” (ke-
bodohan) pa-da ayat di atas dengan tiga maksud.
Pertama, orang yang melakukan maksiat dengan tidak mengetahui bahwa
perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu.
Kedua, orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak.

182
Dalil Al-Falihin I:78
183
QS 49:11
184
QS 66:8
185
QS 4:17
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 67

Ketiga, orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran


lantaran sangat ma-rah atau karena dorongan hawa nafsu. 186
Sebenarnya, apabila manusia berbuat dosa atau maksiat, maka yang harus
dilakukan adalah istighfar yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT,
sebagaimana firman-Nya:
"Dan apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri,
mereka ingat kepada Allah SWT, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah SWT?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka menget-
ahui.” 187
Jadi, bila disimpulkan, terdapat perbedaan antara istighfar dan taubat.
Istighfar latarbelakangnya adalah berbuat dosa, sedangkan taubat adalah
mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan pengertiannya.
Walaupun di antara dua istilah ini sering terjadi perpindahan makna.
Suatu hal yang harus disadari oleh setiap manusia, tidak ada manusia
yang suci bersih dari dosa sekecil apapun. Sebagaimana di-isyaratkan se-
buah sabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah, apabila tidak ditemukan di antara kalian orang yang melakukan
dosa, maka pasti Allah akan melenyapkan kalian. Lalu dia akan menggantinya
dengan satu kaum yang melakukan dosa lalu beristighfar memohon ampun dan
Dia mengampuni mereka.” 188 Sehingga apabila kesadaran itu muncul, akan
banyak manusia yang beristighfar dan men-dekatkan diri kepada Allah
SWT dengan taubatnya, maka balasannya ialah kedamaian dan ke-
selamatan di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun (istighfar) kepada Tuhanmu dan ber-
taubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi ke-nikmatan yang baik terus
menerus kepadamu sampai waktu yang ditentukan dan Dia akan memberi
keutamaan-Nya kepada mereka yang melakukan kebaikan. Jika kamu berpaling,
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa Hari Kiamat.” 189
Akhirnya renungkanlah sebuah Hadits dari Aisyah RA yang mengisahkan
detik terakhir kehidupan Rasulullah: "Adalah Rasulullah SAW ketika saat-
saat kematiannya, terus menerus mengucapkan: "Subhanallah wabihamdihi
astaghfirullah wa atuubu ilaihi." (Maha suci Allah dan dengan puja puji-Nya,
aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). 190
***

1
186
No: 277
187
QS 3:135
188
HR. Muslim dari Abu Hurairah RA
189
QS 11:3
190
Muttafaq ‘Alaih
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 68

MAGHFIRAH
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang ber-
taqwa.” (QS. Ali Imran/3:133)
***

Maghfirah berasal dari akar kata “ghafara” yang berarti menutup atau
memperbaiki. Ampunan Allah disebut maghfirah karena Dia menutup
segala dosa dan kesalahannya. Keterkaitan antara taubat dan maghfirah
sangatlah dekat. Kalimat Al-Quran yang berasal dari “ghafara” cukup ba-
nyak, ada lebih kurang 210 kata dengan ber-bagai bentuknya. Hal ini men-
jadi isyarat akan sangat pentingnya masalah maghfirah dalam kehidupan
seorang muslim.
Ayat yang dijadikan topik tulisan ini berkenaan dengan kedudukan magh-
firah dan amali-yah yang dapat mengantarkan kita dalam me-raihnya. Fir-
man Allah: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan ke-
pada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertaqwa.” 191
Al-musara’ah ilal maghfirah (bersegeralah menuju ampunan) adalah perin-
tah Allah kepada orang-orang yang beriman. Menyegera-kan amal shalih
dan tidak menunda-nunda walau beberapa waktu, sangatlah dianjurkan.
Banyak ayat Al-Quran yang menyatakan hal itu, dipertegas lagi oleh be-
berapa Hadits di antaranya, apa yang diungkapkan oleh Ibnu Umar RA:
“Apabila kamu berada di waktu sore maka jangan tunggu waktu pagi, dan bila
kamu berada di waktu pagi maka jangan tunggu waktu sore, gunakanlah waktu
sehatmu sebelum datang waktu sakit, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” 192
Ayat dan Hadits di atas sungguh membuat kita harus lebih memperhatik-
an masalah waktu dalam kebaikan. Demikianlah tanda orang yang ber-
taqwa, setiap waktu selalu digunakan beramal shalih untuk meraih magh-
firah Allah.
Makna ayat di atas sejalan dengan sebuah Hadits dari Anas Bin Malik RA
Katanya, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Allah SWT berfir-
man, “Wahai Bani Adam, Sungguh jika engkau memohon kepada-Ku dan meng-
harapkan (pertemuan) dengan-Ku pasti Aku ampuni segala apa yang ada padamu

191
QS. 3:133
192
HR. Al-Bukhari
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 69

tanpa peduli. Wahai Bani Adam, sekalipun dosa-dosamu bertumpuk sampai


memenuhi langit, tapi kemudian kamu memohon ampun ke-pada-Ku, niscaya Ku
ampuni seluruh dosamu. Wahai Bani Adam, sekiranya engkau datang dengan
dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku (mati) dalam keadaan tidak
menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku akan berikan ampunan se-
timbang dengan dosa tersebut.” 193
Maka untuk mencapai maghfirah Allah yang luas tadi, dijelaskan oleh lan-
jutan ayat yang sekaligus merupakan sifat dan karakteristik orang yang
bertaqwa.

Pertama, Orang yang menafkahkan hartanya, baik ketika lapang maupun


sempit. Infaq ataupun shadaqah merupakan bukti kebenaran taqwa yang
terhujam kuat dalam hati seorang muslim. Yang dinilai bukanlah jumlah
harta atau benda yang diinfaqkan, tetapi landasan yang menjadi motivasi
untuk mengeluarkan sebagian hartanya. Ayat tentang infaq ini berkaitan
erat dengan ayat sebelumnya yang meng-haramkan riba, sebagaimana fir-
man Allah, ”Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia menambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat, yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan
Allah, maka itulah orang-orang yang dilipat gandakan pahalanya.” 194
Keutamaan infaq dan shadaqah cukup ba-nyak dijelaskan dalam Al-Qur-
an. Beberapa Hadits juga menjelaskan, ”Takutlah kalian kepada neraka, (dan
selamatkanlah) sekalipun hanya dengan sepotong buah kurma, dan berikanlah ke-
pada orang-orang yang minta sekalipun itu adalah dengki yang dibakar.”
Makna shadaqah secara luas dipaparkan dalam sabda Rasulullah SAW:
”Setiap muslim atasnya (harus) shadaqah.” Mereka (shahabat) bertanya, “Ya
Nabiyallah, bagaimana jika tidak punya ?“ Sabdanya; “bekerjalah dengan
kemampuannya, maka ia mendatangkan manfaat bagi dirinya dan ia dapat ber-
shadaqah,” me-reka berkata lagi, “bagaimana jika tidak mampu?”, sabdanya,
“dia (sedekah) dengan menolong orang yang membutuhkan dan yang
kesusahan,” mereka bertanya lagi; “bagaimana jika tidak mampu,” sabdanya,
“kerjakanlah yang baik dan cegahlah dirinya dari perbuatan jahat maka sesung-
guhnya itu adalah shadaqah baginya.” 195

Kedua, Orang-orang yang menahan ama-rahnya dan memaafkan kesalahan


orang serta berbuat baik terhadap sesamanya.
Marah adalah sifat yang manusiawi. Namun, jika nafsu amarah yang
bergejolak itu tidak dapat terkendali tentu akan merugikan diri sendiri.
Maka Rasulullah SAW menyatakan; “Orang yang kuat bukanlah orang yang

193
HR. At-Tirmidzi
194
QS. 30:39
195
HR. Al-Bukhari dari Abi Musa Al-Asy’ary
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 70

pandai bergulat, tetapi (orang yang kuat) adalah orang yang mampu menahan
diri ketika marah.”
Orang yang selalu emosi ketika meng-hadapi masalah akan menjeru-
muskan dirinya pada penyesalan yang tiada akhir. Maka, jika kita sudah
mencapai titik kemarahan yang sangat, Rasulullah SAW menganjurkan
agar cepat-cepat mengambil air wudlu. Ini langkah untuk mengendalikan
kemarahan tadi, beliau bersabda; “Barangsiapa yang menahan rasa marahnya
sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memenuhi hatinya de-
ngan rasa ketenangan dan keimanan.”
Selanjutnya tanda orang yang taqwa yang mendapat maghfirah Allah ada-
lah mereka yang dapat memaafkan kesalahan orang lain seberapapun
kesalahan mereka.
Sangat berat menjadi seorang pemaaf. Karenanya Rasulullah SAW amat
memuji o-rang yang mampu memaafkan di saat mereka berkuasa mem-
balas dendam. Sabdanya;
“Barangsiapa suka bangunan rumahnya (di surga) didirikan dan diangkat dera-
jatnya, hendaklah ia memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya,
memberi kepada o-rang miskin dan menyambung silaturrahmi dengan orang
yang memutuskannya.” 196
Kemudian, Allah SWT sangat mencintai orang yang menolong sesamanya,
menyantuni hambanya yang menderita sebagai tanda rasa syukur ter-
hadap-Nya.
Imam Baihaqy mengetengahkan sebuah riwayat. Ada seorang hamba
sahaya wanita mi-lik Ali Bin Husain RA. Ketika sahaya itu menuangkan
air wudlu padanya, tiba-tiba kendi airnya terlepas dan melukai Ali.
Alangkah marahnya dia, lalu ia mengangkat tangannya hendak memukul
sahaya tadi. Namun sahaya itu berkata; “Sesungguhnya Allah berfirman
WAL KADZIMINAL GHAIDZA, (ialah orang yang dapat menahan am-
arahnya). Sadarlah Ali dan berkata; “Aku telah menahan amarahku” sehingga
ia tidak jadi memukulnya. Sahaya itu berkata lagi; “Dan orang-orang yang
suka memaafkan orang lain.” Beliaupun menyahut; “Allah telah memaafkan-
mu.” Sahaya itu berkata lagi; “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berbuat baik.” Ali-pun menjawab; “Pergilah engkau, mulai sekarang aku
memerdekakanmu karena Allah.” 197

Ketiga, orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau


menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu me-mohon am-
punan akan dosa-dosa mereka. “Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang
mereka mengetahui.”

196
HR. Ath-Thabrany
197
Al-Maraghi IV:120
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 71

Tanda ketaqwaan terakhir adalah selalu menjaga kesucian batinnya


dengan tidak segan bertaubat jika melakukan kesalahan dan dosa. Karena
bagaimanapun besarnya dosa, jika de-ngan ikhlas kita bertaubat, pasti Al-
lah SWT Maha Pengampun, asalkan ia tidak mengulangi perbuatan
kejinya, Rasulullah SAW bersabda; “Tidak ada dosa besar yang disertai istigh-
far dan tidak ada dosa kecil yang selalu dibarengi dengan terus menerus.”
Jika setiap muslim menghayati ketiga tanda orang bertaqwa pada ayat di
atas, maka jaminannya adalah maghfirah Allah SWT, serta cita-cita ber-
temu dengan Rabb-nya akan terkabul, firman-Nya; “Mereka itu balasannya
ialah ampunan dari tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-
sungai, sedang me-reka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baiknya pahala or-
ang-orang yang beramal.” 198
ALLAHUMMAGHFIRLI WARHAMNI WAJ-BURNI WAHDINI WAR-
ZUQNI (Ya Allah, ampunilah aku dan berilah rahmat, serta lapangkanlah
batinku, berilah aku petunjuk dan limpahkanlah rizqi untukku). Amien.

***

198
QS. Ali Imran/3:133-136
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 72

1 RIZQI,
ANTARA
RAHMAT & LAKNAT
“Dan Dialah yang telah menjadikan bumi itu mudah bagi kalian. Maka berjalan
dan berusahalah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian rizqi-Nya, dan
kepada-Nya lah kalian dibangkitkan.”(QS. Al-Mulk/67:15)
***

Manusia, apapun statusnya, tetap membutuh-kan pelengkap ke-


hidupannya, terutama kebutuhan biologis seperti sandang, pangan, papan
dan pasangan. Selama hidupnya di dunia ini, seluruh kebutuhan tersebut
menghiasinya dan menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan serta kesen-
angan. Karenanya, Allah SWT dalam ayat di atas menyatakan bahwa
bumi dan isinya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia
serta seluruh makhluk-Nya. Keseimbangan alam inilah yang akan mampu
menjaga kelangsungan hidup manusia di dunia, yaitu dengan cara men-
jalani kehidupan yang baik dan berusaha atau berikhtiar mencari setiap
rizqi yang bertebaran di setiap pelosok bumi. Ayat ini juga sebagai pen-
jelasan bahwa ikhtiar merupakan titah Allah SWT kepada seluruh hamba-
Nya dan Dia membenci orang yang tidak berusaha dengan menyalah
artikan makna taqdir Allah SWT (Fatalisme).
Namun, dengan tegas ayat di atas juga meng-ingatkan manusia pencari
rizqi akan Hari Kebangkitan yang pasti akan terjadi dan dialami setiap or-
ang. Artinya, dunia dan seisinya merupakan kehidupan sementara yang
harus benar-benar dimanfaatkan untuk mencapai kebahagiaan abadi di
Akhirat kelak. Firman Allah SWT: “Kehidupan dunia ini tidak lain hanya-lah
permainan dan penghibur (sementara), sedang tempat di Akhirat itulah hidup
yang sebenarnya, andai mereka mengetahui.” 199 Dalam memahami ayat ini

199
QS. Al-Ankabut:64
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 73

bukannya Allah me-larang manusia memiliki dunia dan seisinya, tetapi


orientasinya lah yang harus diluruskan yaitu untuk mencapai keridhaan
Allah SWT di Akhirat kelak. Sebab harta, dunia, anak dan keturunan tidak
bisa lepas dari setiap manusia, sebagaimana firman Allah SWT: “Harta dan
putera-putera itu sebagai hiasan hidup di dunia. Sedang amal kebaikan yang
kekal di sisi Tuhanmu lebih baik pahala dan harapannya.” 200 Firman Allah ini
mengisyaratkan akan pentingnya manusia berusaha menjadikan harta dan
anak keturunan sebagai amal shalih bekal di Akhirat kelak. Inilah yang di-
maksudkan dalam judul tulisan ini, rizqi bisa menjadi rahmat, bila digun-
akan dalam keshalihan, tetapi rizqi juga bisa berubah menjadi laknat, jika
manusia lalai dari orientasi Akhirat dan amal shalih. 201

Rizqi sebagai Rahmat

Rizqi ialah sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh makhluk hidup,
baik berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Adapun cara
mendapatkan dan menggunakan rizqi, bisa dengan cara halal ataupun
haram, misalnya hasil curian, perjudian, penipuan, perampokan dan lain-
lain. Karenanya Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang dua per-
tanyaan pada rizqi ini, sabdanya: “Setiap hamba akan ditanya pada hari
qiamat tentang lima hal: 1) umurnya untuk apa dihabiskan, 2) masa mudanya
dipakai apa, 3) hartanya dari mana didapatkan dan, 4) kemana digunakannya, 5)
amal-nya apa yang diperbuatnya.” 202
Untuk mengetahui apakah rizqi yang ada pada kita adalah termasuk rah-
mat atau laknat, dapat dilihat dari dua hal di atas, apakah cara
mendapatkannya sesuai dengan syari’at Allah atau sebalik-nya, apakah
cara menggunakannya dibenarkan oleh agama atau tidak ?
Pertama-tama yang harus menjadi prinsip da-sar mencari rizqi ialah ber-
tujuan meraih ridla Allah SWT yaitu dengan taqwa dan semangat ibadah.
Allah SWT berfirman dalam Hadits Qudsi kepada malaikat yang diserahi
urusan rizqi Bani Adam, firman-Nya: “Hamba manapun yang kalian dapati
cita-cita maupun tujuannya hanya satu (semata-mata untuk Akhirat), jaminlah
rizqinya di langit dan bumi. Dan hamba manapun yang kalian dapati mencari
rizqinya dengan jujur, berhati-hati untuk berbuat adil, berilah dia rizqi yang baik
dan mudahkanlah baginya. Dan jika dia telah melampaui batas kepada selain itu,
biarkanlah ia sendiri me-lakukan apa yang dikehendakinya. Dia tidak akan men-
capai lebih dari apa yang telah Aku tetapkan untuknya.” 203
Firman Allah ini merupakan janji dari Allah yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang bagi hamba-Nya yang berusaha dengan ikhlas. Akhlaq

200
QS. Al-Kahfi:46
201
QS. 102:1-8
202
HR. At-Tirmidzi
203
HQR. Abu Naim dari Abu Hurairah RA
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 74

dalam mencari rizqi ini patut diperhatikan misalnya, jujur, adil, amanah,
taqwa disamping juga tetap memperhatikan perintah Allah atau dzikrullah,
sebagaimana firman Allah; “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru
untuk melakukan dan menunaikan shalat pada hari Jum’at, bergegaslah kalian
mengingat Allah dan tinggalkanlah pernia-gaan, yang demikian itu lebih baik
bagi kalian jika kalian mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah
kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan selalu ingat kepada Allah
supaya kalian beruntung.” 204
Ambisi memiliki harta memang selalu ada, maka selayak-nya kita ber-
sikap zuhud dan qana’ah dalam memandang harta, tidak rakus dan tamak.
Sabda Rasulullah SAW; “Lihatlah orang yang di bawahmu dan janganlah meli-
hat orang yang di atasmu. Karena yang demikian itu lebih baik, supaya kamu
tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepadamu.” 205
Kemudian rizqi yang telah kita miliki, dengan ikhlas kita infaqkan di jalan
Allah SWT yaitu menggunakannya pada sesuatu yang diridlai oleh-Nya.
Sebagaimana firman Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman, berinfaqlah
kamu dari sebaik-baik apa yang kamu hasilkan dan dari apa yang Kami keluarkan
untuk kamu dari bumi. Dan janganlah kamu memilih yang jelek untuk kamu in-
faqkan.” 206

Rizqi sebagai Laknat

Tentu saja, rizqi yang didapat dari sumber yang haram dan digunakan di
jalan maksiat kepada Allah SWT akan menjadi laknat bagi dirinya. Rizqi
hasil dari pencurian, perjudian, perampokan, korupsi, penipuan atau
dengan cara zhalim lainnya, bahkan rizqi yang diragukan kehalalannya
atau syubhat jangan sampai menjadi sumber penghasilan kita, karena itu
semua akan menjadi api neraka kelak, sebagaimana firman Allah; “Sesung-
guhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim sebenarnya
mereka itu menelan api neraka sepenuh perutnya dan mereka akan dilempar ke
dalam api yang menyala-nyala.” 207
Akhlaq yang jelek dalam mencari dan menggunakan harta harus dihindari
seperti bakhil, kikir, israf, tabdzir, takatsur, bermegah-megahan dan cara-cara
maksiat lainnya. Firman Allah SWT;
“Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pen-cela, yang mengumpulkan harta dan
menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,
sekali-kali tidak ! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam
Hutha-mah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Yaitu api yang disediakan

204
QS. 62:9-10
205
HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah RA
206
QS. 2:267
207
QS. 4:10
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 75

Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke hati. Sesungguhnya api itu di-
tutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) di-ikat pada tiang-tiang yang pan-
jang.” 208
Firman Allah yang senada, dengan keras me-ngecam orang yang menim-
bun hartanya tanpa mengindahkan kaum yang lemah. Firman Allah SWT;
”...dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan
(menggunakan-nya) pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bah-
wa mereka akan mendapatkan) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan
perak itu dalam neraka Jahannam lalu dibakarkan pada dahi mereka, lambung
dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka; “Inilah harta bendamu
yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari)
apa yang kamu simpan itu.” 209
Bahkan dalam sebuah Hadits Nabi SAW ber-sabda; “Demi Allah, bukanlah
kefaqiran atau kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi justeru
aku khawatir (kalau-kalau) kemewahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana
telah diberikan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian bergelimang
dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan bi-
nasa pula.” 210
Hadits ini memberi pelajaran kepada kita bah-wa kehancuran sebuah
masyarakat bukan karena rakyat yang miskin, tetapi disebabkan pendu-
duk negeri ini sudah terbuai oleh kemewahan dan materialistis yang be-
rakibat rizqi tidak lagi berkah, malah menjadi laknat bagi seluruh
masyarakatnya.
Maka, jika kita ingin mengentaskan kemiskinan yang sekarang ramai dibi-
carakan, sebenarnya ha-rus diawali dengan, “memasyarakatkan pola hidup
sederhana” bagi orang-orang yang hidup di atas garis kemewahan, bukan
sebaliknya.
Dalam ayat berikut ini Allah SWT menyatakan bahwa dunia dan segala
isinya merupakan ujian dan cobaan bagi setiap muslim. Firman-Nya; “Se-
sungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi itu sebagai perhiasan
agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amal per-
buatannya. Dan sesungguhnya Kami akan menjadikan (pula) apa yang ada di
atasnya menjadi tanah rata dan tandus.” 211
Harapan dan do’a kita, mudah-mudahan Allah SWT menurunkan rizqi
yang membawa rahmat dan memberkahi seluruh penduduk bumi dan
negeri ini. Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

***

208
QS. 104:1-9
209
QS. At-Taubah:34:35
210
HR. Al-Bukhari
211
QS. 18:7-8
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 76

1 BAHAYA TAKATSUR
“Telah melalaikan kamu perlombaan memperbanyak harta kekayaan, sampai
kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
akibatnya, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu,
jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-ben-
ar akan melihat neraka jahim dan sesungguhnya kamu akan melihat benar-benar
dengan ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu
tentang seluruh kenikmatan yang kamu rasakan.”
(QS. At-Takatsur/102:1-8)

***

Hidup di dunia memang tidak bisa dilepaskan dari yang namanya harta
kekayaan atau materi. Karena dunia itu sendiri merupakan bentuk bend-
awi yang sifatnya konkrit dan mudah dilihat. Keberadaannya yang selalu
lekat dan dekat dengan manusia bahkan meliputi seluruh badannya.
Semuanya itu alam dunia yang fana dan sementara. Uang yang ada di
kantong, baju yang dipakai, perhiasan yang melingkar di tangan, mobil
yang berderet di gerasi, semuanya menghiasi kehidupan manusia di dunia
ini. Hal itu telah di-sinyalir Allah SWT dalam firman-Nya: “Telah dihiaskan
kepada manusia suka pada pemuasan syahwat yang berupa perempuan dan anak-
anak serta menimbun harta, baik emas dan perak dan kendaraan yang mewah dan
hewan ternak serta kebun-kebun kurma, itu semua kesenangan hidup dunia dan
di sisi Allah-lah sebaik-baiknya tempat kembali.” 212
Kecenderungan akan pemuasan dunia adalah merupakan insting yang si-
fatnya manusiawi sebagaimana penegasan ayat di atas. Karena pengertian

212
QS. Ali Imran:14
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 77

dunia itu sendiri berasal dari kata “danaa” yang artinya rendah dan hina,
dekat dengan manusia, namun rendah jika manusia telah diperbudak
oleh-nya. Sebagaimana perumpamaan Rasulullah SAW, suatu hari beliau
berjalan sekitar pasar, di sana ia melihat bangkai kambing yang telinganya
cacat, maka Rasulullah SAW mengangkat telinganya dan berkata:
“Siapakah di antara kalian yang ingin membeli ini dengan satu dirham ?”
Mereka menjawab: “Tidak akan ada orang yang suka membelinya dan buat apa ?
”Nabi bertanya lagi: “Sukakah bila diberikan kepadamu cuma-cuma ?” Jawab
mereka: “Demi Allah, andaikan ia masih hidup, iapun cacat, apalagi ia sudah
menjadi bangkai.” Maka Rasulullah SAW berkata: “Demi Allah, sungguh dunia
ini lebih hina dalam pandangan Allah SWT daripada bangkai ini bagi kalian
semua.” 213
Perumpamaan ini amat menyadarkan mereka yang selama ini meman-
dang dunia di atas segala-nya dan melebihi batas sehingga lupa diri,
akibatnya mereka menjadi materialistis yang berpanda-ngan
“takatsurisme” atau menimbun harta dan bermegah-megah sampai me-
lupakan hakikat dirinya diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Namun, bukan berarti dunia tidak boleh dicari atau dimiliki oleh manusia,
karena itu sudah merupakan sifat manusia yang telah ada sejak diciptakan
ke dunia. Yang harus diperhatikan adalah jangan sampai harta duniawi
itu melalaikan dan memperdaya dirinya. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai sekalian manusia, sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kamu ter-
pedaya oleh kehidupan dunia ini dan janganlah kamu tertipu oleh suatu penipuan
sehingga terlupa kepada Allah.” 214
Peringatan Allah SWT ini menekankan kehati-hatian manusia akan bahaya
duniawi apabila tidak dilandasi oleh iman kepada Allah SWT. Karenanya,
sebelum berniat menguasai duniawi, ingatlah akan godaan yang sangat
berat, mampukah kita mengatasinya ?, karena ternyata takatsurisme ini bi-
asanya selalu melalaikan manusia selama hayat dikandung badan. Dan
yang dapat mengingatkannya hanyalah kematian. Demikian pula setelah
memiliki harta dengan niat yang baik, maka masalah selanjutnya ialah un-
tuk apa harta tersebut ? Kemana akan digunakan? Rasulullah SAW men-
gingatkan;
“Celaka dan merugilah hamba dinar atau dir-ham, atau yang diperbudak kekay-
aan, kemewahan atau perhiasan, jika diberi ia senang dan jika tidak diberi,
mereka tidak senang.” 215
Maka, selayaknya kita menyadari, bahwa harta tersebut bukan untuk
kesenangan dan kemegahan belaka, tetapi sejauh mana kita menggun-
akannya di jalan Allah SWT. Harta bisa menjadi penghalang panasnya api
neraka dan dinding yang memisah-kan dua tempat berbeda yang kekal.
213
HR. Muslim dari Jabir RA
214
QS. Luqman:33
215
HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 78

Sabda Rasulullah SAW: “Tiga perkara yang mengikuti mayat, (1) keluarganya,
(2) harta kekayaannya, dan (3) amal perbuatannya, maka dua perkara kembali
yaitu keluarga dan kekayaannya, tinggallah amal perbuatan yang akan tetap me-
nemaninya.” 216
Jadi jelas bahwa penggunaan harta kekayaan duniawi akan dipertanyakan
di Akhirat kelak, dari mana dia dapatkan ? dan kemana dia gunakan ?
Maka yang paling beruntung ialah mereka yang menggunakan hartanya di
jalan Allah SWT, baik dengan shadaqah, zakat maupun infaq fi sabilillah.
Janji Allah SWT; “Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian hartanya dari rizqi yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam atau terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perhitungan yang tidak akan merugi.”217
Banyak sekali suri teladan para shahabat yang berjiwa dermawan, mis-
alnya Utsman Bin Affan seorang saudagar namun tetap menafkahkan
hartanya di jalan Allah SWT atau Abu Bakar Ash-Shiddiq yang
menyerahkan seluruh miliknya untuk Allah dan Rasul-Nya. Demikian
juga Rasulullah SAW. Abu Dzar RA pernah mengisahkan: “Ketika saya
berjalan bersama Nabi SAW di jalan kota Madinah, kami menghadap
Uhud, maka Nabi SAW berkata; “Saya tidak senang kalau umpamanya saya
memiliki emas sebesar bukit Uhud ini, kemudian kutimbun sampai tiga hari
walau sedinar, ke-cuali hanya untuk membayar hutang atau untuk saya bagi-ba-
gikan kepada hamba Allah ke kanan kiri, ke depan dan belakang.” Kemudian
Nabi SAW berjalan sedikit dan bersabda: “Ingatlah, orang yang banyak harta
itu akan sedikit pahalanya di Akhirat kecuali yang mengeluarkan hartanya ke
kanan kiri, ke depan ke belakang, tetapi sayang sedikit sekali orang yang demiki-
an.” 218
Hadits ini menjelaskan kekhawatiran Rasulullah SAW apabila manusia su-
dah terbuai oleh harta ke-kayaannya. Memang adapula orang yang mam-
pu menggunakan harta yang melimpah ruah tersebut di jalan Allah se-
hingga terhindar dari bahaya taka-tsurisme tadi, tetapi kata Rasulullah
SAW jumlah mereka sangatlah sedikit. Umumnya, jika manusia telah
menguasai harta dan menjadi kaya raya, mereka lupa diri dan lalai akan
perintah Allah SWT.
Al-Quran surat at-Takatsur di atas merupakan khabar Insya’i yang menun-
tut kesadaran kita dari harta yang melalaikan. Suatu hari Abdullah Bin
Asy-Syiskhir RA datang kepada Nabi SAW ketika beliau membaca “alhak-
umuttakatsur..” kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Bani Adam akan ber-
kata: “Hartaku, hartaku”, “Apakah bagianmu dari hartamu selain yang kamu

216
HR. Al-Bukhari & Muslim dari Anas RA
217
QS. Fathir:29
218
HR. Al-Bukhari & Muslim
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 79

makan sampai habis dan kamu pakai sampai rusak atau kamu sedekah-kan dan
tetap menjadi simpananmu atau tersimpan untukmu.” 219

***

1 PERNIAGAAN YANG MENGUNTUNGKAN


“Hai orang-orang yang beriman,
maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang menguntungkan yang
dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih. Yaitu kamu beriman kepada
Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itu-
lah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, dan memasukan kamu ke tempat tinggal yang baik
di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”
(QS. 61:10-12)

***

Setiap orang selalu berharap ingin meraih keberuntungan. Berbagai upaya


dilakukan untuk mendapatkannya. Demikian pula dengan sebuah per-
niagaan, tujuannya tiada lain memperoleh keberuntungan sebanyak-ban-
yaknya. Dan untuk itu seorang pedagang akan berusaha sebaik mungkin
agar barang yang ditawarkannya laris dengan harga yang layak. Inilah se-
buah analogi yang sangat mudah kita fahami, sehingga Allah SWT pada
ayat di atas menjadikan perumpamaan sesuatu dengan "perniagaan yang
menguntungkan.”

219
HR. Muslim
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 80

Tijarah (perniagaan) menurut Al-Maraghi, berarti amal shalih yang


dikerjakan oleh seseorang untuk mendapatkan pahala, sebagaimana
dalam firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-or-
ang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk me-reka.”220
Jelasnya, perumpamaan pada ayat ini, Allah SWT menyatakan sebagai
calon pembeli dan ma-nusia sebagai hamba-Nya menawarkan barang
dagangan berupa amal shalih. Apabila Allah berkenan mengadakan tran-
saksi dan membelinya, maka Dia akan membayarnya dengan harga yang
cukup tinggi. Masalahnya adalah, apa dan bagaimana sifat barang yang
pasti disukai oleh para pembeli.
Allah SWT pada ayat pertama menyuruh orang-orang yang beriman
dengan sebuah pertanyaan, "Maukah Aku tunjukan kepadamu transaksi yang
menguntungkan dan perniagaan yang bermanfaat dan dengannya kamu
mendapatkan keuntungan yang besar serta keberhasilan abadi dan kekal ?”
Kalimat dengan uslub pertanyaan ini memberi kesan yang sangat melekat
di hati pendengarnya, supaya perhatiannya semakin besar terhadap ma-
salah dalam pertanyan tersebut, seperti jika kita ingin menyatakan kelebi-
han seseorang, maka kita berkata dengan pertanyaan: "Maukah aku tun-
jukkan kepadamu seorang 'alim yang besar dan berakhlaq mulia ? dia adalah si
fulan.” Kalimat se-perti ini lebih menarik perhatian dan mudah di terima.
Ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, yaitu tentang shahabat
yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa dan bagaimana amal perbuatan
yang paling disukai Allah ?” Maka perta-nyaan ini menjadi sababunnuzul
surat Al-Shaf yang dibacakan seluruhnya di hadapan para shahabat.221
Kemudian Allah SWT menjelaskan jenis pernia-gaan yang pasti Dia ter-
ima, firman-Nya:"Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berji-
had di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu
jika kamu me-ngetahui.” 222

Iman kepada Allah

Beriman kepada Allah merupakan masalah pokok dan mendasar. Untuk


itu, tidak dibenarkan seseorang yang mengaku mu’min menyatakan kei-
manannya hanya dalam ucapan saja, tetapi harus berusaha agar kei-
manannya kepada Allah terwujud dalam kepribadiannya dan ke-
hidupannya.
Dr. Muhammad Na'im Yasin dalam "Al-Iman, Arkanuhu, Haqiqatuhu,
Nawaqidhuhu,” men-definisikan makna iman kepada Allah yaitu: "Men-
gi'tikadkan diri secara benar-benar bahwa Allah itu Rabb dari segala se-
suatu yang ada. Dia-lah yang menguasainya (memilikinya dan mencip-
220
QS. 9:111
221
Tafsir Ibnu Katsir IV. 356
222
QS. 61:11
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 81

takannya). Dan bahwa Dia adalah satu-satunya Dzat yang berhak di


ibadahi, baik yang menyangkut shalat, puasa, berdo'a, berharap, takut,
rendah diri di hadapan-Nya, patuh dan pasrah. Dan hanya Dia yang patut
disifati dengan sifat-sifat yang Maha sempurna dan suci dari segala kekur-
angan-ke-kurangan.”
Inti dari iman kepada Allah ini adalah tauhid. Kalimat tauhid terangkum
dalam Laailaaha Illallah (Tiada tuhan selain Allah). Banyak orang yang de-
ngan mudah mengucapkannya. Kalimat pendek ini sesungguhnya memi-
liki kandungan yang mendalam. Sebagaimana dalam Hadits dijelaskan,
barang siapa yang ketika wafat mengucapkan kalimat tauhid, maka dijam-
in masuk surga.
Maka sudah selayaknya kita menetapkan hati untuk bersungguh-sungguh
memahami maknanya dan memurnikan keutuhan kalimat tauhid ini. Beri-
man kepada Allah harus mencakup seluruh aspek tauhid-Nya yang terdiri
dari (1) Rububiah-Nya, (2) Uluhiah-Nya dan (3) Asma serta sifat-sifat-Nya.
Tauhid Rububiah merupakan suatu pernyataan bahwa Allah itu Maha suci,
satu-satunya pencipta makhluk ini, penguasa dan pemilik makhluk
semesta, yang mengidupkan dan mematikan mereka, pemberi manfaat
dan madharat kepada mereka, Dia pula yang mengabulkan do'a mereka
ketika menghadapi kesulitan, Dialah yang berkuasa untuk memberi dan
menolak permintaan mereka, dan hanya kepada-Nya lah segala urusan
harus dikembalikan, sebagaimana Allah SWT berfirman tentang diri-Nya:
”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah,
Rabb semesta alam.” 223
Adapun tauhid uluhiah memiliki konsekwensi dalam kaitannya dengan
ibadah, di antaranya ikhlas yang melahirkan mahabbah (Kecintaan) serta
berharap, takut, tawakkal dan berdo'a hanya kepada-Nya. Dan yang di-
maksud tauhid Asma Wa Sifat ialah mensucikan dan mengagungkan Allah
dari hal yang menandingi-Nya, menghayati sifat dan nama-Nya setiap
saat serta mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Iman kepada Rasul

Beriman kepada Rasululllah, Muhammad bin Abdullah merupakan ke-


wajiban setiap mu’min. Kita harus yakin bahwa beliau adalah Nabiyullah,
Rasul-Nya serta hamba yang tidak pernah berbuat syirik kepada Allah
SWT. Beliau adalah Nabi penutup Nabi-Nabi sebelumnya. Firman Allah
SWT:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang lelaki di antara kamu,
tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi.” 224

223
QS. Al-A'raf:54
224
QS Al-Ahzab:40
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 82

Iman kepada Rasulullah ini berarti juga mencintai Sunnahnya, karena ia


diutus dengan suatu tugas yang suci yaitu mengajak manusia kepada ke-
baikan dan memberi peringatan dari kesesatan. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga menjadikan cinta kepadaku mele-
bihi cintanya kepada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” 225

Jihad Fi Sabilillah

Jihad pada ayat ini mengandung makna yang sangat luas. Sebagaimana
dijelaskan, jihad dapat dilakukan dengan harta dan jiwa. Menurut Al-
Maraghi, jihad ada bermacam-macam, di antaranya, jihad terhadap
musuh di medan perang dengan tujuan menolong agama Allah. Jihad ter-
hadap nafsu yaitu dengan memaksa dan mencegah syahwatnya yang
membawa kepada kehinaan. Jihad terhadap nafsu dan makhluk yaitu
menjauhi sifat materialistik, meninggalkan ketamakan terhadap harta
benda atau berlebihan cinta pada dunia. Jihad terhadap manusia dan ke-
duniaan, yaitu dengan tidak mengumpulkan harta kekayaannya dan tidak
membelanjakannya kecuali dalam hal yang diperbolehkan oleh syari’at
dan diakui oleh akal sehat.
Makna jihad sendiri yaitu berusaha sekuat tenaga mencapai cita-cita atau
berusaha keras mencegah duka derita. Tidak ada amal shalih yang men-
andingi pahala jihad. Jihad fi sabilillah dengan harta benda juga termasuk
paling utama yaitu menyisihkan hartanya dengan niat ikhlas untuk mem-
bantu tegak dan terpeliharanya kalimatullah dalam da’wah Islamiah. Dan
jihad jiwa raga mencakup pengorbanan seluruh kemampuan diri untuk
memelihara keimanan.
Ayat lain menjelaskan amal yang merupakan jenis perniagaan paling men-
guntungkan. Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca
kitab Allah dan mendirikan shalat, me-nafkahkan sebagian dari rizqi yang Kami
anugerah-kan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” 226
Jika kita melaksanakan jenis perniagaan di atas, maka Allah SWT
menghargainya dengan menghapus dan mengampuni dosa-dosa kita,
memasukkan kita ke dalam Jannah yang nyaman dan penuh kenikmatan
yang kekal. Inilah puncak dari keberuntungan yang tiada bandingnya.
Tidakkah kita terhenyak untuk segera mengadakan pernia-gaan dengan-
Nya.
Fastabiqulkhairat.

***
225
HR. Al-Bukhari, Muslim
226
QS 35:29
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 83

1 MELURUSKAN KETABUAN
SEKS SUAMI ISTERI 227
“Istri-istrimu adalah ladangmu. Garaplah ladangmu itu sesuai kehendakmu.
Kerjakanlah amal baik untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kelak akan menemui-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman.” 228

Kehidupan suami istri adalah merupakan kehidupan suci dan penuh ke-
berkahan. Kebahagia-an manusia lawan jenis hanya dapat dicapai mela-lui
“mietsaqan ghalidlo” ikatan dan perjanjian yang disyari’atkan Allah dan Ra-
sul-Nya yaitu pernikah-an. Hidup berumah tangga dengan mencontoh ke-
hidupan rumah tangga Rasulullah SAW dijamin akan merasakan keinda-
han surga duniawi, karena hanya istri shalihahlah yang diakui sebagai se-
baik-baik perhiasan dunia.

227
Tulisan ini pernah dipresentasikan pada acara bedah buku “Kado Per-
nikahan Buat Generasiku.” di AULA Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP
Bandung, 27 Pebruari 1999 dengan beberapa revisi dan perbaikan.
228
QS. al-Baqarah : 223
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 84

Diantara keindahan yang dapat dinikmati dalam ikatan pernikahan ialah


“hubungan suami istri” (senggama). Kendati demikian tidak sedikit di
antara kaum muslimin yang mengesampingkan pe-ngetahuan seksual
dalam kehidupan suami isteri. Walaupun seks bukan segala-galanya
dalam rumah tangga, namun masalah ini sangat perlu diperhati-kan.
Tidak kurang Allah dan Rasul-Nya juga mem-perhatikan tentang hal ini.
Seperti ayat di atas, termasuk bukti bahwa agama memandang penting,
karena terkadang hubungan seks yang tidak beres berakibat pada interak-
si suami isteri yang hambar, bahkan ada juga yang berakibat kurang har-
monis-nya rumah tangga.
Berkenaan tentang ayat di atas ada suatu riwayat dari Jabir yang men-
jelaskan, orang Yahudi berpendapat bahwa jika mereka menggauli ister-
inya dari arah belakang kemudian istri hamil, maka anaknya akan juling,
maka ayat ini turun merupa-kan bantahannya. 229
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa para wa-nita Madinah (Anshar) kalau
bergaul suami isteri hanya satu gaya saja, tidak mau berfariasi. Tatkala
Wanita Madinah itu dinikahi oleh orang Quraisy (Muhajirin) lalu diajak
suaminya berjima’ dengan fariasi, mereka menolak. Mereka katakan:
“Kami hanya biasa melakukan jima’ dengan satu gaya saja, lakukanlah
seperti biasa, atau ceraikan saja.” Berita ini sampai kepada Rasulullah
SAW, maka turunlah ayat 223 dari surat al-Baqarah tersebut.230
Ditinjau dari sebab turunnya, ayat ini me-rupakan bantahan kepada orang
Yahudi yang ber-anggapan bahwa jima’ berfariasi itu membawa pe-
ngaruh pada bayi, dan merupakan bantahan kepada wanita Madinah yang
menganggap tabu jima’ seca-ra berfariasi.
Dengan demikian, menurut al-Qur’an bo-leh saja melakukan jima’ dengan
beraneka ragam cara, asalkan melalui farji.

Seks Itu Tabu ?

Anggapan tabu terhadap seks sampai saat ini masih menghinggapi kaum
muslimin yang ter-golong kaum militan, sehingga bagi mereka mela-
kukan hubungan suami istri adalah suatu yang na-luriah, tidak perlu dibi-
carakan dan dipelajari, kare-na pada saatnya nanti semua orang pasti bisa
mela-kukannya. Memang tidak terbantah, bahwa orang yang tidak mem-
pelajari seksiologi bisa melakukan hubungan badan dan menghasilkan
keturunan, na-mun tidakkah kita sadar bahwa perhatian ajaran Islam ter-
hadap suatu masalah pasti mempunyai tu-juan dan hikmahnya.
Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw. memberi-kan tempat kepada masalah ini
tidak bisa dikatakan sedikit. Syari’at mengatur kehidupan seks suami is-
teri dari A sampai Z, dari muqaddimah sampai khatimah, atau dari mas-

229
al-Bukhari, 1981,V:160
230
Abu Dawud, II :249
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 85

uk kamar menemui pasang-annya sampai mandi junub untuk thaharah.


Syari’at memberi kebebasan yang seluas-luasnya mengenai gaya posisi
dalam berjima’ dan hanya memberikan satu batasan yaitu larangan
melalui dubur, Rasulul-lah SAW bersabda:

“Terkutuklah orang yang menggauli dubur istrinya”.231

Kebebasan yang luas dengan batas ini, me-nunjukkan bahwa membi-


carakan atau mempelajari seks itu bukan suatu yang tabu. Diserahkannya
gaya kepada kita dalam berjima’ memberi kesem-patan yang luas untuk
mencari kenikmatan dari kedua belah pihak dan membicarakannya secara
terbuka dengan pasangannya. Melakukan jima’ ber-fariasi itu diperlukan
agar tidak jenuh dalam ber-gaul suami isteri. Oleh karena itu bila kedua
belah pihak suami isteri menghendaki, lakukanlah demi memenuhi kebu-
tuhan seks secara suci, benar dan penuh kenikmatan.
Hubungan seks adalah untuk kenikmatan bersama, bukan monopoli salah
satu pihak, sebagai-mana yang dinasehatkan Rasulullah Saw.

‫اذا جمع أحدكم أهله فليصدقه ثم اذا قضى حاجته‬


‫قبل أن تقضي حاجتها فل يعجلها حتى تقضى حاجتها‬

“Jika seseorang diantara kamu berjima’ dengan isteri-nya, hendaklah


melakukannya dengan sebaik-baiknya. Jika dia hendak mencapai puncaknya
(orgasmus) pada-hal isterinya belum, hendaklah menahan diri sebelum isterinya
mencapai orgasmus pula”.232
Lalu bagaimana seseorang mengetahui pa-sangannya orgasmus, padahal
ia tidak tahu tanda-tanda orgasmus pada pasangannya? Dan bagaima-na
pula ia dapat mengantarkan pasangannya men-capai klimaks, jika ia tidak
tahu tempat yang sensi-tif dan cara merangsang yang benar ? Bahkan ba-
gai-mana kedua belah pihak tahu pasangannya menda-patkan kepuasan
atau tidak, jika diantara keduanya tidak ada keterbukaan tentang masalah
ini, karena masing-masing menganggap tabu untuk membica-rakannya ?
Oleh karena itu ada baiknya bagi calon-calon pengantin atau pengantin
baru dan lama, baik pria maupun wanita mempelajari dan berkonsultasi
mengenai masalah ini. Singkirkan anggapan tabu untuk membicarakan
masalah seks. Pengantin yang telah mengetahui sedikit banyak tentang
seks dan terbuka terhadap pasangannya, Insya Allah akan ta-hu hikmah
dan manfaatnya.
231
HR. Ashabussunan
232
HR. Abdur-Razaq dan Abu Ya’la, al-Sayuti, al-Jami’us-Shagir, 1966:21
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 86

Adakah Batasan Aurat Antara Suami Dan Isteri ?

‫هن لباس لكم وأنتم لباس لهن‬

“Isteri-isterimu adalah pakaianmu dan kamupun pakai-an mereka.” 233

Pakaian adalah ungkapan yang digunakan al-Qur’an untuk perumpamaan


hubungan pasangan suami isteri. Hal ini untuk menggambarkan betapa
erat keterkaitan mereka. Mereka saling melengkapi, saling menutupi, sa-
ling membutuhkan, tapi juga sa-ling melindungi, sebagaimana fungsi
pakaian bagi seseorang. Pakaian juga berfungsi sebagai gambar-an iden-
titas dan keindahan. Demikian pula antara suami isteri.
Hubungan yang dekat dan keterikatan yang erat laksana dua tubuh yang
menjadi satu. Memang demikian keadaan orang yang telah menikah dan
melakukan hubungan suami isteri. Bisa dikatakan tidak ada lagi batas di-
antara keduanya. Sehingga istilahnyapun “Bersebadan” atau
“Bersetubuh”. Ar-tinya persekutuan dua badan menjadi satu badan atau
persekutuan dua tubuh menjadi satu tubuh. Sehingga orang yang telah
menikah semestinya da-pat menyadari bahwa dirinya saat ini telah memi-
liki empat tangan, empat kaki, dua hati dan dua kepala. Dia harus berfikir
bagaimana tangannya dapat kompak dalam berbuat sehingga tidak berte-
puk se-belah tangan, kakinya dapat melangkah dengan de-rap dan barisan
yang rapih, hatinya dapat menyatu-kan niat dan kepalanya dapat
menghasilkan satu fikrah.
Dengan “Bersebadan”, penyatuan dua ba-dan menjadi satu atau “Bersetu-
buh”, dua tubuh men-jadi satu, maka tidaklah berlebihan bila dianta-ra
keduanya sudah tidak ada lagi batasan aurat. Sebagaimana yang disab-
dakan Rasulullah Saw.

َ‫ج ِتك‬
َ ْ‫عوْ َر َتكَ إِلّ مِنْ زَو‬ َ ْ‫ح َفظ‬ْ ‫عوْرَا ُتنَا مَا نَ ْأتِي ِمنْهَا وَمَا نَذَرُ قَالَ ا‬
َ ِّ‫عنْ معاوية بن حيدة قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ ال‬ َ
‫س َتطَعْتَ أَنْ لَ يَ َر َينّهَا أَحَ ٌد‬
ْ ‫أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِي ُنكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ الِّ إِذَا كَانَ ا ْلقَوْمُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ قَالَ إِنِ ا‬
َ‫فَلَ يَ َر َينّهَا قَال‬
‫قُلْتُ يَا رَسُولَ الِّ إِذَا كَانَ أَحَ ُدنَا خَاِليًا‬
ِ‫حيَا مِنْهُ مِنَ النّاس‬
ْ َ‫ست‬
ْ ‫حقّ أَنْ ُي‬
َ َ‫قَالَ الُّ أ‬

Dari Mu’awiyah Bin Haidah ia berkata, “Aku bertanya: Wahai Rasulullah, man-
akah aurat kami yang bisa dili-hat dan mesti dijaga?” Beliau menjawab: “Jagalah
au-ratmu kecuali kepada pasanganmu atau kepada hamba sahayamu.” Ia berkata,
“Aku bertanya lagi: Wahai Ra-sulullah bagaimana jika satu jenis terhadap
temannya?” Beliau menjawab: “Jika kamu mampu, jangan melihat-nya dan ia
tidak melihatmu”. Ia berkata, “Wahai Rasu-lullah, bagaimana jika salah seorang

233
QS. al-Baqarah : 187
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 87

dari kami sedang menyendiri?” Beliau bersabda: “Allah yang lebih berhak untuk
kamu jadikan malu daripada manusia.” 234

Ibnu 'Urwah Al-Hanbaly dalam "Al-Kawa-kib" menyatakan: "Hadits ini


menjadi dalil keboleh-an setiap pasangan melihat seluruh badan pasang-
annya dan menyentuhnya sekalipun pada farji. Karena farji itu halal untuk
menikmatinya (jima'), maka boleh memandang dan menyentuhnya seperti
pada anggota badan lainnya." 235
Inilah madzhab Malik dan yang lainnya, Ibnu Sa'd meriwayatkan dari Al-
Waqidy, ia berkata: "Aku melihat Malik Bin Anas dan Ibnu Abi Dzi'b, ke-
duanya berpendapat tidak mengapa melihat farji pasangannya."
Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an dalam bukunya Ushul al-Mu’asyirah
az-Zaujiyah berpenda-pat:
“Kiranya kurang baik bila seseorang suami menjima’ isterinya sedangkan
keduanya masih ber-pakaian, karena hal itu tidak membantu keduanya
mencapai kepuasan yang sempurna. Bahkan yang paling baik ialah ke-
duanya sudah tanpa busana sebelum jima’ sampai keduanya bertelanjang
bulat. Hal ini lebih baik karena tidak mengapa suami isteri saling melihat
seluruh bagian badannya termasuk farjinya.” 236
Ukasyah Abdulmanan ath-Thiby dalam Tuhfatu al-Arusyain tidak jauh
dengan dua pendapat sebelumnya.237
Muhammad Nashruddin Al-Albany dalam Adabu az-Zafaf lebih jauh
menyatakan: “Suami isteri diperbolehkan mandi bersama dalam satu tem-
pat, meskipun suami melihat aurat isterinya begitupun sebaliknya.” 238
Mengenai hal ini ada beberapa dalil yang dapat dijadikan landasan
hukum, diantaranya:

َ‫سلُ َأنَا وَرَسُولُ الِّ صَلّى الُّ عََليْهِ وَسَلّم‬ ِ َ‫غت‬


ْ َ‫عنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أ‬ َ
‫حتّى أَقُولَ دَعْ لِي دَعْ لِي‬ َ ‫مِنْ ِإنَاءٍ َب ْينِي َو َب ْينَهُ وَاحِدٍ َفُيبَادِ ُرنِي‬
ُ ‫* قَالَتْ وَهُمَا‬
ِ‫جُنبَان‬

Dari Aisyah Ra. Dia berkata: “Aku pernah mandi bersama Rasulullah Saw.
dalam satu bejana (kedua tangan kami bersilangan pada bejana tersebut). Beliau
berlomba denganku (untuk mendapatkan air) sehingga aku berkata: “Biarkan
aku, biarkan aku”. Siti Aisyah berkata: “Pada waktu itu dalam keadaan
junub”.239

Al-Albany menjelaskan; "Ad-Dawudy menja-dikan hadits ini sebagai dalil


234
HR. Ashabu as-Sunan kecuali an-Nasai
235
I:29/575
236
hal. 64
237
hal. 171
238
hal.36 – 41
239
HR. Bukhari, Muslim dan Abu Awanah
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 88

kebolehan suami me-lihat aurat istrinya atau sebaliknya, diperkuat lagi


dengan riwayat Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman Bin Musa bahwa dia dit-
anya tentang suami melihat farji istrinya ? Ia menjawab; "Aku menan-
yakan hal ini kepada 'Atha dan ia menjawab: "Aku mena-nyakan hal ini
kepada Aisyah dan beliau menyebut-kan hadits ini sesuai maksudnya kar-
ena memang konteks hadits ini adalah untuk masalah tersebut (kebolehan
melihat farji pasangan suami istri)."
Dengan keterangan–keterangan di atas sema-kin jelaslah bahwa antara
suami-isteri tidak ada au-rat, dan halal berjima’ tanpa ditutupi sehingga
me-lakukan oral sekspun tidak terlarang. Lalu, bagai-mana jika suami-is-
teri melakukan masturbasi atau onani bersama-sama ?
Perlu diketahui, bahwa definisi onani atau masturbasi ialah melakukan
rangsangan atau aktifi-tas seks oleh sendiri tanpa lawan atau pasangan.
Dalam bahasa Arab disebut ‘Adatus sirriyah, Jalkhah, Jaldul ‘Umairoh (jika
dilakukan laki-laki) dan Ilthaf (jika dilakukan wanita).
Imam Asy-Syafi’i berpendapat onani hukum-nya haram berdasarkan QS.
Al-Mu’minun :5-7, dengan penafsiran bahwa perilaku seks atau menge-lu-
arkan mani kepada selain isteri atau hamba saha-yanya adalah melanggar
batas.
Maka dapat kita simpulkan bahwa aktifitas seks atau mengeluarkan mani
bersama pasangan yang halal, hukumnya boleh –baik pada faraj mau-pun
di luar farajnya, dan tidak dipandang melaku-kan onani. Diperkuat lagi
dengan hadits bahwa Rasulullah SAW membolehkan ‘Azl yaitu menge-lu-
arkan mani di luar faraj isterinya.

َ َ
ُ ّ ‫صل ّى الل‬
‫ه‬ ّ ِ ِ ‫ل ع َلَى ع َهْد ِ النَّب‬
َ ‫ي‬ ُ ِ ‫ل كُنَّا نَعْز‬
َ ‫جابِر قَا‬
َ ‫ن‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫ٍ ع َلَيه و‬
ُ ِ ‫ن يَنْز‬
‫ل‬ ُ ‫م وَالْقُْرآ‬
َ ّ ‫سل‬
َ َ ِ ْ

Dari Jabir ra. ia berkata: “Kami biasa melakukan ‘azl di masa Nabi SAW sedang
al-Qur’an masih terus turun.” 240

Dalam riwayat lain ia berkata:

َ ِ ‫م فَبَلَغَ ذَل‬ َ ‫ل ع َلَى عَهد رسول اللَّه صلَّى الل َّه ع َلَيه و‬
َّ ِ ‫ك نَب‬
‫ي‬ َ ّ ‫سل‬
َ َ ِ ْ ُ ِ ِ َُ َ ِ َْ ُ ‫ل كُنَّا نَعْز‬
َ ‫جابِرٍ قَا‬
َ ‫ن‬
ْ َ‫ع‬
َ َ ‫ع َلَيه و‬ َّ ‫ِ * الل‬
‫م يَنْهَنَا‬ْ َ ‫م فَل‬
َ ّ ‫سل‬َ َ ِ ْ ُ ّ ‫صل ّى الل‬
‫ه‬ َ ‫ه‬
ِ

“Kami biasa melakukan ‘azl di zaman Nabi SAW, maka setelah hal itu sampai
kepada Nabi SAW, beliau tidak melarang kami.” 241

240
HR. Al-Bukhari & Muslim
241
HR. Muslim
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 89

Diriwayatkan juga, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW
lantas ia berkata:

ُ‫ما يُرِيد‬
ُ َ َ ‫م‬
َ ُ ‫ل وأنَا أريد‬ ِ ‫ح‬ ْ َ‫ن ت‬
َ َ َ
ْ ‫ل ع َنْهَا وَأنَا أكَْرهُ أ‬ُ ِ ‫ة وَأَنَا أَع ْز‬ ً َ ‫جارِي‬ َ ‫ن ل ِي‬ َّ ِ ‫ل الل َّهِ إ‬ َ ‫سو‬ ُ ‫يَا َر‬
َ‫ل كَذ َبت َيهود ِلَو أ َراد الل ّه‬ ْ َ
ُ َ َ ْ ُ َُ ْ َ َ ‫صغَْرى قَا‬ ُّ ‫موْءُودَة ُ ال‬َ ‫ل‬ َ ‫ن العَْز‬ َ ّ ‫ثأ‬ َ ُ ‫ن الْيَهُود َ ت‬
ُ ِّ‫حد‬ َّ ِ ‫ل وَإ‬
ُ ‫جا‬ َ ِ ‫الّر‬
َ َ
ُ َ‫صرِف‬
‫ه‬ ْ َ‫ن ت‬ْ ‫تأ‬ َ ْ‫ستَطَع‬ ْ ‫ما ا‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫خلُق‬ ْ َ‫ن ي‬ ْ ‫أ‬

“Ya Rasulallah, sesungguhnya saya mempunyai seorang hamba wanita (jariyah)


dan saya melakukan ‘azl dengannya, karena saya tidak suka kalau dia hamil dan
saya ingin seperti apa yang biasa diinginkan oleh umum-nya lelaki, sedangkan
orang-orang Yahudi bercerita, bah-wa ‘azl itu sama dengan pembunuhan kecil.”
Maka, Rasulullah SAW bersabda: “Dusta orang-orang Yahudi itu ! Kalau Allah
berkehendak untuk menjadikannya (hamil), kamu tidak akan sanggup menghin-
darinya.” 242

Diantara masalah yang sering terjadi dalam hubungan suami istri ialah
menyangkut masa haid istri, sehingga para suami terkadang mengeluh
keti-ka nafsu birahinya sedang tinggi sementara istri sedang keluar darah
haid atau nifas, dan menunggu istrinya berhenti haid.
Sebenarnya, hal ini tidak perlu terjadi, karena Istri yang sedang keluar
darah, tidak najis dan tidak perlu dijauhi sebagaimana pemahaman orang
Ya-hudi yang mengusir wanita haid dari rumahnya karena dianggap najis.
Rasulullah menyatakan suami boleh menggauli istrinya sebagaimana bi-
asa, dan yang dilarang itu hanya menjima’ pada faraj-nya sebagaimana
sabdanya:
‫اصنعوا كل شيء الّ الجماع‬
243
"Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima')."
Larangan berjima’ ini sifatnya ta’abbudi, maka tetap dilarang (haram)
memasuk penis pada vagina istrinya, walaupun suami memakai kondom.
Na-mun, Istri yang sedang haid dianjurkan mengguna-kan kain penutup
farjinya (sejenis pembalut wanita) agar ketika suami mencumbunya tidak
terbawa naf-su menjima’ pada vaginanya.
َ‫ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا أَمَرَهَا رَسُولُ الِّ صَلّى الُّ عََليْهِ َوسَلّم‬: ْ‫عنْهَا قَالَت‬
َ ُّ‫حدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ ال‬
َ
* ‫َفتَ ْأتَزِرُ بِإِزَارٍ ُثمّ ُيبَاشِرُهَا‬

Aisyah berkata: “Salah seorang dari kami jika sedang haid, dan Rasulullah SAW
berhajat kepadanya, maka ia mengenakan kain penghalang kemudian beliau men-
cum-bunya.”244
242
HR. Ashabussunan
243
HR. Muslim & Abu Dawud
244
HR. Al-Bukhari, Muslim & Ashabusunan
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 90

ْ‫ضطَجِعَةٌ مَعَ رَسُولِ الِّ صَلّى الُّ عََليْهِ وَسَلّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذ‬ ْ ُ‫ َب ْينَمَا َأنَا م‬: ْ‫عنْهَا قَالَت‬
َ ُّ‫حدِيثُ أُمّ سَلَمَةَ رَضِيَ ال‬َ
‫ستِ قُلْتُ نَعَمْ فَ َدعَانِي‬
ْ ِ‫ضتِي َفقَالَ لِي رَسُولُ الِّ صَلّى الُّ عََليْهِ وَسَلّمَ َأنَف‬ َ ‫حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَ ْذتُ ِثيَابَ حِي‬
ِ‫لْنَاءِ ا ْلوَاحِد‬
ِ ‫طجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ قَالَتْ وَكَانَتْ هِيَ وَرَسُولُ الِّ صَلّى الُّ عََليْهِ وَسَلّمَ يَ ْغتَسِلَنِ فِي ا‬ َ‫ض‬ْ ‫فَا‬
* ِ‫جنَابَة‬
َ ْ‫مِنَ ال‬
Ummu Salamah berkata: “Ketika aku berbaring (ber-cumbuan) dengan Rasulul-
lah SAW dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, maka aku turun untuk mengam-
bil pakaian haid-ku, lalu beliau bertanya: “Engkau sedang haid ?” “ya !” Jawab-
ku. Kemudian ia memanggilku kembali dan bercumbu dalam satu selimut dengan
memakainya.” Ia berkata, bahwa ia dan Rasulullah SAW mandi berdua dalam
satu bejana dalam keadaan junub.245

Kelemahan Hadits-Hadits tentang Hubungan Suami Istri Harus Berpakai-


an dan Dilarang Melihat Farji Pasangannya
Tidak sedikit kaum muslimin dan para ula-ma yang menggunakan hadits-
hadits di bawah ini untuk menguatkan pandangannya tentang larangan
suami istri berjima’ tanpa busana dan haram me-lihat apalagi menyentuh
farji pasangannya.

Pertama

َ َ َ
ِ‫ل الل ّه‬
ِ ‫سو‬ َ ‫ت فَْر‬
ُ ‫ج َر‬ ْ ‫ما نَظ َرت أو ما رأي‬ َ َ‫ت‬ ْ َ ‫ة قَال‬ َ ِ ‫ن ع َائ‬
َ ‫ش‬ ْ َ‫ع‬
ُ ُ َ‫ى الل َّه ْ ع َُلَيه ْ و َسل َّ َم ق‬
ّ‫ط‬ ّ
َ َ َ ِ ْ ُ ‫صل‬
َ

Dari Aisyah Ra. berkata; “Aku tidak melihat aurat Rasulullah SAW sedikitpun.”

Ada tiga jalan (sanad) hadits ini:

1. Riwayat Thabrani 246 dari jalan Abu Nu’aim dan al-Khatib. Pada san-
adnya ada rawi yang bernama Barakah bin Muhammad al-Halabi, ia
itu pendusta dan penipu. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab “al-Lisan”
menyebutkan hadits ini adalah hadits yang paling batil.

2. Pada jalan lain diriwayatkan Ibnu Majah247 dan Ibnu Sa'd 248 dan pada
sanadnya ada rawi yang disebut Maula Aisyah (bekas budak milik
Aisyah) dan ini majhul (tidak dikenal), karena itu Al-Bushairy
menyatakan dalam “Az-Zawa-id” sanadnya dla'if (lemah).

245
HR. Al-Bukhari, Muslim & Ashabusunan
246
dalam kitab Ash-Shagier hal. 27
247
I:226 & 593
248
VIII:136
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 91

3. Riwayat Abi Syaih dalam Akhlaqu an-Nabi SAW 249 Pada sanadnya ada
rawi bernama Abu Shalih, dia itu lemah dan Muhammad bin Qa-sim
al-Asadi, dia tercela dan pendusta.

Ibnu 'Urwah berkata: "Makruh melihat farji karena Aisyah berkata; "Aku
tidak melihat farji Ra-sulullah SAW" Menurut Al-Albany, ia telah me-
nyembunyikan kelemahan sanad hadits ini. Hadits ini dibantah dengan
hadits shahih sebelumnya yang menjelaskan tentang mandi junubnya
Aisyah de-ngan Rasulullah SAW, maka riwayat ini batil.

Kedua

ِ‫ج ّردَ الْ َع ْي َر ْين‬


َ ‫ج ّردْ َت‬
َ ‫س َت ِترْ َولَ َي َت‬
ْ َ‫حدُكُمْ أَهْ َلهُ فَ ْلي‬
َ َ‫ِإذَا َأتَى أ‬

"Apabila salah seorang diantara kamu mendatangi istri-nya maka tutupilah dan
janganlah keduanya bertelan-jang seperti telanjangnya dua keledai liar."

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah 250 dari Utbah Bin Abdis Silmy.
Pada sanadnya ada rawi bernama Al-Ahwash Bin Hakim, ia dla'if. Al-
Bushairy memandangnya cacat. Al-Walid Bin Al-Qasim Al-Hamdany,
Ibnu Ma'in dan yang lainnya mendlaifkan rawi hadits ini, dan Ibnu Hib-
ban ber-komentar; "Hadits ini infirad (hanya satu jalan) dan tidak ada yang
seperti hadits ini pada riwayat tsiqat (kuat), maka tidak bisa dijadikan huj-
jah."
Dengan alasan di atas, Al-'Iraqy dalam "Takhrij Al-Ihya"251 menyatakan
sanad hadits ini dla'if. An-Nasa-i meriwayatkan hadits ini dalam "'Asyra-
tun Nisa”252 dan ringkasannya dalam "Al-Fawa-id Al-Muntaqah.253 Juga
Ibnu 'Adi254 dari Abdullah Bin Sarjas, lalu An-Nasa-i berkata; "Ha-dits ini
munkar dan benar bahwa Ibnu Abdullah (salah seorang rawi hadits ini)
adalah dla'if.”
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya,255 Abdurraz-zaq256 dari Abi Qilabah
secara marfu' dan hadits ini mursal. At-Thabrani meriwayatkannya,257
Ahmad Bin Mas'ud dalam "Ahadits"nya,258 Al-'Uqaily dalam "Ad-

249
hal. 251
250
I:592
251
II:46
252
I:79:1
253
X:13:1
254
II:49 & 201
255
I:70/7
256
VI:194/10467
257
III:78:1
258
39/1-2
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 92

Dlu'afa"259Al-Batharqany dalam "Hadits"nya,260 Al-Baihaqy dalam


"Sunan"nya 261 dari Ibnu Mas'ud. Al-Baihaqy mendla'ifkannya dengan un-
gkapan : "Mandal Bin Ali itu infirad dan tidak kuat." Kemu-dian menye-
butkan hadits serupa dari hadits Anas dan ia berkata; "Hadits ini Munkar."
Abdurrazaq ju-ga meriwayatkan hadits ini.262
Ada hadits lain yang melarang berjima’ seperti binatang, namun yang
dimaksud itu bukan melarang bertelanjang bulat, tetapi dilarang berji-ma’
tanpa ada pendahuluan berupa ciuman dan cumbu rayu.
Rasulullah SAW bersabda :

‫ قيل وما الرسول ؟‬,‫ل تقعن أحدكم على امرأته كما تقع البهيمة ليكن بينهما رسول‬
‫قال القبلة و الكلم‬

“Janganlah seseorang di antara kamu menggauli isteri-nya sebagaimana binatang


menggauli betinanya, tetapi hendaklah diantara keduanya ada pengantar.” Sese-
orang bertanya, “Apakah yang dimaksud pengantar itu ?” Beli-au menjawab:
“Ciuman dan ucapan rayuan.” 263

Ketiga

‫اذا أتى أحدكم زوجته أو جاريته فل ينظر الى فرجها‬

‫فان ذلك يورث العمى‬

"Apabila salah seorang diantara kamu berjima de-ngan istrinya atau jariyahnya
maka janganlah meli-hat farjinya karena akan menimbulkan buta."

Hadits ini maudlu' (palsu) sebagaimana pandangan Imam Abu Hatim Ar-

259
433
260
I:156
261
VII:193
262
VI:194/10470 & 10469
263
HR. Ad-Daelami dalam Musnad Al-Firdaus & aL-Baihaqy
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 93

Razi dan Ibnu Hibban dan diikuti oleh Ibnul Jauzi, Abdul Haq dalam
"Ihkam"nya,264 Ibnu Daqiqil 'Ied dalam "Al-Khulashah"265 ia menjelaskan
kecacatannya dalam "Al-Ahadits Adl-Dla'ifah Wal Maudlu'ah Wa Atsa-
ruhas Sayyi Fil Ummah”:195.
Dalam sanad hadits ini ada rawi yang ber-nama Baqiyyah, menurut Ibnu
Hibban dia itu se-orang yang suka meriwayatkan dari rawi-rawi lain yang
suka berbuat dusta, sedangkan Baqiyah sendiri adalah seorang yang suka
berbuat tadlis (Kesamar-an). Ibnu Jauzi telah memasukkan hadits ini
dalam bagian hadits-hadits palsu.

Keempat

Pemahaman keliru bahwa dengan ditutupi ketika ber-jima’ menunjukkan


sifat malu kepada Allah dan Ma-laikat serta lebih sopan dan beradab

Dengan kedua hadits sebelumnya -yang mengisyaratkan halalnya suami


dan istri saling me-lihat auratnya, maka pemahaman yang memandang
jima’ lebih utama ditutupi tidaklah proporsional (batil), sebab pada hadits
yang menyatakan batasan aurat tersebut, sangat jelas bahwa antara suami
istri tidak ada aurat yang harus ditutupi, dan inilah ketentuan Allah yang
tidak ada ketabuan atau kera-guan. Tidak ada istilah tabu pada apa yang
dihalal-kan Allah dan Rasul-Nya.266 Tradisi dan anggapan tabu melakukan
gaya tertentu dalam hubungan seks suami isteri hanyalah bikinan orang-
orang tertentu yang sepatutnya dihapuskan, karena justeru akan meng-
ganggu keharmonisan suami-isteri. 267
Adapun ketika menyendiri tanpa pasangan-nya, maka ketentuan untuk
aurat itu lebih utama agar ditutupi. An-Nasa-i menjelaskan hadits tentang
melihat aurat, dalam bab; "Wanita melihat aurat suaminya." Al-Bukhari
dalam "Shahih"nya berko-mentar dalam “bab mandi sendiri dengan ber-
telan-jang seorang diri dan orang yang menutupinya, ma-ka tertutup itu
lebih utama." Kemudian susunan hadits Abu Hurairah tentang mandinya
Nabi Musa dan Ayyub AS dalam WC dengan bertelanjang, ma-ka hal ini
menunjukkan bahwa ungkapan hadits "Allah lebih berhak untuk merasa
malu terhadap-Nya" mengandung alternatif apakah tertutup itu le-bih
utama atau lebih sempurna, dan dzahir hadits ini tidak menunjukkan
wajib. Al-Manawy berkata: "Pe-ngikut Asy-Syafi'i memberi alternatif
hukum disena-ngi (mandub), Ibnu Jarir sependapat dengan mereka dan
menta'wilkan hadits ini dalam "al-Atsar" hu-kumnya disenangi (mandub),
ia berkata: "Karena Allah tidak terhalang pada seluruh makhluqnya ba-ik

264
I:143
265
II:118
266
lihat, Kado Pernikahan Buat Generasiku:125
267
Hujjatullah al-Balighah III:134
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 94

ia bertelanjang atau tidak."268


Masih ada beberapa riwayat dan pendapat tentang larangan melihat aurat
isteri atau sebalik-nya ketika bersenggama dan keutamaan berjima’
dengan ditutupi yang tidak disebutkan di sini. Na-mun semua riwayat
dan pemahaman yang berkena-an dengan itu semuanya lemah dan palsu.
Dengan demikian, antara suami dan isteri tidak ada batasan aurat. Karena
pada hakikatnya badan suami adalah anggota tubuh isterinya demi-kian
pula sebaliknya. Badan suami adalah pakaian penutup aurat istrinya dan
demikian pula sebalik-nya. Pembatasan-pembatasan aurat antara suami is-
teri yang berlebihan dan tidak proporsional sebe-tulnya dapat menimbu-
lkan situasi dingin dan tidak romantisnya aktivitas seks mereka atau
kondisi psi-kis yang berakibat ketidak harmonisan suami istri seba-
gaimana kasus antara pasangan Muhajirin dan Anshar, sehingga pola dan
gaya dalam jima’ men-jadi terbatas dan tidak maksimal, padahal agama
Islam memberikan kebebasan seluas-luasnya dengan jelas dan rinci.
Mudah-mudahan melalui risalah sederhana ini dapat memberikan pen-
cerahan dalam masalah pernikahan, khususnya masalah seks sehingga pe-
muda dan pemudi Islam dapat mengerti seks de-ngan benar dan dari
sumber yang dapat dipertang-gungjawabkan karena kita semua membuka
diri untuk membahasnya dalam frame ilmu dan mengi-kis habis anggapan
tabu. Juga diharapkan pasangan suami isteri muslim mau belajar dan
mencari infor-masi tentang hidup berumah tangga, sehingga ke-dua belah
pihak bisa saling memberi kepuasan yang adil dan tidak saling menzalimi,
disadari maupun tidak. Amien.

Wallahu A’lam Bishawab

DAFTAR PUSTAKA

• Al-Qur’anul Karim
• Team Sakhr, CD Mausu’ah Al-Hadits Asy-Syarif, Kutubut Tis’ah, Jed-
dah.
• Subhan Nurdin, Kado Pernikahan Buat Generasiku, Ash-Shiddiq Press,
Bandung, 1998.
• H.U. Saifuddin ASM, Bahtera Pernikahan, Yadia, Bandung, 1993
• Yazid dan Qasim Koho (Alm), Himpunan Hadits-Hadits Lemah dan Palsu,
PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1992
• Muhammad Nashruddin al-Albani, Adabu al-Zafaf, Maktab al-Islami,
Beirut, 1989

268
Silahkan merujuk pada kitab "Al-Fathu" I:307.
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 95

• Muhammad Ahmad Kan’an, Ushul al-Mu’asyirah az-Zauziyah, Daaru al-


Basyaair al-Islamiyah,Beirut,1992
• Ukasyah Abdu al-Manan ath-Thibiy, Tuhfatu al-Arusyain, Daru al-Fadlil-
ah, Kairo, tanpa tahun.
• Ahmad Faiz, Dustur al-Usrah Fi Zhilali al-Qur’an, Muassasah ar-Risa-
lahBeirut, 1992.
• Al-Imam Ibnu Majah, 90 Petunjuk Nabi SAW untuk Berkeluarga, Ramadh-
ani, Solo, Januari 1993.
• Dr. Yusuf Al-Qardlawy, Al-Halal Wal Haram Fil Islam, Bina Ilmu, 1993.

1 Interaksi dengan
Non Muslim
Menurut Islam
(Tanggapan atas pandangan Dr. Alwi Shihab
tentang Ucapan Selamat Natal & Mendo’akan Non Muslim)

I. MUQADDIMAH

Mengamati kondisi ummat beragama di negeri kita akhir-akhir ini sung-


guh membuat kita meng-usap dada. Berbagai issu berbau SARA menjadi
pe-micu berbagai bentrokan dan meresahkan masyara-kat. Ummat Islam
yang mayoritas menjadi terpo-jokkan dibuatnya, bahkan berbagai teror
dan an-caman tidak sedikit yang mengganggu ketenangan kaum muslimin
dalam beribadah. Masjid-masjid menjadi sasaran penghancuran dan peru-
sakan. Para kiayi dan tokoh agama tak luput dari teror dan ancaman.
Siapa yang menjadi provokator, hanya Allah Yang Maha Tahu dan Yang
Maha Kuasa untuk membalas dan membuat makar yang lebih dahsyat ke-
pada mereka. Benarlah apa yang diisya-ratkan Allah dalam firman-Nya:
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 96

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-


ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-
orang kafir benci.” 269
Sekilas latar belakang di atas dapat kita jadi-kan pertimbangan untuk me-
maklumi munculnya pandangan kontroversial sekitar masalah ucapan se-
lamat natal atau toleransi, daripada menuduh seca-ra emosional bahwa
hal itu sekedar ketakutan dan kekhawatiran belaka. Namun rasanya tidak
adil jika pandangan sepihak tersebut disaksikan sekian juta pemirsa kaum
muslimin, apalagi yang awam dalam pemahamannya tentang konsep in-
teraksi antara penganut agama, sehingga bisa saja menjurus pada
pengaburan akidah dan tauhid umat Islam yang mengakibatkan ummat
Islam kehilangan ‘Izzah dan harga dirinya. Rasulullah memprediksik-
an pe-nyebabnya :
“Ada satu kemungkinan akan tiba saatnya mereka (para munafikin dan golongan
anti Islam mendapat kesempatan) berkumpul mengepung kamu sekalian seperti
para undanngan berkumpul menyerbu hidangannya. Seorang shahabat bertanya,
Apakah karena kita (umat Islam) pada masa itu sedikit jumlahnya (minoritas).
Rasulullah menjawab: Tidak ! jumlah kamu saat itu besar (mayoritas),
namun kamu seperti timbunan sampah yang dibawa air bah. Pada saat itu Allah
meng-hilangkan dari dada lawan kamu rasa hormat dan segan terhadap kamu
dan menempatkan pada hati kamu rasa lemah dan hina (wahn). Seorang shahabat
bertanya; “Ya Rasulullah, apakah wahn itu ?” Rasulullah men-jawab:
“Penyebab wahn itu ialah gila dunia dan anti akhirat (mati).” 270
Sebagaimana Dr. Alwi Shihab –dalam topik ini- mengungkapkan bahwa,
mungkin saja pan-dangan saya mengandung unsur kebenaran dan tidak
mustahil pandangan yang lain juga ada benar-nya, maka saya mencoba
menanggapi pandangan-nya yang kontroversial bahkan dengan pendapat
kebanyakan ulama yang diwakili oleh MUI dalam fatwanya. Dan saya
tambahkan, bahwa kebenaran dari manusia –setinggi apapun ilmunya- itu
relatif, sedangkan kebenaran hakiki menurut ummat Islam, hanya milik
Allah dalam firman-Nya dan sabda Rasulullah dalam sunnahnya yang
shahih. Maka, dalam tanggapan ini, dengan izin Allah, saya kemukakan
nash-nash yang jelas dan tidak perlu interpretasi, juga berbagai inter-
pretasi ulama yang diakui kredibilitasnya dalam berijtihad.

II. DASAR KEBOLEHAN UCAPAN

269
QS.Ash-Shaf:8
270
HR. Abu Dawud
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 97

SELAMAT NATAL DAN


MENDO’AKAN NON MUSLIM

Setidaknya ada beberapa alasan Dr. Alwi Shi-hab berfatwa bolehnya seor-
ang muslim mengucap-kan selamat natal atau mendo’akan non muslim
yang saya simak pada Acara Ramadhan “Renung-an Alwi Shihab,” Jum’at
1 Januari 1999 malam:

1. Turunnya nash dan pendapat yang melarang keras berinteraksi


dengan non muslim dipenga-ruhi oleh kondisi saat itu dimana go-
longan non muslim memusuhi dan mengganggu kaum mus-limin.
Contoh kasus, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm dalam fatwanya
mengharamkan interak-si dengan non muslim termasuk menjual
sarana ibadah yang mereka butuhkan. Karena pada saat itu kondisi
hubungan muslim dan non muslim sedang tidak harmonis, diantaran-
ya bergolaknya perang salib. Juga nash-nash yang bernada kecaman
atau larangan berinteraksi de-ngan non muslim turun pada saat
Yahudi ber-kuasa dan menindas umat Islam sehingga Rasulullah
melarang memulai salam kepada mereka dan kalau mereka memulai
ucapan “seperti” salam maka jawablah “Wa ‘Alaika !” (untukmu saja).
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tipu daya mereka dengan
mengucapkan “As-Samu ‘Alaika” (racun bagi-mu).

2. Ada beberapa kasus dan pendapat yang meng-isyaratkan bolehnya


berinteraksi dengan non muslim. Diantaranya; Rasulullah pernah
berhutang kepada seorang Yahudi. Rasulullah juga pernah men-
shalatkan Raja Najasy yang –menurutnya- beragama Nasrani (kristen)
sewaktu mendapat kabar kematiannya. Ibnu Abbas berpendapat, jika
non muslim mengajak berdamai maka balaslah dengan perdamaian.

III. RENUNGAN KEMBALI HASIL

“RENUNGAN ALWI SHIHAB”

Kita semua merasakan, problema negeri ini sa-ngat kompleks, namun


tidak berarti kita bertindak gegabah dan serampangan sehingga
menghalalkan segala cara tanpa berpikir jernih dengan kepala di-ngin.
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 98

Maka, tulisan ini setidaknya menjadi bahan renungan kembali tentang


konsep interaksi antar umat beragama menurut kacamata Islam sebagai
rahmatan lil ‘alamien. Rasulullah juga meng-ingatkan ummatnya;
“Sungguh kalian akan meng-ikuti cara-cara orang yang datang sebelum
kalian setapak demi setapak, sampai seandainya mereka memasuki liang
biawak kalian akan memasukinya pula.” Shahabat bertanya: “Wahai Rasu-
lullah , orang Yahudi dan Nasrani ?” Beliau men-jawab: “Siapa lagi ?”271

Islam adalah ajaran para Nabi dan Rasul untuk seluruh umat manusia
dan berlaku sepanjang masa sampai hari kiamat.

Islam adalah ajaran fitrah kemanusian melalui ketuhanan (wahyu Allah).


Islam bukan ajaran Muhammad (Mohamadisme) atau Arabisme. Islam
muncul sejak peradaban umat manusia diciptakan Allah. Seluruh utusan
Allah-pun menyerukan satu ajaran, yaitu Islam. Semenjak Nabi Adam as.
juga para nabi dan rasul setelahnya, termasuk Nabi Isa as. dan Musa as.
Nabi Isa as. menyatakan dalam al-Qur’an : “Aku beriman kepada Allah
dan aku ber-saksi bahwa aku adalah muslim.”272 Demikian halnya seluruh
umat manusia pada dasarnya berada dalam fitrah atau muslim. Maka,
manusia yang hidup tidak sejalan dengan fitrah kemanusiannya, hakikat-
nya mereka bukan muslim. Namun, setiap nabi dan rasul diutus kepada
kaumnya masing-masing, kecuali Rasulullah, Muhammad seba-
gai khatamun nabiyin (nabi terakhir) diutus Allah untuk seluruh ummat
manusia.273
Kesempurnaan fitrah manusia telah dicapai oleh para utusan Allah, dan
yang paling terakhir sebagai saksi kebenaran fitrah tersebut adalah
Muhammad, Rasulullah . Namun, mengapa ketika ajaran fitrah terse-
but diserukan, tidak sedikit manusia yang menolak dan mengingkarinya ?
Menurut Muhammad Al-Ghazali, ada dua kemung-kinan. Barangkali
seruan itu belum sampai kepada mereka atau barangkali sudah sampai,
tetapi ben-tuknya cacat –baik pemberi maupun penerima seru-an tersebut,
sehingga mereka tidak terdorong untuk menerimanya. Fitrah manusia itu
bagaikan buah yang tumbuh indah menawan dan rasanya pun lezat.
Tetapi betapa banyak diantara buah-buah itu yang kini diserang hama, se-
hingga warna dan rasanya menjadi cacat. Semestinya bagi para petani

271
HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry
272
QS. Ali Imran:57
273
lihat QS. Al-Anbiya:107 & Saba:28
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 99

penanam buah, hama itu tidak terasa asing lagi, sehingga mereka dapat
menanggulanginya segera agar buah-buahnya terselamatkan. Akan tetapi
ge-nerasi yang baru tumbuh di tengah-tengah kita tidak mendapatkan
perlindungan dan penjagaan yang memadai. Karena itu, mereka dengan
mudah ditelan wabah moral, sosial dan politik. Dan setelah mereka tum-
buh dewasa, mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang tercela.274
Ajaran dari para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad pada as-
alnya sama mengajarkan tauhid kepada Allah swt. dan menentang
kemusyri-kan dan kezaliman. Namun, sepeninggal mereka, para pen-
gikutnya –termasuk pemimpin agamanya, banyak melakukan penyimpan-
gan ajaran tauhid tersebut karena hawa nafsu dan kesenangan dunia-wi.
Firman Allah:
“Maka apakah kamu berharap agar mereka itu akan mengikuti kamu, padahal se-
sungguhnya telah ada sebagian mereka yang mendengar firman Allah, kemudi-an
mereka merubahnya sesudah mereka mengerti, sedang-kan mereka mengetahui.”
275

“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata: “Sesungguhnya aku
datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu se-
bagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah kepada Al-
lah dan taatilah aku. Sesung-guhnya Allah, Dialah Tuhan kamu, maka sembah-
lah Dia; ini adalah jalan yang lurus. maka berselisihlah golongan-golongan (yang
terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang
zalim, yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).”276
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya
seraya berkata: “Aduhai seandainya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kitanya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan
itu teman akrab(ku). Sesung-guhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an
ketika al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau
menolong manusia.”277

Akar Sejarah Golongan Non Muslim (Ahli Kitab, Yahudi, Nasrani,


Musyrikin)

Menurut Al-Qur’an, kaum Nasrani dan Yahu-di merupakan kaum yang


telah menyimpang dari ajaran Allah dan para Rasul-Nya yaitu ajaran Is-
274
1993:116
275
QS.2:75
276
QS. Az-Zukhruf: 63-64
277
QS.25:27-29
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 100

lam. Mereka menyimpang karena beramal tanpa ilmu dan berilmu tanpa
iman dan amal, sehingga mereka mempertahankan tradisi kemusyrikan
yang telah ada sejak setan menolak perintah Allah untuk sujud kepada
Adam. Kemudian mereka mengikuti dan melestarikan tradisi nenek moy-
angnya sampai ke tingkat para rahib atau pendeta yang dikultuskan oleh
pengikutnya. Allah SWT menyatakan;
“Mereka (orang-orang kafir) menjadikan ulama-ula-ma mereka dan pendeta-pen-
deta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan juga al-Masih Ibnu Maryam,
padahal tidaklah mereka diperintahkan Tuhan, melain-kan agar menyembah ke-
pada Tuhan yang Esa, tiada Tuhan melainkan Dia, Maha suci Ia dari apa yang
mereka sekutukan.”278
Lebih spesifik lagi, kemusyrikan yang dilaku-kan kaum Yahudi dan
Nashrani ialah menganggap Allah beranak atau menitis pada manusia.
Firman Allah:
“Dan berkatalah orang-orang Yahudi “Uzair itu anak Allah” sedangkan orang-
orang nashrani mengata-kan “Al-Masih itu anak Allah.” Yang demikian itu ada-
lah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, meniru-kan orang-orang kafir
dahulu (sebelumnya). Dibinasakan Allah akan mereka. Bagaimana mereka itu
dapat dipa-lingkan.”279
Perilaku kemusyrikan paling sesat yang dilaku-kan Yahudi dan Kristen ia-
lah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dan menganggap Allah ter-
diri dari unsur-unsur makhluk. Allah berfirman:
“Sungguh telah kufur orang yang berkata, bahwa Allah itu ketiga dari tiga, pada-
hal tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang tunggal.”280
Maka, pola tradisi yang dilakukan oleh orang-orang musyrik termasuk
Yahudi dan Kristen akan terus diyakini oleh pengikutnya bahkan dipropa-
gan-dakan dengan cara-cara dan missinya sampai Allah memadamkan
makar mereka.
Para pengikut Rasulullah pun tidak akan luput dari propaganda
mereka, sebagaimana predik-si Rasulullah :
“Akan datang di kalangan umatku sekelompok kaum yang terjangkit berbagai
macam aliran (yang bersumber dari) hawa nafsu, sebagaimana penyakit anjing
gila menjangkiti penderitanya. Maka tidak ada satupun aliran darah dan bagian
tubuhnya kecuali telah dimasuki semuanya. Demi Allah wahai sekalian bangsa

278
QS. At-Taubah:21
279
QS. At-Taubah : 30
280
QS. Al-Maidah:73
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 101

Arab, kalau kamu sekalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh Muhammad
, tentu orang-orang selain kamu yang lebih berhak untuk melaksanakannya.”281
Untuk mengantisipasi tradisi kemusyrikan ter-sebut, Rasulullah
sangat hati-hati menanam-kan ketauhidan dan ibadah. Misalnya, suatu
hari Rasulullah menjumpai seorang khatib yang sedang berpidato dan
mengatakan: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan kepada utusan-
Nya, ia akan mendapat petunjuk. Tetapi barangsiapa yang durhaka kepada
keduanya, maka ia akan sesat. Men-dengar ucapan tersebut , Rasulullah
langsung menegurnya; “Seburuk-buruk ucapan ialah ucapan-mu yang
terakhir, jangan kau katakan: “Barangsia-pa yang durhaka kepada ke-
duanya,” melainkan ka-takanlah: “Barangsiapa yang durhaka kepada Al-
lah dan kepada rasul-Nya, maka ia akan sesat.”
Rasulullah bersabda: “Jangan kalian menyanjungku seperti kaum Nasrani
menyanjung Isa Bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkan-lah
Abdullah atau Rasulullah.” 282

Kondisi Perang (Darul Harb) dan Kondisi Damai (Darul Islam) & Hak-
hak Golongan Non Muslim Dzimmi dalam naungan Islam

Islam sangat melindungi setiap makhluk ter-masuk golongan kafir dzimmi


atau non muslim yang berada dalam wilayah mayoritas muslim. Prof.
Abul A’la Maududy membagi kriteria Non Muslim berdasarkan syara’
menjadi tiga bagian :
1. Mereka yang berada di bawah lindungan nega-ra Islam atas dasar per-
damaian atau perjanjian.
2. Mereka yang kalah perang atau ditaklukan de-ngan jalan kekerasan.
3. Mereka yang bergabung ke dalam negara Islam bukan atas dasar per-
janjian perdamaian atau kalah perang.

Ketiga macam non muslim di atas, sekalipun secara umum memperoleh


hak-hak yang sama, namun pada hal-hal tertentu ada sedikit perbedaan,
terutama antara yang pertama dan yang kedua. Hak-hak non muslim se-
cara umum diantaranya; Hak perlindungan terhadap jiwa, Hak Perlindun-
gan dalam Undang-Undang Pidana, Hak Perlindungan dalam Undang-
Undang Perdata, Hak perlidungan terhadap kehormatan, Hak Perlidun-
gan terhadap Masalah-Masalah Pribadi, Hak Perlindungan terha-dap Sy-

281
HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim dalam al-Mustadrok
282
HR. Al-Bukhari dari Umar ra.
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 102

i’ar-syi’ar Agama, Hak Perlindungan terha-dap Tempat-Tempat Ibadah,


Bebas dari tanggung jawab Kemiliteran, Kebebasan Berbudaya, Menya-
takan Pendapat, Memperoleh Pengajaran, Kesem-patan menjadi Pegawai
Negeri dan Kebebasan Berusaha dan Bekerja.
Rasulullah pernah mengingatkan:
“Awas… barangsiapa yang berlaku aniaya kepada non muslim yang telah
mengadakan perjanjian perdamai-an atau mengurangi hak-haknya, atau mem-
berikan beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu yang menjadi mi-
liknya dengan cara tidak baik, akulah pembelanya pada hari kiamat kelak.”283
Darul Islam ialah semua wilayah yang dihuni oleh orang yang beriman ke-
pada risalah yang dibawa oleh Rasulullah , orang-orang yang men-
gikuti ajaran kitab Allah dan Sunnah Nabi, orang yang melaksanakan
semua syari’at Allah dan semua orang yang bergabung di bawah panji Al-
lah swt. Sedangkan Darul Harb ialah semua wilayah yang dihuni oleh or-
ang yang mengingkari risalah Rasulullah , menentang dan memusuh-
inya, serta menghalang-halangi dakwah risalah tersebut.
Penyebutan negeri dan penduduk tersebut se-bagai Darul Harb, adalah
semata-mata untuk mem-berikan perlakuan yang setara dengan perlakuan
mereka terhadap wilayah-wilayah Islam.
Kondisi Umat Islam di negeri kita, walaupun jumlah penganut Islamnya
cukup banyak, namun kenyataannya, begitu banyak permasalahan umat –
baik politik, ekonomi dan sebagainya yang tidak berdasarkan syari’at Is-
lam, bahkan dikuasai oleh non muslim. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan
dari fenomena global yang terjadi sejak runtuhnya Daulah Utsmani dan
berkuasanya golongan non muslim dalam tatanan internasional, sehingga
ma-syarakat Islam dipinggirkan dan tidak diberi hak-hak asasi yang
ditetapkan hukum positif. Goruris, seorang pakar hukum internasional
mengatakan bahwa masyarakat yang bukan beragama Masehi tidak boleh
diperlakukan sama. Ia juga berpenda-pat, bahwa meskipun hukum mem-
bolehkan diada-kannya perjanjian dengan musuh-musuh agama masehi,
namun ia menghimbau penguasa Masehi untuk bersatu dan melawan
semua orang yang memusuhi ideologi Masehi. Sebelumnya, Gilontalis
pernah menyerang Firansa I, raja Perancis karena ia mengadakan perjanji-
an dengan Sultan Sulaiman Qanuni, Khalifah Utsmani, pada tahun 1535,
pada-hal isi perjanjian itu dimaksudkan untuk menjalin hubungan perda-
maian di antara kedua negara. Perjanjian itu membebaskan warga Peran-
cis dari kewajiban membayar pajak yang dikenakan kepada orang-orang
283
HR. Abu Dawud dalam Kitab Jihad
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 103

nonmuslim yang bertempat tinggal di Darul Islam, dan mereka diberikan


fasilitas-fasilitas di bidang keagamaan dan pengadilan. Hal itu ber-
dasarkan perjanjian timbal balik dalam kerja sama antara raja Masehi dan
orang-orang non muslim.
Jelaslah, para tokoh militer, politik dan hu-kum, baik sebelum maupun se-
sudah Perang Salib, memperlakukan umat Islam dengan kebencian yang
amat dalam. Hal itu, karena mereka telah mewarisi kebencian dan pen-
gingkaran terhadap risalah Muhammad dari nenek moyang mereka.
Mereka juga mewarisi ambisi untuk merusak citra risalah Muhammad
dan bernafsu untuk memusnahkannya.
Sekarang, pantaskah sikap kita memandang bahwa mereka melakukan
perdamaian (Darus-salam), padahal pandangan mereka terhadap umat Is-
lam sampai kapanpun sebagai musuh (Darul Harb).
Ini suatu kebodohan besar ! Tulis Muhammad Al-Ghazali.
Allah-pun mengingatkan kita;
“Mereka (non Muslim) tidak henti-hentinya meme-rangi kamu sampai mereka
dapat mengambalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
mereka sanggup.”284
Apalagi kaum Yahudi dan Kristen telah ditegaskan dalam firman Allah:
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka.”285
Kita jangan menutup mata, kenyataan yang terjadi di negeri ini, betapa
giatnya orang Yahudi dan Kristen mengerahkan segala kemampuannya
untuk terus menerus berusaha menghancur luluh-kan Islam dan
menghalangi orang-orang yang telah beriman dan bertauhid kepada Allah
Yang Satu, bahkan mereka tidak segan-segan mengalihkan umat Islam
menjadi manusia-manusia atheis atau penyembah berhala dan kemaksi-
atan. Allah SWT mengungkapkan dan melaknat sikap mereka;
“Katakanlah, Hai ahli Kitab, mengapa kamu ing-kari ayat-ayat Allah, padahal
Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan ?” Katakanlah, “Hai ahli Ki-
tab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah
beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan ?”
Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” 286
“Kebanyakan dari ahli kitab hendak memurtadkan kamu jadi kafir setelah kamu
beriman karena kedengkian dari diri-diri mereka.”287
284
QS. Al-Baqarah:217
285
Al-Baqarah:120
286
QS. Ali Imran 98-99
287
QS. Al-Baqarah:109
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 104

Toleransi Aqidah dan Toleransi Mu’amalah

“Dan seandainya kau mengikuti hawa nafsu mere-ka setelah datang ilmu kepada-
mu, tentunya kau akan menjadi golongan orang-orang yang zalim.” 288

Secara Aqidah atau prinsip keyakinan dalam bertauhid dan beribadah, Is-
lam sangat tegas dan je-las menyatakan tidak ada istilah toleransi. Seba-
gai-mana prinsip interaksi dengan non muslim dalam firman Allah QS.
Al-Kafirun 1-6:
“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku ti-dak akan menyembah apa yang
kamu sembah. Dan ka-mu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku
tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sem-bah, dan kamu tidak per-
nah (pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu,
dan untukkulah agamaku.”
Umat kristianipun sebenarnya punya prinsip tidak ada toleransi dalam
masalah akidah atau keyakinan ketuhanan, sebagaimana tersebut dalam
Al-Kitab surat kiriman Yahya kedua, yaitu II Yahya 1:10,11 yang berbunyi:
“Jikalau barang seorang datang kepadamu dan membawa pengajaran lain dari-
pada itu, janganlah kamu terima dia masuk ke dalam rumahmu dan jangan mem-
beri salam kepadanya. II. Karena barangsiapa yang memberi salam kepadanya, ia
itu sama bersalah di dalam perbuatannya yang jahat itu.
Maka, dengan prinsip dasar tersebut, ketegas-an sikap seorang muslim
akan diwujudkan dalam perilaku atau interaksi mu’amalah dan tidak
sampai melebihi batas loyalitas akidah dan ibadah.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian menjadikan orang-
orang Yahudi dan Nasrani menjadi pelindung, sebagian mereka menjadi
pelindung sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan
mereka sebagai pelindung, maka dia menjadi bagian dari mereka. Sesungguhnya
Allah tidak akan menunjukkan kaum yang zalim.”289
Adapun dalam interaksi masalah sosial kema-syarakatan, kita dibolehkan
bergaul dalam batas-batas yang dihalalkan dan tidak menyimpang dari
prinsip mu’amalah secara Islam. Firman Allah:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil dengan mereka
(yang kafir) yang tidak memerangimu dan tidak mengusir kamu dari negerimu,
untuk berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka, sesung-
288
QS. 2:120
289
QS. Al-Maidah:51
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 105

guhnya Allah itu suka kepada orang-orang yang berbuat keadilan. Sesungguhnya
Allah melarang kamu untuk bergaul dengan mereka apabila mereka memerangi
kamu dalam dan mengusir kamu dari negeri kamu serta nyata pengusirannya
terhadap kamu, untuk menjadi mereka sebagai pemimpin; barangsiapa yang men-
jadikan mereka sebagai pemimpin, itulah disebut orang-orang yang zalim
(aniaya).”290

♦ Sikap Muslim dalam Kasus Interaksi dengan Non Muslim

1. Makanan Sembelihan Non Muslim


Makanan atau sembelihan non muslim yang dihalalkan ialah yang
tidak ada sangkut paut-nya dengan upacara ibadah mereka. Namun,
makanan atau sembelihan dalam rangka upa-cara ibadat mereka
hukumnya haram karena termasuk yang tidak karena Allah. Firman-Nya
“Dan makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal ba-gi kamu, demikian pula
makanan kamu halal bagi mereka.” 291
“Janganlah kamu makan dari sembelihan yang ti-dak disebutkan nama Allah,
karena sembelihan yang serupa itu merupakan satu kejahatan.”292

2. Menikah dengan Non Muslim


Wanita muslimah haram menikahi non muslim baik ia itu ahli kitab
maupun musyrikin. Se-dangkan lelaki muslim boleh menikahi wanita ahli
kitab yang keimanannya terpelihara.
“Jangan kamu kawin dengan wanita-manita musy-rik sehingga mereka berim-
an dan sungguh seorang hamba wanita yang beriman adalah lebih baik daripada
seorang wanita musyrik sekalipun dia itu sangat mengagumkan kamu. Dan jan-
gan kamu ka-winkan anak wanitamu dengan lelaki musyrik sehingga mereka ber-
iman, dan sungguh seorang hamba lelaki yang beriman lebih baik daripada seor-
ang lelaki musyrik sekalipun sangat mengagum-kan kamu. Sebab mereka itu
mengajak kamu ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampun-an
dengan izin-Nya.”293
“Kalau kamu yakin mereka itu wanita mu’minah, maka janganlah dikemba-
likan kepada orang-orang kafir, sebab mereka itu tidak halal bagi kafir dan orang
kafirpun tidak halal buat mereka.”294

290
QS. Al-Mumtahanah:8-9
291
QS. Al-Maidah:5
292
QS. Al-An’am:211
293
QS. Al-Baqarah:221
294
QS. Al-Mumtahanah:10
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 106

3. Transaksi Mu’amalah dengan Non Muslim


Ketentuan serta prinsip-prinsip umum dalam mu’amalah berlaku bagi
muslim dan non mus-lim, misalnya; harus rela kedua belah pihak, tidak
boleh menipu, monopoli dan sejenisnya.
Dari Aisyah ra. bahwa Nabi pernah membeli makanan dari seorang
yahudi dengan pembayaran ditunda sampai waktu tertentu dan menggadaikan
baju besi kepadanya.295

4. Ucapan Selamat (berdo’a)


Kaum muslimin dilarang mendahului salam dan ucapan selamat lainnya
kepada non muslim, berdasarkan hadits :
Dari Ali ra berkata: Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu mendahului
orang Yahudi dan nasrani dengan ucapan salam, dan apabila kamu berjumpa
dengan mereka maka desaklah mereka ke tempat yang tersempit.”296
Adapun jika mereka memulai salam atau ucapan selamat lainnya,
maka jawablah; “Kembali, untukmu saja.”
Dari Anas, para shahabat pernah bertanya kepada Nabi : “Jika ahli kitab
memberi salam kepada kita, bagaimana kita menjawabnya ?” Sabda Nabi :
“Katakanlah: WA’ALAIKUM “Untukmu saja” 297
Adapun jika bercampur muslim dan non mus-lim dalam satu majlis,
boleh kita memulai sa-lam yang diperuntukkan bagi golongan muslim
saja.
Dari Usamah bin Zaid, bahwa nabi pernah menunggang keledai sampai
melalui satu majlis yang terdapat kaum muslimin, orang musyrik, penyembah
berhala dan Yahudi juga ada Abdullah bin Ubai bin Salul dan Abdullah bin
Rawahah, Nabi memberi salam kepada mereka.”298

5. Mendo’akan Bersin/Belasungkawa untuk Non Mus-lim/Mengurus kematian


non muslim
Kematian non muslim bukan merupakan musi-bah bagi orang Islam.
Bukan termasuk melaksa-nakan hak kecuali kepada sesama muslim.
Maka, pengurusannya hanya pada aspek kema-nusiaan/sosial saja, tidak
menshalatkan atau mendo’akannya.

295
HR. Al-Bukhari
296
HR. Muslim
297
HR. Muslim
298
HR. Al-Bukhari
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 107

“Dan janganlah engkau shalat (mendo’akan) sese-orang dari mereka yang


mati selama-lamanya (mati kafir) dan jangan pula engkau berdiri di atas kubur-
nya (shalat di atas kuburan) untuk mendo’akannya, karena sesungguhnya mereka
kufur kepada Allah dan Rasul-Nya dan mati sedangkanmereka melewati batas.”
299

“Tidak boleh Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun untuk
orang-orang musyrik wa-laupun mereka itu kaum kerabat yang dekat, setelah
jelas untuk mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka.”300
Menurut Al-Qasimi, memohonkan ampun untuk non muslim adalah
menyalahi ketentuan Allah.301 Tetapi mendo’akan agar mereka men-jadi
orang Islam, menjadi orang shaleh atau agar mereka mendapat hidayah,
tentu tidak dilarang, sebagaimana Nabi pernah mendo’akan kaum
Daus ALLOHUMMA IHDI DAUSAN (Ya Allah, berilah hidayah kepada
kaum Daus.” 302

Rasulullah juga pernah mendo’akan Umar Bin Khattab sebelum ia


masuk Islam: ALLOHUMMA A’IZZIL ISLAM BI UMAR (Ya Allah,
perkuat Islam dengan Umar)303
Dari Burdah dari ayahnya, ia berkata: “adalah seorang Yahudi bersin di samping
Nabi , ia berharap Nabi akan mendo’akannya YARHA-MUKALLAH
(Semoga Allah merahmatimu), namun ternyata Nabi hanya mengucapkan:
YAHDIKUMULLAH WA YUSLIH BALAKUM. (Semoga Allah memberi hi-
dayah kepadamu dan memperbaiki bencanamu).” 304

Maka, jika non muslim bersin, ucapkanlah sebagaimana Rasulullah


mencontohkan, walaupun ia tidak mengucapkan hamdalah.

Dari Anas, “seorang anak Yahudi sakit, kemudian Nabi datang men-
jenguknya lallu duduk dekat kepalanya dan bersabda: “Masuk Islamlah !”
Anak itu memandang bapaknya yang ada di dekat kepalanya, lalu
bapaknya berkata; “turutilah Abal Qasim (Rasulullah )” maka iapun
masuk Islam, kemudian Nabi berdiri sambil mengucapkan; ALHAM-
DULILLAHILLADZI ANQADZAHU BI MINANNAR (Segala puji milik

299
QS. At-Taubah:84
300
QS. At-Taubah:113
301
Tafsir Al-Qasimi VIII:114
302
Al-Bukhari
303
HR. Al-Hakim
304
HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa-i
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 108

Allah Yang telah menyelamatkannya dengan sebabku dari ancaman api


neraka).” 305

6. Membangun tempat Ibadah


Seharusnya seorang muslim mengajak mereka yang telah sesat dan
menyekutukan Allah termasuk Yahudi dan Kristen agar kembali kepada
ketauhidan yang juga diajarkan oleh Nabi Isa AS. sebagaimana firman Al-
lah:
“Katakanlah; “Hai ahli kitab, marilah kepada kali-mat yang adil antara kami
dan kamu yaitu jangan-lah kita menyembah melainkan Allah semata, dan jan-
ganlah kita menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dan janganlah sebagian dari kita
jadikan lagi sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.” 306
Allah menegaskan :
“Dan janganlah kamu saling menolong dalam dosa dan permusuhan.”307

7. Mengundang & Menghadiri Undangan Non Muslim


Menghadiri undangan dari siapapun –baik muslim maupun non
muslim, hukum asalnya adalah wajib, sebagaimana Rasulullah ber-
sabda: “Apabila salah seorang dari kamu diun-dang dalam walimah, hendaklah
ia mendatangi-nya.”308 Namun, hadits ini dikhususkan dengan hadits lain,
Rasulullah bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu mengundang saudaranya, hendaklah ia
datang, baik walimah ataupun sebangsanya.” 309
Kalimat “saudaramu” menunjukkan bahwa wajib menghadiri itu bagi
sesama muslim saja, sesuai dengan hadits lainnya: “Haq seorang muslim
terhadap muslim lainnya ada lima: menja-wab salam, menjenguk yang sakit,
mengiring jenazah, menghadiri undangan dan mendo’akan bersin.” 310
Maka menghadiri undangan sesama muslim adalah wajib. Adapun un-
dangan dari non mus-lim, karena tidak ada ketentuan hukumnya menjadi
boleh dihadiri atau tidak.
Jika dalam walimah/pesta tersebut ada upacara atau makanan yang di-
haramkan –baik peng-undang itu muslim atau non muslim, maka haram
menghadirinya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah
305
HR. Abu Dawud 3095-III/185
306
QS. Ali Imran:64
307
QS. Al-Maidah:2
308
Muttafaq Alaih
309
HSR. Muslim
310
HSR. Al-Bukhari
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 109

dan hari akhir maka janganlah ia duduk di satu hidangan yang disuguhkan
padanya minuman keras.”311
Adapun mengundang non muslim untuk meng-hadiri acara tertentu,
tidak ada nash yang mela-rangnya, artinya boleh (mubah).
Allah berfirman: “Janganlah kalian berkumpul bersama orang-orang yang
zalim, nanti api neraka akan menyentuhmu.”312

8. Hadiah & Meminta derma kepada non muslim


“Boleh bagi seorang muslim memberi hadiah kepada non muslim atau
menerima hadiah darinya dan membalas hadiahnya. Ada riwayat bahwa
Nabi telah diberi hadiah oleh raja-raja dan beliau menerimanya
sedangkan mereka non muslim.”313 Selama hadiah tersebut bukan barang
yang haram dan tidak untuk upacara ibadah mereka.
Dari Ali ra. dari Nabi bahwa Kisra (raja Persi) telah memberi hadi-
ah kepada Nabi dan Nabi menerimanya dan sesungguhnya raja-raja telah
memberi hadiah kepada beliau dan Nabi menerimanya.314
Dari Abi Humaid As-Sa’diy berkata: “Raja Ailah pernah memberi hadi-
ah seekor keledai betina kepada Nabi dan mengenakan kain yang
bercorak garis-garis kepada beliau.”315

9. Menggunakan peralatan makan Non Muslim


Dari Abi Tsa’labah Al-Khusyaini, ia berkata: Saya bertanya: “Ya Rasulallah,
sesungguhnya kami ber-ada di wilayah kaum ahli kitab, maka apakah boleh kami
makan dengan menggunakan wadah mereka ? Sabdanya: “Janganlah kamu
makan dengan meng-gunakannya, kecuali jika kamu tidak mendapatkan yang
lainnya, maka cucilah dahulu dan makanlah dengannya.”316
Hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal menggunakan peralatan
makan non muslim adalah haram, kecuali jika tidak ada lagi, maka harus
dicuci terlebih dahulu.

10. Mohon Maaf kepada Non Muslim


Minta maaf ketika berbuat zalim kepada sesa-ma manusia sangat dian-
jurkan. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian saling memberi hadiah

311
HR. Ahmad, An-Nasa-i, At-Tirmidzi dan Hakim
312
QS. Hud:113
313
HR. Ahmad & At-Tirmidzi, Al-Halal Wal Haram:131
314
HR. At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi V:197
315
HR. Al-Bukhari II:95 Fathu VI:158
316
Muttafaq Alaih
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 110

supaya kalian saling mencintai dan hendak-lah kalian saling bersalaman, niscaya
akan hilang uneg-uneg dari hati kalian.” 317

11. Mempelajari Kitab Suci Non Muslim


Umar pernah membawa dan membaca lembar-an dari kitab terdahulu
lalu Rasulullah marah.

Pelurusan kasus-kasus interaksi dengan non muslim

1. Benarkah Isa Bin Maryam lahir pada hari Natal 25 Desember ?


Natal menurut Herckenrath Fransch – Nederlandsch Woordenboek be-
rasal dari Natal (e) = geboorte artinya kelahiran. Yang dimaksud hari natal
– tanggal 25 Desember ialah hari kelahiran Yesus Kristus.
Penetapan tanggal 25 Desember secara historis dan kajian ilmiah sama
sekali keliru.
a. Penetapan tanggal tersebut didasarkan pada ajaran agama kafir kuno
sebelum Isa diutus, yaitu dikira-kira dan disamakan dengan kelahir-
an Mitra tanggal 25 Desember.
b. Menurut Matius 2:1, setelah Yesus lahir di Betlehem di tanah Yudea,
pada zaman baginda Herodes, maka datanglah beberapa orang maju
dari benua Sebelah timur ke Yerussalem. Ayat ini menjelaskan bahwa
Herodes hidup sezaman dengan Yesus yaitu selisih dua tahun, seba-
gai-mana menurut Matius 2:19-20. tetapi menurut Kamus Al-Kitab Ba-
hasa Indonesia Sehari-hari: 544 diterangkan: Herodes 1. Herodes
Agung (Mat.2:1-22, Lukas 1:5) adalah raja atas seluruh negeri bangsa
Yahudi pada tahun 37-4 sebelum Masehi. Ialah yang memerintahkan
untuk membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem, pada masa tidak
lama setelah Yesus lahir. Berdasarkan bunyi kamus ini (juga dalam
semua Ensiklopedi, al. Brittanica, Americana, Koenen’s Nederlandsch
Woordenboek, juga Encyclopedie voorledereen oleh John Kooy men-
erangkan:
Herode 1: de Groote (37-4 v. Christus), koning der Joden, liet alle man-
nelijke kinderen van twee jaar en jonger te Bethlehem doden na de ge-
boorte van jesus.
Jelas, bahwa Herodes tidak sezaman dengan Yesus, karena 4 tahun se-
belum Yesus lahir, Herode sudah meninggal. Maka, Matius sebagai pen-

317
HR. Ibnu Asakir
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 111

ginjil keliru dalam penentuan kelahiran Isa dan berten-tangan dengan data
dan ensiklopedi ilmiah yang telah diakui dunia Internasional. Bisakah kita
perca-yai berita lainnya yang lebih prinsipil, jika dalam masalah ini saja
sudah keliru ? Maha benar Allah dengan firman-Nya: “Sebagian dari orang
Yahudi itu ada yang mengubah kalimah-kalimah dari tempat-tempatnya.”318

2. Mengucapkan Selamat Natal berarti setuju dan membenarkan aqidah kristiani


Abdullah Bin Amru berkata: “Barangsiapa yang mendirikan bangunan di
wilayah orang musyrik, menye-lenggarakan upacara dan model resepsi mereka
serta ber-tasyabbuh (menyerupai) ibadah mereka dalam berbagai hal sampai ia
meninggal, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan bersama mereka (orang
musyrik).”319
Menyerupai tata upacara orang musyrik saja sudah haram apalagi terlibat
dengan upacara ibadat mereka dengan ucapan selamat natal dan sejenis-
nya.

3. Raja Najasyi seorang muslim


Rasulullah tidak pernah menshalatkan non muslim. Raja Najasy
dishalatkan oleh Rasulullah karena ia membenarkan risalah Nabi
dan melindungi kaum muslimin. Inilah yang menjadi dasar keislamannya.
Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan:
Dari Ibnu Abbas; “Perhatikanlah orang-orang Hitam, karena ada empat orang
dari mereka yang menjadi penghulu Ahli surga: Lukmanul Hakim, An-Najasyi
dan Bilal.” Pada hadits ini ada rawi Umair Bin Abdullah At-Torobiqy menurut
sebagian ahli hadits tidak bisa diterima sebagai hujjah tetapi menurut Abu Hatim
ia rawi yang Shoduq (jujur) dan Abu Zur’ah serta yang lainnya memandang
tidak apa-apa. Juga terdapat dua hadits lain yang menjadi syahid (penguat) yang
diriwayatkan Ibnu Abdurrozaq dalam tarikhnya dari Abdurrahman dari Jabir
dengan marfu’. Dan dari Ubadah. 320

4. Do’a Nabi untuk non muslim atau anti Islam

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: “Aku menyaksi-kan penderitaan yang menimpa
Rasulullah seperti yang terjadi pada para nabi terdahulu yang mendapat
tantangan dari kaumnya. Beliau mengusap darah di wajahnya dan berdo’a : AL-

318
QS.4:46
319
HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro IX:234
320
Mukhtashar Tib nabawi, As-Sayuthi:21
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 112

LOHUMMAGHFIR LI QOUMI FAINNAHUM LA YA’LAMUN, Ya Allah,


Tuhanku, ampunilah kaumku sebab mereka belum mengetahui.”

5. Himbauan H. Abdullah Wasi’an:


Dengan segala kerendahan hati, penulis meng-himbau kepada semua pi-
hak, supaya:
1. Tidak mengundang/mengajak umat Islam un-tuk mengikuti natalan
Bersama.
2. Hendaknya jangan diusahakan untuk mening-katkan bentuk kerukun-
an ummat beragama lebih dari yang sudah berjalan dengan baik, yaitu
kerukunan/kerjasama mengenai masalah keduniaan/kemasyarakatan,
seperti : keamanan kampung/daerah, kesejahteraan warga dll. Ka-
rena tidak semua yang dapat dipersatukan itu baik, namun ada se-
suatu yang dipersatukan itu, malah menjadi tidak baik.
3. Pendapat yang mengatakan, jika orang Islam mau mendatangi Nat-
alan Bersama atas un-dangan kawan-kawan golongan Kristen, maka
orang-orang Kristenpun bersedia mendatangi undangan Islam ke
Mesjid untuk mendengar-kan ceramah/upacara islam. Pandangan
yang sedemikian ini, akan menjadikan setiap peme-luk agama sama-
sama MUNAFIQ, suatu sifat dan sikap yang sangat tidak menguntun-
gkan bagi pemeluk masing-masing agama.

IV. PENUTUP

Memang, akhir-akhir ini kondisi hubungan antar umat beragama di negeri


ini pada tahap yang mengkhawatirkan. Mudah-mudahan dengan kem-bali
kepada aturan syari’at Allah SWT kita semua dapat merasakan kembali
kedamaian dan kesejahte-raan bagi seluruh hamba-hamba Allah di muka
bumi ini. Amien.

Interaksi dengan Non Muslim Menurut Islam


(Tanggapan atas pandangan Dr. Alwi Shihab
tentang Ucapan Selamat Natal & Mendo’akan Non Muslim)
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 113

I. MUQADDIMAH
Mengamati kondisi ummat beragama di negeri kita akhir-akhir ini
sungguh membuat kita meng-usap dada. Berbagai issu berbau SARA
menjadi pe-micu berbagai bentrokan dan meresahkan masyara-kat. Um-
mat Islam yang mayoritas menjadi terpo-jokkan dibuatnya, bahkan berba-
gai teror dan an-caman tidak sedikit yang mengganggu ketenangan kaum
muslimin dalam beribadah. Masjid-masjid menjadi sasaran penghancuran
dan perusakan. Para kiayi dan tokoh agama tak luput dari teror dan anca-
man. Siapa yang menjadi provokator, hanya Allah Yang Maha Tahu dan
Yang Maha Kuasa untuk membalas dan membuat makar yang lebih dah-
syat kepada mereka. Benarlah apa yang diisya-ratkan Allah dalam firman-
Nya:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang-orang kafir benci.” 321
Sekilas latar belakang di atas dapat kita jadi-kan pertimbangan untuk
memaklumi munculnya pandangan kontroversial sekitar masalah ucapan
se-lamat natal atau toleransi, daripada menuduh seca-ra emosional bahwa
hal itu sekedar ketakutan dan kekhawatiran belaka. Namun rasanya tidak
adil jika pandangan sepihak tersebut disaksikan sekian juta pemirsa kaum
muslimin, apalagi yang awam dalam pemahamannya tentang konsep in-
teraksi antara penganut agama, sehingga bisa saja menjurus pada
pengaburan akidah dan tauhid umat Islam yang mengakibatkan ummat
Islam kehilangan ‘Izzah dan harga dirinya. Rasulullah memprediksik-
an pe-nyebabnya :
“Ada satu kemungkinan akan tiba saatnya mereka (para munafikin dan go-
longan anti Islam mendapat kesempatan) berkumpul mengepung kamu sekalian
seperti para undanngan berkumpul menyerbu hidangannya. Seorang shahabat
bertanya, Apakah karena kita (umat Islam) pada masa itu sedikit jumlahnya
(minoritas). Rasulullah menjawab: Tidak ! jumlah kamu saat itu besar (may-
oritas), namun kamu seperti timbunan sampah yang dibawa air bah. Pada saat
itu Allah meng-hilangkan dari dada lawan kamu rasa hormat dan segan terhadap
kamu dan menempatkan pada hati kamu rasa lemah dan hina (wahn). Seorang
shahabat bertanya; “Ya Rasulullah, apakah wahn itu ?” Rasulullah men-
jawab: “Penyebab wahn itu ialah gila dunia dan anti akhirat (mati).” 322
Sebagaimana Dr. Alwi Shihab –dalam topik ini- mengungkapkan bah-
wa, mungkin saja pan-dangan saya mengandung unsur kebenaran dan
tidak mustahil pandangan yang lain juga ada benar-nya, maka saya men-
coba menanggapi pandangan-nya yang kontroversial bahkan dengan
pendapat kebanyakan ulama yang diwakili oleh MUI dalam fatwanya.
Dan saya tambahkan, bahwa kebenaran dari manusia –setinggi apapun
321
QS.Ash-Shaf:8
322
HR. Abu Dawud
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 114

ilmunya- itu relatif, sedangkan kebenaran hakiki menurut ummat Islam,


hanya milik Allah dalam firman-Nya dan sabda Rasulullah dalam
sunnahnya yang shahih. Maka, dalam tanggapan ini, dengan izin Allah,
saya kemukakan nash-nash yang jelas dan tidak perlu interpretasi, juga
berbagai interpretasi ulama yang diakui kredibilitasnya dalam berijtihad.

III. DASAR KEBOLEHAN UCAPAN SELAMAT NATAL


DAN MENDO’AKAN NON MUSLIM
Setidaknya ada beberapa alasan Dr. Alwi Shi-hab berfatwa bolehnya
seorang muslim mengucap-kan selamat natal atau mendo’akan non
muslim yang saya simak pada Acara Ramadhan “Renung-an Alwi
Shihab,” Jum’at 1 Januari 1999 malam:
3. Turunnya nash dan pendapat yang melarang keras berinteraksi
dengan non muslim dipenga-ruhi oleh kondisi saat itu dimana
golongan non muslim memusuhi dan mengganggu kaum mus-
limin. Contoh kasus, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm dalam fat-
wanya mengharamkan interak-si dengan non muslim termasuk
menjual sarana ibadah yang mereka butuhkan. Karena pada saat
itu kondisi hubungan muslim dan non muslim sedang tidak har-
monis, diantaranya bergolaknya perang salib. Juga nash-nash
yang bernada kecaman atau larangan berinteraksi de-ngan non
muslim turun pada saat Yahudi ber-kuasa dan menindas umat Is-
lam sehingga Rasulullah melarang memulai salam kepada
mereka dan kalau mereka memulai ucapan “seperti” salam maka
jawablah “Wa ‘Alaika !” (untukmu saja). Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi tipu daya mereka dengan mengucapkan “As-
Samu ‘Alaika” (racun bagi-mu).
4. Ada beberapa kasus dan pendapat yang meng-isyaratkan
bolehnya berinteraksi dengan non muslim. Diantaranya; Rasulul-
lah pernah berhutang kepada seorang Yahudi. Rasulullah
juga pernah menshalatkan Raja Najasy yang –menurutnya- be-
ragama Nasrani (kristen) sewaktu mendapat kabar kematiannya.
Ibnu Abbas berpendapat, jika non muslim mengajak berdamai
maka balaslah dengan perdamaian.
III. RENUNGAN KEMBALI HASIL “RENUNGAN ALWI SHIHAB”
Kita semua merasakan, problema negeri ini sa-ngat kompleks, namun
tidak berarti kita bertindak gegabah dan serampangan sehingga
menghalalkan segala cara tanpa berpikir jernih dengan kepala di-ngin.
Maka, tulisan ini setidaknya menjadi bahan renungan kembali tentang
konsep interaksi antar umat beragama menurut kacamata Islam sebagai
rahmatan lil ‘alamien. Rasulullah juga meng-ingatkan ummatnya;
“Sungguh kalian akan meng-ikuti cara-cara orang yang datang sebelum
kalian setapak demi setapak, sampai seandainya mereka memasuki liang
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 115

biawak kalian akan memasukinya pula.” Shahabat bertanya: “Wahai Rasu-


lullah , orang Yahudi dan Nasrani ?” Beliau men-jawab: “Siapa lagi ?”323
Islam adalah ajaran para Nabi dan Rasul untuk seluruh umat
manusia dan berlaku sepanjang masa sampai hari kiamat.
Islam adalah ajaran fitrah kemanusian melalui ketuhanan (wahyu Al-
lah). Islam bukan ajaran Muhammad (Mohamadisme) atau Arabisme. Is-
lam muncul sejak peradaban umat manusia diciptakan Allah. Seluruh
utusan Allah-pun menyerukan satu ajaran, yaitu Islam. Semenjak Nabi
Adam as. juga para nabi dan rasul setelahnya, termasuk Nabi Isa as. dan
Musa as. Nabi Isa as. menyatakan dalam al-Qur’an : “Aku beriman ke-
pada Allah dan aku ber-saksi bahwa aku adalah muslim.”324 Demikian
halnya seluruh umat manusia pada dasarnya berada dalam fitrah atau
muslim. Maka, manusia yang hidup tidak sejalan dengan fitrah kemanus-
iannya, hakikat-nya mereka bukan muslim. Namun, setiap nabi dan rasul
diutus kepada kaumnya masing-masing, kecuali Rasulullah, Muhammad
sebagai khatamun nabiyin (nabi terakhir) diutus Allah untuk seluruh um-
mat manusia.325
Kesempurnaan fitrah manusia telah dicapai oleh para utusan Allah,
dan yang paling terakhir sebagai saksi kebenaran fitrah tersebut adalah
Muhammad, Rasulullah . Namun, mengapa ketika ajaran fitrah terse-
but diserukan, tidak sedikit manusia yang menolak dan mengingkarinya ?
Menurut Muhammad Al-Ghazali, ada dua kemung-kinan. Barangkali
seruan itu belum sampai kepada mereka atau barangkali sudah sampai,
tetapi ben-tuknya cacat –baik pemberi maupun penerima seru-an tersebut,
sehingga mereka tidak terdorong untuk menerimanya. Fitrah manusia itu
bagaikan buah yang tumbuh indah menawan dan rasanya pun lezat.
Tetapi betapa banyak diantara buah-buah itu yang kini diserang hama, se-
hingga warna dan rasanya menjadi cacat. Semestinya bagi para petani
penanam buah, hama itu tidak terasa asing lagi, sehingga mereka dapat
menanggulanginya segera agar buah-buahnya terselamatkan. Akan tetapi
ge-nerasi yang baru tumbuh di tengah-tengah kita tidak mendapatkan
perlindungan dan penjagaan yang memadai. Karena itu, mereka dengan
mudah ditelan wabah moral, sosial dan politik. Dan setelah mereka tum-
buh dewasa, mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang tercela.326
Ajaran dari para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad pada
asalnya sama mengajarkan tauhid kepada Allah swt. dan menentang
kemusyri-kan dan kezaliman. Namun, sepeninggal mereka, para pen-
gikutnya –termasuk pemimpin agamanya, banyak melakukan penyimpan-

323
HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry
324
QS. Ali Imran:57
325
lihat QS. Al-Anbiya:107 & Saba:28
326
1993:116
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 116

gan ajaran tauhid tersebut karena hawa nafsu dan kesenangan dunia-wi.
Firman Allah:
“Maka apakah kamu berharap agar mereka itu akan mengikuti kamu, pada-
hal sesungguhnya telah ada sebagian mereka yang mendengar firman Allah,
kemudi-an mereka merubahnya sesudah mereka mengerti, sedang-kan mereka
mengetahui.” 327
“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata: “Sesungguhnya
aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepada-
mu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah kepada
Allah dan taatilah aku. Sesung-guhnya Allah, Dialah Tuhan kamu, maka sem-
bahlah Dia; ini adalah jalan yang lurus. maka berselisihlah golongan-golongan
(yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang
yang zalim, yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).”328
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tan-
gannya seraya berkata: “Aduhai seandainya (dulu) aku mengambil jalan ber-
sama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kitanya aku (dulu) tidak men-
jadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesung-guhnya dia telah menyesatkan aku
dari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syetan itu
tidak mau menolong manusia.”329
Akar Sejarah Golongan Non Muslim (Ahli Kitab, Yahudi, Nasrani,
Musyrikin)
Menurut Al-Qur’an, kaum Nasrani dan Yahu-di merupakan kaum
yang telah menyimpang dari ajaran Allah dan para Rasul-Nya yaitu ajaran
Islam. Mereka menyimpang karena beramal tanpa ilmu dan berilmu tanpa
iman dan amal, sehingga mereka mempertahankan tradisi kemusyrikan
yang telah ada sejak setan menolak perintah Allah untuk sujud kepada
Adam. Kemudian mereka mengikuti dan melestarikan tradisi nenek moy-
angnya sampai ke tingkat para rahib atau pendeta yang dikultuskan oleh
pengikutnya. Allah SWT menyatakan;
“Mereka (orang-orang kafir) menjadikan ulama-ula-ma mereka dan pen-
deta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan juga al-Masih Ibnu
Maryam, padahal tidaklah mereka diperintahkan Tuhan, melain-kan agar
menyembah kepada Tuhan yang Esa, tiada Tuhan melainkan Dia, Maha suci Ia
dari apa yang mereka sekutukan.”330
Lebih spesifik lagi, kemusyrikan yang dilaku-kan kaum Yahudi dan
Nashrani ialah menganggap Allah beranak atau menitis pada manusia.
Firman Allah:
“Dan berkatalah orang-orang Yahudi “Uzair itu anak Allah” sedangkan or-
ang-orang nashrani mengata-kan “Al-Masih itu anak Allah.” Yang demikian itu

327
QS.2:75
328
QS. Az-Zukhruf: 63-64
329
QS.25:27-29
330
QS. At-Taubah:21
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 117

ada-lah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, meniru-kan orang-orang


kafir dahulu (sebelumnya). Dibinasakan Allah akan mereka. Bagaimana mereka
itu dapat dipa-lingkan.”331
Perilaku kemusyrikan paling sesat yang dilaku-kan Yahudi dan
Kristen ialah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dan menganggap
Allah terdiri dari unsur-unsur makhluk. Allah berfirman:
“Sungguh telah kufur orang yang berkata, bahwa Allah itu ketiga dari tiga,
padahal tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang tunggal.”332
Maka, pola tradisi yang dilakukan oleh orang-orang musyrik termas-
uk Yahudi dan Kristen akan terus diyakini oleh pengikutnya bahkan di-
propagan-dakan dengan cara-cara dan missinya sampai Allah
memadamkan makar mereka.
Para pengikut Rasulullah pun tidak akan luput dari propaganda
mereka, sebagaimana predik-si Rasulullah :
“Akan datang di kalangan umatku sekelompok kaum yang terjangkit berba-
gai macam aliran (yang bersumber dari) hawa nafsu, sebagaimana penyakit
anjing gila menjangkiti penderitanya. Maka tidak ada satupun aliran darah dan
bagian tubuhnya kecuali telah dimasuki semuanya. Demi Allah wahai sekalian
bangsa Arab, kalau kamu sekalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh
Muhammad , tentu orang-orang selain kamu yang lebih berhak untuk melak-
sanakannya.”333
Untuk mengantisipasi tradisi kemusyrikan ter-sebut, Rasulullah
sangat hati-hati menanam-kan ketauhidan dan ibadah. Misalnya, suatu
hari Rasulullah menjumpai seorang khatib yang sedang berpidato dan
mengatakan: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan kepada utusan-
Nya, ia akan mendapat petunjuk. Tetapi barangsiapa yang durhaka kepada
keduanya, maka ia akan sesat. Men-dengar ucapan tersebut , Rasulullah
langsung menegurnya; “Seburuk-buruk ucapan ialah ucapan-mu yang
terakhir, jangan kau katakan: “Barangsia-pa yang durhaka kepada ke-
duanya,” melainkan ka-takanlah: “Barangsiapa yang durhaka kepada Al-
lah dan kepada rasul-Nya, maka ia akan sesat.”
Rasulullah bersabda: “Jangan kalian menyanjungku seperti kaum Nas-
rani menyanjung Isa Bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkan-
lah Abdullah atau Rasulullah.” 334
Kondisi Perang (Darul Harb) dan Kondisi Damai (Darul Islam) &
Hak-hak Golongan Non Muslim Dzimmi dalam naungan Islam
Islam sangat melindungi setiap makhluk ter-masuk golongan kafir dz-
immi atau non muslim yang berada dalam wilayah mayoritas muslim.

331
QS. At-Taubah : 30
332
QS. Al-Maidah:73
333
HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim dalam al-Mustadrok
334
HR. Al-Bukhari dari Umar ra.
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 118

Prof. Abul A’la Maududy membagi kriteria Non Muslim berdasarkan


syara’ menjadi tiga bagian :
4. Mereka yang berada di bawah lindungan nega-ra Islam atas dasar
perdamaian atau perjanjian.
5. Mereka yang kalah perang atau ditaklukan de-ngan jalan keker-
asan.
6. Mereka yang bergabung ke dalam negara Islam bukan atas dasar
perjanjian perdamaian atau kalah perang.
Ketiga macam non muslim di atas, sekalipun secara umum memper-
oleh hak-hak yang sama, namun pada hal-hal tertentu ada sedikit perbe-
daan, terutama antara yang pertama dan yang kedua. Hak-hak non
muslim secara umum diantaranya; Hak perlindungan terhadap jiwa, Hak
Perlindungan dalam Undang-Undang Pidana, Hak Perlindungan dalam
Undang-Undang Perdata, Hak perlidungan terhadap kehormatan, Hak
Perlidungan terhadap Masalah-Masalah Pribadi, Hak Perlindungan terha-
dap Syi’ar-syi’ar Agama, Hak Perlindungan terha-dap Tempat-Tempat
Ibadah, Bebas dari tanggung jawab Kemiliteran, Kebebasan Berbudaya,
Menya-takan Pendapat, Memperoleh Pengajaran, Kesem-patan menjadi
Pegawai Negeri dan Kebebasan Berusaha dan Bekerja.
Rasulullah pernah mengingatkan:
“Awas… barangsiapa yang berlaku aniaya kepada non muslim yang telah
mengadakan perjanjian perdamai-an atau mengurangi hak-haknya, atau mem-
berikan beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu yang menjadi mi-
liknya dengan cara tidak baik, akulah pembelanya pada hari kiamat kelak.”335
Darul Islam ialah semua wilayah yang dihuni oleh orang yang berim-
an kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah , orang-orang yang
mengikuti ajaran kitab Allah dan Sunnah Nabi, orang yang melaksanakan
semua syari’at Allah dan semua orang yang bergabung di bawah panji Al-
lah swt. Sedangkan Darul Harb ialah semua wilayah yang dihuni oleh or-
ang yang mengingkari risalah Rasulullah , menentang dan memusuh-
inya, serta menghalang-halangi dakwah risalah tersebut.
Penyebutan negeri dan penduduk tersebut se-bagai Darul Harb, ada-
lah semata-mata untuk mem-berikan perlakuan yang setara dengan per-
lakuan mereka terhadap wilayah-wilayah Islam.
Kondisi Umat Islam di negeri kita, walaupun jumlah penganut Is-
lamnya cukup banyak, namun kenyataannya, begitu banyak permasalahan
umat –baik politik, ekonomi dan sebagainya yang tidak berdasarkan syar-
i’at Islam, bahkan dikuasai oleh non muslim. Kondisi ini tidak bisa dile-
paskan dari fenomena global yang terjadi sejak runtuhnya Daulah Uts-
mani dan berkuasanya golongan non muslim dalam tatanan internasional,
sehingga ma-syarakat Islam dipinggirkan dan tidak diberi hak-hak asasi

335
HR. Abu Dawud dalam Kitab Jihad
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 119

yang ditetapkan hukum positif. Goruris, seorang pakar hukum internas-


ional mengatakan bahwa masyarakat yang bukan beragama Masehi tidak
boleh diperlakukan sama. Ia juga berpenda-pat, bahwa meskipun hukum
membolehkan diada-kannya perjanjian dengan musuh-musuh agama
masehi, namun ia menghimbau penguasa Masehi untuk bersatu dan
melawan semua orang yang memusuhi ideologi Masehi. Sebelumnya, Gi-
lontalis pernah menyerang Firansa I, raja Perancis karena ia mengadakan
perjanjian dengan Sultan Sulaiman Qanuni, Khalifah Utsmani, pada tahun
1535, pada-hal isi perjanjian itu dimaksudkan untuk menjalin hubungan
perdamaian di antara kedua negara. Perjanjian itu membebaskan warga
Perancis dari kewajiban membayar pajak yang dikenakan kepada orang-
orang nonmuslim yang bertempat tinggal di Darul Islam, dan mereka
diberikan fasilitas-fasilitas di bidang keagamaan dan pengadilan. Hal itu
ber-dasarkan perjanjian timbal balik dalam kerja sama antara raja Masehi
dan orang-orang non muslim.
Jelaslah, para tokoh militer, politik dan hu-kum, baik sebelum
maupun sesudah Perang Salib, memperlakukan umat Islam dengan keben-
cian yang amat dalam. Hal itu, karena mereka telah mewarisi kebencian
dan pengingkaran terhadap risalah Muhammad dari nenek moyang
mereka. Mereka juga mewarisi ambisi untuk merusak citra risalah
Muhammad dan bernafsu untuk memusnahkannya.
Sekarang, pantaskah sikap kita memandang bahwa mereka melak-
ukan perdamaian (Darus-salam), padahal pandangan mereka terhadap
umat Islam sampai kapanpun sebagai musuh (Darul Harb).
Ini suatu kebodohan besar ! Tulis Muhammad Al-Ghazali.
Allah-pun mengingatkan kita;
“Mereka (non Muslim) tidak henti-hentinya meme-rangi kamu sampai
mereka dapat mengambalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran),
seandainya mereka sanggup.”336
Apalagi kaum Yahudi dan Kristen telah ditegaskan dalam firman Al-
lah:
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka.”337
Kita jangan menutup mata, kenyataan yang terjadi di negeri ini,
betapa giatnya orang Yahudi dan Kristen mengerahkan segala kemam-
puannya untuk terus menerus berusaha menghancur luluh-kan Islam dan
menghalangi orang-orang yang telah beriman dan bertauhid kepada Allah
Yang Satu, bahkan mereka tidak segan-segan mengalihkan umat Islam
menjadi manusia-manusia atheis atau penyembah berhala dan kemaksi-
atan. Allah SWT mengungkapkan dan melaknat sikap mereka;

336
QS. Al-Baqarah:217
337
Al-Baqarah:120
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 120

“Katakanlah, Hai ahli Kitab, mengapa kamu ing-kari ayat-ayat Allah, pada-
hal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan ?” Katakanlah, “Hai ahli
Ki-tab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang
telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyak-
sikan ?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” 338
“Kebanyakan dari ahli kitab hendak memurtadkan kamu jadi kafir setelah
kamu beriman karena kedengkian dari diri-diri mereka.”339
Toleransi Aqidah dan Toleransi Mu’amalah
“Dan seandainya kau mengikuti hawa nafsu mere-ka setelah datang ilmu
kepadamu, tentunya kau akan menjadi golongan orang-orang yang zalim.” 340
Secara Aqidah atau prinsip keyakinan dalam bertauhid dan
beribadah, Islam sangat tegas dan je-las menyatakan tidak ada istilah tol-
eransi. Sebagai-mana prinsip interaksi dengan non muslim dalam firman
Allah QS. Al-Kafirun 1-6:
“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku ti-dak akan menyembah apa
yang kamu sembah. Dan ka-mu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan
aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sem-bah, dan kamu tidak
pernah (pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah
agamamu, dan untukkulah agamaku.”
Umat kristianipun sebenarnya punya prinsip tidak ada toleransi
dalam masalah akidah atau keyakinan ketuhanan, sebagaimana tersebut
dalam Al-Kitab surat kiriman Yahya kedua, yaitu II Yahya 1:10,11 yang
berbunyi:
“Jikalau barang seorang datang kepadamu dan membawa pengajaran lain
daripada itu, janganlah kamu terima dia masuk ke dalam rumahmu dan jangan
memberi salam kepadanya. II. Karena barangsiapa yang memberi salam kepadan-
ya, ia itu sama bersalah di dalam perbuatannya yang jahat itu.
Maka, dengan prinsip dasar tersebut, ketegas-an sikap seorang
muslim akan diwujudkan dalam perilaku atau interaksi mu’amalah dan
tidak sampai melebihi batas loyalitas akidah dan ibadah.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian menjadikan
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pelindung, sebagian mereka menjadi
pelindung sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan
mereka sebagai pelindung, maka dia menjadi bagian dari mereka. Sesungguhnya
Allah tidak akan menunjukkan kaum yang zalim.”341
Adapun dalam interaksi masalah sosial kema-syarakatan, kita dibole-
hkan bergaul dalam batas-batas yang dihalalkan dan tidak menyimpang
dari prinsip mu’amalah secara Islam. Firman Allah:

338
QS. Ali Imran 98-99
339
QS. Al-Baqarah:109
340
QS. 2:120
341
QS. Al-Maidah:51
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 121

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil dengan
mereka (yang kafir) yang tidak memerangimu dan tidak mengusir kamu dari
negerimu, untuk berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka,
sesungguhnya Allah itu suka kepada orang-orang yang berbuat keadilan. Sesung-
guhnya Allah melarang kamu untuk bergaul dengan mereka apabila mereka
memerangi kamu dalam dan mengusir kamu dari negeri kamu serta nyata pen-
gusirannya terhadap kamu, untuk menjadi mereka sebagai pemimpin; barang-
siapa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, itulah disebut orang-orang
yang zalim (aniaya).”342
♦ Sikap Muslim dalam Kasus Interaksi dengan Non Muslim
12. Makanan Sembelihan Non Muslim
Makanan atau sembelihan non muslim yang dihalalkan ialah yang
tidak ada sangkut paut-nya dengan upacara ibadah mereka. Namun,
makanan atau sembelihan dalam rangka upa-cara ibadat mereka
hukumnya haram karena termasuk yang tidak karena Allah. Firman-Nya
“Dan makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal ba-gi kamu, demikian
pula makanan kamu halal bagi mereka.” 343
“Janganlah kamu makan dari sembelihan yang ti-dak disebutkan nama
Allah, karena sembelihan yang serupa itu merupakan satu kejahatan.”344

13. Menikah dengan Non Muslim


Wanita muslimah haram menikahi non muslim baik ia itu ahli kitab
maupun musyrikin. Se-dangkan lelaki muslim boleh menikahi wanita ahli
kitab yang keimanannya terpelihara.
“Jangan kamu kawin dengan wanita-manita musy-rik sehingga mereka
beriman dan sungguh seorang hamba wanita yang beriman adalah lebih baik
daripada seorang wanita musyrik sekalipun dia itu sangat mengagumkan kamu.
Dan jangan kamu ka-winkan anak wanitamu dengan lelaki musyrik sehingga
mereka beriman, dan sungguh seorang hamba lelaki yang beriman lebih baik dari-
pada seorang lelaki musyrik sekalipun sangat mengagum-kan kamu. Sebab
mereka itu mengajak kamu ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan am-
pun-an dengan izin-Nya.”345
“Kalau kamu yakin mereka itu wanita mu’minah, maka janganlah
dikembalikan kepada orang-orang kafir, sebab mereka itu tidak halal bagi kafir
dan orang kafirpun tidak halal buat mereka.”346
14. Transaksi Mu’amalah dengan Non Muslim
Ketentuan serta prinsip-prinsip umum dalam mu’amalah berlaku
bagi muslim dan non mus-lim, misalnya; harus rela kedua belah pihak,
tidak boleh menipu, monopoli dan sejenisnya.
342
QS. Al-Mumtahanah:8-9
343
QS. Al-Maidah:5
344
QS. Al-An’am:211
345
QS. Al-Baqarah:221
346
QS. Al-Mumtahanah:10
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 122

Dari Aisyah ra. bahwa Nabi pernah membeli makanan dari seorang
yahudi dengan pembayaran ditunda sampai waktu tertentu dan menggadaikan
baju besi kepadanya.347
15. Ucapan Selamat (berdo’a)
Kaum muslimin dilarang mendahului salam dan ucapan selamat
lainnya kepada non muslim, berdasarkan hadits :
Dari Ali ra berkata: Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu
mendahului orang Yahudi dan nasrani dengan ucapan salam, dan apabila kamu
berjumpa dengan mereka maka desaklah mereka ke tempat yang tersempit.”348
Adapun jika mereka memulai salam atau ucapan selamat lainnya,
maka jawablah; “Kembali, untukmu saja.”
Dari Anas, para shahabat pernah bertanya kepada Nabi : “Jika ahli
kitab memberi salam kepada kita, bagaimana kita menjawabnya ?” Sabda Nabi
: “Katakanlah: WA’ALAIKUM “Untukmu saja” 349
Adapun jika bercampur muslim dan non mus-lim dalam satu ma-
jlis, boleh kita memulai sa-lam yang diperuntukkan bagi golongan muslim
saja.
Dari Usamah bin Zaid, bahwa nabi pernah menunggang keledai
sampai melalui satu majlis yang terdapat kaum muslimin, orang musyrik,
penyembah berhala dan Yahudi juga ada Abdullah bin Ubai bin Salul dan Abdul-
lah bin Rawahah, Nabi memberi salam kepada mereka.”350
16. Mendo’akan Bersin/Belasungkawa untuk Non Mus-lim/Mengurus
kematian non muslim
Kematian non muslim bukan merupakan musi-bah bagi orang Is-
lam. Bukan termasuk melaksa-nakan hak kecuali kepada sesama muslim.
Maka, pengurusannya hanya pada aspek kema-nusiaan/sosial saja, tidak
menshalatkan atau mendo’akannya.
“Dan janganlah engkau shalat (mendo’akan) sese-orang dari mereka
yang mati selama-lamanya (mati kafir) dan jangan pula engkau berdiri di atas
kubur-nya (shalat di atas kuburan) untuk mendo’akannya, karena sesungguhnya
mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya dan mati sedangkanmereka melewati
batas.” 351
“Tidak boleh Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun
untuk orang-orang musyrik wa-laupun mereka itu kaum kerabat yang dekat, sete-
lah jelas untuk mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka.”352
Menurut Al-Qasimi, memohonkan ampun untuk non
muslim adalah menyalahi ketentuan Allah.353 Tetapi mendo’akan agar
347
HR. Al-Bukhari
348
HR. Muslim
349
HR. Muslim
350
HR. Al-Bukhari
351
QS. At-Taubah:84
352
QS. At-Taubah:113
353
Tafsir Al-Qasimi VIII:114
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 123

mereka men-jadi orang Islam, menjadi orang shaleh atau agar mereka
mendapat hidayah, tentu tidak dilarang, sebagaimana Nabi pernah
mendo’akan kaum Daus ALLOHUMMA IHDI DAUSAN (Ya Allah, beri-
lah hidayah kepada kaum Daus.” 354
Rasulullah juga pernah mendo’akan Umar Bin Khattab se-
belum ia masuk Islam: ALLOHUMMA A’IZZIL ISLAM BI UMAR (Ya Al-
lah, perkuat Islam dengan Umar)355
Dari Burdah dari ayahnya, ia berkata: “adalah seorang Yahudi bersin di
samping Nabi , ia berharap Nabi akan mendo’akannya YARHA-
MUKALLAH (Semoga Allah merahmatimu), namun ternyata Nabi hanya
mengucapkan: YAHDIKUMULLAH WA YUSLIH BALAKUM. (Semoga Allah
memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki bencanamu).” 356
Maka, jika non muslim bersin, ucapkanlah sebagaimana Rasulullah
mencontohkan, walaupun ia tidak mengucapkan hamdalah.
Dari Anas, “seorang anak Yahudi sakit, kemudian Nabi datang
menjenguknya lallu duduk dekat kepalanya dan bersabda: “Masuk Islam-
lah !” Anak itu memandang bapaknya yang ada di dekat kepalanya, lalu
bapaknya berkata; “turutilah Abal Qasim (Rasulullah )” maka iapun
masuk Islam, kemudian Nabi berdiri sambil mengucapkan; ALHAM-
DULILLAHILLADZI ANQADZAHU BI MINANNAR (Segala puji milik
Allah Yang telah menyelamatkannya dengan sebabku dari ancaman api
neraka).” 357
17. Membangun tempat Ibadah
Seharusnya seorang muslim mengajak mereka yang telah sesat
dan menyekutukan Allah termasuk Yahudi dan Kristen agar kembali ke-
pada ketauhidan yang juga diajarkan oleh Nabi Isa AS. sebagaimana fir-
man Allah:
“Katakanlah; “Hai ahli kitab, marilah kepada kali-mat yang adil antara
kami dan kamu yaitu jangan-lah kita menyembah melainkan Allah semata, dan
janganlah kita menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dan janganlah sebagian dari
kita jadikan lagi sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.” 358
Allah menegaskan :
“Dan janganlah kamu saling menolong dalam dosa dan permusuhan.”359
18. Mengundang & Menghadiri Undangan Non Muslim
Menghadiri undangan dari siapapun –baik muslim maupun non
muslim, hukum asalnya adalah wajib, sebagaimana Rasulullah ber-
sabda: “Apabila salah seorang dari kamu diun-dang dalam walimah, hendaklah

354
Al-Bukhari
355
HR. Al-Hakim
356
HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa-i
357
HR. Abu Dawud 3095-III/185
358
QS. Ali Imran:64
359
QS. Al-Maidah:2
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 124

ia mendatangi-nya.”360 Namun, hadits ini dikhususkan dengan hadits lain,


Rasulullah bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu mengundang saudaranya, hendaklah
ia datang, baik walimah ataupun sebangsanya.” 361
Kalimat “saudaramu” menunjukkan bahwa wajib menghadiri itu
bagi sesama muslim saja, sesuai dengan hadits lainnya: “Haq seorang
muslim terhadap muslim lainnya ada lima: menja-wab salam, menjenguk yang
sakit, mengiring jenazah, menghadiri undangan dan mendo’akan bersin.” 362
Maka menghadiri undangan sesama muslim adalah wajib. Ada-
pun undangan dari non mus-lim, karena tidak ada ketentuan hukumnya
menjadi boleh dihadiri atau tidak.
Jika dalam walimah/pesta tersebut ada upacara atau makanan
yang diharamkan –baik peng-undang itu muslim atau non muslim, maka
haram menghadirinya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir maka janganlah ia duduk di satu hidangan yang disuguhkan
padanya minuman keras.”363
Adapun mengundang non muslim untuk meng-hadiri acara ter-
tentu, tidak ada nash yang mela-rangnya, artinya boleh (mubah).
Allah berfirman: “Janganlah kalian berkumpul bersama orang-orang
yang zalim, nanti api neraka akan menyentuhmu.”364
19. Hadiah & Meminta derma kepada non muslim
“Boleh bagi seorang muslim memberi hadiah kepada non muslim
atau menerima hadiah darinya dan membalas hadiahnya. Ada riwayat
bahwa Nabi telah diberi hadiah oleh raja-raja dan beliau menerimanya
sedangkan mereka non muslim.”365 Selama hadiah tersebut bukan barang
yang haram dan tidak untuk upacara ibadah mereka.
Dari Ali ra. dari Nabi bahwa Kisra (raja Persi) telah memberi
hadiah kepada Nabi dan Nabi menerimanya dan sesungguhnya raja-raja
telah memberi hadiah kepada beliau dan Nabi menerimanya.366
Dari Abi Humaid As-Sa’diy berkata: “Raja Ailah pernah memberi
hadiah seekor keledai betina kepada Nabi dan mengenakan kain yang
bercorak garis-garis kepada beliau.”367
20. Menggunakan peralatan makan Non Muslim
Dari Abi Tsa’labah Al-Khusyaini, ia berkata: Saya bertanya: “Ya Rasu-
lallah, sesungguhnya kami ber-ada di wilayah kaum ahli kitab, maka apakah
boleh kami makan dengan menggunakan wadah mereka ? Sabdanya: “Janganlah
360
Muttafaq Alaih
361
HSR. Muslim
362
HSR. Al-Bukhari
363
HR. Ahmad, An-Nasa-i, At-Tirmidzi dan Hakim
364
QS. Hud:113
365
HR. Ahmad & At-Tirmidzi, Al-Halal Wal Haram:131
366
HR. At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi V:197
367
HR. Al-Bukhari II:95 Fathu VI:158
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 125

kamu makan dengan meng-gunakannya, kecuali jika kamu tidak mendapatkan


yang lainnya, maka cucilah dahulu dan makanlah dengannya.”368
Hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal menggunakan peral-
atan makan non muslim adalah haram, kecuali jika tidak ada lagi, maka
harus dicuci terlebih dahulu.
21. Mohon Maaf kepada Non Muslim
Minta maaf ketika berbuat zalim kepada sesa-ma manusia sangat
dianjurkan. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian saling memberi hadiah
supaya kalian saling mencintai dan hendak-lah kalian saling bersalaman, niscaya
akan hilang uneg-uneg dari hati kalian.” 369
22. Mempelajari Kitab Suci Non Muslim
Umar pernah membawa dan membaca lembar-an dari kitab ter-
dahulu lalu Rasulullah marah.
Pelurusan kasus-kasus interaksi dengan non muslim
1. Benarkah Isa Bin Maryam lahir pada hari Natal 25 Desember ?
Natal menurut Herckenrath Fransch – Nederlandsch Woordenboek
berasal dari Natal (e) = geboorte artinya kelahiran. Yang dimaksud hari
natal – tanggal 25 Desember ialah hari kelahiran Yesus Kristus.
Penetapan tanggal 25 Desember secara historis dan kajian ilmiah
sama sekali keliru.
c. Penetapan tanggal tersebut didasarkan pada ajaran agama kafir
kuno sebelum Isa diutus, yaitu dikira-kira dan disamakan dengan
kelahir-an Mitra tanggal 25 Desember.
d. Menurut Matius 2:1, setelah Yesus lahir di Betlehem di tanah
Yudea, pada zaman baginda Herodes, maka datanglah beberapa
orang maju dari benua Sebelah timur ke Yerussalem. Ayat ini
menjelaskan bahwa Herodes hidup sezaman dengan Yesus yaitu
selisih dua tahun, sebagai-mana menurut Matius 2:19-20. tetapi
menurut Kamus Al-Kitab Bahasa Indonesia Sehari-hari: 544 diter-
angkan: Herodes 1. Herodes Agung (Mat.2:1-22, Lukas 1:5) ada-
lah raja atas seluruh negeri bangsa Yahudi pada tahun 37-4 se-
belum Masehi. Ialah yang memerintahkan untuk membunuh
semua bayi laki-laki di Betlehem, pada masa tidak lama setelah
Yesus lahir. Berdasarkan bunyi kamus ini (juga dalam semua En-
siklopedi, al. Brittanica, Americana, Koenen’s Nederlandsch
Woordenboek, juga Encyclopedie voorledereen oleh John Kooy
menerangkan:
Herode 1: de Groote (37-4 v. Christus), koning der Joden, liet alle
mannelijke kinderen van twee jaar en jonger te Bethlehem doden na de ge-
boorte van jesus.

368
Muttafaq Alaih
369
HR. Ibnu Asakir
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 126

Jelas, bahwa Herodes tidak sezaman dengan Yesus, karena 4 tahun


sebelum Yesus lahir, Herode sudah meninggal. Maka, Matius sebagai pen-
ginjil keliru dalam penentuan kelahiran Isa dan berten-tangan dengan data
dan ensiklopedi ilmiah yang telah diakui dunia Internasional. Bisakah kita
perca-yai berita lainnya yang lebih prinsipil, jika dalam masalah ini saja
sudah keliru ? Maha benar Allah dengan firman-Nya: “Sebagian dari orang
Yahudi itu ada yang mengubah kalimah-kalimah dari tempat-tempatnya.”370

2. Mengucapkan Selamat Natal berarti setuju dan membenarkan aqidah


kristiani
Abdullah Bin Amru berkata: “Barangsiapa yang mendirikan bangunan di
wilayah orang musyrik, menye-lenggarakan upacara dan model resepsi mereka
serta ber-tasyabbuh (menyerupai) ibadah mereka dalam berbagai hal sampai ia
meninggal, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan bersama mereka (orang
musyrik).”371
Menyerupai tata upacara orang musyrik saja sudah haram apalagi
terlibat dengan upacara ibadat mereka dengan ucapan selamat natal dan
sejenis-nya.
3. Raja Najasyi seorang muslim
Rasulullah tidak pernah menshalatkan non muslim. Raja Najasy
dishalatkan oleh Rasulullah karena ia membenarkan risalah Nabi
dan melindungi kaum muslimin. Inilah yang menjadi dasar keislamannya.
Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan:
Dari Ibnu Abbas; “Perhatikanlah orang-orang Hitam, karena ada empat or-
ang dari mereka yang menjadi penghulu Ahli surga: Lukmanul Hakim, An-Na-
jasyi dan Bilal.” Pada hadits ini ada rawi Umair Bin Abdullah At-Torobiqy men-
urut sebagian ahli hadits tidak bisa diterima sebagai hujjah tetapi menurut Abu
Hatim ia rawi yang Shoduq (jujur) dan Abu Zur’ah serta yang lainnya meman-
dang tidak apa-apa. Juga terdapat dua hadits lain yang menjadi syahid (penguat)
yang diriwayatkan Ibnu Abdurrozaq dalam tarikhnya dari Abdurrahman dari
Jabir dengan marfu’. Dan dari Ubadah. 372
4. Do’a Nabi untuk non muslim atau anti Islam
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: “Aku menyaksi-kan penderitaan yang
menimpa Rasulullah seperti yang terjadi pada para nabi terdahulu yang
mendapat tantangan dari kaumnya. Beliau mengusap darah di wajahnya dan ber-
do’a : ALLOHUMMAGHFIR LI QOUMI FAINNAHUM LA YA’LAMUN, Ya
Allah, Tuhanku, ampunilah kaumku sebab mereka belum mengetahui.”
5. Himbauan H. Abdullah Wasi’an:
Dengan segala kerendahan hati, penulis meng-himbau kepada semua
pihak, supaya:

370
QS.4:46
371
HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro IX:234
372
Mukhtashar Tib nabawi, As-Sayuthi:21
Islam Aplikatif : Akhlaq & Etika - 127

4. Tidak mengundang/mengajak umat Islam un-tuk mengikuti nat-


alan Bersama.
5. Hendaknya jangan diusahakan untuk mening-katkan bentuk ker-
ukunan ummat beragama lebih dari yang sudah berjalan dengan
baik, yaitu kerukunan/kerjasama mengenai masalah
keduniaan/kemasyarakatan, seperti : keamanan
kampung/daerah, kesejahteraan warga dll. Ka-rena tidak semua
yang dapat dipersatukan itu baik, namun ada sesuatu yang diper-
satukan itu, malah menjadi tidak baik.
6. Pendapat yang mengatakan, jika orang Islam mau mendatangi
Natalan Bersama atas un-dangan kawan-kawan golongan
Kristen, maka orang-orang Kristenpun bersedia mendatangi un-
dangan Islam ke Mesjid untuk mendengar-kan ceramah/upacara
islam. Pandangan yang sedemikian ini, akan menjadikan setiap
peme-luk agama sama-sama MUNAFIQ, suatu sifat dan sikap
yang sangat tidak menguntungkan bagi pemeluk masing-masing
agama.
IV. PENUTUP
Memang, akhir-akhir ini kondisi hubungan antar umat beragama di
negeri ini pada tahap yang mengkhawatirkan. Mudah-mudahan dengan
kem-bali kepada aturan syari’at Allah SWT kita semua dapat merasakan
kembali kedamaian dan kesejahte-raan bagi seluruh hamba-hamba Allah
di muka bumi ini. Amien.

***