Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan wilayah-wilayah di Bali, berkembang pula wilayah pemukimannya yang tentunya memberi dampak terhadap

penggunaan air bersih yang harus sesuai dengan permintaan dari masyarakat penghuni pemukiman tersebut. Namun di satu sisi, pembuangan limbah rumah tangga tersebut tidak melalui pengolahan atau setidaknya penyaringan terlebih dahulu dan tidak mempunyai saluran khusus untuk mengalirkan limbah tersebut, sehingga banyak limbah rumah tangga yang mencemari sungai secara langsung maupun mencemari air tanah. Mengingat jarak minimum dari sumber air (sumur) ke tempat penampungan limbah (septic tank) 10 meter, sedangkan bisa dilihat bahwa rumah-rumah yang dibangun saat ini memiliki luas yang kurang memadai sehingga jarak minimum tersebut tidak tercapai. Belum lagi jarak antar rumah yang berdekatan, sehingga semakin kecil tercapainya jarak minimum tersebut. Penanganan dan pengendalian pencemaran pada kawasan wisata pulau Bali terutama di Kota Denpasar, kawasan Sanur dan Kuta menjadi sangat vital mengingat daerah tersebut telah menjadi kawasan yang padat, sehingga sebagian air tanah di wilayah tersebut sudah tidak layak dikonsumsi. Pemerintah Bali yang sudah menyadari masalah tersebut mulai membuat rencana sistem penyaluran air limbah modern melalui program Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) dengan kawasan pelayanan, pusat kota Denpasar dan dua kawasan wisata (Sanur dan Kuta), dengan dana pinjaman pemerintah Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan dana pemerintah Indonesia (Pemerintah Pusat, Provinsi Bali, Kota Denpasar dan Kabupaten Badung). Dalam Master Plan ditetapkan wilayah pelayanan sistem perpipaan air limbah DSDP adalah seluas 4,04 ha, yang terdiri dari area permukiman dan kawasan wisata yang merupakan penghasil limbah terbanyak. Akhirnya, bertepatan dengan hari

Habitat Dunia XVII yang diselenggarakan di Denpasar, Presiden Megawati Soekarno Putri menyetujui proyek tersebut yang telah lama dicanangkan.

1.2 Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui sistem penyaluran air limbah dari Sanur, Kuta dan Denpasar menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)/WWTP (Wastewater Treatment Plant) Suwung. 2. Untuk mengetahui bagaimana pengolahan air limbah yang dialirkan oleh DSDP (Denpasar Sewerage Development Project) di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)/WWTP (Wastewater Treatment Plant). 3. Untuk mengetahui dan mengevaluasi kendala yang dialami dari sistem penyaluran dan pengolahan air limbah ini.

1.3 Rumusan Masalah Bertolak dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaiman sistem penyaluran air limbah dari Sanur, Kuta dan Denpasar menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)/WWTP (Wastewater Treatment Plant) Suwung? 2. Bagaimana proses pengolahan air limbah yang dialirkan oleh DSDP (Denpasar Sewerage Development Project di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)/WWTP (Wastewater Treatment Plant)? 3. Apa kendala yang dialami dari sistem penyaluran dan pengolahan air limbah ini?

1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang diharapkan dalam penulisan laporan ilmiah ini adalah sebagai bahan informasi dan inovasi pendidikan masyarakat, khususnya mengenai penyaluran air limbah melalui DSDP dan

pengolahannya di IPAL/WWTP, mengingat masyarakat Kota Denpasar dan

kawasan Sanur serta Kuta terkena dampak dari pembangunan proyek DSDP tersebut.

BAB II ISI & PEMBAHASAN


2.1 Sistem Penyaluran Air Limbah dari Sanur, Kuta dan Denpasar Menuju IPAL/WWTP. Secara umum penyaluran limbah dialirkan melalui pipa, baik pipa elastis maupun pipa beton, yang ditanam di bawah tanah dan menggunakan jalan raya sebagai jalur aliran pipa. Sistem aliran dimulai dari rumah-rumah penduduk yang masuk dalam wilayah cakupan DSDP kemudian diteruskan melalui pipa-pipa tersier, sekunder, primer dan akhirnya sampai di IPAL.

Gambar 2.1 Ilustrasi Penyaluran Air Limbah dari Denpasar, Sanur, dan Kuta

Untuk wilayah Kota Denpasar murni menggunakan gaya gravitasi dalam penyaluran aliran limbah sedangkan untuk kawasan Sanur dan Kuta tidak dapat memanfaatkan gaya gravitasi sebagai sistem penyalurannya karena wilayahnya lebih rendah sehingga memerlukan bantuan tenaga pompa untuk menyalurkannya ke IPAL/WWTP. Namun kanyataannya masih terdapat kawasan yang masih berada di bawah jangkauan pompa sehingga memerlukan pompa-pompa kecil (Wet Pit) untuk mendorong aliran limbah agar dapat dijangkau oleh pompa utama.

Sistem jaringan aliran limbah secara detail sebagai berikut: 1. Sambungan Rumah Rumah memiliki merupakan sanitasi, asal dari tentunya yang air
Gambar 2.2 Ilustrasi Sambungan pada Rumah

limbah, karena itu pertama kali sambungan dilakukan

pada closet, buangan air mandi, dan air cuci yang kemudian disalurkan ke pipa tersier. Pada sambungan yang terdapat dalam rumah tersebut dilengkapi dengan bak kontrol (house inlet), sehingga penyaluran limbah dapat berjalan dengan baik serta memudahkan pengawasan dan perbaikan jika terjadi gangguan/sumbatan terhadap aliran.

2. Pipa Penyaluran (Pipa Tersier, Sekunder, dan Primer) Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pipa yang digunakan untuk penyaluran aliran limbah menggunakan jalan raya sebagai jalur aliran pipa. Konstruksi pemasangan pipa tersebut menggunakan sistem galian terbuka yaitu, jalan raya yang sudah ada digali untuk pemasangan pipa, sehingga proses pemasangan tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas. Pada pelaksanaannya jalan yang dibongkar tentunya sudah terdapat jaringan kepentingan lain seperti aliran PDAM, PLN, Telkom, dan lainnya, oleh karena itu perlu diadakan pengkajian (test pit) dan didapat suatu prinsip, yaitu pipa pembuangan air limbah ditanam paling bawah. Untuk penanaman instalasi pada wilayah yang merupakan jalan utama (arteri) yang notabene merupakan jalan yang dilalui banyak kendaraan sehingga jika dibongkar akan mengakibatkan kerugian pada pengguna jalan. Hal ini ditangani dengan Jacking Machine yaitu mesin yang ditanam pada satu titik dan mengebor secara otomatis ke titik yang lain, sehingga tidak perlu
Gambar 2.3 Sistem Jacking

terlalu banyak membongkar bagian jalan. Perlu diketahui Jacking Machine adalah teknologi luar negeri yang dipinjamkan kepada proyek ini.

3. Rumah Pompa (Pumping Station) dan Wet Pit Pumping Station dibuat untuk menaikkan elevasi pipa karena pada titik tertentu galian pipa sudah mencapai kedalaman maksimum 7 meter. Wilayah yang tidak terjangkau gravitasi seperti kawasan Kuta dan Sanur tentu memerlukan bantuan tenaga pompa. Di Sanur dan Kuta masingmasing terdapat empat pompa (termasuk satu unit cadangan) dengan kapasitas 12,4 m3/menit tiap pompa di Sanur dan 23,8 m3/menit tiap

Gambar 2.4 dan 2.5 Rumah Pompa/ Pumping Station di Sanur dan Kuta

pompa di Kuta. Di wilayah Sanur, masih juga terdapat wilayah yang bermasalah dengan kontur tanah sehingga perlu lagi diinstalasikan Wet Pit (pompa kecil) di daerah Bumi Ayu.

4. IPAL/WWTP IPAL/WWTP sebagai instalasi

penerima dan pengolah limbah cair untuk diproses. IPAL/WWTP terletak di Suwung dekat dengan teluk Benoa yaitu tempat pembuangan air limbah yang sudah diolah. Instalasi pengolahan ini menggunakan sistem Aerated Lagoon dengan kapasitas 51.000 m3/hari. Instalasi ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu:
Gambar 2.6 IPAL/WWTP Suwung

a. Inflow dan Rumah Pompa Inflow merupakan bangunan yang berfungsi menerima aliran limbah dari Denpasar dan Sanur kemudian diteruskan ke rumah pompa dan dipompa ke receiving tank. Inflow ini memiliki dua
Gambar 2.7 dan 2.8 Bangunan Inflow dan Pompa yang Terdapat di Rumah Pompa

buah pintu yang dioperasikan pada saat tertentu misalnya maintenance pompa agar air tidak mengganggu kelancaran perbaikan. Sedangkan rumah pompa ialah

bangunan bangunan 3 lantai ke bawah tempat di mana pompa beroperasi.

b. Receiving Tank Receiving tank berfungsi untuk menampung sementara air limbah Denpasar, Sanur, dan Kuta yang telah dipompa

sebelum menuju kolam aerasi (Aerated Lagoon). Pada gambar, yang sebelah
Gambar 2.9 Receiving Tank

kiri ialah air limbah yang berasal dari Denpasar dan Sanur yang telah dipompa kembali di rumah pompa di IPAL/WWTP, sedangkan yang kanan adalah air limbah yang masuk langsung (tanpa dipompakan kembali) ke receiving tank yang berasal dari Kuta.

c. Electrical Building dan Genset Building Bangunan ini sebagai tempat pembagian, pengaturan, dan kendali listrik yang akan digunakan di IPAL/WWTP khusunya mengoperasikan pompa dan kipas aerasi. Sedangkan genset building saat ini sedang dalam tahap pembangunan yang nanti akan menampung genset, yang

berfungsi sebagai pemasok daya tambahan dan cadangan jika PLN tidak beroperasi.

d. Bangunan-bangunan Lainnya Bangunan lain yang dimaksud adalah kantor administrasi, laboratorium, dan ruang pertemuan.

Gambar 2.10 Lay Out IPAL/WWTP Suwung

2.2 Proses

pengolahan

air

limbah

yang

dialirkan

oleh

DSDP

di

IPAL/WWTP. Aliran limbah di Kota Denpasar dan Sanur yang telah sampai di IPAL/WWTP masuk ke saluran inflow kemudian disaring secara manual oleh bar screen. Bar screen adalah saringan manual yang terbuat dari bahan logam dan berfungsi untuk menyaring sampah-sampah yang berukuran makro agar tidak masuk ke bak penampungan serta tidak merusak pompa.

Sedangkan aliran limbah yang telah dipompa dari Kuta, langsung menuju receiving tank yang nantinya bertemu dengan limbah dari Denpasar dan Sanur yang telah dipompa dari rumah
Gambar 2.11 Bar Screen

pompa di IPAL/WWTP.

Rumah pompa yang berada di IPAL/WWTP itu sendiri hanya memompa air limbah dari Denpasar dan Sanur menuju ke receiving tank. Untuk sementara ini pompa tersebut berjumlah tiga buah dengan kapasitas masingmasing 15 m3/menit, yang nantinya akan ditambah satu unit lagi. Pengoperasian pompa tersebut berjalan secara otomatis, bergantung dari besarnya debit air limbah yang masuk ke IPAL/WWTP. Jika, debitnya mencapai 45 m3/menit maka ketiga pompa tersebut beroperasi secara otomatis, namun jika debitnya hanya mencapai 30 m3/menit maka hanya dua pompa yang beroperasi begitu juga seterusnya tetapi jika kurang dari 15 m3/menit maka ketiga pompa tidak beroperasi. Setelah dipompa semua air limbah dikumpulkan di receiving tank yang selanjutnya menuju ke kolam aerasi (aerated lagoon).

2.2.1 Kolam Aerasi (Aerated Lagoon) Kolam aerasi yaitu berupa kolam dengan kedalaman 4 meter yang terdiri dari dua buah kolam dan dilengkapi dengan aerator sebanyak sebelas buah, yang berfungsi sebagai pemasok udara (oksigen). Diperlukannya oksigen dalam kolam aerasi ini karena prinsip

pengolahan secara

air biologis

limbahnya tidak kimia. secara

menggunakan Pengolahan

zat-zat limbah

biologis memanfaatkan bakteri aerob yaitu bakteri Bacillus sp.


Gambar 2.12 Kolam Aerasi dengan Aeratornya yang Sedang Bekerja

dan sejenisnya.

Di aerated lagoon, air limbah dimixing dengan aerator untuk menyuplai oksigen untuk membantu bakteri-bakteri pengurai tetap hidup selama kurang lebih 2 hari. Dalam sehari pun aerasi dilakukan hanya dari jam 23.00 hingga 09.00 karena penelitian-penelitian telah menemukan bahwa bakteri-bakteri tersebut pada malam hari lebih membutuhkan oksigen (Biological Oxygen Demand/BOD), sehingga perlu dibantu dengan aerasi. Beberapa, pengertian BOD dan COD adalah sebagai berikut. BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan mikroorganisme jumlah oksigen terlarut yang untuk diperlukan mengurai oleh atau

(biasanya

bakteri)

mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertian-pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan. Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung

10

dalam air (Boyd, 1990). Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

2.2.2 Kolam Sedimentasi (Sedimentation Pond) Kolam sedimentasi yang

memiliki kedalaman 2,4 meter ini adalah tempat proses lanjutan dari air limbah yang telah

memasuki kolam aerasi. Pada kolam aerasi, sampah padat


Gambar 2.13 Kolam Sedimentasi

biasanya menepi ke pinggiran

kolam karena pengaruh angin dan penetralisir limbah digunakan bakteri. Setelah itu biasanya air yang terdapat pada kolam tersebut memiliki kekeruhan dan kandungan lumpur yang cukup banyak. Lalu, air yang memiliki kandungan lumpur tersebut dialirkan ke kolam sedimentasi untuk diendapkan sehingga lumpur-lumpur yang ada mengendap ke dasar kolam sedimentasi. Jika lumpur telah banyak mengendap, maka akan dilakukan pengerukan untuk mengambil endapan lumpur tersebut. Proses di kolam ini memerlukan waktu 16 jam.

11

2.2.3 Tahap Akhir Pengolahan Setelah air mengalami proses pengendapan, air tersebut telah memenuhi baku mutu air limbah standar Indonesia yakni air tersebut dapat digunakan kembali namun hanya sebatas untuk menyiram tanaman. Jika tidak digunakan kembali air tersebut tidak berbahaya jika dibuang ke sungai atau laut. Cara pengalirannya adalah dengan luapan air di kolam sedimentasi dialirkan ke saluran pengeluaran dan

dialirkan ke sungai kemudian diteruskan ke laut. Alasan

mengapa memanfaatkan luapan karena


Gambar 2.14 dan 2.15 Air yang Telah Diolah Kembali dan Layak Untuk Digunakan Kembali ataupun Dibuang ke Laut

lumpur-lumpur

dan

sedimen lainnya mengendap di dasar kolam sehingga

permukaan air di kolam minim

dari lumpur. Sebelum dibuang atau digunakan kembali, air ini harus dites terlebih dahulu untuk memastikan air ini telah memenuhi standar baku mutu lingkungan. Kualitas air limbah diuji menggunakan baku mutu air limbah domestic yang tercaantum dalam Keputusan Menteri

Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 dan Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor 515 Tahun 2000 Tentang Baku Mutu Lingkungan Daerah Bali (pH=7, BOD= 50 mg/L, COD= 70 mg/L). Untuk sementara ini belum ada yang yang mau menggunakannya, jadi dibuang ke pelabuhan Benoa saja.

12

2.3 Kendala-kendala yang Dialami dalam Operasional IPAL/WWTP Suwung Jaringan pemipaan yang tersebar di Kota Denpasar serta wilayah Sanur dan Kuta tentunya memiliki manhole yaitu lubang kontrol yang terdapat di jalan-jalan raya yang dapat dimasuki oleh teknisi untuk mengontrol aliran air limbah. Begitu pula di masing-masing rumah memiliki bak
Gambar 2.16 Bak Kontrol/ House Inlet

kontrol/house inlet yang fungsinya sama dengan manhole hanya saja tidak dapat dimasuki oleh teknisi karena ukurannya yang kecil. Permasalahan muncul ketika terjadi banjir, masyarakat yang belum mengerti dan dalam keadaan terpaksa mengalirkan air bukan limbah tersebut ke dalam house inlet atau manhole sehingga akumulasi terjadi pada
Gambar 2.17 Manhole

inflow di IPAL yang menyebabkan gangguan

operasional pompa maupun kapasitas kolam. Permasalahan selanjutnya ada pada sumber pasokan energi dari PLN yang terkadang kekurangan daya maupun tegangan turun sehingga mengganggu kinerja operasional pompa, aerator, dan instalasi lainnya. Saat ini sedang dalam pengerjaan rumah genset untuk mendukung operasional instalasi jikalau PLN tidak dapat beroperasi untuk sementara waktu dan mendukung tercapai tegangan yang cukup untuk mesin-mesin di IPAL/WWTP.

13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Jadi, konsep penyaluran air limbah oleh DSDP merupakan solusi terbaik untuk saat ini dalam mengatasi pencemaran air tanah. Dalam pengolahannya pun memanfaatkan organisme (secara biologis tanpa zat kimia) namun seberapapun baiknya sistem tersebut pastilah memiliki kelemahan, salah satunya kurangnya kesadaran masyarakat untuk memahami fungsi jaringan penyaluran maupun pengolahannya.

3.2 Saran-saran Dari survey yang dilakukan terdapat beberapa hal yang ingin kami sarankan, yaitu: 1. Kepada Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk mendukung kemajuan program DSDP yang akan

dilanjutkan pengembangannya baik dari segi moril dan finansial.

2. Kepada Pihak DSDP dan IPAL/WWTP Untuk melakukan inovasi dan pengembangan untuk

menyempurkan sistem pengolahan dan menaikkan standar baku mutu pengolahan air limbah bahkan sampai layak diminum. Kemudian, menggalakkan sosialisasi tentang seperti apa, fungsi, dan manfaat DSDP serta IPAL/WWTP kepada masyarakat, khusunya masyarakat Bali Selatan.

3. Kepada Masyarakat Umum Untuk lebih memahami dan lebih pengertian terhadap

pembangunan proyek kedepannya dengan mengikuti sosialisasi atau membaca literatur yang berhubungan dengan proyek ini. Selain itu respon

14

masyarakat yang positif dibutuhkan demi terciptanya kelancaran proyek ini.

15

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum. 2006. DSDP: Denpasar Sewerage Development Project. PU. Jakarta

Hariyadi, Sigid. 2004. BOD dan COD Sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku Mutu Air Limbah. Bogor: IPB Pebriani DDP., Dita dan Hartati, Ati. Evaluasi Operasional Jaringan Pipa Air Limbah di Kawasan Sanur, Bali. Surabaya: ITS

Komunitas Sarjana Teknik Sipil Freelance Bali. 2009. DSDP, Bersih Itu Mahal. http://civilengineerbali.blogspot.com/2009/10/dsdp-bersih-itu-mahal.html [24 Agustus 2010] Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. 2005. Peresmian Proyek SANIMAS Denpasar Bali.

http://ampl.or.id/detail/detail01.php?row=24&tp=laporan_ampl&ktg=ktg&k d_link=1&jns=&kode=6 [15 Agustus 2010] Suriyani, Luh De. 2009. Limbah Mengalir Sampai Suwung.

http://www.balebengong.net/topik/teknologi/2009/01/15/limbah-mengalirsampai-suwung.html [15 Agustus 2010] Widyatama Pradipta, I Putu. 2009. Instalasi Pengolahan Air Limbah Suwung. http://mydipblog.blogspot.com/2009/06/instalasi-pengolahan-air-limbahsuwung.html [15 Agustus 2010]

16

Lampiran:

17