Anda di halaman 1dari 5

SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU : Respon Pertumbuhan

Tunas Andaliman (FagaraSp) Pada Berbagai Konsentrasi NAA dan BAP Secara In-Vitro Nama : Zetro A.M Silaban NPM :E1B009051 Pembimbing : Drs. Wahyudi Arianto, M. Si. : Ir. Deselina M.P. BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan Indonesia kaya akan jenis flora dan fauna, dimana Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati di dunia. Hutan memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup mahluk hidup, baik masyarakat yang tinggal didalam kawasan hutan maupun secara global. Produksi hasil hutan terdiri hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu. Pembudidayaan hasil hutan non kayu merupakan salah satu cara dalam mempertahankan kelangsungan produksi hasil hutan non kayu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satu tanaman hasil hutan non kayu yang dapat menambah pendapatan masyarakat adalah tanaman andaliman (Fagara Sp). Andaliman merupakan tanaman liar di hutan tempat asal tumbuhnya. Kelestarian andaliman semakin terancam akhir-akhir ini karena daya kecambah biji relatif rendah dan perbanyakan jenis secara konvensional banyak mengalami kegagalan. Kepunahan tanaman andaliman bisa terjadi apabila hal ini tidak ditanggulangi. Usaha untuk konservasi ex-situ perlu dilakukan dengan cara domestikasi melalui mekanisme budidaya dan pemuliaan (Mansyur, 2007).
Perkecambahannya yang rendah dan umur berkecambah yang relatif lama disebabkan oleh struktur kulit biji yang keras. Struktur ini dapat menghalangi imbibisi air dan pertukaran gas dalam proses perkecambahan. Komponen volatil, berupa senyawa terpenoid yang terdapat pada andaliman (Siahaan 1991; Wijaya et al., 2001), diketahui merupakan senyawa penghambat perkecambahan. Tanaman yang tumbuh alami berasal dari biji yang disebarkan oleh burung (setelah memakan buah andaliman). Petani juga memperoleh bibit secara tidak sengaja dari lokasi bekas pembakaran gulma di daerah tanaman yang sudah tua (Siregar, 2003). Tanaman andaliman secara umum belum dikenal masyarakat Indonesia. Walau telah diperdagangkan di luar daerah asal tumbuhnya, namun masih hanya dikenal dan dipergunakan

Judul

oleh kalangan terbatas. Padahal melihat keunikan sensorik yang dimiliki dan mungkin juga aktivitas fisiologi , andaliman ini dapat menjadi salah satu rempah yang berpotensi merebut peluang pasar ekspor. Untuk itu perlu ditunjang dengan informasi hasil penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, disamping teknologi penanganan yang tepat sehingga diperoleh terobosan-terobosan produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih (Wijaya, 1999). Saat ini andaliman diperhitungkan menjadi senyawa aromatik dan minyak esensial. Masyarakat Himalaya, Tibet dan sekitarnya menggunakan tanaman ini sebagai bahan aromatik, tonik, perangsang napsu makan dan obat sakit perut (Hasairin, 1994). Manfaat lain buah andaliman berdasarkan penelitian adalah sebagai insektisida untuk menghambat pertumbuhan serangga Sitophilus zeamais. Efeknya berupa daya tolak makan serangga atau mengurangi selera makan serangga (Andayanie, 2000). Sedangkan di Jepang, daun andaliman digunakan untuk pemberi aroma (Tensiska, 2001). Hasil pengujian aktivitas antimikroba pada penelitian Siswadi (2002), menunjukkan bahwa ekstrak buah andaliman bersifat bakterisidal terhadap bakteri Bacillus stearothermophilus, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholera, dan Salmonella thypimurium. Selain itu andaliman juga mampu menghambat Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan S. thyposa (Andayanie, 2000). Dengan diketahuinya aktivitas antimikroba dari minyak atsiri andaliman serta komponen aktif penyusunnya, maka pemanfaatan andaliman dapat ditingkatkan sebagai bahan obat-obatan (Butar Butar, 2002).

Secara konvensional, tanaman andaliman(Fagara Sp) dapat berkembang biak melalui biji, tetapi daya kecambahnya rendah dan umur untuk berkecambah benih cukup lama dan

bervariasi, yaitu dari 24-100 hari setelah semai dengan persentase perkecambahan sebesar 17,5%. Usaha untuk memecahkan dormansi benih andaliman belum menunjukkan hasil yang konsisten sehingga budidaya tanaman andaliman sekarang tidak begitu banyak dikalangan masyarakat. Biji yang dihasilkan setiap tanaman berjumlah banyak, namun biji tersebut belum tentu dapat berkecambah secara sempurna, sehingga jarang ditemukan semai disekitar tempat tumbuh. Salah satu alternatif metode perbanyakan yang dapat ditempuh adalah melalui kultur in vitro. Metode ini diharapkan mampu menghasilkan tanaman dalam skala besar dengan waktu yang relatif cepat serta kualitas tanaman yang dihasilkan menjadi lebih baik. Menurut Gunawan (1992), melalui kultur jaringan kebutuhan ketersediaan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dapat terpenuhi. Sudarmonowati et al. (2002) juga menambahkan

bahwa perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan (in vitro) telah banyak dilakukan untuk tanaman yang bernilai ekonomi tinggi atau tanaman yang tergolong langka dan sulit dipropagasi dengan cara konvensional. Kultur jaringan diharapkan dapat mengatasi kendala yang disebabkan oleh budidaya konvesional dengan cara menyediakan bibit yang mempunyai kualitas seragam, mudah dalam perbanyakan (Ermayanti et. Al., 2002) serta unggul genetis (Kusumodewi, 2005). Teknik kultur jaringan dapat menghasilkan bibit yang banyak dalam waktu singkat, dan juga pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (Siregar, 2003).

Hasil pengujian aktivitas antimikroba pada penelitian Siswadi (2002), menunjukkan bahwa ekstrak buah andaliman bersifat bakterisidal terhadap bakteri Bacillus stearothermophilus, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholera, dan Salmonella thypimurium. Selain itu andaliman juga mampu menghambat Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan S. thyposa (Andayanie, 2000). Dengan diketahuinya aktivitas antimikroba dari minyak atsiri andaliman serta komponen aktif penyusunnya, maka pemanfaatan andaliman dapat ditingkatkan sebagai bahan obat-obatan (Butar Butar, 2002).

Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan (Nugroho & Sugito, 2000). Media yang digunakan secara luas dalam kultur jaringan adalah media Murashige dan Skoog (MS) yang dikembangkan pada tahun 1962 (Gunawan, 1995). Media MS ini mengandung Amonium dengan konsentrasi tinggi (20 M) serta kandungan Nitrat dan Kalsium yang tinggi dibandingkan dengan metode lainnya (Evans, 1981).

Ada dua jenis hormon tanaman (auksin dan sitokinin) yang banyak dipakai dalam propogasi secara in vitro ( Wetherel, 1982). Golongan auksin yang ditambahkan dalam media pada penelitian ini adalah Naphtalene Acetic Acid (NAA) sedangkan golongan sitokinya Benzyl Amino Purine ( BAP). Auksin dapat merangsang pembentukan akar, sedangkan sitokinnya berperan sebagai perangsang pembelahan sel dalam jaringan eksplan serta merangsang pertumbuhan tunas daun ( Wetherel, 1982). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi NAA dan BAP yang dapat meningkatkan pertumbuhan tunas andaliman (Fagara Sp) secara in vitro.

Jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) juga menentukan keberhasilan kultur jaringan (Gunawan, 1995; Yusnita, 2003). Pada kultur organ meristem dan pucuk, digunakan auksin dan sitokinin dengan konsentrasi bervariasi. Penggunaan auksin dan sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda-beda pada tanaman tembakau menunjukkan hasil yang berbedabeda dalam pembentukan serta perkembangan akar dan tunas. Jadi, pembentukan organ akan tercapai bila ada keseimbangan antara auksin dan sitokinin di dalam sel (Katuuk, 1989).

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang ditemukan, maka permasalahan yang dirumuskan adalah sebagai berikut. Bagaimana respon konsesntrasi NAA dan BAP terhadap pertumbuhan tunas Andaliman. Ada perbedaan pengaruh konsentrasi NAA dan BAP terhadap

pertumbuhan tunas andaliman (Fagara Sp). 1.2 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh konsentrasi NAA pada pertumbuhan dan perkembangan tunas andaliman (Fagara Sp). 2. Mengetahui pengaruh konsentrasi BAP pada pertumbuhan dan perkembangan tunas andaliman (Fagara Sp).

1.3 Hipotesis Penelitian

1. Terdapat pengaruh konsentrasi NAA pada pertumbuhan dan perkembangan tunas andaliman (Fagara Sp). 2. Terdapat pengaruh konsentrasi BAP pada pertumbuhan dan perkembangan tunas andaliman (Fagara Sp).

1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi bagi pihakpihak yang memerlukan serta dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk penelitian lebih lanjut.