CASE TRAUMA KAPITIS

Pembimbing: dr. Yuniarti, Sp.S KEPANITERAAN KLINIK SMF NEUROLOGI RSUP FATMAWATI JAKARTA Muhammad Nuruddin bin Derahman NIM: 030.08.285

IDENTITAS
Nama
Jenis kelamin Umur Pekerjaan

: Tn. DS
: Laki-laki : 35 Tahun : Wiraswasta

Pendidikan
Agama Status perkawinan Suku bangsa Alamat Tanggal masuk RS

: SMA
: Islam : Menikah : Betawi : Jalan raya Jombang Tangerang : 17 Disember 2012

ANAMNESIS
Allo-anamnesis : tanggal 29 Disember 2012
Keluhan Utama • Penurunan kesadaran 2 jam SMRS : Keluhan Tambahan : • Tidak ada

• Pasien dibawa ke IGD RSUP Fatmawati dengan riwayat penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS. Awalnya pasien Riwayat sedang duduk di kereta api yang sedang Penyakit berjalan perlahan, tiba-tiba ada seseorang Sekarang : yang mendorong pasien sehingga pasien terjatuh dengan posisi kepala yang membentur semen. Pasien langsung pingsan, mual dan muntah tidak ada. Setelah dibawa ke IGD pasien sempat sadar sebentar dan kemudian pasien mengalami penurunan kesadaran.

Riwayat Penyakit Dahulu

• Riwayat darah tinggi (-), kencing manis (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

• Darah tinggi (-), kencing manis (-), stroke (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum Kesadaran : Tampak sakit berat : Apatis, GCS: E2M3VAfasia

Sikap
Koperasi

: Berbaring
: Tidak kooperatif

Keadaan Gizi : Cukup Tekanan Darah : 110 / 80 mmHg Nadi Suhu Pernafasan : 100 x/mnt : 37,1 0C : 20x/mnt

ikterik(-) Kepala : Normosefali. Mata :konjungtiva anemis -/-. distribusi merata. pupil bulat anisokor. refleks cahaya tidak langsung +/+. lagoftalmus -/-. tidak mudah dicabut. rambut hitam. . refleks cahaya langsung +/+. ptosis +/-. reguler : capilary refil < 2 detik : sulit dinilai : Warna sawo matang. kanan dan kiri. tidak ada alopesia.Carotis Perdarahan Perifer Columna Vertebralis Kulit : Hematom palpebra +/+ : Teraba. sianosis (-).KEADAAN LOKAL Trauma Stigmata Pulsasi A.

. tidak teraba pembesaran KGB dan tiroid.Telinga : Normotia +/+. lidah kotor (-). perdarahan -/Hidung : Deviasi septum -/-. : sulit dinilai Tenggorok Leher : Bentuk simetris. trakea lurus di tengah. perdarahan -/- Mulut : Bibir sianosis(-).

batas kiri jantung di 1 ICS 5 midklavikula line sinistra. Rhonki -/-. wheezing -/-. JANTUNG • Auskultasi : S1 dan S2 normal reguler. hepar/lien tidak teraba : timpani : bising Usus (+) normal . pinggang jantung PEMERIKSAAN di ICS 3 linea para sternalis sinistra.• Inspeksi : ictus cordis tidak tampak • Palpasi : ictus cordis teraba di ICS 5 midklavikula line sinistra. Gallop (-) • Inspeksi dinamis • Palpasi PEMERIKSAAN • Perkusi PARU • Auskultasi : pergerakkan dada simetris pada statis dan : sulit dinilai : perkusi di seluruh lapang paru sonor : suara nafas vesikuler.nyeri tekan (-). • Inspeksi • Palpasi membesar PEMERIKSAAN • Perkusi ABDOMEN • Auskultasi : Tidak buncit : supel. • Perkusi : batas kanan jantung di ICS 6 midklavikula line dekstra. Murmur (-).

Pemeriksaan Ekstremitas • Atas • Bawah : akral hangat + / +./ - . edema . edema ./ : akral hangat + / +.

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Rangsang Selaput Otak Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II :::-/::- Peningkatan Tekanan Intrakranial : Penurunan kesadaran .

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Rangsang Selaput Otak Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II :::-/::- Peningkatan Tekanan Intrakranial : Penurunan kesadaran .

IV.I (olfaktorius) N. VI (Occulomotorius.II (optikus) :normosmia + / + Acies visus : sulit dinilai Visus campus : sulit dinilai Lihat warna Funduskopi N. Trochlearis.III. Abducen) : sulit dinilai : tidak dilakukan Kedudukkan bola mata : ortoposisi + / + Pergerakkan bola mata : sulit dinilai Exopthalmus Nystagmus :-/: sulit dinilai .SARAF-SARAF KRANIALIS N.

V (Trigeminus) Cabang Motorik Cabang sensorik Ophtalmikus Maksilaris Mandibularis : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai . anisokor.Pupil Bentuk : bulat. 5mm/3mm Reflek cahaya langsung : +/+ Reflek cahaya tidak langsung : +/+ Reflek akomodasi Reflek konvergensi : +/+ : +/+ : sulit dinilai N.

IX. X (Glossopharyn geus.XII (Hypoglossus) Pergerakkan lidah Atrofi Fasikulasi Tremor .N.VIII (Vestibulococh learis) N. Vagus) N.XI (Accesorius) N.VII (Fasialis) Motorik orbitofrontalis : sulit dinilai Motorik orbikularis Pengecapan lidah Vestibular : Koklearis : Motorik Sensorik Mengangkat bahu Menoleh : sulit dinilai : sulit dinilai Vertigo Nistagmus Tuli Konduktif Tuli Perseptif : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai N.

distal : kesan lateralisasi (-) .SISTEM MOTORIK Ekstremitas atas proksimal – distal : kesan lateralisasi (-) Ekstremitas bawah proksimal .

GERAKAN INVOLUNTER Tremor :-/- Chorea Atetose Miokloni Tics Trofik Tonus :-/:-/:-/:-/: eutrofik + / + : normotonus + / + .

GERAKAN INVOLUNTER Tremor :-/- Chorea Atetose Miokloni Tics Trofik Tonus :-/:-/:-/:-/: eutrofik + / + : normotonus + / + .

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Rangsang Selaput Otak Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II :::-/::- Peningkatan Tekanan Intrakranial : Penurunan kesadaran .

Sistem Sensorik : Ataxia Tes Romberg Propioseptif Eksteroseptif : sulit dinilai : sulit dinilai FUNGSI SEREBRAL : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai Disdiadokokinesia Jari-jari Jari-hidung Tumit-lutut Hipotoni : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai :-/- Rebound phenomenon : sulit dinilai .

FUNGSI LUHUR Astereognosia Apraxia Afasia : sulit dinilai : sulit dinilai :+ : terpasang DC : sulit dinilai : baik FUNGSI OTONOM Miksi Defekasi Sekresi keringat .

Refleks Fisiologis Kornea Biceps Triceps Radius :+/+ : +2 / +2 : +2 / +2 : +2 / +2 Refleks Patologis Hoffman Tromer /Babinsky Chaddok :-/:-/:- Dinding perut Otot perut Lutut Tumit Kremaster :+/+ :+/+ : +2 / +2 : +2 / +2 : (tidak dilakukan) Gordon Schaefer Klonus lutut Klonus tumit :-/:-/:-/:-/- .

Keadaan Intelegensia Psikis Tanda regresi Demensia : sulit dinilai :: sulit dinilai .

9 g/dl Na : 40 mmol/l SGPT : 39 u/l Leukosit : 25.24 .17 mmol/l ureum : 24 mg/dl Trombosit : 333ribu/ul kreatinin : 0.PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hb: 15.7 mg/dl GDS :139 mg/dl Eritrosit : 5.3 ribu/Ul Cl : 103 mmol/l SGOT : 59 u/l Ht: 48 % K :3.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Foto thoraks : • Cor : dalam batas normal • Pulmo: corakan bronkovaskuler kasar Ct Scan : • Perdarahan subarachnoid minimal di cysterna interpedunculus sisi kiri • Kontusio dengan edema serebri temporo parietal kanan • Hematosinus maksilaris kanan dan ethmoid kanan • Fraktur dinding anterior maksila kanan • Fraktur os nasalis disertai edema jaringan lunak regio tersebut • Emfisema periorbital kanan disertai edema jaringan lunak sekit .

35 tahun dibawa ke IGD RSUP Fatmawati dengan riwayat penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS. mual dan muntah tidak ada. . tiba-tiba ada seseorang yang mendorong pasien sehingga pasien terjatuh dengan posisi kepala yang membentur semen.RESUME Pasien. Pasien langsung pingsan. laki-laki. Awalnya pasien sedang duduk di kereta api yang sedang berjalan perlahan. Setelah dibawa ke IGD pasien sempat sadar sebentar dan kemudian pasien mengalami penurunan kesadaran.

.

distal lateralisasi (-) : Reflek fisiologis : ++ / ++ Reflek patologis : . Cranialis: sulit dinilai Motorik : Ekstremitas atas proksimal – distal lateralisasi (-) Ekstremitas bawah proksimal .Pemeriksaa n fisik: Kesadaran Tanda vital baik : Apatis./ Sensorik : sulit dinilai Autonom : sulit dinilai . GCS: E2M3VAfasia Pemeriksaan neurologis: Tanda rangsang meningeal: N.

7 mg/dl GDS :139 mg/dl Eritrosit : 5.17 mmol/l ureum : 24 mg/dl Trombosit : 333ribu/ul kreatinin : 0.3 ribu/Ul Cl : 103 mmol/l SGOT : 59 u/l Ht: 48 % K :3.24 .PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hb: 15.9 g/dl Na : 40 mmol/l SGPT : 39 u/l Leukosit : 25.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Foto thoraks : Cor : dalam batas normal Pulmo : corakan bronkovaskuler kasar Ct Scan :  Perdarahan subarachnoid minimal di cysterna interpedunculus sisi kiri  Kontusio dengan edema serebri temporo parietal kanan  Hematosinus maksilaris kanan dan ethmoid kanan  Fraktur dinding anterior maksila kanan  Fraktur os nasalis disertai edema jaringan lunak regio tersebut  Emfisema periorbital kanan disertai edema jaringan lunak sekitar .

formatio retikularis . pupil anisokor Diagnosis Etiologi • Cedera kepala berat Diagnosis Topis • Regio hemisfera serebri bilateral.DIAGNOSIS KERJA Diagnosis Klinis • Penurunan kesadaran. hematom palpebra bilateral. ptosis palpebra kanan.

dexametason 3x5 mg PO .posisi tidur.perawatan luka .PENATALAKSANAAN -ABC .Ranitidin 3 x 1 amp IV . bagian kepala ditinggikan sekitar 300 .ceftriaxon 2 x 1 gr IV .fenitoin 2x100 mg IV .manitol 4x125cc IV .piracetam 4x3gr PO .

 RENCANA PEMERIKSAAN  CT scan ulang daerah kepala PROGNOSA  Ad vitam : dubia ad bonam  Ad functionam : dubia ad bonam  Ad sanationam : dubia ad bonam .

dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas.PENDAHULUAN Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif. .

Simple head injury Basis cranii fracture PEMBAGIAN TRAUMA KAPITIS Commoti o cerebri Laceratio cerebri Contusio n cerebri .

Pada penderita harus diperhatikan:    Pernafasan peredaran darah umum Kesadaran sehingga tindakan resusitasi.  Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat.  Perhatikan sehingga tindakan resusitasi. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit. anmnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. anmnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. .

gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Dari tempat benturan. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar. subdural dan intraserebral. akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup)  . hematom epidural. Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak.MEKANISME DAN PATOLOGI    Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja.

yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun. misalnya akibat syok.PATOFISIOLOGI    Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum. . nekrosis. Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa. pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas. gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup. Karena itu. atau perdarahan dan kemudian meninggal. sehingga jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi.

yakni metode EMV (Eyes. Verbal. Derajat cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui system GCS.GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. Movement) Kemampuan membuka kelopak mata (E) Secara spontan Atas perintah Rangsangan nyeri 4 3 2 Tidak bereaksi 1 5 4 3 2 1 5 3 2 Kemampuan komunikasi (V) Orientasi baik Jawaban kacau Kata-kata tidak berarti Mengerang Tidak bersuara Kemampuan motorik (M) Kemampuan menurut perintah 6 Reaksi setempat Menghindar 4 Fleksi abnormal Ekstensi Tidak bereaksi 1 .

PEMBAGIAN CEDERA KEPALA 1. Simple Head Injury : Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan: -Ada riwayat trauma kapitis -Tidak pingsan -Gejala sakit kepala dan pusing Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. cukup diberi obat simptomatik dan cukup istirahat. .

yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Terapi simptomatis. yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak.2. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala. mungkin muntah dan tampak pucat. pemeriksaan memori. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak. vertigo. EEG. . perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap. Commotio Cerebri • Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde.

Yang penting untuk terjadinya lesi contusion ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. • Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. • Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas. Terapi dengan antiserebral edem. maka rasa mual. sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. . • Timbulnya lesi contusio di daerah “coup” . otak membentang batang otak terlalu kuat. atau menjadi cepat dan lemah. otak tidak mendapat input aferen dan karena itu. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Akibat blockade itu. “contrecoup”. si penderita biasanya menunjukkan “organic brain syndrome”. kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu. dan “intermediate”menimbulkan gejala deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Oleh karena itu. meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. sehingga terjadi vasoparalitis. muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul. anti perdarahan. simptomatik. Juga karena pusat vegetatif terlibat. Setelah kesadaran puli kembali. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat.3. neurotropik dan perawatan 7-10 hari. Contusio Cerebri • Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata.

4. Laceratio Cerebri • Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis. • Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika. . Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung. subdural akut dan intercerebral.

fossa media dan fossa posterior. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. Komplikasi : • Gangguan pendengaran • Parese N.5. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena. Fracture Basis Cranii • Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior. .VII perifer • Meningitis purulenta akibat robeknya duramater • Fraktur basis kranii bisa disertai commotio ataupun contusio. Tindakan operatif bila adanya liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari. • Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala: • Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding • Epistaksis • Rhinorrhoe • Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala: • Hematom retroaurikuler. Ottorhoe • Perdarahan dari telinga • Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii. jadi terapinya harus disesuaikan.

. Cedera Kepala Berat (CKB) • • • • Skor GCS <8 Gejalnya serupa dengan CKS. atau jika ada tidak lebih dari 10 menit Pasien mengeluh pusing. sakit kepala Ada muntah. Cedera Kepala Sedang (CKS) • • • • Skor GCS 9-12 Ada pingsan lebih dari 10 menit Ada sakit kepala.Adapun pembagian cedera kepala lainnya: Cedera Kepala Ringan (CKR) → termasuk didalamnya Laseratio dan Commotio Cerebri • • • • Skor GCS 13-15 Tidak ada kehilangan kesadaran. ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. muntah. kejang dan amnesia retrogad Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota gerak. hanya dalam tingkat yang lebih berat Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.

Lumbal Pungsi • Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari saat terjadinya trauma EEG • Dapat digunakan untuk mencari lesi Roentgen foto kepala • Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak .PEMERIKSAAN PENUNJANG CT-Scan • Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.

gejala laterlisasi Pemeriksaan penunjang. . peningkatan TIK.DIAGNOSA Berdasarkan: Ada tidaknya riwayat trauma kapitis Gejala-gejala klinis : Interval lucid.

CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks LCS : jernih Penatalaksanaannya yaitu tindakan evakuasi darah (dekompresi) dan pengikatan pembuluh darah. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi tentorial. pupil pada sisi perdarahan mula-mula sempit. lalu menjadi lebar. Hematom Epidural  Letak : antara tulang tengkorak dan duramater   Etiologi : pecahnya A.     . refleks tendon meninggi dan refleks patologik positif. pusing. dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus piramidalis. Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam)     Interval lucid Peningkatan TIK Gejala lateralisasi → hemiparese   Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma subkutan Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar. nadi melambat. tekanan darah meninggi. kesadaran menurun.KOMPLIKASI Jangka pendek : 1. misal: hemiparesis. dan akhirnya tidak bereaksi terhadap refleks cahaya. Pada sisi kontralateral dari hematom. penderita pingsan atau hanya nyeri kepala sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala. Meningea media atau cabang-cabangnya Gejala : setelah terjadi kecelakaan.

 Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak (bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang tengkorak)  Isodens → terlihat dari midline yang bergeser Operasi sebaiknya segera dilakukan untuk mengurangi tekanan dalam otak (dekompresi) dengan melakukan evakuasi hematom. gabungan robekan bridging veins dan laserasi piamater serta arachnoid dari kortex cerebri     Gejala subakut : mirip epidural hematom.2. timbul dalam 3 hari pertama Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian  Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent. Hematom subdural  Letak : di bawah duramater  Etiologi : pecahnya bridging vein. Penanganan subdural hematom akut terdiri dari trepanasidekompresi. .

Perdarahan Intraserebral  Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal. Jika penderita dengan perdarahan intraserebral luput dari kematian.3. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa hematom hanya berupa perdarahan kecilkecil saja. terbanyak pada lobus temporalis. perdarahannya akan direorganisasi dengan pembentukan gliosis dan kavitasi. .

hanya tekanannya dapat meninggi. Gejala-gejala kerusakan jaringan otak juga tidak ada. nadi mungkin melambat. mungkin hingga berjam-jam. hanya lebih berat. Oedema serebri  Pada keadaan ini otak membengkak. Tekanan darah dapat naik. Penderita lebih lama pingsannya. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri. Cairan otak pun normal.4.    TIK meningkat Cephalgia memberat Kesadaran menurun .

penurunan intelegensia. mudah lupa. dan depresi. sakit kepala. hidrosis. libido menurun. cape. parese N. disartria. kesulitan belajar. misalnya: menjadi kekanak-kanakan. menarik diri. gangguan tingkah laku. . VIII. konsentrasi berkurang. mudah tersinggung. kadang ada hemiparese 2. Sindrom pasca trauma Dapat berupa : palpitasi. strabismus.Jangka Panjang : 1. Gangguan neurologis Dapat berupa : gangguan visus.VII dan gangguan N. disfagia.

TERAPI CKR : Perawatan selama 3-5 hari Mobilisasi bertahap Terapi simptomatik Observasi tanda vital CKS : Perawatan selama 7-10 hari Anti cerebral edem Anti perdarahan Simptomatik Neurotropik Operasi jika ada komplikasi CKB : Seperti pada CKS Antibiotik dosis tinggi Konsultasi bedah saraf .

PROGNOSA  Skor GCS penting untuk menilai tingkat kesadaran dan berat ringannya trauma kapitis. .

Harsono. edisi kedua. Kelompok Gramedia. Dian Rakyat. Jakarta. 2003 3. 1991 2. Neurologi Klinis Dasar.htm . Neuroanatomi Korelatif dan Neurology Fungsional. PT Dhiana Populer. Sidharta P. 1981 4.com/health. Iskandar J.DAFTAR PUSAKA 1. bagian dua. Gajah Mada University Press. 1981 5. Gajah Mada University Press. Jakarta. http://www. Mardjono M. Kapita Selekta Neurologi. Chusid.mayoclinic. Cedera Kepala.