Anda di halaman 1dari 10

A.

PENDAHULUAN Dalam penentuan penyakit, kita memerlukan diagnosa yang tepat untu melakukan pengobatan, pencegahan, dan tindakan yang lainya. Diagnosis sendiri dapat dibagi menjadi dua Yaitu Diagnosa Defenitif dan Subjektif. Dilapangan nantinya akan banyak ditemui berbagai penyakit dengan gejala klinis yang berbeda, oleh karena itu penentuan jenis penyakit dari dagnosis defenitif sangat diperlukan untuk tindakan dilapangan nantinya. Salah satu hal yang dapat menunjang diagnosis definitif adalah pemeriksaan laboratorium, dalam banyak hal pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk mendeteksi adanya mikroorganisme, melakukan diagnosa, perbanyakan media, penilitian, pengujian dan lain-lain. Salah satu pemeriksaan yang sering digunakan adalah pengujian mikrobiologi. Ada berbagai macam dalam pemeriksaan ini seperti perwanaan gram, isolasi dan identifikasi, uji antibiotika dan lain-lain. Namun dalam kesempatan ini kamu akan membahasa tentang isolasi dan Identiikasi bakteri. Isolasi umumnya dgunakan intuk menumbuhkan dan membiakan bakteri atau virus yang natinya akan digunakan untuk pengujian dan penelitian lainya. Isolasi dapat menggunakan organ, sampel darah, feces, urine, usapan (swab), kelenjar tubuh dan lain-lain. Sedangkan Indentifikasi dapat berupa uji Gas, Glukosa, Nutrisi, H2S, Nitrat, Sulfit, warna, motilitas dan lain lain. Disini kami akan melaporkan kegiatan kami tentang penggunaan uji MRVP (Methyl red Voges Proskauer Media), SIM (Sulfide Indol Motility), Simmon Sitrat Agar, Uji Glukosa, dan TSIA.

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

B. PRINSIP : Menggolongkan dan mengetahui jenis bakteri berdasarkan kemampuan fermentasi laktosanya, gulkosa, kemampuan membentuk dan mentoleransi 02

a. Fermentasi Gula Air daging fermentasi gula mengandung gula yang diuji dan sebuah indikator pH untuk mendeteksi peroduksi asam. Untuk praktikum kali ini, kita akan menggunakan air gula dengan menggunakan indikator phenol merah. Jika gula difermentasikan, media akan berubah dari merah ke kuning karena poduksi asam. Tabung gula glukosa disertakan dengan tabung yang lebih kecil ukurannya (tabung durham) untuk menjebak gas yang dihasilkan oleh bakteri yang tumbuh. Jika bakteri tidak menggunakan gula, mereka akan menggunakan asam amino yang terkandung dalam media. Ketika asam amino digunakan, ammonia akan dihasilkan sebagai produk sampingan yang menyebabkan pH media menjadi meningkat (basa), hal ini dapat terlihat dari warna indikator (dalam hal ini phenol merah) menjadi merah pekat, tidak kuning. Tetapi jika gula digunakan secara oksidasi (respirasi), akan terjadi sedikit saja perubahan warna. Hasil fermentasi gula dicatat sebagai asam (A), asam + gas (AG), alkalin (Alk), atau jika tidak ada perubahan maka dinyatakan No Change (NC).

b. Siulfide Indol Motility (SIM) Indole adalah senyawa yang dihasilkan ketika asam amino tryptophan dihidrolisasi menjadi asam pyruvic (yang digunakan untuk metabolism energy) dan indole yang dikeluarkan melalui aksi tryptophanase. Keberadaan tryptophanase (enzim) merupakan sebuah perbedaan yang segnifikan antara Eschericia coli yang menghasilkannya dan oleh karenanya indole positif dengan organisme enteric lainnya. Hydrogen sulfide merupakan produk sampingan dari perpecahan cysten oleh bakteri yang manghasilkan enzim cysten desulfurase. Hal ini memungkinkan organisme untuk menggunakan asam amino yang mengandung sulfur untuk metabolism energinya. Hydrogen sulfide dikeluarkan dan adapat diujikan melalui pemanfaatan formasi black precipitate ketika bereaksi dengan perak, besi, atau lead di dalam media. Untuk menguji produksi hydrogen sulfide, kita harus menggunakan media yang mengandung amino bersulfur dan sumber logam yang disebutkan di atas. Besi (seperti ferro sulfat), atau lead seperti lead asetat adalah sumber yang paling umum digunakan. Dimanapun motilitas bukan merujuk pada reaksi kimia, tetapi lebih pada karakteristik organisme yang dapat dengan mudah diamati melalui penggunaan media yang benar. Bakteri yang memiliki flagella mempu berenang dalam cairan dan media lunak (kurang dari setengah jumlah agar yang biasanya ditemukan pada media plate atau slant). Kemampuan ini dapat
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I 2

langsung melalui kaca preparasi zat basah, atau secara tidak langsung dengan menggunakan deep agar lunak. Motilitas adalah salah satu dari ciri mahluk hidup, begitu pula dengan mikroorganisme, namun alat geraknya masih sederhana berupa flagella atau cilia. Bakteri melakukan motilitas dengan menggunakan energi yang diperoleh dari ATP yang diuraikan oleh koenzim ATP-ase membentuk fosfo anorganik.Beberapa protein kaya akan asam amino yang mengandung gugus sulfur seperti sistein. Jika protein ini dihidrolisis oleh bakteri, asam amino akan dilepaskan. Sistein dengan adanya sistein desulfurase, ahan melepaskan atom sulfur yang dengan adanya hydrogen dari air akan membentuk gas hydrogen sulfide. gas ini juga dapat diproduksi dengan reduksisenyawa anorganik yang mengandung sulfur seperti tiosulfat, sulfat atau sulfit. Sebagai petunjuk adanya aktivitas motilitas ini dapat diamati daerah bekas tusukan dari medium yang telah diinokulasikan oleh biakan dan diinkubasikan. Medium ini ditambahkan senyawa anorganik yang mengandung sulfur, yaitu natrium tiosulfat. Natrium tiosulfat ini akan bereaksi dengan ion hidrogen dari air, dan dengan adanya enzim tiosulfat reduktase, maka akan dihasilkan ion sulfit dan gas H2S. Gas ini akanbereaksi dengan feri ammonium sulfat yang datambahkan (sebagai indicator untuk H2S) ke dalam media sehingga terbentuk FeS yang berwarna hitam. Pembentukan FeS inilah yang diamati sebagai penunjuk adanya aktivitas motil dari bakteri uji pada tabung yang berisi medium motility setelah diinkubasikan Media SIM ini termasuk media semi solid. Kegunaan media ini adalah untu mengetahui sifat kuman dalam memproduksi H2S, Indol dan Pergerakan kuman (motilitas) c. MRVP (Methyl Red Voges Proskauer medium) Methyl red merupakan indikator pH yang berubah warna pada pH yang lebih rendah (sekitar 4,5) dari pada phenol merah. Ketika beberapa tetes methyl merah diteteskan pada air daging yang mengandung gula, perubahan warna akan Nampak jika ph turun sekitar 4,5 ke bawah dan berwarna kuning pada pH di atas 4,5. Tidak seperti phenol merah yang digunakan pada fermentasi air daging, warna merah bersifat positif untuk tes methyl merah yang mengindikasikan suatu pH pada sisi asam pada indikator. Tes ini digunakan pada kebanyakan skema identifikasi untuk organisme berbentuk gram negative. Tes Voges Proskauer. Tes ini merupakan tes spesifik untuk intermediasi metabolic yang dihasilkan ketika gula difermentasikan untuk menghasilkan butylenes glycol sebagai tambahan untuk asam. Fermentasi butylenes glycol merupakan salah satu pola fermentasi yang dilakukan oleh bakteri gram negative. Ini merupakan pola fermentasi alternative untuk organisme yang hanya menghasilkan asam saja. Tes VP yang positif hampir tidak pernah diamati dengan tes MR positif karena tes MR didasarkan pada produksi asam yang cukup untuk menurunkan pH di bawah 4,5, jika sebagian gula yang difermentasikan digunakan untuk pembuatan butylenes glycol, maka ia tidak bisa digunakan untuk memproduksi asam. Pada tes ini ditambahkan reagen barrit (A dan B) pada media, lalu amati perubahan warna setelah dibiarkan beberapa waktu (kira-kira 10 menit) agar tejadi reaksi.
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I 3

d. Simmon Sitrat Agar Media Agar Sitrat Simmon digunakan untk menentukan apakah isolasi yang ada mampu menggunakan sitrat sebagai salah satu sumber karbohidrat yang dapat dioksidasi. Media tersebut juga memiliki indikator pH yang berubah warna ketika sitrat digunakan. Indikator tersebut (Brom Thymol Blue) berubah dari kuning menjadi biru ketika sitrat digunakan. Alasan perubahan pH, dari netral (warna ungu hijau) menjadi alkalin, merupakan sesuatu yang rumit yang berhubungan dengan reaksi logam alkalin bumi pada suatu media cair. Ketik sitrat digunakan, reaksi tersebut akan berlangsung dan indikator berubah dari hijau ke biru.

C. TUJUAN Membedakan bakteri gram (+) dan (-), mengindentifikasi Kuman atau bakteri, meneguhkan diagnosa

D. TEMPAT DAN TANGGAL Lab. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Selasa 17 April 2012 Alat dan Bahan Cawan petri Tabung reaksi Magnetic stirer Ose Kapas Korek api Api bunsen Iubator Gunting Tinja

Aquades Alkohol Spritus NA MCA TSIA Simmons Citrate SIM MRVP

E. LANGKAH KERJA 1. Isolasi Persiapkan pinset atau gunting steril Organ yang diambil di pegang dengan pinset dan dipotong dengan gunting steril Masukan organ tersebut ke dalam kantong plastik steril lalu ditutup rapat-rapat. Haru diingat organ tersebut idak boleh menyentuh bahan atau organ lain dalam satu wadah. Kantong plastik dimasukan dalam termos es atau disimpan pada suhu dingin, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa, bahan yang diperiksa
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I 4

harus dilengkapi dengan label atau catatan misal sejarah singkat penyakit, hospes penderita, gejala klinis, nama organ dan sebagainya Bahan tersebut kemudian ditaruh ke dalam cawan petri steril, utnuk mencegah kontaminasi pada permukaan spesimen tersebut, maka permukaan bahan tersebut bisa diolesi dengan yodium tinctur atau permukaannya dibakar dengan nyala api bunsen 2. Pemupukan Dengan menggunakan gunting steril, bahan tersebut dilukai atau dikoyak dengan ose steril, lalu cairannya diambil dengan ose steril kemudian diusapkan pada permukaan media biakan. Untuk spesimen yang berasal dari tinja, pus atau cairan odema diambil dengna ose yang steril dan langsung diusapkan pada permukaan media. Pemupukan dilakukan pada media umum (nutrient agar) dan media selektif misalnya Mac. Concay atau Eosin Meylen Blue Agar dengan menggunakan salahsatu dari metode pemupukan. Sebelum bahan tersebut dipupuk dalan media plate agar tersebut maka yang harus diperhatikan adalam media yang diapai harus steril, permukaan media harus sudah kering. Setelah melakukan pemupukan tersebut, Inkubasikan dalan suhu 37O C selama 24 jam. Catat dan Identifikasi koloni yang tumbuh pada media tersebut. Meliputi Warna, bentuk, tepi, evelasi, konsistensi, bau dan diameter koloni. 3. Identifikasi Kuman a. Triple Sugar Iron Agar (TSIA) Media ini termasuk semi solid dan bentuknya setengah miring Ambil koloni kuman dengan needle dari hasil isolasi pada media selektif yang telah tumbuh. Pupuk dengan cara menusukan pada bagian tegak dari media lalu digoreskan pada bagian miring media Inkubasikan pada suhu 37o C selama 24 jam Catat sifat kuman pada biakan tersebut. Dengan melihat adanya acid slant, acid butt yang ditandai dengan perubahan warna media pada bagian tegak/miring. Adanya gas dapat diamati dengan adanya gelembung gas pada media, keretakan pada meia atau media terangkat ke ujung tabung dari produksi gas H2S akan terlihat jika media berubah menjadi hitam b. Sulfide Indol Motility (SIM) Medi ini termasuk media semi solid. Kegunaan media ini adalah untu mengetahui sifat kuman dalam memproduksi H2S, Indol dan Pergerakan kuman (motilitas) Ambil koloni kuman dengan needle dari hasil isolasi pada media selektif yang telah tumbuh. Pupuk dengan cara menusukan secara tegak lurus pada media Inkubasikan pada suhu 37o C selama 24 jam Catat hasilnya meliputi : produksi H2S ditandai dengan media bewarna hitam, produksi indol dapat dilihat setelah ditetesi dengan reagen erlichs/kovacs sebanyak 3-5 tetes ke dalam media, bila indol positif terbentuk cincin merah

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

pada permukaa medium, kuman motil akan terlihat kekkaburan media ditempat tusukan needle c. MRVP (Methyl Red Voges Prosauer medium) Pupuk koloni yang dicurigai tadi kedalam (MRVP) dengan ose steril yang telah dibebani kuman Celupkan kedalam medium tersebut, 2-3 kali Inkubasikan medium pada suhu 37o C selama 24 jam Selanjutnya media tersebut dibagi menjadi dua tabung yang steril tabung pertama ditetesi dengan reagen MR, tabung kedua ditetesi dengan VP Catat sifat pertumbuhan kuman, meliputi produksi asam tunggal atau campuran setelah ditetesi dengan reagen MR dan produksi asam metil karinol setelah ditetesi dengan reagen VP Hasil yang positif ditandai dengan warna merah pada medium

d. Simon Sitrat agar Dengan ose steril ambil koloni yang dicurigai tersebut, lalu usapkan pada permuaan medium mulai dari pangkal sampai ujung yang lain. Inkubasikan medium tersebut pada suhu 37o C selama 24 jam Catat sifat pertumbuhan kuman apakah kuman mampu memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbonya atau tidak, pertumbuhan kuman ditandai dengan perubahan warna media dari hijau menjadi biru e. Uji Glukosa Ambil koloni dari media yang dicurigai dengan ose steril Celupan dalam tabung yang berisi larutan glukosa sebanyak 2-3 kali Inkubasikan medium tersebut pada suhu 37o C selama 24 jam Catat sifat pertumbuhan kuman apakah kuman mampu memanfaatkan glukosa sebagi sumber energinya. Hasil postif ditandai dengan terisi atau terangkatnya tabung durham dari dasar yang bersi udara f. Uji Laktosa Ambil koloni dari media yang dicurigai dengan ose steril Celupan dalam tabung yang berisi larutan Laktosa sebanyak 2-3 kali Inkubasikan medium tersebut pada suhu 37o C selama 24 jam Catat sifat pertumbuhan kuman apakah kuman mampu memanfaatkan glukosa sebagi sumber energinya. Hasil postif ditandai dengan terisi atau terangkatnya tabung durham dari dasar yang bersi udara

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

F. HASIL Sebelum

a. TSIA

Uji TSIA Slantt, Postif b. SIM

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

Uji SIM Negatif, tidak terbentuk cincin Ungu c. MRVP

Uji MRVP Postif d. Simmon Sitrat Agar

SImmon Sitrat Agar Postif, warna agar berubah kehijauan, ada terbentuk ruang

e. Uji Glukosa

Tabung durham ada didasar, negative

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

f. Uji Laktosa

Uji Laktosa Negatif G. PEMBAHASAN a. TSIA Hasil dari pengujian uni tampak buram sebab dalam penyetreakan biakan terdapat beberapa kesalahan sehingga hasil yang didaptkan tidak begitu jelas b. SIM Terbentuk Cincin kekuningan, ini menandakan bahwa bakteri tidak membentuk gas H2S dan tidak membentuk Indol, sehingga hasil menjadi negative c. MRVP Jika di amati seharusnya pada pengujian ini terdapat warna merah pada campuran MR (Mettyl Red) namun disni kami menemukan bahwa warna tidak berubah menjadi merah melainkan menjadi oranye, hal ini dimungkinkan karena prosedur penetesan yang kurang (normalnya 2-3 tetes) atau proedur pengambilan koloni d. Simmon Sitrat Agar Disini terbentuk ruang kecil diantara agar dan warna agar berubah menjadi kehijauan hal ini dimungkinkan terjadi perubahan rekasi pH menjadi asam oleh reaksi bakteri e. Uji Glukosa Disini hasil negative, sebab tidak ada gas yang terbentuk dalam tabung durham f. Uji Laktosa Din\sini juga negative, tidak ada tanda-tanda bahwa bakteri menfermentasi laktosa, maka jelas bahwa bakteri yang diuji bukan bersal dari bakteri coliform

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

H. KESIMPULAN Dari hasil praktikum diatas dapat diketahui bahwa bakteri berasal dari golongan Negatif dari hasil simmon sitrat dan MRVP, Non fermentaksi Lakatosa dan Glukosa, Tidak membentuk H2S, bersifat Fakultatif Anaerob. Dalam pelaksanaan praktikum beberapa hal yangharus diperhatikan agar mendapatkan ahsil yang maksimal adalah prosedur pembiakan atau pengujian, penanganan media, keadaan suhu, dan lain-lain. Selain itu tidakan dan penaganan yang aseptis jua berguna dalam pelaksaan identfikasi ini.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2012. Penuntun Praktikum Penyakit Infesius I. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Denpasar Nurhayati, Mita. 2011. Makalah Mikrobiologi. Sekolah Menengah Kejuruan Negri 7 Bandung

LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT INFEKSIUS I

10