Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ETIKA KEPERAWATAN DAN PEMECAHANNYA

Tugas Mata Ajar : Hukum dan Etika Keperawatan Dosen Pengampu: Reni zulfitri

Disusun Oleh: Ayu norita putri Chairunnisa Dwi laila ranti Mustika riolita Niken widyastuti Pepi handayani Fikri abdullah Silvia elki putri Sulastri Zainatun hasanah PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karuniaNya, kami bisa menyelesaikan makalah Etika dan Hukum dalam Keperawatan ini dengan baik. Adapun judul makalah kami Kasus Dilema Etik dalam Keperawatan . Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada semua pihak yang sudah membantu dalam pembuatan makalah ini. Terima kasih kepada Ibu Reni Zulfiti selaku dosen pembimbing mata kuliah Etika dan Hukum dalam Keperawatan. Penulis menyadari bahwa tugas ini masih belum sempurna dan perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun terutama dari dosen pembimbing mata kuliah Etika dan Hukum dalam Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau A 2012 dan teman-teman semua agar tugas ini layak untuk dibaca.

Pekanbaru, 6 April 2013

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN
Latar belakang Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat.Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan.Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung. Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Dalam praktiknya sehari-hari perawat berhubungan dengan pasien (manusia unik) yang beraneka ragam dengan status kesehatan dan permasalahan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kadang-kadang perawat juga perlu mengambil andil dalam pemberian alternatif untuk pemecahan masalah. Kadangkala dalam sebuah permasalahan terdapat masalah yang sangat membingungkan yang disebut masalah etika atau dilema etik dimana dalam pembuatan keputusan tidak ada yang benar dan salah sehingga membuat perawat menjadi bingung. Beberapa dilema etik yang sering dialami perawat ialah euthanasia, aborsi,

bersikap jujur dan lain-lain. Berdasarkan latar belakang diatas kami membuat makalah tentang pemecahan masalah etik agar para perawat bisa membuat keputusan yang paling baik untuk pasiennya.

Tujuan : untuk mengetahui apa itu etika keperawatan? apa itu dilema etik? prinsip-prinsip moral dalam keperawatan? Apa saja masalah etika keperawatan? Konsep pemecahan dilema etik atau masalah etik

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN


Kata etika berasal dari kata yunani, yaitu ethos, yang berhubungan dengan pertimbangan pembuat keputusan, benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal yang harus dilakukan. Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap manusia yang menggunakan manusia juga, yaitu perawat. Perawat harus membiasakan diri untuk menerapkan kode etik yang memberi Gambaran tanggung jawabnya dalam praktik keperawatan. Keperawatan merupakan bentuk asuhan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat berdasarkan ilmu dan seni dan mempunyai hubungan perawat dan pasien sebagai hubungan professional (kozier,1991). Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip yang diyakini oleh profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan

pasien,masyarakat,hubungan perawat dengan teman sejawat maupun dengan organisasi profesi dan juga dalam pengaturan praktik keperawatan itu sendiri (berger dan williams,1999). Etika keperawatan merupakan suatu acuan dalam melaksanakan praktik keperawatan. Etika keperawatan berguna untuk pengawasan terhadap kompetensi profesional, tanggung jawab, tanggung gugat, dan untuk pengawasan umum dari nilai positif profesi keperawatan (berger dan williams,1999) Kadang-kadang perawat dihadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Perawat memberi asuhan kepada klien, keluarga, dan masyarakat; menerima tanggung jawab untuk membuat keadaan lingkungan fisik, sosial dan spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan; dan menekankan pencegahan penyakit;serta

meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan kesehatan. Pelayanan kepada umat manusia merupakan fungsi utam a perawat dan dasar adanya profesi keperawatan. Kebutuhan pelayanan keperawatan adlah universal. Peyanan profesional berdasarkan kebutuhan manusia tanpa membedakan kebangsaan,warna kulit, politik, status sosial, dan lain-lain.

Keperawatan sebagai suatu pelayanan profesional bertujuan untuk tercapainya kesejahteraan manusia. Etika profesi keperawatan adalah filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktik keperawatan. Etik profesi keperawatan adalah kesadaran dan pedoman yang mengatur nilai-nilai moral di dalam melaksanak kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara yang terhormat. Etik keperawatan merupakan kesadaran dan pedoman yang mengatur prinsip-psrinsip moral dan etik dalam melaksanakn kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara yang terhormat. Menurut american ethics commision bureau on teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu: 1. Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam praktik keperawatan 2. Membentuk strategi/cara dan menganalisis masalah moral yang terjadi dalam praktik keperawatan 3. Menghubungkan prinsip moral/pelajaran yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada tuhan, sesuai dengan kepercayaannya Standar etik merupakan panduan untuk prilaku moral. Orang yang memberikan layanan kesehatan bersedia secara sukarela untuk mengikuti standar ini. Perilaku etik dapat dibagi menjadi dua kelompok yitu sebagai berikut: etik yang berorientasi kepada kewajiban etik yang berorientasi kepada larangan

Enam asas etik yang tidak akan berubah dalam etik profesi kedokteran atau keperawatan dan asuhan keperawatan adalah sebagai berikut; Asas menghormati otonomi klien (autonomy) Asas manfaat (beneficence) Asas tidak merugikan (non-maleficence) Asas kejujuran (veracity) Asas kerahasiaan (confidentiality) Asas keadilan (justice)

Menurut Thompson dan Thompson (1985), dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit untuk diputuskan, dimana tidak ada alternative yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternative yang memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah. Dan untuk membuat keputusan etis, seseorang harus bergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional. Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh beberapa ahli yang pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan dengan pemecahan masalah secara ilmiah.(sigman, 1986; lih. Kozier, erb, 1991). A. MASALAH ETIKA DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN Berbagai permasalahan etis yang dihadapi perawat dalam praktik keperawatan telah menimbulkan konflik antara kebutuhan pasien dengan harapan perawat dan falsafah keperawatan. Masalah etika keperawatan pada dasarnya merupakan masalah etika kesehatan, dalam kaitan ini dikenal dengan istilah masalah etika biomedis atau bioetis. Istilah bioetis mengandung arti ilmu yang mempelajari masalah-masalah yang timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan terutama di bidang biologi dan kedokteran. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya, dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi permasalah klien. Untuk memecahkan berbagai permasalahan bioetis telah dibentuk suatu organisasi internasional. Para ahli telah mengidentifikasi masalah bioetis yang dihadapi oleh para tenaga kesehatan, termasuk juga perawat. Permasalahan etis yang akan dibahas secara singkat disini adalah berkata jujur; AIDS; Abortus; menghentikan pengobatan; cairan dan makanan; euthanasia; transplantasi organ; Inseminasi artificial dan beberapa permasalahn etis yang langsung berkaitan dengan praktik keperawatan. 1. Berkata Jujur (Truth Telling) Dalam konteks berkata jujur, ada suatu istilah yang disebut desepsi, yang berasal dari kata deceive yang berarti membuat orang percaya terhadap sesuatu hal yang tidak benar, menipu dan membohongi. Desepsi meliputi berkata bohong, mengingkari atau menolak, tidak memberikan informasi dan memberikan jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan atau tidak memberikan penjelasan sewaktu informasi dibutuhkan. Contoh tindakan desepsi adalah perawat memberikan obat dan tidak membertahu pasien tentang obat apa yang sebenarnya diberikan.

Tindakan desepsi ini secara etika tidak dibenarkan. Para ahli etika menyatakan bahwa tindakan desepsi membutuhkan keputusan yang jelas tentang siapa yang diharapkan melakukan tindakan tersebut. Konsep kejujuran (veracity), merupakan prinsip etis yang mendasari berkata jujur. Seperti juga tugas yang lain berkata jujur bersifat prima facie (tidak mutlak) sehingga desepsi pada keadaan tertentu diperbolehkan. Berbagai alasan yang dikemukakan dan mendukung posisi bahwa perawat harus berkata jujur yaitu : merupakan hal yang terpenting dalam hubungan saling percaya perawat pasien; pasien mempunyai hak untuk mengetahui; merupakan kewajiban moral; menghilangkan cemas dan penderitaan; meningkatkan kerjasama pasien maupun keluarga; dan memenuhi kebutuhan perawat. Alasan-alasan yang mendukung tindakan desepsi, termasuk berkata bohong meliputi : pasien tidak mungkin menerima kenyataan; pasien menghendaki untuk tidak diberitahu bila hal tersebut menyakitkan, secara professional perawat mempunyai kewajiban tidak melakukan yang merugikan pasien, dan desepsi mungkin mempunyai manfaat untuk meningkatkan kerjasama pasien. 2. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) AIDS pada awalnya ditemukan pada masyarakat gay di Amerika Serikat pada tahun 1980 atau 1981. AIDS juga pada mulanya ditemukan di Afrika. Saat ini, AIDS hamper ditemukan disemua Negara, termasuk Indonesia. AIDS tidak saja menimbulkan dampak pada penatalaksanaan klinis tetapi juga dampak social, kekhawatiran masyarakat, serta permasalahan hokum dan etika. Perawat yang bertanggung jawab merawat pasien AIDS akan mengalami berbagai stress pribadi, termasuk takut tertular atau menularkan pada keluarga, dan ledakan emosi bila merawat pasien AIDS fase terminal usia muda dengan gaya hidup yang bertentangan dengan gaya hidup perawat. Pernyataan professional bagi perawat yang mempunyai tugas merawat pasien terinfeksi virus HIV membutuhkan klasifikasi nilai-nilai yang diyakini perawat tentang hubungan homoseksual dan penggunaan atau penyalahgunaan obat. Perawat sangat berperan dalam perawatan pasien, sepanjang virus HIV maih ada dengan berbagai komplikasi sampai kematian tiba. Perawat terlibat dengan pembuatan keputusan tentang tindakan atau terapi apa yang dapat dihentikan dan tetap menghargai martabat manusia. Pada saat tidak ada terapi medis lagi yang dapat diberikan pada pasien, perawat

tetap masih melakukan tindakan yang dapat diberikan kepada pasien seperti : mengidentifikasi nilai-nilai, menggali makna hidup pasien, memberikan rasa nyaman, memberikan dukungan manusiawi dan membantu meninggal dunia dengan tentram dan damai. 3. Fertilisasi Invitro, Inseminasi Artifisial, dan Pengaturan Reproduksi Fertilisasi Invitro dan Inseminasi Artifisial merupakan dua dari berbagai metode baru yang digunakan untuk mengontrol reproduksi. Kedua metode ini memberikan harapan bagi orang-orang mandul untuk dapat memiliki anak. Fertilisasi Invitro merupakan metode konsepsi yang dilakukan dengan cara mebuat by pass pada tuba falopi wanita. Tindakan ini dilakukan dengan cara memberikan hiperstimulasi ovarium untuk mendapatkan beberapa sel telur atau folikel yang siap dibuahi. Sel-sel telur ini kemudian diambil melalui proses pembedahan. Proses pembuahan dilakukan dengan cara menaruh sel telur dalam tabung dan mencampurnya dengan sperma dari pasangan wanita yang bersangkutan atau dari donor. Sel telur yang telah dibuahi kemudian mengalami serangkaian proses pembelahan sel sampai menjadi embrio dan kemudian embrio dipindahkan ke dalam uterus wanita dengan harapan dapat terjadi kehamilan. Inseminasi Artifisial merupakan prosedur untuk menimbulkan kehamilan dengan cara mengumpulkan sperma dari seorang pria yang kemudia dimasukkan ke dalam vagina, serviks atau uterus wanita saat terjadi ovulasi. Berbagai masalah etika muncul berkaitan dengan teknologi tersebut. Masalah ini tidak saja dimiliki oleh para pasangan mandul, tim kesehatan yang menangani, tetapi juga oleh masyarakat. Pendapat yang diajukan para ahli bervariasi. Pihak yang memberikan dukungan menyatakan bahwa teknologi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk member harapan atau membantu pasangan mandul mempunyai ketururunan. Pihak yang menolak menyatakan bahwa tindakan tidak dibenarkan terutama bila telur atau sperma berasal dari donor. Beberapa pergerakan wanita menyatakan bahwa tindakan fertilisasi invitro dan inseminasi artificial memperlakukan wanita secara tidak wajar dan hanya wanita kalangan atas wanita kalangan atas yang mendapatkan teknologi tersebut karena biaya yang cukup tinggi. Dalam praktik ini, sering pula hak-hak wanita untuk memilih dilanggar.

Penelitian keperawatan yang berkaitan dengan fertilisasi invitro dan inseminasi artificial menurut Olshansky meliputi : aspek manusiawi dari penggunaan teknologi reproduksi, respon manusia terhadap teknologi canggih, konsekuensi tidak menerima teknologi, dan aspek terpeutik praktik keperawatan pada orang yang memilih untuk melakukan teknologi. 4. Abortus Abortus secara umum dapat diartikan sebagai penghentian kehamilan secra spontan atau rekayasa. Dalam membahas abortus biasanya dilihat dari dua sudut pandangan, yaitu moral dan hokum. Abortus sering menimbulkan konflik nilai bagi perawat, bila ia harus terlibat dalam tindakan abortus. Di beberapa Negara, seperti AS, Australia, Inggris dikenal suatu tatanan hokum Conscience Clauses yang memperbolehkan dokter, perawat, atau rumah sakit untuk menolak membantu pelaksanaan abortus. Masalah abortus memang kompleks, namun perawat professional tidak diperkenankan memaksakan nilai-nilai yang ia yakini kepada pasien yang memiliki nilai berbeda termasuk pandangan terhadap abortus. 5. Euthanasia Menurut Oxford English Dictionary, euthanasia berarti tindakan untuk mempermudah mati dengan mudah dan tenang. Dilihat dari aspek bioetis, euthanasia terdiri dari : euthanasia volunter, involunter, aktif dan pasif. Pada kasus euthanasia volunteer, pasien secara sukarela dan bebas memilih untuk meninggal dunia. Pada euthanasia involunter, tindakan yang menyebabkan kematian dilakukan bukan atas dasar persetujuan dari pasien dan sering kali melanggar keinginan pasien. Euthanasia aktif, melibatkan sesuatu yang dilakukan sengaja yang menyebabkan pasien maninggal, misalnya : menginjeksi obat dosis letal. Euthanasia aktif merupakan tindakan melanggar hokum. Euthanasia pasif dilakukan dengan menghentikan pengobatan atau perawatan suportif, yang mempertahankan hidup, misalnya antibiotika, nutrisi, cairan, respirator yang tidak diperlukan lagi oleh pasien. 6. Penghentian Pemberian Makanan, Cairan, dan Pengobatan Makanan dan cairan merupakan kebutuhan dasar manusia. Memberikan makanan dan minuman adalah tugas perawat. Selama perawatan seringkali perawat menghentikan pemberian makanan dan minuman, terutama bila pemberian tersebut justru membahayakan pasien misalnya pada pre dan post operasi.

Masalah etika dapat muncul pada keadaan terjadi ketidakjelasan antara member atau menghentikan makan atau minuman, serta ketidakpastian tentang mana yang lebih menguntungkan pasien. Ikatan Perawat Amwrika (ANA), Menyatakan bahwa tindakan penghentian dan pemberian makan kepada pasien oleh perawat secara hokum diperbolehkan dengan pertimbangan tindakan ini menguntungkan pasien. B. MODEL PENYELESAIAN DILEMA ETIK

Perawat berada di berbagai situasi sehari-hari yang mengharuskan untuk membuat keputusan-keputusan profesional dan bertindak sesuai keputusan tersebut. Keputusan biasanya dibuat dalam hubungannya dengan orang lain (klien, keluarga, dan profesi kesehatan lain). Dalam membuat keputusan, bukan keputusan yang paling benar yang akan diambil tapi keputusan mana yang paling baik karena dalam dilema etik tidak ada benar maupun yang salah. Pada penyelesaian dilema etik dikenal prinsip DECIDE yaitu; D = Define the problem(s) E = Ethical review C = Consider the options I = Investigate outcomes D = Decide on actin E = Evaluate results kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain: 1. Model pemecahan masalah (megan,1989) ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik : a. Mengkaji situasi b. Mendiagnosa masalah etik moral c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan d. Melaksanakan rencana e. Mengevaluasi hasil

2. Kozier et. al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan dilema etik sebagai berikut : a. Mengembangkan data dasar b. Mengidentifikasi konflik c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut d. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat e. Mendefinisikan kewajiban perawat f. Membuat keputusan

3. Model murphy dan murphy a. Mengidentifikasi masalah kesehatan b. Mengidentifikasi masalah etik c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan d. Mengidentifikasi peran perawat e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanankan f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan g. Memberi keputusan h. Mempertmbangkan bagaimana keputusa tersebuut hingga sesuai dengan falsafah umum perawatan klien i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.

4. langkah-langkah menurut Thompson & Thompson (1981) a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual. b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi c. Mengidentifikasi issue etik d. Menentukan posisi moral pribadi dan profesional e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

5. Langkah-langkah menurut Purtilo danCassel (1981) Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik a. Mengumpulkan data yang relevan b. Mengidentifikasi dilema c. Memutuskan apa yang harus dilakukan d. Melengkapi tindakan

6. Langkah penyelesaian dilema etik menurut Tappen (2005) adalah : a. Pengkajian Hal pertama yang perlu diketahui perawat adalah adakah saya terlibat langsung dalam dilema?. Perawat perlu mendengar kedua sisi dengan menjadi pendengar yang berempati. Target tahap ini adalah terkumpulnya data dari seluruh pengambil keputusan, dengan bantuan pertanyaan yaitu : 1. Apa yang menjadi fakta medik ? 2. Apa yang menjadi fakta psikososial ? 3. Apa yang menjadi keinginan klien ? 4. Apa nilai yang menjadi konflik ? b. Perencanaan Untuk merencanakan dengan tepat dan berhasil, setiap orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus masuk dalam proses. Thomson and Thomson (1985) mendaftarkan 3 (tiga) hal yang sangat spesifik namun terintegrasi dalam perencanaan, yaitu: 1. Tentukan tujuan dari treatment. 2. Identifikasi pembuat keputusan 3. Daftarkan dan beri bobot seluruh opsi / pilihan. c. Implementasi Selama implementasi, klien/keluarganya yang menjadi pengambil keputusan beserta anggota tim kesehatan terlibat mencari kesepakatan putusan yang dapat diterima dan saling menguntungkan. Harus terjadi komunikasi terbuka dan kadang diperlukan bernegosiasi. Peran perawat selama implementasi adalah menjaga agar komunikasi tak memburuk, karena dilema etis seringkali menimbulkan efek emosional seperti rasa bersalah, sedih / berduka, marah, dan emosi kuat yang lain. Pengaruh perasaan ini dapat menyebabkan kegagalan komunikasi pada para pengambil keputusan. Perawat harus ingat Saya disini untuk melakukan yang terbaik bagi klien.

Perawat harus menyadari bahwa dalam dilema etik tak selalu ada 2 (dua) alternatif yang menarik, tetapi kadang terdapat alternatif tak menarik, bahkan tak mengenakkan. Sekali tercapai kesepakatan, pengambil keputusan harus menjalankannya. Kadangkala kesepakatan tak tercapai karena semua pihak tak dapat didamaikan dari konflik sistem dan nilai. Atau lain waktu, perawat tak dapat menangkap perhatian utama klien. Seringkali klien / keluarga mengajukan permintaan yang sulit dipenuhi, dan di dalam situasi lain permintaan klien dapat dihormati. d. Evaluasi Tujuan dari evaluasi adalah terselesaikannya dilema etis seperti yang ditentukan sebagai outcome-nya. Perubahan status klien, kemungkinan treatment medik, dan fakta sosial dapat dipakai untuk mengevaluasi ulang situasi dan akibat treatment perlu untuk dirubah. Komunikasi diantara para pengambil keputusan masih harus dipelihara.

BAB 3 PEMBAHASAN
KASUS 1 :
Suatu hari ada seorang bapak bapak dibawa oleh keluarganya ke salah satu Rumah Sakit di kota Surabaya dengan gejala demam dan diare kurang lebih selama 6 hari. Selain itu bapak tersebut ( Tn. A ) menderita sariawan sudah 3 bulan tidak sembuh-sembuh, dan berat badannya turun secara berangsur-angsur. Semula Tn. A badannya gemuk tapi 3 bulan terakhir ini badannya kurus dan telah turun 10 kg dari berat badan semula. Tn. A ini merupakan seorang supir truk yang sering keluar kota karena tuntutan kerjaan bahkan jarang pulang, kadang-kadang 2 minggu sekali bahkan sebulan sekali. Tn. A masuk UGD kemudian dari Dokter untuk diopname di ruang penyakit dalam karena kondisi Tn. A yang sudah sangat lemas. Keesokan harinya Dokter yang menangani Tn. A melakukan visit kepada Tn. A, dan memberikan advice kepada perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengambil sampel darahnya. Tn. A yang ingin tahu sekali tentang penyakitnya meminta perawat tersebut untuk segera memberi tahu penyakitnya setelah didapatkan hasil pemeriksaan. Sore harinya pukul 16.00 WIB hasil pemeriksaan telah diterima oleh perawat tersebut dan telah dibaca oleh Dokternya. Hasilnya mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit HIV/AIDS. Kemudian perawat tersebut memanggil keluarga Tn. A untuk menghadap dokter yang menangani Tn. A. Bersama dan seizin dokter tersebut, perawat menjelaskan tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat kaget dan bingung. Keluarga meminta kepada dokter terutama perawat untuk tidak memberitahukan penyakitnya ini kepada Tn. A. Keluarganya takut Tn. A akan frustasi, tidak mau menerima kondisinya dan dikucilkan dari masyarakat. Perawat tersebut mengalami dilema etik dimana satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun disisi lain perawat tersebut harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak pasien untuk mendapatkan informasi. PEMECAHAN MASALAH DILEMA ETIK 1. Mengembangkan Data Dasar : Identifikasi a. Orang yang terlibat : Tn.A Dokter Perawat Keluarga

b. Tindakan diusulkan D dan P => Dokter menyarankan perawat untuk melakukan pemeriksaan darah pada Tn.A Tn.A ke P => Tn.A Meminta perawat untuk membeitahukan penyakitnya jika sudah didapatkan hasil pemeriksaan. Keluarga ke D dan P => Keluarga meminta Dokter dan perawat untuk tidak membertahukan penyakit kepada Tn.A. c. Maksud dari tindakan Dokter ke perawat : untuk mengetahui penyakit yang diderita Tn.A Tn.A : agar Tn.AA mengetahui penyakit apa yang dideritanya Keluarga : agar Tn.A tidak frustasi dan merasa dikucilkan dalam masyarakat.

d. Konsekuensi dari tindakan Tn.A ke keluarga : apabila diberitahukan kepada klien hasil pemeriksaannya kemungkinan klien akan depresi dan menarik diri. Apabila tidak diberitahukan akan melanggar hak pasien untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Keluarga ke dokter dan perawat : apabila perawat dan dokter mengikuti saran keluarga,ini telah melanggar prinsip-prinsip etik keperawatan yaitukejujuran dan tidak memenuhi hak klien. Apabila saran keluarga tidak dokter dan perawat maka dikhawatirkan Tn.A mengalami frustasi. 2. Mengidentifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut : Kegiatan a. Lakukan analisis terkait situasi atau kasus yang terjadi Tn. A menggunakan haknya sebagai pasien untuk mengetahui penyakit yang dideritanya sekarang sehingga Tn. A meminta perawat tersebut memberikan informasi tentang hasil pemeriksaan kepadanya Rasa kasih sayang keluarga Tn. A terhadap Tn. A membuat keluarganya berniat untuk menyembunyikan informasi tentang hasil pemeriksaan tersebut dan meminta perawat untuk tidak memberitahukannya kepada Tn. A dengan pertimbangan keluarga takut jika Tn. A akan frustasi tidak bisa menerima kondisinya sekarang Perawat merasa bingung dan dilema dihadapkan pada dua pilihan dimana dia harus memenuhi permintaan keluarga, tapi disisi lain dia juga harus memenuhi haknya pasien untuk memperoleh informasi tentang hasil pemeriksaan kondisinya

b.

Identifikasi berbagai masalah atau konflik yang terjadi dari kasus atau situasi tersebut Berdasarkan kasus dan analisa situasi diatas maka timbullah permasalahan etik moral, jika perawat tidak memberitahukan informasi kepada Tn. A terkait dengan penyakitnya, karena mendapatkan informasi tentang kondisi pasien merupakan hak pasien.

3. Membuat Tindakan Alternatif : Kegiatan a. Identifikasi berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk

menyelesaikan masalah tersebut Perawat akan melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memberikan informasi hasil pemeriksaan/penyakit Tn. A kepada Tn. A saat itu juga, tetapi memilih waktu yang tepat ketika kondisi pasien dan situasinya mendukung dan sudah didiskusikan kepada tim medis lain. Tujuannya agar Tn. A tidak panik yang berlebihan ketika mendapatkan informasi penyakitnya karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan-pendekatan oleh perawat. Tetapi keluarga harus tetap menemani pasien. Perawat akan melakukan tanggung jawabnya sebagai perawat dalam memenuhi hak-hak pasien terutama hak Tn. A untuk mengetahui penyakitnya, sehingga ketika hasil pemeriksaan sudah ada dan sudah didiskusikan dengan tim medis maka perawat akan langsung

menginformasikan kondisi Tn. A tersebut atas seizin dokter. Tujuannya supaya Tn. A merasa dihargai dan dihormati haknya sebagai pasien serta perawat tetap tidak melanggar etika keperawatan b. Identifikasi berbagai konsekuensi atau dampak dari masing-masing alternatif tindakan tersebut Dampak dari alternatif pertama : Tn.A bertanya-tanya tentang penyakit yang sebenarnya saat perawat menemui pasien. Dampak dari alternatif kedua : pasien akan sangat terkejut dan defresi sehingga dapat memperparah kondisi kesehatan Tn.A. Selain itu keluarga juga tidak akan menerima karena keluarga merasa kasihan bila Tn. A mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri Tn.A.

4. Menentukan Siapa Pengambil Keputusan yang Tepat : Kegiatan Menentukan pengambil keputusan yang tepat sesuai dengan aspek etik dan legalnya adalah tim medis yang terlibat supaya tidak melanggar kode etik keperawatn yang disertai dengan hadirnya keluarga dalam pengambilan keputusan tersebut. 5. Mendefenisikan Kewajiban Perawat : Kegiatan a. Memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai perawat profesional dalam menyelesaikan masalah atau situasi tersebut Sebagai perawat profesional, kita harus selalu menerapkan prinsip-prinsip moral yaitu: 1. Otonomi Sebagai perawat kita harus menghargai keputusan pasien dan keluarganya, tapi ketika Tn.A menuntut haknya dan keluarga menentangnya maka perawat harus mengutamakan Tn.A untuk mendapatkan informasi tentang kondisinya. 2. Benefesiens Sebagai perawat kita harus memberikan sesuatu yang baik dan tidak merugikan pasien. Sehingga perawat bisa memilih dua alternatif diatas mana yang paling baik dan tidak merugikan Tn.A 3. Justice Sebagai perawat kita harus melaksanakan konsep adil pada pasien, maka Tn.A seharusnya dapat mengetahui penyakitnya karena semua pasien mengetahui penyakit mereka. 4. Nonmalefisien Sebagai perawat keputusan yang dibuat seharusnya tidak membahayakan kondisi fisik dan psikis pasien. Maka alternatif yang diambil seharusnya tidak membahayakan untuk Tn.A. 5. Veracity Sebagai perawat kita harus menerapkan sikap jujur dalam praktik keperawatan. Untuk itu, perawat harus jujur dan tidak menutup-nutupi tentang penyakitnya kepada Tn.A.

6. Fidelity Sebagai perawat kita harus menepati janji dan komitmen pada pasien. Untuk itu, perawat harus menepati kesepakatan dengan Tn.A sebelum pemeriksaan bahwa Tn.A akan diberitahu tentang informasi penyakitnya jika pemeriksaan sudah selesai, walaupun hasil pemeriksaannya tidak seperti yang diharapkan. 7. Confidentiality Sebagai perawat kita harus menjaga kerahasiaan. Untuk itu perawat harus menghargai apa yang di putuskan oleh Tn.A dan merahasiakannya. b. Identifikasi berbagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang perawat profesional dalam menyelesaikan masalah atau situasi tersebut Dalam menyelesaikan masalah tersebut, perawat harus melaksanakan prinsipprinsip moral dan dalam menyampaikan informasi penyakit pada pasien harus menggunakan pendekatan-pendekatan serta komunikasi terapeutik , agar pasien bisa menerima dan memahami apa yang disampaikan perawat dengan baik. 6. Membuat Keputusan : Kegiatan a. Mempertimbangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan dan

konsekuensinya masing-masing Alternatif pertama : perawat akan memberi tahu pasien tentang penyakitnya dengan seizin dokter tapi menunggu pada saat kondisi pasien memungkinkan dan akan ditemani oleh keluarga. Alternatif kedua : perawat akan langsung memberi tahu pasien tentang penyakit sesaat setelah hasil pemeriksaan itu didapatkan dengan seizin dokter. b. Membuat keputusan yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah atau situasi tersebut dengan memperhatikan prinsip moral Berdasarkan prinsip-prinsip moral diatas alternatif yang dipilih adalah alternatif pertama karena pasien tetap memperoleh haknya sebagai pasien untuk memperoleh informasi tentang penyakitnya walaupun tidak dengan segera. Ini memenuhi prinsip moral otonomi, fidelity, veracity, justice, benefesiens. Selain itu juga alternatif kedua juga bersifat nomalefisiens yaitu tidak membahayakan pasien baik fisik maupun psikis, karena memberitahu pasien saat kondisi tubuh pasien sudah sedikit membaik dan saat memberitahukan informasi tersebut

perawat menggunakan komunikasi terapeutik dan ditemani oleh keluarga pasien.

KASUS 2 :
Seorang wanita berumur 50 tahun menderita penyakit kanker payudara terminal dengan metastase yang telah resisten terhadap tindakan kemoterapi dan radiasi. Wanita tersebut mengalami nyeri tulang yang hebat dimana sudah tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan ketika istirahat dan nyeri bertambah hebat saat wanita itu mengubah posisinya. Walapun klien tampak bisa tidur namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan keluarganya pun meminta untuk dilakukan penambahan dosis pemberian obat analgesik. Saat dilakukan diskusi perawat disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik dapat mempercepat kematian klien. PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK 1. Mengembangkan data dasar a. Orang yang terlibat Pasien Keluarga Perawat Dokter

b. Tindakan yang diusulkan Pasien : meminta diberikan obat analgesik. Keluarga : meminta untuk dilakukan penambahan dosisi dalam pemberian obat analgesik. Perawat : perawat memberitahukan bahwa pemberian obat analgesik dapat mempercepat kematian pasien. c. Maksud dari tindakan tersebut Pasien : agar dengan pemberian obat analgesik dapat mengurangi rasa nyeri tulang yag dia derita. Keluarga : agar pasien merasa tenang dan mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien. Perawat : apabila dilakukan penambahan dosis, maka dapat mempercepat kematian pasien dan ini juga melanggar hak azasi manusia.

d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan Pasien : dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pasien. Keluarga : apabila dilakukan penambahan dosis obat, dapat mempengaruhi kondisi fisik klien dan berujung kepada kematian. Perawat : apabila tidak dilakukan pemberian obat, pasien akan tetap merasakan nyeri dibagian tulang. 2. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut a. Lakukan analisis terkait situasi/kasus yang terjadi Penderitaan klien dengan kanker payudara yang sudah mengalami metastase mengeluh nyeri yang tidak berkurang dengan dosis morphin yang telah ditetapkan. Klien meminta penambahan dosis pemberian morphin untuk mengurangi keluhan nyerinya. Keluarga mendukung keinginan klien agar terbebas dari keluhan nyeri. Sedangkan perawat ragu untuk melakukan permintaan klien dann keluarga, karna perawat mengetahui bahwa tindakkan tersebut dapat menyebabkan kematian. b. Identifikasi berbagai masalah atau konflik yang terjadi dari kasus atau situasi tersebut. Penambahan dosis obat analgesik dapat mempercepat kematian klien. Apabila tidak memenuhi keinginan klien dan keluarga akan membuat keluarga pasien merasa kesal dan pasien akan tetap merasakan nyeri. 3. Membuat tindakan alternatif a. Identifikasi alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tidak menngikuti keinginan pasien dan keluarga tentang penambahan dosis obat analgesik, tetapi memberikan cara lain untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien. Seperti menarik nafas dalam yang akan menguranngi rasa nyeri yang dilami pasien. Mengikuti keinginan pasien tentang pemberian obat analgesik, setelah dilakukan diskusi dengan tim medis lain terkait dosis yang akan diberikan kepada pasien.

b. Identifikasi konsekuensi dari masing-masing alternattif tindakan tersebut. Konsekuensi dari tindakan alternatif pertama : Tidak mempercepat kematian pasien, klien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya, dan keinginan pasien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi. Konsekuensi dari tindakan alternatif kedua : Risiko mempercepat

kematian klien sedikit dapat dikurangi, Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari nyeri sehingga ia dapat cukup beristirahat Hak klien sebagian dapat terpenuhi, dan keluarganya dapat sedikit dikurangi. 4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat keputusan, karena dokterlah yang secara legal dapat memberikan ijin penambahan dosis morphin. Namun hal ini perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan dari penambahan dosis tersebut. Perawat membantu klien dan keluarga klien dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan keperawatan yang dapat mengobservasi mengenai respon nyeri, kontrol emosi dan mekanisme koping klien, mengajarkan manajemen nyeri, sistem dukungan dari keluarga, dan lain-lain. 5. Mendefenisikan kewajiban perawat Adapun kewajiban perawat : Membuat klien merasa nyaman dengan memberikan dukungan emosional dengan memeberikan support Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri / meningkatkan ambang nyeri Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya Tetap menerapkan prisip-prisip moral perawat Tetap memperhatikan hak-hak klien Kecemasan pada klien dan

6. Membuat keputusan a. Mempertimbangkan dan menganalisis alternatif tindakan dan konsekuensinya Dari alternatif tindakan yang ada masing-masing alternatif tindakan tersebut memiliki manfaat dan konsekuensi tertentu. Setelah dilakukan pertimbangan bahwa alternatif pertama lebih besar manfaatnya karena dengan manajemen nyeri yang diberikan oleh perawat dapat menegurangi rasa sakit pada klien dan kemungkinan kematian klien dapat diminimalisir. Tetapi apabila dilakukan alternatif ke dua ini masih menimbulkan kemungkinan mempercepat kematian pasien. b. Membuat keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memperhatikan prinsip moral berdasarkan pertimbangan dan memperhatikan prinsip-prinsip yang moral diputuskan untuk melakukan alternatif pertama karena telah memenuhi prinsip moral benefisiens, justice dan nonmalefisiens walaupun hak otonimynya tidak terpenuhi.

KASUS 3 :
Kembar siam lahir di manchester 8 november 2000. Nama yang sebenarnya tidak di umumkan, tetapi oleh pengadilan inggris untuk mudahnya diberi nama Mary dan Jodie. Dari segi medis, kondisi mereka sangat berat. Tulang pinggulnya mereka menempel dan tulang punggung beserta seliruh bagian bawah tubuh menyambung. Kaki-kaki ada pada tempatnya dalam posisi silang menyilang. Keadaan itu tampak pada gambar yang dikeluarkan oleh RS St. Marys. Jantung dan paru-paru mary tidak berfungsi, lagi pula otaknya tidak berkembang penuh. Jodie tampak dalam keadaan fisik normal, tetapi jantung dan paru-parunya mendapat beban berat. Karena harus menyediakan darah beroksigen juga untuk saudaranya. Menurut para dokter keadaan ini hanya bisa berlangsung tiga sampai enem bulan. Kalau keadaan ini dibiarkan lebih lama, dua-duanya akan meninggal dunia. Dengan demilian kasus kembar siam ini menimbulkan suatu dilema yang amat memilukan. Orang tua, staf medis, dan semua pihak yang terlibat dalam kasus ini menghadapi suatu pilihan yang sangat sulit. Jika Mary dan Jodie tidak di pisahkan, mereka dua-duanya meninggal. Jika mereka dipisahkan melalui operasi, mary pasti akan mati, karena ia tidak bisa benafas sendiri, sedangkan jodie mempunyai peluang baik untuk hidup dengan agak normal, walaupun dalam keadaan cacat dan harus menjalani banyak operasi lagi untuk sedikit demi sedikit membetullkan kondisi fisiknya.

Orang tua kedua bayi perempuan ini adalah pemeluk agama yang saleh. Mereka berpendapat, Mary dan Jodie sebaiknya tidak di pisahkan, karena cinta mereka untuk kedua anak ini sama besarnya. Merka tidak bisa menerima jika yang paling lemah harus di korbankan kepada yang kuat. Karena itu mereka memilih menyerahkan seluruh masalah ini kepada kehendak Tuhan. Staf medis di RS Marys tidak setuju. Sesuai dengan naluri kedokteranyang umum, mereka beranggapan bahwa kehidupan yang mungkin tertolong, harus di tolong juga. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH A.Identifikasi data dasar 1. Orang yang terlibat : Bayi kembar siam : Mary dan Jodie Dokter Tenaga medis lainya : Perawat Orang tua

2. Tindakan diusulkan : Orang tua terhadap anaknya : Orang tua berpendapat mary dan Jodie

sebaiknya tidak dipisahkan, mereka memilih menyerahkan seluruh masalah ini kepada kehendak tuhan. Staf medis terhadap klien : Menginginkan untuk dilakukan operasi pemisahan terhadap mary dan jodir karena mereka beranggapan bahwaa kehidupan yang mungkin tertolong harus ditolong juga. 3. Maksud dari tindakan : Orang tua kepada Klien : Karena kasih sayang orang tua kepada kedua anaknya sehingga orang tua tidakmenginginkan salah satu dari anaknya meninggal Staf Medis terhadap Klien : Untuk menolong nyawa dari salah satu bayi tersebut yang mungkin masih bisa diselamatkan hidupnya. 4. Konsekuensi dari tindakan : Orang tua terhadap klien : Apabila keinginan orang tua untuk tidak dilakukan pemisahan pada bayinya,Kemungkinan nyawa dari kedua bayi ini tidak bisa diselamaatkan . Apabila keinginan orang tua tidak dilakukan maka hal itu berarti kita telahmelanggar keputusan yang telah diambil oleh orang tua selaku pangambil keputusan atas bayinya

Staff medis terhadap klien : apabila keputusan staf medis dilakukan untuk dilakukan pemisahan salah satu nyawa dari bayi harus dikorbankan untuk menyelamatkan salah satu darinya. Apabila keputusan tidak dilakukan maka kemungkinan nyawa dari kedua bayi ini tidak akan bisa diselamatkan.

B. Identifikasi konflik 1. Analisis kasus Staff medis menginginkan untuk dilakukan operasi pemisahan pada kebdua bayi ini,karena salah satu dari bayi ini memiliki peluang hidup yang lebih besar dari salah satu bayi tersebut. Orang tua tidak menginginkan untuk dilakukan pemisahan pada kedua bayinya,karena orang tua sangat menyayangi kedua bayinya dan tidak ingin bila salah satu dari bayinya meninggal. 2. Identifikasi konflik atau masalaah yang akan terjadi pada kasus Dari analisis kasus diatas didapatkan bahwa terjadi dilema etik dalam pengambilan keputusan apa yang harus dilakukan antara menyelamatkan salah satu dari nyawa bayi tersebut dengan melakukan operasi pemisahan atau tidak dilakukan operasi sama sekali karena tidak menginginkan salah satu dari bayi tersebut meninggal namun di sisi lain kedua nyawa bayi tersebut tidak akan tertolong bila tidak dilakukan operasi pemisahan.

C. Membuat tindakan alternative 1. Alternatif untuk menyelesaikan masalah Tetap dilakukan operasi pemisahan dengan Memberikan pengertian pada orang tua bayi tersebut apa yang akan terjadi bila dilakukan operasi pemisahan. Meyakinkan orang tua bahwa operasi ini dilakukan demi kebaikan bayi tersebut. Karena bila tidak dilakukan akan terjadi penyesalan. 2. Konsekuensi Dampak dari alternative diatas adalah penolakan dari orang tua terhadap keputusan staf medis untuk dilakukan operasi pemisahan pada bayi kembar tersebut.

D. Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan dilakukan oleh staf medis dengan memberikan pengertian kepada orang tua bayi sebagai wali dari pasien yang masih Bayi. E. Mendefinisikan kewajiban perawat 1. Memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai perawat professional Sebagai seorang perawat profesional kita haruslah selalu menerapkan prinsip moral dalam menyelesaikan masalah etik,seperti: Prinsip otonomi,yaitu: perwat harus selalu menghargai keputusan klien. Paada kasus ini staf medis harus tetap menhargai keputusan dari orang tua bayi kembar tersebut. Prinsip benefisiensi,yaitu: perawat harus melakukan tindakan yang bermanfaat untuk klien. Pada kasus ini perawat haruslah melakukan tindakan yang bermanfaat demi kepentingan klien. Justice(Keadilan),yaitu: Perawat harus memberikan keadilan terhadap hak-hak yang harus didapatkan klien. Nonmalefisisen : perawat harus tetap melakukan tindakan yang tidak akan membahayakan klien baik fisik maupun dari segi mental. Veracity : perawat harus bersikap jujur Fidelity : perawat harus menepati janji dan komitmen. Confidentiality : perawat harus bisa merahasiakan masalah klien.

2. Identifikasi kewajiban yang harus dilakukan oleh perawat professional Adapun kewajiban perawat : Membuat klien merasa nyaman dengan memberikan dukungan emosional dengan memeberikan support Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri / meningkatkan ambang nyeri Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya Tetap menerapkan prisip-prisip moral perawat Tetap memperhatikan hak-hak klien

F. Membuat keputusan 1. Mempertimbangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan dan konsekuensinya masing-masing Dari alternatif diatas : tim medis tetap akan melakukan operasi pemisahan dengan meyakinkan pihak keluarga walaupun terjadi penolakan dari keluarga pasien. 2. Membuat keputusan yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah atau situasi tersebut dengan memperhatikan prinsip moral Berdasarkan dengan alternatif-alternatif diatas serta mempertimbangkan prinsip-prinsip moral di putuskan untuk mengoperasi bayi kembar tersebut dengan menyelamatkan nyawa jodi karena alternatif dari tim medis telah memenuhi prinsip moral yaitu: Otonomi (mendahulukan hak pasien) pasien disini mary dan jodi karena jodi bisa bertahan hidup jika dilakukan operasi. Benefiensi (kemanfaatan) : dengan melakukan operasi pemisahan akan menyelamatkan nyawa jodi. Justice (keadilan) : semua orang punya hak untuk hidup, begitu pun jodi. Nonmalefisiens (tidak membahayakan) : walaupun dengan dilakukan operasi akan membahayakan nyawa mary, tapi jika tidak dilakukan operasi ini akan membahayakan nyawa kedua bayi tersebut. Jadi dalam pilihan yang buruk diambil pilihan yang kurang

buruk(membahayakan).

BAB 4 PENUTUP
Kesimpulan : Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan interaksi antara klien dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya, dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi permasalah klien. Dalam membuat keputusan terhadap masalah dilema etik, perawat dituntut dapat mengambil keputusan yang menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak bertentang dengan nilai-nilai yang diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan mutu asuhan keperawatan dapat dipertahankan. Perawat harus berusaha meningkatkan kemampuan profesional secara mandiri atau secara bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan suatu dilema etik.

Daftar pustaka:

Tappen, M.R., Sally A. Weiss, Diane K.W. (2004). Essentials of Nursing Leadership and Management. 3 rd Ed. Philadelphia : FA. Davis Company. Suhaemi, M.E. (2004). Etika Keperawatan: aplikasi pada praktik. Jakarta: EGC Kozier, B., Erb G., Berman, A., & Snyder S. J. (2004). Fundamentalsof Nursing Concepts Process and Practice. (7th ed). New Jerney: Pearson Education Line. Basmanelly,dkk.(2006).dilema etik (makalah).jakarta.Pogram magister

keperawatan,kekhususan keperawatan jiwa,FIK UI Efendi,ferry.,makhfudli.2009.keperawatan kesehatan komunitas ; teori dan praktik dalam keperawatan.jakarta:salemba medika Sudarma,momon.2008.sosiologi untuk kesehatan.jakarta:salemba medika Hegner,barbara r.2003.nursing assistant : a nursing process approach,6/e.jakarta:EGC Thompson and HO Thompson,Ethic ini Nursing, New York: MacMilan Publishing Co. Inc., 1981, diadaptasikan oleh Kelly, 1987. dalam Priharjo, 1995 Priharjo,robert.2008.pengantar etika keperawatan. http://id.scribd.com/doc/20711284/Non-Malefisence http://arifinjavisarqi.blogspot.com/2012/04/masalah-etika-keperawatan-di-tinjau.html http://zaifbio.wordpress.com/2011/05/21/kasus-yang-berhubungan-dengan-pemecahandilema-etik/ http://nersdody.blogspot.com/2012/03/etik-dilema-etik-dan-contoh-kasus.html