Anda di halaman 1dari 2

Hidrolisis ester apabila hanya digunakan air murni, maka reaksi akan berjalan lambat.

Oleh karena itu, digunakan katalis asam. Katalis asam yang digunakan pada percobaan ini adalah HCl 0,1 N dan ester yang digunakan adalah metil asetat (CH3COOCH3). Hidrolisis metil asetat mengunakan katalis HCl akan menghasilkan asam asetat, metanol, dan katalis. Reaksi yang terjadi adalah : (Fessenden 1996) Reaksi hidrolisis yang terjadi bersifat reversible sehingga agar reaksi berjalan sempurana maka air dan asam yang digunakan harus berlebih. Reaksi hidrolisis juga dipengaruhi suhu dan pada percobaan ini dilakukan hidrolisis ester dengan pemanasan dan tanpa pemanasan Penambahan asam dan pemanasan mempengaruhi laju reaksi hidrolisis ester. Laju reaksi hidrolisis ester yang dikatalisis asam dapat dituliskan sebagai berikut : V=Kas [H+] [ester] Dengan V= laju reaksi hidrolisis ester Kas = tetapan laju reaksi dengan katalis asam [H+] = konsentrasi asam [ester]= konsentrasi ester Berdasarkan persamaan tersebut laju reaksi berbanding lurus dengan K. semakin besar K maka laju reaksi akan semakin cepat. Berdasarkan percobaan diperoleh persamaan garis untuk reaksi hidrolisis tanpa pemasan, yaitu .., sehingga didapatkan nilai Vo sebesar. Dan Ki sebesar.. , sedangkan persamaan garis untuk reaksi hidrolisis ester dengan pemanasan, yaitu . Sehingga diperoleh nilai Vo =. Dan K2 sebesar berdasarkan hasil tersebut laju reaksi hidrolisis tanpa pemanasan lebih cepat daripada hidrolisis dengan pemanasan. Berdasarkan teori k dipengaruhi oleh suhu : ln K = -Ea/RT + ln A (Atkins 1996) Suhu juga berpengaruh terhadap laju reaksi. Semakin tinggi suhu, maka energi kinetik molekul akan meningkat, sehingga peluang untuk bertumbukan semakin besar dan laju rekasi semakin cepat (keenan 1984). Akan tetapi, berdasarkan percobaan hidrolisis ester dengan pemanasan reaksinya lebih lambat jika dilihat dari nilai k yang lebih kecil. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak konstannya suhu selama pemanasan. Laju reaksi dapat ditentukan jika suhu yang digunakan konstan. Penentuan laju reaksi pada percobaan ini menggunakan titrasi dengan NaOH. NaOH sebelumnya harus distandardisasi terlebih dahulu karena bersifat higroskopis dan tidak stabil ketika disimpan (harjadi 1986).V diperoleh dengan cara memanaskan campuran sisa samapai suhu 80C. Vo tidak bisa diukur secara langsung karena reaksi yang menghasilkan CH3COOH belum terjadi. Setelah diperoleh tetapan laju reaksi untuk kedua reaksi hidrolisis, maka dapat ditentukan energi aktivasi. Energi aktivasi adalah energi minimum yang dibutuhkan agar suatu reaksi dapat berlangsung. Berdasarkan percobaan diperoleh Ea sebesar nilai negatif berarti reaksi telah selesai atau telah terjadi, disebabkan pemanasan yang melewati suhu yang seharusnya. Kesimpulan Reaksi hidrolisis ester menggunakan katalis asam agar reaksi berlangsung lebih cepat. Suhu juga mempengaruhi laju reaksi. Berdasarkan percobaan diperoleh K1 sebesar dan K2 sebesar,hal ini menandakan rekais hidrolisis dengan pemanasan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan tanpa pemanasan. Hal ini dapat disebakan oleh kesalahan yang terjadi saat praktikum seperti suhu yang tidak konstan.