Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis.

Penyakit malaria ini disebabkan dari gigitan nyamuk Anopheles, sehingga parasit plasmodium dapat masuk kedalam tubuh manusia. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembangbiak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktorfaktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah di pemukiman manusia, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol. B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah malaria ini adalah: 1. Agar pembaca mengetahui penyakit tentang malaria. 2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara-cara pencegahan penyakit malaria. 3. Agar pembaca dapat melakukan upaya penanganan terhadap pasien malaria. 4. Agar pembaca mengetahui jenis obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati penyakit malaria.

BAB II TINAJUAN PUSTAKA A. Sejarah Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani. Klinik penyakit malaria adalah khas, mudah dikenal, karena demam yang naik turun dan teratur yang disertai menggigil, maka pada waktu itu sudah dikenal febris tersiana dan febris kuartana. Disamping itu terdapat kelainan pada limpa, yaitu splenomegali: limpa membesar dan menjadi keras, sehingga dahulu penyakit malaria disebut demam kura. Meskipun penyakit ini telah diketahui telah lama, penyebabnya belum diketahui. Dahulu diduga bahwa penyakit ini disebabkan oleh hukuman dari dewa-dewa karena karena waktu itu ada wabah disekitar Roma. Ternyata penyakit ini banyak terdapat didaerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk disekitarnya, maka penyakitnya disebut malaria (mal area = udara buruk = bad air). Baru pada abad ke-19, Laverant melihat bentuk pisang dalam darah seorang penderita malaria. Kemudian diketahui bahwa malaria ditularkan oleh nyamuk (Ross, 1897) yang banyak terdapat dirawa-rawa. B. Pengertian Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera, dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium dan mudah dikenali gejala meriang ( panas dingin menggigil ) serta demam berkepanjangan. Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria /protozoa genus plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk anopeles betina ditandai dengan demam, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia, ( WHO. 1981 ). Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. (Drs. Bambang Mursito, Apt.M.Si.2002). Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus plasmodium yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Istilah malaria diambil dari dua kata dari bahasa Itali, yaitu Mal (buruk) dan area (udara) atau udara buruk, karena dahulu banyak terdapat didaerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini juga mempunyai beberapa nama lain seperti demam roma, demam tropik, demam pantai, demam charges, demam kura dan

paludisme (Arlan Prabowa,2004). Malaria adalah penyakit yang terjadi bila eritrosit di inovasi oleh salah satu dari empat spesies parasit protozoa plasmodium (Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15, Volume 2. 2002). C. Hospes Parasit malaria termasuk genus Plasmodium. Pada manusia terdapat 4 spesies: Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium Ovale. Pada kera ditemukan spesies-spesies parasit malaria yang hampir sama dengan parasit manusia, antara lain: Plasmodium cynomology menyerupai Plasmodium vivax, Plasmodium knowlesi menyurupai Plasmodium malariae, Plasmodium rodhaini pada sipanse di Afrika dan Plasmodium brasilianum pada kera di Amerika selatan sama dengan Plasmodium malariae pada manusia. Manusia dapat diinfeksi oleh parasit malaria kera secara alami dan secara eksperimental, begitupun sebaliknya dapat terjadi. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Anopheles, terutamanya Anopheles sundaicus di Asia dan Anopheles gambiae di Afrika. Malaria adalah sejenis penyakit menular yang dalam manusia sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara. D. Distribusi Geografik Malaria ditemukan pada 64o Lintang Utara (Archangel di Rusia) sampai 32 o Lintang Selatan (Cordoba di Argentina), didaerah rendah 400m di bawah permukaan laut (Laut mati) sampai 2600m diatas permukaan laut (Londiani di Kenya) atau 2800m (Cochabamba di Bolivia). Antara batas-batas garis lintang dan garis bujur terdapat daerah-daerah bebas malaria. Di Indonesia penyakit malaria ditemukan tersebar diseluruh kepulauan, terutama dikawasan timur Indonesia. E. Klasifikasi Plasmodium yang menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies

Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae , dan Plasmodium knowlesi. Ada empat jenis Plasmodium yang dapat menyebabkan penyakit malaria, yaitu sebagai berikut : a. Plasmodium Vivax, menyebabkan malaria vivax yang disebut pula sebagai malaria tertiana.

Plasmodium vivax adalah protozoa parasit dan patogen pada manusia. P.vivax adalah salah satu dari empat spesies parasit malaria yang umunya menyerang manusia yang dibawa oleh nyamuk Anopheles betina. Morfologi Plasmodium vivax 1. Trofozoit muda (bentuk cincin). 2. Trofozoit lanjut dengan titik-titik Schffner (eritrosit membesar). 3. Trofozoit lanjut dengan sitoplasma ameboid (sangat khas untuk P. vivax). 4. Trofozoit lanjut dengan sitoplasma ameboid. 5. Skizon matang dengan merozoit (18) dan pigmen yang menggumpal. 6. Mikrogametositr dengan kromatin yang tersebar. 7. Makrogametosit dengan kromatin yang kompak.

b. Plasmodium falciparum, menyebabkan malaria falciparum yang dapat pula disebut sebagai malaria tersiana. Morfologi Plasmodium falciparum 1. Trofozoit muda (bentuk accole atau applique ). 2. Trofozoit muda (salah satu cincin seperti headphone/bintik kromatin ganda). 3. Trofozoit muda dengan titik-titik Maurer. 4. Trofozoit lanjut dengan cincin yang besar dan titik-titik Maurer. 5. Skizon matang dengan merozoit (24). 6. Mikrogametosit dengan kromatin yang tersebar. 7. Makrogametosit dengan kromatin yang kompak.

c.

Plasmodium malariae, menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana karena serangan demam berulang pada tiap hari keempat. Morfologi Plasmodium malariae 1. Trofozoit muda (bentuk cincin). 2. Trofozoit muda dengan sitoplasma yang tebal. 3. Trofozoit muda (bentuk pita). 4. Trofozoit lanjut (bentuk pita) dengan banyak pigmen. 5. Skizon matang dengan merozoit (9) tersusun seperti roset. 6. Mikrogametosit dengan kromatin yang tersebar. 7. Makrogametosit dengan kromatin yang kompak.

d. Plasmodium ovale, menyebabkan malaria ovale dengan gejala mirip malari vivax. Malaria ini merupakan jenis ringan dan dapat sembuh sendiri. Morfologi Plasmodium ovale 1. Trofozoit muda (bentuk cincin) dengan titik-titik Schffner 2. Trofozoit muda (eritrosit membesar) 3. Trofozoit lanjut dengan tepi berumbai (fimbriated) 4. Skizon muda dengan eritrosit yang tidak teratur 5. Skizon matang dengan merozoit (8) tersusun tidak teratur 6. Mikrogametosit dengan kromatin yang tersebar 7. Makrogametosit dengan kromatin yang kompak

F. Siklus Hidup A. Proses Kehidupan Plasmodium Untuk proses hidupnya plamodium melalui beberapa tahap: (1) Plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan dari hemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah satu indikator dalam identifikasi. (2) Pertumbuhan, yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. Perubahan ini mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies, menjadi bervariasi.Setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium parasit yang ada pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah. Ini berkaitan dengan jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada gambar morfologi parasit yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang berbeda. (3) Pergerakan, Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada Plasmodium vivax, penyebaran sitoplasma ini lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk penyebaran ini dikanal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bantuk). (4) Berkembang biak, artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi bebrapasel baru. Ada dua macam perkembangbiakan sel pada plasmodium, yaitu : 1. Fase Seksual (sporogoni)

Pembiakan ini terjadi di dalam tubuh nyamuk melalui proses sporogoni. Bila mikrogametosit (sel jantan) dan makrogametosit (sel betina) terhisap vektor bersama darah penderita, maka proses perkawinan antara kedua sel kelamin itu akan terjadi. Dari proses ini akan terbentuk zigot yang kemudian akan berubah menjadi ookinet dan selanjutnya menjadi ookista. Terakhir ookista pecah dan membentuk sporozoit 6

yang tinggal dalam kelenjar ludah vektor. Perubahan dari mikrogametosit dan makrogametosit sampai menjadi sporozoit di dalam kelenjar ludah vektor disebut masa tunas ekstrinsik atau siklus sporogoni. Jumlah sporokista pada setiap ookista dan lamanya siklus sporogoni, pada masing-masing spesies plasmodium adalah berbeda, yaitu: Plasmodium vivax: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 30-40 butir dan siklus sporogoni selama 8-9 hari. Plasmodium falciparum: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 10-12 butir dan siklus sporogoni selama 10 hari. Plasmodium malariae: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 6-8 butir dan siklus sporogoni selama 26-28 hari. 2. Fase Aseksual (skizogoni) Pembiakan ini terjadi didalam hospes vertebrata, fase ini mempunyai dua daur, yaitu: A. Daur eritrosit dalam darah (skizogoni eritrosit) B. Daur dalam parenkim hati (skizogoni eksoeritrosit) atau stadium jaringan. Terbagi lagi menjadi dua, yaitu : Skizogoni praeritrosit (skizogoni eksoeritrosit primer) yakni setelah sporozoit masuk ke dalam sel hati. Skizogoni eksoeritrosit sekunder, yakni ketika berlangsung siklus praeritrosit ulangan dalam sel hati. Hasil penelitian pada malaria primata menunjukkan bahwa ada dua populasi sporozoit yang berbeda, yaitu sporozoit yang secara langsung mengalami pertumbuhan dan sporozoit yang tetap tidur (dormant) selama periode tertentu (disebut hipnozoit), sampai menjadi aktif kembali dan mengalami pembelahan skizogoni. Pada infeksi P.falciparum dan P.malariae hanya terdapat satu generasi aseksual dalam hati sebelum daur dalam darah dimulai; sesudah itu daur dalam hati tidak dilanjutkan kembali. Pada infeksi P.vivax dan P.ovale daur eksoeritrosit berlangsung terus selama bertahun-tahun melengkapi perjalanan penyakit yang dapat berlangsung lama (bila tidak diobati) disertai banyak relaps.

B. Parasit dalam Hospes Vertebrata (Hospes Perantara) Fase Jaringan

Bila nyamuk Anopheles betina yang mengandung parasiit malaria dalam kelenjar liurnya menusuk hospes, sporozoit yang didalam air liurnya masuk melalui probosis yang ditusukkan kedalam kulit. Sporozoit segera masuk kedalam aliran darah dan jam sampai 1 jam masuk kedalam sel hati. Banyak yang dihancurkan oleh fagosit, tetapi sebagian masuk kedalam sel hati dan berkembangbiak. Proses ini disebut skizogoni praeritrosit. Inti parasit membelah diri berulang-ulang dan skizon jaringan (skizon hati) berbentuk bulat atau lonjong, menjadi besar sampai berukuran 4,5 mikron. Pembelahan inti disertai oleh pembelahan sitoplasma yang mengelilingi setiap inti sehingga terbentuk beribu-ribu merezoit berinti satu dengan ukuran 1,0-1,8 mikron. Inti sel hati terdorong ketepi tetapi tidak ada reaksi disekitar jaringan hati. Fase ini berlangsung beberapa waktu, tergantung dari spesies parasit malaria, seperti terlihat pada tabel 1.

Spesies Plasmodium vivax Plasmodium falciparum Plasmodium malariae

Fase Praeritrosit 6 - 8 hari 5 - 7 hari

Besar skizon 45 mikron 60 mikron

Jumlah merezoit 10.000 40.000

12 -6 hari

45 mikron

2.000

Plasmodium ovale

9 hari

70 mikron

15.000

Fase aseksual dalam darah

Waktu antara permulaan infeksi samapi parasit malaria ditemukan dalam darah tepi disebut pra-paten. Masa ini dapat dibedakan dengan masa tunas/inkubasi yang berhubungan dengan timbulnya gejala klinis penyakit malaria. Merezoit yang dilepaskan oleh skizon jaringan mulai menyerang eritrosit. Invasi merezoit bergantung pada interaksi reseptor pada eritrosit, glikoforin, dan merezoit sendiri. Sisi anterior merezoit melekat pada membran eritrosit, kemudian membran merezoit menebal dan bergabung dengan membran plasma eritrosit, lalu melakukan invaginasi, membentuk vakuol dengan parasit berada didalamnya. Pada saat merezoit masuk, selaput permukaan dijepit sehingga lepas. Seluruh proses ini berlangsung selam kurang lebih 30 menit. Stadium termuda dalam darah berbentuk bulat, kecil; beberapa diantaranya mengandung vakuol sehingga sitoplasma terdorong ketepi dan inti berada dikutubnya. Oleh karena sitoplasma mempunyai bentuk lingkaran, maka parasit muda disebut cincin. Selama pertumbuhan, bentuknya berubah menjadi tidak teratur. Stadium muda ini disebut trofozoit. Parasit mencernakan hemoglobin dalam eritrosit dan sisa metabolismenya berupa pigmen malaria (hemozin dan hematin). Pigmen yang mengandung zat besi dapat dilihat dalam parasit sebagai butir-butir berwarna kuning tengguli hingga tengguli hitam yang makin jelas pada stadium lanjut. Setelah masa pertumbuhan, parasit berkembangbiak secara aseksual melalui proses pembelahan yang disebut skizogoni. Inti parasit membelah diri menjadi sejumlah inti yang lebih kecil. Kemudian dilanjutkan pembelahan sitoplasma untuk membentuk skizon. Skizon matang mengandung bentukbentuk bulat kecil, terdiri dari inti dan sitoplasma yang disebut merezoit. Setelah proses skizogoni selesai, eritrosit pecah dan merezoit dilepaskan kedalam aliran darah (sporulasi). Kemudian merezoit memasuki eritrosit baru dan generasi lain dibentuk dengan cara yang sama. Pada daur eritrosit, skizogani berlangsung secara berulangulang selama infeksi dan menimbulkan parasitemia yang meningkat dengan cepat sampai proses dihambat oleh respon imun hospes. Perkembangan parasit dalam eritosit menyebabkan perubahan pada eritrosit, yaitu menjadi lebih besar, pucat dan bertitik-titik pada P.vivax. Perubahan ini khas untuk spesia parasit. Periodisitas skizogoni berbeda-beda tergantung pada spesiesnya. Daur skizogoni (fase eritrosit) berlangsung sselam 48 jam pada P.vivax dan P.ovale, kurang

dari 48 jam pada P.falciparum dan 72 jam pada P.malariae. pada stadium permulaan infeksi dapat ditemukan beberapa kelompok parasit yang tumbuh pada saat berbedabeda sehungga gejala demam tidak menunjukan periodisitas yang khas. Kemudian periodisitas menjadi lebih sinkron dan gejala demam memberi gambaran tersian atau kuartan. Fase seksual dalam darah

Setelah 2 atau 3 generasi (3-15 hari) merezoit dibentuk, sebagian merezoit tumbuh menjadi bentuk seksual. Proses ini disebut gametogoni (gametogenesis). Bentuk seksual tumbuh tetapi intinya tidak membelah. Gametosit mempunyai bentuk yang berbeda pada berbagai spesies: pada P.falciparum bentuknya seperti sabit/pisang bila sudah matang; pada spesies lain bentuknya bulat. C. Parasit dalam Hospes Invertebrata (Hospes Definitif) Eksflagelasi

Bila nyamuk Anopheles betina menghisap darah hospes manusia yang mengandung parasit malaria, parasit aseksual dicerna bersama dengan eritrosit, tetapi gametosit dapat tumbuh terus. Inti pada mikrogametosit membelah menjadi 4-8 yang masingmasing menjadi bentuk panjang seperti benang (flagel) dengan ukuran 20-25 mikron, menonjol keluar dari sel induk, bergerak-gerak sebentar dan kemudian melepaskan diri. Proses eksflagelasi ini hanya berlangsung beberapa menit pada suhu yang sesuia dan dapat dilihat denga mikroskop pada sediaan darah basah yang masi segar tanpa diwarnai. Flagel atau gamet jantan disebut mikrogamet; makrogametosit mengalami proses pematangan (maturasi) dan menjadi gamet betina atau makrogamet. Dalam lambung nyamuk mikrogamet tertarik oleh makrogamet yang membentuk tonjolan kecil tempat masuk mikrogamet sehingga pembuahan ndapat berlangsung. Hasil pembuahan disebut zigot. Sporogoni

Pada permulaan, zigot berbentuk bulat tidak bergerak, tetapi dalam waktu 18-24 jam menjadi bentuk panjang dan dapat bergerak; pada stadium ini cacing berukuran panjang 8-24 mikron dan disebut ookinet. Ookinet kemudian menembus dinding lambung melalui sel epitel kepermukaan luar lambung dan menjadi bentuk bulat, disebut ookista. Jumlah ookista dalam lambung Anopheles berkisar antara beberapa buah sampai beberapa ratus buah. Ookista makin lama makin membesar sehingga merupakan bulatan-bulatan semi transparan, yang berukuran 40-80 mikron dan 10

mengandung butir-butir pigmen. Letak dan besar butir pigmen dan warnanya khas untuk tiap spesies Plasmodium. Bila ookista makin membesar sehingga berdiameter 500 mikron dan intinya membelah-belah, pigmen tidak tampak lagi. Inti yang sudah membelah-belah ini dikelilingi oleh protoplasma yang merupakan bentuk-bentuk yang kedua ujungnya runcing dengan inti ditengahnya (sporozoit) dan panjangnya 10-15 mikron. Kemudian ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan bergerak dalam rongga badan nyamuk untuk mencapai kelenjar liur. Nyamuk betina sekarang menjadi infektif, bila nyamuk ini menghisap darah setelah menusuk kulit manusia, sporozoit dimasukkan kedalam luka tusuk dan mencapai aliran darah hospes perantara. Sporogoni yang dimulai dari pematangan gametosit sampai menjadi sporozoit infektif, berlangsung selam 8 35 hari, bergantung pada suhu luar dan spesies parasit. G. Cara Infeksi Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liurnya, disebut masa tunas ekstrisik. Sporozoit adalah bentuk infektif. Infektif dapat terjadi dengan dua cara, yaitu 1) secara alami melalui vektor, bila sporozoit dimasukkan kedalam badan manusia dengan tusukkan nyamuk dan 2) secara induksi ( induced), bila dalam aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja masuk dalam badan manusia melalui darah, misalnya dengan tranfusi, suntikan atau secara kongenital (bayi baru lahir mendapat infeksi dari ibu yang menderita malaria melalui darah plasenta), atau secara sengaja untuk pengobatan berbagai penyakait (sebelum perang dunia II); demam yang timbul dapat menunjang pengobatan berbagai penyakit, seperti leus, dan sindrom nefrotik. H. Patologi dan Gejala Klinis Perjalanan penyakit malaria terdiri dari serangan demam yang disertai oleh gejala lain diselingi oleh periode bebas penyakit. Gejala khasnya adalah periodisitasnya. Masa tunas intrinsik pada malaria adalah waktu antara sporozoit masuk dalam badan hospes sampai timbulnya gejala demam, biasanya berlangsung antara 8-37 hari, tergantung pada spesies parasit (terpendek untuk P.falciparum, terpanjang untuk P.malariae), pada beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya ataau pada derajat resistensi hospes. Disamping itu juga tergantung pada cara infeksi, yang mungkin disebabkan oleh tusukan nyamuk atau secara induksi, misalnya melalui transfusi darah yang mengandung stadium aseksual. Masa prapaten berlangsung sejak saat infeksi sampai ditemukan parasi malaria dalam darah untuk pertama kali, karena jumlah parasit telah melewati ambang 11

mikroskopik(microscopic thershold). Masa tunas intrinsik parasit malaria yang ditularkan oleh nyamuk kepada manusia adalah 12 hari untuk malaria falsiparum, 13-17 hari untuk malaria vivaks dan ovale dan 28-30 hari untuk malaria malariae (kuartana). Gejala serangan malaria pada penderita yaitu: a. Gejala klasik, biasanya ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan (immunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan: menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya sizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat antigenik yang menimbulkan mengigil-dingin. demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita mengigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajad celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5 persen) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajad celcius. Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah. Kadang-kadang dalam keadaan berat, keringat sampai membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali. b. Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria: Demam Menggigil Berkeringat Dapat disertai dengan gejala lain: Sakit kepala, mual dan muntah. Gejala khas daerah setempat: diare pada balita (di Timtim), nyeri otot atau pegalpegal pada orang dewasa (di Papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di Yogyakarta). c. Gejala malaria berat atau komplikasi, yaitu gejala malaria klinis ringan diatas dengan disertai salah satu gejala di bawah ini: Gangguan kesadaran (lebih dari 30 menit) Kejang, beberapa kali kejang Panas tinggi diikuti gangguan kesadaran Mata kuning dan tubuh kuning Perdarahan di hidung, gusi atau saluran pencernaan Jumlah kencing kurang (oliguri) Warna urine seperti I tua Kelemahan umum (tidak bisa duduk/berdiri) 12

Nafas sesak d. Kadar darah putih, leukosit, cenderung meningkat. Jika tidak segera diobati biasanya akan timbul jaundice ringan (sakit kuning) serta pembesaran hati dan limpa. e. Kadar gula darah rendah. f. Jika sejumlah parasit menetap di dalam darah kadang malaria bersifat menetap. Menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa pahit pada lidah, lemah, sertai demam. Gejala malaria berdasarkan jenis malaria antara lain: a. Gejala Malaria Vivax & Ovale Gejala yang terlihat sangat samar; berupa demam ringan yang tidak menetap, keringat dingin, dan berlangsung selama 1 minggu membentuk pola yang khas. Biasanya demam akan terjadi antara 1 8 jam. Setelah demam reda, pengidap malaria ini merasa sehat sampai gejala susulan kembali terjadi. Gejala jenis malaria ini cenderung terjadi setiap 48 jam. b. Gejala Malaria Falciparum Gejala awal adalah demam tinggi, suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun. Serangan bisa berlangsung selama 20 36 jam, dan penderita mengalami sakit kepala hebat. Setelah gejala utama mereda, pengidap akan merasa tidak nyaman. c. Gejala Malaria Malariae (kuartana) Suatu serangan seringkali dimulai secara samar-samar. Serangannya menyerupai malaria vivax, dengan selang waktu setiap 72 jam. I. Diagnosis dan Patofisiologi

A. Diagnosis Diagnosis pasti infeksi malaria dilakukan dengan menemukan parasit dalam darah yang dengan mikroskop. Peranan diagnosis laboratorium terutama untuk menunjang penanganan klinis. Penunjang laboratorium adalah: 1) untuk diagnosis pada kegagalan pada obat; 2) untuk penyakait berat dengan komplikasi; 3) untuk mendeteksi penyakit tanpa penyulit didaerah tidak stabil atau daerah transmisi rendah dan penting untuk daerah yang ada infeksi P. Falciparum dan P.vivax sebab pengobatanya berbeda.

13

1. Diagnosis dengan mikroskop cahaya Sedian darah dengan pulasan Giemsa merupakan dasar untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Pemeriksaan sediaan darah tebal dilakukan dengan memeriksa 100 lapangan mikroskopik dengan pembesaran 500-600 yang setara dengan 0,20l darah. Jumlah parasit dihitung per lapangan mikroskopik. Metode semi-kuantitatif untuk hitung parasit pada sediaan darah tebal adalah sebagai berikut: + ++ +++ ++++ = 1-10 parasit per 100 lapangan = 11-100 parasit per 100 lapangan = 1-10 parasit per 1 lapangan = >10 parasit per 1 lapangan

+++++ = >100 parasit per 1 lapangan, setara dengan 40000 parasit/ l Perhitungan parasit dapat juga dilakukan dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit dalam sedian darah tebal dan jumlah darah leukosit ratarata 8000/l darah, sehingga densitas parsit dapt dihitung sebagai berikut: Parasit/l darah = jumlah parasit yang dihitung x 8000 jumlah leukosit yang dihitung (200)

2. Teknik mikroskopik lain a. Teknik QBC (quntitative buffy coat) dengan pulasan jingga akridin yang berflouresensi dengan pemeriksaan mikroskop flouresen merupakan salah satu hasil usaha ini, tetapi masih belum dapat digunakan secara luas. b. Teknik Kawamoto merupakan modifikasi teknik dengan pulasan jingga akridin yang memulas sediaan darah bukan Giemsa tetapi dengan jingga akridin dan diperiksa dengan mikroskop cahaya yang diberi lampu halogen. 3. Metode lain tanpa menggunakan mikroskop

14

Metode ini mendeteksi protein asam nukleat yang berasal dari parasit. a. Teknik dik-stick b. Metode yang berdasarkan deteksi asam nukleat dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu: hibridisasi DNA atau RNA. B. Patofisiologi Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin berhubungan dengan halhal sebagai berikut: 1. Penghancuran eritrosit

Eritrosit yang dihancurkan tidak saja oleh pecahnya eritrosit yang mengandung parasit, tetapi juga oleh fagositosis eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intravaskular yang berat, dapat terjadi hemoglobinuria dan dapat mengakibatkan kegagalan ginjal. 2. Mediator endotoksin-makrofag

Pada skizogani, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitive endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang rupanya menyebabkan perubahan patofisiologi yang berhubungan dengan malaria.

3. Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi Eritrosit yang terinfeksi dengan stadium lanjut P.falciparum dapat membentuk tonjolantonjolan oada permukaanya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung p.falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung dalam sirkulasi alat dalam, bukan disikulasi perifer. J. Pengobatan Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan relaps, serta mengurangi kerugian sosial ekonomi (akibat malaria). Tentunya obat yang ideal adalah yang memenuhi syarat: 15

Membunuh semua stadium dan jenis parasit Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps Toksisitas dan efek samping sedikit Mudah cara pemberiannya Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat

Sayangnya, dalam pengobatan didapatkan hambatan operasional dan teknis. Hambatan operasional itu adalah: Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik bahkan obat palsu. Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus di puskesmas. Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis trandar yang telah ditetapkan. Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (misalnya, klorkuin untuk tiga hari tetapi diminum hanya satu hari saja). Sementara itu, hambatan teknisnya adalah gagal obat atau resistensi terhadap obat. Untuk pengobatan malaria, beberapa jenis obat (lihat juga Obat Malaria) yang dikenal umum adalah: Obat standar: klorokuin dan primakuin Obat alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin) Obat penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus)

Obat malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc) Obat standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif

Obat-oabat malaria, yaitu:

16

1. Klorokuin Kerja obat ini adalah: Sizon darah: sangat efektif terhadap semua jenis parasit malaria dengan menekan gejala klinis dan menyembuhkan secara klinis dan radikal; obat pilihan terhadap serangan akut, demam hilang dalam 24 jam dan parasitemia hilang dalam 48-72 jam; bila penyembuhan lambat dapat dicurigai terjadi resistensi (gagal obat); terhadap P.falciparum yang resisten klorokuin masih dapat mencegah kematian dan mengurangi penderitaan. Gametosit: tidak evektif terhadap gamet dewasa tetapi masih efektif terhadap gamet muda. Farmakodinamikanya: Menghambat sintesa enzim parasit membentuk DNA dan RNA. Obat bersenyawa dengan DNA sehingga proses pembelahan dan pembentukan RNA terganggu. Toksisitasnya: Dosis toksis: 1500 mg basa (dewasa). Dosis lethal: 2000 mg basa (dewasa) atau 1000 mg basa pada anak-anak atau lebih besar/sama dengan 30 mg basa/kg BB. Efek sampingnya: Gangguan gastro-intestinal seperti mual, muntah, diare terutama bila perut dalam keadaan kosong. Pandangan kabur Sakit kepala, pusing (vertigo) gangguan pendengaran

17

Formulasi obatnya: Tablet (tidak berlapis gula): Klorokuin difosfat 150 mg basa setara dengan 250 mg berntuk garam dan Klorokuin sulfat 150 mg basa setara dengan 204 mg garam. Ampul: 1 ml berisi 100 ml basa klorokuin disulfat per ampul dan 2 ml berisi 200 ml basa klorokuin disulfat per ampul.

2. Primakuin Kerja obat ini adalah: Sizon jaringan: sangat efektif terhadap P.falciparum dan P.vivax, terhadap P. malariae tidak diketahui. Sizon darah: aktif terhadap P.falciparum dan P.vivax tetapi memerlukan dosis tinggi sehingga perlu hati-hati. Gametosit: sangat efektif terhadap semua spesies parasit. Hipnosoit: dapat memberikan kesembuhan radikal pada P.vivax dan P.ovale.

Farmakodinamikanya adalah menghambat proses respirasi mitochodrial parasit (sifat oksidan) sehingga lebih berefek pada [arasit stadium jaringan dan hipnosit. Toksisitasnya: Dosis toksis 60-240 mg basa (dewasa) atau 1-4 mg/kgBB/hari. Dosis lethal lebih besar 240 mg basa (dewasa) atau 4 mg/kg/BB/hari.

Efek sampingnya: Gangguan gastro intestinal seperti mual, muntah, anoreksia, sakit perut terutama bila dalam keadaan kosong. Kejang-kejang/gangguan kesadaran. 18

Gangguan sistem haemopoitik. Pada penderita defisiensi G6 PD terjadi Hemolysis

Formulasi obat adalah tablet tidak berlapis gula, 15 mg basa per tablet. 3. Kina Kerja obat ini adalah: Sizon darah: sangat efektif terhadap penyembuhan secara klinis dan radikal. Gametosit: tidak berefek terhadap semua gamet dewasa P. falciparum dan terhadap spesies lain cukup efektif. Farmakodinamikanya adalah teriakat dengan DNA sehingga pembelahan RNA terganggu yang kemudian menghambat sintesa protein parasit. Toksisitasnya: Dosis toksis: 2-8 gr/hari (dewasa). Dosis lethal: lebih besar dari 8 gr/hari (dewasa).

Efek sampingnya adalah Chinchonisme Syndrom dengan keluhan: pusing, sakit kepala, gangguan pendengaran (telinga berdenging/tinuitis), mual, muntah, dan penglihatan kabur. Formulasi obatnya: Tablet (berlapis gula), 200 mg basa per tablet setara 220 mg bentuk garam. Injeksi: 1 ampul 2 cc kina HCl 25% berisi 500 mg basa (per 1 cc berisi 250 mg basa). 4. Sufadoksin Pirimetamin (SP) Kerja obat ini adalah: Sizon darah: sangat efektif terhadap semua p. falciparum dan kuang efektif terhadap parasit lain dan menyembuhkan secara radikal. Efeknya bisa lambat bila dipakai dosis tunggal sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain (Pirimakuin).

19

Gametosit: tidak efektif terhadap gametosit tetapi pirimetamin dapat mensterilkan gametosit.

Farmakodinamikanya adalah: Primetamin, terikat dengan enzym Dihidrofolat reduktase sehingga sintesa asam folat terhambat sehingga pembelahan inti parasit terganggu. SP menghambat PABA ekstraseluler membentuk asam folat merupakan bahan inti sel dan sitoplasma parasit.

Toksisitasnya: Sulfadoksin, dosis toksis 4-7gr/hari (dewasa); dosis lethal lebih besar 7 gr/hari (dewasa). Pirimetamin, dosis toksis 100-250 mg/hari (dewasa); dosis lethal lebih besar 250 mg/hari (dewasa). Efeksampingnya: Gangguan gastro-intestinal seperti mual, muntah. Pandangan kabur. Sakit kepala, pusing (vertigo). Haemolisis, anemia aplastik, trombositopenia pada penderita defisiensi G6PD.

Kontra indikasinya: Idiosinkresi Bayi kurang 1 tahun Defisiensi G6PD

Formulasinya adalah SP: 500 mg sulfadoksin ditambah 25 mg pirimetamin. Obat-obat malaria yang ada, dapat dibagi dalam 9 golongan menurut rumus kimianya: 20

1. Alkaloid chincona (kina) 2. 8-aminokuinolin (primakuin) 3. 9-aminoakridin (mepakrin) 4. 4-aminokuinolin (klorokuin, amodiakuin) 5. Biguanida (proguanil, klorproguanil) 6. Diaminopirimidin (pirimetamin, trimetoprim) 7. Sulfon dan sulfonamid (antara lain sulfadoksin) 8. Antibiotik (tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, klindamisin) 9. Kuinolinmetanol dan fenantrenmetanol (meflokuin)

K. Pencegahan Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini. Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat. Pencegahan tanpa obat, yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan cara : 1. Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida. 2. Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (repellent). 3. Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya. 4. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. 5. Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak. 6. Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar. 7. Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk. 8. Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air. 9. Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obat anti larva (bubuk abate) pada genangan air atau menebarkan ikan atau hewan (cyclops) pemakan jentik. Melestarikan hutan bakau agar nyamuk tidak berkembang biak di rawa payau sepanjang pantai. 21

Langkah lainnya adalah mengantisipasi dengan meminum obat satu bulan sebelum seseorang melakukan berpergian keluar daerah tempat tinggalnya yang bebas malaria, sebaiknya mengkonsumsi obat antimalaria, misalnya klorokuin, karena obat ini efektif terhadap semua jenis parasit malaria. Aturan pemakaianya adalah : 1. Pendatang sementara ke daerah endemis, dosis klorokuin adalah 300 mg/minggu, 1 minggu sebelum berangkat selama berada di lokasi sampai 4 minggu setelah kembali. 2. Penduduk daerah endemis dan penduduk baru yang akan menetap tinggal, dosis klorokuin 300 mg/minggu. Obat hanya diminum selama 12 minggu (3 bulan). 3. Semua penderita demam di daerah endemis diberikan klorokuin dosis tunggal 600 mg jika daerah itu plasmodium falciparum sudah resisten terhadap klorokuin ditambahkan primakuin sebanyak tiga tablet.

BAB III KESIMPULAN Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera, dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium dan mudah dikenali gejala meriang ( panas dingin menggigil ) serta demam berkepanjangan. Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria /protozoa genus plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk anopeles betina ditandai dengan demam, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia, ( WHO. 1981 ). Penyakit malaria ini disebabkan dari gigitan nyamuk Anopheles, sehingga parasit plasmodium dapat masuk kedalam tubuh manusia. Parasit malaria termasuk genus Plasmodium. Pada manusia terdapat 4 spesies: Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium Ovale. Ada dua macam perkembangbiakan sel pada plasmodium, yaitu : Fase Seksual (sporogoni) dan Fase Aseksual (skizogoni). Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liurnya, disebut masa tunas ekstrisik. Sporozoit adalah bentuk infektif.

22

23