TRAUMA PANGGUL

1. Fracture pelvic ring (808) Batasan : pelvic girdle dibentuk oleh 2 tulang innominate (os coxae) yang berartikulasi di bagian anterior yang disebut symphisis pubis dan di bagian posterior dengan os. Sacrum (sacro illiac joint) Pelvic ring dibentuk oleh 2 arcus yang penting dalam menahan weight bearing forces yaitu femoro sacral arch dan ischio sacral arch. Klasifikasi : Menurut Marvin Tile disruption of pelvic ring dibagi : 1. Stable 2. Unstable 3. Miscellaneous - Complex - Associated Acetabular disruption - Bilateral sacrao illiac dislocation with intact anterior arch Menurut Marvin Tile symphiasialis dibagi 3 grade : I. Symphisis open < 2,5 cm II. Symphisis open > 2,5 cm III. Symphisis open > 2,5 cm with peroneal wound Diagnose : 1. Klinis 2. Radiographic - Pelvic AP - Inlet & outlet view - Internal & eksternal oblique view b. CT scan

Management fracture pelvic : .

1-2 hari setelah pemasangan C-clamp dan keadaan stabil 2. Leg length discreparancy 2. Loss of reduction 2. Stable pelvic fracture yang memerlukan early mobilization 3. Rupture post sacro illiac lig. Thrombo phletis Lanjut : 1. Pelvic oblique 4. Sepsis 3.Prosedur tetap : Indikasi pemasangan eksternal fiksasi pelvic : 1. Low back pain 3. Poly trauma 4. Sacro illiac arthritis . II & III Komplikasi Awal : 1. Indikasi pemasangan internal fiksasi : 1. Symphiasialis Gr. Unstable pelvic (vertical shear injuries) Indikasi pemasangan C-clamp . Stable pelvic fracture dengan severe pelvic hemorrhage 2.Unstable pelvic (vertical shear injuries)/rupture posterior sacro illiac lig. Lumbo sacral plexus palsy 5.

MANAGEMENET HEMORHAGIC SHOCK PADA UNSTABLE PELVIC FRACTURE .

Flexi : fracture posterior wall dan atau dislokasi past hip .Fraktur posterior column * Tampak pada alar dan obturator view * ORIF plating .Abduksi : fraktur infero medial wall .Terapi konservatif. Klasifikasi (Letourel) : 1.Internal rotasi : fraktur posterior wall . kecuali pada : * open fractur * multiple fraktur dengan terapi operatif 3.Adduksi : fraktur superolateral a.Fraktur posterior wall * fraktur permukaan sendi posterior * jika fragmen besar – ORIF plating . ischiadicus dan avascular necrosis . misal pada dashboard injury Evaluasi cedera : .2.fracture pelvis dan acetabulum Posisi caput femur sangat penting : .Fraktur posterior wall dan posterior collumn * ORIF plating .caput femur . Fracture acetabulum : Biomekanik : fraktur yang disebabkan gerakan cepat femur ke pelvis.patella.Tidak mempengaruhi stabilitas pelvis . n. posterior cruciatum ligament . Tipe posterior dengan/tanpa dislokasi posterior .External rotasi : fraktur anteroir wall .Posterior wall dengan fraktur transverse * sering : 20 % khusus * ORIF plating * identifikasi cedera posterior. Fracture pelvic wing .

CT scan : * bila terdapat : .Fraktur double collumn * “floating” acetabulum tidak melekat dengan rangka tubuh * fraktur membelah kedua collumn diatas level acetabulum * spur sign sangat karakteristik * reduksi ilium merupakan kunci keberhasilan b.Fraktur anterior wall : jarang .Fraktur transverse * membelah kedua collumn * displacement dapat ringan sampai komlit dislokasi central caput femur ke pelvis . anterior wall dan fraktur transverse 3.T. X-ray . harus ORIF . Tipe anterior dengan/tanpa dislokasi anterior .fraktur dinding acetabulum .AP . Tipe transverse dengan / tanpa dislokasi central .Pelvis .Alar dan abturator .Fraktur anterior collumn.Fraktur transverse dan acetabular wall . karena reduksi 1 collumn tak akan mereduksi yang lain seperti pada tipe transverse .2.fragmen dalam sendi * mengetahui derajat kominutif . frakture * bersama fraktur transverse.Fraktur collumn anterior * melalui rumus pubis uperior * prognose baik karena buka weight bearing * jika sampai Dome superior. biasanya membelah acetabulum secara vertikal * komponen vertikal dapat ke anterior / posterior ke foramen abturator * trauma yang lebih kuat dibanding tipe transverse * komponen T sangat bermakna.

Lokasi anatomi fraktur : .Politrauma Kontra Indikasi : .Fraktur Dome Superior .Tipe III adalah fraktur 700 dari horisontal (sangat tidak stabil) 3. nyeri .perkusi pada trokhanter major.Tipe I adalah fraktur 300 dari horisontal (stabil) . Fraktur collumn femur a.Keadaan umum tidak stabil .Tipe II adalah fraktur 500 dari horisontal (tidak stabil) . Displacement fragmen fraktur : .Lesi n.Garden IV : adalah fraktur komplit dengan total dispalecement b.extrakapsular : * basecervical type 2. Klasifikasi : yang sering dipakai adalah berdasarkan : 1.intrakapsular : * subcapital type * transcervical type .Garden I : adalah fraktur inkomplit atau impacted .Disertai fraktur femur ipsilateral . ischiadicus post reposisi .Indikasi operasi : .Inkongruitas sendi .Instabilitas hip .Garden II : adalah fraktur komplit tanpa displacement .tidak memberikan deformitas yang jelas . Sudut fraktur (Pauwell) .Communicatif fraktur Non operatif : Fraktur undisplaced dan stable 4.Garden III : adalah fraktur komplit dengan partial displacement . Standard diagnosis : Pemeriksaan fisik : .

jika caput femur viabel.sekarang terjadi hanya kurang dari 5 % . Infeksi dapat lebih kuat dengan adanya deep sepsis. Infeksi : 1.X-Ray : .bila tidak jelas diulang 10-14 hari c. terapi antibiotika peroperatif selama signifikan memerlukan insidens 2. Insiden venous thrombosis adalah 40% mungkin memerlukan terapi pencegahan dengan heparin. Terapi : Garden I : .Internal fiksasi dengan multiple pins atau screwing Garden II : .rutin dengan AP & lateral view . Komplikasi Trombo embolic disease : sebagai penyebab utama kematian post operatif.non operatif : * traksi dilanjutkan spica cepat * pinning perkutan dengan lokal anesthesi * closed reduction dan spica cast dalam abduksi . Rehabilitasi : Muda : non weight bearing 8 –12 minggu Tua : full weight bearing e.Internal fiksasi dengan pinning/ screwing . non union . aspikin atau anti koagulan yang lain.konservatif dapat mengakibatkan displacement Garden III dan IV (displaced) .Operatif : * dilakukan operasi urgent namun penderita statusnya seoptimal mungkin Pada orang muda → OMPG (osteomuscular pedicle graft) Pada orang tua d. maka : * bila collumn femur adekuat → osteotomi + bone graft (Diton’s’s osteotomy) → hemiarthroplasty dengan Austin Moore Prosthesis (AMP) atau bipolar prostesis . dettuan.

shortening .AP view dalam internal rotasi . Terapi alternatif antara lain simptomatis. osteotomi.* bila collumn femur tak adekuat → brachett atau colona procedure 3. Definisi : adalah fraktur yang terjadi dalam sepanjang garis antara trochanter major dan minor b. jika caput femur non viabel → arthroplasty Aseptic necuosin – insiden sangat bervariasi : . Standar diagnosis Pemeriksaan klinis : .dianjurkan bila tidak dapat distabilisasi dengan adekuat dengan open reduction . Fraktur intertrochanter a. insiden adalah 25 %.Menurut Massic. Klasifikasi : Menurut Boyd dan Grivin (berdasarkan mudahnya dalam memperoleh dan mempertahakan reduksi) Tipe 1 : fraktur di sepanjang garis intertrochanter non displaced Tipe 2 : fraktur komunitif dengan multiple fraktur pada korteks Tipe 3 : pada dasarnya fraktur subtrochanter. Terapi Non operatif : .lateral view d. Bila ditunda 13-24 jam insiden naik menjadi 30%. bone grafting. endo prosthesis dan total hip arthroplasty 5. dengan paling sedikit satu fraktur Tipe 4 : fraktur trochanter dan shaft proksimal dengan paling sedikit dua bidang c.nyeri Radiologis . Antara 24-48 jam insiden 40% dan menjadi 100 % setelah 1 minggu. bila operasi dilakukan dalam 12 jam trauma.deformitas eksternal rotasi .

3 % yang memerlukan pengambilan nail . Penderita tua 2. Operasi lama 3. shortening dan eksternal rotasi. shortening .osteotomy (Dimon & Hunghston. untuk mempertahankan alignment dan menghindari varus.Varus deformity: relatif sering terjadi menyebabkan nyeri.Infeksi : insiden infeksi luka post operasi 1. penempatan implant Macam-macam pilihan operasi antara lain : . hanya 1. Dekat perineus . lemah. Penderita disorientasi 4.. design implant 5. Rehabilitasi : .hemiarthroplasty pada orang tua.Mortalitas : angka mortalitas 10% di rumah sakit menurut Sherk. Komplikasi : .9 % Faktor-faktor yang mempengaruhi : 1. Stabilisasi ditentukan oleh : 1.Full weight bearing segera (pada penderita tua) kecuali pada type IV dan usia muda f.cara yang sering dipakai adalah skeletal traksi. Sarmiento valgus osteotomy) . geometri fragmen 3. mortalitas adalah 52% pada penderita operasi dan 55 % pada penderita non operasi . pasang hemispica dan lepas hemispica setelah 10 – 12 minggu kemudian partial weight bearing Operatif : Adalah merupakan terapi pilihan untuk tercapainya stabilitas dan mobilisasi dini. penderita debil e. reduksi 4.nail plate (dynamic hip screws).Penetrasi nail : terjadi pada sepertiga dari kegagalan terapi.7 – 16. jewett . Setelah 6 – 8 minggu.Rotational deformity . kualitas tulang 2.

subtrochanter-intertrochanter c. Terapi : Non operatif : . fragmen ketiga adalah butterfly Tipe IV : fr. spinal. Standard diagnosis : Pemeriksaan klinis : . transfersal Tipe II B : fr. insiden 0..Fraktur colum femur 6. trochanter minor merupakan fragmen sendiri Tipe III B : fr.nyeri Radiologis : . trochanter minor di fragmen proksimal Tipe II C : fr.AP view dalam internal rotasi . spinal.Aseptic necrosis – jarang.sering berakibat deformitas varus dan rotasi .traksi dan hemispica atau cast brace .deformitas eksternal rotasi .dilakukan pada fraktur yang sangat komunitif.Non union : jarang terjadi dan insiden kurang dari 2% . spinal.8 % .lateral view d. Klasifikasi : menurut Seinsheimer Tipe I : non displaced (displacement < 2 mm) Tipe II : two-part fractures : Tipe II A : fr. Definisi : adalah fraktur yang terjadi diantara trochanter minor sampai 5 cm ke distal b. Fraktur subtrochater a. spinal. komunitif dengan empat atau lebih fragmen Tipe V : fr.Shortening . trochanter minor di fragmen distal Tipe III : three-part fractures Tipe III A : fr. dimana internal fiksasi sabil tak dapat dicapai .

Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal .10 % komplikasi n. Dislokasi panggul a.Tungkai memendek.Mobilisasi segera dengan kruk 1 hari post op .Type III : fraktur communicative tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . Komplikasi .ischiadicus dan < 15 % avascular necrosis caput femur Klasifikasi : .Type IV : fraktur tepi acetabulum dan dasar . fiksasi lalu adduksi. flexi. dan external rotasi dengan sedatif atau anestesi umum.Merupakan jenis tersering .Operatif : . adduksi. Rehabilitasi : .yang sering adalah : * non union * mal union * kegagalan implant 7.Reposisi segera.macam implant : * fixed-angle nail plate (Jewett type) * angled blade plate (ABP) * DHS * intramedulary nail e. diikuti dengan ambulasi 10 hari dan weight bearing bertahap .Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar .Type C : PWB setelah 8 – 10 minggu atau setelah adanya bridging callus di sisi medial f. endrotasi dan adduksi .pilihan tercapai asalkan dapat dicapai osteosintesis yang stabil .Type V : fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain Terapi : .Type A dan B : PWB 10 – 15 kg segera . Dislokasi psoterior .

Tungkai yang sehat extensi .Panggul di tepi meja operasi .Extensi . external rotasi dan extensi .4 % mengalami avascular necrosis . Bigelow : .Terapi : * reduksi tertutup : traksi. kapsul atau m.Flexi hip 900.Traksi sesuai arah deformitas .Posisi netral 3.External rotasi . Aliis : .10 % insiden dislokasi panggul .Bila femur distal. gerakan internal dan eksternal rotasi dengan traksi longitudinal sampai tercapai reposisi 2.Flexi panggul yang sakit.Flexi panggul .Posisi supinasi.Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi Reposisi : 1. tekan ke bawah pada betis b.Posisi telungkup . tekan dari posterior .Abduksi . Dislokasi anterior : . pelvis distabilkan pada kedua SIAS oleh asisten . extensi dan internal rotasi (tambahan adduksi untuk tipe obturator) * reduksi terbuka : jika fragmen lepas atau nonconcentric reduksi .Tipe : * superior (pubis atau illiac) : panggul abduksi.Identasi fraktur caput femur : identasi 4 masing-masing atau lebih dengan prognosis buruk ..Lutut flexi.pyriformis menghalangi reposisi . Stomson : .Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 mingu. pegang pergelangan kaku dalam posisi netral . external rotasi. flexi * inferior (obturator) : panggul abduksi.

Scatzker J .Kepustakaan 1. p. et. Berlag Heidelberg.all : orthopaedic pacision Making. p. ZRW. BC. Dekker Inc. Springer-Verlag. 1984 2. 1987 . Buchol. Tile Mirza : The Rationale of Operative Fracture Care. Philadelphia. 28-29. Toronto. 133 – 172.