4_Pertumbuhan Dan Perkembangan Wilayah

PERTUMBUHAN DAN

PERKEMBANGAN WILAYAH
Disajikan dalam Perkuliahan Geografi Pengembangan Wilayah Jurusan Geografi FIS UM 2013

PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN
Menurut Parr (1999) pertumbuhan dan perkembangan wilayah merujuk pada bertambahnya suatu ukuran wilayah tertentu.Perkembangan wilayah senantiasa disertai dengan perubahan struktural  Pertumbuhan dan perkembangan wilayah merupakan proses yang kontinyu sebagai hasil dari berbagai pengambilan keputusan di dalam ataupun yang mempengaruhi suatu wilayah  Proses tsb melibatkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan politik (pemerintah)  suatu sistem pembangunan wilayah

Tenaga kerja akan berpindah dari daerah-daerah upah rendah ke daerah-daerah upah tinggi. Ciri-ciri kematangan dalam daerah-daerah yang sudah lama berpendapatan tinggi dapat memperlambat kenaikan pendapatan perkapita masa datang. Richardson (2001) menganalisis bahwa terdapat tiga kekuatan yang mampu mendorong dan menghambat terjadinya konvergensi pertumbuhan regional yakni : a. Apabila upah dan produk marginal dari modal mempunyai korelasi terbalik. modal akan mengalir menurut arah yang sebaliknyasignifikan pengaruhnya b. Adanya kemungkinan arus faktor yang bersifat menyeimbangkan seperti yang diprediksikan oleh model neoklasik. Alokasi sumber-sumber di dalam lingkungan daerah-daerah yang bersangkutan dari sektor-sektor upah rendah (seperti sektor pertanian) ke sektor-sektor produktivitas tinggi sehingga mampu menaikkan pendapatan per kapita. .  Richardson (2001) dan Glasson (1977) mengungkapkan bahwa persoalan utama dari pertumbuhan regional adalah apakah pertumbuhan tersebut bersifat divergen ataukah konvergen. c.

teknologi dan distribusi pendapatan . TK. Analisis perpindahan faktor.Mobilitas faktor produksi (modal&TK) di daerah lebih tinggi 2. Untuk jangka pendek. upah. faktor produksi diasumsikan konstan mis : penduduk.PERTUMBUHAN REGIONAL Indikator : Output dan/atau Pendapatan Daerah Makmur Daerah Tidak Makmur Regional VS Nasional 1.

Perloff dan Stabler : mengadopsi unsur spasial dan menjembatani kelemahan teori sektor Diadopsi dari Fisher &Clark : berkembangnya wil dihubungkan dg transformasi struktur ekonomi . Fisher.Parr (1999) Teori sektor (sector theory) Teori tahapan perkembangan (development stage theory) Rostow. Thompson. Hoover.

dan produk-produk primer lainnya 2. maka pada tahap 2 juga mengekspor industri (metode) teknologi penambangan (backward linkage) dan produk turunan dari minyak bumi (forward linkage) (premium. hasil perkebunan dan pertanian. Tahapan spesialisasi ekspor  Dicirikan oleh adanya industri yang dominan  Pertumbuhan wilayah sangat bergantung pada produk yang dihasilkan oleh industri tsb (minyak.solah dan bahan baku plastik) .TAHAPAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN WILAYAH (THOMPSON. 1991) 1. 1965 DALAM BLAIR. Tahapan ekspor kompleks  Menggambarkan wilayah telah mmapu mengekspor selain komoditas dominan juga komoditas kaitannya  Mis : minyak bumi mentah pada tahap 1.

Volume aktivitas ekonomi ekspor sangat besar yang diimbangi dengan kenaikan impor yang sangat signifikan . Tahap pembentukan metropolis (regional metropolis)  Wilayah telah menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk mempengaruhi dan melayani kebutuhan barang dan jasa wilayah pinggiran  Dalam tahapan ini pengertian wilayah fungsional dapat dimaknai bahwa aktivitas ekonomi wilayah lokal berfungsi sebagai pengikat dan pengendali kota-kota. Tahapan kematangan ekonomi  Aktivitas ekonomi wilayah telah terdiversifikasi dengan munculnya industri substitusi impor yakni industri yang memproduksi barang dan jasa yang sebelumnya harus mengimpor dari luar wilayah  Menunjukkan kemandirian wilayah 4.3.

dan imitasi yang mengarah kepada pemenuhan kepuasan individual dibandingkan kepentingan masyarakat  Sistem ekonomi wilayah menjadi kompleks (economic reciproating system) . Tahapan kemajuan teknis dan profesional (technical professional virtuosity)  Wilayah telah memberikan peran yang sangat besar dan nyata terhadap perekonomian nasional  Interregion : berkembang produk dan proses produksi yang relatif canggih. baru. modifikasi.5. efisien dan terspesialisasi  Aktivitas ekonomi mengandalkan inovasi.

Fenomena “pusat-pinggir”. Mexico City banyak dipengaruhi oleh New York . Dalam level internasional. Perkembangan wilayah yang mengarah terbentuknya wilayah inti dan pinggiran dalam garis besarnya mengikuti konsepsi yang telah diuraikan pada kuliah sebelumnya.Wilayah berkembang bisa disebabkan oleh proses transaksi dan perdagangan sehingga membentuk wilayah fungsional yang berciri ketergantungan kota sebagai pusat pelayanan dan wilayah pinggiran sebagai penyedia sumberdaya dan sekaligus wilayah pemasaran (pasar).PENDEKATAN EMPIRIS : PERSPEKTIF SEJARAH 1. kota Jakarta dan Bangkok terpengaruh oleh kekuatan ekonomi Tokyo.

Periode industrialisasi. ex.2. Pengalaman Eropa pada abad XVII atau pengalaman negara-negara baru (merdeka) setelah PD II adalah lahirnya perusahaan manufaktur sejenis dengan teknologi yang relatif efisien dan memberikan produksi nasional cukup signifikan. Wilayah dengan sistem perekonomian spt ini dapat mengembangkan wilayah pinggirannya hingga ke tingkat internasional dan nasional sejalan dengan semakin banyak dan luas sebaran produknya di pasaran. Wilayah pinggiran dalam produk-produk ritel dan bahan pokok semakin mengecil . Wilayah juga mengalami relatif kehilangan peran dalam sektor lain.

Fenomena ini mengakibatkan wilayah berkembang semakin kompleks dan dinamis mengikuti bergantinya teknologi untuk memenuhi kepuasan setiap individu  Teknologi informasi dan mekanisme pasar secara gradual telah diterima oleh sebagian besar masyarakat sehingga memungkinkan aliran informasi. Beberapa faktor yang mempengarui pertumbuhan dan perkembangan wilayah :  Ilmu pengetahuan dan teknologi. Periode Modern. Wilayah mampu menciptakan produk dan proses produksi baru dalam banyak sektor. keuntungan ekonomi dan modal ke berbagai wilayah atau negara .3.

Fenomena ini terlihat pada kota-kota tujuan wisata.Perkembangan dan diterimanya kerangka pemikiran (kalangan) akademis. kota-kota perdagangan atau kota-kota kecil tradisional yang belum banyak terpengaruh mekanisme pasar  . Wilayah spt ini umumnya merencanakan pembangunan wilayahnya secara komprehensif dengan meletakkan aturan-aturan hukum (legal) disertai alat analisis yang canggih yang disusun para perencana  Faktor budaya dan permintaan sosial akan aspek kenyamanan dan kepuasan lainnya di masa mendatang akan semakin menonjol seiiring dengan kenaikan kesejahteraan.

Sektor lainnya spt usaha-usaha informal. Dacca. keuangan. Fenomena modern ditemui pada sektor jasa. Bombay. Kegiatan sektor manufaktur berkontribusi sangat signifikan. Pengalaman Jakarta. pengangguran dll) . kriminalitas. Kota-kota di negara yang sedang berkembang (NSB). Mexico City dan Manila menunjukkan kota-kota yang khas. New Delhi. hiburan. ekspor-impor. Ketiga sektor ini akan menimbulkan permasalahan sosial (slum. atau pengguna teknologi canggih.

ketersediaan faktor-faktor lokal diberi penekanan penting untuk mendorong pertumbuhan wilayah  .PENDEKATAN PENAWARAN Kebijakan pembangunan secara langsung atau tidak diimplementasikan oleh pemerintah atau berdasarkan kepentingan pelaku ekonomi dapat menjelaskan karakter suatu wilayah  Hal ini terjadi karena sumberdaya lokal tidak mampu beroperasi optimal mendukung perekonomian wilayah sehingga mendesak untuk disediakan atau ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya  Pendekatan penawaran (supply side approach).

f2. a. pelaku ekonomi atau korporat dan individual 2. Mencakup bahan-bahan di bawah tanah dan karakteristik iklim di atasnya 3. Hubungan antara hasil ekonomi wilayah (O) dan ketersediaan sumberdaya lokal adalah : O= f (f1.fn) F1.…….l: 1.f2. Lahan. Masukan antara (intermediate input) . Kewirausahaan 5.fn adalah faktor-faktor dari pasokan lokal (local supply) yang mempengaruhi produktifitas wilayah. Berasal dari pemerintah. Modal.f3.f3…. Tenaga kerja 4.

PENDEKATAN PERMINTAAN Pertumbuhan wilayah terjadi sebagai akibat adanya permintaan barang dan jasa tertentu terhadap suatu wilayah oleh wilayah lainnya menggerakkan potensi dan sistem produk lokal  Pendekatan ini dapat ditelaah dengan TEORI PERTUMBUHAN BERBASIS EKSPOR (EXPORT BASE THEORY=EB)  EB didasarkan pada pemikiran bahwa suatu wilayah harus meningkatkan arus atau aliran langsung dari luar wilayah agar bisa tumbuh secara efektif yaitu dengan meningkatkan ekspor  .

Sektor lokal : aktivitas produksi. Hasil ekspor mendatangkan pendapatan dan pendapatan tambahan melalui pengaruh pengganda (multiplier effect)  EB memisahkan kegiatan dua sektor secara terpisah yakni : 1. dan jasa yang ditujukan untuk melayani permintaan masyarakat lokal  . pelayanan.EB diperkenalkan oleh Tiebout (1962 dalam Blair 1991) : pasar ekspor merupakan penggerak utama atau sebagai mesin pertumbuhan ekonomi wilayah. Sektor ekspor : segala aktivitas ekonomi yang ditujukan untuk memenuhi permintaan ekspor yang disebut sektor dasar (basic sector) 2.

  Pada umumnya teori ini dinyatakan dengan penggunaan TK dan tingkat pendapatan Penggunaan TK sektor eskpor disebut basic employment dan tenaga kerja sektor lokal disebut non basic employment. seperti yang dinyatakan dari persamaan berikut ini : ΔT=k ΔB ΔY=k ΔE T : total tenaga kerja Y : total pendapatan B : jumlah tenaga kerja pada sektor ekspor E : pendapatan dari sektor ekspor k : pengaruh pengganda Δ : perubahan . pendapatan sektor ekspor digunakan untuk menggerakkan perekonomian wilayah. Selanjutnya.

sedangkan yang mempunyai nilai negatif. ANALISIS SHIFT-SHARE  Membagi pertumbuhan wilayah dlm tiga komponen: a) Defferential Shift yang positif menunjukkan bahwa suatu sektor mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan sektor yang sama di daerah lain atau dapat diartikan bahwa sektor tersebut mempunyai keuntungan lokasional. .ANALISIS PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN WILAYAH 1. mengandung arti sebaliknya.

Komponen ini menjelaskan relatif keunggulan kompetitif suatu sektor dalam wilayah dibanding secara nasional atau propinsi . bila dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan sektor dan sub sektor yang sama di tingkat nasional atau propinsi. c) Komponen Pangsa Regional (competitive). Untuk mengetahui apakah suatu sektor akan cenderung menghambat ataukah mendorong pertumbuhan sektor yang sama pada tingkat daerah/wilayah. Sektor yang mempunyai tingkat pertumbuhan lebih cepat ditunjukkan dengan Proportional Shift yang positif dan yang mempunyai nilai negatif mengandung pengertian sebaliknya.b) Komponen Proporsional Shift (mix) menunjukkan cepat atau lambatnya tingkat pertumbuhan suatu sektor di suatu daerah.

2.  Analisis ini mampu mendeskripsikan beragam sifat hubungan di antara sektor-sektor industri dan di antara sektor-sektor industri dengan komponen ekonomi lainnya  Dapat pula diaplikasikan dalam permasalahan ekologi  Contoh hasil analisis I-O . ANALISIS INPUT-OUTPUT  Merupakan kerangka komprehensif untuk menganalisis wilayah.

Kayu & Rotan 1 Ind Penggilingan Padi 2 Jasa Hiburan & Kebudayaan Ind Barang Mineral Non Logam Sewa bangunan Bank & Lemb Keuangan Industri Minuman Ind Barang2 dr Kertas & Karton Ind Tekstil & Pakaian Jadi Industri Mesin & Perlengkapan Ind Alat Angkut & Perbaikan Listrik Pos & Telekomunikasi Ind Pupuk & Pestisida Hotel Jasa Perorangan & RT Restoran Ind Barang Karet & Plastik Angkutan Darat. Air & Udara Lembaga Keuangan Bukan Bank Jasa Kemasyarakatan Jasa Penunjang Angkutan Listrik.Tahun 2005 Sektor Potensial Berkembang Pemerintahan Umum & Pertahanan Kopi 2 Sektor Unggulan Bangunan Tembakau Teh Kayu Padi Susu Sayur & Buah2an Industri Rokok Cengkeh Tebu 0 Ind Minyak & Lemak 1 Pertambangan & Penggalian Tan Perkebunan Lain Pemintalan Tabama Lain Ind Bambu. Gas & Air Bersih Jasa Perusahaan Industri Kimia Perdagangan BL Ind Makanan Lainnya Ind Semen & Hasil2nya Perikanan Darat Lainnya Peternakan Perikanan Laut Umbi2an Unggas & Hasil2nya Jasa Penunjang Komunikasi Jagung Kelapa Hasil Hutan Lainnya Industri Barang Lainnya Pemotongan Hewan Sektor Belum/Tidak Berkembang Kegiatan yang Tak Jelas Batasannya Sektor Sedang Berkembang 0 FL .

pendapatan. jangka panjang dan induced) . ANALISIS PENGGANDA (MULTIPLIER ANALYSIS)  Menyatakan tingkat ketergantungan sektor ekonomi  Dapat dilakukan terhadap hasil. pendapatan dan kesempatan tenaga kerja sebagai akibat perubahan permintaan  Tiap-tiap pengaruh dibedakan atas : TIPE I (jangka pendek dan jangka panjang dan TIPE II (jangka pendek.3. dan tenaga kerja  Tujuan analisis : menelaah seberapa jauh perubahan-perubahan dalam hasil.

TIPOLOGI WILAYAH BERDASARKAN PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN Berkembang Cepat (III) Cepat Maju dan Cepat Tumbuh (I) Relatif Tertinggal (IV) Maju tetapi Tertekan (II) .

Kalbar. Kalsel Kuadran IV ( daerah yang memiliki tingkat pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibanding rata-rata provinsi di Indonesia) : Maluku. Sulteng. Sulsel.POSISI PEREKONOMIAN PROVINSI KTI MENURUT TIPOLOGI DAERAH 1993-2000     Kuadran I (daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibanding rata-rata provinsi di Indonesia) : Irian Jaya Kuadran II (daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata provinsi di Indonesia) : Kalteng dan Kaltim Kuadran III ( daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dibanding rata-rata provinsi d Indonesia): NTB. NTT . Sulut. Sultra.

Aspek sosial budaya 5. Aspek ruang (space) 2. Aspek sosial politik (kelembagaan) .LIMA PILARS PENGEMBANGAN WILAYAH 1. Aspek sosial ekonomi 4. Aspek biofisik ekosistem 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful