Anda di halaman 1dari 22
T E M P E
T
E
M
P
E

Definisi

Definisi Tempe adalah makanan yang terbuat umumnya terbuat dari bahan dasar kacang kedelai. Selain tempe berbahan

Tempe adalah makanan yang terbuat umumnya terbuat dari bahan dasar kacang kedelai. Selain tempe berbahan

dasar kacang kedelai, terdapat pula

berbagai jenis makanan berbahan bukan

kedelai yang juga disebut tempe. Terdapat dua golongan besar tempe menurut bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan dasar legum dan tempe

berbahan dasar non-legum. Tempe

bukan kedelai yang berbahan dasar legum mencakup tempe koro benguk (dari biji kara benguk, Mucuna pruriens L.D.C. var. utilis, berasal dari sekitar Waduk Kedungombo), tempe gude (dari

kacang gude, Cajanus cajan), tempe gembus (dari ampas kacang gude pada pembuatan pati, populer di Lombok dan Bali bagian timur), tempe kacang hijau (dari kacang hijau, terkenal di daerah Yogyakarta).

Tempe

kacang

kecipir

(dari

kecipir,

tempe

pedang

Psophocarpus

kara

pedang

tetragonolobus),

(dari

biji

kara

Canavalia ensiformis), tempe lupin (dari lupin, Lupinus angustifolius), tempe

kacang merah (dari kacang merah,

Phaseolus

vulgaris),

tempe kacang

tunggak (dari kacang tunggak, Vigna unguiculata), tempe kara wedus (dari biji kara wedus Lablab purpures), tempe

kara (dari kara kratok, Phaseolus lunatus, banyak ditemukan di Amerika Utara), dan tempe menjes (dari kacang tanah dan kelapa, terkenal di sekitar Malang). Tempe berbahan dasar non- legum mencakup tempe mungur (dari biji

mungur, Enterolobium samon),

di sekitar Malang). Tempe berbahan dasar non- legum mencakup tempe mungur (dari biji mungur, Enterolobium samon

tempe bongkrek (dari bungkil kapuk atau

ampas kelapa, terkenal di daerah Banyumas), tempe garbanzo (dari ampas kacang atau ampas kelapa, banyak ditemukan di Jawa Tengah), tempe biji karet (dari biji karet, ditemukan di daerah

Sragen, jarang digunakan untuk makanan),

dan tempe jamur merang (dari jamur merang).

Tempe dari biji kedelai dibuat dengan cara fermentasi biji kedelai oleh kapang (jamur) dan jamur yang sering dipakai adalah

Rhizopus oryzae dan Rhizopus oligosporus

karena jamur tersebut mempunyai enzim

proteolitik yang mampu menguraikan protein (biji kedelai).

dan Rhizopus oligosporus karena jamur tersebut mempunyai enzim proteolitik yang mampu menguraikan protein (biji kedelai).

Sejarah Tempe

tumpi.
tumpi.

Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 telah ditemukan kata tempe, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan

santan) dan kadhele tempe srundengan.

Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawamungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16,

Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih

terbuat dari tepung sagu yang disebut

Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut. Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji ,

mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji ,

kedelai yang difermentasikan menggunakan

kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.

Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa

melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan

mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan

tempe yang pertama di Eropa dimulai di

Belanda oleh para imigran dari Indonesia. Melalui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di

beberapa negara lain, seperti Republik

Rakyat Tiongkok, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.

Pada tahun 1940-an dilakukan usaha untuk

memperkenalkan tempe ke Zimbabwe sebagai sumber protein yang murah. Namun

demikian, usaha ini tidaklah berhasil karena masyarakat setempat tidak memiliki pengalaman mengkonsumsi makanan hasil

fermentasi kapang. Indonesia merupakan

negara produsen tempe terbesar di dunia

dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain

(seperti tauco, kecap, dan lain-lain).

Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga

Kandungan Tempe

umur.
umur.

Tempe berpotensi untuk digunakan

melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan

mencegah terjadinya penyakit

degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah,

pencegah penyakit jantung, hipertensi,

dan lain-lain.

Oleh karena itu, tempe sangat baik

untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga

bisa disebut sebagai makanan semua

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan

terlarut, nitrogen terlarut, asam amino

bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah

dicerna, diserap, dan dimanfaatkan

tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai.

Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan.Namun, karena adanya enzim pencernaan yang

dihasilkan oleh kapang tempe, maka

protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. dengan kedelai.

pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. dengan kedelai.

Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak

balita penderita gizi buruk dan diare kronis. Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam

waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi

tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut). Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe

untuk meningkatkan mutu serealia dan

umbi-umbian. Hidangan makanan sehari- hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila

ditambah tempe. Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk

meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan

makanan campuran beras-tempe, jagung- tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam

makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat

mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat

dan payudara.

menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.
Mineral Asam Lemak Vitamin Antioksidan
Mineral
Asam Lemak
Vitamin
Antioksidan

Asam Lemak

Asam Lemak Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak.

Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak

jenuh majemuk (polyunsaturated fatty

acids, PUFA) meningkat jumlahnya. Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Mineral

menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh. Mineral Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut- turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg

setiap 100 g tempe.

Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Vitamin

Vitamin Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak

Dua kelompok vitamin terdapat pada

tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D,

E, dan K). Tempe merupakan sumber

vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak

dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12

sehingga tempe menjadi satu-satunya

sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe.

Vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti

Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.

Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Antioksidan

Antioksidan Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C,

Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat

antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid,

isoflavon juga merupakan antioksidan yang

sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon,

yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada

tempe, di samping ketiga jenis isoflavon

tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses

fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri

Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Proses Pembuatan Tempe

Proses Pembuatan Tempe 1. Biji kedelai yang telah dipilih/dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air yang bersih

1.

Biji kedelai yang telah dipilih/dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air yang bersih selama 1 jam.

2.

Setelah bersih, kedelai direbus dalam air selama 2 jam.

3.

Kedelai kemudian direndam 12 jam dalam air panas/hangat bekas air perebusan supaya kedelai mengembang.

4.

Berikutnya, kedelai direndam dalam air dingin selama 12 jam.

5.

Setelah 24 jam direndam seperti pada butir 3 dan butir 4 di atas, kedelai dicuci dan dikuliti (dikupas)

6.

Setelah dikupas, kedelai direbus untuk membunuh bakteri yang kemungkinan

tumbuh selama perendaman.

7.

Kedelai diambil dari dandang, diletakkan di atas tampah dan diratakan tipis-tipis. Selanjutnya, kedelai dibiarkan dingin sampai permukaan keping kedelai kering dan airnya menetes habis.

8.

Sesudah itu, kedelai dicampur dengan laru (ragi 2%) guna mempercepat/merangsang pertumbuhan jamur. Proses mencampur kedelai dengan ragi memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe kedelai.

memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe kedelai.

9. Bila campuran bahan fermentasi kedelai sudah rata, campuran tersebut dicetak

pada loyang atau cetakan kayu dengan lapisan plastik atau daun yang akhirnya dipakai sebagai pembungkus. Sebelumnya, plastik dilobangi/ditusuk-tusuk. Maksudnya ialah untuk memberi udara supaya jamur yang tumbuh berwarna putih. Proses percetakan/pembungkus memakan waktu 3 jam. Daun yang

biasanya buat pembungkus adalah daun pisang atau daun jati. Ada yang

berpendapat bahwa rasa tempe yang dibungkus plastik menjadi "aneh" dan tempe lebih mudah busuk (dibandingkan dengan tempe yang dibungkus daun)

10. Campuran kedelai yang telah dicetak dan diratakan permukaannya dihamparkan di atas rak dan kemudian ditutup selama 24 jam.

11. Setelah 24 jam, tutup dibuka dan campuran kedelai didinginkan/diangin-

anginkan selama 24 jam lagi. Setelah itu, campuran kedelai telah menjadi tempe

siap jual.

12. Supaya tahan lama, tempe yang misalnya akan menjadi produk ekspor dapat dibekukan dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin.

dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin. http://mp4nda.wordpress.com/2012/08/26/ca ra - pembuatan -
http://mp4nda.wordpress.com/2012/08/26/ca ra - pembuatan - tempe/
http://mp4nda.wordpress.com/2012/08/26/ca
ra - pembuatan - tempe/

Diagram Alir Proses

Diagram Alir Proses kedelai dibiarkan dingin Biji Kedelai dicuci selama 1 jam sampai permukaan keping kedelai
kedelai dibiarkan dingin Biji Kedelai dicuci selama 1 jam sampai permukaan keping kedelai kering dan
kedelai dibiarkan dingin
Biji Kedelai dicuci
selama 1 jam
sampai permukaan
keping kedelai kering dan
airnya menetes habis
kedelai dicampur dengan
laru (ragi 2%) sekitar 20
menit
kedelai direbus dalam air
selama 2 jam
kedelai dicuci dan dikuliti
(dikupas)
Dibungkus, telah dicetak
dan diratakan
permukaannya dan
kemudian ditutup selama
24 jam
kedelai
Kedelai kemudian
direndam 12 jam dalam
air panas
kedelai direndam dalam
air dingin selama 12 jam
didinginkan/diangin-
anginkan selama 24 jam
lagi

Modifikasi bahan baku pembuatan tempe salah satunya ialah dari biji karet, yang dikenal dengan Tempe Karet

Modifikasi bahan baku pembuatan tempe salah satunya ialah dari biji karet, yang dikenal dengan Tempe Karet
Modifikasi bahan baku pembuatan tempe salah satunya ialah dari biji karet, yang dikenal dengan Tempe Karet
TEMPE BIJI KARET Hevea brasiliensis Tempe Biji Karet Proses Pembuatan Kelebihan
TEMPE BIJI KARET Hevea brasiliensis
TEMPE BIJI KARET
Hevea brasiliensis
Tempe Biji Karet
Tempe Biji Karet
Proses Pembuatan Kelebihan
Proses Pembuatan
Kelebihan

Tempe Biji Karet

Untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku pembuatan tempe

maka diperlukan alternatif yang

dapat memecahkan permasalah

tersebut yaitu terpenuhinya bahan baku pembuatan tempe dengan harga murah dengan

memperhatikan kandungan gizi

terutama protein yang tinggi. Salah satu tanaman alternatif yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah tanaman Karet .

protein yang tinggi. Salah satu tanaman alternatif yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah tanaman Karet .

Proses Pembuatan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Disiapkan biji karet sebanyak 3 kilogram

Biji karet dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran pada kulit biji.

Selanjutnya biji karet di buang kulitnya dengan cara memecahkannya

Setelah terpisah dari kulitnya, daging biji di buang bakal daunnya agar tidak memabukkan saat dimakan , lalu di rendam selama 2 x 24 jam

Setelah direndam kemudian di rebus selama ± 2-3 jam

Biarkan hingga dingin , setelah dingin air rebusan di buang lalu biji

direndam lagi selama 36 jam dengan air baru

Biji karet lalu di cuci dan di kukus ± 30 menit

Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisa didalam panci/dandang dibuang, kemudian biji karet dipindahkan ketempat

yang lebih lebar (tampah) dan diratakan tipis-tipis. Selanjutnya, biji

karet dibiarkan dingin sampai permukaan keping karet kering dan airnya menetes habis

tipis-tipis. Selanjutnya, biji karet dibiarkan dingin sampai permukaan keping karet kering dan airnya menetes habis

9. Setelah dingin, taburkan ragi tempe ( Rhizopus oryzae) sebanyak ± 6 gram ( 0,2 % dari bobot biji karet) sambil diaduk aduk sampai rata. Penambahan ragi bertujuan guna mempercepat/merangsang pertumbuhan jamur. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe

10. Selanjutnya tempe dikemas sesuai dengan selera, dapat menggunakan plastik ataupun daun pisang. Bila menggunakan daun, daun yang biasanya digunakan untuk pembungkus adalah daun pisang atau daun jati. Ada yang berpendapat bahwa rasa tempe yang dibungkus plastik menjadi "aneh" dan tempe lebih mudah busuk (dibandingkan dengan tempe yang dibungkus daun).

11. Plastik

dilubangi dengan

menggunakan jarum yang terbuat dari kayu ukuran kecil kira-kira 6 - 8

lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.

atau daun

pisang yang telah berisi biji karet

12. Tempe disimpan di tempat yang tidak tertutup (pada suhu kamar) untuk menghindari pembusukkan pada tempe karena suhu yang terlalu panas, usahakan ditempat yang terjadi sirkulasi udara.

13. Tempe didiamkan kurang lebih selama 36 jam.

14. Setelah 36 jam, tempe siap diolah lagi.

terjadi sirkulasi udara. 13. Tempe didiamkan kurang lebih selama 36 jam. 14. Setelah 36 jam, tempe

Perbandingan Tempe Biji

Karet dengan Tempe Kedelai

Biji Karet mengandung protein 27 %, setelah dibuat menjadi tempe kandungan protein pada tempe biji karet menjadi 30,15 %. sedangkan pada kedelai, pada mulanya bijinya mengandung protein sebesar 34,9 % dan setelah dibuat tempe mengandung protein sebesar 22,41 %

Tempe dari biji Karet lebih lembut dari pada tempe kedelai.

Tempe biji karet tidak cepat menjadi busuk dan dapat disimpan

selama 2 minggu di dalam lemari es.

Daya tahan biji Karet jauh lebih kuat dan tahan lama dari biji kedelai karena biji Karet dilindungi oleh kulit yang keras dan kedap air.

Karet jauh lebih kuat dan tahan lama dari biji kedelai karena biji Karet dilindungi oleh kulit
@andaRussel mp4nda.wordpress.com Terima kasih telah membaca Materi tentang Tempe ini, semoga bermanfaat bagi yang
@andaRussel mp4nda.wordpress.com Terima kasih telah membaca Materi tentang Tempe ini, semoga bermanfaat bagi yang

@andaRussel

mp4nda.wordpress.com

Terima kasih telah membaca Materi

tentang Tempe ini, semoga bermanfaat

bagi yang membacanya. Materi yang terdapat didalamnya ialah materi yang penulis dapatkan dari berbagai sumber, baik itu pengalaman, tanya sana-tanya sini, dan tak lupa browsing, baik itu dari jurnal, pdf ataupun blog orang lain yang tidak bisa dituliskan disini ^0^

Fn : mungkin pada awalnya penulis hanya ingin mengejar nilai, tapi akhirnya penulis menjadi tertarik untuk nantinya mempostingnya di blog, yg mana blog pada awalnya orientasi penulis juga sama, tapi sekarang penulis melihat titik cerah, semoga penulis nantinya bisa benar2 serius mengolah blog walaupun tanpa orientasi nilai lagi ^o^

melihat titik cerah, semoga penulis nantinya bisa benar2 serius mengolah blog walaupun tanpa orientasi nilai lagi