Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Analgetika merupakan suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri (diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak) yang secara umum dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu analgetika non narkotik (seperti: asetosat, parasetamol) dan analgetika narkotik seperti : morfin. (http://blogkita.info/analgetika) Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan berkaitan dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya rasa nyeri merupakan suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan pada tubuh umumnya dan jaringan khususnya. (http://blogkita.info/analgetika) Untuk mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan obatobat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak menerima rangsang nyeri. (Rachadian, 2009) Terdapat perbedaan mencolok antara analgetika dengan anastetika umum yaitu meskipun samasama berfungsi sebagai zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri namun, analgetika bekerja tanpa menghilangkan kesadaraan. Nyeri sendiri terjadi akibat rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis yang memicu pelepasan mediator nyeri. Intensitas rangsangan terendah saat

seseorang merasakan nyeri dinamakan ambang nyeri. (Tjay, 2008) Analgetika yang bekerja perifer atau kecil memiliki kerja antipiretik dan juga komponen kerja antiflogistika dengan pengecualian turunan asetilanilida. (http://blogkita.info/analgetika) Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer (parasetamol, asetosal, mefenamat atau aminofenazon). Untuk nyeri sedang dapat ditambahkan kofein dan kodein. Nyeri yang disertai pembengkakan sebaiknya diobati dengan suatu analgetikum anti radang (aminofenazon, mefenaminat dan nifluminat). Nyeri yang hebat perlu ditanggulangi dengan morfin. Obat terakhir yang disebut dapat menimbulkan ketagihan dan menimbulkan efek samping sentral yang merugikan (Tjay, 2008). Berdasarkan kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Analgetika narkotik, khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker. Penggunaan analgetika perifer mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan, karena terjadi efek potensiasi. (Tjay, 2008) Analgetika narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis ini dapat menimbulkan ketergantungan pada si pemakai. Seiring berjalannya waktu, ditemukannya obat yang bersifat campuran agonis dan antagonis jenis ini yang mampu meniadakan ketergantungan fisik, maka penggunaan istilah analgesik narkotik

untuk pengertian farmakologik tidak sesuai lagi. (http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-marlineabd-31576)

B. Tujuan 1. Tujuan umum Untuk mengetahui pengaruh obat dari Asam Mefenamat 2. Tujuan Khusus Mengetahui pengertian dari Asam Mefenamat Mengetahui Indikasi dari Asam Mefenamat Mengetahui kontra indikasi dari Asam Mefenamat Mengetahui dosis dari Asam Mefenamat Mengetahui efek samping dari Asam Mefenamat

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Asam mefenamat Asam Mefenamat adalah termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat biasa digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Seperti juga obat lain, tentunya asam mefenamat dapat menyebabkan efek samping. Contoh yang sering terjadi adalah merangsang dan merusak lambung. Sebab itu, asam mefenamat sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang mengidap gangguan lambung,dan sebaiknya diberikan pada saat lambung tidak dalam kondisi kosong atau setelah makan. (http://mediapenunjangmedis.dikirismanto.com/asam-mefenamat.html)

B. Komposisi Tiap tablet salut selaput mengandung asam mefenamat 500 mg. (Kasim, 2010) C. Indikasi Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan. (Kasim, 2010) D. Dosis Digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu makan. (Kasim, 2010) Dewasa dan anak di atas 14 tahun : Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. (Kasim, 2010) Dismenore;

500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari. (Kasim, 2010) Menoragia; 500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi dan dilanjutkan selama 5 hari atau sampai perdarahan berhenti. (Kasim, 2010) E. Efek samping Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia. Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik. (http://mediapenunjangmedis.dikirismanto.com/asammefenamat.html) F. Kontraindikasi Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna. (http://mediapenunjangmedis.dikirismanto.com/asam-mefenamat.html) G. Interaksi Obat Asam mefenamat akan bereaksi dengan Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin. (http://mediapenunjangmedis.dikirismanto.com/asam-mefenamat.html)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Asam Mefenamat adalah termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat biasa digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Indikasinya untuk menghilangkan rasa sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, tulang, nyeri karena luka, nyeri setelah melahirkan, dismenore, nyeri reumatik, nyeri tulang belakang, demam. Sedangkan kontra indikasinya pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. Efek sampingnya dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia. Dosisnya : Dewasa; awal 500 mg kemudian 250 mg tiap 6 jam, maksimal 7 hari. Dismenore; awal 500 mg kemudian 250 mg tiap 6 jam. B. Saran Bagi pengkonsumsi obat asam mefenamat ini, sebaiknya setelah minum obat ini dianjurkan untuk tidak mengendarai kendaraan sendiri. Karena obat ini dapat menyebabkan ngantuk, pusing dan juga penglihatan kabur.

DAFTAR PUSTAKA http://blogkita.info/analgetika http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-marlineabd-31576 http://mediapenunjangmedis.dikirismanto.com/asam-mefenamat.html Kasim, fauzi, dkk. 2010. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan Rachadian, Dani. 2009. Buku Obat-Obat. Yogyakarta: Berlico Mulia Farma Tjay, Tan H. 2008. Buku Obat-obat Penting.