Anda di halaman 1dari 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Biomekanika Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut (Ayoub, 1999). Biomekanika diklasifikasikan menjadi 2, yaitu : 1. General Biomechanic General Biomechanic adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukum hukum dan konsep konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Dibagi menjadi 2, yaitu: a) Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform). b) Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan gambaran gerakan gerakan tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik) 2. Occupational Biomechanic. Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat. Setelah melihat klasifikasi diatas maka dalam praktikum kita ini dapat kita kategorikan dalam Biomekanik Occupational Biomechanic. Untuk lebih jelasnya disini akan kita bahas tentang anatomi tubuh yang menjadi dasar perhitungan dan penganalisaan biomekanik.

II-2

Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian bagian tubuh yang berkolaborasi untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh yakni kolaborasi antara Tulang, Jaringan penghubung (Connective Tissue) dan otot. 2.2 Metode NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) Sebuah lembaga di Amerika yang bernama NIOSH ( National Institute of Occupational Safety and Health) melakukan analisa terhadap kekuatan manusia dalam mengangkat atau memindahkan beban , merekomendasikan batas beban yang dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang-ulang (repetitive) dan dalam jangka waktu yang cukup lama (Ayoub, 1999). NIOSH (National for Occupational Safety and Health) adalah suatu lembaga yang menangani masalah kesehatan dan keselamatan kerja di Amerika. NIOSH telah melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang bepengaruh terhadap biomekanika yaitu: 1. 2. Berat dari benda yang dipindahkan, hal ini ditentukan oleh pembebanan langsung. Posisi pembebanan dengan mengacu pada tubuh, dipengaruhi oleh: a. Jarak horizontal beban yang dipindahkan dari titik berat tubuh. b. Jarak vertikal beban yang dipindahkan dari lantai. c. Sudut pemindahan beban dari posisi sagital (posisi pengangkatan tepat depan tubuh). 3. 4. Frekuensi pemindahan dicatat sebagai rata-rata pemindahan per menit untuk pemindahan berfrekuensi tinggi. Periode (durasi) total waktu yang diberlakukan dalam pemindahan pada suatu pencatatan. Cedera tulang belakang merupakan penyakit yang banyak terjadi pada pekerja Material Handling. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Department Of Labour's Bureau of Labour Statistic/DOL menunjukkan bahwa cedera tulang belakang meliputi 20% dari semua penyakit akibat kerja dan memakan biaya 25%

II-3

dari total upah pekerja. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa 25% cedera yang diderita oleh pekerja merupakan akibat dari kesalahan penanganan material. Banyaknya pekerjaan yang berbahaya dan menimbulkan cidera pada tahun 1970-an mendorong sekumpulan orang dari berbagai disiplin ilmu yakni epidemiologi, kedokteran, industri, keamanan, psikologi, teknik, kimia, dan statistik untuk membentuk suatu organisasi yang dapat membantu memastikan keamanan dan keselamatan kondisi kerja operator. Sebagai realisasinya kemudian dibuatlah Occupational Safety and Health (OSH) Act yang menjadi dasar terbentuknya NIOSH (National Institute of Occupational Safe and Health ) yang ditandatangani oleh Presiden Richard M. Nixon, pada tanggal 29 Desember 1970. NIOSH digunakan untuk memperkirakan risiko yang berhubungan dengan pekerjaan aktivitas lifting berdasarkan parameter NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) yang diperluas. NIOSH menerbitkan panduan kerja untuk aktivitas mengangkat manual pada tahun 1981, yang diberi judul Work Practices Guide For Manual Lifting. Panduan tersebut diterbitkan setelah NIOSH mengamati masalah cedera punggung yang berkaitan denmgan pekerjaan. Dari panduan tersebut, dimuat persamaan matematis yang dapat digunakan untuk menghitung beban maksimum yang disarankan berdasarkan karakteristik tugas pengangkatan. Adapun fungsi dan tujuan berdirinya NIOSH antara lain : 1. Menginvestigasi potensi bahaya kerja di dalam suatu lingkungan kerja. 2. Mengevaluasi bahaya di tempat kerja, termasuk bahan-bahan kimia untuk mesin. 3. Membuat metode untuk mencegah penyebaran penyakit, cidera, dan cacat. 4. Menentukan prioritas pekerjaan-pekerjaan yang perlu dievaluasi lebih lanjut. 5. Melakukan penelitian dan memberikan rekomendasi ilmiah untuk melindungi pekerja. 6. Memberikan pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan individu di bidang keselamatan dan kesehatan.

II-4

Dalam NIOSH dikenal rumus RWL ( Recommended Weight Limit) sebagai rekomendasi batas beban kerja untuk kegiatan pengangkatan dalam kondisi tertentu yang dapat dihitung dengan rumus : RWL = LC HM VM DM AM FM CM Keterangan : RWL : Batas beban yang direkomendasikan LC HM VM DM AM FM CM : Konstanta pembebanan : Faktor pengali horizontal Ket : H dalam cm : Faktor pengali vertikal Ket : V dalam cm : Faktor Pengali perpindahan Ket : D dalam cm : Faktor pengali asimetrik Ket : A in degree : Faktor pengali frekuensi : Faktor pengali kopling (handle) = 1 (0.0032 A) = 0.82 + 4.5/D = (1-(0.003[V-75])) = 23 kg = 25/H

1. Satuan Inggris, yaitu Ibs untuk berat badan dan Inchi untuk jarak RWL = 51(10/H)(1-0.0075V-30)(0.82+1.8/D)(1-0.0032A)FMCM 2. Satuan Metric (satuan jarak adalah cm) RWL = 23(25/H)(1-0.003V-75)(0.82+4.5/D)(1-0.0032A)FMCM Selanjutnya untuk menghitung Lifting Index (LI) : LI = Berat Beban/RWL Jika nilai LI > 1 , maka kegiatan mengangkat yang dilakukan dalam kondisi yang tidak dianjurkan (berbahaya). Perhitungan RWL menggunakan pengali karakteristik beban yang dibedakan menjadi : 1. Tipe baik (GOOD) jika memiliki pegangan/handle yang dirancang secara optimal sehingga nyaman dipegang.

II-5

2. Tipe Cukup (FAIR) jika beban tidak memiliki pegangan/handle tetapi beban cukup padat dan ukurannya tidak terlalu besar sehingga mudah untuk diangkat. 3. Tipe buruk (POOR) jika beban tidak memiliki pegangan/handle dan beban susah untuk diangkat karena berdimensi terlalu besar, sulit ditangani, memiliki sudut tajam atau permukaan yang licin sehingga tidak nyaman dipegang.
Tabel 2.1 Faktor Pengali Kopling
Coupling Type Good Fair Poor V< 75 cm 1.00 0.95 0.90 1.00 1.00 0.90 V 75 cm

Horizontal Location (H) Vertical Location (V)

: Jarak telapak tangan dari titik tengah antara 2 tumit diproyeksikan pada lantai. : Jarak antara kedua tangan dengan lantai. destination dan origin dari pengangkatan.

Vertical Travel Distance (D) : Jarak perbedaan ketinggian vertikal antara Lifting Frequency (F) Asymetry (A) : Angka rata-rata pengangkatan/menit selama periode 15 menit. : Merupakan sudut asimetrik yang merupakan sudut yang dibentuk antara garis asimetrik dan pertengahan garis sagital.
Tabel 2.2 Faktor Pengali Frekuensi
Frek. Lift/min 0.2 0.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 jam V< 75 1.00 0.97 0.94 0.91 0.88 0.84 0.80 0.75 0.70 0.60 0.52 0.45 V 75 1.00 0.97 0.94 0.91 0.88 0.84 0.80 0.75 0.70 0.60 0.52 0.45 Work Duration 1 2 jam V< 75 V 75 0.95 0.95 0.92 0.88 0.84 0.79 0.72 0.60 0.50 0.42 0.35 0.30 0.26 0.92 0.88 0.84 0.79 0.72 0.60 0.50 0.42 0.35 0.30 0.26 2 8 jam V< 75 V 75 0.85 0.85 0.81 0.75 0.65 0.55 0.45 0.35 0.27 0.22 0.18 0.00 0.00 0.81 0.75 0.65 0.55 0.45 0.35 0.27 0.22 0.18 0.15 0.13

II-6

11 12 13 14 15 >15

0.41 0.37 0.00 0.00 0.00 0.00

0.41 0.37 0.34 0.31 0.28 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.23 0.21 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

2.3 Metode OWAS (Ovako Working Analysis System) OWAS merupakan suatu metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran tubuh dimana prinsip pengukuran yang digunakan adalah keseluruhan aktivitas kerja direkapitulasi, dibagi ke beberapa interval waktu (detik atau menit), sehingga diperoleh beberapa sampling postur kerja dari suatu siklus kerja dan/atau aktivitas lalu diadakan suatu pengukuran terhadap sampling dari siklus kerja tersebut. Konsep pengukuran postur tubuh ini bertujuan agar seseorang dapat bekerja dengan aman (safe) dan nyaman. Metode ini digunakan untuk mengklasifikasikan postur kerja dan beban yang digunakan selama proses kedalam beberapa kategori fase kerja. Postur tubuh dianalisa dan kemudian diberi nilai untuk diklasifikasikan. OWAS bertujuan untuk mengidentifikasi resiko pekerjaan yang dapat mendatangkan bahaya pada tubuh manusia yang bekerja. Metode OWAS memberikan informasi penilaian postur tubuh pada saat bekerja sehingga dapat melakukan evaluasi dini atas resiko kecelakaan tubuh manusia yang terdiri atas beberapa bagian penting, yaitu : 1. Punggung (back) 2. Lengan (arm) 3. Kaki (leg) 4. Beban kerja 5. Fase kerja Penilaian tersebut digabungkan untuk melakukan perbaikan kondisi bagian postur tubuh yang beresiko terhadap kecelakaan. Secara jelas penilaian postur tubuh pada saat bekerja dapat ditunjukkan sebagai berikut. a. Penilaian pada punggung (back) diberikan kriteria nilai 1 s.d 4:

II-7

Gambar 2.1 Penilaian Pada Punggung (Back)

b. Penilaian pada lengan (arms) diberikan kriteria nilai 1 s.d 3:

Gambar 2.2 Penilaian Pada Lengan (Arms)

c. Penilaian pada kaki (legs) diberikan kriteria nilai 1 s.d 7:

Gambar 2.3 Penilaian Pada Kaki (Legs)

d. Penilaian pada beban (load/use factor) diberikan kriteria nilai 1 s.d 3: 1. < 10 kg 2. 10 kg 21 kg 3. > 20 kg

II-8

Gambar 2.4 Tabel Penilaian Analisa Postur Kerja Menggunakan Metode OWAS

Gambar 2.5 Tabel kategori

2.4 Metode REBA (Rapid Entire Body Assessment) REBA (Rapid Entire Body Assessment) merupakan salah satu metode yang bisa digunakan dalam analisa postur kerja. REBA dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottinghams Institute of Occuptaional Ergonomic ). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Salah satu hal yang membedakan metode REBA dengan metode analisa lainnya adalah dalam metode ini yang menjadi fokus analisis adalah seluruh bagian tubuh pekerja. Melalui fokus terhadap keseluruhan postur tubuh ini, diharapkan bisa mengurangi potensi terjadinya Musculoskeletal disorders pada tubuh perkerja.

II-9

2.5 Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) merupakan suatu metode yang memaparkan analisis postur kerja bagian tubuh atas pekerja. Metode ini digunakan untuk mengambil nilai postur kerja dengan cara mangambil sampel postur dari satu siklus kerja yang dianggap mempunyai resiko berbahaya bagi kesehatan si pekerja, lalu diadakan penilaian/scoring. Setelah didapat hasil dari penilaian tersebut, kita dapat mengetahui postur pekerja tersebut telah sesuai dengan prinsip ergonomi atau belum, jika belum maka perlu dilakukan langkahlangkah perbaikan. Metode ini menggunakan diagram body postures dan tiga tabel penilaian (tabel A, B, dan C) yang disediakan untuk mengevaluasi postur kerja yang berbahaya dalam siklus pekerjaan tersebut. Melalui metode ini akan didapatkan nilai batasan maksimum dan berbagai postur pekerja, nilai batasan tersebut berkisar antara nilai 1 7. Tujuan dari metode RULA adalah:
1. 2.

Menyediakan perlindungan yang cepat dalam pekerjaan. Mengidentifikasi usaha yang dibutuhkan otot yang berhubungan dengan postur tubuh saat kerja. Memberikan hasil yang dapat dimasukkan dalam penilaian ergonomi yang luas. Mendokumentasikan postur tubuh saat kerja, dengan ketentuan : Tubuh dibagi menjadi dua grup yaitu A (lengan atas dan bawah dan pergelangan tangan) dan B (leher, tulang belakang, dan kaki). Jarak pergerakan dari setiap bagian tubuh diberi nomor. Scoring dilakukan terhadap kedua sisi tubuh, kanan dan kiri.

3.

4. 5.

6. 7.

Langkah-langkah dalam melaksanakan analisa postur kerja menggunakan metode RULA:


1.

Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto Observasi dan pilih postur yang akan dianalisis

2.

II-10

3. 4. 5. 6.

Scoring and recording the posture (lihat table scoring) Action level (lihat table action level) Analisa posture Saran perbaikan

Sistem penilaian untuk postur dari bagian tubuh yang dianalisis atau The Rula Scoring Sheet dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.6 Tabel RULA